Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 59. Kecelakaan


__ADS_3

Jam pulang sekolah Belva menyempatkan diri menjemput Duo Kay. Seiring dengan berjalannya waktu gosip seputar Belva yang menjadi pelakor itu kini perlahan mulai menghilang. Tapi tetap ada juga yang masih memandang rendah dirinya atas gosip tersebut.


Pihak sekolah pun bertindak sangat profesional dalam hal itu. Mereka bahkan memberikan keputusan untuk mengeluarkan para siswa yang melakukan pembullyan terhadap Duo Kay saat itu. Informasi itu Belva dapatkan secara langsung dari pihak sekolah. Ia juga mendengar jika ada beberapa orang tua siswa yang keberatan dengan keputusan tersebut tapi tetap pihak sekolah tetap tak mengurungkan keputusan itu karena keputusan sudah bersifat mutlak tidak dapat diganggu gugat.


Alasannya adalah efek dari pembullyan itu membuat siswa trauma dan juga menurunkan bahkan bisa menghilang minat belajar siswa. Pihak sekolah juga tidak ingin jika kredibilitas sekolah menurun akibat permasalahan tersebut. Seharusnya urusan pribadi tak disangkutkan atau dibawa dilingkungan sekolah. Kelalaian orang tua maupun guru dalam mendidik dan mengingatkan anak-anak juga menjadi pembelajaran yang bisa diambil atas kasus yang menimpa Duo Kay.


"Ayo sayang kita pulang. Nanti kita mampir sebentar ke tempat aunty Iva."


"Kenapa kesana ?" Tanya Kaili.


"Entah aunty Iva bilang ada sesuatu buat kalian tapi Mami tidak tahu apa itu."


"Ayo Mami." Ajak Kaila semangat.


Tiga manusia berbeda generasi itu masuk ke dalam mobil dan melaju menuju kantor Ivalloth. Pemilik brand terkenal dan ternama itu meminta Belva untuk membawa Duo Kay menemuinya.


Sampai di tempat tujuan mereka masuk ke dalam kantor tersebut. Beberapa orang kantor Ivalloth sudah mengenal Belva dan Duo Kay. Sapaan ramah mereka dapatkan saat berjalan melewati setiap lorong kantor itu.


"Hallo Nona. Mau bertemu dengan Nona Iva ?" Tanya sekertaris Iva.


Belva mengangguk dan tersenyum.


"Nona Iva sudah menunggu masuk saja langsung ke dalam."


"Oke terima kasih Arisa." Ucap Belva.


Awal mengenal sekertaris Ivanka Elizabeth, Belva bingung harus bagaimana memanggilnya hingga Iva mengatakan untuk memanggil nama saja Arisa karena nama panjangnya adalah Arisandi Kuncoro. Pria setengah tulen itu meski terlihat maco tapi sebenarnya melambai-lambai bak daun pohon kelapa tertiup angin pantai.


Setelah mengetuk pintu Belva masuk bersama Duo Kay.


"Hai sudah sampai kalian ?" Iva langsung berdiri dari duduk dan saling tempel pipi kanan kiri dengan Belva.


"Hai idola... Kalian baru pulang sekolah ya ? Maaf ya aunty suruh kalian ke sini. Aunty ada sesuatu untuk kalian.


"Benarkah itu ? Apa aunty ?" Tanya Kaila.


"Tentu saja... Ayo ikut aunty."


"Ayo Nona Bella, ikutlah." Ajak Iva.


Mereka berjalan ke arah samping kantor yang ada taman kecil disana, sengaja dibuat Iva sebagai tempat bersantai sekaligus spot foto untuk para modelnya.


Sebuah kandang kecil tersimpan di sana dengan seekor kucing berbulu lebat berwarna putih ada di dalam kandang tersebut.


"Waaah ada kucing." Ucap Kaila matanya berbinar melihat hewan menggemaskan itu.


Kaila berlari ke arah kucing tersebut disusul oleh Kaili. Mereka berdua duduk berjongkok di depan kandang kucing itu.


"Kaili lihat itu ada kalungnya bagus warnanya pink."


"Iya... Kita boleh pegang ?" Tanya Kaili pada Iva.


Belva tersenyum melihat respon dua anaknya itu.


Iva pun juga tersenyum. "Tentu... Apa kalian menyukainya ?"


"Iya..." Jawab Kaila, Kaili mengangguk.


Iva mengeluarkan kucing itu dari dalam kandang. Kucing itu menurut sekali dengan Iva.


"Pegang lah." Ucap Iva.


Kaila antusias tapi saat kucing itu dikeluarkan gadis kecil itu takut-takut untuk menyentuh kucing itu.


"Apa dia tidak akan menggigit ?" Tanya Kaila.


"Tidak. Pegang lah dengan lembut."


Kaili sudah memegang kucing tersebut. Bulu kucing itu terasa halus dan lebat. Jari telunjuk mungil Kaila terulur perlahan dengan sedikit takut-takut untuk menyentuh kucing itu.


"Pegang Kaila." Ucap Kaili menarik tangan kembarannya hingga membuat gadis kecil itu menjerit.


Mereka tertawa melihat reaksi Kaila.


"Kamu penakut." Ucap Kaili.


"Dia tidak akan menggigit mu sayang. Kucing aunty Iva sudah sangat penurut." Ucap Belva.


Mereka bermain-main sebentar dengan kucing itu. Perlahan Kaila sudah mulai berani. Melihat waktu yang semakin siang Belva harus kembali ke butik. Iva menyadari itu karena sedari tadi Belva melihat pergelangan tangannya berkali-kali.


"Apa terburu-buru ?" Tanya Iva.


"Saya tak bisa meninggalkan butik terlalu lama. Tak enak dengan Bella, sudah banyak saya merepotkan anak itu."


"Baiklah. Tunggu sebentar."


Iva kembali masuk untuk mengambil sebuah paper bag. Dua buah paper bag berisi pakaian brand Ivalloth dan juga sepatu.


"Ini untuk kalian berdua." Ucap Iva pada Kaila dan Kaili hingga perhatian mereka teralihkan dari kucing itu pada paper bag yang ada di tangan Iva.


"Terima kasih aunty." Duo Kay berdiri dan menerima paper bag tersebut. Lalu diberikannya pada Mami mereka.


"Terima kasih Nona Iva."


"Sama-sama. Oh iya kalian mau bawa kucing nya ?" Tanya Iva.


"Boleh ?" Tanya Kaila.


"Emm... Tentu saja." Jawab Iva tersenyum.


"Nona, anda yakin ? Sepertinya itu kucing kesayangan anda." Ucap Belva.


"Tak apa... Saya terlalu sibuk jadi kasihan kurang memperhatikan kucing ini."


"Ayo aunty bantu bawakan kucingnya." Ucap Iva.


Mereka keluar dari kantor Ivalloth bersama dengan Iva yang menggendong kucing menggemaskan itu.


"Pak, tolong angkat kandang kucing yang ada di taman samping dan bawa ke mobil Nona Belva."


Kebetulan OB lewat saat mereka akan keluar dari kantor tersebut. Dengan patuh OB itu membawakan kandang kucing ke mobil Belva. Diletakkannya di bagian belakang mobil dan dimasukkan kucing itu dalam kandangnya.


Duo Kay senang memiliki mainan baru, makhluk hidup yang menggemaskan. Didalam pikiran mereka sudah tersusun rencana untuk bermain dengan kucing tersebut.


"Oh iya aunty lupa kasih tahu, namanya hampir sama loh dengan kalian haha maaf ya."


"Memang siapa namanya ?" Tanya Kaili.


"Namanya Kesyi. Karena jenis kelaminnya perempuan."


"Tak apa nama yang bagus. Terima kasih banyak Nona, maaf membuatmu merelakan kucing manis itu." Ucap Belva.


"Tidak masalah. Saya yakin kalian bisa merawat Kesyi dengan baik."


"Tentu kami akan merawatnya. Kalau begitu kami permisi dulu. Ayo sayang berpamitan lah pada aunty dan ucapkan terima kasih."


"Kami pulang aunty. Terima kasih." Ucap Duo Kay.


"Sama-sama. Berhati-hatilah." Jawab Iva.


Belva dan anak-anak masuk ke dalam mobil dan berlalu dari area kantor Ivalloth. Rupanya Duo Kay menjadi model cilik kesayangan Ivanka Elizabeth. Sejak awal melihat dua bocah itu memang mereka memiliki daya tarik yang kuat.


Selama ini Iva tak pernah salah dalam merekrut seseorang untuk menjadi modelnya. Entah seseorang yang sudah masuk dalam agensi model atau orang biasa. Iva memiliki kemampuan mengamati bakat dan minat dalam dunia fashion dan modeling dengan jeli. Bahkan sebelum Luna Catherine bertemu Belva, Iva sudah berbicara pada Belva mengenai keinginannya untuk sekaligus mengajak Belva menjadi modelnya tapi wanita itu menolak untuk saat itu.


Belva sampai di halaman butik. Diturunkannya kandang kucing tersebut dari mobil. Duo Kay yang senang mendapatkan kucing dari Iva lantas tanpa sepengetahuan Belva, Kaili membuka kandang tersebut.


Pria kecil itu hendak menggendong Kesyi. Tapi tangan mungilnya belum lihai menggendong kucing tersebut hingga kucing terlepas dan lari akibat melihat kucing liar yang ada di dekat butik Belva.


"Kesyi !!" Teriak Duo Kay.


Duo Kay langsung mengejar kucing tersebut hingga ke arah jalan. Mereka tak memperdulikan kendaraan yang lewat hingga sebuah mobil sport dengan kecepatan perlahan tapi begitu hampir dekat mobil itu menaikan kecepatannya.

__ADS_1


"Kaila !!! Kaili !!!" Teriak Belva terkejut.


Brakk !!! Brak !!!


"Jordi !!!" Teriak Satya dari dalam mobil panik dan terkejut. Begitu pula Jordi pria itu sama paniknya dengan Satya. Mobilnya yang berlawanan arah langsung memotong jalan untuk berputar arah.


Belva berlari menghampiri anak-anaknya. Kejadian itu begitu cepat Kaili beruntung anak itu terpelanting ke pinggir jalan karena ada seseorang yang mendorongnya hingga pria kecil itu hanya lecet-lecet saja. Kaila keadaannya lebih parah dari Kaili dengan posisi sama terpelanting bersama seorang pria yang berusaha melindunginya. Kepala Kaila terbentur pinggiran trotoar tapi lebih parah pria yang melindungi Kaila telah bersimbah darah tak jauh dari tubuh kecil Kaila.


Mobil yang menabrak mereka sama kondisinya pun parah karena tak mampu mengendalikan mobilnya yang dengan kecepatan kencang melaju di jalanan yang menikung. Hingga akhirnya menerobos pembatas jalan dan menabrak pohon.


"Kaila !!! Kaili !!" Air mata Belva sudah mengalir deras. Degup jantung nya berdetak sangat kencang. Buah hatinya adalah separuh hidupnya, kini mereka berada dalam lingkaran maut. Wajah itu sangat terlihat sekali raut wajah sedih dan paniknya.


"Kaili... Kamu tidak apa-apa sayang ?" Belva panik memeriksa tubuh Kaili.


"Mami sakiitt..." Rintih Kaili.


Semua yang ada di dalam butik keluar, termasuk Bella. Gadis itu sama terkejut dan paniknya. Ia berlari cepat menghampiri Kaili.


Belva begitu tahu Kaili masih bisa diajak berbicara tanpa sadar dirinya berlari cepat meninggalkan Kaili dan menghampiri Kaila. Putri cantiknya itu sudah tergeletak tak berdaya dengan bersimbah darah di bagian kepala dan beberapa badannya.


"Kailaaaa !!!" Teriak Belva sejadi-jadinya. Hatinya hancur melihat putri kecilnya terpejam dengan wajah datar. Keceriaan yang baru saja terpancar menyelimuti kedua bocah itu sirna. Tawa bahagia mereka sebelumnya kini berganti dengan kesedihan bagi hati Belva.


"Haaahahaaa Kaila bangun sayang !!!" Air mata itu sangat deras mengalir. Tubuh kecil itu dipeluk oleh Belva sembari meraung keras menangisi Kaila.


"Hiks... Bangun Nak... Jangan tinggalkan Mamiiii !!!" Jerit tangis Belva saat itu begitu pilu terdengar oleh orang-orang yang ada di sana.


Seketika jalanan menjadi macet akibat kecelakaan itu. Banyak dari mereka memilih berhenti untuk melihat, area kecelakaan itu dikerumuni oleh banyak orang.


Bella menggendong Kaili mendekati Belva dan Kaila. Gadis itu pun sudah terisak menangis sembari memeluk erat tubuh Kaili.


Satya dan Jordi langsung memecah kerumunan untuk melihat keadaan Kaila. Mata Satya bergetar hatinya terasa sakit saat melihat gadis kecil itu terbaring lemah di jalanan aspal.


"Kaila." Ucap Satya lirih bahkan sangat lirih.


Bocah yang baru saja diketahuinya sebagai darah dagingnya. Sebagai anaknya yang selama ini tak pernah disadarinya.


"Kaila bangun hiks... Ambulan tolong siapapun panggilkan ambulan." Jerit Belva.


"Nona... Nona tenang saya sudah hubungi ambulan." Ucap seorang pria yang menggunakan Hoodie hitam tapi tak menutupi tubuh kekar dan tegapnya. Pria itu berpotongan cepak sama seperti pria yang tengah tergelak tak berdaya itu.


Satya mendekati Kaila dan Belva, entah hatinya dengan otomatis tergerak begitu saja. Pria itu mengangkat tubuh Kaila yang bersimbah darah. Belva menatap siapa pria yang mengangkat tubuh kecilnya putrinya.


"Kita ke rumah sakit sekarang." Suara yang sedikit bergetar tapi wajah itu tetap terlihat datar.


Belva berdiri tanpa kata, ia mengikuti Kaila yang digendong oleh Satya. Diikuti pula oleh Bella dan Kaili.


"Jordi ayo cepat !!" Teriak Satya.


Saat sampai di mobil Satya dan Jordi. Satya masuk dengan masih membopong Kaila diikuti Belva di kursi belakang. Bella dan Kaili tanpa diminta mereka langsung masuk dan duduk di kursi samping kemudi.


Dengan cepat Jordi mengemudikan mobil. Dalam mobil tersebut hanya ada Isak tangis dari Belva yang menggenggam tangan kecil putrinya sembari menatap wajah putrinya.


"Hiks... Bertahan sayang, kita ke rumah sakit Nak. Mami sayang kaila... Kuat Nak. Hiks..."


Satya terdiam. Ditatapnya wajah cantik Belva yang sudah kacau itu tapi kecantikan alami wanita itu tetap tak pudar. Lalu beralih melihat wajah Kaila yang memang terlihat mirip dengannya. Perpaduan dari gen miliknya dan juga Belva.


Dadanya sesak melihat kepedihan yang dirasakan Belva saat Kaila terpejam tanpa respon sedikitpun meski Mami nya berteriak memanggil nama bocah itu.


Jordi membawa mereka ke rumah sakit Mitra Medika. Dimana sahabatnya bekerja, selain lebih dekat setidaknya ada Andrew yang nanti akan Jordi minta secara langsung untuk menangani bocah kecil putri dari bos-nya itu.


Satya keluar dengan pintu yang dibuka oleh Jordi. Dia berjalan dengan terburu-buru dan sedikit berlari. Belva kewalahan mengimbangi langkah Satya yang lebih cepat.


"Suster !! Dokter !!" Teriak Satya.


Dengan sigap perawat yang berjaga berlari menghampiri.


"Anaknya kenapa ini Tuan ?" Tanya perawat.


"Kecelakaan." Ucap Satya.


"Sini Tuan. Letakkan disini saja."


Perawat yang kedua menyusul dengan membawa brangkar. Kaila diletakkan di atas brangkar lalu di dorong mereka menuju PICU ruangan darurat yang dikhususkan untuk anak-anak. Melihat kondisi Kaila yang terlihat cukup parah.


Belva tak henti-hentinya menangis. Takut sekali jika terjadi sesuatu yang buruk pada Kaila. Tak pernah terbayangkan dalam hidupnya dan tak akan pernah mau membayangkan jika Kaila sampai pergi meninggalkan dirinya.


"Kak, tenang... Semoga Kaila baik-baik saja." Ucap Bella dengan air mata yang juga masih mengalir meski tak separah Belva.


Bella sangat tahu bagaimana perasaan Belva saat ini. Wanita yang seumuran dengannya itu betapa sangat menyayangi dan mencintai kedua anaknya. Apapun akan wanita itu lakukan asalkan kedua anaknya bahagia.


Belva wanita yang kuat tapi sekuat-kuatnya wanita itu tetaplah memiliki kerapuhan. Sejatinya Kaila dan Kaili adalah kelemahan terberat seorang Belva.


"Kaila... Hiks... Aku takut Bella... Kaila putriku dia masih kecil aku tak sanggup jika kehilangan Kaila." Belva terus saja menangis. Membayangkan banyak darah yang mengotori tubuh Kaila membuat wanita itu berkali-kali merasakan sakit pada hatinya. Diraihnya tubuh Kaili yang berada di gedongan Bella dan dipeluknya dengan erat. Bagi Belva Kaili sama saja dengan Kaila, mereka memang diciptakan selalu bersama sejak dalam kandungan.


Satya menatap Belva yang tengah menangis dan terlihat jelas kesedihan wanita itu. Ingin menghampiri tapi pria itu saat ini entah sejak mengetahui fakta yang sebenarnya seakan tak memiliki nyali. Mungkin tak siap atau segan mendekati Belva. Dirinya yang dulu tak pernah menatap seorang Belva terkesan cuek dan masa bodo dengan wanita itu saat masih menjadi asisten rumah tangganya. Tapi dirinya bisa tak sengaja tidur bersama wanita itu.


Tak lama dua pasien pun di dorong beriringan di atas brangkar. Luka yang mereka alami pun sama parahnya dengan Kaila atau mungkin lebih parah. Mereka masuk ke ruang ICU karena luka parah yang mereka alami.


Satya mengenali salah satunya adalah Alya. Ya... Alya juga turut menjadi korban sekaligus pelaku atas insiden kecelakaan itu. Meski tak dekat dengan putrinya Satya tetap merasa khawatir pada keadaan Alya. Pria itu bingung harus tetap stay di depan ruangan PICU atau mengikuti Alya.


Saat Satya hendak berdiri memutuskan untuk mengikuti Alya. Dokter yang ada di ruangan Kaila keluar. Bella dan Belva langsung berdiri menghampiri dokter tersebut.


"Dokter bagaimana keadaan putriku ?" Tanya Belva harap-harap cemas.


Dokter menghela napas. "Pasien kekurangan banyak darah, stok di rumah sakit masih kurang. Jadi, kita harus cari pendonor secepatnya untuk pasien."


"Saya... Saya mau mendonorkan darah untuk putri saya dokter."


"Baiklah. Golongan darah Nyonya apa ?" Tanya dokter.


"AB dokter." Jawab Belva cepat.


"Maaf Nyonya. Golongan darah anda tidak cocok untuk putri anda. Mungkin bisa dari ayahnya."


Belva terpaku. Dari Ayahnya ? Satya ?. Wanita itu tak mungkin meminta Satya untuk mendonorkan darahnya pada Kaila.


"Bella ?" Tanya Belva.


"Maaf dokter apa golongan darah pasien ?" Tanya Bella.


"Golongan darah pasien A- jadi hanya bisa menerima golongan darah yang sama yaitu A- atau O- saja." Terang dokter.


Satya mendengar semua percakapan itu, meski masih syok atas kebenaran yang baru saja diketahuinya. Kaila tetaplah anaknya darah dagingnya sendiri.


"Saya saja dok. Golongan darah saya sama dengan pasien." Ucap Satya.


"Anda Ayahnya ?" Tanya dokter.


Pertanyaan dokter membuat Belva menatap Satya begitu juga sebaliknya. Tapi sedetik kemudian Belva menolehkan arah pandangannya agar tak menatap Satya.


"Berapa banyak darah yang dibutuhkan pasien, dokter ?" Tanya Satya mengalihkan pertanyaan dokter. Saat ini bukan waktu yang tepat untuk membahas fakta yang ada.


"Dua kantong darah. Rumah sakit hanya ada satu kantong dan masih butuh satu lagi."


"Baiklah dok." Jawab Satya.


"Mari ikut saya."


Satya melangkahkan kaki mengikuti dokter. Belva memperhatikan pria yang sangat ingin dihindarinya itu. Belva cemas jika dengan kejadian ini Satya mengetahui kebenarannya. Baginya lebih baik Satya tak mengetahui yang sebenarnya daripada saat tahu nanti hanyalah sebuah penolakan dari bibir Satya sendiri. Itu akan sangat menyakitkan baginya, mendengar Sonia yang mengatakan hal itu saja sudah mampu mengiris hatinya. Kehadiran anaknya yang tak diinginkan sebagai seorang ibu pasti akan merasakan sakit hati.


Di depan ruangan PICU, Belva dan Bella serta Jordi masih menunggu disana. Kedua perempuan itu tak membuka suara pada Jordi. Mereka fokus pada keadaan Kaila yang masih dalam penanganan.


Selesai dengan donor darahnya Satya datang kembali ke tempat dimana mereka menunggu Kaila. Saat ini Satya harus menemui Alya, meski dalam hatinya terasa berat meninggalkan gadis kecil yang kini percaya tak percaya itu adalah anaknya.


"Saya... Permisi dulu. Semoga Kaila cepat membaik." Pamit Satya yang berdiri satu langkah di samping Belva.


Belva mengangkat wajahnya menghadap Satya. Tatapan keduanya bertemu, Satya yang memang mulai merasa tertarik pada Belva saat bertemu di pesta itu masih saja terus menatap wajah ayu itu. Sedangkan wanita itu tak begitu lama mau menatap Satya lebih memilih mengalihkan tatapannya ke arah baju Satya yang terkena noda darah Kaila.


"Terima kasih. Tuan sudah membantu kami." Ucap Belva.


Ada rasa bersalah, bagaimana tidak wajah ayu itu dulu tak pernah ditatapnya tapi dia bisa menghancurkan masa depan wanita itu. Tapi wanita itu juga yang membuat hatinya merasa tertarik. Tak menyangka wanita itu kini sudah menjadi seorang ibu, ibu dari anak-anaknya.

__ADS_1


"Sama-sama. Sudah seharusnya saya menolong." Ucap Satya lalu arah pandangnya beralih pada Kaili yang juga tengah menatapnya.


Bocah lelaki itu putranya, mata Satya mulai berkaca-kaca memandang Kaili yang sudah disadarinya memang mirip dengannya. Segera dialihkan kembali tatapannya ke arah lain dan pergi. Tak ingin jika ada yang menyadari sikapnya saat itu.


"Nona, saya turut prihatin atas kejadian yang menimpa putri anda. Semoga putri anda segera pulih." Ucap Jordi.


"Terima kasih Tuan sudah membantu kami mengantarkan ke rumah sakit." Ucap Belva.


"Sama-sama Nona. Saya permisi." Pamit Jordi.


"Silahkan Tuan." Ucap Belva.


Belva menatap kepergian pria yang masih tampan diusianya itu.


"Ya Tuhan... Bagaimana semuanya bisa terjadi seperti ini." Batin Belva mendesah.


Diraupnya wajah cantik yang tampak kacau itu lalu menyenderkan tubuhnya pada sandaran kursi tunggu.


"Kak, bersabarlah. Kaila pasti baik-baik saja."


"Iya Bella. Aku juga berharap seperti itu. Tak sanggup bila anakku terjadi sesuatu."


****


Satya berhenti di depan ruangan ICU. Seorang suster yang baru saja datang dan hendak masuk ruangan tersebut dicegat oleh Satya.


"Suster !! Apa pasien yang ada di dalam bernama Alya ?" Tanya Satya.


"Iya Tuan benar. Anda keluarganya ?"


"Iya... Saya Daddy nya. Bagaimana keadaannya."


"Pasien masih belum sadar. Kami masih terus berusaha untuk menolong pasien."


"Baik suster. Lakukan yang terbaik untuknya." Ucap Satya.


Jordi hanya diam saja. Saat ini Tuannya itu pasti sedang kacau. Dan semua kekacauan ini timbul dari ulah keluarganya sendiri.


"Tuan... Bukankah sebaiknya anda mengganti baju anda dulu ?" Tanya Jordi.


Satya melihat bajunya yang sudah kotor akibat terkena darah Kaila.


"Jordi. Pastikan Kaila mendapatkan yang terbaik. Saya masih merasa canggung berhadapan dengan Belva."


"Baik Tuan akan saya urus nanti. Tapi secepatnya masalah ini harus segera diluruskan Tuan."


"Saya tahu Jordi, tapi saat ini waktunya kurang tepat. Kaila dan Alya sama-sama sedang dalam keadaan darurat."


"Ya Tuan anda benar, kita harus menunggu waktu yang tepat." Ujar Jordi.


"Waktu yang tepat untuk melihat apa yang sedang terjadi selama ini." Jordi meneruskan kalimatnya tapi tentu saja hanya dalam hatinya.


Pria yang telah lama mengabdi pada Satya itu memang lebih memilih diam selama ini. Sejujurnya dalam diamnya Jordi mengamati kejanggalan dalam rumah tangga Tuannya.


Dengan mencari seluruh bukti-bukti kongkrit dan juga membiarkan Satya mengetahui dengan sendirinya akan membuat Satya bisa berpikir untuk mengambil keputusan yang tepat. Karena Jordi tahu, sekali Satya mengambil keputusan maka tidak akan bisa diganggu gugat.


Pintu ruangan terbuka dengan dokter yang keluar dari ruangan ICU. Kejadian yang sama seperti yang tadi dilihat oleh Satya.


"Dokter... bagaimana keadaan Alya ?" Tanya Satya.


"Meski tak terlalu parah tapi akibat terlalu lama dibawa ke rumah sakit maka pasien kekurangan darah."


"Saya habis mendonorkan darah. Apa masih bisa untuk mendonorkan darah kembali ?" Tanya Satya.


"Maaf Tuan jika seperti itu tidak bisa karena anda masih harus beristirahat. Kami tidak ingin terjadi sesuatu pada anda nanti."


"Tapi saya masih merasa kuat untuk mendonorkan darah untuk putri saya." Satya masih terus berusaha memaksa dokter tersebut.


"Tapi Tuan maaf tidak bisa." Ucap dokter.


"Tuan Satya... Dokter tahu yang terbaik untuk anda. Jadi, mengertilah Tuan." Ucap Jordi.


"Jordi, Alya juga kekurangan darah." Ucap Satya.


"Ya itu benar. Tapi apakah golongan darah anda dan Nona Alya sama ?" Tanya Jordi.


Pertanyaan Jordi menghentikan Satya sejenak. Dia tak tahu apakah sama dengan Alya atau tidak. Jika tak sama maka sudah pasti golongan darah Alya sama dengan Sonia. Jordi, mengangkat satu alisnya menunggu jawaban dari Satya. Satya menggelengkan kepala pada Jordi sebagai jawabannya.


"Baiklah. Dokter untuk menenangkan Tuan Satya lebih baik anda memeriksa saja beliau. Beliau akan lebih percaya pada bukti nyata yang benar-benar dilihatnya. Agar perkerjaan anda juga tak terganggu." Ucap Jordi.


"Baiklah. Mari Tuan ikut saya." Ucap dokter.


Sebenarnya tak perlu mengecek karena dokter bisa mengatakan apa golongan darah pasien dan si pendonor. Tapi mendengar penjelasan Jordi membuat sang dokter lebih memilih untuk memeriksanya saja agar tak perlu berdebat.


****


Alya terbaring lemah tak berdaya di rumah sakit atas ulahnya sendiri. Hal itu dilakukan gadis itu karena rasa khawatirnya dan juga rasa bencinya pada Belva. Jika dirinya bisa melenyapkan anak-anak Belva maka dua keuntungan yang akan ia dapatkan. Gadis itu akan merasa puas karena bisa melihat Belva terpuruk dan juga Satya yang tak akan tahu kejadian yang pernah terjadi lima tahun yang lalu hingga Satya memiliki anak dari Belva.


Dan mengenai perceraian kedua orang tuanya. Alya juga menyimpulkan jika hal itu dipicu oleh Belva yang mencoba mendekati Satya untuk meminta pertanggung jawaban dari Daddy nya. Pikiran yang picik dan juga licik, Alya seorang yang egois tak bisa memikirkan bagaimana keadaan dan perasaan orang lain.


Tak perlu Belva meminta pertanggung jawaban atas kedua anaknya pada Satya. Kejahatan yang menimbulkan kepahitan dan luka pada diri wanita itu yang diberikan oleh Alya dan juga Sonia sudah cukup menjadi pelajaran bagi hidupnya. Memilih menjauh demi mempertahankan separuh hidupnya.


Tapi Alya dan Sonia seakan tak pernah puas jika Belva tidak benar-benar lenyap dari dunia ini. Maka wanita itu akan menjadi ancaman yang akan mengganggu kesenangan dan kedamaian hidup mereka.


Rencana Alya memang sama persis seperti apa yang selalu ibunya katakan yaitu bodoh. Tak memikirkan dampak dari rencana yang selalu menimbulkan masalah baru.


Atas rencana bodoh Alya kali ini, Sonia belum mengetahuinya. Bahkan kabar kecelakaan yang menimpa gadis itupun belum sampai pada telinga Sonia. Wanita cantik dan seksi dari hasil rekayasa ilmu kedokteran itu saat ini sedang bersama sang kekasih.


"Bagaimanapun bisa Satya tahu tentang hubungan kita ? Kamu belum menceritakannya pada ku." Tanya Faris.


"Aku tak tahu tapi sepertinya pria itu menyelidiki kita sedari lama. Banyak bukti yang dia berikan padaku atas hubungan kita."


"Dan dia menceraikan mu saat ini."


"Lalu bagaimana nasib perusahaan ku Sonia pasti mantan suami mu itu tidak akan tinggal diam karena dia tahu ada dana yang masuk untuk ku dari kamu." Imbuh Faris. Pria itu sudah cemas dan khawatir.


"Lalu harus bagaimana ? Ini semua sudah terjadi mas. Kita hanya bisa berusaha untuk bergerak cepat menyelamatkan aset-aset yang kamu miliki." Ucap Sonia.


"Yaa kamu benar. Kita harus gerak cepat." Ucap Faris.


Setelah diusir oleh Satya dari rumah besarnya. Sonia saat ini tinggal di apartemen milik Faris. Hampir setiap hari Faris menemani Sonia di tempat itu. Mereka hidup bersama seperti pasangan suami-istri pada umumnya tanpa ikatan pernikahan. Kumpul kebo adalah istilah yang tepat untuk mereka berdua saat ini.


Cinta memang membuat seseorang menjadi orang yang bodoh karena terlalu diperbudak oleh cinta. Diantara Sonia dan juga Faris selain atas nama cinta yang mereka gunakan untuk tinggal bersama tapi tak dipungkiri ada napsu yang juga hadir bersamaan dengan cinta. Mereka dua orang yang telah dewasa secara fisik dan juga pikiran.


Faris pria itu tentu tak akan menyia-nyiakan kesempatan kala bersama dengan Sonia. Kapan lagi mendapatkan kesenangan secara cuma-cuma atas dasar cinta tapi sebenarnya napsu pun turut bermain dalam perasaan mereka.


"Sayang, aku sudah bercerai bukankah ini juga bagus untuk hubungan kita." Ucap Sonia.


"Maksud kamu bagaimana sayang ?"


"Kita menikah mas."


"Sayang, kamu baru saja bercerai. Apa kata orang belum lama bercerai sudah menikah lagi. Setidaknya tunggu sampai waktu yang tepat." Ucap Faris.


"Huftt... Baiklah. Terserah kamu saja." Ucap Sonia yang wajahnya sudah mulai tak menyenangkan.


"Jangan marah sayang. Tanpa kita menikah pun kita bisa bersama bukan ?"


"Tapi akan lebih baik kita berdua menikah mas. Kamu sudah tak mencintai ku ?" Tanya Sonia.


"Jika aku tak mencintai mu, tak mungkin kita tinggal bersama seperti ini sayang. Bahkan sekarang aku lebih memilih tinggal disini bersama mu." Ucap Faris.


"Benar juga sih. Mas Faris sekarang lebih memilih tinggal disini bersama ku. Sudahlah tunggu waktu yang tepat saja dulu seperti kata mas Faris." Batin Sonia.


Faris adalah cinta pertama Sonia sebelum menikah dengan Satya karena paksaan dari kedua orang tuanya. Tak bisa menolak karena orang tua Sonia mengancamnya jika tak mau mengikuti keinginan orang tuanya maka seluruh fasilitas akan ditarik. Alasan lain dari orang tua Sonia adalah selain karena hubungan pertemanan antar orang tua itu. Orang tua Sonia juga tak menyetujui bila anak mereka menjalin hubungan dengan Faris hingga ke jenjang yang lebih serius. Mereka berpikir jika Sonia nanti akan hidup susah saat bersama Faris yang bila dibandingkan dengan Satya sangat jauh.


****


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Terima kasih para readers ku yang masih setia membaca hingga bab ini. Mohon maaf jika masih banyak kekurangan dalam penulisannya.

__ADS_1


Terima kasih atas support teman-teman, like dan komennya terima kasih sekali. Semoga sehat selalu dan lancar rejeki. β˜ΊοΈπŸ€²πŸ˜‡


__ADS_2