
Seseorang kini memarkirkan mobilnya di seberang jalan demi mengawasi situasi sekitarnya. Sudah bulat tekadnya untuk melaksanakan rencananya, saat ini dirinya memilih untuk melakukan rencana itu sendiri tanpa bantuan siapapun karena dia hendak memastikan sendiri bahwa rencananya akan berhasil.
Penampilan pria itu tidaklah menyeramkan melainkan terlihat rapi dan tidak menunjukkan tanda-tanda yang mencurigakan. Dirasa cukup aman baginya, pria yang tak lain adalah Fahmi melajukan mobilnya masuk ke area sekolah.
Beruntung bagi Fahmi saat ini jam pulang sekolah, pria itu masih berada di dalam mobil. Melihat keadaan sekitar tanpa harus membuat orang-orang merasa curiga padanya. Satu wajah yang dikenalinya melalui sebuah gambar foto tertangkap oleh indera penglihatannya.
"Tepat sekali." Gumam Fahmi.
Ayah kandung almarhumah Alya itu turun menghampiri bocah kecil yang entah kenapa hanya sendirian saja. Pria itu langsung turun menghampiri bocah kecil itu.
"Hai, kamu sendirian? Mana kembaranmu?" Sapa Fahmi dengan raut wajah yang tampak begitu ramah.
Bocah kecil yang tak lain adalah Kaila itu mengerutkan keningnya karena merasa tak mengenali pria dewasa yang ada dihadapannya.
"Opa siapa?" Tanya Kaila.
'Dia memanggilku opa? Lalu bagaimana cara dia memanggil pria brengsyek itu.' Gumam Fahmi dalam hati.
"Aku? Aku karyawan Daddy mu menggantikan Daddy mu karena tidak bisa menjemputmu." Ucap Fahmi beralasan.
"Tapi Daddy tidak bilang padaku."
"Emm mendadak jadi dia tidak bisa bilang padamu. Emm ayolah ini semakin siang nanti Daddy mu marah padaku jika aku lama tidak mengantarkan mu pulang."
"Tapi aku harus mencari Kaili, dia ada di toilet."
"Oke biar aku yang mencarinya nanti, kamu tunggu di mobil saja. Oke."
Kaila yang percaya jika itu adalah orang suruhan Daddy nya, ia pun langsung percaya dan mengikuti Fahmi masuk ke dalam mobil tanpa ada yang merasa curiga sedikitpun.
**
Harap-harap cemas mereka semua menunggu pemeriksaan. Masing-masing terfokus pada pemikiran mereka sendiri. Satya semakin khawatir jika sang istri akan lebih marah padanya jika benar Siwi kini tengah hamil. Belva memikirkan apa yang harus dia lakukan setelah mengetahui jika memang Siwi hamil sedangkan Siwi berharap bahwa dirinya segera hamil anak dari pria pujaan hatinya.
Dokter Raiz selesai memeriksa Siwi menggunakan alat USG yang bisa langsung mengetahui keberadaan janin di dalam kandungan. Siwi turun dari brankar dengan wajah sumringah, apa yang diharapkannya terjadi. Sang dokter yang entah harus bersikap seperti apa karena dirinya bingung dengan status pasiennya.
"Bagaimana, dokter?" Tanya Belva.
"Nona Siwi positif mengandung, saya harap tolong jaga kandungannya baik-baik karena masih sangat rawan sekali." Ucap dokter Raiz.
Dokter cantik itu bingung harus menentukan ekspresi apa yang harus diberikan kepada tiga orang yang ada dihadapannya.
Belva langsung memandang Satya dan juga Siwi. Dua raut wajah berbeda dapat Belva tangkap dari kedua manusia yang kini tengah dipandanginya. Satya terlihat mengeraskan rahangnya, merasa emosi karena Siwi berani-beraninya melangkahi aturan yang telah dibuat olehnya sedangkan Siwi merasa sangat bahagia, harapannya mengandung anak Satya kini benar-benar terwujud dan sebentar lagi pria itu akan sepenuhnya menjadi miliknya setelah perjanjian yang dibuat olehnya dan juga Belva.
"Mas, kamu dengar aku hamil. Ini anak kamu mas." Ucap Siwi penuh kebahagiaan.
"Dan kamu calon mantan istri mas Satya, tepati janjimu untuk bercerai dengan mas Satya."
Mendengar ucapan Siwi membuat Satya terkejut bukan main.
"Sayang, apa yang kamu lakukan!" Ucap Satya penuh dengan keterkejutan.
"Tenang saja aku akan bercerai dengan suamiku jika memang anak yang kamu kandung benar-benar anak suamiku." Ujar Belva sembari mengusap perutnya yang mulai cembung.
"Sayang, apa-apaan ini. Jangan sembarangan kamu, yank. Kita tidak akan bercerai." Ujar Satya tak terima.
"Mas, kamu apa-apaan sih. Kamu harus tanggung jawab dengan bayi kita jadi tidak masalah jika kalian bercerai." Ujar Siwi.
"Diam kamu!!" Bentak Satya pada Siwi membuat ketiga perempuan yang ada di dalam ruangan tersebut tersentak kaget.
Suara Satya menunjukkan amarah yang tak bisa dibendung lagi. Dokter Raiz hanya bisa diam menyaksikan apa yang sedang terjadi karena dirinya masih bingung, Siwi syok melihat sikap yang baru dilihatnya dari Satya sedangkan Belva yang sudah pernah melihat bagaimana Satya ketika emosi pun hanya diam dan santai saja.
"Wanita murahan." Satya mengumpat lirih tapi masih bisa didengar oleh ketiga wanita itu.
Siwi tentu saja merasa kecewa, kesal, malu dan marah. Pria pujaan hatinya justru membentak dirinya disaat dirinya kini tengah hamil anak dari pria tersebut.
"Ayo kita pulang." Ajak Satya pada Belva dengan nada menahan amarah.
Pria itu berdiri dari duduknya dan menarik lengan Belva dengan lembut. Dia masih ingat jika itu adalah istrinya maka dari itu Satya berusaha sekuat hati agar tidak menyakiti istrinya lagi. Sudah cukup baginya membohongi sang istri sama saja menyakiti sang istri.
Belva yang ditarik dengan lembut oleh suaminya tak menunjukkan penolakan justru dirinya mengikuti saja ajakan dari suaminya.
"Dokter, maaf kami permisi dulu." Pamit Belva.
"Silahkan Nyonya." Ucap dokter Raiz.
Satya dan Belva meninggalkan ruangan dokter Raiz. Siwi yang merasa tidak dihiraukan oleh Satya pun akhirnya mengejar pria pujaan hatinya.
"Mas! Tunggu mas!! Kamu tidak bisa seperti ini dong."
Siwi meraih lengan Satya hingga menghentikan pria itu. Menghadapi Siwi membuat emosi Satya tak aman, pria itu berulang kali mengeraskan rahangnya menahan emosi dihadapan Belva. Satya melepaskan cekalan Siwi dengan kasar.
"Lepas!!" Ucap Satya.
"Mas, kenapa kamu jadi kasar seperti ini padaku?" Protes Siwi.
"Selesaikan masalah kalian, mas setelah itu baru kamu boleh pulang. Aku pulang dulu mau jemput anak-anak." Pamit Belva.
Daripada dirinya menahan kesal dan emosi melihat tingkah dua manusia yang ada dihadapannya terlebih tingkah Siwi yang sangat memuakkan bagi Belva.
"Heh... Mau ke mana kamu? Ini masalah kita bertiga jadi kita harus selesaikan ini bertiga, bukankah kamu berjanji akan bercerai dengan mas Satya setelah aku hamil anak mas Satya."
"Siwi!! Jaga sikapmu, kamu sedang berbicara dengan istriku!" Bentak Satya pada Siwi.
"Aku bukan orang yang tidak bisa menepati janji, aku akan melepaskan suamiku jika anak yang kamu kandung benar-benar anak suamiku." Ujar Belva lalu pergi begitu saja.
__ADS_1
Satya melihat istrinya yang berlalu begitu saja tanpa berpamitan ataupun mengajak dirinya. Satya langsung menatap tajam pada Siwi.
"Dengarkan saya baik-baik, Nona Siwi. Jika terjadi sesuatu pada istri saya karena kelakuan kamu atau terjadi sesuatu dengan keluarga atau rumah tangga saya. Lihat saja nanti apa yang akan terjadi."
Setelah memberikan peringatan pada Siwi, Satya langsung pergi meninggalkan Siwi begitu saja di rumah sakit. Wanita yang tengah hamil muda itu pun merasa kesal dan marah. Ia kecewa pria yang seharusnya bertanggung jawab pada dirinya justru pergi meninggalkan dirinya dan lebih mementingkan istri dan keluarganya saja.
"Awas kamu, mas. Ini anak kamu bukan aku yang harusnya takut tapi kamu karena sebentar lagi istrimu yang sok cantik itu akan menceraikan mu." Gumam Siwi mengepalkan tangannya dengan erat.
Sampai di depan rumah sakit Satya sudah tak melihat istrinya berada, dia mulai panik dan khawatir pada istrinya. Di dalam mobil Satya terus menghubungi istrinya tapi tak tersambung.
"Shyit!!" Umpat Satya memukul setir mobilnya.
Masih ingat saat Belva akan menjemput kedua anaknya maka dari itu Satya berniat menyusul sang istri karena dia yakin Belva saat ini sedang berada di jalan menuju sekolah Duo Kay.
Hampir saja sampai di sekolah Duo Kay, ponsel Satya bergetar nama sang istri tertera di laya ponsel.
"Hallo, sayang."
"Mas, hallo... Mas, Kaila hiks..."
"Hallo, sayang. Kamu kenapa? Kaila kenapa?" Tanya Satya panik saya mendengar suara sang istri menangis.
"Mas, Kaila hilang hiks..."
"Apa!! Hilang?! Kaila hilang?!! Sebentar mas hampir sampai di sekolah anak-anak."
Tanpa memutus panggilan telepon, Satya langsung menancapkan gasnya agar lebih cepat sampai ke sekolah Duo Kay.
Tiba di sekolah, Satya langsung turun dari mobil dan berjalan cepat ke kelas Duo Kay. Kosong tidak ada satupun murid yang ada di dalam kelas.
"Tuan, anda ayah dari si kembar?" Tanya salah satu wali murid.
"Iya, di mana anak-anak saya?" Tanya Satya berharap kabar dari sang istri tidaklah benar.
"Sebaiknya anda ke ruang guru saja. Istri anda dan anak anda Kaili ada di sana."
Satya mengangguk lalu pergi ke ruang guru, tepat di dalam ruang guru duduk di sofa sang istri tampak menangis tersedu-sedu. Satya langsung menghampiri istrinya dan memeluk sang istri.
"Ada apa? Di mana Kaila?" Tanya Satya.
"Daddy... Hiks... Kaila hilang...hiks." Kaili menangis mengadu pada Daddy nya.
"Hiks... Kita cari Kaila, Mas sekarang. Ayo hiks."
Satya mengusap wajahnya kasar, pikirannya semakin kacau saja. Masalah satu belum selesai kini ada masalah baru lagi.
"Periksa cctv." Titah Satya pada guru yang ada di ruangan tersebut.
"Kepala sekolah sedang memeriksanya, Tuan." Ujar salah satu guru.
"Kenapa bisa sampai kecolongan seperti ini lagi?!" Tanya Satya mengingat dulu pernah terjadi pada Kaila yang kabur dan berada di pinggir jalan dirinyalah yang menemukan Kaila.
Semua guru yang ada di ruangan tersebut menunduk takut. Mereka pun masih ingat dulu pernah terjadi hal serupa beruntungnya Kaila bisa ditemukan.
"Maaf, Tuan kami rasa Kaila tidak keluar dari area sekolah. Satpam tidak melihat satu anak pun keluar sendirian melalui pintu gerbang sedangkan pintu belakang pun terkunci." Salah satu guru memberikan penjelasan sesuai fakta.
Tak lama seorang guru bernama Anna datang menghampiri ruangan di mana orang tua Kaila berada.
"Bagaimana hasilnya, Miss?" Tanya salah satu guru.
"Begini Tuan dan Nyonya, kami mohon maaf sebesar-besarnya atas kelalaian kami. Mengenai kasus hilangnya Kaila setelah dilihat dari cctv yang ada di area sekolah menunjukkan adanya indikasi penculikan jika memang dari pihak keluarga tidak mengutus seseorang untuk menjemput Kaila." Jelas Miss Anna.
"Kaila diculik?" Gumam Belva. Ia lantas menatap sang suami.
"Apa kamu menyuruh seseorang untuk menjemput anak-anak, mas? Siapa yang jemput Kaila??!" Belva mulai sedikit histeris.
Satya menggelengkan kepalanya, "Tidak, sayang. Tenang kita cari Kaila. Kita pasti akan menemukannya."
"Apa ini ulah perempuan itu huh?!!" Teriak Belva dengan sorot mata penuh emosi pada Satya.
"Tenang, Mam. Daddy pasti akan menemukan putri kita." Satya mendekap erat istrinya.
Jika memang itu adalah ulah Siwi maka Satya tidak akan pernah mengampuni perbuat Siwi. Satya paling tidak menyukai jika ada seseorang yang berani mengganggu atau menyentuh keluarganya.
"Berikan rekaman cctv itu padaku." Titah Satya.
Miss Anna untung saja sudah berinisiatif lebih dahulu mengcopy rekaman tersebut dan diberikan kepada Satya. Setelah menerima rekaman cctv tersebut, Satya membujuk sang istri untuk kembali pulang ke rumah. Dengan berbagai pertimbangan terutama memikirkan bayi yang ada di kandungannya Belva pun menurut pada Satya.
"Ada apa, sayang?" Tanya Nyonya Hector setelah mereka sampai di rumah.
Kepala Satya kembali berdenyut, dia lupa jika sang mertua pun baru tiba tadi pagi di rumah mereka.
'Oh astaga... Kepalaku. Semakin runyam masalahnya jika seperti ini.' Batin Satya.
"Ma, biarkan istri Satya istirahat dulu. Nanti Satya jelaskan."
Nyonya Hector mengangguk, tak tega melihat keadaan putrinya meski dirinya penasaran dan ingin bertanya langsung tapi lebih baik ia menurut saja apa kata menantunya. Satya mengantarkan Belva ke dalam kamar.
"Sayang, istirahat dulu ya. Jangan berfikir macam-macam, Daddy akan berusaha mencari keberadaan putri kita. Daddy janji bakal menemukan Kaila secepatnya. Oke..."
"Kaila secepatnya harus ditemukan, aku tidak akan memaafkan kamu mas kalau benar-benar Kaila hilang karena wanita mura*han itu." Teriak Belva histeris di hadapan Satya.
"Oke... Oke... Tenang, sayang. Mas yakin Kaila pasti segera kita temukan. Jangan kemana-mana istirahat, biar Daddy yang mencari Kaila. Please kali ini menurut kasihan baby kita di sini."
Satya memeluk istrinya kembali untuk beberapa saat, Belva menangis di pelukan suaminya. Ia tak bisa kehilangan anak-anaknya. Susah payah Belva melindungi dan menjaga mereka, hancur hatinya jika sampai terjadi sesuatu pada Kaila.
__ADS_1
Dirasa Belva sudah tenang dan membaringkan Belva di ranjang hingga istrinya itu sedikit terlelap. Satya keluar kamar dan menghampiri mertuanya.
"Ma... Pa..."
"Satya, bagaimana keadaan putriku?" Tanya Nyonya Hector.
"Dia baik-baik saja, Ma. Mama jangan khawatir, Belva sedang istirahat tolong jangan diganggu dulu." Pinta Satya dengan sopan dan lembut pada Mama mertuanya.
"Bagaimana ini bisa terjadi, kenapa kamu bisa kecolongan seperti ini?" Tanya Tuan Hector tanpa basa-basi.
Satya sedikit menegang, dia lupa pasti Papa mertuanya sudah mengetahui hal itu sebelum dia menjelaskannya. Satya mulai ketar-ketir bila mertuanya juga mengetahui kebohongannya selama ini di belakang Belva.
"Pa, saya juga kurang tahu seharusnya pihak sekolah tidak semudah itu mengijinkan orang asing masuk ke dalam area sekolah."
"Tapi nyatanya orang itu bisa masuk dan membawa cucuku." Ujar Tuan Hector menatap tajam pada Satya.
"Saya sudah mengantongi rekaman cctv atas penculikan Kaila. Kita pasti akan segera menemukan Kaila secepatnya, Pa."
"Kamu tahu? Kaila dan Kaili adalah kehidupan dan semangat bagi putriku. Jika sampai salah satu dari mereka terjadi sesuatu Papa tidak tahu apa yang akan terjadi pada Vanthe. Seharusnya kamu bisa menjaga putri dan cucu-cucu ku dengan baik jika kamu tidak bisa menjaga mereka biarkan Papa yang menjaga mereka saja, Papa masih sanggup."
"Pa... Apa maksud Papa, saya masih sanggup menjaga mereka. Oke hilangnya Kaila juga merupakan kelalaian Satya karena tak memberikan mereka pengawalan yang ketat. Tapi Satya yakin semuanya bisa Satya atasi. Tolong percaya pada Satya, Pa."
"Ingat Satya... Semua yang kamu lakukan, Papa bisa pantau semuanya." Kembali tatapan tajam Tuan Hector berikan pada Satya.
Untuk kali ini Satya langsung mengalihkan pandangannya tak berani menatap sang mertua. Tamat sudah riwayatnya jika Papa mertuanya mengeluarkan keputusan atas istri dan anak-anaknya nanti.
"Sudah... Sudah... Ini bukan waktu yang tepat untuk kalian berdebat. Pikirkan cucuku yang sekarang tidak tahu dimana keberadaannya." Ujar Nyonya Hector menengahi pembicaraan yang mulai menegang.
"Satya buktikan jika memang kamu masih sanggup menjaga putri dan cucu Mama."
Satya mengangguk, "Satya permisi Ma... Pa..."
Satya mengulurkan tangannya pada kedua mertuanya tapi hanya Nyonya Hector saja yang bersedia menyambut uluran tangan dari Satya sedangkan Tuan Hector tampak enggan menyalami Satya. Sebuah peringatan dari Tuan Hector untuk menantunya.
Jangan berpikir bahwa pria berusia lanjut itu tak mengetahui apa yang Satya lakukan. Semua sudah terpantau oleh Tuan Hector, rumah tangga Satya tak pernah lepas dari pantauan Tuan Hector secara diam-diam karena sebagai orang tua Tuan Hector ingin memastikan kebahagiaan putrinya.
Satya langsung pergi ke apartemen Jordi menggunakan mobilnya. Dalam perjalanan pikirannya kacau, mengumpati dirinya sendiri dan juga orang-orang yang berusaha mengacaukan rumah tangganya termasuk Jordi pun tak luput dari umpatan dari Satya.
Password apartemen Jordi memang sudah diketahui boleh Satya, dia langsung masuk saat sudah sampai di apartemen Jordi. Tahu jika memang asistennya tidak ada di apartemen Satya pun langsung menghubungi Jordi untuk segera kembali ke apartemen.
"Hallo, cepat kembali ke apartemen." Titah Satya tanpa basa-basi.
"Loh? Kenapa Tuan? Ini saya sibuk mengurus Siwi yang merajuk karena sikap Tuan padanya."
"Ck... Abaikan saja wanita mura*han itu. Saya tunggu dalam lima belas menit. Cepat pulang atau kamu lebih baik urus dia saja seumur hidupmu."
Satya langsung mematikan sambungan teleponnya secara sepihak. Kini pria itu tak lagi peduli pada Siwi lagi. Rumah tangga dan keluarganya saat ini lebih penting daripada mengurus Siwi.
Dibukanya rekaman cctv yang sudah didapatkan dari pihak sekolah Kaila. Sembari menunggu kedatangan Jordi di apartemen. Diamati berulang kali dengan cermat dan fokus.
"Ini bukankah pria itu? Fahmi." Gumam Satya.
Tangan Satya mengepal kuat, saat meyakini bahwa pria yang ada di dalam rekaman cctv tersebut adalah Fahmi seseorang yang dikenalnya.
"Berani kamu menyentuh keluargaku, aku tidak akan mengampunimu, Fahmi."
Rahang Satya pun mengeras, tak lama Jordi datang dan melihat bos-nya sudah duduk di sofa ruang tamu.
"Tuan, apa yang terjadi?"
Maksud pertanyaan Jordi adalah apa yang terjadi antara Satya dan Siwi. Dia belum tahu jika Kaila saat ini lebih penting.
"Cepat kerahkan anak buah untuk mencari Kaila."
"Hah? Maksudnya bagaimana?" Tanya Jordi bingung.
"Jordi, Kaila diculik. Fahmi menculik Kaila di sekolahnya." Ujar Satya kesal pada asistennya yang lama menangkap maksudnya.
"Fahmi? Sebentar saya seperti tidak asing mendengar nama itu." Gumam Jordi.
"Ck... Kamu sekali lagi lama bergerak saya pecat kamu Jordi. Tidak asing nama itu pasaran cepat kamu hubungi anak buahmu. Sekalian kita bereskan kasus penggelapan dana itu."
"Sekarang? Yakin, Tuan?" Tanya Jordi.
"Apa masih ada yang kurang?" Tanya Satya menatap tajam Jordi.
"Tidak ada hanya saja Siwi sedang hamil apa anda sudah tahu?" Tanya Jordi.
"Bahkan perempuan brengsyek itu berdebat dengan istriku tadi pagi di rumah sakit."
"Jadi Anda sudah tahu? Nyonya juga sudah tahu?"
"Jordi, bisakah kamu laksanakan tugasmu sesuai perintah saya?"
"Ah... I-iiya baik... Baik, Tuan."
Jordi langsung menghubungi anak buahnya untuk membantu pencarian Kaila. Setelah itu mereka menyiapkan semua bukti penggelapan dana yang memang dalang dibalik semua itu adalah Fahmi seseorang yang menculik Kaila saat ini, ayah kandung dari almarhumah Alya.
****
To Be Continue...
Hai my dear para readers ku tersayang
Maafkan daku yang beberapa hari ini tidak bisa update karena masih diijinkan tepar selama tiga hari merasakan nikmatnya sakit nano-nano ππ
__ADS_1
Terima kasih buat kalian yang masih setia padaku meski alur lambat tapi tetap menghargai cerita receh aku πππ
Sabat sedikit lagi yes sayang-sayangnya aku semua bakal berakhir kok βΊοΈ. Ikuti kisahnya terus yess πππ