Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 147. Di Atas Rata-Rata


__ADS_3

Sore hari sesuai dengan janjinya Belva bersama Satya meluangkan waktu untuk menemani Duo Kay yang rutin mengikuti kegiatan latihan bela diri di dojonya. Sepulang sekolah Duo Kay beristirahat sejenak di butik milik Belva melakukan kegiatan tidur siang setelah makan siang. Hal itu dilakukan karena mengikuti kegiatan tambahan seperti latihan bela diri pasti akan membutuhkan tenaga yang ekstra. Kegiatan itu adalah latihan yang lebih mengutamakan fisik.


"Daddy, tidak sibuk di kantor?" Tanya Kaili.


"Untuk anak-anak Daddy tidak jadi masalah sayang." Ucap Satya tersenyum ke arah samping karena Kaili mendekati jok yang tengah di duduki oleh Satya.


"Kita senang loh Mami sama Daddy selalu menemani kita." Ucap Kaila.


Belva tersenyum mendengar pengakuan putrinya. Ia pun merasa senang bisa menemani kedua anaknya seperti ini. Ngin rasanya waktunya sepenuhnya ia habis untuk anak-anaknya tapi mengingat tugas dan tanggung jawabnya sebagai wanita karir pemilik butik Evankay membuatnya masih harus berpikir ulang.


"Ayo sayang kita turun, sudah sampai." Ucap Belva.


"Ayo Mami." Kaila sangat bersemangat karena dalam latihan bela dirinya kali ini kedua orang tuanya menemaninya.


"Tunggu, biar Daddy yang bukakan pintu untuk para kesayangan Daddy." Cegah Satya ketika anak dan istrinya bersiap untuk keluar mobil.


Kaila hanya menurut sedangkan Belva menggelengkan kepala merasa suaminya terlalu berlebihan. Tapi Belva merasa senang dengan perhatian dari suaminya. Satya tipe laki-laki penyayang dan bertanggung jawab.


Satya dengan cepat keluar dari mobil pertama yang dibukakan pintu olehnya adalah sang istri lalu membukakan pintu untuk kedua anaknya.


"Terima kasih Daddy." Ucap Belva bersamaan dengan Duo Kay.


Keluarga kecil itu tersenyum bahagia, mereka saling merasakan kehangatan dalam keluarga mereka.


"Sama-sama, ayo masuk." Daddy mengandeng tangan Kaili sedangkan Belva menggandeng tangan Kaila.


Saat berjalan menuju lebih dalam halaman tempat latihan Duo Kay, keluarga kecil itu mendapatkan sorotan intens dari beberapa pasang mata. Mungkin sebagian dari mereka juga saling berbisik membahas Satya dan keluarga kecilnya. Ada yang membahas mengenai perbedaan umur antara Belva dan Satya, ada yang baru mengetahui jika Satya dan Belva adalah pasangan suami istri ada pula yang mengira Belva adalah anak dari Satya dan Duo Kay adalah cucu dari Satya. Masing-masing dari mereka memiliki perkumpulan sendiri-sendiri saat mengantar atau menunggui anak mereka.


Di dalam ternyata Satya dan Belva disambut oleh sang pelatih yang tak lain adalah Hiro. Pelatih itu memiliki kedekatan terhadap Kaila dan Kaili sejak awal kedua bocah itu mendaftar menjadi anggota pelatihan tersebut. Ketertarikan Hiro berawal dari Kaila yang dulu merengek memakai seragam berwarna pink.


"Hai kalian datang bersama siapa?" Sapa Hiro pada kedua bocah yang menjadi anak didiknya.


"Sama Mami dan Daddy." Jawab Kaila.


Hiro tersenyum meski dirinya masih bingung sampai sekarang siapa orang tua sebenarnya dari Duo Kay.


"Nyonya... Tuan... Selamat sore." Sapa Hiro pada Belva dan Satya.


"Sore Tuan Hiro." Sapa Belva dengan senyum ramahnya.


Satya hanya merespon dengan sebuah anggukan kepala, wajahnya datar dan biasa saja.


"Maaf Tuan dan Nyonya, ini sudah waktunya Kaili dan Kaila berlatih."


"Ah baiklah." Ucap Belva.


"Sayang, kalian siap-siap dulu ya, Mami dan Daddy akan menunggu kalian di sini." Ucap Belva.


Duo Kay mengangguk, tas yang mereka kenakan dilepas dan diberikan pada Maminya untuk menjaganya.


"Bye Mami... Bye Daddy..." Ucap Kaila melambaikan tangannya sebelum pergi mengikuti Hiro.


"Bye sayang." Jawab Belva.


"Bye putri Daddy, semangat ya." Ucap Satya terdengar penuh dengan kelembutan pada putrinya.


"Mami Daddy aku latihan dulu ya." Pamit Kaili.


"Semangat boy." Ucap Satya mengepalkan tangannya memberi semangat pada putranya yang diikuti oleh Belva.


"Permisi Tuan... Nyonya..." Pamit Hiro.


Duo Kay sudah berlari menuju barisan yang sudah mulai tertata rapi karena anak-anak yang lain sudah mengambil posisi mereka masing-masing.


"Sayang, kita duduk di sini saja." Ucap Satya.


"Iya mas."


Arah pandang mereka tetap terus menghadap pada dua anak mereka yang kini tengah bergabung dengan yang lain. Duo Kay sudah terbiasa dan paham dengan setiap gerakan demi gerakan yang diberikan boleh pelatihnya.


"Kenapa anak-anakku sepintar itu?" Gumam Satya.


"Mereka sudah sering berlatih, mas. Jadi mereka sudah paham dengan setiap gerakan yang diberikan oleh Tuan Hiro."


"Dulu kenapa kamu memasukkan mereka berlatih disini?"


"Karena dulu mereka melihat tempat ini saat mengikuti Papa dan Om Roi ke kantor. Dan aku merasa mereka harus memiliki pegangan untuk melindungi diri. Terlebih datang kembali ke negara ini membuatku lebih banyak merasakan kekhawatiran dan ketakutan. Jadi, saat mereka merengek untuk memintaku mengijinkan mereka aku rasa tidak ada salahnya mereka berlatuh di sini."


"Apa karena adanya Sonia dan mendiang Alya?"


Belva mengangguk jujur karena memang itu alasannya dulu.


"Maafkan semua kesalahan Alya, sayang. Mas rasa dia hanya salah dalam didikan saja, dulu Alya anak yang manis dan penurut." Ucap Satya mengenang kebersamaannya dulu ketika Alya masih kecil.


""Tapi semua sudah berlalu tak seharusnya kita membahas itu lagi aku sudah memaafkan Alya mas, terlebih Alya baru saja tiada." Ucap Belva masih memperhatikan kedua anaknya.


"Terima kasih sudah menjadi wanita yang berhati lembut dan baik, mas beruntung memilikimu." Satya tiba-tiba menggenggam tangan istrinya dan membawanya dalam pangkuannya.


Pasangan suami istri itu tampak terlihat romantis meski berbeda usia yang cukup jauh. Hingga sesi latihan selesai tangan mereka masih saja bertaut erat.


"Permisi Tuan dan Nyonya. Hari ini ada seleksi untuk mengikuti pertandingan tingkat nasional. Apa Kaili diperbolehkan mengikuti seleksi?" Hiro datang menghampiri Satya dan Belva.


"Tentu saja, Tuan. Kami datang untuk memberikan dukungan untuknya karena Kaili juga sudah menyampaikannya pada kami." Ucap Belva.


Satya hanya diam menyimak, seperti biasa pria itu tidak akan banyak bicara jika dengan orang lain yang tak pernah berinteraksi dengannya dan baru dikenalnya.


"Baiklah, saya permisi. Terima kasih sudah mengijinkan Kaili. Untuk kelompok kecil kami mengharapkan Kaili lolos dalam seleksi ini dan mewakili kota Jakarta."


"Iya Tuan saya harap seperti itu." Ucap Belva dan Satya hanya mengangguk.


Kini mereka masih harus menunggu Kaili mengikuti seleksi dan Kaila bersama teman-temannya yang lain sibuk menonton dan bermain.


***


Waktu berganti hari ini Belva melakukan janji temunya kembali bersama Ivanka. Mereka hendak membahas perihal tawaran yang diberikan oleh Christina Diora. Ijin dari Satya sudah dikantongi oleh Belva maka dirinya akan segera memberikan informasi itu pada Ivanka agar Ivanka dan pigak Christina Diora tidak menunggu lebih lama.


"Risa selamat siang, apa Nona Iva ada?" Sapa Belva pada Risa asisten Ivanka.

__ADS_1


"Hai Nona cantik, kalian pasti sudah ada janji temu bukan?"


"Iya Risa, apa Nona Iva ada di dalam?"


"Iya masuklah Nona cantik. Nona Iva ada di dalam."


"Baiklah, saya masuk dulu Risa."


Risa alias Arisandi Kuncoro itu hanya mengangguk dan menampilkan senyuma termanisnya. Sebagai seorang pria wajah Arisandi Kuncoro memang terlihat lebih terawat dan cantik. Jika belum mengenal seorang Risa si asisten Ivanka maka akan salah paham dengan penampilannya yang sangat feminim.


"Selamat siang, Nona." Sapa Belva saat masuk ke dalam ruangan Ivanka.


"Selamat siang, Nona Belva anda sudah datang. Mari silahkan duduk."


Sebelum duduk seperti biasa saat bertemu dengan orang-orang yang dekat dengannya maka akan selalu ada acara cipika cipiki ala perempuan pada umumnya.


"Bagaimana? Bagaimana? Apa sudah ada keputusan untuk tawaran tempo hari?" Tanya Ivanka semangat.


Belva tersenyum melihat semangat yang ditunjukkan oleh Ivanka.


"Kami menerima tawaran itu, Nona. Tapi dengan syarat yang tentu anda sudah tahu sendiri seperti apa."


"Ah benarkah? Saya sangat senang sekali mendengarnya. Tentu saya sudah paham akan syarat yang anda berikan, nanti saya akan membantu untum membicarakannya pada pihak Christina Diora."


"Terima kasih, Nona Iva. Lalu apa yang selanjutnya akan kita lakukan terkait dengan tawaran ini?"


"Saya akan memberikan kabar baik ini pada mereka, nanti mungkin akan diadakan pertemuan kembali bersama mereka sembari mereka akan melihat secara langsung bakat yang dimiliki oleh Kaila."


"Ah baiklah, saya serahkan pada anda untuk pertemuan berikutnya tingg berikan kabar saja pada kami." Ucap Belva dengan senyum yang begitu ramah dan lembut.


"Sekali lagi saya turut berbahagia untuk tawaran bagus ini, Nona. Kaila dan Kaili anda beruntung sekali memiliki putra dan putri yang sangat berbakat. Bagaimana bisa anda memiliki anak-anak seperti mereka, apa anda dulu mengindam sesuatu hal secara khusus?" Tanya Ivanka begitu heran Belva bisa melahirkan bibit-bibit yang unggul seperti Kaili dan Kaila.


Belva terkekeh, "Tidak ada mengidam secara khusus. Saat mengandung mereka justru saya biasa-biasa saja, Nona."


"Benarkah? Tapi mereka sungguh luar biasa. Jika seperti itu saya yakin pasti gen kecerdasan yang mereka miliki itu menurun dari dirimu dan ayah mereka."


Kembali Belva terkekeh, "Anda bisa saja, Nona. Anda benar saya memang beruntung memiliki mereka. Sebuah anugrah dan kado spesial yang tidak semua orang dapatkan."


"Ya saya rasa memang seperti itu bahkan mungkin akan ada banyak ibu-ibu di luar sana yang merasa iri padamu karena memiliki si kembar yang luar biasa kemampuannya. Bahkan orang dewasa pun mungkin tak semuanya Isa secepat mereka saat belajar."


"Kenapa saya bisa mengatakan seperti itu? Bayangkan saja Kaila masih berusia empat tahun tapi dia dengan cepat menguasai teknik mendesain seperti orang dewasa." Imbuh Ivanka.


Mereka terus berbincang perihal kemampuan yang dimiliki oleh Duo Kay, bahkan ternyata kemenangan Kaili dalam pertandingan bela diri pun diketahui oleh Ivanka. Entah dari mana wanita itu tahu yabg jelas Belva tak ambil pusing selama tak merugikan kehidupannya dan keluarganya.


Selang beberapa hari akhirnya pertemuan antara Belva - Kaila dengan pihak Christina Diora yang ditemani oleh Ivanka pun terjadi. Seperti yang telah dibicarakan beberapa waktu yang lalu bahwa pihak Christina Diora ingin melihat sendiri setiap goresan pensil yang dilakukan oleh Kaila secara langsung.


Pihak Christina Diora pun menyediakan semua peralatan dan media yang digunakan boleh Kaila. Gadis cilik itu menurut saat Maminya meminta dirinya untuk membuat sebuah desain dengan teman pesat ulang tahun anak-anak. Sesuai usianya pihak Christina Diora masih akan melihat keterampilan dan kemampuan yang dimiliki oleh Kaila.


"Oh astaga, ini sungguh benar-benar terjadi?" Nona Diora yang menjadi pemilik brand merasa terkejut dan terheran dengan kemampuan Kaila.


"Benar bukan apa yang saya katakan, jika gadis cilik yang cantik jelita ini memiliki bakat dan kemampuan yang luar biaaa. Di atas rata-rata dan tidak seperti anak-anak pada umumnya." Ucap Ivanka dengan bangga karena model ciliknya memiliki prestasi membanggakan.


"Anda benar Nona Iva, saya sangat berterima kasih atas dirimu juga saya bisa menemukan gadis cilik yang cantik jelita dan cerdas seperti ini." Ucap Nona Diora.


"Nak, kamu sungguh benar-benar membuat ku ingin menangis. Ini sangat bagus sekali, sangat indah." Puji Nona Diora.


Nona Diora yang merasa senang bukan kepalang karena mendapatkan seseorang yang memiliki talenta di atas rata-rata pun mengusap kepala Kaila dengan sayang.


"Oke, tak perlu berlama-lama. Saya sudah yakin sekali seratus persen. Nona Belva, apa anda benar-benar yakin menerima tawaran kerjasama dari kami?" Tanya Nona Diora.


"Kami menerimanya, Nona Diora. Daddy nya Kaila sudah memberikan ijin dengan syarat."


"Saya sudah mengerti akan syarat yang anda inginkan dan saya sangat memahami itu karena Kaila masih terlalu kecil. Tapi saya pun tidak bisa melepaskan seseorang yang bertalenta seperti putrimu."


"Terima kasih, Nona sudah memilih Kaila untuk menjadi partner dari Christina Diora." Ujar Belva.


"Baik, mari kita bahas masalah kerjasama ini lebih lanjut, Nona."


Belva mengangguk, mereka kini tengah duduk di sofa tempat ruang pertemuan mereka yakni di sebuah hotel mewah di Jakarta. Christina Diora merupakan pemilik brand yang berasal dari negeri dan kota mode, Paris.


Belva pun tak ragu menerima karena dirinya pun sudah cukup mengenal salah satu brand ternama itu. Dulu saat dirinya masih berada di Paris, ia selalu membayangkan hasil karyanya bisa bersanding dengan brand Christina Diora. Tapi nyatanya kini bukan karyanya yang bersanding dengan brand terkenal itu melainkan karya putri kandungnya. Itu sudah membuatnya sangat bahagia meski bukan dirinya yang menjadi partner dari Christina Diora.


"Maaf Nona, apakah Kaila bisa memberikan tanda tangannya di dalam kontrak kerjasama ini?" Tanya Nona Diora.


"Tapi Kaila masih kecil belum bisa melakukan tanda tangan." Ucap Belva.


"Saya rasa tidak masalah, menulis namanya sendiri saja itu sudah cukup mewakili tanda tangannya." Jelas Nona Diora.


"Ah baiklah, Nona." Ucap Belva.


"Sayang, tuliskan namamu di bagian ini." Ucap Belva menuntun putrinya melakukan tanda tangan ala Kaila.


Kesepakatan terjadi diantar mereka. Kini Kaila resmi menjadi partner bagi brand Christina Diora.


"Nona, Terima kasih atas kerjasama yang sudah mulai terjalin ini. Semoga ke depannya kerjasama ini dapat berjalan dengan lancar." Nona Diora menjabat tangan Belva.


"Sama-sama, Nona. Saya juga berterima kasih sudah memberikan kesempatan bagi Kaila. Saya juga berharap semoga semuanya dapat berjalan dengan lancar." Bva menerima jabatan tangan Nona Diora.


Semua sudah deal terjadi kesepakatan, selesai dengan pertemuan penting itu Belva dan Kaila kembali ke butik.


Sedangkan Kaili, pria kecil itu untum oertama kalinya berpisah dengan kembarannya. Dia lebih memilih tinggal.di kantor sang Daddy. Kedatangan Kaili sempat menjadi perbincangan para karyawan saat Satya datang dengan menggendong Kaili berjalan memasuki kantornya.


Satya sibuk dengan pekerjaannya sedangkan Kaili juga sibuk dengan pekerjaannya. Pria kecil itu kini sibuk mendesain sebuah rumah yang menjadi orderan untuknya. Atas permintaan Kaili, Belva membuatkan sebuah akun yang di mana isi akun tersebut adalah akun khusus Kaili dalam meng-upload has karyanya. Tanpa diduga akunnya menghasilkan pundi-pundi uang untuknya. Beberapa orang yang melihat hasil karya Kaili pun tertarik untuk meminta di desain rumah untuk mereka yang hendak membangun rumah.


"Daddy, maaf boleh aku mengganggu mu?" Tanya Kaili dengan polosnya.


Satya langsung menghentikan pekerjaannya dan menatap putranya dengan mengerutkan keningnya. Ada rasa lucu saat putranya harus meminta ijin padanya untuk mengganggu.


"Ada apa boy?" Tanya Satya tersenyum.


"Apa aku boleh meminta tolong?" Tanya Kaili.


"Tentu saja. Apa kamu lapar? Daddy akan pesankan makanan untukmu."


"Bukan itu Daddy, aku belum lapar. Tapi bisakah Daddy membantuku untuk mengirim file ini? Ada beberapa file yang harus dikirim tapi aku tak bisa menjadikan satu file itu untuk dikirim."


"File? File apa maksudmu, Nak?" Satya semakin tak mengerti dengan maksud ucapan Kaili.

__ADS_1


"File ini, biasanya Mami yang membantuku tapi kan Mami sedang pergi dengan Kaila."


"Sini Daddy lihat dulu."


Kaili menghampiri Daddy nya dan memberikan tablet PC nya pada Satya. Pria tampan diusianya yang matang itu menerima pemberian putranya.


Satya mengecek apa yang ada di dalam layar tablet PC itu. Kembali dirinya terperangah dengan kemampuan yang dimiliki oleh putranya. Kaili benar-benar mendesain sebuah rumah dengan gambar tiga dimensi yang cukup apik.


"Nak, ini kamu ambil dari mana gambar ini?" Tanya Satya menelisik.


"Aku buat sendiri Daddy bukan ambil punya orang."


"Benarkah kamu yang membuatnya? Ini sangat sulit untuk anak-anak, boy."


"Tapi aku tidak kesulitan, aku sudah biasa membuatnya." Ujar Kaili dengan polosnya dan kekeuh pada pendapatnya secara fakta.


"Kamu sudah biasa? Sejak kapan?" Satya terus menggali informasi yang dulu belum sempat dirinya laksanakan.


"Sejak kecil, saat usia satu tahun aku sudah suka menggambar sama seperti Kaila. Tapi aku lebih suka gambar rumah dan gambar orang." Jawba kaili.


Kembali Satya mengingat cerita Kaila saat dirinya menemani putrinya pada malam itu. Satya membantu mengumpulkan file itu menjadi satu folder. Lalu dirinya mengecek kembali setiap file yang berisi desain hasil karya Kaili.


"Ini tidak mungkin bagi seorang batita. Tapi Kaili bisa melakukannya." Gumam Satya dalam hati sembari terus menggeser layar tablet PC milik Kaili.


Pikiran Satya berkelana mengingat sesuatu dan dirinya baru ingat saat pertama kali dirinya betenu dengan Kaili adalah saat mengikuti rapat tender Mega proyek waktu itu. Satya dengan buru-buru mencari tahu apakah dugaannya saat ini benar-benar terjadi atau hanya dugaan semata.


Deg...


Bukan file desain saat rapat tender Mega proyek itu melainkan desain lain yang dirinya sangat kenali.


"Ini... Ini kan desain resort yang sedang tahap pembangunan di Bali. Kaili memiliki file ini, apakah dia yang membuatnya?" Gumam Satya.


Satya menatap putranya dengan dalam, mwngamau wajah yang sama tampannya dengan dirinya. Mungkin saat dewasa nanti wajah Kaili akan sama seperti dirinya meski sudah diusia yang cukup matang.


"Nak, kemarilah."


"Ada apa Daddy? Apa sudah selesai?"


"Kemarilah, Daddy ingin bertanya padamu."


Kaili semakin mendekat pada Daddy nya. Satya mengangkat tubuh kecil Kaili ke atas pangkuannya.


"Nak, lihatlah. Apa ini kamu yang membuatnya?" Tanya Satya.


Kaili mengangguk, "Iya, itu Opa Gan dan Papi yang memintaku membuatnya karena aku selalu membantu Opa Gan membuat desain bangunan. Ini adalah hobi ku, Daddy."


Jedeer!!


Terperangah dan juga ada rasa bangga saya putranya mampu mendesain banguna serumit itu. Satya terbengong saat ini memikirkan kedua anaknya yang memiliki kemampuan di atas rata-rata dari anak kecil pada umumnya. Dia tak mengerti mengapa dirinya bisa memiliki anak-anak secerdas Kaili dan Kaila.


"Terima kasih sayang, kamu mengandung dan memberikan ku anak-anak yang luar biasa seperti mereka. Sungguh aku sangat beruntung sekali memiliki kalian." Gumam Satya dalam hati.


Kepala Kaili yang ada dihadapannya kini diciumnya berkali-kali. Setelah mendengar bahwa putrinya mendapatkan tawaran dari brand ternama karena kemampuan yang dimiliki. Kini dirinya pun baru mengetahui dengan jelas dan secara langsung kemampuan putranya.


"Ini Daddy sudah menjadikan satu file nya, lalu apa yang harus Daddy lakukan lagi untuk mu?"


"Biasanya aku bisa mengirim file ini jika itu untuk Opa Gan. Tapi ini bukan untuknya jadi aku bingung harus mengirimkan nya ke mana."


"Memang ini milik siapa?" Tanya Satya.


"Itu sudah ada namanya, Mami yang membantuku menyimpan file itu atas nama pemiliknya. Ini orang lain yang memintaku untuk menggambarkannya dan mereka memberikan bayaran atas gambar milikku."


"Kamu menjualnya? Dan Mami tahu?"


Kaili mengangguk, "Mami tahu karena Mami mengatakannya padaku, mereka mengirim pesan untukku melalui akun milikku. Mami bilang mereka sangat menyukai gambarku dan mereka akan membayar gambarku jika aku mengijinkan mereka."


"Baiklah, nanti untuk mengirimkan gambar ini kita tunggu Mami saja karena Mamimu yang lebih tahu."


"Baiklah Daddy. Ini jam berapa? Kenapa Mami dan Kaila belum datang juga?"


"Kamu lapar? Kuta makan bersama saja dulu sambil menunggu Mami, bagaimana?" Tawra Satya.


"Oke Daddy." Jawba Kaili.


Ayah dan anak itu keluar menuju kantin yang ada di area kantor. Kembali hal tersebut membuat banyak pasang mata menatap ke arah mereka. Pikiran mereka yang sibuk masing-masing kini beralih fokus dengan sibuk memikirkan siapa anak kecil yang dibawa oleh bos mereka.


"Jordi!" Panggil Satya saya melihat Jordi berada di kantin tersebut.


"Tuan, anda di sini? Sedang apa anda di sini?"


"Menurut mu? Anak saya kelaparan, pesankan untuk kami. Saya tidak mungkin membawanya berdesakan seperti itu."


Jordi melirik ke arah beberapa karyawan yang berdesakan untuk membeli makanan.


"Baiklah, anda dan Tuan kecil tunggu saja di sini biar saya yang membelikan makan siang kalian."


"Hem. Terima kasih."


Satya duduk bersama putranya di salah satu bangku kantin kantornya yang terlihat rapi dan bersih tak Satya jarang sekali mengunjungi kantin tersebut karena lebih sibuk makan siang di luar bersama para kliennya dan akhir-akhir ini lebih banyak bersama anak dan istrinya.


Saat menunggu makan siang mereka, secara bersamaan Kaila dan Belva datang ke kantin karena saat sampai di lantai khusus pemilik perusahaan yaitu suaminya, Grace mengatakan jika Satya dan Kaili berada di kantin.


Tak hanya Kaila dan Belva tapi satu orang wanita berpakaian seksi dan cantik juga datang ke kantin orang tersebut tak lain adalah Gladys yang hendak menemui Satya. Mereka sama-sama berjalan ke arah Satya tapi dari arah yang berbeda.


****


To Be Continue...


Waduh ada apa lagi itu nanti yang akan terjadi 😲


Hai my dear para readers ku tersayang


Terimakasih banyak buat kalian yang masih setia support author sampai saat ini 🙏🙏🙏


Terimakasih banyak atas Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian.


Semoga menghibur, Sehat selalu dan bahagia selalu 🤗❤️

__ADS_1


__ADS_2