
Bertemu dengan wanita yang selama ini terus diselidiki oleh dirinya dengan waktu secepat ini tentu juga belum terpikirkan oleh Belva. Tapi menurutnya justru semakin cepat bertemu dengan wanita itu maka semakin baik baginya. Ia tak perlu penasaran dengan bagaimana wajah asli Siwi.
Belva menatap Siwi dari atas sampai bawah dengan tatapan santai. Menelisik bagaimana penampilan wanita yang saat ini dekat dengan suaminya secara diam-diam di belakangnya. Ibu muda itu bersikap santai meski jujur hatinya marah dan sakit dengan apa yang terjadi, ia teramat kesal dengan sang suami. Belva menatap Satya secara bergantian dengan santai tapi terlihat tajam.
Satya sudah panik luar biasa, keringat mengucur deras, pria itu bingung harus mengatakan apalagi untuk mencegah terjadinya keributan yang sebentar lagi alam pecah di tempat umum itu akibat ulahnya.
Siwi dengan percaya diri mengulurkan tangannya dihadapan Belva tanpa rasa bersalah sama sekali. Belva menatap uluran tangan tersebut.
"Sa-sayang." Panggil Satya dengan gugup tapi tidak digubris sama sekali oleh Belva.
"Oh Tante ini calon suami mas Satya?" Belva menahan senyumnya dengan melipat bibirnya ke dalam.
Siwi sedikit membulatkan matanya saat Belva memanggilnya Tante. 'Kurang ajar apa aku setua itu.' Batin Siwi kesal.
Satya memperhatikan reaksi sang istri yang terlihat santai saat Siwi memperkenalkan diri sebagai calon istrinya.
"Perkenalkan aku istri sah mas Satya." Ucap Belva tanpa menyambut uluran tangan Siwi justru tangannya ia lipat di dada sembari tersenyum manis ke arah Siwi.
"Oh ya kapan kalian akan menikah?" Tanya Belva dengan santai menatap Siwi.
Siwi melongo niat hati ingin membuat panas istri Satya tapi justru reaksinya diluar yang ia duga. Belva justru terlihat santai dan tak terlihat emosi sama sekali.
'Kenapa reaksinya biasa saja, biasanya istri-istri yang lain pasti marah-marah. Apa jangan-jangan wanita ini tidak benar-benar mencintai mas Satya? Kesempatan bagus kalau begitu, aku akan semakin membujuk mas Satya untuk segera menikah denganku dan menceraikan wanita ini.' Batin Siwi.
"Oh kamu istri sah nya? Kasihan ya mas Satya sepertinya tidak betah denganmu makanya mas Satya mau menikahi ku." Ujar Siwi.
Belva mengalihkan pandangannya pada sang suami yang sudah terlihat pucat dan berkeringat.
"Tidak betah? Karena apa? Mas coba katakan kamu tidak betah denganku?" Tanya Belva pada Satya dan Siwi.
Satya gelagapan mendapat pertanyaan seperti itu dari istrinya. Satya mengutuk semua yang diucapkan oleh Siwi. Dirinya seperti tak berkutik dengan semua yang dikatakan oleh Siwi.
"Emm bukan begitu, sayang. Jangan dengarkan dia, dia hanya sembarang berbicara saja."
"Sembarang? Bukankah kamu sendiri mas yang mengatakan bahwa kamu sudah lama tak mendapatkan kebutuhan pribadimu sebagai seorang pria dan akulah yang bisa memberikannya padamu." Ujar Siwi dengan percaya diri.
Belva langsung menatap tajam pada suaminya membuat nyali Satya menciut. Satya menggelengkan kepalanya pertanda tak menyetujui ucapan Siwi. Belva kembali beralih pada Siwi, tampaknya ibu muda itu lebih menyukai perbicangan dengan seorang wanita yang mengaku menjadi calon istri suaminya.
"Kamu memberikan apa pada suamiku? Kebutuhan mana yang Tante maksud?"
Geram sering dipanggil Tante oleh Belva akhirnya Siwi mengatakan semuanya tanpa menyaring dan memikirkan keberadaan Satya ataupun keberadaan mereka yang tengah berdiri di tempat umum.
"Kebutuhan ranjang pastinya. Bukankah kamu seorang istri? Tentu saja kamu tahu mengenai kebutuhan itu bukan." Ujar Siwi dengan nada sinis.
Belva benar-benar menahan emosinya terhadap wanita yang ada dihadapannya. Ia tak akan mengeluarkan sikap bar-bar nya untuk menghadapi wanita seperti Siwi. Selama perempuan itu tak menyentuh fisiknya maka Belva masih menjaga jarak aman. Berbeda saat menghadapi Alya dan Sonia dulu, jika Siwi sampai berani menyentuhnya seujung kuku pun maka jangan terkejut jika ibu muda itu mengeluarkannya taringnya.
"Oh yaa? Sudah berkenalan dong dengan barang antik suami saya yang seharusnya hanya menjadi milikku seorang." Ujar Belva dengan melirik sekilas pada Satya.
Kondisi seperti ini membuat Satya tak berdaya, pria itu terlalu lemah jika sudah melihat sang istri menatap tajam pada dirinya.
'Aduh ini Mami anteng-anteng begini jangan-jangan sampai di rumah baru mengamuk padaku, bagaimana ini.' Gumam Satya dalam hati. Dia sudah ketar-ketir dengan reaksi Belva nanti saat pulang di rumah.
"Sayang, kita pulang jangan dengarkan dia." Ajak Satya pada istrinya karena lama-lama dia tak tahan dengan percakapan antara istrinya dan Siwi.
"Diam kamu, mas." Ucap Belva tegas.
"Kenapa mas? Kamu takut istrimu tahu hubungan kita? Sekalian saja kita bingkar hubungan kita. Kamu sudah berjanji padaku akan menikahiku. Aku rasa di perutku sudah mengandung anakmu karena kita melakukannya tanpa pengaman." Ujar Siwi mengelus perut ratanya.
"Sayang... Sayang jangan dengarkan, mas tidak melakukan itu." Satya menolak pernyataan Siwi.
Belva menarik napas berusaha memenangkan diri dan mengendalikan diri agar tetap menjaga tangannya untuk tidak menampar wanita yang ada dihadapannya.
Belva tersenyum pada Siwi seolah tak terpengaruh pada ucapan wanita itu. Dengan sengaja Belva menyenggol barang display yang ada di dalam toko hingga terjatuh berhamburan membuat beberapa orang menatap ke arahnya dan karyawan toko mendekat.
"Ekhem... Aduh jatuh. Maaf ya ." Ujar Belva pada karyawan toko.
"Kita lanjutkan Tante... Aku heran kenapa jaman sekarang banyak wanita justru merasa bangga menjadi seorang pelakor. Padahal pelakor itu hanya sebutan halus untuk seorang pela*cur loh." Ucap Belva, ia sengaja mengeraskan suara.
"Seorang pria itu bisa diumpamakan seperti kucing meski sudah diberikan makan tapi dia tetap mau mengendus ataupun mencicip ikan asin yang ada diluar tapi ingat Tante, kucing yang sudah dipelihara dengan baik dia akan tetap pulang ke rumahnya bukan pulang ke rumah lain kecuali ada wanita seperti Tante yang menahan kucing itu agar tidak pulang ke rumahnya. Paham kan Tante?" Imbuh Belva.
Peduli amat Belva memikirkan perasaan suaminya yang disamakan dengan seekor kucing. Setidaknya ia bisa meluapkan kekesalannya pada Siwi dan juga Satya meski tidak seekstrim keinginannya mencakar wajah Siwi.
"Jika suami saya benar mencintai kamu, dia tidak akan menyembunyikan Tante tapi justru secara terang-terangan mengakui Tante sebagai calon istri. Jadi, jangan mengaku-ngaku sebagai calon istri suami saya. Tahu diri sedikit jadi wanita kalau mau cari suami carilah yang single bukan yang sudah beristri dan beranak." Ujar Belva kembali.
Mendengar ucapan Belva dan melihat istri sah pujaan hatinya tetap bersikap tenang dan santai, Siwi menjadi meradang sendiri. Dirinya disebut sebagai pelakor yang sama seperti seorang pela*cur. Memang benar kenyataannya seperti itu dirinya sudah mengetahui Satya pria beristri tapi tetap berniat merebut Satya. Niat hati ingin menghancurkan hati Belva tapi justru hatinya sendiri yang dihancurkan oleh Belva.
Tak hanya hatinya yang dihancurkan tapi juga harga dirinya. Banyak orang menyaksikan dan mendengarkan apa yang diucapkan oleh Belva. Satya diam tak mengucapkan apapun. Membela Siwi? Bunuh diri namanya jika dirinya membela Siwi, meski karyawan barunya itu begitu penting untuknya tapi pria itu tidak mau mengambil resiko terlalu fatal.
"Oh wanita itu pelakor rupanya, tapi beruntung dia wajahnya tidak dicakar habis-habisan oleh istri sah."
"Iya, kalau istri sah yang lain sudah adu jotos. Benar juga kata sih pelakor itu sama saja dengan pela*cur, kan wanita seperti itu tidak perduli pria sudah beristri atau tidak, masih muda atau sudah tua yang penting mereka senang dan hidup enak."
"Tapi kalau sampai ada perselingkuhan pasti pria nya juga salah kenapa dia mau sama pelakor. Aduh apa yang dicari oleh pria itu, pelakornya saja kalah jauh sama istri sah yang masih muda dan segar."
Masih banyak kasak-kusuk reaksi para pengunjung yang menyaksikan perkenalan singkat yang berujung dengan aksi menghancurkan harga diri seorang pelakor.
__ADS_1
"Mas, kenapa kamu diam saja? Kamu tidak membelaku?" Ucap Siwi menahan suaranya agar tak terdengar oleh para pengunjung.
"Sayang, kita pulang." Ajak Satya tanpa menggubris ucapan Siwi.
"Tunggu sebentar." Ujar Belva.
"Salam kenal Tante Siwi, sampai jumpa kembali. Aku harap nanti kita akan bertemu kembali, tapi bukan dipelaminan kamu dan suamiku karena itu tidak akan terjadi. Seorang maling tidak berhak hidup di rumah besar keluarga Balakosa tapi tahu kan tempatnya di mana?" Ujar Belva tersenyum manis bahkan sangat manis dihadapan Siwi.
Kata-kata Belva terkesan sombong dihadapan Siwi, bukan tak tahu diri dan tak berkaca pada masa lalu yang hanya orang biasa karena sudah menjadi istri Satya tapi bukankah memang itu sudah menjadi hak Belva. Ia sudah menjadi bagian dari keluarga Balakosa sebagai istri sah Satya dan sampai kapanpun ia akan mempertahankan rumah tangganya karena kedua anaknya yang akan dipertaruhkan saat rumah tangganya hancur.
Belva meninggalkan tempat itu disusul oleh Satya yang menggandeng tangan Belva. Tak menolak karena Belva masih menjaga reputasi suaminya dihadapan umum. Ia ingin menunjukkan bahwa seorang pelakorlah yang salah dan harus tahu diri, jika suaminya yang bersalah maka itu akan menjadi urusannya secara pribadi di rumah bukan di tempat umum.
Kenapa harus seperti itu? Keduanya bukankah sama-sama salah karena melakukan perselingkuhan? Beda lagi jika Siwi tidak dengan sengaja menampakkan diri dan percaya diri memperkenalkan diri sebagai calon istri Satya di depan umum. Seolah ingin menunjukkan power bahwa ia menang dari seorang Belva yang notabene sebagai istri sah. Otomatis apa yang dilakukan Siwi tadi seolah ingin mempermalukan harga diri Belva sebagai istri sah yang tak bisa menjaga suaminya agar tak tergoda dengan wanita lain.
Nyatanya Belva beruntung, Satya tak berpihak pada Siwi seperti pria diluar sana yang benar-benar niat berselingkuh dan akan lebih membela selingkuhan daripada istri sah.
Siwi mengeraskan rahangnya, ia langsung pergi dari tempat itu tanpa mengejar Satya karena dirinya sudah malu mendapatkan penghinaan dari Belva tanpa mendapatkan pembelaan dari pria pujaan hatinya.
'Keterlaluan kamu, mas. Aku sudah memberiku segalanya untuk menyenangkan hatimu tapi kenapa kamu tak membelaku saat istri siyalan mu itu menghinaku habis-habisan.' Batin Siwi berteriak kesal pada Satya.
Sampai di parkiran yang terlihat cukup sepi Belva langsung menghempaskan tangan Satya. Ia masih benaro merasa kesal setengah mati dengan suaminya itu yang sungguh keterlaluan menurutnya.
"Sayang." Panggil Satya tak terima pegangannya dihempaskan oleh sang istri.
"Tidak usah gandeng-gandeng. Jalan sendiri-sendiri masih bisa kan." Ucap Belva kesal.
Satya hanya bisa menghela napas, dirinya sudah tahu jika istrinya marah saat ini.
'Alamat ribut lagi nanti di rumah kalau begini caranya.' Batin Satya meringis meratapi permasalahan yang sudah jelas di depan matanya.
"Kita pulang atau masih mau jalan ke mana, sayang?" Tanya Satya masih berusaha mengambil hati istrinya agar melunak.
"Mas, pikir dengan keadaan seperti ini aku masih mood untuk jalan-jalan huh?! Kita jemput anak-anak."
Belva masih menunjukkan wajah masam dan tak sedap dipandang meski wajah cantiknya tetap tidak akan luntur. Satya hanya bisa menurut kali ini. Pria itu memang akan lemah dan menurut pada istri juga anak-anaknya saja saat mereka marah padanya.
Dalam perjalanan pulang tidak ada percakapan sama sekali antara Satya dan Belva. Satya sibuk menyetir sembari sesekali melirik ke arah istrinya sedangkan Belva tak perduli dengan suaminya, ia justru sibuk bermain ponsel demi menyurutkan suasana hatinya yang memburuk Belva melihat-lihat Instagram yang berisi tutorial kecantikan, ootd, memasak dan mengurus bayi karena saat ini dirinya lebih banyak mengurus baby As.
Saking sibuknya Satya dan Jordi mengurus perusahaan dan juga Siwi sampai-sampai baby sitter untuk baby As tak terurus oleh kedua pria itu.
Mereka sampai di sekolah Duo Kay, Belva langsung turun tanpa berbicara apapun pada Satya. Pria itu terus menghela napas saat mendapati sikap istrinya yang mendiamkan dirinya.
"Siyalan, Jordi harus bertanggung jawab jika terjadi apa-apa dengan rumah tanggaku. Lagipula wanita itu kenapa bisa ada di tempat tadi, jangan-jangan dia mengikutiku." Gumam Satya frustasi.
"Hallo, Tuan ada apa?" Tanya Jordi.
"Hallo, Jordi kamu tanggung jawab. Belva sudah tahu mengenai Siwi." Ujar Satya menuntut Jordi.
"Hah? Bagaimana bisa, Tuan? Lalu apa yang terjadi?"
"Sedikit ketegangan terjadi tadi. Kamu kenapa tidak memberikan pekerjaan yang banyak untuknya sampai sempat-sempatnya wanita itu mengikuti saya untuk bertemu dengan Belva." Satya merasa kesal dengan Jordi.
"Tuan, maaf jika seperti itu kejadiannya itu sudah diluar kendali saya. Apa Nyonya mengamuk pada siwi?"
"Kamu tetap harus bertanggung jawab jika sampai rumah tangga saya semakin kacau. Tadi untungnya Belva tidak mengamuk, tapi perasaan saya tidak enak nanti di rumah pasti akan kacau."
Dibalik telepon Jordi hanya bisa meringis dan menggaruk tengkuknya. Sesungguhnya Jordi merasa kasihan pada Belva tapi mendengar ucapan bos-nya saat ini diapun menjadi kasihan juga pada Satya.
"Belva sudah datang, saya matikan nanti saya hubungi lagi."
Satya langsung memutus panggilan terhadap Jordi. Belva berjalan ke arah mobil bersama Duo Kay yang digandeng sang istri tepat di samping kiri dan kanan wanita itu. Seperti biasa Satya langsung turun membukakan pintu untuk anak dan istrinya.
"Hai, Daddy." Sapa Kaili.
"Hai, boy. Bagaimana sekolah mu?"
"Baik, everything it's oke, Daddy." Jawab Kaili.
"Kalau untuk putri cantik Daddy bagaimana hari ini?"
"Baik, Daddy. Aku juga senang hari ini Daddy bisa jemput kita lagi. Kemarin-kemarin Daddy sibuk sekali." Ujar Kaila.
Satya tersenyum kecut mendengar ucapan Kaila. Entan kenapa ucapan putrinya selalu mampu menyinggung hatinya. Ia selalu merasa bersalah jika mengingat hari-hari kemarin yang terlalu sibuk di luar daripada sibuk dengan keluarga kecilnya.
"Maaf, sayang. Daddy kemarin terlalu sibuk." Ujar Satya tapi sejujurnya dirinya merasa tidak enak saat mengatakan itu di samping Belva.
Belva hanya diam tak ikut menimbrung pada percakapan ayah dan anak. Ia menyandarkan kepalanya yang terasa sedikit berdenyut karena lelah hari ini. Satya terus melirik sang istri tapi tak berani membuka suara untuk saat ini. Takut jika memancing emosi sang istri dan terjadi keributan yang akan membuat takut dan bingung kedua anaknya.
Sampai di rumah, Belva langsung turun tanpa menunggu Satya membukakan pintu untuknya. Belva membantu kedua anaknya untuk turun dari mobil.
"Sayang, kita masuk yuk, segera ganti pakai setelah itu makan lalu beristirahat." Ujar Belva.
"Oke, Mami." Jawab Duo Kay.
Meski lelah tapi Belva tetap berusaha kuat untuk mengurus kedua anak kembarnya mengganti pakaian dan juga membawa kedua anak itu ke meja makan, ia menyiapkan makanan untuk Duo Kay. Saat yang sama Satya ikut menghampiri ruang makan dengan pakaian yang sudah berganti dengan pakaian santai. Ini masih siang tapi Satya memilih tak kembali ke kantor karena inigin menyeleksi masalahnya dengan sang istri.
__ADS_1
"Makanlah, sayang. Mami ke kamar dulu ya, nanti kalau sudah selesai kalian ke kamar dengan Mbak Siti ya."
"Mbak Siti, nanti temani anak-anak ya. Aku mau ke kamar dulu, istirahat sebentar."
"Baik, Nyonya." Jawab Siti.
Belva hendak pergi meninggalkan meja makan tapi ditahan oleh Satya.
"Sayang, kamu tidak makan dulu?"
"Aku lelah, mau istirahat."
"Tapi makan dulu, Mam kasihan baby kita di dalam kalau kamu tidak makan. Kita makan sama-sama ya." Ucap Satya dengan nada lembut.
Kedua pasangan suami-istri itu tak menampakkan masalah mereka dihadapan para asisten rumah tangga terlebih di depan anak-anak mereka.
"Aku makan di kamar saja, Daddy makan saja di sini temani anak-anak."
Setelah itu Belva pergi meninggalkan meja makan begitu saja, lagi-lagi Satya mengejla napasnya. Dia menemani kedua anaknya makan siang sesuai dengan perintah sang istri.
"Daddy, tidak ke kantor lagi?" Tanya Kaili.
"Hari ini pekerjaan Daddy sudah selesai, Daddy mau menemani kalian di rumah."
Satya berbohong demi keutuhan rumah tangganya dan keharmonisan rumah tangga nya. Sebenarnya pekerja masih menunggu dirinya tapi Satya mengabaikan itu.
"Yess... Nanti temani buat PR ya?" Ujar Kaili.
"Tentu saja." Jawab Satya tersenyum.
"Daddy, kapan kita jalan-jalan lagi?" Tanya Kaila.
"Besok ya weekend kita jalan-jalan."
"Daddy, janji?" Tanya Kaila memastikan.
"Janji. Daddy akan luangkan waktu untuk kita jalan-jalan bersama."
"Apa sudah boleh ajak baby As jalan-jalan bersama kita juga?" Tanya Kaili.
"Em... Nanti kita bicarakan dengan Mami dulu, oke. Sekarang kita makan dulu."
**
Di belahan negara lain, sepasang suami istri paruh baya sedang duduk bersantai di depan televisi menyaksikan siaran berita. Siapa lagi jika bukan Tuan dan Nyonya Hector.
"Pa, Mama merindukan putri dan cucu-cucu kita."
"Papa juga merindukan mereka, meski mereka juga beberapa saat yang lalu baru saja berkunjung ke sini."
"Apa kita saja yang berkunjung ke sana ya? Mama dengar dari Bella, Satya dan Vanthe mengadopsi seorang bayi laki-laki."
"Benarkah? Kenapa Roi tidak memberitahukan hal itu padaku?"
"Mungkin Roi lupa Karena terlalu sibuk atau bisa jadi dia juga belum tahu akan berita ini."
"Tapi kenapa mengadopsi bayi? Bukankah sekarang Vanthe tengah hamil." Tanya Tuan Hector.
"Entahlah nanti kita tanyakan lebih lanjut saat kita berkunjung ke sana, coba hubungi Vanthe saja kita beritahukan jika kita akan ke Indonesia." Pinta Nyonya Hector.
"Baiklah. Papa hubungi putri kita dulu."
Sesuai dengan permintaan istrinya, Tuan Hector menghubungi Belva menyampaikan jika dalam waktu dekat ini mereka akan berkunjung ke Indonesia. Tuan Hector sangat menyayangi istrinya, Jiak dirinya masih mampu maka apapun akan dilakukannya untuk kebahagiaan sang istri.
Diusia yang tak muda lagi, meski harus menempuh jarak yang jauh pria itu akan tetap mengusahakan demi sang istri dan menemani istrinya kemanapun istrinya pergi.
**
Satya yang hendak mengantarkan makanan untuk sang istri tak sengaja mendengar percakapan Belva dengan mertuanya. Pria itu masuk dengan membawa satu nampan berisi satu piring lengkap berisi nasi dan lauk serta satu gelas air.
"Sayang, makan dulu."
"Hem... Taruh saja di situ." Ujar Belva.
Wajah Belva terkesan cuek pada Satya, sikap wanita cantik itu juga terlalu santai dan tak perduli pada suaminya yang datang membawakan makan untuknya.
"Siapa yang telpon, sayang?" Tanya Satya.
"Papa, mereka mau ke sini."
"Hah? Kapan?" Tanya Satya terkejut.
****
To Be Continue...
__ADS_1