Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy

Anak Genius : Opa Muda Is Your Daddy
Bab 61. Kepanikan


__ADS_3

Pada akhirnya perangai buruk memang akan mendapatkan buah yang buruk untuk dinikmati. Hal itu tak bisa dihindarkan lagi jika tidak mengubah sikap untuk menjadi lebih baik. Bahkan seseorang yang sudah bertobat pun terkadang masih mendapatkan cap buruk dari orang lain. Masih ada sisa-sisa buah keburukan yang akan diterima dari hasil perlakuan jahat di masa lalu.


Seperti saat ini meski masih dalam keadaan tak sadarkan diri. Satya mengubah rencananya yang semula akan menuntut Alya setelah sadar berubah saat ini laporan tuntutan itu sudah masuk di kantor polisi.


Apa yang dilakukan Alya sungguh fatal bisa saja menghilangkan nyawa orang. Tapi sesungguhnya memang itu lah rencana Alya. Menghilangkan nyawa anak-anak Belva dari muka bumi ini. Sayang, rencana bodoh itu tak berjalan dengan lancar. Kaila, bocah kecil itu masih hidup meski masih sama kondisinya belum sadar.


Bila orang-orang di sekitar Kaila berharap anak itu segera sadar dan kembali ceria berkumpul bersama keluarga. Lain halnya dengan Alya beberapa orang yang berharap dirinya sadar untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.


Beberapa polisi datang ke rumah sakit, awalnya perawat pun penasaran atas kedatangan pihak kepolisian itu. Setelah mendapatkan penjelasan maka perawat mengantarkan mereka ke ruangan Alya.


"Tapi maaf, pasien masih dalam perawatan intensif. Masih belum sadar dan belum boleh di jenguk oleh banyak orang." Jelas perawat.


"Baik. Kami mengerti, apakah ada yang menjaga pasien ?" Tanya polisi.


"Sepertinya ada Pak. Mari saya antar ke ruangan pasien."


Sampai di depan ruangan, mereka masih berada di luar. Saat ini Alya sudah dipindahkan ke ruangan VIP sesuai dengan permintaan Sonia. Gadis itu sudah lebih baik keadaannya hanya saja memang masih belum sadar.


Suster mengetuk pintu ruangan Alya. Sonia membukakan pintu. "Ada apa suster ?" Tanya Sonia.


"Maaf mengganggu Nyonya. Ada yang ingin bertemu dengan anda. Mereka menunggu diluar." Ucap suster.


"Siapa ya sus ?" Tanya Sonia.


"Dari pihak kepolisian." Jawab suster.


Kening Sonia mengerut, ada apa polisi mencari dirinya. "Polisi ? Ada apa ini ?" Batin Sonia cemas.


Tapi Sonia tetap keluar untuk menemui orang yang menjadi tamunya. Ternyata beberapa orang pria yang Sonia lihat dan ia yakin mereka adalah polisi.


"Permisi, ada apa ya Bapak-Bapak polisi mencari saya ?" Tanya Sonia.


"Maaf Nyonya sebenarnya kami tak mencari anda."


Jawaban yang melegakan untuk Sonia tapi ia justru penasaran.


"Kami sebenarnya mencari Nona Alya."


Nama Alya disebut oleh salah satu polisi itu membuat Sonia deg-degan. Tapi pikir Sonia ini mungkin terkait kecelakaan yang menimpa Alya.


"Apakah ini masalah kecelakaan yang menimpa putri saya Pak ?"


"Benar Nyonya. Ada laporan masuk pada kami bahwa Nona Alya telah melakukan aksi percobaan pembunuhan." Jelas polisi.


Jedeeer...


Kali ini Sonia benar-benar terkejut, rasa deg-degannya terjawab sudah. "Kelakuan bodoh apalagi yang Alya lakukan." Batin Sonia.


"Ma-maksud anda bagaimana Pak ? Tidak mungkin putri saya melakukan hal itu."


Tidak mungkin bagaimana, jika perilaku dirinya saja sudah mencontohkan hal yang tidak baik bagi Alya. Masih bisa Sonia menyangkal seakan-akan putrinya adalah gadis baik-baik. Banyak hal yang sonia tak ketahui dari putrinya itu. Dirinya terlalu sibuk dengan dirinya sendiri.


"Maaf tapi kami memiliki bukti atas kejadian kecelakaan kemarin. Ada beberapa saksi mata juga yang melihatnya."


"Ta-tapi putri saya masih belum sadar Pak. Saya yakin putri saya tak mungkin melakukan percobaan pembunuhan." Sonia tetap membela putri satu-satunya.


"Ya maka dari itu kami hanya ingin memastikan saja bagaimana kondisi Nona Alya. Dan karena Nona Alya belum sadar maka kami akan menugaskan anggota kami untuk menjaga Nona Alya disini." Jelas Pak polisi.


Sonia terdiam, bagaimana bisa Alya melakukan hal itu tanpa sepengetahuan dirinya. Lagi-lagi ulah Alya membuat kepalanya pusing. Belum sadar tapi sudah mendapatkan pengawasan dari polisi.


"Baiklah kalau begitu silahkan saja Pak. Nanti setelah sadar biarkan Alya yang menjelaskan semuanya." Ucap Sonia pasrah.


Mau memberontak pun saat ini tak ada gunanya. Alya masih dalam keadaan tak sadarkan diri. Sonia kembali ke dalam kamar tanpa berpamitan pada beberapa polisi itu. Ia terlalu pusing, fokusnya buyar. Masalahnya yang baru saja terjadi mengenai Satya yang telah mengetahui jika Alya bukanlah anaknya itu belum menyembuhkan sakit kepalanya kini ditambah lagi dengan masalah yang lain.


Kehidupannya kini dirundung masalah secara beruntun. Berbeda saat dulu yang masih aman jaya berjalan lancar dan mulus, menikmati hidup.


"Huuftt... Astaga apalagi ini. Kepalaku seperti mau pecah saja."


"Alyaaa... Makan apa aku dulu saat mengandungnya hingga menjadi bodoh seperti ini."


Sonia mendesah dengan tangan mengurut keningnya. Rasanya ingin berteriak sekencang mungkin tapi ia sadar masih berada di rumah sakit.


Begitulah jika memiliki sifat dan sikap yang buruk. Terlalu sombong saat berada di atas. Terlalu serakah dan tak bisa menerima kenyataan yang ada. Jika Sonia boleh berandai-andai maka banyak sekali kata seandainya diselipkan pada hal-hal yang sudah berlalu.


Sudah hidup enak bersama Satya tapi tak bisa menerima pria itu sebagai suaminya. Bukan mengurus Satya yang dulu sebagai suaminya justru sibuk dengan Faris yang jelas-jelas secara hukum dan agama bukanlah siapa-siapa nya. Hanya masa lalu yang tak pernah benar-benar berlalu dalam hidupnya.


Kini saat Sonia berada dalam kesulitan seperti ini, Faris justru tak terlihat dengan alasan ada urusan pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan.


Sonia mencoba mengerti akan posisi Faris saat ini, ia pun tak bisa memaksa Faris untuk berada disisinya saat ini. Faris bukanlah Satya yang bisa meninggalkan kantor secara bebas. Bila dulu pria itu bisa melakukannya, meninggalkan kantor beberapa hari hanya untuk bersama Sonia. Itupun karena Faris selalu mengandalkan file dari Satya saat ada perebutan tender proyek. Jika sudah didapat maka dirinya akan memerintahkan karyawannya untuk bekerja. Berbeda dengan Satya yang juga terjun langsung saat proyek itu dimenangkan olehnya.


****


Berbanding terbalik dari seorang yang memiliki perangai buruk. Seseorang yang selalu dibuatnya susah dengan segala tingkah laku dan kekejamannya. Belva dan juga anak-anak nya kini mendapatkan banyak dukungan dari orang-orang sekitar.


Kaila meski belum sadar, anak itu banyak yang menjenguknya walaupun mereka yang datang harus masuk satu persatu. Mulai dari Farah, Okta, Maria, Iva, Luna, dan beberapa klien Belva yang dekat dengan wanita itu.


"Bagaimana ini bisa terjadi ?" Tanya Iva yang menjenguk bersama Luna Catherine.


"Kejadian itu sangat cepat Nona Iva. Tiba-tiba saja anak-anak berlari ke arah jalanan dan terjadilah kecelakaan itu."


"Apa sudah ditemukan pemilik mobil yang menabrak Kaila ?" Tanya Luna. .


"Saya kurang tahu. Fokus saya saat ini hanya untuk kesembuhan Kaila. Saya sangat takut sekali saat Kaila tak sadarkan diri dengan banyak darah di beberapa bagian tubuhnya terutama di kepalanya."


Luna mengusap lengan Belva sebagai bentuk perhatian dan rasa perduli nya terhadap apa yang sedang dialami wanita dua anak itu.


"Semoga masalah cepat bisa diselesaikan dan dipertanggung jawabkan Nona." Ucap Luna. Belva mengangguk.


"Kami sangat terkejut mendengar berita ini. Padahal baru kemarin saya melihat mereka tampak ceria." Ucap Iva.


Siapa yang tahu akan perubahan nasib dan takdir. Semua kehidupan ini sudah ada yang mengatur. Sebagai seorang manusia hanya menjalankan. Kembali lagi, manusia itu bak boneka atau wayang, yang dikendalikan segala pergerakan kehidupannya oleh sang pencipta.


Skenario kehidupan yang tak bisa kita atur akan bagaimana akhirnya nanti. Ketika kita menginginkan menjadi A maka bisa saja berubah tanpa kita inginkan menjadi B. Manusia bisa merencanakan, membuat list kehidupan. Tapi sang pencipta yang menentukan apakah itu yang terbaik untuk kita atau tidak.


"Iya Nona, siapa yang tahu akan terjadi seperti ini. Jika boleh memilih saya tak ingin ini terjadi pada Kaila maupun Kaili. Mereka masih kecil." Ucap Belva.


"Iya. Bersabarlah Nona. Kaila pasti baik-baik saja, semoga anak cantik itu segera pulih."


"Terima kasih Nona Iva... Nona Luna..."


Iva dan Luna mengangguk bersama.


"Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu Nona. Maaf tak bisa berlama-lama, karena saya ada jadwal pemotretan." Ucap Luna.


"Iya Nona, terima kasih sudah meluangkan waktu untuk menjenguk Kaila."


"Tidak masalah. Kebetulan ada waktu luang jadi bisa saya gunakan untuk menjenguk Kaila." Ucap Luna.


"Nona Belva, saya juga pamit pulang karena kami satu mobil." Iva ikut berpamitan.


"Iya Nona. Sekali lagi terima kasih sudah datang menjenguk."


"Sama-sama." Jawab Iva.


Kedua wanita cantik yang bergelut di bidang fashion sama seperti Belva itu akhirnya beranjak. Tak berselang lama bergantian dengan Roichi yang datang bersama Kaili.


"Mereka sudah pulang ?" Tanya Roichi yang sedari awal memang tahu jika banyak yang menjenguk Kaila hari ini.


"Sudah... Sayang maaf Mami tak bisa menjemput mu sekolah." Ucap Belva merasa bersalah pada Kaili. Karena harus menjaga Kaila anak lelakinya itu harus terabaikan.


Kaili mangangguk. "Papi tadi yang jemput."


"Pulang sekolah dia meminta untuk ikut ke sini. Ingin menjenguk Kaila katanya." Ucap Roichi.


"Pantas masih pakai seragam. Terima kasih Om sudah menjemputnya pulang."


"Apa-apaan ? Kaili putraku tidak perlu berterima kasih." Ucap Roichi cuek.


"Yayaya... Terserah yang mulia." Belva memutar bola matanya jengah.


"Ayo... Kita masuk sebentar untuk menjenguk Kaila." Ajak Belva. Kaili mengangguk lengan kecilnya berpindah tempat pada genggaman tangan Belva.


Kedua ibu dan anak itu masuk ke dalam ruangan Kaila. Roichi menunggu diluar. Kaili dalam gendongan sang Mami melihat saudara kembarnya tengah terbaring dengan wajah pucat dan mata terpejam. Tak ada senyum ceria dari bibir gadis kecil itu.


"Kaila bangun." Ucap Kaili.


Tampak sekali pria kecil itu merindukan saudara kembarnya. Biasanya mereka selalu bersama tapi sejak kecelakaan itu Kaili hanya sendiri. Terasa ada yang kurang, bahkan beberapa kali, anak kecil itu tanpa sadar mencari Kaila ketika berada di rumah, di butik hingga di sekolah.


"Mami kenapa Kaila tidak mau bangun ?"


"Bukan tidak mau bangun sayang. Tapi Kaila masih mengantuk kepalanya adek masih sakit. Kakak doakan ya biar adek bisa segera sembuh jadi bisa cepat bangun." Ucap Belva dengan mata berkaca-kaca.


Kaili mengangguk. "Iya nanti Kaili berdoa biar Kaila cepat bangun lalu aku ajak pulang tidur di kamar kami bukan disini."

__ADS_1


"Iya sayang." Belva mencium kening Kaili. Rasa sedih menyeruak dalam hatinya semakin terasa saat melihat Kaili sangat menginginkan Kaila bangun. Begitupun dirinya yang menginginkan Kaila segera bangun dan kembali ceria.


"Kaili mau pegang Kaila boleh ?"


"Boleh sayang. Tapi jangan pegang alat-alat yang menempel pada tubuh Kaila ya."


"Iya Mami."


Belva mendekatkan tubuh Kaili pada Kaila. Bocah laki-laki itu memegang lengan kecil kembarannya.


"Kaila, ayo bangun."


"Tadi saat aku bermain dengan Donny dan Farel, Yossy datang mencarimu."


"Tadi Miss Fira juga ajarkan buat tempel-tempelan buah loh. Tas aku di mobil Papi nanti aku tunjukkan ya."


Kaili mengajak Kaila berbicara tapi tetap tak ada respon. Pria kecil itu sangat tumben sekali banyak berbicara. Biasanya dia lebih banyak diam dan hanya berbicara saat dirasakannya penting dan penasaran atau saat ditanya oleh orang sekitar saja.


"Kaila pasti tidak dengar aku cerita." Ucap Kaili lirih. Tampak wajah sedihnya.


"Tidak sayang. Mungkin saja suara Kaili masuk di dalam mimpi Kaila. Jadi, Kaila tetap bisa mendengar suara Kaili." Ucap Belva agar anak lelakinya itu btak merasa sedih.


Hal ini yang membuat Belva sakit dan hancur, kala melihat dua buah hatinya yang sudah menjadi separuh hidupnya itu tampak murung, sedih dan tak bersemangat seperti biasanya.


Tak tahan Belva segera membawa Kaili keluar. Matanya sedari tadi sudah berkaca-kaca hendak menangis. Mungkin jika tidak ada Kaili dirinya sudah menangis sedari tadi.


"Ayo sayang kita keluar lagi, adek Kaila harus istirahat. Besok Kaili bisa jenguk lagi hemm."


"Iya Mami."


"Kaila aku keluar dulu ya. Nanti kalau sudah bangun panggil aku." Ujar Kaili.


Belva segera membawa Kaili keluar. Menggendong tubuh Kaili sembari memeluk tubuh anak itu dengan erat.


"Mami..." Kaili menggerakkan tubuhnya yang terasa terikat itu sebab pelukan Belva yang terasa erat bagi Kaili.


Roichi melihat pergerakan tubuh ibu dan anak itu dan juga melihat raut wajah Belva yang tengah membendung tangisannya.


"Ada apa sayang ?" Tanya Roichi pada Kaili.


"Mami pegangnya kuat sekali. Aku sesak."


"Maaf sayang... Mami tak sengaja." Cara Belva menahan tangisnya dengan tak sengaja memeluk erat tubuh Kaili.


"Sini gendong Papi." Kaili mengulurkan tangannya ke arah Roichi, Belva mengerti dan melepaskan gendongannya.


"Kenapa ?" Tanya Roichi pada Belva.


Belva menggelengkan kepalanya. Tapi Roichi tahu jika Belva saat ini sedang merasa sedih. Roichi menarik bahu Belva dan memeluk wanita itu dengan satu tangannya karena yang satu lagi digunakan untuk menggendong Kaili.


"Tak apa semua akan baik-baik saja." Ucap Roichi mengusap bahu Belva.


Tak kuasa menahan tangisannya yang sedari tadi ingin tumpah. Akhirnya Belva menangis tanpa bersuara. Tapi bahunya bergetar, Roichi pun tahu jika saat ini Belva sedang menangis. Dibiarkannya wanita itu menangis untuk meluapkan rasa sedih. Tapi tetap usapan lembut diberikan oleh pria itu. Bahu hingga kepala Belva tak luput dari tangan kekar Roichi. Kaili yang melihat Papinya mengusap lembut Maminya, maka anak kecil itu dengan tangan kecilnya ikut mengusap rambut Maminya.


Adegan dari ketiga manusia itu disaksikan oleh beberapa orang yang lewat karena mereka berada di depan ruangan rawat Kaila. Termasuk Satya dan Jordi, mereka juga melihat adegan yang terlihat sebagai keluarga harmonis itu. Saling menguatkan satu sama lain.


Satya memejamkan matanya, ada sesak saat melihat mereka saling berpelukan terlebih ada Kaili yang juga turut dalam adegan haru tersebut. Tangannya tanpa sadar mengepal kuat. Bagaimana bisa dia tak terima melihat sepasang suami istri tengah berpelukan seperti itu.


Jordi tahu dengan perubahan sikap Satya. Pria itu menepuk bahu Tuannya. "Selesaikan apa yang harus Tuan selesaikan. Majulah saya tahu apa yang ada rasakan."


Satya menoleh ke arah Jordi, asistennya itu hanya tersenyum tipis. Jordi, menyadari jika memang bos-nya itu memiliki ketertarikan pada Belva akhir-akhir ini bahkan sebelum fakta itu terungkap. Diam-diam Jordi mengamatinya.


Mereka berdua akhirnya melangkahkan kaki maju untuk mendekati Roichi, Belva dan juga Kaili. Roichi melihat kedatangan rekan kerjanya, maka dilepaskan pelukan itu.


"Hapus air matamu. Tidak enak dilihat banyak orang." Ucap Roichi lirih pada telinga Belva sesaat sebelum melepaskan pelukannya.


"Mami menangis ? Kenapa ?" Tanya Kaili.


"Tidak sayang, Mata Mami hanya terkena debu jadi berair." Belva mengelak.


"Kena debu ? Sini saya tiup." Goda Roichi yang tahu jika dirinya menangis.


Belva cemberut karena kesal dengan Roichi. Pukulan mendarat di lengan kirinya yang bebas. Roichi tertawa melihat Belva cemberut karena kesal.


"Tuan Satya. Anda disini lagi ?" Tanya Roichi yang tawanya sudah berhenti tapi senyum diwajahnya masih belum pudar.


"Iya Tuan, putriku masih sakit." Jawab Satya santai.


"Belva menangis ? Roichi terlihat sangat menyayangi mereka." Batin Satya.


"Oh iya... Semoga putri anda segera sembuh Tuan Satya." Ucap Roichi.


"Opmud..." Panggil Kaili.


"Ya ?" Jawab Satya dan Roichi bersamaan. Ternyata panggilan itu masih saja melekat erat di pendengaran Roichi.


Satya mengerutkan keningnya Roichi juga menjawab panggilan Kaili yang ditujukan padanya tapi dia diam saja.


"Opmud... Kenapa disini ?" Pertanyaan itu ditujukan pada Satya.


Roichi sudah paham jika panggilan itu ditujukan untuk Satya. Roichi, sempat menghela napas tapi tak terlihat oleh orang yang lain.


Satya tersenyum pada Kaili. Lagi-lagi Belva melihat senyum Satya yang tampak tulus dihadapan Kaili. Dulu senyum itu tak pernah Belva lihat selama dirinya membantu di rumah Satya. Yang ada hanya wajah dingin dan cuek serta sikap arogannya.


"Putri Opmud sedang sakit di rumah sakit ini." Jawab Satya tersenyum.


"Kembaranmu Nak. Kaila putri Daddy." Batin Satya menatap Kaili.


"Jadi dia tidur disini juga ?" Tanya Kaili kembali.


"Iya Nak." Jawab Satya masih dengan bibir tersenyum.


"Sama Kaila juga tidur disini, tapi aku suruh bangun tidak mau." Ujar Kaili.


Belva kembali menatap sedih pada Kaili. Satya tersenyum tipis kali ini. Jordi sedari tadi diam mengamati interaksi mereka. Kasihan sekali Satya kehidupannya tak semulus pekerjaannya. Seharusnya demi membahagiakan ibunya, Satya bisa hidup lebih bahagia tapi kenyataannya tidaklah seperti itu.


Tidak bisa juga Satya ataupun Jordi menyalahkan keinginan ibu Satya dulu. Semua sudah terjadi, Jordi yakin suatu saat nanti Tuannya akan hidup bahagia bersama keluarga yang lebih baik dan tulus pada Satya.


"Kaili pulang dulu ya sama Mami. Biar Papi yang jaga Kaila." Ucap Roichi pada Kaili.


"Pulanglah... Istirahat. Biar saya yang bergantian menjaga Kaila." Ucap Roichi pada Belva.


Belva mengangguk tanpa suara. "Ayo sayang, kita pulang." Ajak Belva. Meski berat meninggalkan Kaila, tapi Kaili juga butuh perhatian darinya.


"Tuan, kebetulan kami juga akan pergi bertemu dengan klien. Biar sekalian saja kembali bersama kami." Ujar Jordi.


Satya menatap Jordi, Roichi dan Belva pun sama. Pria itu seakan tahu jika Satya memang harus berbicara pada Belva tanpa adanya Roichi.


"Ah iya... Bisa sekali kita searah." Ucap Satya.


"Apa tidak merepotkan Tuan ?" Tanya Roichi.


Saat Satya hendak membuka mulut Belva sudah memberikan penolakannya.


"Tidak usah. Saya bisa pulang sendiri." Tolak Belva.


"Vanthe... Pak Panut tak ada di rumah sedang mengantar Bi Marni. Jika Tuan Jordi dan Tuan Satya tidak keberatan maka tidak masalah jika kalian pulang bersama." Ujar Roichi.


"Tapi aku bisa pakai taksi." Jawab Belva.


"Terlalu lama, kasihan Kaili dia belum makan Van."


"Apa tidak masalah Tuan Satya ?" Tanya Roichi.


"Tidak Tuan Roichi." Jawab Satya.


Jika bersama orang lain Satya akan bersikap berbeda tak sehangat saat bersama Kaili dan Kaili. Hal itu terlihat jelas dimata orang-orang sekitar nya.


"Mari Nona, kita berangkat sekarang." Ucap Jordi.


Belva menatap Roichi. "Pergila. Tak apa." Ujar Roichi seakan tahu akan tatapan mata Belva.


Mau tak mau Belva mengikuti Jordi dan Satya untuk pulang bersama. Mereka berjalan memasuki mobil Satya. Belva dan Kaili duduk di belakang. Pikir Belva Satya akan duduk di depan bersama Jordi tapi salah Satya memilih duduk di belakang bersama ibu dan anak itu.


Belva menatap tak suka pada Satya, tapi pria itu cuek dan santai tak menanggapi tatapan Belva. Kaili duduk di tengah diantara Belva dan Satya.


Jordi melirik melalui kaca yang ada di dalam mobil. Senyum tipis terkembang dari bibir Jordi. Sudah seperti keluarga yang dirindukan Jordi untuk Tuannya Satya. Terlihat lebih hangat meski penumpangnya tak melakukan aktivitas apapun. Berbeda jika Jordi melihat Satya bersama Alya dan Sonia, baginya bukan keluarga yang hangat melainkan keluarga yang panas karena tak pernah ada kedamaian diantara mereka.


Saat ditengah perjalanan Satya teringat akan perkataan Roichi di rumah sakit tadi. "Jordi, kita cari tempat makan dulu."


"Baik Tuan."


"Maaf bisa langsung pulang saja Tuan Jordi ?" Tanya Belva.

__ADS_1


Yang jadi majikan Satya, tapi yang ditanya oleh Belva adalah Jordi. Tentu pria yang sedang memegang kendali setir kemudi itu tak bisa menjawab.


"Maaf Nona, anda bisa tanyakan pada Tuan Satya." Jawab Jordi.


Dalam hati Belva kesal, malas harus berinteraksi dengan Satya. Lama tak ada suara dari Belva. Satya menunggu wanita itu membuka suaranya.


"Bisakah kita... maksudnya saya dan Kaili pulang saja Tuan Satya."


"Tidak." Jawab Satya dingin dan datar.


Belva melirik Satya yang menatap ke depan. Kembali sikap dingin datar itu Belva lihat saat ini. Berbeda sekali saat berinteraksi dengan Kaili dan juga Kaila.


"Ya sudah turunkan saja saya dan anak saya disini. Tuan Jordi berhentikan mobilnya."


"Tetap jalan Jordi." Titah Satya.


"Tuan, saya dan anak saya mau pulang bukan mau makan." Ucap Belva kesal dengan sikap Satya.


"Apa anda tak ingat Nona. Jika suami anda mengatakan Kaili belum makan ?"


Belva baru ingat saat Satya mengatakannya. Tapi dirinya tak ingin makan bersama Satya, bagaimana jika Sonia tahu, pikir Belva. Sebisa mungkin dirinya menjauhi keluarga itu tapi Satya justru selalu memaksa yang membuat Belva merasa khawatir.


"Kaili bisa makan di rumah." Ujar Belva cepat.


"Jordi langsung ke rumahnya saja." Ucap Satya.


Jordi hanya mengangguk, Belva merasa lega tak perlu makan bersama Satya. Kaili anak itu hanya melirik dua orang dewasa yang sedang mempertahankan keinginan masing-masing tapi berakhir dimenangkan oleh Belva. Tak terlalu perduli karena bocah itu tampaknya merasa kelelahan. Kaili memilih untuk memejamkan matanya yang terasa berat saja. Lalu bersandar pada tubuh Maminya.


Arah mobil bukan ke arah jalan menuju rumah Belva tapi Jordi membelokkan mobil itu ke arah bengkel. Belva mengerutkan keningnya.


"Maaf Tuan saya masih harus mengurus tagihan bengkel mobil saya. Anda bisa mengantar Nona Belva lebih dahulu." Ujar Jordi sebelum turun dari mobil.


Saat mobil itu berhenti Kaili kembali membuka mata karena dirinya baru saja memejamkan mata. Pikir Kaili mereka sudah sampai.


Satya membuka pintu mobil dan pindah ke depan. Dia membiarkan Jordi keluar dari mobil. "Selesaikan urusan anda Tuan." Bisik Jordi saat berada di samping Satya sebelum pria itu masuk ke dalam mobil. Satya hanya menjawab dengan berdeham.


"Mami belum sampai ya ?" Tanya Kaili.


"Belum sayang. Kamu mengantuk ?" Kaili mengangguk.


"Tidurlah nanti Mami bangunkan." Ujar Belva.


Satya belum juga menyalakan mesin mobilnya membuat Belva kembali mengerutkan keningnya.


"Pindah lah ke depan." Titah Satya. Belva diam tak menjawab.


"Nona Belva Evanthe. Pindah lah ke depan, saya bukan sopir anda."


Satya masih diam tak menyalakan mesin mobilnya menunggu hingga Belva berpindah tempat duduk.


"Mami... Kok mobilnya tidak jalan-jalan." Ucap Kaili.


"Tuan jalankan mobil anda." Ucap Belva.


"Kita tetap akan disini sampai kamu pindah ke depan." Ujar Satya tegas.


Sebenarnya Satya masih merasa canggung berhadapan dengan Belva tapi dengan sikap dingin dan datarnya itu Satya mencoba menutupi rasa canggungnya.


Lagi-lagi Belva merasa kesal harus menuruti perintah Satya. Dirinya masih sangat ingat betul memang seperti itulah watak asli seorang Satya.


Mesin mobil itu kini telah dinyalakan oleh Satya saat Belva dan Kaili sudah pindah ke depan. Dikendarai mobil itu dengan kecepatan sedang. Tak ada pembicaraan diantara mereka. Kaili sudah tertidur kembali, Belva sibuk menatap ke arah jalanan disampingnya melalui kaca jendela mobil. Satya sesekali melirik Belva tapi tetap fokus mengendarai mobilnya.


Sampai di rumah Belva, wanita itu turun dengan susah payah menggendong Kaili. Satya turun membantu Belva membukakan pintu pagar rumah minimalis itu.


"Tidak usah biar saya sendiri." Tolak Belva


"Kamu menggendong Kaili."


"Aku bisa sendiri." Tolak Belva.


"Diamlah." Ucap Satya dingin.


Belva tak perduli lagi, ia berjalan lebih dulu dari Satya. Kembali susah payah Belva membuka pintunya yang terkunci. Saat ia masuk dengan cepat Satya juga masuk ke dalam rumah minimalis.


Belva terkejut kenapa Satya ikut masuk ke dalam rumahnya. Karena Satya yang menutup pintu rumah nya.


"Anda kenapa ikut masuk. Pulang lah. Terima kasih sudah mengantar kami." Ucap Belva tak bersahabat.


"Bawalah Kaili ke dalam ada yang ingin saya bicarakan."


"Bicara saja sekarang lalu anda segera pulang." Ucap Belva.


"Kamu mau Kaili terbangun ?" Tanya Satya.


Tak menjawab Belva langsung masuk ke dalam kamar Kaili. Tak sadar jika Satya pun mengikutinya dari belakang. Satya menunggu Belva keluar dari kamar Kaili. Di dalam kamar Kaili, Belva diam setelah meletakkan Kaili di atas ranjang.


"Apa yang ingin dia bicarakan ? Kenapa aku deg-degan seperti ini. Perasaan ku tak enak." Gumam Belva, digigitnya kuku jari jempolnya.


Saat membuat pintu Belva terkejut Satya sudah menunggu di depan pintu. Wanita itu kembali kesal.


"Apa yang anda lakukan disini Tuan. Kenapa tidak sopan sekali." Ucap Belva.


Satya menatap Belva dengan tatapan tajam, wanita itu yang mendapat tatapan seperti itu langsung memundurkan kepalanya lalu mengalihkan tatapannya ke lain arah.


"Kenapa ? Kamu tak berani menatapku ? Masih sama seperti dulu"


"A-apa m-maksud anda Tuan. Saya tak mengerti maksud anda." Ucap Belva yang terlihat gugup.


Satya tersenyum sinis, kini kecanggungan itu menghilang berganti dengan keberanian Satya saat menatap Belva yang merasa gugup. Dulu saat masih bekerja di rumah Satya pernah sekali saat Belva masih menjadi anggota baru di rumah besar itu, ia melakukan kesalahan dan Satya menatap tajam pada Belva hingga gadis itu ketakutan.


"Jangan berpura-pura tak mengenalku Belva. Kamu tetaplah Belva yang sama keponakan Bibi Rohimah. Bagaimana bisa kamu masih mengenali Bibi Rohimah sedangkan kamu melupakanku hemm ?"


"Aku tahu kamu hanya berpura-pura bukan ? Kenapa kamu menghindar dariku ?" Tanya Satya yang matanya masih fokus menatap Belva.


Bingung dengan situasi seperti ini Belva tak bisa menjawab untuk saat ini. Alasan dirinya harus menghindari Satya adalah demi kebaikan anak-anak nya dan mengubur dalam-dalam kejadian kelam yang membuat hidup dan hatinya hancur.


Belva menghindar dari Satya, ia memilih melangkahkan kaki untuk menjauhi Satya. Berada dekat dengan Satya membuat dadanya sesak.


"Mau kemana." Satya mencekal pergelangan tangan Belva.


"Lepas ! Apa yang anda lakukan Tuan Satya. Lebih baik anda pergi dari rumah saya !" Ucap Belva dengan sedikit berteriak.


"Sst... Apa kamu mau membangunkan Kaili ?"


Belva terdiam berusaha melepaskan cekalan tangan Satya. Pria itu menarik Belva menuju ruangan yang tidak bisa di dengar oleh Kaili. Dia tak ingin Kaili terganggu oleh pembicaraan mereka.


"Lepas !!" Pinta Belva.


"Diam !" Ucap Satya tegas.


Satya sembarang memasuki ruangan dan ruangan yang dimasukinya adalah kamar Budhe Rohimah yang terletak di bagian belakang dekat dapur. Satya menutup pintu itu dan menguncinya.


Belva ketakutan saat ini Satya membawanya ke kamar dan hanya berdua saja. Memorinya teringat saat Satya memaksa mencium dirinya lima tahun yang lalu. Setelah itu tak tahu lagi apa yang terjadi hingga mereka bisa tidur bersama.


Melihat Belva yang ketakutan, Satya merasa bersalah. Tapi dirinya terpaksa melakukan hal itu agar Belva tak menghindar darinya. Sedari tadi Belva terus saja mengusir dirinya jika tidak maka perempuan itu yang akan menghindar.


"Belva... Maaf bukan maksud saya membuat mu ketakutan."


"Duduk lah..." Ucap Satya menyuruh duduk di atas ranjang.


Belva merasa itu tidak akan aman maka dirinya tetap memilih berdiri.


"Belva..."


"Keluarkan aku dari sini... Anda mau apa Tuan Satya. Saya bisa melaporkan anda ke polisi atas perlakuan anda." Ucap Belva panik. Belva bahkan sudah melempar benda-benda yang anda di kamar Budhe Rohimah.


"Tenang Belva... Saya tidak akan menyakitimu." Ucap Satya menenangkan tapi wanita itu tetap saja panik dan berusaha melemparkan barang-barang ke arah Satya.


Tak ingin semakin kacau, Satya terpaksa membuka kembali kamar itu. "Oke... Tenang. Lihatlah pintunya sudah terbuka."


Belva langsung berlari keluar kamar Budhe Rohimah dan masuk ke dalam kamarnya sendiri mengunci pintu rapat-rapat. Satya mengejar tapi wanita itu terlalu cepat memasuki kamarnya.


Merasa belum menyelesaikan permasalahannya. Satya lebih memilih duduk menunggu di ruang tamu sampai wanita itu keluar dari kamar. Hampir satu jam menunggu tak ada tanda-tanda Belva keluar kamar.


Dengan lancang seakan rumah itu adalah miliknya, Satya masuk ke dalam kamar Kaili. Matanya memindai seluruh kamar bocah itu, dia melihat kamar itu sama seperti kamar anak-anak pada umumnya dengan gambar-gambar khas anak-anak. Dengan dua ranjang kecil dan satu ranjang besar. Ruangan itu tampak sempit. Satya juga melihat ada barang-barang milik wanita. Barang-barang milik Bella yang dikira Satya milik Belva.


Satya mendekati Kaili yang terlelap di atas ranjang berwarna abu-abu. Wajah itu terlihat damai saat tidur, wajah tampan seperti dirinya. Tak ingin mengganggu tidur Kaili Satya lebih memilih duduk di ranjang Kaila yang berwarna pink berseberangan dengan ranjang Kaili. Ditatap lekat wajah putranya, tak menyangka jika dirinya memiliki anak laki-laki yang tampan seperti keinginannya dulu saat membina rumah tangga.


****


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Terima kasih para readers ku yang masih setia membaca hingga bab ini. Mohon maaf jika masih banyak kekurangan dalam penulisannya.

__ADS_1


Terima kasih atas support teman-teman, like dan komennya terima kasih sekali. Semoga sehat selalu dan lancar rejeki. β˜ΊοΈπŸ€²πŸ˜‡


__ADS_2