
Dipandanginya wajah cantik Belva yang tengah tertidur pulas itu. Satya duduk kembali di samping Belva. Ingin menggendongnya untuk dibaringkan di ranjang belakang Satya merasa tak enak hati jika nanti Belva tak berkenan. Sedangkan ingin membangunkan wanita itu Satya tak tega terlihat sejak tadi memang Belva sudah sangat mengantuk.
Akhirnya Satya hanya membiarkan Belva tertidur di sofa itu. Tubuh lelah Satya pun menginginkan untuk beristirahat. Mereka berdua kini sama-sama tertidur di sofa. Entah mungkin lelah tertidur dengan posisi duduk, Belva dengan tak sadar dirinya mengubah posisi duduk nya menjadi berbaring di sofa dengan berbantalkan paha Satya.
Merasa ada sesuatu yang bergerak Satya terbangun. Dia melihat Belva tertidur dengan berbantalkan pahanya. Kembali bibir Satya tersenyum melihat hal itu. Kesempatan dan sikap yang langka menurutnya. Satya meletakkan tangannya di kepala Belva mengusap lembut sejenak lalu tertidur kembali dengan tangan yang tak berpindah.
Hingga subuh tiba, Kaila terbangun. Gadis kecil itu merasakan kantung kemih nya penuh dan ingin buang air kecil. Ia merengek memanggil Maminya. Dasarnya Belva yang benar-benar lelah dan mengantuk maka wanita itu tak mendengar sama sekali.
Satya sayup-sayup terdengar suara Kaila kedua alisnya sedikit bergerak dan mengerut. Dibukanya mata yang terpejam itu, benar saja Kaila merengek memanggil Maminya.
"Bel... Bangun. Belva..." Panggil Satya tapi Belva sepertinya terlalu nyaman tidur di pangkuan Satya.
Terpaksa Satya mengangkat kepala Belva dan bangkit dari duduknya. Mengganti pahanya dengan bantal sofa. Satya melangkah mendekati Kaila.
"Kaila, kenapa menangis sayang ?" Tanya Satya.
"Mamiii... Mau pipis."
"Mami masih tidur, dengan Daddy saja ya."
Satya perlahan-lahan akan membiasakan Kaila memanggilnya Daddy. Dia sangat berharap anak-anaknya akan mengerti nanti. Kaila tak merespon ucapan Satya yang jelas gadis kecil itu mengangguk saja karena sudah di ujung tanduk.
Dengan hati-hati pria matang yang masih memiliki anak kecil itu mengangkat tubuh Kaila dengan membawa tiang infus ke kamar mandi. Satya membantu putrinya untuk buang air kecil, meski kaku karena tak terbiasa mengurus anak kecil tapi dia tetap berusaha sebaik mungkin.
"Sudah, kita kembali lagi ila masih mengantuk ?" Tanya Satya.
"Masih Opmud."
"Baiklah. Kita kembali dan ila tidur lagi. Oke." Kaila mengangguk kembali. Satya membawanya ke ranjang membaringkan Kaila kembali.
"Tidurlah Nak. Daddy usap kepala ila ya."
"Heu ? Daddy ?" Baru Kaila tersadar Satya mengucapkan kata Daddy untuknya.
Satya tersenyum lembut. "Boleh Opmud jadi Daddy nya Kaila ?"
"Daddy itu Papi kan ?" Tanya Kaila yang masih bingung dengan nama panggilan itu sebenarnya.
"Iya sayang." Jawab Satya.
"Tapi Kaila sudah punya Papi. Papi Roichi."
Bagai tertusuk duri hati Satya merasa sakit dan perih. Secara tak langsung Kaila menolak dirinya. Anak kandungnya sendiri tak mengenalnya. Bukan salah Kaila, putrinya itu memang tak pernah mengenal dirinya sebagai ayah kandungnya. Satya harus bersabar dan berusaha perlahan agar lambat lain diakui dan diterima oleh anak-anaknya dan juga Belva.
"Jadi tidak boleh ya ? Padahal saya senang punya putri seperti mu sayang. Gadis kecil yang cantik yang baik hati memberikanku permen jelly. Ini permen jelly nya masih ada."
Raut wajah Satya tampak sedih tapi sebisa mungkin ditutupinya di hadapan Kaila. Dia menunjukkan dua bungkus kecil permen jelly yang diberikan Kaila waktu lalu. Permen itu memang selalu Satya bawa kemanapun dia pergi. Satu-satunya barang pemberian gadis kecil yang menarik perhatiannya yang ternyata adalah putrinya sendiri.
"Kenapa tidak dimakan ?" Tanya Kaila.
"Karena sayang kalau dimakan. Jadi Daddy simpan."
"Bukan Daddy tapi Opmud kan Kaila sudah punya Papi." Ucap Kaila.
Kembali hati Satya merasa sakit kali ini dengan sangat jelas kaila menolak panggilan itu. Dihembuskan napas Satya perlahan mencoba melegakan dadanya yang terasa sesak.
"Tak apa Satya. Perlahan, Kaila masih kecil dia masih butuh waktu untuk mengerti." Batin Satya menyemangati dirinya sendiri.
"Iya ya sudah ila bobok lagi ya. Tadi katanya masih mengantuk. Sini diusap kepalanya buat cepat tidur." Ucap Satya dan Kaila mengangguk.
Kaila mulai memejamkan mata saat Satya mengusap kepalanya dengan sangat lembut. Mata Satya berkaca-kaca menatap wajah putrinya. Rasanya sesakit itu saat putrinya sendiri tak mau memanggilnya Daddy.
Tampak Kaila sudah mulai tertidur pulas kembali. Sentuhan lembut Satya sangat mudah membuat anak kecil itu tertidur.
"Daddy tak akan memaksamu Nak, suatu saat pasti kamu akan mengerti. Dan jika nanti kamu sudah mengerti Daddy harap kita bisa berkumpul bersama." Ucap Satya lirih.
Satya menelungkupkan kepalanya di atas ranjang Kaila. Kepalanya masih berdenyut sejak kemarin, suhu tubuhnya semakin panas. Itu semua tak dirasakannya demi bisa menjaga Kaila bertahan di ruangan tersebut. Kesempatan yang langka dan tak mungkin dia sia-siakan begitu saja. Jika dirinya pulang kapan lagi bisa bersama-sama dengan Kaila dan Belva.
Pukul tujuh Belva bangun dari tidurnya di atas sofa. Wanita itu mengumpulkan kesadarannya, melihat di atas meja yang ada di hadapannya itu. Ternyata semua pekerjaannya sudah dirapikan. Belva mengerutkan keningnya dan mengedarkan pandangannya.
Seorang pria duduk di kursi samping ranjang Kaila. Belva tahu jika itulah adalah Satya. "Apa dia yang merapikan pekerjaanku dan semalaman tidur di kursi itu ?" Gumam Belva.
Wanita itu berdiri dan masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka. Dilihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul tujuh lebih. Seharusnya Satya sudah bangun dan pulang, bukankah pria itu seorang pemimpin perusahaan yang harus bekerja. Belva berniat membangunkan Satya.
"Tuan... Tuan bangunlah." Ucap Belva menepuk bahu Satya pelan pria itu tak bangun.
Melihat Satya menggenggam tangan kecil Kaila dan Satya tak sengaja menindih tangan Kaila dengan kepalanya, Belva berusaha menarik tangan putrinya agar bocah itu tak merasa kebas nantinya. Tak sengaja pula Belva menyentuk kening Satya.
"Panas." Gumam Belva.
Kembali Belva menyentuh kening itu tapi kali ini memang sengaja karena untuk memastikan. Benar saja, pria itu suhu tubuhnya tinggi.
"Dia benar-benar sakit, suhu tubuhnya tinggi."
Belva merasa kasihan, hatinya tersentuh. Satya dalam keadaan sakit masih bersikukuh untuk menjaga Kaila. Bahkan tidur dengan posisi duduk tanpa selimut.
"Tuan... Tuan Satya bangunlah." Kali ini Belva menepuk pipi Satya dengan pelan.
Kelopak mata Satya terbuka perlahan. Terlihat pinggang seseorang yang ada di hadapannya. Ditelusuri pinggang itu hingga ke atas ternyata Belva yang membangunkannya.
"Ada apa ? Oh sudah pagi." Ucap Satya.
"Suhu tubuh anda tinggi. Periksalah terlebih dahulu sebelum pulang." Ucap Belva.
Mendengar kata suhu tubuh tinggi Satya langsung meletakkan punggung tangannya sendiri ke keningnya. Memang terasa panas tapi entah Satya tak berniat sama sekali memeriksakan diri. Pria itu paling susah jika berhadapan dengan dokter dan segala macam obat. Percakapan dengan Jordi yang akan memeriksa kan diri saat berada di rumah sakit itu hanya sekedar omongan belaka.
"Terima kasih sudah membangunkan saya. Saya menumpang kamar mandi untuk cuci muka." Ucap Satya. Pria itu tak membahas suhu tubuh atau kondisinya saat ini.
Pria itu berdiri dan meninggalkan Belva masuk ke dalam kamar mandi. Terlihat kembali sikap dingin dan datar Satya. Belva menatap punggung Satya.
"Kenapa sikapnya berubah lagi ? Tadi malam terlihat sangat lembut." Gumam Belva.
Seperti itulah sikap Satya dingin dan datar serta arogan. Tapi selama Belva mengenal Satya pria itu jarang sekali bersikap arogan padanya. Hanya sikap datar dan dingin saja yang paling terasa bagi Belva serta sikap cuek Satya.
Pria itu kini sudah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang basah. Dengan lengan panjangnya Satya menghapus sedikit sisa air yang menempel pada wajahnya.
"Bisa saya meminta nomor ponsel mu ?"
__ADS_1
"Hah ? Nomor ponsel ? Untuk apa ?"
"Untuk Kaila, saya ingin mengetahui bagaimana keadaan Kaila sewaktu-waktu. Apa kamu keberatan ?"
Belva terdiam sejenak, rasanya kasihan jika dirinya tak mengijinkan Satya mengetahui kabar anak-anaknya. Walau bagaimanapun Satya ayah mereka, itu sudah tak bisa ditutupi lagi.
Anggukan Belva memberikan persetujuan serta Belva yang mengulurkan ponselnya pada Satya. Pria itu tersenyum tipis Belva tak menyadarinya senyuman Satya.
"Terima kasih. Itu nomor saya jika terjadi sesuatu kamu boleh hubungi saya terutama menyangkut Kaila dan Kaili."
"Iya..." Jawab Belva lirih.
Tatapan tak suka yang diberikan Belva waktu lalu kini sudah tak nampak. Hanya tatapan biasa saja yang diberikan oleh Belva. Melihat sedikit bagaimana sikap Satya mampu perlahan mengalihkan rasa amarah Belva.
Ya dulu Belva marah pada Satya dan juga keluarga mantan majikannya itu karena perbuatan mereka hidupnya berubah sangat drastis merasakan bagaimana pahitnya kehidupannya di usianya yang masih muda.
Dirasa cukup Satya beralih mengecup kening Kaila yang masih tertidur. "Daddy pulang." Lirih Satya.
"Saya pulang. Terima kasih sudah mengijinkan saya masuk ke ruangan ini menjaga Kaila." Belva hanya mengangguk.
Saat Satya hendak melangkahkan kakinya tepat di samping Belva, wanita itu kembali membuka suara.
"Periksalah Tuan. Sepertinya anda tak baik-baik saja."
"Saya baik-baik saja. Terima kasih." Satya mengusap kepala Belva lalu pergi begitu saja.
Kembali wanita itu terdiam, ini yang ketiga kalinya Satya melakukan kontak fisik padanya setelah bertahun-tahun tak bertemu. Mantan majikannya yang dulu begitu cuek bahkan sangat jarang sekali mau menatap dirinya.
****
Sudah menjadi pekerja Jordi mendampingi Satya, mulai dari menjemput hingga melakukan kegiatan meeting penting dengan para klien. Tak hanya itu saja bahkan setiap terjadi permasalahan Jordi selalu setia menemaninya Satya.
Pagi ini Jordi kembali sudah menunggu Satya di rumah besar Satya. Menurut informasi dari Mbok Yati selaku ART paling berkuasa, majikannya itu belum pulang sejak tadi malam.
Jordi, seperti kemarin menunggu di ruang tamu. Saat Satya masuk asistennya itu seketika memperhatikan Satya.
"Jordi, kamu sudah sejak tadi ?" Tanya Satya.
"Lumayan Tuan. Wajah anda lebih pucat dari kemarin. Apa yang anda rasakan saat ini Tuan ?"
"Saya baik-baik saja hanya sedikit pusing."
"Hari ini tidak ada jadwal penting. Anda bisa beristirahat Tuan." Ucap Jordi.
Jordi harus berbohong karena melihat wajah Satya yang tampak lebih pucat dari kemarin. Jika tidak seperti itu Satya akan tetap berangkat bekerja dan tentunya kondisi pria itu akan semakin memburuk nantinya.
"Benarkah ? Kamu tak berbohong padaku Jordi ? Aku baik-baik saja."
"Tidak Tuan. Anda bisa beristirahat untuk hari ini. Jangan memaksakan diri Tuan jika anda sakit bagaimana juga anda bisa menjaga Kaila."
"Kamu benar Jordi. Terima kasih, saya ke kamar dulu."
"Baik Tuan, selama beristirahat. Saya pamit ke kantor."
Satya mengangguk lalu berlalu. Jordi harus kembali ke kantor menghandle seluruh pekerjaan Tuannya hari ini. Jordi tak bisa membiarkan Satya memaksakan diri untuk bekerja.
Mbok Yati saat ini sedang menyiapkan makanan untuk Satya. Karena majikannya tak kunjung turun maka Mbok Yati yang mengantarkan ke kemar majikannya.
Diketuk pintu itu tapi tak dibukakan. Mau tak mau Mbok Yati memberanikan diri untuk membuka pintu kamar Satya. Pria itu sedang tidur saat Mbok Yati memasuki kamar. Nampan berisi satu piring nasi dan segelas air putih itu diletakkan di atas nakas samping ranjang Satya yang berukuran king size itu.
"Mbok ?" Panggil Satya yang terganggu tidurnya mendengar suara sendok dan piring yang tak sengaja bertubrukan.
Mbok Yati terkejut, wanita paruh baya itu sudah takut jika Satya marah padanya karena berani masuk tanpa ijin disaat pria itu sedang beristirahat.
"Maaf Tuan... Maafkan saya, saya tidak bermaksud mengganggu istirahat Tuan hanya ingin mengantarkan makanan ini saja."
"Ya terima kasih Mbok." Jawab Satya singkat.
"Jangan lupa tutup pintunya." Ucap Satya kembali.
"Baik Tuan. Saya permisi."
Mbok Yati kembali keluar, ia bernapas lega karena Satya tak marah padanya. Baru saja sampai tangga, ART yang lain naik ke atas mencari Mbok Yati.
"Ada apa Nis ?" Tanya Mbok Yati.
"Mbok, di bawah ada dokter."
"Oh iya mungkin itu yang akan memeriksa Tuan Satya. Ini minta tolong bawakan ke dapur biar saya yang antar dokternya." Mbok Yati memberikan nampan kepada ART yang bernama Janis itu.
Mereka berdua turun melewati tiap-tiap tangga. Janis kembali ke dapur sedangkan Mbok Yati menemui dokter.
"Selamat pagi Nyonya." Sapa dokter Andrew.
"Pagi dokter, tapi maaf panggil saja saya Mbok Yati. Dokter mau periksa Tuan Satya ya mari saya antar ke kamar Tuan."
"Oh iya baik Mbok Yati mari." Ucap dokter Andrew.
Baru saja Mbok Yati keluar dari kamar besar itu kini ia harus masuk lagi. Tapi tak apa ini karena kebutuhan penting untuk Tuannya sendiri.
"Permisi Tuan, maaf mengganggu ini Sada dokter yang akan memeriksa anda." Ucap Mbok Yati.
Satya membuka matanya kembali. Dia menghela napas, mendengar ada dokter yang datang ke rumahnya seketika keningnya mengerut.
"Saya tidak panggil dokter, Mbok." Ucap Satya dingin.
Mbok Yati bingung, wanita itu tak tahu siapa yang menghubungi dokter itu. Dipikirnya Satya sendiri yang menghubungi dokter itu.
"Maaf Tuan Satya. Jordi yang menghubungi saya untuk memeriksa keadaan anda. Dia bilang anda saat ini sedang tak enak badan."
Satya mendesah malas, asistennya itu terkadang memang suka melakukan hal-hal tanpa persetujuannya di waktu-waktu tertentu.
"Baiklah, silahkan." Ucap Satya. Demi menghargai dokter Andrew dia mempersilakan dokter itu untuk memeriksa dirinya.
Pemeriksaan sudah dilakukan, Satya hanya butuh istirahat saja dan dokter Andrew memberikan vitamin pada Satya. Serta memberikan nasihat agar jangan telat makan.
"Anda hanya butuh istirahat, ini saya berikan resep vitamin dan jaga pola makan jangan sampai telat makan." Ucap dokter Andrew.
__ADS_1
"Untuk panas nya anda bisa meminum obat penurun panas biasa. Jika dalam tiga hari panas belum juga turun langsung saja periksakan diri kembali ke rumah sakit." Imbuh dokter Andrew.
"Baik dokter, terima kasih." Ucap Satya.
"Kalau begitu saya permisi Tuan. Semoga anda cepat sembuh." Dokter Andrew pamit undur diri.
"Permisi Tuan." Ucap Mbok Yati.
Satya mengangguk, Mbok Yati dan dokter Andrew keluar dari kamar Satya.
"Mari dokter saya antar ke depan." Ucap Mbok Yati. Dokter Andrew mengangguk.
****
Berbeda hari di sekolah, Kaili tampak kurang bersemangat beberapa hari ini. Biasanya bocah lelaki itu selalu bersama dengan kembaran nya. Dia jarang diperbolehkan untuk menjenguk Kaila di rumah sakit karena larangan dari sang Mami.
Kaili bersama Donny dan juga Farel sedang bermain Lego di dalam ruangan bermain sekolah mereka. Seperti nya hari ini bocah itu malas bermain di luar ruangan.
"Kaili, kok Kaila lama sekali tidak masuk sekolahnya ?" Tanya Donny.
"Iya Kaila sedang sakit dia tidur di rumah sakit." Jawab Kaili.
"Berarti sakitnya sakit sekali ya ? Kata Mama ku kalau di bawa ke rumah sakit itu berarti sakit sekali." Ucap Farel.
"Kepala Kaila dikasih kain putih-putih sama di dahinya merah-merah dikasih obat merah." Ucap Kaili dia mempraktekkan dimana letak kain kasa yang menempel pada kepala Kaila. jarinya berputar mengelilingi kepalanya.
Ketiga bocah laki-laki itu terus saja bercerita mengenai Kaila yang tak masuk sekolah beberapa hari ini. Mereka terbiasa main bersama jadi saat Kaila tak ada pasti akan terasa kurang. Sedang asik bermain Lego dan bercerita seorang gadis kecil datang menghampiri.
"Aku boleh ikut main ?" Tanya gadis kecil itu yang tak lain adalah Yossy.
Sejak Kaila tak masuk Yossy jarang sekali bermain bersama mereka karena ia takut jika mereka tak mau bermain dengannya. Kemarin sempat ingin ikut bermain tapi Farel menolaknya.
Anak lelaki itu memang susah sekali bermain bersama anak perempuan. Alasannya adalah anak perempuan itu cengeng.
"Boleh." Jawab Donny. Dan diangguki oleh Kaili.
Berbeda dengan Farel, bocah bertubuh gemuk itu memang tak memilih teman baik itu perempuan atau laki-laki tak masalah baginya untuk bermain bersama.
Kaili, anak itu memang tak memilih teman hanya saja dirinya lebih banyak diam. Jika ingin main oke jika tidak pun tak masalah. Seperti itulah Kaili yang cenderung lebih cuek dibandingkan dengan yang lain.
Yossy akhirnya ikut bermain Lego bersama tiga anak laki-laki itu. Tawa ceria terukir diantara mereka hanya Kaili yang tak bisa tertawa lepas karena teringat akan Kaila yang tak bisa bermain bersama dirinya serta teman-teman yang lain.
"Kaili, Kaila masih sakit ya ?" Tanya Yossy.
Bocah laki-laki itu hanya menjawab dengan mengangguk.
"Aku boleh menjenguknya ? Nanti aku akan meminta uncle ku untuk mengantar." Ucap Yossy.
"Tidak tahu tanya saja dengan Mami ku. Aku tidak boleh sering ke sana." Ucap Kaili.
"Kenapa tidak boleh ?"
"Di sana banyak orang sakit nanti anak-anak kecil tertular sakitnya." Jawab Kaili.
"Oh tapi kan aku hanya sebentar saja." Ujar Yossy.
Tampaknya gadis kecil itu merindukan Kaila teman satu-satunya yang selama ini dekat dengan dirinya. Yossy anak yang pendiam jadi jarang sekali bersosialisasi dengan teman-teman yang lain. Jikapun bermain dengan yang lain tak jarang mereka mengacuhkan Yossy dan menyuruh-nyuruh Yossy untuk melakukan ini itu, sehingga anak itu jarang mau bergabung dengan yang lain. Bersama Kaila, Yossy merasa nyaman dalam bermain.
Hingga sekolah selesai mereka semua pulang dengan dijemput oleh orang tua mereka masing-masing. Untuk kali ini Kaili di jemput oleh Budhe Rohimah menggunakan taksi online.
"Ayo sayang kita pulang. Aunty Bella sibuk jadi Uti yang jemput." Ucap Budhe Rohimah.
"Ayo Uti." Ajak Kaili.
"Permisi, maaf saya ingin bertanya." Ucap seseorang yang dari belakang menyapa Budhe Rohimah dan Kaili.
"Iya ?" Budhe Rohimah menoleh ke belakang.
Dua manusia itu sama-sama mengerutkan kening. Merasa tak asing dengan masing-masing wajah yang mereka lihat.
"Nyonya..."
"Dokter..."
Ucap Budhe Rohimah dan pria itu bersamaan. Mereka akhirnya sama-sama mengingat satu sama lain.
"Maaf anda nyonya yang menjadi pasien saya waktu itu bukan ?" Tanya orang tersebut yang tak lain adalah seorang dokter yang dulu merawat Budhe Rohimah.
"Ah iya dokter... Maaf jangan panggil saya Nyonya panggil saja saya Ibu Rohimah." Ucap Budhe Rohimah.
"Ah baiklah Ibu. Jadi, anda keluarga dari teman keponakan saya ?"
"Maksud dokter bagaimana ?" Tanya Budhe Rohimah tak paham.
"Keponakan saya, Yossy adalah teman dari Kaila. Katanya Kaila sedang sakit di rumah sakit."
"Oh iya, Kaila cucu saya dokter kembaran Kaili cucu laki-laki saya ini." Ucap Budhe Rohimah menatap Kaili yang juga sedang menatap pria yang masih asing untuknya.
Dokter itu adalah dokter Dimas. Saat Budhe Rohimah masuk rumah sakit hingga tak sadar hingga beberapa hari itu. Dokter Dimas lah yang memantau keadaan Budhe Rohimah. Dia adalah uncle dari Yossy.
"Ah iya... Kami ingin menjenguk Kaila jika diperbolehkan dimana Kaila sedang dirawat Bu ?" Tanya dokter Dimas.
"Oh iya tentu boleh saja dokter. Kaila sedang dirawat di Mitra Medika." Jawab Budhe Rohimah.
"Apa anda akan ke sana Bu ? Jika tak keberatan bisa datang ke sana bersama kami." Ucap dokter Dimas.
Saat perbicangan mereka sedang berlangsung tiba-tiba sebuah mobil berhenti di dekat mereka. Sang pengemudi turun dari mobil, seorang pria yang membuat keempat manusia yang terlibat dalam perkumpulan dan perbincangan itu menatap ke arah orang tersebut.
Satya, orang itu adalah Satya yang menyempatkan diri untuk mengunjungi TK Seven Blue School. Rasa rindunya pada putranya membuat pria itu ingin sekali melihat Kaili.
****
To Be Continue...
Terima kasih sekali buat kalian yang masih selalu setia hingga bab ini. Ikuti terus kisah selanjutnya dari keluarga si kembar Duo Kay 😘
Ini baiknya Belva sama siapa yaa ?? Roichi apa sama Satya ??
__ADS_1
Kalian ingat dokter Dimas ?? Kira-kira Belva nanti akan berakhir dengan siapakah ?