
Seseorang yang menggunakan jaket Hoodie berwarna hitam berbadan tinggi tergolong atletis itu berdiri membelakangi Satya dan Belva. Dalam satu ruangan baby As dirawat bersama beberapa bayi yang lain. Jadi perkiraan Satya itu salah satu orang tua dari bayi yang masih dirawat satu ruangan dengan baby As.
Satya dan Belva semakin mendekat, ternyata mendengar langkah kaki seseorang yang mendekat, pria tersebut menoleh ke belakang dan segera dia melangkahkan kaki meninggalkan tempat itu saat melihat Satya dan Belva.
Pria tersebut sempat bersitatap secara sekilas bersama Satya dan sempat menatap seorang wanita yang ada di samping Satya tapi tak nampak dengan jelas baginya karena Belva menggunakan masker.
'Siapa pria itu? Aku seperti pernah melihatnya. Mungkin memang benar itu salah satu orang tua bayi yang ada di dalam.' Batin Satya.
Sepasang semua istri tersebut semakin mendekat ke arah ruangan baby As. Belva merasa bersemangat untuk bertemu dengan bayi yang kini sudah sah menjadi bayinya. Kelembutan hati yang Belva miliki tak pernah tega membiarkan seorang bayi mendapatkan penolakan dari keluarganya sendiri. Ia lebih memilih mengambil alih bayi Alya demi kebaikan bayi itu sendiri agar tidak terlantar terlebih bayi itu harus mendapatkan perawatan khusus.
Seperti biasa saat masuk mereka harus mengenakan pakaian khusus demi keamanan para bayi yang ada di dalam. Satya dan Belva terus memandangi bayi itu tanpa henti. Badan kecil mungil yang masih merah itu terpejam dengan beberapa bantuan alat medis melekat di tubuhnya.
"Hai baby As... Ini Mami, sayang. Mami menjengukmu bersama Daddy." Ucap Belva sedikit lirih berbisik tapi tetap masih terdengar oleh Satya.
Pria matang itu tersenyum tipis saat istrinya menyapa bayi mungil itu. Terlihat sangat jelas bahwa istrinya benar-benar tulus dan memiliki hati yang lembut dan penyayang.
"Mas, masih lamakah perkembangan baby As? Sudah lama dia berada di sini. Sudah hampir satu bulan lebih."
"Kita akan segera mengurusnya dan membawanya pulang. Jika harus mendapatkan perawatan, kita akan merawatnya di rumah saja, sayang."
Belva mengangguk, mendengar setiap penjelasan Noella bahwa bayi Alya memiliki perkembangan yang bagus seharusnya bayi itu sudah bisa kembali pulang. Belva sangat berharap itu terjadi agar baby As tak harus terus menerus berada di tempat yang penuh dengan bau obat-obatan seperti ini.
"Cepatlah sehat berkembang dengan baik, boy. Mamimu tak sabar untuk membawamu pulang ke rumah." Ucap Satya pada baby As.
Belva langsung memeluk manja lengan suaminya yang kekar itu. Satya menoleh pada istrinya dan tersenyum manis mengusap kepala istrinya dengan sayang. Mereka kembali menatap baby As dengan tatapan lembut dan penuh kasih sayang.
Suster yang mendapatkan tugas di ruangan tersebut mulai hafal pada pasangan suami istri yang beberapa kali menjenguk baby As. Selama ini hanya Noella lah yang paling rajin menjenguk baby As tapi sudah mulai tak pernah terlihat kembali sosok Noella di rumah sakit tersebut. Noella bahkan pernah berpesan pada suster tersebut untuk menjaga baby As jika dirinya tak sempat menjenguk bayi mungil tersebut dan mengatakan bahwa akan ada orang lain yang akan lebih sering menjenguk baby As.
"Tuan... Nyonya... Apakah anda pengganti Nona Noella?" Tanya suster tersebut yang mendekat pada Satya dan Belva.
Keduanya sontak menoleh pada suster tersebut dan mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan tersebut.
"Nona Noella sebelumnya pernah mengatakan pada saya bahwa akan akan yang menggantikan dirinya menjenguk bayi ini. Dia juga menunjukkan wajah kalian pada saya."
"Benarkah? Apa Nona Noella sudah tak pernah datang lagi?" Tanya Belva.
"Sejak beberapa hari yang lalu mungkin satu atau dua minggu yang lalu terakhir Nona Noella menjenguk ke sini. Sebelum pulang dua meberikan pesan untuk menjaga bayi ini selama dirinya tidak datang dan tidak ada yang menjenguk bayi ini."
Belva berpikir mungkin semua ada hubungannya dengan perjanjian yang telah mereka sepakati. Sejujurnya Belva merasa sedikit bersalah jika harus membuat Noella tak bisa lagi menjenguk baby As tapi mau bagaimana lagi Satya pasti tidak akan mengijinkannya.
"Tapi beberapa hari terakhir bahkan di hari-hari terakhir Nona Noella menjenguk bayi ini ada seseorang yang sering memperhatikan ke arah ruangan ini lebih tepatnya mengarah pada letak box bayi ini. Saat saya memperhatikan atau sempat ingin menghampiri orang tersebut langsung pergi. Kami langsung memberitahukan pada pihak keamanan agar lebih ketat mengawasi setiap ruangan." Ujar suster itu kembali.
Belva dan Satya langsung terfokus pada cerita suster tersebut dan memutar kembali ingatan beberapa menit yang lalu mereka milhat seseorang yang sebenarnya cukup membuat mereka penasaran.
"Apa anda mengetahui ciri-ciri orang tersebut?" Tanya Satya.
"Dia berambut gondrong dan wajahnya cukup menyeramkan dengan wajah dipenuhi brewok. Badannya cukup besar terlihat dengan perut yang sedikit membuncit dan tidak terlalu tinggi." Jawab suster tersebut.
'Beda orang tadi berbadan tinggi dan gagah, mungkin benar orang tadi hanya salah satu orang tua bayi yang ada di sini. Tapi siapa pria yang di maksud oleh suster ini.' Batin Satya bertanya-tanya.
"Apa suster juga melihat seorang pria berbadan tinggi tegap datang ke mari?" Tanya Belva yang penasaran dengan pria yang tadi sempat dilihatnya.
"Tidak, Nyonya. Selama ini hanya ada pria itu saja tapi kami sudah berusaha untuk tetap menjaga keamanan di sini. Kalian tidak perlu khawatir."
Belva dan Satya mengangguk, meski dalam hati mereka merasa sedikit was-was atas informasi yang suster berikan pada mereka. Suster itu juga menyampaikan jika sebenarnya perkembangan baby As cukup bagus dan terus memiliki perkembangan yang stabil. Kedua orang tua angkat baby As merasa lega mendengar hal tersebut. Mereka yakin jika dalam waktu dekat mereka bisa membawa bayi mungil itu kembali ke rumah.
Setelah beberapa menit mereka berbincang mengenai perkembangan baby As, Satya dan Belva memutuskan untuk kembali pulang ke rumah. Duo Kay mereka titipkan bersama budhe Rohimah sebelum pulang tentu saja mereka akan menjemput kedua anak kembar itu.
Setia dan penuh kasih sayang Satya merangkul pinggang istrinya saat berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Perbincangan kecil dan santai keduanya lakukan untuk mengisi perjalanan mereka hingga ke tempat parkir.
Seperti biasa Satya selalu membukakan pintu mobil untuk istrinya dan melindungi kepala sang istri demi mengantisipasi terjadinya benturan di bagian kepala dengan atap mobil. Memastikan istrinya sudah duduk dengan nyaman Satya berjalan memutari depan mobilnya dan masuk ke dalam mobil. Satya sendiri yang menyetir mobilnya karena berkunjung ke rumah sakit adalah idenya sendiri.
Mobil mulai berjalan meninggalkan rumah sakit. Tanpa mereka sadari sejak mereka berdua keluar dari rumah sakit dan berjalan menuju parkiran mobil, sepasang mata mengamati mereka dari dalam mobil. Seseorang yang sama saat Satya dan Belva mengunjungi ruangan khusus bayi.
"Wanita itu siapa? Apakah itu istrinya? Setelah bercerita dengan Sonia dia memiliki wanita lagi. Cih luar biasa pria itu." Ucap sinis pria berjaket hitam itu.
Saat mobil Satya mulai bergerak meninggalkan rumah sakit pria itu berniat untuk mengikuti mobil Satya. Berkendara dengan cukup berjarak pria itu terus mengikuti mobil Satya. Hingga sebuah dering ponsel mengalihkan fokusnya, panggilan terkait pekerjaannya membuat pria itu mau tak mau harus dengan kesal mengurungkan niatnya mengikuti mobil Satya. Tepat di persimpangan jalan pria itu memutar mobilnya hingga berbeda arah dengan mobil Satya.
Di dalam mobil Satya selalu memegang erat tangan istrinya sesekali mengecup mesra penuh kasih sayang. Belva yang selalu diperlakukan seperti itu merasa bahagia hingga senyum selalu terbit dari kedua sudut bibirnya.
"Mas, perasaanku tidak enak."
"Tidak enak kenapa, sayang?" Tanya Satya menatap istrinya, ada rasa penasaran.
"Mengingat cerita suster tadi dan melihat pria tadi rasanya perasaanku menjadi tidak enak, mas. Aku khawatir pada baby As."
"Tenang saja, sayang. Kita akan segera membawa baby As pulang. Besok mas akan pastikan seluruh dokumen baby As sudah selesai dan kita bisa membereskan semuanya."
"Iya mas, entah mengapa aku merasa ada yang mengincar baby As."
"Jangan berpikiran yang macam-macam kamu sedang hamil, sayang jangan sampai itu membuat kondisimu menurun dan berdampak pada baby kita." Ucap Satya menenangkan istrinya.
Tidak ingin jika istrinya merasa terbebani dengan hal-hal yang seharusnya tidak dipikirkan oleh Belva. Meski sebenarnya dirinya juga merasa khawatir jika terjadi sesuatu pada bayi mungil itu. Satya akan berusaha untuk melindungi seluruh keluarganya.
Perlakuan Satya yang begitu lembut dan perhatian mampu mengalihkan pikiran Belva sejenak. Sebelum pulang bahkan Satya mengajak istrinya itu untuk mampir ke sebuah toko kue membeli kue kesukaan istrinya dan juga membawa oleh-oleh untuk kedua anaknya dan orang-orang rumah.
Semua mata yang memandang keberadaan Satya dan Belva tak pernah bisa melewatkan mereka. Sepasang manusia yang tampak serasi meski memiliki perbedaan yang cukup mencolok bagi mata mereka. Penampilan Satya yang terlihat sangat tampan itu tak bisa menampik jika dirinya adalah pria matang berbeda dengan Belva yang masih terlihat sangat muda.
Selesai membeli kue mereka langsung melanjutkan perjalanan menuju rumah Budhe Rohimah. Sampai di rumah minimalis itu Satya kembali turun dari mobil membantu sang istri dan menggandeng istrinya dengan sebelah tangannya membawa sekantong plastik berisi kue.
"Ibu... Kami pulang." Ucap Satya saat mereka sudah masuk ke dalam rumah.
"Pada ke mana? Kok sepi sih, mas."
Tak tampak Duo Kay yang biasanya jika mendengar suara Mami atau Daddy nya langsung menyambut dengan pekikan riang mereka.
__ADS_1
"Mungkin berada di halaman belakang. Kita ke sana saja." Saran Satya.
Mereka berjalan menuju halaman belakang, sebelumnya Satya meletakkan kantong plastik berisi bos kue tersebut di atas meja makan.
Satya yang sekarang adalah Satya yang teramat menikmati pernikahannya dan kehadiran keluarga kecilnya. Sepanjang menuju halaman belakang Satya menyempatkan mengecup kepala Belva.
Benar saja, di halaman belakang Budhe Rohimah sedang mengurus tanaman-tanamannya. Sejak tak lagi bekerja, wanita paruh baya itu mengisi kegiatan sehari-hari nya dengan berkebun ketika seluruh tugas rumah tangga sudah selesai. Aneka tanaman hias dan sayuran serta tabulampot menghiasi halaman belakang rumah miniy tersebut.
Duo Kay rupanya sibuk membantu Uti mereka berkebun. Mereka menyiram tanaman Budhe Rohimah dengan gembor berukuran kecil. Tampak asyik karena selain menyiram tanaman mereka juga asik bermain air. Budhe Rohimah sibuk menata dan membersihkan beberapa rumput yang tampak tumbuh di dalam beberapa pot tanaman miliknya.
"Hati-hati jangan saling mendorong nanti tanaman Uti bisa rusak tertimpa tubuh kalian." Ucap Budhe Rohimah mengingatkan kedua cucunya.
"Kaili ini Uti, itu pot Uti yang warna coklat disiram Kaili sampai airnya penuh."
"Tidak apa-apa biar tanaman Uti tidak kehausan kalau airnya banyak, Kaila."
"Uti kan tadi bilang tidak boleh banyak-banyak tapi kamu siramnya sampai penuh- penuh." Protes Kaila.
"Astaga, kenapa banyak sekali siram airnya kak." Budhe Rohimah melongo beberapa potnya penuh dengan kubangan air. Termasuk tanaman Sukulen yang tertanam di dalam pot-pot kecil.
Bertepatan dengan Satya dan Belva menghampiri mereka. Mendengar dan melihat reaksi Budhe Rohimah yang sedikit syok Belva dan Satya mengikuti arah pandang Budhe Rohimah yang terfokus pada beberapa tanaman sukulennya yang sudah banjir air di dalam pot.
"Astgas." Gumam Belva menutup mulutnya.
"Sayang, apa yang kamu lakukan?" Tanya Belva pada Kaili.
Budhe Rohimah menoleh sesaat pada Belva, sedikit mengabaikan keponakan dan mantan majikannya itu datang. Ingin sekali rasanya menangis melihat tanaman kesayangannya terancam tamat riwayat hidupnya.
"Menyiram tanaman bantu Uti bersama Kaila." Jawab Kaili dengan santai dan tersenyum pada Maminya.
Satya hanya mengamati apa yang terjadi saja, sebagai seorang pria yang jarang sekali bersentuhan dengan yang namanya berkebun Satya belum bisa merespon apa yang tengah terjadi. Yang dilihatnya saat ini adalah ibunya dan sang istri yang terlihat sedikit terkejut atas kejadian kecil itu menurut Satya.
"Kenapa kalian bereaksi seakan terjadi masalah besar?" Tanya Satya.
"Tanaman kesayanganku." Ucap Budhe Rohimah meratapi nasib sukulennya dikemudian hari.
Wanita paruh baya itu menjaga dengan sebaik-baiknya agar semua tanaman-tanamannya bertumbuh dengan subur dan benar. Termasuk tanaman sikulen yang dirawatnya dengan hati-hati sekali. Ia sudah mengingatkan kedu cucunya agar todak menyiram terlalu berlebihan pada tanaman-tanaman itu. Entah tak mendengar atau memang bocah lelaki itu memiliki pemikiran sendiri hingga mengabaikan ucapan Budhe Rohimah.
Ucapan Satya belum ada yang merespon sama sekali. Budhe Rohimah masih fokus dengan tanamannya, ia mendekati beberapa pot yang banjir dengan air itu dan membuang air yangasih tergenang.
"Uti, kenapa dibuang airnya kan sudah Kaili siram biar tanaman Uti subur." Ujar Kaili melihat hasil usahanya dikacaukan oleh Utinya.
"Sayang, letakkan gembor kalian. Sini cuci tangan dan kakinya." Ajak Belva.
Belva merasa bersalah pada Budhe Rohimah karena ulah putranya. Ia tahu jika pot-pot berukuran kecil itu adalah tanaman kesayangan Budhenya.
"Aku belum selesai bantu Uti, Mi." Ucap Kaila kali ini.
"Iya, itu pot yang disiram Kaila masih kosong. Setelah Kaila menyiramnya habis itu aku yang menyiramnya lagi." Ujar Kaili.
"No, cukup. Ini sudah sore kalian harus mandi. Setelah itu kita kembali pulang." Ucap Belva dengan tegas.
"Sayang, ayo menurut pada Mami besok lagi kalian membantu Uti." Satya ikut membujuk kedua anaknya.
"Budhe, maaf ya." Ucap Belva sebelum pergi membawa kedua anaknya untuk mandi. Raut sedih dan rasa bersalah terlihat di wajah Belva.
Budhe Rohimah hanya mengangguk pasrah dan berharap jika tanamannya akan tetap aman sentosa. Selesai menguras kembali beberapa pot miliknya Budhe Rohimah langsung mengikuti Belva dan juga Satya.
"Sayang, mengapa kamu menyiram tanaman Uti seperti itu?" Tanya Belva saat mencuci kaki Kaili.
"Itu biar tanaman Uti tidak kehausan dan layu karena kekeringan. Kalau kita siram banyak-banyak besok Uti tidak perlu lagi menyiram tanaman. Uti bisa istirahat saja di dalam rumah." Jawab Kaili.
Jawaban Kaili membuat Budhe Rohimah kembali melongo. Ingin menangis rasanya berlebihan, ingin marah tapi ia tak tega pada kedua cucunya karena mereka masih kecil. Akhirnya Budhe Rohimah hanya tertawa kecil dengan jawaban Kaili.
Pantas saja cucu lelaki nya itu lebih sering bolak-balik mengambil air dari keran karena rupanya satu gambor Kaili gunakan untuk menyiram satu pot besar dan untun pot kecil ia gunakan tiga kali menyiram.
Hanya gelengan kepala yang juga bisa Budhe Rohimah lakukan dengan tingkah cucunya.
"Oalah leee... Leee... Cah bagus, pantas kamu rajin bolak-balik ambil air. Kalau menyiram sebanyak itu bukannya subur tapi tanaman Uti akan banyak yang mati karena busuk akarnya."
"Tadi aku sudah bilang jangan siram lagi tapi Kaili tidak mau dengar. Nanti kalau tanaman Uti banyak yang mati kita tidak bisa lagi bantu Uti." Ucap Kaila menanggapi ucapan Budhe Rohimah.
"Kenapa bisa mati kan tidak kehausan dan tidak kekeringan." Tanya Kaili dengan polosnya.
"Iya karena terlalu banyak air dan tanah akan menjadi lebih lembab. Apalagi tanaman sukulennya Uti. Tanaman itu tidak bisa kena air terlalu banyak dan terlalu sering dia akan cepat membusuk." Jelas Budhe Rohimah.
Duo Kay mendengarkan penjelasan Budhe Rohimah demikian juga dengan Satya yang baru tahu jika ada tanaman milik ibunya yang tidak bisa mendapatkan air terlalu banyak.
"Terus bagaimana dong? Kaili sudha terlanjur menyiram air yang banyak." Tanya Kaili.
Budhe Rohimah menghendikan bahunya, "Semoga saja tanaman Uti baik-baik saja, besok Uti akan pindahkan pot dan mengganti dengan tanah yang baru."
**
Hari berganti selesai dengan pekerjaannya seorang perempuan sudah menunggu di sebuah kamar apartemen yang mewah. Sesuai dengan perjanjian kerja fasilitas itu ia dapatkan dengan ganti ia harus bekerja semaksimal mungkin.
"Hah, cukup melelahkan lebih baik aku mandi dulu." Gumamnya.
Di dalam kamar mandi dengan tubuh yang hampir polos itu, ia tak kunjung mandi melainkan memikirkan seorang pria yang hari ini ia temui secara langsung.
"Tampan dan menggoda. Aku suka dengan pria seperti itu." Ucapnya sembari mengingat kembali wajah tampan seseorang yang mampu menarik perhatiannya.
Kedua sudut bibirnya tersenyum bahagia kala mengingat wajah tampan itu. Bahkan saat ia memulai aktivitas untuk membersihkan tubuhnya pun bayangan pria itu masih saja melayang dalam pikirannya. Di tengah kegiatannya saat ini justru pikiran kotor mulai menyerangnya. Membayangkan jika kegiatannya saat ini ditemani dengan pria tampan itu.
Selesai membersihkan tubuhnya, wanita itu menggunakan handuk yang tak terlalu besar mwnutipy bagian tubuhnya. Ia keluar dari kamar mandi dan terkejut bukan main saat seorang pria yang beberapa hari lalu ia temui. Wajahnya cukup tampan dengan tubuh atletis sorot mata yang selalu menggoda menatap dirinya penuh minat.
__ADS_1
"T-tuan... Kapan anda datang?"
"Baru saja. Selesai mandi?"
Wanita itu mengangguk ragu, tangan kanannya memegang ujung handung yang terselip di sela-sela belah*an da*danya.
"*****i." Ucap pria itu mendekati wanita yang menggoda imannya.
Wanita itu berjalan mundur mencoba menjauh dari pria yang ada dihadapannya yang terus melangkahkan kaki mendekat ke arahnya.
"T-tu-tuan... An-anda mau apa?" Wajah wanita itu tampak khawatir dan mulai pucat.
"Haruskah bertanya? Bukankah selama ini kamu menginginkan ku?" Tanya pria itu.
Wanita itu menggelengkan kepalanya, mencoba menutupi fakta bahwa dirinya saat pertama bertemu pria itu memang merasa tertarik.
Senyum tipis terlihat dari bibir pria itu. "Oh ayolah jangan munafik. Jika kamu menginginkanku, aku tidak akan menolak memberikan apa yang kamu mau."
'Benarkah? Semudah itu?' Batin wanita itu.
"A-apa maksud, Tuan?"
"Apartemen ini memang fasilitas untukmu karena kamu bekerja padaku. Tapi semua akan bertambah sesuai keinginan mu asalkan apa yang kamu inginkan bersedia aku turuti tapi tidak gratis."
Wanita itu mengerutkan keningnya, pria itu sepakat bermain-main dengan dirinya. Lagi-lagi senyum tipis bertengger pada bibir pria itu.
Hap...
Pinggang wanita cantik dan seksi itu telah berhasil diraih oleh tangan kekar itu membuat si wanita tersentak kaget dengan degup jantung yang memompa lebih cepat.
"T-tuan..."
"Hem?? Katakan baby... Apa kamu masih belum mengerti? Apa harus kujelaskan."
Pria itu tak langsung menjelaskan tapi justru melahap bib*ir wanita itu dan sedikit melu*matnya.
"Saat pertama aku melihatmu, aku menyukai cara kerjamu. Jadilah partner kerjaku dengan baik termasuk partner di atas ra*njang." Bisik pria itu pada telinga wanita cantik dan seksi yang baru saja dirasai bagaimana manisnya bib*Ir seksi itu.
"Ta-tapi Tuan... Saya... Saya..."
"Apapun akan kuberiakan padamu, asalkan kamu mampu menyenangkanku saat aku membutuhkannya."
Wanita itu berpikir sejenak, apartemen dapat ia rasakan dengan fasilitas mewah karena kontrak kerja yang sudah mereka lakukan. Dirinya akan mendapatkan lebih hanya dengan membuat senang hati pria yang mampu menarik perhatian saat pertama kali bertemu itu. Tanpa pikir panjang wanita itu mengangguk malu-malu.
"Kamu mau hem?" Ucap pria itu dengan sedikit berbisik, suaranya terdengar serak menahan gaira*h.
"Iya saya mau."
Pria itu kembali tersenyum, dia kembali melu*mat bibir wanita itu. Tangannya tak pernah bisa tinggal diam, seakan inilah kesempatan yang selalu ditunggu-tunggunya akhir-akhir ini. Handuk yang meli*lit tubuh wanita itu kini sudah melorot tergeletak di atas lantai yang dingin itu. Pria itu mendorong sang wanita ke atas ranjang dan menindihnya.
"Lepaskan pakaian ku, baby." Titah pria itu.
Mengangguk patuh wanita itu melepaskan pintalan benang yang melekat di tubuh atletis dan kekar yang kini sudah berada di atasnya. Sekujur tub*uh wanita itu sudah terja*mah tanpa sisa. Seakan tahu ke mana arah tujuan pria itu maka dengan suka rela wanita itu membuka akses agar pria tampan di usia matang itu lancar melakukan aksinya.
Tanpa ba-bi-bu lagi, kepala tongkat sakit itu melesat masuk tanpa halangan dan rintangan. Tidak ada pekikan rasa sakit yang ada hanyalah desah*an keramat.
'Sudah tidak tersegel, it's oke.' Gumam pria itu.
"Aaah..." De*sah wanita itu.
"Tuanhh..."
"Panggil aku Daddy... Istriku selalu memanggil ku dengan sebutan itu saat kami melakukannya."
"Ooohhh emmhhh... Daddyh..."
"Yes baby... Apa ini yang kamu inginkan?"
"Iyaahh... Lebih lagi Daddyh." Pinta wanita itu.
Sesuai keinginan wanita seksi dan menggoda di bawah Kungkungan dan kendalinya, dia menambah irama pergerakan dengan lebih cepat.
"Aahhh... Siwi..." Racau pria tersebut.
Wanita itu adalah Siwi, karyawan baru di perusahaan Bala Corp. Bayangannya selama ini untuk menikmati waktu berdua dengan pria tampan dan matang itu adalah harapannya saat pertama kali bertemu dan mendapatkan pekerjaannya di perusahaan besar itu.
Olahraga yang menguras tenaga dan mengucurkan keringat itu selesai mereka lakukan saat mereka sudah sama-sama merasakan puncak kegiatan.
"Kamu cukup membuatku senang, baby."
"Apa masih kurang? Kita bisa melakukannya lagi." Ucap Siwi yang kini bergelayut manja pada dada bidang dan kekar yang baru saja membuatnya melayang.
"Cukup, ini sudah cukup membuatku lega besok kita bisa melakukannya lagi. Kamu sudah terlalu lelah tidak akan terasa nikmat."
"Daddy terlalu bersemangat aku belum bisa mengimbanginya."
'Bagaimana tidak semangat, beberapa bulan tak mendapatkannya.' Gumam pria itu.
"Biasakan dirimu agar tidak mengecewakan. Kali ini sebagai perkenalan, lain kali persiapkan dirimu dan simpan hal ini jangan sampai bocor."
"Iya Dad, kapan pun aku siap untukmu."
"Bagus. Ingat di luar aku bos-mu tapi di ran*Jang berbeda jadi jangan tunjukkan pada siapapun, paham maksudku?"
Siwi mengangguk saja, dirinya cukup merasa diuntungkan dalam hal ini mendapat kesenangan double. Pria kekar yang tengah memeluknya itu rupanya sangat piawai dalam bermain. Siwi perlahan tertidur akibat rasa lelahnya berbeda dengan pria yang dengan gagah berani menggempur Siwi, dia beranjak dari tempat tidur membersihkan diri lalu pergi meninggalkan apartemen yang diberikannya pada Siwi dengan meninggalkan sejumlah uang di atas nakas.
__ADS_1