Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 177. Penasaran


__ADS_3

Rencana yang sudah dibicarakan sebelumnya di rumah bersama Jordi dan Kaili kini sesuai usul sang asisten maka mereka mengkonsultasikan kepada arsitektur perusahaan Bala Corp. Jordi memanggil karyawan Bala Corp yang berada di divisi desain dan arsitektur tak lupa pria itu juga memanggil bagian perencanaan anggaran pembangunan yang akan berkoordinasi dengan sang arsitek untuk meneliti desain bangunan yang dibuat oleh Kaili, putra dari pemilik perusahaan tersebut.


Mereka berlima yang dihadiri oleh dua karyawan berbeda divisi dari Bala Corp, Jordi, Roichi dan Satya telah berada di dalam ruangan Satya. Laptop pun sudah menyala untuk menyambungkan secara daring rapat mereka bersama Tuan Hector yang berada jauh di berbeda negara.


"Selamat pagi, langsung saja kita mulai rapat pagi ini. Di sini saya sudah membawa sebuah desain bangunan yang rencananya akan kita lakukan bulan depan. Maka dari itu saya mengumpulkan kalian untuk mendiskusikan rencana pembangunan resort kedua yang akan dibangun di daerah Bandung."


Sapaan selamat pagi dari Satya direspon dengan baik oleh mereka. Mendengar akan diadakan pembangunan resort kembali untum yang kedua kalinya membuat salah satu orang karyawan Satya mengerutkan keningnya. Dia adalah karyawan dari divisi perencanaan anggaran pembangunan di perusahaan Satya.


"Maaf, Tuan bukankah kita masih memiliki proyek pembangunan di Bali yang saat ini sedang mangkrak akibat permasalahan penggelapan dana."


"Iya kamu benar, kita tinggalkan sementara proyek yang sedang bermasalah itu dan kita akan fokus pada proyek yang baru."


"Lalu untuk dananya bagaimana nanti, Tuan? Apakah kita tidak akan rugi, dana yang kemarin saja hilang dan tidak ada ganti rugi sama sekali."


"Maka dari itu saya memanggil mu ke ruangan saya untuk mengkalkulasi perkiraan dana yang akan kita gunakan dalam pembangunan proyek baru ini. Mengenai dana kita pikirkan nanti."


Meski dalam hati masih saja tidak terima karena dana perusahaan masih belum jelas di mana keberadaannya tapi tetap saja pria itu hanya sebagai karyawan dan harus mengikuti setiap perintah bos-nya.


"Baik, Tuan. Saya dan team saya akan berdiskusi untuk menghitung perkiraan dana yang bisa dihabiskan oleh proyek baru ini."


"Bagus, kamu dan team satu divisi mu akan berkerja sama dengan Andika selaku arsitektur yang paham mengenai desain yang saya bawa. Kalian saya beri waktu dalam tiga hari untuk menyelesaikan tugas kali, berikan laporan kalian pada saya secepatnya."


"Baik, Tuan." Jawab kedua karyawan Satya dengan kompak.


Saat membuka kertas gulungan itu Andika sebagai arsitek sangat kagum dan terkejut melihat gambaran desain yang Satya bawa. Manik matanya terus mengamati desain tersebut.


"Tuan, maaf dari mana anda mendapatkan desain seperti ini? Ini sangat bagus sekali dan sekilas sudah terlihat jika desain ini akan membutuhkan dana yang sangat banyak." Ucap Andika.


"Ada seseorang yang saya kenal dia juga seorang arsitek jadi saya memberikan tantangan padanya untuk membuat desain tersebut dan nyatanya dia mampu. Kamu pelajari dan diskusikan pada divisi perencanaan anggaran pembangunan."


"Baik, Tuan. Saya akan segera mempelajarinya."


"Saya rasa kita juga butuh file tiga dimensi untuk desain ini, jadi kita bisa melihat penataan beberapa furniture di dalamnya." Ujar Roichi yang sedari tadi menyimak pembicaraan dalam rapat kecil tersebut.


"Ah benar agar kita bisa lebih maksimal dalam menentukan anggarannya." Imbuh Jordi.


"Baik, tapi mohon maaf jika seperti itu akan membutuhkan waktu yang lebih lama tidak bisa dalam waktu tiga hari." Ujar Andika.


"Usahakan secepatnya." Ucap Satya.


"Baik, Tuan." Jawab Andika.


"Ah iya satu lagi, bukankah di divisi perencanaan anggaran pembangunan merekrut satu karyawan untuk menggantikan karyawan yang terlibat kasus penggelapan dana bukan?" Satya berpura-pura tak paham dengan jelas mengenai perekrutan karyawan baru.


"Benar, Tuan. Dia akan masuk dan mulai bekerja pada Senin depan." Ucap Wahyu, karyawan perencanaan anggaran pembangunan.


"Oke libatkan dia, ini adalah pekerjaan pertama baginya." Putus Satya dengan tegas.


"Baik, Tuan." Jawab Wahyu.


"Saya rasa pertemuan kita sudah cukup, apakah ada pertanyaan sebelum kalian kembali ke ruangan kalian masing-masing?" Tanya Satya.


"Untuk sementara cukup." Jawab Wahyu.


"Baik, pertemuan kita kita akhiri dan kembalilah bekerja."


Wahyu dan Andika mengangguk, mereka berpamitan pada Satya, Jordi dan juga Roichi yang status jabatan lebih tinggi dari mereka berdua.


Kini di ruangan Satya hanya tinggal mereka bertiga saja. Tuan Hector yang berada di balik layar laptop hanya diam memperhatikan para anak muda mendiskusikan rencana sang menantu. Tuan Hector akan memberikan masukkan dan arahan secara langsung pada ketiga pria itu saja jika memang diperlukan.


"Apakah dengan rencana ini kita pasti berhasil menjebak dalang penggelapan dana?" Tanya Roichi.

__ADS_1


"Harusnya berhasil selama tidak ada yang membocorkan rencana ini." Jawab Satya secara logika. Jordi dan Roichi mengangguk.


"Siapa saja yang mengetahui rencana ini?"


"Saya, Jordi, anda dan Papa mertua. Hanya kita berempat yang mengetahui dengan jelas isi dari rencana ini."


"Oke jika begitu sebelum semuanya berjalan pastikan kita sudah menyelidiki secara detail kaki tangannya yang dikirim untuk menjadi mata di perusahaan ini." Ujar Roichi.


"Jordi, apakah semua sudah beres? Latar belakang dan juga semua detail dari orang itu?" Tanya Satya pada Jordi.


"Sudah, Tuan. Setidaknya ini bisa menjadi pegangan kita. Kedua orang tua karyawan baru itu sudah kita ketahui dan mereka bisa menjadi senjata untuk kita jika seandainya benar karyawan baru itu melakukan tindak kejahatan atas perintah pria itu."


Satya dan Roichi mengangguk, ide yang cukup bagus dan menguntungkan untuk mereka. Jordi memang bisa diandalkan untuk menyelidiki beberapa situasi walau terkadang dengan proses yang lama tapi hasilnya selalu akurat.


"Bagaimana kamu mendapatkan informasi itu?" Tanya Roichi karena rupanya asisten Satya cukup detail.


"Tentu saja menyuruh kaki tangan yang bisa diandalkan. Latar belakang karyawan baru itu saya selidiki semuanya, mulai dari keaslian ijazah, akta lahir hingga alamat rumahnya. Saya menyuruh salah satu alumni satu angkatan dari karyawan baru itu untuk memastikan keberadaan kedua orang tua karyawan baru itu sehingga tidak menimbulkan kecurigaan." Jelas Jordi.


"Tuan Satya, di mana Anda mendapatkan asisten seperti ini? Anda beruntung sekali."


"Bukankah setiap asisten pebisnis seperti kita memang harus memiliki kemampuan yang mumpuni agar bisa kita andalkan. Kita dikelilingi oleh orang-orang yang tak pernah kita ketahui mereka baik secara tulus atau ada niat terselubung." Ujar Satya.


"Benar sekali. Oke kalau begitu saya permisi dulu kembali ke kantor." Pamit Roichi.


"Baiklah, sampai bertemu kembali." Ucap Satya.


Roichi berdiri dari duduknya dan hendak keluar dari ruangan Satya.


"Antar calon mertua mu." Ucap Satya pada Jordi.


Sang asisten hanya menatap bos-nya dengan tatapan aneh sedangkan Satya tersenyum mengejek pada Jordi. Satya berniat mendekatkan Jordi dengan asisten sekaligus mantan pengasuh kedua anaknya.


"Pelan-pelan, Nak." Satya mengingatkan pada kedua anaknya yang begitu turun dari mobil langsung berhambur lari menuju pintu utama.


Kedua bocah itu hanya tertawa ceria mendengarkan suara Daddy mereka. Satya dan Belva menggelengkan kepala melihat Duo Kay.


"Mereka terkadang memang terlalu aktif." Ujar Belva.


"Itu justru lebih bagus asalkan mereka tetap sehat. Mereka aktif dan ceria, pasti akan tambah ramai lagi nanti saat adik mereka lahir nantinya." Ucap Satya tersenyum pada istrinya. Tangan Satya merangkul pinggang Belva sekaligus sejalan mengusap lembut perut istrinya. Tak lupa kecupan sayang bahkan penuh cinta diberikan Satya pada pipi Belva membuat ibu muda itu tersenyum malu.


"Mas, jangan seperti itu. Tidak enak nanti ada yang lihat."


"Tidak apa-apa, kita sah suami istri bukan pasangan selingkuh kenapa harus memikirkan orang lain."


"Tapi di sini ada Pak Jajak dan yang lain." Ujar Belva.


"Ini rumah kita, bebas lah suka-suka kita mau melakukan apapun. Mencium seperti ini." Satya langsung mempraktekkan mengecup pipi Belva kembali.


"Mas!!" Pekik Belva sedikit mendelik dengan pipi semburat malu.


"Ini hal yang wajar, sayang. Itu tandanya suami sayang istri." Ujar Satya dengan binar mata seakan memuja kecantikan sang istri.


Belva sebagai wanita tentu saja merasa melambung tinggi terlebih suaminya sendiri yang mengucapkan hal seperti itu dihadapannya langsung dengan perlakuan yang begitu lembut dan hangat. Sangat terasa bagi Belva jika suaminya itu sangat mencintai dirinya.


"Iyaa... Terima kasih ya mas suami. Tapi jangan sembarang cium-cium di depan umum. Aku malu mas."


"Lalu maunya di mana? Di kamar? Ayo..." Goda Satya pada Belva, sontak saja Belva langsung merasa lebih malu dibandingkan sebelumnya.


"Mas apaan sih. Sudah ayo masuk."


"Ayo kan mas sudah ajak kamu tadi , yank. Kamar sudah menunggu."

__ADS_1


"Mas." Belva mencubit perut suaminya yang terasa bersekat kotak-kotak.


"Auw, Mami galak sekali. Galaknya jangan di sini di dalam saja." Bisik Satya di telinga istrinya.


Belva semakin merasa malu sedari tadi Satya menggoda dirinya. Wanita beranak kembar langsung berjalan meninggalkan Satya lebih cepat bahkan sedikit berlari karena merasa kesal suaminya membuat dirinya malu.


"Yank, pelan-pelan jalannya. Nanti kamu jatuh." Teriak Satya khawatir.


Kegiatan bersih-bersih sudah mereka lakukan. Sedikit drama menggoda dari Satya masih diteruskan saat berada di kamar. Pria itu memeluk dan men*cium sang istri berkali-kali. Rasa sayang, gemas dan juga hasr*at alamiah sebagai laki-laki timbul bercampur aduk menjadi satu. Bisikan rindu yang Satya berikan mampu sedikit membuai Belva. Adegan romantis ala pasangan sah pun terjadi di dalam kamar mewah berukuran luas tersebut.


Kini Satya dan Belva berada di kamar Duo Kay, keduanya ingin menemani anak kembar mereka meluangkan waktu untuk berkumpul bersama. Satya mendampingi Kaili sedangkan Belva mendampingi Kaila. Bukan tanpa alasan tapi karena memang mereka memiliki topik pembicaraan masing-masing. Belva membicarakan desain gaun bersama Kaila, Satya membahas desain bangunan yang saat ini direncanakan akan dibangun.


"Boy, tahukah kamu. Desain karya tanganmu mendapatkan pujian dari karyawan Daddy yang menjadi arsitek di kantor Daddy loh."


"Oh ya? Tapi gambarku memang bagus. Kaila tidak bisa gambar seperti ini." Ucap Kaili dengan percaya diri akan gambar desainnya.


"Biarin tapi aku bisa gambar gaun seperti Mami. Wleekk." Ucap Kaila, gadis kecil itu menjulurkan lidah karena sedikit kesal pada kakak kembarnya.


Satya gemas lalu mengacak rambut putranya dengan senyum mengembang di bibirnya. Tak masalah jika putranya terlalu percaya diri karena pada kenyataannya memang seperti itu. Bangga tentu saja Satya selalu bangga jika putra maupun putri nya mendapatkan pujian atas prestasi yang mereka miliki.


Kedua anak Satya dan Belva memang memiliki kualitas yang tinggi sebagai seorang bocah yang sedang berkembang. Menjadi sebuah tugas yang cukup berat bagi Satya dan Belva dalam membimbing kedua bocah itu atau bahkan anak-anak mereka selanjutnya. Sebab potensi yang dimiliki Kaila dan Kaili harus benar-benar diarahkan dengan baik dan tepat agar potensi itu tak hilang begitu saja atau justru merugikan orang lain.


"Sayang, bangga dengan apa yang kita lakukan itu boleh tapi jangan menjadi sombong dan merendahkan kemampuan orang lain ya, Nak. Kasihan nanti teman-teman kalian bisa menjadi sedih." Belva memberikan pengertian dan mengingat pada kedua anaknya.


"Benar kata Mami, jika kita memiliki sesuatu yang lebih tidak boleh sombong. Jika percaya diri itu boleh karena kalian harus menjadi anak-anak yang percaya diri dalam segala hal." Imbuh Satya.


Dengan cara yang lembut dan penuh perhatian Satya dan Belva mencoba memberikan nasehat sedikit demi sedikit dengan cara yang sederhana agar Duo Kay mampu memahami.


"Apalagi kalian itu saudara harus saling mendukung dan menyayangi. Apalagi nanti kalian juga akan memiliki adik, Mami harap kalian bisa menjadi saudara yang saling melengkapi, menyayangi dan saling mendukung."


"Iya Mami." Ucap Duo Kay dengan kompak.


"Kalian berdua itu adalah seorang kakak saat ada adik bayi nanti. Jadi harus bisa melindungi adik-adik kalian. Tidak boleh nakal jadi bisa memberi contoh untuk adik-adik kalian nanti hemm kalian paham?" Ujar Satya.


Duo Kay mengangguk dan tersenyum, "Paham Daddy."


Waktu makan malam berlalu selesai membersihkan diri sebelum tidur sudah Duo Kay lakukan. Satya dan Belva kembali mendampingi mereka sebelum tidur. Kecupan dan ucapan selamat malam selalu kedua orang tua itu berikan untuk anak kembar mereka.


Satya dan Belva kembali ke kamar mereka, seperti biasa sebelum tidur kegiatan rutin mereka sama seperti Duo Kay bedanya Belva menambahkan kegiatan rutin memakai skincare untuk perawatan wajahnya. Semenjak menikah bersama Belva pun Satya juga semakin rutin dan rajin merawat diri dengan skincare khusus pria. Usia istrinya yang jauh lebih muda membuat Satya tak ingin terlihat jauh lebih tua. Usia boleh tua tapi semangat dan penampilan tidak boleh seperti orang yang sudah berumur dan loyo.


"Mas, aku penasaran deh kemarin Jack seperti ragu sebelum menandatangani surat perjanjian itu, memang apa isinya mas?"


Belva dan Satya sebelum tidur, mereka berbincang lebih dahulu di sofa mereka yang ada di dalam kamar. Gaun tidur berbahan satin sudah Belva kenakan dan Satya seperti biasa hanya mengenakan celana boxer miliknya.


"Tunggu sebentar mas ambilkan surat perjanjian itu nanti kamu baca sendiri."


"Em oke, aku tunggu. Tapi pakai celananya yang benar mas, sebentar aku ambilkan kaos untukmu."


"Em... Sebenarnya tidak masalah kan ini masih di dalam rumah."


Belva langsung menatap tajam pada Satya, ia tak suka dan tak rela jika suaminya keluar dengan penampilan seperti itu. Di rumah mereka banyak asisten rumah tangga yang masih berusia muda hanya Mbok Yati saja yang sudah berumur dan tidak mungkin gelap mata menggoda Satya ataupun tergoda dengan Satya. Berbeda dengan asisten rumah tangga yang lain pasti dengan senang hati menatap tubuh Satya yang banyak terekspos.


"Haha iya.. iya itu tidak akan terjadi, sayang." Ucap Satya gemas dengan tatapan sang istri.


****


To Be Continue...


Hai my dear para readers ku tersayang


Thanks banget buat yang masih setia support author. Terima kasih Like, Komen, Kembang setaman dan Vote 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2