
Sebenarnya kondisi pria itu masih belum sepenuhnya sehat. Entah mungkin karena benar-benar lelah secara fisik dan batin hingga membuat pria itu drop.
Banyak sekali masalah yang menghampirinya dalam waktu bersamaan. Mulai dari pengkhianatan hingga berujung perceraian, kecelakaan yang menimpa Kaila dan Alya hingga memberikan fakta baru bahwa Alya bukan putri nya dan fakta kejadian di masa lalu hingga takdir memberikannya dua orang anak tapi sayang anak-anak nya belum mampu menerima dirinya hingga sampai saat ini. Hal terberat Satya adalah belum adanya penerimaan dari Duo Kay kepada dirinya yang nyatanya adalah ayah kandung mereka.
"Tuan..." Ucap Budhe Rohimah lirih.
"Bi... Kalian mau pulang ?" Tanya Satya.
"Hey jagoan." Sapa Satya pada Kaili dengan mengusap rambut Kaili.
"Tidak Tuan, kami akan ke rumah sakit menjenguk Kaila bersama dokter Dimas dan teman Kaila." Jawab Budhe Rohimah.
"Ke rumah sakit ? Oke, ayo masuk kita berangkat bersama Bi. Saya merindukan si jagoan ini." Ucap Satya
Budhe Rohimah bingung harus bagaimana sebelum Satya tiba dokter Dimas sudah memberikan tawaran untuk berangkat bersama ke rumah sakit.
Dokter Dimas memperhatikan Satya, tak asing dengan wajah pria itu. Satya diam menunggu jawaban Budhe Rohimah.
"Maaf Tuan tapi dokter Dimas sudah memberikan tawaran untuk berangkat bersama kami." Ucap Budhe Rohimah.
Satya memperhatikan Dimas, lalu pria itu mengangguk. Tak bisa memaksa, itu bukan sifat Satya jika orang yang ada dihadapannya menolak secara baik-baik.
"Boy... Kamu mau ikut denganku ?" Tanya Satya pada Kaili.
"Uti bagaimana ?" Tanya Kaili.
"Uti akan ikut bersama mereka, apa kamu mau ikut denganku ?" Tanya Satya kembali.
"Boleh Uti ?" Tanya Kaili pada Budhe Rohimah.
Bocah laki-laki itu merasa tak takut dengan Satya meski mereka jarang sekali berinteraksi. Kaili merasa dekat dengan Satya maka dari itu pria kecil itu tak ragu jika Satya mendekatinya, meski saat awal-awal mereka bertemu Kaili merasa asing dengan Satya.
"Boleh Nak... Tuan jaga Kaili." Ucap Budhe Rohimah.
"Tentu... Saya pasti akan menjaganya. Ayo boy." Satya menggendong Kaili memasuki mobil.
Budhe Rohimah tak ragu jika Kaili bersama Satya. Tak mungkin mantan majikannya itu akan mencelakakan putra kandungnya sendiri. Ia bisa melihat di mata Satya bahwa pria itu terlihat tulus menyayangi Kaili.
Satya dan Kaili berlalu menggunakan mobil yang mereka tumpangi. Sedangkan Budhe Rohimah dan dokter Dimas serta Yossy masih menatap mobil Satya yang berlalu.
Benak dokter Dimas bertanya-tanya siapa pria yang membawa Kaili tersebut. Ingin bertanya tapi tidak enak hati jadi dia memilih diam saja.
"Mari Bu, kita berangkat." Ajak dokter Dimas.
"Baik dokter, mari." Ucap Budhe Rohimah.
Mereka pun masuk ke dalam mobil, perjalanan mereka isi dengan obrolan ringan mengenai kesehatan Budhe Rohimah saat ini setelah keluar dari rumah sakit. Ingin rasanya dokter Dimas bertanya pada wanita paruh baya itu mengenai gadis cantik yang selalu menjaganya dulu di rumah sakit. Wanita yang menarik hatinya sebab kecantikan yang dimiliki wanita itu.
"Saya rasa ibu beruntung sekali saat sakit dulu ada keponakan ibu yang mau menjaga setiap hari, meski ibu masih tak sadarkan diri saat itu." Ucap dokter Dimas yang mencoba memasuki topik mengenai Belva.
"Ah itu, iya keponakan saya itu memang sangat baik. Sudah saya Angga sebagai anak saya sendiri. Hanya dia satu-satunya keluarga saya dokter."
"Maksud ibu satu-satunya ?" Tanya dokter Dimas.
"Saya hanya dua bersaudara. Adik saya laki-laki tapi sudah meninggal sebab bencana alam. Bisa dibilang Belva adalah satu-satunya saudara kandung yang saya miliki dokter." Jelas Budhe Rohimah.
"Emm jadi namanya Belva." Batin dokter Dimas.
Mungkin pria itu sempat mendengar nama Belva tapi pria itu lupa. Wanita cantik yang selalu membuatnya bersemangat saat mengunjungi Budhe Rohimah saat itu.
"Saya turut prihatin atas apa yang menimpa anda Bu." Ucap dokter Dimas.
Kebetulan sekali keponakannya memiliki teman yang berkeluarga dengan Belva sehingga dirinya bisa memiliki kesempatan untuk mendekati perempuan itu. Dokter Dimas tak tahu jika Kaila bocah yang akan dijenguknya adalah anak dari Belva. Dia pikir Belva masih gadis single. Memang single tapi bukan gadis single tapi sudah menjadi single mother.
Berbeda mobil, Satya dan Kaili berkendara dengan kecepatan sedang. Bersama Satya bocah laki-laki itu bisa membuka suara dengan santainya meski sikap cuek nya tetap terlihat.
"Boy, kamu mau makan dulu ?"
"Emm... Dimana ?" Tanya Kaili.
"Terserah kamu, mau makan dimana akan Daddy antar." Ucap Satya.
Kedua alis Kaili terangkat ke atas. "Daddy ? Kok Daddy ?"
Satya menggaruk kepalanya, bingung harus menjelaskan bagaimana. Dia takut Kaili akan sama seperti Kaila menolak keberadaan dirinya sebagai ayah kandung si kembar.
"Emm... Kaili... Saya boleh tanya ?" Ucap Satya.
"Tanya apa ?" Ujar Kaili.
Saat ini Satya memposisikan dirinya sebagai teman untuk Kaili. Agar bocah kecil itu merasa lebih nyaman lagi dengannya.
"Kalau misalkan saya menjadi Daddy kamu, Kaili mau ?"
"Kenapa begitu ?" Tanya Kaili kembali.
"Emm... Karena saya tidak punya anak laki-laki." Jawab Satya berbohong. Saat ini tak mungkin jika dirinya menjelaskan secara gamblang siapa dirinya sebenarnya bagi Kaili.
"Oh... Jadi anak Opmud perempuan ?" Ujar Kaili dan Satya hanya mengangguk.
"Tapi aku sudah punya Papi. Daddy itu sama saja Papi kan ? Teman aku ada juga yang panggil Papinya dengan sebutan Daddy."
Lagi hati Satya kembali sakit untuk kesekian kalinya. Putranya pun menjawab dengan jawaban yang sama seperti putrinya.
"Tapiii... Boleh." Jawab Kaili yang awalnya ragu untuk mengatakannya.
"Tapi ada syaratnya." Ujar Kaili kembali.
Satya merasa sedikit senang, Kaili memberikan nya kesempatan untuk menjadi Daddy nya. Sungguh miris, berbanding terbalik dengan kenyataan. Roichi yang bukan siapa-siapa bagi si kembar bisa mendapatkan sebutan Papi tapi Satya yang kenyataannya menjadi ayah kandung sangat sulit mendapatkan sebutan Daddy.
"Apa syarat nya ?" Tanya Satya.
"Harus sayang denganku. Lalu bisa jalan-jalan denganku juga." Ucap Kaili.
Satya tersenyum dan mengusap kepala Kaili. Posisi Kaili duduk di kursi sebelah Satya sedangkan pria itu mengemudikan mobilnya.
"Tentu saja, Daddy pasti akan sangat menyayangi mu. Jadi, sekarang saya sudah bisa jadi Daddynya Kaili kan ?" Tanya Satya.
"Iya. Berarti aku panggil nya Daddy ?"
"Iya sayang panggil Daddy." Mata Satya berkaca-kaca. Akhirnya dia bisa merasakan panggilan itu dari Kaili.
__ADS_1
"Oke." Jawab Kaili mengacungkan jempolnya.
Tak apa perlahan dan sedikit demi sedikit Satya akan bersabar. Sudah mendapatkan kemajuan seperti itu saja Satya sudah sangat bahagia. Berulang kali Satya mengusap kepala Kaili hingga bocah kecil itu sedikit risih dibuatnya.
"Daddy, stop. Aku tak suka di elus-elus terus aku bukan anak perempuan." Ucap Kaili mengangkat tangan Satya agar menjauh dari kepalanya.
Bagi Kaili usapan seperti itu sering sekali diberikan pada anak perempuan yang sedang menangis. Dia sering melihat di sekolah jika teman sekolahnya menangis akan mendapatkan perlakuan seperti itu dan kebanyakan dari mereka adalah anak perempuan.
"Haha... Daddy terlalu bahagia akhirnya punya anak laki-laki seperti mu."
"Tapi jangan seperti itu terus. Kalau dengan Kaila boleh."
Satya merasa senang sekali hari ini. Kaili putranya sedikit kesal dengan sikapnya dan hal itu menjadi hiburan bagi Satya. Lama sekali dirinya tak merasakan kebahagiaan kecil seperti itu.
"Oke, tapi Kaila tak mau memiliki Daddy. Jadi, Daddy tak bisa mengelus kepala Kaila seperti tadi." Ucap Satya seakan mengadu pada putranya.
"Kenapa seperti itu ? Aku saja mau punya Daddy. Jadi, aku bisa punya dua ayah. Papi dan Daddy." Ucap Kaili.
Satya tersenyum tipis masih ada rasa tak rela jika anak-anaknya membagi kasih sayang mereka untuk orang lain. Tapi Satya tak boleh egois walau bagaimanapun Roichi memang pria yang baik dan sangat menyayangi anak-anaknya. Menjaga mereka sebelum dirinya mengetahui fakta yang sebenarnya.
"Entahlah... Nanti kamu bujuk Kaila biar kita bisa jalan-jalan bersama nanti. Daddy akan usahakan agar bisa terus bersama kalian." Ucap Satya.
"Iya lihat nanti saja. Aku mau beli mainan boleh ?" Tanya Kaili.
"Mainan apa yang akan kamu beli ?"
"Lego tapi yang banyak." Jawab Kaili.
Permainan yang baru saja dimainkan nya bersama Donny, Farel dan Yossy saat di ruang bermain sekolah nya tadi. Pria kecil itu akan membuat sebuah istana yang sudah di rancangnya di kepala. Imajinasi Kaili memang sangat kuat hampir sama seperti Kaila.
"Boleh. Kita nanti mampir ke toko mainan. Anak Daddy boleh beli apa saja nanti di sana."
"Benarkah Daddy ?" Tanya Kaili antusias.
"Tentu saja. Apapun itu akan Daddy berikan untuk anak Daddy yang tampan ini."
Kaili sangat senang keinginannya untuk membeli mainan tercapai tak perlu menunggu weekend untuk membeli mainan. Saat bersama Belva maka Duo Kay akan sangat jarang sekali membeli mainan. Wanita itu selalu mengajarkan mereka untuk berhemat dan membeli barang-barang yang penting saja. Mereka akan merasa dimanjakan ketika ada Roichi. Maka dari itu kedua anak itu merasa sangat dekta dan senang bahkan menyayangi Roichi.
Satya tak tahu toko mana yang menjual maina untuk anak-anak. Maklum dirinya selalu sibuk sendiri dengan pekerjaannya. Dulu memang dekat dengan Alya tapi jarang membawa Alya ke toko mainan.
Sebuah mall yang searah dengan rumah sakit tujuan mereka disinggahi Satya terlebih dahulu untuk menyenangkan hati Kaili sekaligus mengambil hati bocah kecil itu. Sebuah usaha yang Satya lakukan agar bisa dekat dan disayangi oleh Kaili. Memiliki tempat khusus di hati bocah itu.
"Ayo kita turun, mau Daddy gendong ?" Tawar Satya.
"Aku mau jalan sendiri." Ucap Kaili.
"Oke baiklah." Satya tersenyum melihat sikap Kaili.
Kedua pria berbeda usia itu turun dari mobil mewah Satya. Tangan kecil Kaili digandeng oleh Satya memasuki Mall. Untuk mempermudah dan mempersingkat waktu karena mereka harus ke rumah sakit maka Satya bertanya pada satpam Mall letak toko mainan. Petunjuk arah jalan sudah diberikan, tam sulit bagi Satya untuk menemukan toko tersebut. Tibalah mereka di toko mainan, di tempat itu banyak mainan yang dipajang.
Kaili antusia sekali melihat-lihat mainan yang ada di dalam toko tersebut. Mobil-mobilan, robot dan segala macam permainan anak laki-laki menjadi perhatian Kaili.
"Ayo Daddy gendong saja, biar Kaili bisa lihat mainan yang ada di atas." Bujuk Satya. Pria itu sangat ingin menggendong putranya. Ingin merasakan bagaimana rasanya seorang ayah yang sedang menghabiskan waktu bersama putranya meski hanya sebentar saja.
Kaili mengulurkan tangannya, dengan senang hati Satya menggendong putranya yang tampan itu. Mereka berkeliling berdua melihat-lihat mainan.
"Selamat siang Tuan, ada yang bisa saya bantu ?" Seorang pegawai toko tersebut datang menghampiri untuk melayani pelanggannya.
"Baik Tuan, untuk permainan Lego berada di sebelah belakang dekat etalase. Mari saya antar." Ucap pegawai tersebut.
Satya dan Kaili mengikuti wanita tersebut. Diarahkan pada bagian belakang dimana letak mainan itu terpajang. Berbagai macam Lego ada disana dengan banyak warna.
"Pilihlah boy... Kita tak bisa berlama-lama, nanti Mami mu mencarimu." Ucap Satya.
"Aku mau itu, itu dan itu." Ucap Kaili menunjukkan tiga box Lego.
"Baiklah. Mbak bungkus mainan itu." Ucap Satya.
"Baik Tuan. Hanya ini saja ?" Tanya pegawai toko.
"Kita beli untuk Kaila dulu ya." Ucap Satya diangguki Kaili.
Satya tak ingin membedakan antara kedua anak kembarnya itu. Sebuah satu set mainan boneka bertubuh sempurna dan cantik Satya pilih untuk Kaila. Barbie dan segala macam pernak-pernik nya.
"Mbak, itu yang boneka cantik-cantik itu tolong bungkus." Titah Satya.
"Baik Tuan. Apakah masih ada lagi ?"
"Tidak." Jawab Satya.
"Oke, kalau begitu Tuan bisa langsung membayar di kasir. Saya akan antar barang ini ke kasir."
Satya mengangguk paham. Pria itu berjalan menuju kasir, ciuman pada kepala Kaili pun disarangkan Satya sembari berjalan ke kasir. Hatinya saat ini merasa sangat bahagia.
"Mari silahkan Tuan. Ini barang belanjaan nya ya. Sudah di cek semua masih tersegel ya Tuan. Apakah ada kartu member nya ?" Tanya penjaga kasir.
"Tidak ada."
"Baiklah, apakah anda ingin membuat kartu member Tuan, nanti bisa mendapatkan diskon untuk setiap pembelian dengan batas minimal pembelian." Jelas penjaga kasir.
"Ya buat saja." Jawab Satya.
Pikirannya kartu itu nanti akan berguna bagi kedua anaknya. Bukan tak mampu tapi biasanya wanita akan sangat senang dengan adanya diskon. Kartu itu akan diberikan kepada Belva jika nanti si kembar meminta untuk dibelikan mainan kembali.
Satya benar-benar ingin membuat anak dan ibu dari anak-anaknya itu merasa nyaman dan senang. Dia akan terus berusaha semakin dekat, diakui dan diterima oleh mereka.
"Semua total tujuh ratus ribu Tuan. Untuk kartu member akan berlaku untuk pembelian berikutnya."
Satya memberikan kartu kredit nya untuk pembayaran beberapa mainan itu. Harga mainan itu tak seberapa jika menurut Satya tapi mungkin akan menjadi heboh bagi Belva yang selalu berhemat. Meski wanita itu memiliki penghasilan yang tak bisa dibilang kecil juga ditambah kedua anaknya pun mereka juga bisa mendapatkan penghasilan sendiri. Semua itu Belva lakukan untuk menjamin kebutuhan Duo Kay dikemudian hari, ia harus pintar menabung jika sewaktu-waktu mereka membutuhkan biaya.
Sebagai orang tua tunggal terlebih dirinya seorang perempuan. Tentu Belva harus hidup mandiri dan pintar dalam mengelola keuangan. Ia tak bisa jika harus terus bergantung pada orang tua angkatnya. Menjadi benalu bukanlah sifat Belva, ia akan berusaha sendiri.
"Ini barangnya Tuan. Cucu anda pasti merasa senang sekali dibelanjakan banyak mainan oleh anda Tuan." Ucap penjaga kasir yang mengira Kaili adalah cucunya.
"Maksud anda ?" Tanya Satya tak suka.
"Maaf anak ini adalah cucu anda kan ? Atau anak anda karena wajahnya pun mirip dengan anda."
"Ini anak saya." Jawab Satya dingin. Tangannya meraih satu kantong plastik besar berwarna putih dengan logo toko mainan tersebut.
"Oh maaf Tuan. Terima kasih sudah berbelanja di toko kami."
__ADS_1
"Hmm..." Jawab Satya dengan deheman lalu pergi dari tempat itu.
Kaili masih menempel pada gendongan Satya. Kedua tangan bocah itu merangkul leher Satya. Satu tangan Satya menggendong Kaili dan satunya lagi membawa mainan.
"Kamu lapar boy ?" Tanya Satya sebelum mereka benar-benar keluar dari Mall.
Kaili mengangguk. "Oke kita cari makanan baru ke rumah sakit." Putus Satya. Tak mungkin dirinya membiarkan putranya kelaparan. Mereka mencari tempat makan m, tapi tak ingin makan di tempat. Makanan itu akan dibungkus saja untuk mempersingkat waktu.
****
Di rumah sakit, Kaila sedang disuap oleh Belva. Anak itu memang sakit tapi napsu makannya hanya sedikit saja menurun tetap mau makan. Siang ini adalah jadwalnya minum obat jadi bocah itu harus makan terlbih dahulu.
Pintu terbuka saat Belva sedang menyuapi Kaila. Budhe Rohimah masuk diikuti dengan dua orang yang asing bagi Belva. Seorang pria dan anak kecil dalam gendongannya. Tapi perlahan Belva seakan pernah melihat pria itu.
"Nduk... Kaila sedang makan ?" Tanya Budhe Rohimah.
"Iya Budhe sebentar lagi harus minum obat."
"Kaila." Panggil Yossy.
"Yossy..." Tak kalah Kaila juga menyapa Yossy temannya di sekolah dengan diiringi senyum manisnya.
"Nduk, ini temannya Kaila kebetulan juga keponakan dokter Dimas yang waktu lalu menangani Budhe, kamu masih ingat kan ?" Tanya Budhe Rohimah.
"Oh iya... Silahkan duduk dokter." Ucap Belva.
"Budhe, Kaili mana kok tidak ada ?" Tanya Belva penasaran dan mulai cemas.
"Maaf Nduk. Kaili bersama Tuan Satya. Apa mereka belum sampai ?" Tanya Budhe Rohimah. Wanita itu memang tak melihat Kaili dan Satya saat masuk.
"Belum, Kaili belum sampai sedari tadi. Kenapa Budhe biarkan bersamanya ?" Belva sudah khawatir. Sampai detik ini rasa khawatir jika kedua anaknya berdeham dengan Satya masih ada. Takut jika nanti Sonia akan mencelakai Kaili.
Budhe Rohimah juga tampak sedikit khawatir tapi wanita itu berusaha untuk tetap tenang. Ia pun berusaha menenangkan Belva agar tak terlalu panik. Tetap berpikir positif jika Satya tak mungkin bermacam-macam dengan Kaili. Bagaimana mungkin kailia adalah putranya, apa akan setega itu menyakiti anaknya sendiri.
"Tenanglah. Kaili bersama ayahnya, dia akan baik-baik saja Nduk." Ucap Budhe Rohimah.
"Tapi kan Budhe..."
Budhe Rohimah ingat jika ada dokter Dimas dan Yossy, tidak enak jika mereka sibuk sendiri sedangkan tamu mereka acuhkan.
"Nduk, ada dokter Dimas yang ingin menjenguk Kaila. Biar Budhe keluar mencari Kaili."
"Ya sudah." Belva mengangguk. Ia juga tak enak jika mengacuhkan tamu yang berniat menjenguk Kaila.
"Dokter, maaf saya tinggal sebentar." Pamit Budhe Rohimah.
"Iya silahkan Bu." Jawab dokter Dimas.
Dimas merasa penasaran mengapa Belva sepanik itu saat bocah lelaki tadi dibawa oleh pria yang juga tampak tak asing baginya.
"Maaf apa kedatangan kami mengganggu anda nona ?" Tanya dokter Dimas.
"Ah tidak dokter. Terima kasih sudah berkenan datang menjenguk Kaila."
"Iya sama-sama. Yossy meminta saya untuk mengantarnya menjenguk Kaila. Katanya Kaila adalah teman baiknya di sekolah sudah beberapa hari tidak masuk." Ucap dokter Dimas.
Belva tersenyum. "Terima kasih Yossy. Kaila masih sakit jadi belum bisa berangkat sekolah." Ucap Belva pada Yossy dengan suara yang lembut.
"Perempuan ini istri idaman. Suaranya lembut sekali sangat keibuan." Batin dokter Dimas.
Tentu saja keibuan karena Belva memang sudah menjadi seorang ibu untuk kedua anaknya. Walau masih muda tapi ia bisa menempatkan diri sebagai seorang ibu.
"Kaila sakit apa aunty ?" Tanya Yossy.
"Kaila sakit kepalanya dan bebera bagian tubuhnya lecet-lecet." Jawba Belva.
"Apa Kaila terjatuh ?" Tanya Yossy.
"Iya sayang." Jawab Belva tersenyum.
Dokter Dimas memperhatikan interaksi antara Yossy dan juga Belva. Senyum mengembang di bibir nya, wanita yang menarik hatinya itu semakin membuatnya jatuh cinta.
"Ekhm... Bagaimana bisa terjatuh Nona ?" Tanya dokter Dimas.
"Kecelakaan dokter. Waktu itu terserempet mobil."
"Kenapa bisa ? Apa dia main dijalanan ?" Tanya dokter Dimas.
"Kejadiannya begitu cepat saya juga kurang tahu. Tapi kata Kaila mereka mengejar kucing mereka tapi tak melihat jika ada mobil yang melintas."
"Mereka ? Apa bukan hanya Kaila yang kecelakaan ?" Tanya dokter Dimas kembali.
"Iya, Kaila dan Kaili. Untung Kaili selamat sedangkan Kaila yang lebih parah."
"Dimana orang tua mereka kenapa tidak mengawasi mereka." Ucap dokter Dimas.
Belva merasa tersentil dengan ucapan dokter Dimas. Bukan dirinya tidak mengawasi Duo Kay hanya saja dirinya kecolongan dan kejadian itu begitu cepat terjadi.
Pintu kamar rawat Kaila kembali terbuka, Satya dan Kaili masuk ke dalam dengan Satya masih menggendong Kaili dan membawa mainan.
"Kaili ? Dari mana saja kamu sayang ?" Ucap Belva yang langsung beranjak dari sofa dan menghampiri Kaili. Belva mengambil alih Kaili dari gendongan Satya.
"Saya membawa Kaili membeli mainan terlebih dahulu." Ucap Satya.
"Iya Mami... Daddy membelikan aku mainan banyak." Ucap Kaili.
Belva langsung mengerutkan keningnya. Kaili memanggil Satya dengan sebutan itu. Apa Kaili sudah diberitahu jika Satya adalah ayah kandungnya oleh pria dihadapannya itu.
"Jangan dibahas sekarang." Ucap Satya. Pria itu tak mau membahas hal yang dianggapnya pribadi diantara mereka karena ada dokter Dimas dan juga Yossy yang datang sebagai tamu.
Dokter Dimas, mendengar Kaili memanggil Belva dengan sebutan Mami dan pria itu dengan sebutan Daddy jelas saja terkejut.
"Astaga, jadi perempuan itu sudah berkeluarga. Dia masih muda sekali untuk memiliki anak." Batin dokter Dimas.
****
To Be Continue...
Selalu author ucapkan banyak terima kasih kepada my dear para readers ku yang masih terus support sampai saat ini. Karena kalian author semangat bisa update cerita setiap hari. Hanya dengan like, komen dan beberapa mungkin yang vote yang kasih hadiah ke author mungkin itu hal kecil yang kalian lakukan menurut kalian tapi itu sangat besar manfaatnya untuk author. Terima kasih juga untuk reader ku yang sudah bantu promo novel ini. Semoga semua yang kalian lakukan itu mendapatkan balasan kebaikan. Sehat selalu dan lancar rejeki serta apapun yang kalian lakukan diberi kemudahan. Amiinn 🙏
Terima kasih banyak 🙏🙏🙏
__ADS_1