Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 27. Tuan Hector Kembali Ke Paris


__ADS_3

"Lalu Bibi akan tinggal dimana nanti ? Apa Bibi akan pulang kampung ?" Tanya Satya.


"Mungkin seperti itu Tuan. Maaf ini sudah menjadi keputusan saya. Tuan membayar kami dengan sangat tinggi dan tentu harus sesuai dengan kinerja yang harus kami berikan pun harus memuaskan. Tapi saya sudah tua tidak bisa lagi bekerja seperti dulu." Budhe Rohimah berusaha mendapatkan ijin untuk keluar dari pekerjaannya.


Satya menghela napasnya, merasa keberatan jika harus mengijinkan Budhe Rohimah keluar. Itu artinya dia akan menyiapkan segala keperluannya sendiri. Pasti akan merepotkan sekali nanti. Tapi dia juga tidak bisa memaksa Budhe Rohimah bekerja lagi jika yang bersangkutan juga sudah merasa tidak mampu.


"Saya juga sudah menyampaikan pada Mbok Yati dan akan menyampaikan pada Tuan. Tapi saya tidak menyangka jika Tuan justru saat ini menjenguk saya. Jadi, lebih baik saya sampaikan secara langsung saja." Ucap Budhe Rohimah kembali.


"Baiklah. Mau tak mau saya tidak bisa memaksa Bi Imah untuk bekerja lagi. Saya mengijinkan Bi Imah untuk berhenti bekerja. Nanti untuk gaji bulan ini akan saya transfer."


Akhirnya Satya mengijinkan Budhe Rohimah untuk keluar dari pekerjaannya. Meski terasa berat, bertahun-tahun hanya wanita tua itu yang membantu dan mengerti keadaan Satya sejak dulu sebelum menikah.


Sikap Satya juga berbeda terhadap Budhe Rohimah daripada sikapnya terhadap para asisten rumah tangga yang lain.


"Kapan Bibi akan pulang kampung ?" Tanya Satya.


"Belum tahu Tuan. Mungkin saat keluar dari rumah sakit nanti saya akan berkemas dan pergi."


Budhe Rohimah tak mau mengatakan dengan jujur kemana ia akan tinggal. Untuk saat ini ia belum berani mengatakan keberadaan Belva dan kedua anak kembarnya. Takut jika justru akan membahayakan keponakan dan juga cucu-cucunya.


"Baiklah. Yang terpenting Bibi harus segera pulih. Maaf saya angkat telepon dulu."


Ponsel Satya memang berdering tanda sebuah panggilan masuk. Jordi menghubunginya, sudah pasti pembicaraan mereka mengenai pekerjaan.


"Bi, saya harus pulang. Masih ada pekerjaan yang harus saya urus. Bibi cepat sembuh." Satya mengusap bahu Budhe Rohimah.


Memang dari sekian banyak asisten rumah tangganya hanya dengan Budhe Rohimah yang bisa dekta dengan Satya.


"Terima kasih Tuan. Hati-hati di jalan dan jangan terlalu lelah bekerja Tuan." Pesan Budhe Rohimah dan Satya mengangguk.


Pria tampan diusianya yang sudah berkepala empat itu, dia berjalan keluar ruangan. Panggilan Jordi untuk meminta bertemu perihal pekerjaan membuat langkah kakinya dengan cepat melangkah menuju parkiran.


Parkiran itu tak jauh dari taman rumah sakit. Kembali mata coklat Satya melihat Belva dan juga Roichi. Kedua orang itu sedang membahas lokasi butik. Meski serius tapi selalu Belva membuat suasana menjadi lebih santai dengan canda tawa. Itulah yang membuat Roichi merasa senang saat berdiskusi dengan Nonanya. Tidak ada rasa bosan dan ketegangan seperti saat bekerja dengan para klien.


Lagi-lagi Satya melihat Roichi dengan telaten dan tersenyum membukakan botol air mineral untuk Belva. Pemandangan itu terlihat sungguh sangat manis dan menunjukkan sebuah kedekatan.


"Ya ampun, mereka manis sekali. Pasti istrinya sangat bahagia memiliki suami seperti itu." Ucap pengunjung rumah sakit yang juga melihat tingkah Roichi dan juga Belva.


Ucapan pengunjung rumah sakit terdengar jelas di indera pendengaran Satya. Pertanyaan yang sedari tadi berputar dalam pikirannya kini tertuju pada ucapan orang yang tak dikenalnya.


"Apakah benar dia istri Tuan Roichi ? Tapi memang mereka terlihat begitu dekat sekali dan Tuan Roichi juga memperlakukannya dengan lembut." Gumam Satya.


Entah mengapa justru pikiran seperti itu malah membuatnya semakin keras memikirkan hubungan Belva dan Tuan Roichi. Dia ingin mengetahui dengan lebih jelas hubungan perempuan yang sepertinya akan terus melekat dalam pikirannya.


Ponselnya kembali berbunyi membuat fokusnya teralihkan pada ponselnya. Bunyi ponsel itupun membuat Belva dan Roichi mengalihkan perhatian mereka. Belva melihat Satya telah pergi, ia mampu bernafas lega dan bisa kembali ke ruangan Budhenya. Sedangkan Roichi mengernyitkan dahinya, melihat rekan kerjanya berada di rumah sakit yang sama.


Satya buru-buru masuk ke dalam mobil dan pergi dari rumah sakit. Roichi dan Belva hanya diam saat melihat kepergian pria tester. Diamnya Roichi membuat Belva tak tahu jika keluarga angkatnya memiliki kerjasama dengan Satya mantan majikan sekaligus Ayah biologis dari kedua anak kembarnya.


"Nona, sebaiknya kita harus secepatnya melihat lokasi tersebut karena beberapa hari lagi Tuan dan Nyonya Hector harus kembali ke Jerman."


"Oke Om besok setelah mengurus kepulangan Budhe, kita pergi melihat lokasinya. Tapi sepertinya aku harus menetapkan rumah tinggal kami terlebih dahulu. Karena besok Budhe sudah boleh pulang." Ucap Belva.


"Kalau begitu, kenapa tidak sekarang saja kita melihat rumahnya. Saya juga sudah mencarikan rumah untuk Nona."


"Benarkah ? Tapi aku ingin rumah itu dekta dengan sekolah si kembar."


"Semua sudah saya urus Nona tenang saja." Roichi berucap dengan santai.


Memang pria itu selalu bekerja dengan cepat dan tepat. Semua perintah dari bosnya selalu tidak pernah mengecewakan hasil kerjanya.


"Om memang terbaik. Selalu bisa diandalkan." Belva tersenyum lebar, bahkan ia tak sungkan memeluk lengan kekar pria berkepala 4 itu.


Belva dan Roichi segera pergi dari rumah sakit berpamitan pada Budhe Rohimah. Mereka harus melihat rumah yang sudah dicarikan oleh Roichi.


Saat melihat rumah itu Belva langsung tertarik karena sangat sesuai dengan keinginannya. Sebuah rumah minimalis dengan halamannya yang tak terlalu luas di bagian depan. Tapi bagian belakang cukup luas. Rumah itu hanya satu lantai dengan tiga kamar dengan masing-masing kamar mandi di dalamnya. Ruang tamu dan ruang keluarga yang hampir menyatu hanya di sekat dengan lemari sekat dengan beberapa panjang di dalamnya. Dapurnya pun minimalis namun terlihat nyaman dan bersih.


"Bagaimana apa Nona suka ?" Tanya Roichi.


"Sangat suka. Terima kasih sekali Om." Senyum Belva kembali mengembang dengan lebar.


"Rumah ini sudah bisa ditempati. Saya sudah mengurus semuanya. Hanya tinggal membawa beberapa pakaian saja karena semua perabotan dan segala kebutuhan Nona sudah siap."


Belva mengangguk, meski begitu ia memiliki tanggung jawab untuk mengembalikan semua uang yang dikeluarkan untuk membeli rumah ini. Belva tak ingin semua yang didapatkan secara gratis. Sejak dulu memang seperti itu, dan Tuan Hector menghargai keputusan putri angkatnya.


"Oke... Ini juga sangat dekat dengan sekolah si kembar. Sekarang tinggal kita lihat saja lokasi butik yang dekat dengan rumah dan sekolah si kembar."


"Apa sekarang kita akan melihatnya langsung ?" Tanya Roichi. Dan Belva mengangguk.


Keduanya kembali ke dalam mobil dan berkeliling melihat tiga tempat yang menjadi calon lokasi butik Belva. Dari ketiga lokasi tersebut memang Belva memilih lokasi yang paling dekat karena tak ingin nanti akan kerepotan memakan waktu untuk ke rumah ataupun ke sekolah anaknya.


Semua sudah sesuai dengan yang dipilih oleh Belva. Untuk bangunan butiknya hanya perlu melakukan sedikit renovasi kecil saja. Sejak dipilihnya lokasi itu, Roichi bekerja dengan cepat menyuruh beberapa anak buahnya untuk melakukan renovasi dan mengisi semua barang-barang yang dibutuhkan.


Belva dan Roichi kembali ke rumah sakit. Saat yang sama merek masuk ke dalam ruangan. Dokter Dimas juga masuk ke dalam ruangan Budhe Rohimah.

__ADS_1


"Dokter ? Selamat sore." Sapa Belva yang juga sedikit terkejut atas kedatangan dokter Dimas.


"Nona, selama sore. Dari mana ini tampaknya Nona sangat senang sekali." Ucap dokter Dimas. Dokter muda itu juga melirik ke arah pria yang berada di belakang Belva. Ada rasa penasaran atas kehadiran pria yang bersama Belva.


"Ah iya, saya senang karena besok Budhe saya sudah bisa pulang. Apa dokter akan melakukan kunjungan pemeriksaan terhadap Budhe saya ?"


"Ah iya Nona. Maaf saya masuk terlebih dahulu." Dokter Dimas masuk ke dalam ruangan.


Diikuti oleh Belva dan juga Roichi. Keduanya duduk di sofa saling berdampingan. Memang mereka tak membatasi diri seperti bawahan dan juga atasan. Belva merasa itu tidak tepat untjm dirinya yang hanya gadis biasa yang kebetulan diangkat anak oleh seorang yang kaya raya.


Roichi sibuk dengan ponselnya mengecek pekerjaannya yang dikirimkan melalui email sedangkan Belva juga sibuk dengan ponselnya sembari menunggu pemeriksa dokter.


"Mau minum ?" Tanya Roichi yang sudah berdiri hendak mengambil air dari dispenser yabg tersedia. Dirinya haus sedari tadi tapi ditahannya.


Dokter Dimas yang mendengar suara Roichi menawarkan minum terhenti sejenak dan melirik menggunakan ekor matanya.


"Eem boleh." Jawab Belva.


Roichi membawakan dua gelas air putih dan diletakkannya di atas meja. Roichi meneguk habis air minumnya. Sedangkan Belva meminum air putihnya dengan perlahan seperti menikmati segelas jus.


Fokus Belva pada ponselnya, menggulirkan layar ponsel itu ke bawah. Ia sibuk melihat-lihat model pakaian yang dibawakan oleh beberapa model melalu aplikasi Instagramnya.


Sebuah video kompilasi para model yang membawakan beberapa model baju menarim perhatiannya. Tiba-tiba Belva tersedak saat meminum air putihnya karena melihat aksi model yang jatuh terjungkal di atas catwalk.


"Uhuk... Uhuk..." Belva tersedak. Air minumnya sedikit tumpah pada pada baju dan celananya.


Roichi yang fokus pada layar ponselnya terkejut. Dengan cepat menepuk punggung Belva dan meraih tisyu yang ada di atas meja.


"Nduk... Pelan-pelan minumnya. Kebiasaan kamu kalau minum suka ditempelkan begitu gelasnya. Kamu itu minum air putih bukan minum jus, teh, susu atau yang lainnya." Tegur Budhe Rohimah yang paham akan kebiasaan keponakannya yang menempelkan gelas pada bibirnya dan meminum sedikit demi sedikit air putinya.


Roichi hanya menggelengkan kepalanya saja, dia juga sedikit paham dengan kebiasaan Nonanya itu.


"Pelan-pelan." Roichi memberikan selembar tisyu pada Belva dan mengelus punggung Belva dengan lembut.


Dokter Dimas juga memperhatikan kejadian tersebut. Ada rasa tidak nyaman saat melihat Roichi memperhatikan Belva. Tapi dia tetap bersikap profesional sebagai dokter.


Hari berlalu, hari ini adalah hari yang ditunggu Budhe Rohimah karena ia sudah bisa pulang ke rumah. Beberapa pakaian yang dibawakan Mbok Yati dan juga Pak Jajak sudah dikemasi oleh Belva.


"Budhe, hari ini kita pulang ke rumah Belva ya." Belva duduk di samping Budhe Rohimah yang sudah duduk di atas ranjangnya.


"Iya Nduk. Budhe ikut kamu Kemanapun kamu pergi. Budhe tidak mau lagi berpisah denganmu." Budeb Rohimah menggenggam tangan keponakannya.


"Iya kita akan selalu sama-sama. Kita tunggu sebentar ya. Nanti Mama Hector juga akan kesini ikut jemput Budhe."


Budhe Rohimah hanya mengangguk tersenyum. Tak lama orang yang ditunggu datang juga. Nyonya Hector datang bersama Roichi. Karena pria itulah yang akan menyetir mobil.


"Sangat baik Mbak. Sudah tak sabar sampai ke rumah melihat si kembar." Ucap Budhe Rohimah.


"Ya sudah ayo kita pulang." Ajak Nyonya Hector.


Budhe Rohimah dituntun oleh Belva dan Nyonya Hector. Meski ia menolak karena sudah merasa baik-baik saja dan tak perlu dituntun. Tapi Belva tetap saja menolak, perempuan itu tetap menggandeng lengan Budhenya. Sedangkan Nyonya Hector merangkul pundak Budhe Rohimah.


Roichi membukakan pintu untuk Nyonya Hector dan Budhe Rohimah. Terkahir Roichi membukakan pintu untuk Belva. Lagi-lagi perilaku lembut itu disaksikan oleh Satya yang baru saja tiba di rumah sakit bersama Jordi.


Dari dalam mobil pria itu bisa melihat dengan jelas Belva masuk ke dalam mobil saat Roichi membukakan pintu. Kembali Satya memikirkan hubungan keduanya.


"Bos bukankah itu Tuan Roichi asisten Tuan Hector ? Dan apakah wanita itu istrinya ?" Tanya Jordi yang juga melihat keduanya.


"Iya sepertinya begitu. Sudah ayo keluar." Jawab Satya seakan cuek. Tapi dalam pikirannya terus memikirkan wanita yang mampu membuat otaknya semakin bekerja keras selain memikirkan pekerjaan.


Satya dan Jordi datang ke rumah sakit memang untuk menjemput Budhe Rohimah. Bagi Satya wanita paruh baya itu sungguh berjasa untuknya hingga membuatnya mau menjemput secara langsung asisten rumah tangganya itu.


Tapi sayang sampai di dalam rumah sakit, seseorang yang akan dijemputnya sudah tidak ada lagi. Suster memberitahukan jika pasien sudah dijemput oleh keluarganya. Hal itu membuat Satya bingung karena setahunya Budhe Rohimah tidak memiliki keluarga lagi.


"Siapa yang jemput ? Apa Bi Imah menyembunyikan sesuatu dariku ?" Batin Satya.


****


Budhe Rohimah dan rombongan sudah sampai di rumah baru Belva yang minimalis. Kedatangannya disambut dengan riang kedua bocah kembar lucu dan menggemaskan itu.


"Utiii...!!! Teriak Kaili dan Kaila. Mereka berlari menyambut Budhe Rohimah. Kedua tangan mereka rentangkan untuk memeluk Uti mereka.


"Cucu-cucu Uti. Uti merindukan kalian sayang." Budhe Rohimah menundukkan tubuhnya menyamakan tinggi dengan kedua bocah kembar itu dan memeluk keduanya.


"Kami juga merindukan Uti." Ucap Kaili. Pria kecil itu sangat senang sekali akan kedatangan Utinya.


Begitu juga Kaila, gadis kecil itu selalu cerewet dengan suara cemprengnya. Menanyakan dan bercerita banyak hal pada Utinya.


"Sayang, Uti masih harus banyak istirahat. Kalian antar Uti ke dalam kamar ya." Ucap Tuan Hector yang sedari tadi diam melihat aksi kedua cucunya yang begitu antusias dan ceria.


Memang pria lanjut usia itu memilih menunggu di rumah baru Belva bersama Duo Kay dan juga Bella.


"Tuan... Pasti Tuan adalah suami dari Mbak Hector. Terima kasih sudah atas kebaikan Tuan." Ucap Budhe Rohimah mengangguk sopan.

__ADS_1


Tuan Hector terkekeh mendengar ucapan Budhe Rohimah membuat semua yang ada di dalam rumah saling pandang karena merasa aneh.


"Hector itu namaku. Bagaimana bisa aku dipanggil dengan sebutan Mbak." Ucapan Tuan Hector seketika membuat semua yang sedari tadi menatap aneh menjadi tertawa terbahak-bahak.


Benar apa yang dikatakan pria tua itu. Hector adalah namanya sedangkan istrinya adalah Zeta Sartika. Hanya saja karena menikah dengan pria itu wanita bernama asli Zeta Sartika mendapatkan panggilan menjadi Nyonya Hector mengikuti panggilan suaminya.


"Imah... Maafkan kelakuan suamiku. Dia memang terkadang seperti itu." Nyonya Hector justru merasa tidak enak karena Budhe Rohimah merasa malu salah mengucapkan nama karena ketidak-tahuannya.


"Maaf... Maaf... Perkenalkan saya Hector. Jika kamu memanggil istriku Mbak Hector itu terdengar menggelikan. Panggil saja dia Zeta. Dan jangan memanggilku Tuan." Ucap Tuan Hector masih dengan bibir tersenyum.


"Imah benar kata suami saya. Jangan panggil dia Tuan, jika kamu adalah adikku maka suamiku adalah abangmu." Ucap Nyonya Hector.


"Sudah...sudah... Biarkan dia istirahat. Nanti kita bahas lagi. Vanthe Papa ingin bicara padamu." Kini sorot mata Tuan Hector beralih pada Belva.


Budhe Rohimah diantar oleh duo Kay dan juga Bella beserta Nyonya Hector ke dalam kamarnya. Mereka mengobrol bersama di dalam kamar. Sama seperti ketiga orang yang berada di ruang tamu pun sedang mengobrol serius.


"Bagaimana rencana bisnismu sudah sampai mana perkembangannya." Tanya Tuan Hector.


"Om Roi sudah membantuku Pa. Kemarin sudah ada beberapa anak buah Om yang sudah bergerak merenovasi sedikit untuk keperluan butik." Jawab Belva.


"Perlu waktu berapa hari Roi ?"


"Kurang lebih tiga sampai empat hari sudah siap semua Tuan. Semua saya kerjakan secepat mungkin sebelum keberangkatan kita." Ucap Roichi.


"Baiklah. Bagus kalau begitu. Kalau ada apa-apa segeralah hubungi Papa atau Roi, Nak. Meski nanti pada akhirnya Roi lah yang akan turun tangan." Ucap Tuan Hector terkekeh.


Siapa lagi jika buka Roichi yang diandalkan untuk bergerak. Dirinya sudah tua tidak akan secepat dan sesigap Roichi. Mereka tertawa bersama.


****


Sedangkan Satya kini sudah kembali ke rumahnya bersama Jordi. Dia segera mencari Mbok Yati.


"Mbok, apa Bi Imah sudah sampai ?" Tanya Satya.


Mbok Yati mengerutkan dahi mendengar pertanyaan Tuannya. "Sampai ? Maksudnya bagaimana Tuan ?"


"Bi Imah sudah pulang dari rumah sakit. Tadi aku ke sana pihak rumah sakit mengatakan jika Bi Imah sudah pulang dijemput keluarganya. Kalian yang menjemput ?" Tanya Satya sembari menjelaskan.


Mbok Yati menggelengkan kepala pertanda jika buka mereka yang menjemput Budhe Rohimah. Kini bergantian Satya lah yang mengerutkan keningnya. Lalu siapa yang menjemput asisten rumah tangganya itu.


Mbok Yati juga tampak berpikir, tapi tak lama ia mengerti siapa yang menjemput Budhe Rohimah. Baru saja ia akan membuka suara tapi matanya melihat kedatangan Alya. Sontak niatnya diurungkan kembali. Tahu bagaimana perilaku Alya terhadap para asisten rumah tangga terlebih pada Budhe Rohimah dan juga Belva.


Mengenai masalah Belva hanya Pak Jajak dan Mbok Yati yang mengetahuinya karena memang Mbok Yati mendapatkan cerita dari Pak Jajak. Tapi keduanya sudah berjanji tak akan mengatakan apapun pada siapapun mengenai hal itu.


"Daddy ? Daddy kapan pulang ?" Tanya Alya dengan menggeret kopernya dengan disampingnya terdapat seorang pria merangi pinggang Alya.


Tatapan tajam Satya berikan pada kedua manusia yang baru saja datang. "Dari mana kamu ?" Tanya Satya datar dan dingin.


"Dari... Dari liburan bersama teman-teman Dad." Ucap Alya sedikit gugup dan langsung melepas belitan tangan Jack pada pinggangnya.


"Siapa dia ?" Tanya Satya kini mata tajamnya beralih pada Jack.


"Ah hallo Dad... Eh Om. Saya Jack kekasih Alya." Jack berjalan menghampiri Satya dan mengulurkan tangannya pada Satya. Meski gugup dan takut melihat aura Satya yang dingin. Tapi sebisa mungkin Jack berusaha setenang mungkin dan mencari perhatian Satya. Dia ingin terlihat baik di depan mata Satya dan keluarga Alya.


Bukan menerima uluran tangan tersebut Satya justru menatap wajah Jack dan beralih pada tangan pria itu secara bergantian. Tatapan menyelidik bak laser yang memindai seperti sensor.


"Ibu dan anak sama saja kelakuannya." Ucap Satya dengan nada rendah tapi masih bisa didengar oleh Alya dan Jack.


Satya pergi berlalu begitu saja tanpa membalas uluran tangan Jack. Pria yang menjadi kekasih Alya itu merasa kikuk dan juga malu itu membuat hatinya kesal. Niat hati ingin menarik perhatian Ayah sang kekasih tapi justru sepertinya penolakan yang didapatkannya.


Beberapa hari berlalu, kini saatnya Tuan Hector harus kembali ke Jerman. Semua sudah siap, koper besar Tuan dan Nyonya Hector sudah masuk ke dalam mobil begitu juga dengan koper Roichi.


Seluruh anggota keluarga mengantar ke Bandara Soekarno-Hatta. Dalam perjalanan banyak sekali perbincangan diantara mereka. Nasehat dan juga canda tawa ada dalam pembicaraan mereka saat itu.


Sampai di Bandara, semua turun beriringan. Roichi membawa kopernya dan koper milik Nyonya Hector. Sedangkan koper milik Tuan Hector dibawa oleh sopir. Roichi mengurus semuanya sebelum mereka memasuki pesawat.


"Sayang, jaga diri baik-baik di sini. Mama dan Papa nanti jika ada waktu luang akan kembali lagi ke sini menjenguk kalian." Nyonya Hector memeluk tubuh putrinya.


"Iya Mama hati-hati ya. Jaga diri kalian juga di sana baik-baik. Kalau ada apa-apa segera kabari aku."


"Iya sayang." Kening Belva dikecup oleh Nyonya Hector. Begitu pula Tuan Hector berlaku sama sebagai salam perpisahan.


Tak lupa duo Kay juga mendapatkan jatah ciuman penuh di wajah mereka dari Opa dan Oma mereka yang sebentar lagi terbang ke Jerman.


"Sayang kalian tidak boleh nakal di sini. Jangan buat Mami kalian kerepotan. Jaga Mami kalian ya." Tuan Hector berpesan pada Duo Kay. Spontan dua anak kecil itu mengangguk antusias.


Kaila bergerak seperti sikap seorang prajurit yang siap melaksanakan tugasnya. Itu membuat semua orang terkekeh dengan tingkah lucunya.


****


🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Terimakasih buat para reader setia.

__ADS_1


Jangan lupa berikan Vote, Kritik, Saran dan Like nya.


Bagaimana dengan part ini bisa silahkan komen ya guys πŸ™


__ADS_2