
"Sayang, ini ila belajar di mana gambar seperti ini?" Tanya Satya.
Dia membuktikan sendiri dengan mata kepalanya setiap goresan deni goresan yang Kaila lakukan di atas kertas. Sapuan beberapa pensil warna pada kertas itu turut menyempurnakan gambaran desain yang dibuat oleh Kaila.
"Ila suka gambar sejak dulu lalu Oma kasih guru les privat buat gambar." Jawab Kaila yang hanya menoleh pada Daddy sebentar.
Satya mengangguk, kagum bahkan sangat kagum dan bangga diusia anaknya yang masih kecil, Kaila mampu menggambar di atas rata-rata kemampuan anak kecil seusianya.
"Ila sering bantu Mami?"
Kaila mengangguk, "Iya, kalau Mami repot banyak yang pesan baju sama Mami, ila sering bantu. Dulu waktu Aunty Maria menikah gaunnya ila yang gambar loh."
"Aunty Maria?" Gumam Satya tak paham.
"Putri Tuan Maxim, yang waktu itu pernikahannya tertunda karena gaun pengantin yang tidak muat dan harus ganti gaun, Kaila yang mendesain gaun itu." Ucap Belva yang tiba-tiba masuk dengan membawa nampan berisi dua gelas susu hangat untuk Kaili dan Kaila.
Satya langsung menolehkan kepalanya pada Belva. Paham sekarang siapa orang yang dimaksud oleh putrinya.
"Benarkah?" Tanya Satya. Belva mengangguk.
Mengingat pernikahan putri Tuan Maxim saat itu sangat meriah, sungguh Satya hanya mampu tersenyum antara percaya dan tidak percaya, gaun pernikahan yang digunakan putri Tuan Maxim tentu bukanlah gaun sembarangan dan abal-abal. Siapa sangka jika pernikahan dari keluarga ternama itu adalah hasil karya putrinya yang masih sangat belia. Jika tidak percaya tapi kini dirinya menyaksikan sendiri tangan mungil itu berkreasi.
Satya langsung memeluk putrinya gemas, anugrah luar biasa yang didapatkan saat memiliki putri seperti Kaila. Diciumnya wajah dan kepala Kaila secara bertubi-tubi.
"Kamu pintar sekali, sayang. Daddy beruntung punya putri sepertimu."
"Daddy, stop..!! Nanti gambar aku kena coret jadi jelek." Rengek Kaila.
Satya terkekeh dilepaskan pelukannya lalu beralih melihat pada putranya yang sedari tadi sibuk sendiri dengan mainan legonya. Pria kecil itu merancang sebuah bangunan istana kerajaan dengan serius.
Belva yang menemani putra tampannya itu karena melihat Satya yang sudah menemani Kaila. Mereka berbagi agar kedua anak kembar mereka merasa adil dalam hal mendapatkan perhatian.
"Hai boy, buat apa kamu?" Tanya Satya.
Pria itu duduk di dekat istrinya tanpa jarak bahkan tubuh mereka saling menempel.
"Buat istana kerajaan." Jawab Kaili.
"Kamu sepertinya sangat menyukai bermain Lego. Daddy sering melihat mu memainkannya."
"Ini sangat menyenangkan, Daddy. Besok kalau aku sudah besar aku ingin membangun istana untuk Mami dan orang-orang yang Kaili sayang."
"Daddy tidak dibuatkan? Masa hanya Mami saja." Goda Satya.
"Daddy juga kan Kaili bilang orang-orang yang Kaili sayang itu berarti termasuk Daddy. Tapi Daddy kan sudah bisa bangun istana sendiri."
"Mana ada seperti itu, Daddy juga ingin kamu membuatkannya untuk Daddy."
"Rumah ini sudah sangat besar, sudah seperti istana." Ujar Kaili.
Satya terkekeh dan mengusap kepala putranya. Tangan kekarnya yang lain meraih pinggang istrinya hingga melingkar di perut Belva. Tak hanya melingkar saja melainkan mengusap-usap lembut perut istrinya. Belva merasa usapan suaminya itu penuh dengan kelembutan dan kasih sayang yang membuatnya merasa nyaman. Belva memandang wajah Satya sekilas lalu menyenderkan kepalanya di dada bidang Satya. Keduanya sama-sama tersenyum merasakan kehangatan dalam kebersamaan keluarga kecil mereka.
"Sayang, nanti mas minta jatah." Bisik Satya pada telinga istrinya.
Belva langsung menepuk paha suaminya.
Plak!!
"Auw... Sayang." Pekik Satya meski sesungguhnya tidaklah sesakit itu.
Kaili langsung mendongak fokusnya teralihkan oleh tingkah kedua orang tuanya.
"Daddy kenapa?"
"Tidak ini Mami pukul Daddy." Adu Satya pada putranya.
"Kenapa dipukul, Mi?" Tanya Kaili.
"Ada nyamuk, sayang. Nyamuknya nakal jadi harus ditabok." Jawab Belva masuk akal dan di terima oleh Kaili.
Satya hanya melirik istrinya dan menghela napas. Waktu semakin larut susu hangat yang dibawa Belva tadi telah diminum habis oleh Duo Kay. Sebagai seorang ibu tentu ia membantu kedua anaknya untuk bersiap tidur, mengganti pakaian, mencuci kaki tangan dan juga menggosok gigi sebelum tidur.
Duo Kay telah berbaring di ranjang mereka secara berdampingan. Satya menyelimuti putra dan putri nya dengan selimut tebal mereka yang bermotif kartun. Secara bergantian Satya mencium kening Duo Kay.
"Tidurlah sayang. Selamat malam." Ucap Satya.
"Selamat malam Dad." Ucap Kaili.
"Selamat malam Daddy." Ucap Kaila.
Belva juga tak ketinggalan mencium pipi dan kening kedua anaknya secara bergantian setelah Satya berdiri di samping ranjang.
"Tidur yang nyenyak kesayangan Mami."
Duo Kay mengangguk. "Selamat malam Mami." Ucap Kaila dan Kaili bersamaan.
"Selamat malam sayang." Jawab Belva.
"Mami temani kalian sebentar sampai kalian tidur." Ucap Belva dan tentu saja disambut dengan senang hati oleh Duo Kay.
"Ya sudah Daddy ke kamar dulu. Selamat malam anak-anak Daddy, tidur yang nyenyak." Ucap Satya sekali lagi sebelum keluar kamar Duo Kay.
Tak butuh waktu lama, Belva mengusap kening Duo Kay bergantian hingga keduanya terlelap dalam tidur mereka. Belva meninggalkan anak-anaknya setelah memastikan semua sudah aman.
Memasuki kamarnya sendiri bersama sang suami di lantai tiga terlihat Satya duduk berselonjor di atas ranjang dengan badan bersandar pada kepala ranjang, matanya fokus pada layar ponsel. Ketika melihat sang istri berjalan masuk fokusnya teralihkan pada istrinya.
"Anak-anak sudah tidur?"
"Sudah, Mas." Belva berjalan' menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan mengosik gigi sebelum tidur.
"Mas, bersiaplah tidur jangan bergadang. Aku siapkan pakaian tidurmu."
"Iyaa..." Satya turun dari ranjang, meletakkan ponselnya di atas nakas lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Di dalam walk in closed Belva mengganti pakaiannya dengan pakaian tidurnya. Celana pendek untuk Satya pun sudah disediakan oleh Belva, hanya celana saja karena ia sudah paham jika suaminya lebih nyaman tidur tanpa menggunakan baju.
Satya masuk ke dalam walk in closed, dipeluknya tubuh istri dari belakang dan dikecupnya pipi sang istri.
"Mas, kamu mengagetkan ku."
"Mau peluka istri mas ini. Wangi banget."
"Lepas dulu, itu celananya sudah aku siapkan." Belva melepaskan tangan Satya, pria itupun hanya menurut saja meski sebenarnya masih ingin memeluk istrinya.
Diraihnya celana yang terletak di atas sofa, dengan santai Satya melepaskan kaosnya, Belva masih aman-aman saja. Saat hendak melepas celana, Belva langsung memelototkan matanya.
"Mas, kamu main copot-copot saja sih." Ucap Belva kesal.
"Memangnya kenapa?" Tanya Satya santai.
"Kira-kira dong mas, masih ada orang disini. Tidak malu apa."
"Kenapa harus malu, telanjang pun di depan istri. Kalau di depan orang lain itu baru mas harus malu." Ucap Satya santai.
Satya kembali melanjutkan pekerjaannya yang tetunda. Melepaskan celananya dan mengganti dengan yang sudah disiapkan oleh istrinya. Saat satya kembali melanjutkan melepaskan celana, Belva langsung melenggang pergi keluar dari walk in closed. Satya hanya menggelengkan kepala melihat sikap istrinya.
"Melihat suami sendiri telanjang tidak salah kan?" Gumam Satya.
Belva sudah berbaring di tempat tidur.saat Satya keluar dari walk in closed. Satya menyusul istrinya berbaring di atas ranjang di samping sang istri.
"Mas, bagaimana urusan Kaila tadi?"
__ADS_1
"Urusan apa?" Tanya Satya belum konek.
"Memang ya sudah tua jadi pikun." Gumam Belva.
"Heh yank, bilang apa kamu tadi?" Tanya Satya melotot kesal pada istrinya.
"Hah? Apa? Kan aku tanya bagaimana urusan Kaila tadi. Kenapa mukanya seperti itu?" Ucap Belva cuek, merasa tidak bersalah.
"Mas dengar ya kamu tadi bilang mas tua. Iya memang mas ini sudah tua sudah tidak semuda seperti kamu. Tapi tidak usah menghina seperti itu juga, dosa yank menghina suami."
"Eh? Tidak seperti itu juga, aku tidak menghinamu sayang. Kesal saja masa kamu tidak ingat pembahasan kita tadi siang."
"Lah kan mas tanya urusan yang mana? Kok kamu jadi menghina mas begitu."
"Maaf mas, bercanda juga. Tidak usah marah ih, kamu jadi orang serius banget cepat tua kalau sepaneng begitu, mas."
"Tidak ada maaf saja, kalau maaf penjara penuh yank. Salah berarti harus dapat hukuman."
"Dih... Hukuman apa?" Tanya Belva mengerutkan keningnya.
"Pijat mas dulu."
Belva sedikit melongo lalu memutar bola matanya jengah tapi Belva tetap menjalankan perintah suaminya.
"Sebentar, tapi bagaimana urusan Kaila, Mas. Diambil tidak tawaran itu?"
"Pijat mas dulu nanti mas jawab. Ayo cepat."
"Ish... Ya sudah cepat tengkurap."
Belva mulai memijit suaminya, Satya memejamkan mata menikmati pijatan lembut tapi bertenaga dari istrinya. Lama terdiam akibat terlalu nyaman menikmati pijatan Satya melupakan pertanyaan Belva.
Plak!!!
Pukulan kecil mendarat pada punggung Satya.
"Auwh..." Ringis Satya.
"Mas, bagaimana? Malah tidur."
"Ish... Kenapa harus pukul-pukul sih yank. Bagaimana apanya?"
Belva gemas pada suaminya, entah Satya yang sedang malas membahas apapun atau terlalu nyaman dipijat.
"Hiihhh... Lama-lama aku cakar-cakar kamu, Mas. Sudah ah malas aku."
Belva menghentikan pijatannya karena merasa kesal pada suaminya.
"Jangan berhentilah yank, lagi enak-enaknya ini. Pijat lagi lah yank."
"Tidak, kamu malah tidur bukannya jawab pertanyaan aku." Tolak Belva.
"Ya bagaimana? Pijatan kamu enak yank."
Plak!!!
Kembali Belva memukul kecil pada punggung suaminya yang masih dalam posisi tengkurap.
"Aduh yank, KDRT ini namanya."
"Iyaa... Iya... Tidak usah cemberut begitu. Peluk dulu sini."
"Tidak. Malas. Sudah ah aku mau tidur." Belva bersiap tidur tapi ditahan oleh Satya.
"Jangan tidur, sebentar mas duduk dulu."
Satya mengubah posisi tengkurapnya menjadi dudym bersandar pada kepala ranjang. Ditariknya sang istri dan didekap. Keduanya kini duduk bersama dengan Satya bersandar pada kepala ranjang dan Belva bersandar di dada bidang suaminya.
"Itu tawaran yang langka dan bagus menurut aku, mas. Tapi kalau mas tidak setuju ya aku tidak memaksa."
"Mas baru tahu kenapa mereka tertarik pada Kaila. Kemampuan Kaila memang sangat pantas membuat mereka tertarik dan berkeinginan melakukan kerjasama pada putri kita."
"Jadi?" Tanya Belva mendongak menatap suaminya.
"Mas tahu kamu pasti berharap mas menyetujui tawaran itu kan?"
Belva mengangguk memang sesungguhnya dirinya berharap suaminya setuju karena ini pun demi mengasah bakat putrinya. Tidak semua anak mendapat kesempatan yang sangat langka seperti itu.
"Mas tidak keberatan jika kita menerima tawaran itu asalkan putri kita tidak terforsir dan tidak mengganggu waktunya bermain dan belajarnya sebagai seorang anak-anak."
"Jadi mas setuju?" Tanya Belva memastikan.
"Tergantung." Jawab Satya.
"Maksudnya tergantung bagaimana? Nanti aku pasti bilang pada mereka untuk tidak memforsir waktu dan tenaga Kaila jika mereka benar-benar berniat melakukan kerjasama dengan Kaila."
"Iya mas tahu itu, pasti kamu juga akan sangat selektif dan tidak akan membiarkan putri kita tertekan dengan kontrak barunya. Tapi cukup dua kontrak saja untuk Kaila, selebihnya mas tidak ijinkan. Jadwal pemotretan saja kamu tidak minta ijin pada mas."
Belva merasa tersindir karena jadwal pemotretan Duo Kay tanpa seijin Satya saat itu. Ia hanya melipat bibirnya menahan senyum.
"Ya maaf kan waktu itu lagi marahan." Ucap Belva lirih.
"Iya sudah tahu, waktu itu mas kesal sama kamu dan mau marah-marah. Mas menyusul mu di rumah Mama eh kamunya tidak ada."
Bva tertawa mendengar cerita Satya.
"Terus marah-marahnya mau dilanjutkan sekarang?" Tanya Belva melirik suaminya.
"Tidak, baru kemarin marahan. Capek mas marahan sama kamu, diam-diaman mas tidak kuat." Ujar Satya mencium kepala istrinya.
Belva terkekeh semakin mengeratkan pelukannya pada Satya. "Jadi bagaimana ini keputusan nya, dikasih ijin kan?"
"Tergantung servisnya kalau memuaskan dikasih ijin kalau tidak ya terpaksa." Ucap Satya yang tangannya sudah mengusap lembut punggung Belva.
"Mas..."
"Minta jatah malam ini, sayang." Bisik Satya pada telinga Belva.
"Tapi pasti dikasih ijin kan?" Belva mendongak menatap penuh harap pada suaminya.
"Iya asal servisnya oke." jawab Satya.
Satya menatap mata Belva, perlahan wajahnya mendekat tanpa jarak pada wajah Belva hingga bibir mereka saling bertemu. Sudah pasti tahu apa yang akan terjadi, mereka membiarkan naluri mereka yang menuntun jalannya kegiatan. Keduanya menutup mata mulai menikmati apa yang terjadi, Lum*Atan mulai Satya berikan pada istrinya. Tangannya memeluk erat tubuh Belva seakan menginginkan tubuh yang sah untuk disentuhnya itu menyatu pada tubuhnya.
"Enghhh..." Leng*uh Belva.
"Taklukan suamimu, sayang. Menangkan peperangan ini." Bisik Satya dengan suara beratnya.
Mengikuti insting secara alami, membiarkan has*rat yang mulai meningkat untuk mengendalikan akal sehat mereka. Tangan keduanya sibuk masing-masing untuk membuka jalan melancarkan aksi peperangan.
Malam itu terjadi peperangan sengit yang dimana Belva selalu berusaha memenangkan peperangan. Jiwa liar nya keluar begitu saja hingga Satya baru melihat bagaimana liarnya sang istri dan dirinya sangat menyukai hal itu. Lawan yang sepadan malam ini Satya dapatkan. Mereka saling menyerang bergantian satu sama lain, hingga tempat yang seharusnya empuk digunakan untuk beristirahat kini berubah bak kapal pecah.
Sisi liar itu perlahan membuat tenaga sang pemimpin peperangan melemah akibat tenaga yang dikeluarkan secara bersemangat demi memenangkan peperangan. Satya mengambil alih peperangan hingga beberapa kali bom nuklir selalu meledak tepat sasaran.
"Terimakasih. Mami lelah?"
Belva mengangguk lemah, Satya meraih sang istri untuk dipeluknya dan mengecup kening Belva.
"Kita cuci dulu baru istirahat." Lagi-lagi Belva hanya mengangguk saja.
Satya mengangkat tubuh istrinya masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh sisa peperangan yang masih meninggalkan sedikit jejak. Tak peduli dengan rasa malu ketika sudah lelah seperti itu, Belva hanya menurut dan pasrah ketika suaminya mengurus semuanya. Mereka kembali beristirahat saat waktu sudah tengah malam lebih.
__ADS_1
Tanpa pintalan benang yang menempel hanya selimut tebal yang menutupi, Belva terbangun saat hati sudah pagi. Pukul enam Belva terbangun, teringat kegiatannya tadi malam membuat dirinya merasa malu. Tapi saat memandang wajah tampan milik suaminya yang masih tertidur pulas membuat Belva merasa dirinya harus berjuang lebih membuang segala rasa malunya karena ia yakin di luar sana para wanita penggoda akan lebih bersikap liar demi menaklukkan lawannya.
Keputusan Belva memang sudah benar, jangan sampai suaminya mendapatkan sesuatu h yang berbeda di luar sana. lebih baik dirinya yang berani mencoba sesuatu berbeda demi suaminya.
Disibakkan selimut tebal itu karena dirinya hendak bersiap untuk menyiapkan sarapan tapi suara serak suaminya terdengar.
"Mam, mau ke mana?"
"Bersih-bersih, Daddy lanjutkan tidurnya saja."
"Jam berapa ini?" Tanya Satya yang masih terpejam beberapa kali akibat mata yang masih terasa berat.
"Jam enam. Kalau masih mengantuk tidur saja dulu nanti Mami bangunkan."
Bukan kembali tidur tapi Satya berusaha bangun dan duduk.
"Kenapa malah bangun?" Tanya Belva.
"Daddy mau olahraga pagi, Mami mandi saja dulu."
"Tapi sini dulu." Satya mengulurkan tangannya ke arah istrinya.
"Kenapa?" Tanya Belva mengerutkan keningnya.
Tak menjawab tapi Satya langsung menc*ium bibir Belva, selalu ciu*man itu tak pernah hanya sekedar menempel melainkan Satya selalu melu*mat bibir rasa madu itu.
"Morning kiss, Mam."
Lepas dari bibir Satya kini justru mengecup pipi istrinya. Belva hanya tersenyum merespon suaminya. dan memeluk suaminya.
"Tidak jadi mandi? Atau mau olahraga pagi di sini?" Goda Satya.
Plak!!
Pukulan manja Belva layangkan pada dada suaminya, Belva gemas dan kesal pada suaminya secara bersamaan. Satya terkekeh merespon tingkah istrinya.
"Sudah ah aku mau mandi." Ujar Belva.
"Oke. Tapi tunggu ada sesuatu yang..." Ucapan Satya tergantung bukan tanpa sengaja memang sengaja dia lakukan untuk menghentikan pergerakan istrinya.
Tiba-tiba Satya mengangkat tubuh Belva ala bridal style dan membawanya ke dalam kamar mandi. Belva memprotes kelakuan suaminya tapi tak dihiraukan sama sekali oleh Satya. Didudukkan istrinya itu di atas sebelah samping wastafel.
"Tunggu di sini, mas siapkan air hangat untukmu."
"Tidak perlu aku bisa sendiri, mas."
"Jangan membantah bisa? Kenapa suka sekali membantah suami."
"Bukan membantah tapi memang aku bisa sendiri mas, tak perlu repot-repot menyiapkan nya untukku."
"Tidak ada kata repot dalam hidup mas untuk istri mas yang cantik ini dan untuk anak-anak mas. Hanya dengan menurut perkataan suami saja maka suamimu sudah bahagia sekali, sayang." Ucap Satya menatap manik mata Belva.
Wanita cantik itu hanya tersenyum dan mengangguk. Satya sudah berlalu menuju bathtub untuk menyiapkan air hangat bagi istrinya. Selagi menunggu air penuh Satya dan Belva kembali berbincang-bincang ringan dan bercandaan di dalam kamar mandi. Suasana terasa romantis meski hanya dengan hal yang sangat sederhana. Menikmati sela-sela waktu berduaan di dalam kamar mandi tanpa pintalan benang sedikit pun tak membuat mereka canggung. Pagi ini meski terlihat sama-sama polos tapi mereka tidak dikuasai oleh nap*su justru terasa romantis dan intim.
"Sudah penuh, Mami berendam dan mandilah." Satya mengangkat kembali tubuh sang istri dan diletakan dengan lembut ke dalam bathtub berisi air.
"Mas, tidak mandi sekalian?" Tanya Belva.
Satya mengecup kening istrinya, lalu berlalu ke depan wastafel.
"Tidak, mas mau nge-gym dulu baru mandi. Percuma kalau mandi nanti keringat lagi."
Satya mencuci wajahnya dan menggosok giginya. Tak ada rasa malu meski sama-sama sadar dalam keadaan transparan.
"Mas, keluar dulu."
"Hemm..." Jawab Belva mengangguk.
Satya memakai kembali pintalan benang miliknya hanya menutup bagian bawahnya saja. Dia sengaja tak menggunakan kaos karena sekalian saja menurutnya untuk berolahraga. Langkahnya menuju ruang gym yang juga berada di lantai tiga bersebelahan dengan kamar tidurnya. Ruangan itu tampak transparan karena bersekat kaca bahkan dari ruangan itu siapapun yang masuk ke dalam bisa melihat pemandangan belakang rumah yang terdapat taman yang cukup luas. Satya sibuk dengan olahraga nya saat ini.
Belva tak lama pun sudah selesai membersihkan diri dan beranjak menuju dapur membantu para asisten rumah tangga untuk memasak meski ia sadar jika sudah terlambat dan sudah hampir selesai. Belva masih sama seperti para ibu rumah tangga yang lain meski sudah menjadi Nyonya yang semua sudah serba ada dan mudah untuk nya. Namun, demi keperluan suami dan anak-anaknya maka Belva akan memastikannya dengan turun tangan langsung.
Rutinitas mereka masih sama karena sampai saat ini Belva masih memilih untuk bekerja di butik. Rencananya untum melanjutkan pendidikan masih ia tunda sampai entah belum pasti kapan.
Satya dan Belva kini mengantar anak-anak mereka ke sekolah. Setelah urusan Duo Kay selesai Satya mengantar istrinya ke butik.
"Sayang, nanti siang ke kantor ya makan siang saja di kantor bareng anak-anak."
"Tapi kan aku harus bertemu dengan Nona Iva mas membicarakan tawaran untuk Kaila. Mas sudah setuju dan kasih ijin kan?"
Satya menoleh ke arah istrinya dan tersenyum menggoda. "Tentu saja mas langsung setuju dan kasih ijin servis kami luar biasa tadi malam."
"Apaan sih ih. Tidak usah membahas hal yang tidak berkaitan ya mas." Ucap Belva dengan wajah memerah menahan malu.
"Kenapa? Ini berkaitan loh sayang. Kan ijin dan persetujuan mas tergantung dari servis yang kamu kasih kepada mas."
Belva mencubit lengan suaminya karena merasa sangat malu jika membahas hal sevulgar itu.
"Aduh sayang, sakit kamu main cubit-cubit saja sekarang. Semakin ganas kamu, yank. Begini saja sudah ganas apalagi di ranhmmpp." Belva langsung membekap mulut suaminya yang terus membahas hal mesum itu.
"Mas ihh... Pembahasan utama kita bukan itu ya. Tolong deh mulut nya di rem-rem sedikit."
"Iya... Iya... Tidak usah marah. Lagian mas suka sama servis yang hmmp."
Kembali Belva membekap mulut Satya dan Satya melepaskan bekapan Belva. "Yank, kalau mas mati karena kamu bekap bagaimana? Mau jadi janda muda?"
"Mas itu cuma menyampaikan apa yang mas rasakan, bersyukur, bahagia begitu punya istri yang pintar menyenangkan suami. Sering-seringlah seperti itu mas suka, yank."
"Kalau sudah punya yang seperti ini untuk apa mas cari yang lain. Tingkatkan kemampuan kamu, sayang."
Satya terus saja menyuarakan hati dan pikirannya nya sebagai laki-laki dan sebagai suami. Mau tak mau Belva hanya mendengarkan saja, bukan masuk ke kuping kanan keluar ke kuping kiri tapi apa yang suaminya katanya benar-benar diserap oleh Belva demi menjaga keutuhan rumah tangganya.
"Sudah curhat nya?" Tanya Belva.
"Hah?" Satya menoleh ke arah istrinya sejenak lalu kembali menatap jalanan karena dirinya sedang menyetir.
"Sudah selesai belum sesi curhat ala suaminya. Boleh gantian tidak istri yang bicara?" Tanya Belva.
Satya hanya meringis dan menggaruk kepalanya. "Mau bicara apa, yank?"
"Jadi ini keputusan nya sudah oke kan? Kalau oke nanti aku dan Nona Iva akan melakukan janji temu biar cepat beres. Tidak enak pihak Christina Diora juga menunggu."
"Iya... Iya... istriku, kamu atur saja bagaimana baiknya asal putri kita tidak kelelahan dan tertekan. Menerima tawaran itu sama saja harus menaati segala peraturan yang ada, sayang."
"Iya mas, Belva tahu kok."
Satya tersenyum dan mengusap dengan sayang kepala Belva. Betapa beruntungnya Satya memiliki istri seperti Belva. Berkali-kali Satya tak pernah berhenti bersyukur dengan takdir hidupnya mendapatkan jodoh seorang Belva gadis yang dulu sangat polos dan baik hati. Paket komplit yang Satya dapatkan saat ini.
****
To Be Continue...
Hai my dear para readers ku tersayang
Terus nantikan kelanjutan nya yaa... Nanti akan ada berapa anggota keluarga Om Satya 🤭
Terimakasih banyak atas support kalian sampai saat ini 🙏🙏🙏
Terimakasih banyak buat Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian. Saat baca meski gak komen setidaknya tinggalkan jejak jempol kalian hehe.
Semoga terhibur, bahagia selalu dan Sehat selalu buat kita semua 🤗❤️🙏
__ADS_1