
Jordi telah membawa Sonia bersama anak buah Jordi di suatu tempat yang asing menurut Sonia. Wanita itu tak pernah menginjakkan kaki di tempat itu selama hidup bersama dengan Satya.
Wajah dan tubuh Sonia memang terdapat banyak luka akibat tamparan serta cakaran dari Belva. Jordi memerintahkan anak buahnya untuk mengobati luka-luka Sonia.
"Jordi kamu membawaku kemana ini ?" Tanya Sonia.
"Sudalah tidak usah banyak bertanya. Masih beruntung saya menyelamatkanmu dari buasnya Nona Belva."
"Nona ? Babu rendahan itu kamu panggil Nona ? Cih... Apa otak mu sudah gila ?" Ucap Sonia dengan nada sinis.
"Berkacalah sebelum berbicara Nyonya."
"Untuk apa ? Kamu pikir wanita itu adalah wanita baik-baik ? Bahkan dia menggoda suamiku saat aku tak ada di rumah hingga mengandung anak-anak sialan itu."
Jordi tertawa sinis pada Sonia. "Seharusnya calon Nyonya Balakosa tak melewatkan bagian mulut."
Sonia mendelik kesal dan marah pada Jordi. Asisten Satya itu yang dulu terkesan diam tak banyak bicara padanya kini justru terlihat semakin berani membalas ucapan Sonia.
"Awasi wanita ini jangan sampai dia kabur atau kalian bisa menggantikan nya dengan mengunjungi neraka lebih dahulu."
"Baik Tuan, kami akan menjaganya dengan ketat."
"Bagus." Ucap Jordi yang langsung pergi meninggalkan tempat itu.
Tak ingin berlama-lama di tempat yang tak menarik baginya. Pria itu memilih kembali ke kantor, menyelesaikan pekerjaannya yang masih menumpuk.
Meski Sonia berteriak memanggil dirinya karena meninggalkan wanita itu di tempat asing itu tapi Jordi tak perduli sama sekali.
Waktu terus berjalan, sore sudah menyapa penduduk bumi. Belva masih tertidur di atas ranjang empuknya. Satya sudah terbangun dan kini pria itu sudah berdiri di balkon apartemen nya. Benda pipi yang mampu menembus waktu dan jarak yang jauh sekalipun itu kini menempel di telinga Satya.
"Bagaimana ?" Tanya Satya.
"Wanita itu sudah di tempat yang aman Tuan, nanti jika semua sudah selesai kita baru bisa menjelankan rencana selanjutnya." Ucap Jordi.
"Bagus... Saya tidak mau mendengar wanita itu kabur atau lepas."
"Aman Tuan." Ucap Jordi tegas.
Panggilan terputus, Satya masih menatap ponselnya untuk mengecek beberapa pesan yang masuk. Pria itu masih berdiri dengan bertelanjang dada. Hembusan angin sore sedikit terasa menerpa kulit putihnya.
Belva mulai membuka matanya sesekali mengerjap menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam penglihatannya. Ditengoknya ranjanh yang ada di samping, Satya tidak ada.
"Kemana dia ?" Batin Belva.
Wanita itu bangkit dan bersandar di kepala ranjang. Tak lama Satya sudah kembali masuk.
"Sayang, kamu sudah bangun ? Masih mengantuk ?" Tanya Satya mendekati Belva.
Pria itu berdiri di samping Belva. Tangannya mengusap-usap lembut kepala Belva. Pertanyaan Satya hanya dijawab dengan sebuah gelengan oleh Belva.
"Anak-anak masih tidur ?" Tanya Belva.
"Emm... Masih. Mereka tidak datang mengganggu waktu kita tidur pasti mereka belum bangun."
"Mau minum ?" Tawar Satya.
"Biar aku ambil sendiri." Jawab Belva.
"Tetaplah disini, saya yang akan mengambilkan untuk mu."
Belva tak ingin berdebat, ia hanya pasrah saja membiarkan pria yang sebentar lagi menjadi suaminya itu mengambil air minum untuknya.
"Sudah beberapa hari aku dan anak-anak tak pulang. Pasti Budhe kesepian di rumah." Gumam Belva.
Satya masuk dengan membawa satu gelas air putih. "Sedang memikirkan apa ?" Tanya Satya.
"Ini minum dulu." Satya menyodorkan air minum pada Belva.
Seperempat gelas air minum yang Belva minum. Diletakkan gelas itu di atas nakasa samping ranjang.
"Aku merindukan budhe. Pingin pulang."
Satya tersenyum melihat Belva yang sedikit merengek. Mengekspresikan perasaannya saat merindukan Budhe Rohimah.
Tangan kekar Satya terulur mengusap pipi Belva. "Besok kita ke rumah Budhe, sekalian saya mau membicarakan perihal pernikahan kita."
"Kenapa tidak sekarang saja ?" Tanya Belva.
Satya kembali tersenyum. "Apa.kamu sudah tidak sabar menjadi istri saya ?"
"Iishh... Maksud aku kenapa tidak sekarang ke rumah Budhe nya. Baru besok datang lagi membahas masalah itu." Ucap Belva dengan sedikiy cemberut dan raut wajah yang terlihat manja.
"Kamu masih sakit, sayang. Harus banyak-banyak istirahat dulu."
"Ck... Aku sehat Om. Tangannya yang luka bukan berarti aku tidak bisa jalan dan pergi kemanapun."
__ADS_1
"Sayang, berhenti memanggil seperti itu. Tidak lucu calon istri masa panggil Om."
"Lah memang kenapa ? Kan sebelumnya juga kamu biasa aja tidak protes." Ujar Belva dengan santai.
"Bukan tidak protes tapi protes sama kamu itu percuma dibilangin jangan panggil Om masih saja panggil om." Gerutu Satya.
"Kan kadang juga dipanggil Daddy. Kenapa ribet sih Om."
"Om... Om... Om... Panggil sayang kek, panggil mas atau apa gitu yang mesra dong sayang."
"Ini ceritanya ngambek begitu ? Tolong deh Om sudah tua tidak usah pakai ngambek segala."
"Ck... Yang mesra gitu loh yank jangan Om terus panggil nya. Kamu lupa gara-gara panggil saya Om terus, kamu dikira keponakan saya." Ucap Satya kesal.
"Dih... Ngambek beneran. Tidak usah seperti itu. Serius ini ke rumah budhe nya besok ? Tidak bisa sekarang saja ?" Tanya Belva.
"Tidak." Jawab Satya singkat.
"Tapi aku kangen sama Budhe Om. Sekarang saja ya kita pulang ke rumah aku nya."
"Ada syaratnya." Ujar Satya.
"Apa ? Jangan aneh-aneh." Ujar Belva.
"Panggil sayang atau mas biar tidak dikira jalan sama keponakan."
"Ck... Iyaaa..." Ujar Belva gemas.
"Iya apa ? Kamu kalau sama saya suka tidak jelas jawaban nya." Protes Satya.
"Iya tidak panggil Om lagi tapi kalau tidak kelepasan ya. Susah Om mengubah kebiasaan."
"Tuh kan Om lagi panggil nya. Gimana tidak susah orang kamu suruh belajar mengubah panggilan saja tidak mau."
"Sudah ah... Mandi dulu. Aku siapkan bajumu." Ucap Belva yang ingin mengalihkan pembahasan yang pasti tidak akan ada habisnya.
Satya masih terdiam ditempatnya tak melakukan apapun yang dikatakan boleh Belva.
"Maaass... Cepat dong mandi. Keburu malam nanti ke rumah aku nya."
Belva sudah mulai kesal dan geregetan dengan sikap Satya yang saat ini berubah sskali dihadapan Belva. Lebih hangat tapi sedikit berlebihan. Satya yang dingin dan cuek hampir tak terlihat saat ini dihadapannya.
"Nah begitu dong yank kan lebih enak di dengar. Ya sudah saya mandi dulu, kamu siapkan baju saya." Ujar Satya. Belva mengangguk.
Sebelum pergi ke kamar mandi Satya terlebih dahulu mencuri ciuman dari bibir wanita cantik itu. Sontak saja Belva langsung berteriak kesal.
Cup...
"Oomm...!!" Teriak Belva kembali setelah Satya kembali mengcup bibirnya.
"Akan terus berulang jika kamu masih memanggil saya dengan sebutan Om dan teman-temannya."
Satya hendak mencium Belva kembali tapi wanita itu buru-buru menutup mulutnya. Pria itu kini sedang merasa berbunga-bunga. Seperti seorang anak SMA yang tengah jatuh cinta.
"Mau apa ? Sudah mandi cepat jangan cium-cium. Kamu bau belum mandi."
"Bagian mana yang bau kalau kamu tidur saja masih bisa nempel sama saya."
Belva memutar bola matanya malas. Talk sebenarnya dirinya merasa malu karena benar adanya saat tidur dirinya merasa nyaman menempel pada dada bidang Satya..
"Mandi atau tidak ? Kalau tidak biar aku yang mandi. Aku sama anak-anak mau pulang sekarang sendiri. Kamu tidak usah ikut."
"Iya mandi... Bareng saja yuk yank." Ujar Satya.
Belva langsung menatap tajam Satya yang membuat pria itu hanya bisa tersenyum kaku dengan memperlihatkan gigi yang tertata rapi. Sarya masuk ke dalam kamar mandi setelah drama kecil yang mereka lakukan. Mulai dari sebuah panggilan hingga pencurian ciuman.
Pakaian Satya sudah disiapkan oleh Belva di atas ranjang. Tak lupa Belva juga merapikan tempat tidur. Setelah Satya keluar kamar mandi baru bergantian dengan dirinya yang harus membersihkan tubuhnya yang lengket.
Sembari menunggu Belva selesai membersihkan diri, Satya memilih keluar kamar menuju kamar Duo Kay. Membangunkan kedua anak kembarnya.
Satya dengan sabar membangun Duo Kay dan membantu mereka membersihkan diri. Semua dilakukannya demi membantu meringankan pekerjaan Belva sebagai seorang ibu.
Kehadiran Duo Kay banyak mengubah sisi kehidupan Satya. Pria yang dingin dan cuek yang selalu memperlihatkan wajah nya yang minim ekspresi serta arogan pada waktu-waktu tertentu. Kini berubah menjadi pria yang hangat dan penuh kelembutan jika berhadapan dengan Duo Kay dan Belva.
Sesuai permintaan bva yang sudah sangat merindukan Budhe Rohimah. Maka Satya membawa bidadari nya dan kedua anaku mengunjungi rumah minimalis Belva.
Celoteh riang kini sudah kembali menghiasi mobil Satya. Duo Kay sudah bisa terlihat ceria dan melupakan apa yang pernah terjadi di Butik Belva.
Kedatangan Belva yang tiba-tiba itu langsy mendapatkan sambutan hangat dan bahagia dari budhe Rohimah.
"Nduk... Sayang cucu-cucu nya Uti kalian datang." Budhe Rohimah memeu Duo Kay bersamao dan bergantu dengan memeluk Belva.
"Belva rindu sama Budhe. Jadi, kita kesini budhe."
"Iya Uti... Kuta juga rindu sama Uti. Aku juga merindukan kamar ku." Ujar Kaila.
__ADS_1
"Ayo Kaila kita ke kamar kita." Ajak Kaili yang langsung bersemangat berlari menggandeng Kaila menuju kamarnya.
Ketiga orang dewasa itu hanya tersenyum dan menggelengkan kepala melihat tingkah laku si kembar.
"Ayo duduk... Budhe ambilkan minum ya."
"Tidak usah Budhe, Belva ambil sendiri. Belva bukan tamu budhe loh."
"Iya kamu bukan tamu budhe tapi disini ada nak Satya. Budhe mau ambilkan minum buat nak Satya."
"Sudah Budhe. Biar Daddy nya Kay aku saja yang ambilkan. Budhe duduk saja disini."
Belva sudah berdiri dari sofa, di depan budhe Rohimah wanita itu masih malu memanggil Satya dengan sebutan Mas. Masih merasa canggung dan tak terbiasa.
"Sayang, kopi saja ya." Pinta Satya tanpa ada rasa malu sedikitpun di hadapan budhe Rohimah.
Budhe Rohimah sedikit terkejut mendengar panggilan Satya pada Belva. Tapi ia merasa senang jika Satya yang mantan majikan bisa menerima Belva dan juga Duo Kay saat ini.
Saat Belva menuju dapur membuatkan minuman untuk nya. Satya tak mau membuang waktu, dia akan mengungkapkan apa yang harus ia sampaikan pada budhe Rohimah.
"Bu... Ada yang ingin Satya bicarakan dengan ibu." Ujar Satya.
"Ada apa nak ? Sepertinya ini sangat serius."
"Iya mamang ini serius Bu... Tapi kita tunggu Belva dulu."
Permasalahan ini adalah masalah antara dirinya dan juga Belva jadi keduanya tetap harus terlibat dalam pembahasan masalah penting itu.
Satya tak bisa menunda lagi, jika saat ini adalah kesempatan untuk berkunjung ke rumah minimalis Belva, maka hari ini juga Satya akan memanfaatkan waktu itu untum memperlancar niatnya.
"Om... Ini kopinya." Ujar Belva yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Satya.
Belva langsung tersasu atas panggilannya terhadap Satya. "Emm... Daddynya Kay... Coba kopinya apa gula nya masih kurang ?"
Belva berbasa-basi mencoba mengendurkan tatapan tajam Satya.
"Hem... Terimakasih Mam. Coba Mami duduk sini, ada yang mau Daddy bicarakan sama ibu juga." Satya menepio sofa kosong yang ada di sampingnya.
Lagi-lagi tanpa malu dan canggung Satya memanggil Belva dengan sebutan Mami dan menyebut dirinya senu dengan sebuah Daddy dihdapo Budhe Rohimah.
Wanita paruh baya itu merasa sedikit terkekeh geli di dalam hati melihat tingkah Satya yang selama ini tak pernah dilihatnya sebelumnya.
"Nduk... Duduklah dulu. Nak Satya bilang katanya ada yang mau disampaikan. Memang ada apa ?"
Belva sudah paham pasti Satya akan menyampaikan kesepakatan mereka tadi siang. Ia mengambil posisi duduk di samping Satya.
Baru saja pembahasan akan dimulai. Bella sudah kembali ke rumah dengan wajah lelahnya. Wanita itu habis melakukan lerjalay yang cukup jauh ternyata untuk mendatangi pabrik kain.
"Budhe... Bella pulang."
"Kak Vanthe... Tuan Satya... Kalian disini pantas saja ada mobil Tuan Satya di depan." Ujar Bella.
"Nduk, kamu baru pulang ? Sini duduk." Ajak budhe Rohimah.
"Bella, kami baru saja datang. Kamu pasti lelah melakukan perjalanan yang cukup jauh." Ucap Belva.
"Seperti itulah... Tapi kak, tadi aku dengar di butik ada masalah. Apa kakak baik-baik saja ?" Ucap Bella.
Belva dan Satya saling menatap. Mereka tidak ingin membahas permasalahan di butim tapi Bella justru membahas nya di depan Budhe Rohimah.
"Nduk, ada masalah apa ?" Tanya Budhe Rohimah.
"Tidak Budhe, tidak perlu dipikirkan. Hanya maslaah kecil." Ucap Belva.
"Tapi kak kenapa ada karyawan yang harus masuk ke rumah sakit jika masalah itu hanya masalah kecil ?" Tanya Bella.
"Rumah sakit ?" Tanya Belva yang belum mengetahui jika salah satu karyawan nya masuk rumah sakit akibat di dorong oleh Sonia.
"Ekhem..." Satya berdeham.
Pria itu tahu semua yang terjadi di butik Belva termasuk karyawan yabg terluka akibat ulah Sonia. Lebih baik semua memang harus dibicarakan dengan terbuka agar tidak ada kesalahan pahaman nantinya.
Satya menceritakan apa yang terjadi di butik Belva. Cerita sesuai fakta yang tak dikuranginya dan tak dilebihkan nya. Budhe Rohimah tentu cukup cemas mendengar cerita yang dilontarkan oleh Satya. Wanita tua itu tahu bagaimana watak dan sifat Sonia yang selalu nekat melakukan apapun untuk mempertahankan dirinya atau untuk mempertahankan apa yang diinginkannya.
"Kamu tidak apa-apa Nduk ? Budhe takut jika Nyonya Sonia akan melakukan hal yang lebih nekat lagi kepadamu atau kepada Kaila dan Kaili." Ucap Budhe Rohimah dengan raut wajah cemasnya.
"Ibu... Ibu tenang saja. Keponakan ibu ini bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas. Sonia bahkan kalah oleh Belva tadi."
Satya tersenyum saat mengingat apa yang dilihatnya tadi. Awalnya cukup terkejut dengan apa yang Belva lakukan tapi dirinya justru merasa bangga karena Belva bisa mempertahankan diri.
****
To Be Continue...
Hai my dear para readers ku...
__ADS_1
Love... Love... banget buat kalian yang masih setia support πβΊοΈπ
Thanks buat Vote nya, Like nya, komen nya dan gift nya. Hal yang luar biasa menyuntikkan semangat untuk author ,ππ