
Semua hal yang dibutuhkan untuk acara penting pada hari ini sudah selesai dilakukan. Satu tempat yang biasa nya memang selalu ramai dengan suara canda tawa itu masih tetap sama terdengar seperti biasa. Bedanya tempat itu sedikit berubah menjadi lebih cantik dan indah.
Dekorasi pelaminan sederhana namun terlihat cantik dan indah terpampang nyata di area taman belakang pantai asuhan. Semua penghuni panti asuhan menjadi tamu undangan dalam acara yang digelar di tempat mereka sendiri.
Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, acara ini adalah acara yang istimewa namun terlihat sederhana. Perayaan ulang tahun yang setiap tahun dalam lima tahun terkahir memang selalu diadakan di sebuah panti. Entah panti asuhan atau panti jompo serta tempat-tempat yayasan sosial lainnya.
Belva lebih dulu berangkat ke panti asuhan bersama Bella dan Budhe Rohimah. Di tempat itu Belva mempersiapkan dirinya dengan dirias oleh MUA yang berkompeten dan memiliki kredibilitas yang cukup bagus.
Belva tak mengenakan gaun yang besar ala pernikahan di gedung hotel yang mewah. Wanita itu menggunakan kebaya berwarna putih. Kebaya yang pernah dirancang oleh Nyonya Hector beberapa tahun yang lalu saat berada di Perancis. Akibat dari rasa rindunya pada tanah kelahirannya yaitu Indonesia, Nyonya Hector mengobati rasa rindunya dengan membuat kebaya yang memang pakaian khas negara Indonesia.
"Wah... Kak... Kamu sangat cantik sekali dengan kebaya ini." Ujar Bella memuji Belva.
Sesuai fakta memang wanita dua anak itu terlihat sangat cantik dengan dandanan sederhana itu. Tak perlu berdandan muluk-muluk karena acara pernikahan hanya di adakan secara sederhana di panti asuhan.
Belva tersenyum menanggapi pujian dari Bella. "Kamu bisa saja Bel. Kamu juga cantik sekali hari ini."
Bella juga turut di dandani secara sederhana demi mengikuti acara pernikahan sederhana Belva.
Budhe Rohimah tampak tersenyum, ada rasa bahagia di dalam hatinya bisa melihat keponakannya menikah hari ini. Terlebih pernikahan ini Belva mendapatkan seorang pria yang baik dan bertanggung jawab. Wanita paruh baya itu dapat melihat bagaimana Satya memperlakukan Belva dan juga Duo Kay. Pria itu tampak sangat menyayangi keponakan dan cucunya.
"Nduk, kamu cantik sekali. Budhe senang akhirnya kamu mendapat pendampingan hidup yang menyayangi dirimu, yang dapat menjaga mu nanti."
"Budhe... Terimakasih. Selama ini Budhe juga sudah menyayangi dan menjaga Belva."
Air mata Belva berkaca-kaca, ia merasa terharu di acara pernikahan nya satu-satunya keluarga kandung yang dimiliki hanya Budhe Rohimah saja yang dapat menghadiri pernikahannya. Berharap kedua orang tuanya mendampingi itu sangat tidak mungkin, mereka sudah tiada.
"Jangan menangis, nanti riasan wajah mu berantakan sayang." Ucao Budhe Rohimah yang sudah melihat mata bekva berkaca-kaca.
"Aku hanya merasa terharu dan sedih. Satu-satunya keluarga yang aku miliki hanya Budhe yang bisa menghadiri pernikahan ku."
Budhe Rohimah mendekati Belva dan memeluk keponakan nya itu. Ia juga merasakan bagaimana perasaan Belva. Ia tahu apa yang diharapkan Belva saat ini.
"Sudah, semua sudah berjalan sesuai takdir. Kamu tidak sendirian Nduk."
"Seandainya Ayah dan Bunda masih ada, pasti mereka bisa melihat pernikahanku."
"Mereka melihat pernikahan mu Nduk, hanya saja kita yang tak bisa melihat mereka. Jangan sedih dan tetaplah bahagia agar Ayah dan Bunda mu juga merasa bahagia di sana."
Budhe Rohimah berusaha menenangkan hati keponakannya yang saat ini, ia tahu pasti rasa kehilangan itu masih ada, rasa kesedihan itu masih ada kala mengingat keluar mereka yang harus pergi lebih dulu sesuai takdir mereka.
"Kak, apa maksud mu ? Aku juga keluarga mu, apa kamu tak menganggap diri ku ?" Celetuk Bella. Gadis itu sengaja berkata demikian demi mengurangi kesedihan yang dirasakan oleh Belva.
Pelukan Budhe Rohimah dan bekva terlepas saat Bella mengatakan hal itu. Belva tersenyum menatap Bella.
"Tidak, bukan begitu. Kamu juga keluarga ku hanya saja... Sudah lah, sini peluk kakak mu ini." Ucao Belva merentangkan tangannya.
Bella mendekat, menyambut rentangan tangan Belva. Mereka saling berpelukan. Tim MUA pun menatap mereka bertiga, bahkan mereka mendengar apa yang dibicarakan oleh Belva, Budhe Rohimah dan Bella. Mereka ikut merasa sedih, merasakan bagaimana rasanya ditinggalkan oleh seseorang.
"Nona, maaf saya benahi dulu riasan anda. Tolong jangan menangis nanti riasan anda berantakan." Ucap MUA yang menangani wajah Belva.
"Maaf Mbak... Aku tidak sengaja." Ucap Belva yang memang tidak bisa membendung rasa sedihnya.
"Tidak apa-apa saya mengerti. Kehilangan seseorang yang sangat berharap dalam hidup kita memang sangat sulit untuk dilupakan. Tapi hari ini adalah hari bahagia anda Nona, tersenyum lah agar riasan anda tampak lebih bersinar karena aura bahagia yang anda pancarkan."
Belva mengangguk, MUA itu kembali membenahi riasan pada wajah Belva. Tak lama, hanya sebentar saja karena tak terlalu parah.
Waktu acara pun hampir tiba, Satya yang datang terpisah dengan Belva pun kini sudah datang bersama Jordi dan juga keluarga Hector serta Duo Kay. Beberapa asisten rumah tangga yang terpilih pun ikut hadir dalam acara pernikahan ini. Mbok Yati, Pak Jajak, Bi Marni yang menjadi asisten rumah tangga kepercayaan keluarga serta dekat dengan Budhe Rohimah dan Belva yang ikut dalam acara ini.
Mereka sudah tampak rapi dengan pakaian mereka. Jas untuk para lelaki kecuali Pak Jajak yang hanya menggunakan kemeja. Gaun yang indah digunakan oleh Nyonya Hector, Bella dan Budhe Rohimah. Mbok Yati dan Bi Marni mereka juga mendapatkan jatah baju yang bagus dari Nyonya Hector.
Duo Kay tampak celingak-celinguk mencari keberadaan Mami mereka. Opa dan Oma mereka mengatakan jika Mami mereka tengah berdandan untuk acara pernikahan Mami dan Daddy nya.
"Oma, Mami dimana ?" Tanya Kaili.
"Mami berdadan dimana ?" Tanya Kaila.
"Mami kalian ada di dalam sayang. Nanti Mami pasti keluar, kita tunggu ya."
Kaili mengangguk. "Aku mau ke Daddy saja." Ucap Kaili. Pri kecil itu berlari mendekati Daddy nya.
Satya yang begitu menyayangi anak-anaknya langsung memangku Kaili.
"Daddy, kata Oma... Mami masih berdandan." Ujar Kaili.
"Iya pasti Mami cantik sekali nanti." Ucap Satya sembari tersenyum menanggapi perkataan putranya.
Jantung Satya berdetak lebih kencang dari biasanya. Dirinya pernah melaksanakan acara pernikahan sebelumnya tapi entah mengapa dirinya kembali merasa deg-degan dan grogi untuk pernikahan nya dengan Belva.
"Oma, Kaila mau cari Mami." Rengek Kaila yang sudah tidak sabar ingin bertemu Maminya.
"Ya sudah iya... Jangan menangis kita cari Mami." Nyonya Hector berpamitan pada Tuan Hector untuk masuk ke dalam mencari Belva.
Saat akan mencari ruangan Belva, Nyonya Hector dan Kaila bertemu dengan Budhe Rohimah yang baru saja akan ke toilet.
"Mbak, mau kemana ?" Tanya Budhe Rohimah.
"Ini Kaila mencari Maminya. Dimana Vanthe ?"
"Dia ada di ruangan yang itu, nomor dua dari kanan." Tunjuk Budhe Rohimah pada ruangan yang digunakan oleh Belva.
Nyonya Hector mengangguk.
"Uti mau kemana ?" Tanya Kaila.
__ADS_1
"Uti mau ke toilet dulu sayang. Kamu masuk saja ke ruangan itu bersama Oma ya."
"Oke Uti." Jawab Kaila.
"Dek, aku masuk dulu. Biar tidak rewel ini Kaila." Ucap Nyonya Hector.
"Iya Mbak, ya sudah aku pergi dulu." Pamit Budhe Rohimah.
Nyonya Hector dan Kaila berjalan menuju ruangan Belva. Dibukanya pintu kamar tersebut, Nyonya Hector dan Kaila tersenyum melihat Belva yang tampak cantik sekali.
"Mamiii..." Teriak Kaila riang.
"Sayang, kamu menyusul ke sini ? Dimana kakak mu ?" Tanya Belva.
Kaila langsung menghambur ke dalam peluka Belva. Gadis kecil itu berdiri di depan Maminya, tangan nya bertumpu di pangkuan Belva.
"Mami cantik sekali." Ujar Kaila tersenyum.
"Terima kasih sayang. Kaila juga cantik, gaun nya bagus sekali ini sayang."
"Iya, Oma memilihkan untukku. Warnanya sama seperti baju Mami."
Belva menangguk tersenyum bahkan terkekeh kecil menanggapi putri kecilnya.
"Sayang, kamu sangat cantik. Ini baru seperti ini coba jika pernikahan ini di gelar dengan meriah pasti kamu akan jauh lebih cantik lagi dengan gaun pengantin yang cantik." Ucap Nyonya Hector tersenyum.
Hari ini sudah kesekian kalinya Belva mendapatkan pujian dari orang-orang sekitar nya. Memang hari ini wanita itu tampak lebih berbeda. Jauh lebih cantik dari hari biasanya.
"Nona, sudah waktunya. Mari kita keluar ke tempat acara." Ujar salah satu yang menjadi panitia pernikahan sederhana dan mendadak itu.
Untung saja Jordi dan Tuan Hector memilih orang-orang yang dengan sigap memahami keinginan dan kebutuhan mereka. Tentu saja semua itu tidak dibayar dengan harga yang murah.
"Ayo sayang, kita keluar. Pengantin mu pasti sudah menunggu di luar. Pasti dia akan terpesona dengan kecantikan mu." Ucap Nyonya Hector.
Belva di tuntun oleh Nyonya Hector dan Budhe Rohimah keluar dari ruangan tersebut. Bella menggandeng gadis kecil yang saat ini berubah seperti princess kerajaan dengan gaun mengembang yang dipakainya.
Rupanya Tuan Hector sudah menunggu di balik gapura yang terbuat dari susunan bunga-bunga mawar berwarna putih yang cantik. Pria tua yang menjadi orang tua angkatnya itu menyambut Belva dengan uluran tangannya yang telah keriput.
"Ayo Nak, Papa akan mengantar mu menuju altar pernikahan mu." Ujar Tuan Hector.
"Papa... Terimakasih Pa." Hanya kata itu yang bisa Belva ucapkan saat ini. Ia menahan haru dan juga kebahagiaan, di tengah dirinya yang sudah menjadi yatim piatu tapi masih ada yang bersedia membimbing dan mendampingi nya di saat penting seperti ini.
Kini Belva berjalan berdampingan dengan Tuan Hector, menggandeng lengan pria paruh baya itu. Di belakang Belva mengikuti Nyonya Hector yang berjalan berdampingan dengan Budhe Rohimah lalu Bella yang berjalan menggandeng Kaila.
Merek berjalan di atas karpet merah yang digelar oleh pihak panitia khusus untuk acara pernikahan ini. Di sisi depan terlihat Satya yang sudah berdiri di depan meyambut kedatangan Belva. Tatapan mata prianitu hanya terfokus pada Belva seorang. Wajah cantik itu menghipnotis dirinya, jantung nya berdetak semakin kencang dari sebelumnya.
"Ya Tuhan dia cantik sekali." Batin Satya terpesona menatap Belva dengan riasan sederhana dan kebaya putih yang sangat pas di tubuh wanitanya.
Belva pun sama merasa deg-degan saat sekali menatap wajah tampan Satya. Pria itu lebih tampan dari biasanya, padahal sama saja seperti hari-hari saat pria itu berangkat bekerja di kantor. Tapi entahlah saat ini Satya terlihat begitu tampan mungkin karena rasa bahagia Belva yang mengingat mereka sebentar lagi dalam hitungan menit akan menjadi sepasang suami istri.
Mata mereka saling bertemu menatap satu sama lain, saling memuji dalam hati mengagumi paras yang mempesona dari masing-masing pasangannya.
Belva dan Tuan Hector sampai di altar pernikahan. Belva tersenyum malu-malu di hadapan Satya, ia menundukkan kepalanya tak berani menatap Satya. Pria itu tersenyum tipis saat menatap wanitanya.
"Ku serahkan putri ku pada mu." Ucap Tuan Hector.
Tangan Satya terulur dihadapan Belva, wanita cantik calon istri Satya pun menyambut dengan senang hati dan bibir tersenyum manis.
Tuan Hector kembali ke tempat duduk dimana dia duduk tepat di samping sang istri yang telah duduk lebih dulu.
Satya menggandeng Belva semakin mendekat pada altar. Suatu hal yang menarik dan menyenangkan bagi mata Satya untuk terus memandang Belva. Pria itu berjalan dan sesekali menoleh ke samping, bibirnya tersenyum. Tampak wajah penuh bahagia Satya dan Belva.
"Kamu cantik sekali sayang." Bisik Satya pada Belva.
Wanita itu tersenyum dan tersipu malu. Membuat Satya ikut tersenyum semakin lebar.
Kaili, pria kecil itu duduk bersama Jordi asisten Daddy nya. Selama ini pria kecil itu tak banyak tingkah lebih kalem dan cuek. Tapi saat ini bocah itu terlihat berjingkrak senang memperhatikan Daddy dan Maminya yang berjalan berdampingan.
"Mamiii... Cantik sekali Mami... Daddy juga tampan. Lihat uncle." Suara Kaili sedikit terdengar lebih keras.
Hingga mereka yang mendengar menjadi tersenyum. Termasuk Belva dan Satya, mereka tersenyum mendengar celotehan putra mereka.
Mereka berdua berhenti tepat dihadapan pendeta. Acara penyatuan dua hati menjadi satu ikatan suci sehidup semati itu akan segera dimulai. Dihadapan pendeta, dihadapan keluarga dan para tamu yang menyaksikan terutama dihadapan sang pencipta mereka berdua mengikat janji sehidup semati, sepenanggungan saat susah dan bahagia.
Satya dan Belva saling berhadapan, mereka berpegangan tangan. Satya membuka suara lebih dulu menyuarakan janji pernikahan nya dengan lantang dan tegas penuh keyakinan.
"Belva Evanthe, saya mengambil engkau menjadi seorang istriku, untuk saling memiliki dan juga menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, dan pada waktu sehat maupun sakit. Untuk selalu saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, inilah janji setiaku yang sangat tulus."
Belva menatap kedua mata Satya yang memancarkan ketulusan pada nya. Belva tersenyum menandakan bahwa dirinya menerima, dirinya bahagia atas janji pernikahan yang Satya ucapkan. Matanya berkaca-kaca merasakan haru, seorang pria menyuarakan janji suci pernikahan untuk dirinya.
"Aryasatya Balakosa, saya mengambil engkau menjadi seorang suamiku, untuk saling memiliki dan juga menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, dan pada waktu sehat maupun sakit. Untuk selalu saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, inilah janji setiaku yang sangat tulus."
Belva juga mengucapkan janji pernikahan bergantian dengan Satya dengan nada yang bergetar. Satya memegang erat tangan Belva, menatap harus wanita yang saat ini menjadi istrinya.
Setelah saling mengucapkan janji suci itu mereka saling memasangkan cincin pernikahan. Perlambang bahwa mereka telah terikat satu sama lain.
Satya mencium kening Belva sedikit lama, mereka memejamkan mata. Betapa bahagia mereka saat ini sudah sah menjadi suami istri.
Semua rangkaian acara pemberkatan pernikahan telah selesai dilakukan. Belva tak bisa lagi menahan laju air matanya karena terharu.
"Jangan menangis sayang. Ini hari bahagia kita." Ucap Satya saat memeluk bahu Belva.
"Karena ini terlalu membuatku bahagia jadi aku merasa terharu." Ucap Belva menyeka air matanya.
__ADS_1
Satya tersenyum dan mengecup kepala Belva dari samping. Dia pun sama terharu nya karena berhasil mendapatkan dan menjadikan Belva sebagai istrinya. Tapi Satya seorang laki-laki, dia menjaga harga dirinya dihadapan banyak orang. Meski sah-sah saja menangis bagi seorang pria.
"Sudah jangan menangis, nanti riasan wajah mu berantakan sayang." Satya mengambil tisu yang ada di kursi samping nya. Ia mengusap lembut pada pipi istrinya. Menghapus air mata Belva.
"Mami... Daddy..." Kaila dan Kaili berlari bergandengan tangan menghampiri kedua orang tuanya.
"Sayang..." Panggil Belva pada Duo Kay.
Satya tersenyum semkain lebar, sangat-sangat bahagia. Kini dia menjadi seorang ayah dan suami secara sah bagi keluarga kecilnya. Pria itu lantas langsung menggendong Kaila. Kaila digandeng oleh Belva.
"Mami cantik dan Daddy tampan sekali hari ini." Ucap Kaila.
"Tentu saja Daddy siapa dulu ini ?" Ujar Satya.
"Daddy Kaila dong." Jawab Kaila mantap dan senang.
"Daddy Kaili juga." Ucap Kaili.
"Iyaa... Daddy Kaila dan kakak Kaili." Ucap Belva tersenyum.
"Daddy nya Mami juga. Kan Daddy milik kalian bertiga." Ucap Satya tersenyum menatap Kaila dan bergantian menatap Belva. Tangan kekarnya pun mengusap lembut kepala Kaili yang tengah mendongakkan kepalanya menghadap dirinya.
Tuan dan Nyonya Hector menghampiri sepasang pengantin baru itu dan memberikan selamat pada mereka.
"Selamat sayang, kamu telah sah menjadi seorang istri. Semoga kamu semakin bahagia sayang. Jadilah istri yang baik bagi suami mu. Patuhlah pada suamimu, dia yang bertanggung jawab atas dirimu saat ini." Ucap Nyonya Hector yang setelah mengatakan hal itu langsung memeluk Belva dengan erat.
"Terimakasih Mama, terimakasih atas ucapan, doa dan nasihat dari Mama. Aku akan terus mengingat nasihat mu."
Pelukan itu terurai dan berganti dengan Tuan Hector yang memeluk dan memberikan ucapan selama pada Belva.
"Selamat Nak, Papa lega sekarang sudah ada yang menjaga mu dengan lebih baik lagi."
"Terimakasih Papa." Ujar Belva.
"Satya, jaga putriku dengan baik. Jangan kamu sakiti dia, jika kamu sudah tak menginginkannya kembalikan putri ku dengan baik-baik padaku jangan kamu usir secara tidak hormat karena kamu memintanya dengan rasa hormat pada keluargaku." Tuan Hector kembali mengingatkan Satya.
"Tentu Pa, saya pasti akan menjaga istri saya dengan baik dan tidak akan pernah melepaskannya. Ini kebahagiaan kami dan tentu kebersamaan kami akan terus menjadi kebahagiaan kami." Ucap Satya dengan mantap.
Tuan Hector menepuk bahu Satya, dia percaya pada Satya seorang pria yang pasti bertanggung jawab atas tindakan dan ucapannya.
"Papa percaya padamu. Jaga kepercayaan Papa, Satya."
Mendengar Papa mertuanya yang dengan mantap percaya padanya, Satya pun mengangguk dan tersenyum.
"Nduk... Nak... Selamat atas pernikahan kalian. Nak Satya, ibu titipkan Belva padamu jaga dia dan buatlah di bahagia bersama mu." Budhe Rohimah pun menghampiri Satya dan Belva yang tentu juga masih ada Tuan dan Nyonya Hector.
"Tentu ibu, saya akan menjaganya sekuat dan semampu saya. Ibu tenang saja." Ucao Satya.
Budhe Rohimah tersenyum dan mengangguk. Ia memeluk Belva dengan erat. Sangat bahagia sekali, dirinya bisa menyaksikan pernikahan keponakan satu-satunya.
"Har... Dy... Kalian pasti bahagia disana melihat putri mu telah menikah hari ini. Tenanglah disana putri kalian sudah ada yang menjaga dengan lebih baik lagi. Aku yakin Belva tidak akan mendapatkan hidup susah lagi." Batin Budhe Rohimah saat memeluk Belva.
Air mata Budhe Rohimah menetes, mengingat adik serta adik iparnya yang telah tiada. Seharusnya jika sang pencipta memberikan kesempatan umur yang panjang pada mereka, tentu mereka bisa menyaksikan pernikahan ini dan berkumpul diantara mereka untuk merayakan acara istimewa namun sederhana ini.
"Kakak... Selamat menempuh hidup baru bersama Om Satya. Aku ikut bahagia melihat hal ini." Bella memeluk Belva dengan rasa sayangnya sebagai saudara.
"Terimakasih Bella, aku berharap kamu bisa segera menyusul kami seperti ini." Ucap Belva.
"Itu masih panjang... Jauh dari pemikiran ku kak." Ucap Bella.
Jordi melirik Bella dan lirikan itu tertangkap oleh Satya.
"Om, jaga kakak ku dengan baik. Jangan sakiti kakak ku. Awas saja jika itu terjadi." Ucap Bella pada Satya dengan nada mengancam.
"Kamu tenang saja. Kakak mu aman bersama saya. Justru yang harus dikhawatirkan adalah diri mu." Ujar Satya.
"Aku ? Kenapa ?" Tanya Bella.
"Ada yang mengincar diri mu. Berhati-hatilah." Ucap Satya melirik Jordi.
Bella bingung dengan apa yang Satya katakan. "Maksud Om apa ? Siapa yang mengincar diri ku ? Apa aku dalam bahaya ?"
"Entalah... Kamu perempuan lajang dan masih muda. Pasti akan ada yang mengincar dirimu untuk dijadikan istrinya. Jadi berhati-hatilah dalam melangkah."
Jordi hanya bisa memandang kikuk pada Satya. Sepertinya bos-nya mencurigai sesuatu darinya.
"Ekhm... Tuan selamat atas pernikahan Anda." Ucao Jordi.
"Hem... Kapan kamu mengikuti jejak saya ? Jangan lama-lama nanti diambil orang." Ucap Satya pada Jordi.
Perkataan Satya itu membuat Jordi terkejut. Belva dan Bella tidak paham dengan apa yang mereka dengar. Tuan dan Nyonya Hector tahu apa yang dimaksud Satya, mereka hanya tersenyum saja.
Jordi tersenyum paksa tapi tak menjawab apapun yang dikatakan oleh Satya.
"Nona, selamat atas pernikahan anda. Semoga anda menjadi wanita yang lebih kuat dan tegar." Ucap Jordi pada Belva.
****
To Be Continue...
Hai my dear para readers ku tersayang
Maaf kemarin gak bisa update karena capek banget jadi gak sempat buat berhalu ria. Terimakasih banyak buat kalian yang masih setia support author β€οΈβ€οΈππ
__ADS_1
Doa aja yang bisa author kasih buat membalas kebaikan Kaila yang masih sering like, komentar, kasih Kembang setaman terlebih vote buat author. Semoga kalian sehat selalu dan lancar rejeki βΊοΈπ