Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 146. Kebesaran Hati


__ADS_3

Usai pemakaman Alya mereka semua kembali ke rumah masing-masing. Noella dan Jack tak langsung kembali ke rumah melainkan mereka kembali ke rumah besar Satya.


Seseorang yang sedari tadi berdiam diri di dalam mobil akhirnya turun menghampiri makan Alya. Tanah itu masih segar menutupi jasad Alya yang sudah tidur dalam keabadian. Diusapnya nisan bertuliskan nama Alya Rumi. Ada rasa sesak dan sedih dalam hatinya, bertahun-tahun tak pernah bertemu dan tak saling mengenal. Sekali dalam pertemuan justru dengan keadaan yang telah berbeda pijakan. Alya sudah di dunia keabadian dengan segala hal yang baru bagi wanita itu entah hal apa yang dia temukan di dunia barunya sedangkan orang itu masih di dunia yang begitu banyak kerumitan.


"Selamat jalan, sejujurnya aku menyayangimu. Tenanglah dalam tidurmu, sayang." Ucap orang tersebut. Beberapa menit berdiam diri diposisi yang sama menatap dan mengusap nisan serta gundukan tanah itu.


Tepukan bahu membuat orang tersebut mengalihkan fokusnya. Pertanda bahwa dkri harus menyudahi kegiatannya sendiri.


"Kita pulang bos, ini sudah terlalu sore."


Orang tersebut hanya mengangguk saja saat orang kepercayaan mengingatkan dirinya. Mereka kembali ke mobil dan pergi menghilang entah ke mana mereka menuju.


Di rumah besar Satya kini mereka berkumpul di ruang keluarga, aktivitas hari ini cukup membuat emosi dan fisik mereka terkuras. Minuman dan camilan telah disediakan oleh ART Satya.


"Makan dan minum dulu, pasti kalian lelah." Ucap Belva mempersilahkan semua yang ada di ruang keluarga.


"Noella... Jack... Silahkan tidak usah sungkan." Imbuh Belva.


Noella mengangguk sedangkan Jack cukup merasa sungkan sebab Satya sedari tadi menatapnya dengan tatapan tajam.


"Mas, kamu mandilah dulu, aku siapkan keperluan mas." Ujar Belva.


"Iya, ayo..." Satya beranjak berdiri bersamaan dengan Belva.


"Kami permisi dulu, nikmati dan santai saja." Belva berpamitan pada yang lain.


"Iya kak, nanti biar anak-anak Bella yang urus." Ucap Bella.


"Terimakasih Bella, kami ke kamar dulu."


Satya dan Belva pergi ke kamar mereka, badan mereka terasa sangat lelah hari ini. Biasanya siraman dari air segar akan membuat mereka lebih segar dan ringan.


"Mas, tunggu sebentar, aku siapkan air untukmu dulu."


"Terimakasih, sayang."


Belva pergi ke kamar mandi menyiapkan semuanya sedangkan Satya sibuk dengan ponselnya. Jordi setelah pemakaman tadi langsung kembali pulang dan nanti mereka akan kembali bertemu untuk membahas pekerjaan mereka.


"Mas, mandilah. Semua sudah siap."


Satya mendongak melihat istrinya lalu mengangguk. "Kamu tidak mandi?"


"Mandi mas, nanti setelah mas selesai mandi."


"Apa tidak sebaiknya kita mandi bersama saja." Ucap Satya.


"Mas..." Tegur Belva.


"Hanya mandi saja, biar lebih cepat. Mas tahu kondisinya saat ini, sayang. Kasihan juga mereka menunggu kita."


Belva menatap sang suami yang terlihat serius dan tidak ada candaan seperti biasanya. Percaya bahwa tidak akan terjadi apapun Belva akhirnya menyetujui permintaan Satya. Mereka mandi bersama untuk mempersingkat waktu, benar Satya menepati janji tak ada pergerakan apapun selain membersihkan diri.


Di bawah guyuran shower, tiba-tiba Satya memeluk sang istri dari belakang. Skin to skin yang terjadi seakan menenangkan Satya.


"Mas."


"Sebentar saja, memelukmu membuat mas terasa lebih tenang."


"Tapi tidak dalam keadaan seperti ini, mas."


"Justru dalam keadaan seperti ini, mas sangat menyukainya. Terasa lebih nyaman saat ini."


"Tadi mas bilang tidak akan melakukan apapun." Ucap Belva.


"Tidak, hanya peluk saja."


Belva terdiam, mungkin memang suaminya sedang membutuhkan kenyamanannya saat ini. Ia membiarkan suaminya memeluk dirinya hingga merasa cukup.


Keduanya selesai membersihkan diri lalu kembali lagi menemui semua keluarga dan tamu yang ada di ruang keluarga.


Hari semakin gelap tapi Noella dan Jack masih tetap berada di rumah besar Satya atas permintaan Satya bahkan keluarga Satya menawarkan untuk membersihkan diri di rumah tersebut. Semua anggota keluarga seperti Budhe Rohimah, Bella dan Duo Kay pun juga telah selesai membersihkan diri. Duo Kay anak yang pintar hari ini mereka tak banyak bertanya seakan tahu kondisi keluarga mereka saat ini.


"Kita makan malam dulu. Setelahnya ada yang ingin saya sampaikan pada kalian." Ujar Satya.


Dihadapan orang lain wibawa seorang Satya cukup kental terasa. Pasangan suami istri yang sedari kemarin mengurus keadaan Alya pun mengangguk.


"Tuan, makan malam sudah siap." Ucap Janis yang diperintahkan oleh Mbok Yati.


"Baik, terimakasih." Ucap Satya.


"Sebaiknya kita segera makan saja, ayo semuanya." Ucap Belva.


Mereka semua mengangguk, beranjak dari sofa dan beralih menuju ruang makan. Satya menggendong putrinya yang meminta untuk digendong sedangkan Belva berjalan bersama Noella dan Jack. Kaili digandeng oleh Budhe Rohimah yang berjalan berdampingan bersama Bella.


Di meja makan mereka duduk diposisi mereka masing-masing. Mereka memulai untuk menyantap makan malam yang terhidang dengan cukup santai. Tidak ada yang berbicara dalam acara makan malam tersebut hingga mereka selesai.


"Saya ingin berbicara pada kalian, kita ke ruang keluarga kembali." Ujar Satya.


"Tentu, Tuan." Ucap Noella.


Mereka semua pergi ke ruang keluarga dengan minus Bella dan Duo Kay. Pembicaraan orang dewasa sebisa mungkin dua anak itu tak diperbolehkan untuk mendengarkan jadi Bella menemani mereka di dalam kamar. Di ruang keluarga hanya terdapat limat orang saja yang cukup mengenal almarhum Alya.


"Langsung saja, saya akan membahas perihal Alya. Saya harap Alya sudah tenang di sana tapi ini penting bagi saya." Ucap Satya.


"Baik Tuan saya mengerti tapi sebelummya kami meminta maaf jika kami tak memberitahu keadaan Alya selama ini pada anda." Ucap Noella.


"Tidak apa, saya hanya ingin mengetahui apa yang terjadi pada Alya. Bisa kalian ceritakan."


Jack menelan ludahnya, pria itu cukup cemas saat Satya bertanya seperti itu. Takut jika Satya akan marah besar padanya karena sejak tadi pun Satya menatap tajam padanya.


Satya memang belum sempat mengetahui dengan jelas apa yang terjadi pada Alya karena Belva pun belum menceritakan apapun padanya.


Noella menatap Jack sekilas ia melihat ada gurat kekhawatiran dari wajah suaminya tapi dirinya tak bisa berbohong, Alya sudah tiada akan menjadi sebuah beban jika dirinya menutupi apa yang terjadi pada Alya.


"Sebenarnya kami tak mengetahui ini hanya beberapa hari yang lalu kami mengetahui jika Alya hamil. Kami sudah lama tak berkabar karena kami berada di luar negeri, hingga saat kami kembali ke kota ini kami bertemu kembali dengan Alya dari pertemuan itu terjadi sedikit permasalahan. Alya menuntut pertanggungjawaban pada Jack yang saat ini menjadi suami saya dan keributan itu membuat kandungan Alya bermasalah hingga terjadi pendarahan."


Satya, Belva dan Budhe Rohimah membulatkan mata mendengar penjelasan Noella. Terutama Budhe Rohimah yang masih tak percaya jika Alya meninggal karena pendarahan saat mengandung.


"Jadi, kamu pria yang menghamili Alya?" Tanya Satya dengan nada dingin dan tatapan tajam pada Jack.


Jack semakin cemas, keringat mulai keluar dari pori-pori nya. Ruangan itu tiba-tiba menjadi sangat panas dan tak nyaman baginya padahal pendingin ruangan tersebut sudah cukup sejuk bagi mereka yang bersantai di tempat itu.


"M-ma-maafkan saya, Tuan. Bu-bukan maksud saya berniat menghamili Alya tapi itu terjadi tanpa saya ketahui." Jack menjelaskan dengan susah payah.


"Apa maksud dari perkataan tanpa kamu ketahui? Apa kamu tak sadar dalam melakukan perbuatan itu?" Tanya Satya yang berkaca pada pengalamannya yang tak sadar dan tam mengetahui jika sudah menghamili seorang gadis yang kini menjadi istrinya.


Noella langsung menoleh menatap Jack, ia tahu jika Jack tak mungkin dalam keadaan tak sadar ketika berbuat seperti itu pada Alya bahkan ia yakin jika keduanya tak hanya sekali dalam melakukan hubungan haram tersebut. Melihat tatapan sang istri yang tak bersahabat membuat Jack tak mungkin berbohong.


Jack menggelengkan kepalanya, "Kam-kami sadar tapi saya tak tahu jika Alya hamil karena saat itu saya pergi ke luar negeri kembali pada keluarga saya."

__ADS_1


"Apa keributan itu terjadi karena kamu tak mau bertanggung jawab?" Tanya Satya dan Jack tanpa bisa mengelak dirinya mengangguk.


"Seharusnya kamu sebagai laki-laki bertanggung jawab atas apa yang kamu perbuat. Jangan hanya bisa mencuri dan pergi begitu saja." Ujar Satya.


Deg...


Ucapan Satya menusuk hatinya seketika dirinya ingat saat bersama Alya dirinya sempat melakukan hal memalukan di rumah Satya. Kini tiba-tiba Jack seperti tak memiliki wajah lagi untuk menatap Satya, dia tertunduk malu dihadapan Satya. Noella mengerutkan kening atas perubahan sikap suaminya.


"Maaf Tuan, Jack syok saat itu dan dirinya tak mau bertanggung jawab karena kami sudah menikah." Ujar Noella membantu memberikan penjelasan pada Satya.


Satya memejamkan matanya sejenak mendengar penjelasan dari sepasang suami istri tersebut. Belva sedari tadi hanya diam saja menyimak pembicaraan.


"Astaga... Non Alya hamil di luar nikah dan tak ada yang bertanggung jawab. Apa ini karma atas apa yang dia perbuat pada Belva?" Gumam Budhe Rohimah dalam hatinya.


"Lalu bagaimana keadaan bayi Alya?" Tanya Belva yang terfokus pada bayi Alya.


"Bayinya lahir prematur dan saat ini harus berjuang mempertahankan hidupnya." Ucap Noella lirih, perempuan itu merasa sedih membayangkan bayi mungil itu harus ditinggal pergi untuk selamanya oleh sang ibu.


Hati Belva terasa ngilu saat mendengar bayi Alya terlahir prematur dan harus berjuang untuk bertahan hidup.


"Mas, besok kita jenguk bayinya ya?" Tanya Belva pada satya dan hanya diangguki oleh Satya.


"Bolehkan kami menjenguknya?" Tanya Belva pada Noella dan Jack.


"Boleh, silahkan tidak apa-apa. Besok kami juga akan ke sana untuk menjenguknya." Jawab Noella.


"Kami juga yang akan mengurus bayi itu, saya akan merawat dan membesarkannya." Imbuh Noella.


"Honey." Seketika Jack menoleh dan memanggil lirih pada istrinya.


"Jika keberatan untuk merawatnya biar kami saja yang mengurusnya." Ucap Belva yang tak tega bila bayi itu nanti terlantar.


Belva menatap Satya sekilas saat mengatakan apa yang ada di dalam hatinya. Satya langsung menggenggam erat tangan istrinya dan tersenyum tipis. Pria itupun tak keberatan jika harus merawat bayi malang itu toh Alya meski bukan putrinya tapi sesungguhnya masih ada dalam hatinya sebagai seorang putri.


"Tidak, biar kami saja yang merawat nya. Saya adalah ayah dari bayi itu jadi saya yang bertanggung jawab merawatnya." Ucap Jack yang sempat terdiam.


"Bagus, memang seharusnya itu yang harus kamu lakukan bertanggung jawab pada bayi itu." Ucap Satya dengan tajam.


Dia tak suka dengan seseorang yang tak bertanggung jawab, seberat apapun suatu permasalahan memang yang berbuat harus bertanggung jawab. Satya tipe orang yang menjunjung tinggi sebuah kejujuran dan tanggung jawab.


Malam semakin larut pembicaraan pun usai, Jack dan Noella kembali ke rumah mereka. Budhe Rohimah pun dipersilahkan oleh Satya dan Belva untuk beristirahat. Sebelum kembali ke kamar kedua orang tua itu menyempatkan diri untuk mengunjungi kamar anak-anak mereka.


Di dalam kamar setelah memastikan kedua anaknya tertidur pulas, Satya dan Belva mengistirahatkan diri. Namun, di atas ranjang terjadi perbincangan kecil diantara mereka.


"Mas, aku masih tak menyangka jika Alya sudah tiada."


"Mas juga sayang tapi semua sudah menjadi takdirnya."


"Andai saja Jack dan Noella tak mau merawat bayi Alya, aku mau merawatnya." Ucap Belva menatap langit-langit kamar nya.


"Kamu tidak keberatan, sayang?"


"Tidak sama sekali justru aku akan senang merawat seorang bayi kembali."


Satya tersenyum atas jawaban istrinya, itu artinya sang istri tak akan keberatan jika nanti mengandung kembali. Satya memeluk tubuh Belva dengan erat.


"Nanti kita buat sendiri saja." Bisik Satya pada Belva.


"Mas, kok malah bahas itu sih."


Satya terkekeh, "Jika Jack dan Noella tidak mau menyerahkan bayi itu berarti kita harus buat sendiri, sayang."


"Sudah ayo tidur, besok kita sudah harus kembali beraktivitas dan juga menjenguk bayi Alya."


"Iya mas."


Mereka kini tertidur lelap, melepaskan segala lelah yang mereka rasakan hari ini. Rasa sedih itu pasti masih ada tapi mengingat apa yang sudah pernah terjadi tentu rasa kehilangan mereka tak sebesar rasa kehilangan terhadap seseorang yang meninggalkan sejuta kebaikan.


Pagi tiba, semua pekerjaan yang biasa Belva lakukan selalu tak pernah absen untuk dilakukannya menyiapkan kebutuhan dan keperluan suami dan anak-anaknya. Kini mereka tengah melakukan sarapan pagi tentunya bersama Budhe Rohimah dan Bella.


"Selamat pagi kak, pagi om." Sapa Bella.


"Pagi." Jawab Satya.


"Pagi Bel, kamu antar Budhe dulu ya nanti."


"Iya kak, nanti kak Vanthe ke butik?"


"Iya setelah jenguk bayi Alya. Jadi kan mas kita jenguk dedek bayinya?"


"Jadi, sayang. Ken dan ila mana?"


Baru saja ditanyakan oleh Satya, Kaili dan Kaila datang bersama Budhe Rohimah.


"Pagi Mami... Pagi Daddy." Sapa Duo Kay bersamaan.


"Pagi sayang." Jawab Belva.


"Pagi anak-anak Daddy. Kalian siap untuk sekolah?"


"Siap Daddy, hari ini kan ada kelas modeling." Jawab Kaila dengan wajah gembira. Gadis kecil itu sangat menyukai kelas itu.


"Hei boy, bagaimana tidurmu tadi malam?" Tanya Satya.


"Nyenyak, oh iya nanti Mami nanti ada seleksi pertandingan bela diri. Boleh ikut?" Tanya Kaili.


Belva dan Satya saling lirik, tapi seketika Satya langsung mengangguk.


"Mas yakin?" Tanya Belva.


"Tidak apa-apa, sayang. Ken anak laki-laki jadi kegiatan itu sangat cocok untuknya jika dia suka kita harus mendukungnya. Dulu siapa yang mengijinkan mereka masuk ke tempat itu?"


"Ya aku sih tapi kan hanya untuk jaga-jaga dan membela diri nanti dari hal-hal tidak baik."


"Jika Ken memiliki perkembangan yang baik tentu pelatihnya akan memilihnya sebagai peserta, anggap hal itu untuk mengembangkan kemampuannya saja. Bukankah dulu Ken juga pernah ikut pertandingan itu?"


Belva baru mengingat kembali jika dulu Kaili pernah mengikuti perlombaan tersebut dan berhasil menjadi pemenang. Pada akhirnya dirinya pun menyetujui.


"Boleh sayang, nanti Mami akan menemani mu."


"Benarkah? Mami nanti tidak sibuk di butik?"


"Untuk anak Mami maka Mami akan usahakan menemani." Ucap Belva tersenyum.


"Daddy, nanti juga akan datang." Ucap Satya.


"Hah? Benaran? Daddy juga datang. Yess!!"


Kaili merasa sangat senang pagi ini karena harapannya mengikuti selesai mendapatkan persetujuan bahkan kedua orangtuanya akan mendampingi nya.

__ADS_1


"Iya jadi harus semangat agar bisa masuk ke tahap seleksi berikutnya." Satya mengusap kepala Kaili dengan sayang.


"Siap Daddy." Kaili mengacungkan jempolnya.


"Budhe, maaf nanti Belva tidak bisa antar Budhe." Ucap Belva beralih pada Budhe Rohimah.


"Tidak apa-apa Nduk. Ada Bella yang akan mengantar Budhe."


"Ibu, apa tidak sebaiknya ibu tinggal disini saja?" Tanya Satya.


"Tidak usah. Nanti siapa yang akan menemani Bella. Masa gadis cantik ibu ini mau ditinggal sendirian, ibu takut terjadi apa-apa padanya."


"Aaa... Budheee... Terimakasih." Bella memeluk pinggang Budhe Rohimah dengan manja. Ia merasa terharu dan senang mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari Budhe Rohimah. Wanita paruh baya itu membalas dengan mengusap lembut punggung Bella.


Belva tersenyum melihat keakraban Budhenya dan juga adik angkatnya. Benar-benar terasa kehangatan sebuah keluarga.


"Aunty manja." Ucap Kaila.


Bella melebarkan matanya, "Bukan manja Kaila cantik tapi aunty sayang sama Budhe."


"Suruh saja dia segera menikah." Ujar Satya dengan cuek.


"Menikah dengan siapa? Tidak ada pria satupun yang diperkenalkan pada ibu."


"Jangan-jangan tidak ada yang suka padanya." Ucap Satya kembali membuat Bella mendelik.


"Om, enak saja. Aku hanya belum memikirkan lebih jauh seperti itu. Aku masih muda masih butuh jalan-jalan dan menyenangkan diri sendiri."


"Memang menikah tidak bisa jalan-jalan dan menyenangkan diri sendiri?" Tanya Satya.


"Tidak, menikah pasti banyak aturan."


"Kakakmu bisa jalan-jalan dan menyenangkan diri sendiri setelah menikah."


"Iya tapi tetap saja kan tidak bisa bebas jalan dengan pria manapun." Cibir Bella.


"Itu pengecualian, mana boleh istri saya jalan dengan pria lain."


"Sudah-sudah ayo kita sarapan." Belva memecah pembicaraan Satya dan Bella yang mungkin saja semakin lama akan terjadi perdebatan jika tidak dihentikan.


Sikap Satya kini sedikit berubah setelah menikah dengan Belva, meski cuek dan dingin masih terasa saat berbicara dengan orang lain tapi bersama keluarganya Satya tetap memiliki niat untuk mengobrol.


Setelah megantar Duo Kay, kini Satya dan Belva melaju menuju rumah sakit di mana bayi Alya di rawat. Kembali mereka bertanya pada bagian resepsionis akan keberadaan bayi Alya, ternyata Noella dan Jack sudah berada di depan ruang rawat para bayi.


"Noella." Panggil Belva.


"Ah Nona, selamat pagi Nona dan Tuan." Sapa Noella.


Ia merasa sedikit aneh jika memanggil Belva dengan sebutan Nyonya karena Belva masih muda sama seperti dirinya.


"Pagi Noella, Jack... Kalian sudah dari tadi?" Tanya Belva.


"Iya lumayan sudah tiga puluh menit yang lalu. Kalian mau melihat bayi Alya?"


Belva dan Satya mengangguk.


"Mari saya antar, kalian bisa masuk nanti."


Keempat orang itu berjalan mendekati ruang perawatan bayi. Dari kaca jendela mereka menatap ke arah dalam, beberapa bayi terdapat di dalamnya.


"Box yang sebelah kanan, nomor dua. Itu bayi Alya." Ucap Noella.


"Kami boleh masuk sekarang?" Tanya Belva.


Noella mengangguk dan langsung menghampiri suster yang sedang berjaga. Membicarakan bahwa ada yang ingin masuk menjenguk salah satu bayi yang ada di dalam.


"Silahkan Nona dan Tuan, tapi maaf hanya boleh masuk satu persatu saja dulu." Ucap suster.


"Ah baik tidak apa-apa, sus." Ucap Satya.


"Sayang, kamu lebih dulu saja tidak apa-apa." Ucap Satya.


Belva masuk menggunakan pakaian khusus untuk menjenguk bayi Alya yang masih di dalam inkubator. Terlihat mungil dan masih merah sesekali tangan bayi itu bergerak meski dengan lemah.


"Kasihan sekali. Sayang, kamu harus bertahan ya jadilah anak yang kuat." Gumam Belva dalam hati seakan berbicara pada bayi mungil itu.


Lima belas menit Belva berdiri menatap pada bayi mungil itu dengan sesekali bertanya pada suster bagaimana perkembangan bayi itu. Ternyata bayi itu stabil dan Belva cukup lega mendengarnya.


Kini bergantian Satya yang masuk untuk menjenguk bayi Alya. Sama seperti Belva hatinya merasa ngilu saat menatap bayi itu yang harus berjuang dengan beberapa alat medis yang menempel.


"Nak, kamu jagoan. Kamu pasti kuat, ibumu akan bahagia saat melihat mu mampu melewati semua ini dan hidup bahagia." Gumam Satya dalam hati.


Bila Alya benar anak kandungnya itu artinya bayi itu adalah cucunya. Tapi nyatanya Alya bukanlah anak kandungnya meski begitu itu artinya sama saja bayi itu adalah cucunya. Melihat bayi itu hati Satya terenyuh, ada rasa sayang yang dimilikinya untuk bayi mungil itu. Seandainya Jack dan Noella tak mau merawat bayi itu Satya akan dengan senang hati membawa bayi itu untuk dirawatnya sama seperti Belva.


Satya keluar setelah puas melihat bayi Alya. Wajahnya masih tetap datar meski hatinya ada rasa bahagia. Dia berdiri di samping sang istri dan meraih bahu istrinya.


"Kalian benar-benar akan merawat bayi itu?" Tanya Satya.


"Iya kami akan merawatnya." Jawab Noella.


"Pastikan kalian merawatnya dengan baik, saya tahu suamimu adalah ayah kandung bayi itu tapi jika kalian tak sanggup antar bayi itu pada saya biar saya yang merawatnya."


"Kami pasti sanggup merawatnya, Anda tenang saja." Kembali Noella yang menjawab semua ucapan Satya.


Jack hanya bisa diam karena dirinya masih tak menyangka Noella berbesar hati menerima bayinya bersama wanita lain.


"Bagus. Dan kalian ingat jika saya mendengar kalian menyakiti bayi itu maka saya akan mengambilnya dari tangan kalian. Saya dan istri saya sanggup merawatnya." Ujar Satya memberikan peringatan pada Noella dan Jack.


Kedua pasangan muda itu mengangguk menyanggupi untuk bisa merawat bayi Alya. Satya hanya menatap keduanya dengan tatapan datar. Dia berjanji jika memang bayi Alya terabaikan maka dirinya tak segan-segan mengambil bayi itu dan merawatnya sendiri.


"Kami senang dan lega kalian bersedia merawat bayi Alya. Kalau begitu kami pamit, lain waktu kami akan menjenguknya kembali." Pamit Belva.


"Baik Nona, terima kasih sudah menjenguk bayi Alya." Ucap Noella.


"Saya senang menjenguknya jadi tidak perlu berterima kasih." Ujar Belva.


"Sekali lagi terima kasih, Nona dan Tuan. Kalian berhati-hatilah." Kali ini ucapan itu keluar dari bibir Jack.


Satya hanya berdeham saja sedangkan belva hanya menanggapi dengan senyumannya. Memang ada kelegaan dari hati Belva saat Noella mau menerima bayi itu yang faktanya bukan bayinya sendiri melainkan bayi perempuan lain bersama suaminya.


Kebesaran hati Noella patut diacungi jempol, Belva hanya berdoa dan berharap bayi Alya nanti akan tumbuh menjadi bayi yang kuat dan bahagia. Mendapatkan kasih sayang yang melimpah dari Noella dan juga Jack.


****


To Be Continue...


Terimakasih banyak buat kalian yang masih setia masih support author. πŸ™πŸ™


Kalian luar biasa sabar dalam membaca novel author yang beralur lambat ini. Terimakasih buat Like, Komen, Kembang setaman dan Vote nya.

__ADS_1


Semoga kebaikan kalian berbalik pada diri kalian sendiri. πŸ™β˜ΊοΈ


__ADS_2