
Satya menggandeng tangan Belva duduk di sofa ruang tamu, pria itu mengambil salep anti memar. Tak ingin wajah cantik Belva terganggu dengan pipinya yang memar akibat tamparan Sonia.
Sebelum dioleskan salep itu, tangan Satya meraup wajah Belva dengan kedua tangan kekarnya. Menatap wajah cantik itu, wajah yang benar-benar cantik alami. Yang baru Satya sadari saat malam pertemuan mereka saat pesta pernikahan putri Tuan Maxim.
"Pasti perih dan sakit." Ucap Satya. Ibu jarinya mengusap lembut pipi bekas tamparan Sonia.
Belva meraih tangan Satya untuk melepaskan dari wajahnya. "Jangan berlebihan, aku tidak apa-apa."
Kembali diraihnya tubuh yang lebih kecil dari tubuh pria itu. Satya memeluk Belva erat, dia merasa tidak rela jika ada yang menyakiti wanitanya. Belva terdiam, ia merasakan degup jantung nya berdetak lebih cepat.
"Jantungku kenapa selalu seperti ini ? Tapi aku sekarang sudah tidak takut lagi dengannya. Ini bukan karena takut tapi kenapa seperti ini." Batin Belva.
Entah dirinya tak mengerti apa yang disedang di rasakan nya saat ini. Ia hanya diam saja merasakan hal yang tak mampu dipahaminya.
"Maaf aku tidak bisa melindungi mu tadi." Ucap Satya masih merasa menyesal.
"Om, sudahlah aku tak apa-apa ini hanya hal kecil. Aku bahkan pernah mendapatkan hal yang lebih dari ini waktu lalu."
"Ya... Saat kalian berkelahi di mall saat itu bukan ?"
"Kamu mengetahuinya ?" Tanya Belva melepaskan diri dari pelukan Satya.
Satya mengangguk. "Video itu tersebar luas bahkan sampai sedikit menggangu privasi saya."
"Aku tak tahu mengapa istri dan anak mu berperilaku seperti itu denganku."
"Mereka bukan lagi istri dan anak saya. Hanya Kaili dan Kaila, anak-anak kita. Sampai kapan pun hanya mereka yang menjadi anak-anak saya. Dan adik-adik mereka nanti."
"Dan tentu saja hanya kamu yang akan dan selamanya menjadi istri saya." Bisik Satya pada Belva yang wajahnya sudah mulai mendekat pada Belva. Hanya dengan jarak satu sentimeter saja jarak wajah mereka.
Jantung Belva semakin berdetak kencang. Matanya bergerak tak fokus dan sedikit melebar.
Tak sadar entah sejak kapan bibir Satya sudah menempel pada bibir seksi milik Belva. Pria itu mulai ******* lembut bibir Belva. Semakin lama semakin terasa lembut, wanita cantik itu mulai terbuai dengan apa yang Satya lakukan. Perlahan mata Belva menutup merasakan kelembutan yang Satya berikan. Meski tak membalas Satya terus saja ******* yang akhirnya mampu menerobos masuk ke dalam ruang mulut Belva. Merasakan bibir, lidah serta seluruh rongga mulut Belva.
"Hhmmpph..." Belva mendorong dada Satya agar menjauh. Oksigennya sudah mulai menipis.
"Hah... Hahh..." Napas wanita itu terengah.
Wajah Belva memerah, ia merasa malu dengan apa yang baru saja terjadi. Ciuman yang cukup lama lagi-lagi ia dapatkan untuk kedua kalinya dari Satya. Ia menundukkan wajahnya tak berani menatap Satya.
"Angkat wajahmu, sayang." Bisik Satya. Tangannya mengangkat dagu Belva. Tapi pandangan mata Belva masih menatap ke arah bawah.
Satya kembali ******* Belva, pria itu seakan masih saja ingin dan terus merasakan manisnya bibir ibu dari anak-anaknya.
"Balas lah, sayang." Bisik Satya lalu kembali melanjutkan kegiatannya.
Seperti terhipnotis, apa yang Satya katakan mampu merasuk ke dalam otak dan pikiran wanita itu. Belva mencoba membalas ciuman dari Satya meski terasa sangat kaku bagi Satya.
Maklum saja wanita itu tak pernah mengenal seorang laki-laki dalam sebuah hubungan yang lebih serius hingga pernah melakukan hal-hal seperti itu. Pernah merasakan sebuah ciuman di bibir saja pertama kali hanya bersama Satya itupun secara paksa saat itu.
Hal itu berlangsung hingga beberapa menit dan akhirnya Satya menghentikannya karena merasa wanitanya sudah mulai mendorong dadanya kembali. Lagi-lagi pipi wanita itu merona merah, semakin malu karena ia ternyata terbuai oleh Satya.
Satya tersenyum manis, melihat wajah malu wanitanya. Baginya Belva sudah menjadi miliknya meski belum benar-benar sah. Perlahan namun pasti Satya yakin jika Belva akan jatuh ke dalam pelukannya. Mereka akan hidup bersama dengan kedua anak mereka. Didekap kembali tubuh Belva, dia tahu Mami Duo Kay itu ingin sekali menyembunyikan wajah menghindar karena rasa malunya.
"Saya bantu oles salep anti memar... hemm ?"
"Aku saja, aku bisa." Ucap Belva lirih. Wanita itu masih menyembunyikan wajahnya di dada bidang Satya. Ia tak sanggup jika nanti menatap wajah Satya. Pastinya bayangan adegan tadi masih terngiang dengan sangat jelas di pikirannya.
"Ini kenapa jantung si Om berdetak kencang seperti ini. Sama seperti jantungku." Batin Belva yang mampu mendengar detak jantung Satya yang sama kencangnya dengan dirinya.
Satya masih membiarkan Belva berada dalam dekapan dadanya sampai wanita itu melepaskannya sendiri. Cukup lama Belva tak memberikan tanda-tanda ingin menyudahi pelukan mereka.
"Apa kamu terlalu nyaman sayang ?" Ucap Satya yang memulihkan kesadaran Belva. Sontak wanita itu menjauhkan tubuhnya.
"Ehm... Ma-maaf..." Lirih Belva.
Ia merasa tak enak hati karena sudah memeluk Satya begitu lama. Tapi lain dengan Satya yang merasa sangat senang dapat memeluk Belva.
"Tak masalah, apapun untukmu sayang." Ucap Satya.
Satya membuka salep anti memar. "Kemarilah, biar saya oles salep untuk mu."
Dengan lembut dan perlahan salep itu di oleskan pada pipi mulus Belva. Meski terasa sedikit nyeri karena tamparan Sonia cukup keras.
"Sudah... Berisitirahatlah di kamar." Ujar Satya.
__ADS_1
"Kamu akan kembali ke kantor ?" Tanya Belva.
"Tidak, saya akan disini bersama kalian. Ayo kita ke kamar."
Satya menarik tangan Belva dengan lembut. Wanita itu tak memberontak terkesan menurut saja. Ada perasaan malas untuk berdebat saat ini, lagipula perilaku Satya terhadapnya mampu membuatnya nyaman terlebih saat dirinya sedang dalam keadaan tak baik-baik saja.
"Tidurlah sayang." Ucap Satya.
Setiap kali Satya memanggil nya dengan sebutan sayang, rasanya hati Belva terasa riuh seperti suasana orang-orang yang tengah merayakan tahun baru. Campur aduk tanpa mampu dimengerti oleh dirinya. Bukan kesal tapi ada rasa senang yang ia rasakan.
Satya melepas kemejanya hingga terlihat tubuh kekarnya. Memperlihatkan betapa pria itu memang rajin berolahraga dan benar-benar menjaga tubuhnya. Belva tak sadar terus menatap tubuh Satya. Pria itu melirik Belva, hanya senyuman kecil yang Satya berikan serta gelengan kepala.
Langkah kakinya menuju lemari untuk mengambil kaos oblong miliknya. Setelah memakai itu tak lupa dirinya mengambil celana pendek selutut miliknya. Tidak dipakai nya secara langsung tapi disampirkan di pundaknya.
"Kamu bisa melihatnya setiap hari nanti jika tinggal bersama saya." Ucap Satya yang entak sejak kapan sudah berada di samping Belva. Mengusap lembut kepala Belva, ketulusan dan rasa sayang tercurah dalam usapan lembut itu.
Belva terkejut, tapi Satya justru tersenyum melihat reaksi wanita itu. Dia berlalu menuju kamar mandi untuk mengganti celana panjangnya dengan celana pendek yang telah dibawanya.
****
Usaha juga sedang dilakukan oleh Alya saat ini untuk berusaha mencari keberadaan Jack. Wanita itu masih berada di apartemen Andrew. Belum ada keputusan untuk membawa wanita itu ke kantor polisi. Andrew masih berusaha bernegosiasi dengan Jordi agar tak membawa dulu Alya ke kantor polisi mengingat kondisi Alya saat ini.
"Lapaskan aku !!" Teriak Alya memberontak untuk keluar dari apartemen mencari Jack.
Jordi datang bersama Andrew ke apartemen milik Andrew. Sahabatnya itu berulangkali minta pada dirinya agar memberikan keringanan untuk Alya hingga kondisi wanita itu membaik.
"Kamu lihat sendiri, jika seperti itu terus menerus maka kondisinya akan semakin menurun dan itu membahayakan kondisi janinnya."
"Yang benar saja... Kamu membawa gadis itu ke apartemen mu. Kamu tak takut jika istrimu tahu ?" Jordi mengangkat satu alisnya menatap Andrew.
Andrew menghela napas. "Jangan katakan kamu akan melaporkan nya pada istriku.
"Itu bisa saja terjadi." Ucap Jordi cuek dan santai.
"Oh ayolah Jordi... Aku hanya membantunya, itu saja. Kalian bahkan seperti membuang gadis itu tanpa mau tahu bagaimana kondisinya."
"Bukan membuang tapi lebih tepatnya melepaskan apa yang harus dilepaskan. Kamu seorang dokter pasti kamu akan paham jika perumpamaan nya adalah organ ginjal yang dicangkok pada tubuh pasien mu bukanlah ginjal yang sebenarnya milik pasien mu dan kenyataannya adalah ginjal itu justru akan memperparah kondisi pasien mu. Lalu apa yang akan kamu lakukan ? Membiarkannya atau melepas kembali organ ginjal itu ?"
Andrew tentu sangat paham akan contoh perumpamaan yang diberikan boleh Jordi. Pasti tidak akan mengambil resiko untuk tetap mempertahankan ginjal cangkokan itu.
"Jika resikonya akan membuat nyawa pasien mu melayang dalam waktu yang cepat ?" Tanya Jordi kembali melanjutkan perumpamaan nya.
Oke... Andrew kalah. Dirinya tak akan bisa merubah keputusan bos dari sahabatnya itu. Jika sampai dirinya memaksa, sudah pasti Jordi akan kesal dan bisa saja pria itu yang akan membuat dirinya berada dalam masalah karena harus berhadapan dengan dua orang sekaligus yaitu Satya dan juga istrinya.
"Terserah, aku sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi. Jika kalian akan membawa gadis itu, maka silahkan. Aku lepas tangan jika kalian membawanya." Ujar Andrew.
Jordi berjalan mendekati Alya yang tengah meronta-ronta dari cengkraman kedua polisi yang ditugaskan untuk menjaga wanita itu.
"Om... Om Jordi... Tolong aku. Aku ingin pulang ke rumah hiks..." Alya mengiba pada Jordi yang selama ini mereka tak pernah bertegur sapa.
Tak ada salahnya toh menurut Alya, Jordi adalah asisten Daddy nya itu berarti pria itu juga sudah pasti akan menolong dirinya.
"Tenang saja, Nona Alya... Anda akan keluar dari apartemen ini." Ujar Jordi dengan nada tenang. Wajahnya dibilang datar juga tidak hanya menatap Alya biasa saja.
"Benarkah ? Aku sudah bosan terkurung di tempat ini. Aku ingin pulang, aku ingin mencari kekasih ku."
Jordi mengkode kedua polisi itu agar melakukan tugas mereka. Kedua pria itu membawa Alya keluar dari apartemen.
"Mari Nona kita pergi dari sini." Ujar salah satu polisi berpakaian preman itu.
Mereka berjalan keluar apartemen. Mbak Sari dam juga Andrew hanya bisa menatap kepergian Alya.
"Aku pergi dulu. Pekerjaanku di kantor sudah menantiku. Sebaiknya kamu kembalilah bekerja." Jordi menebuk bahu Andrew lalu pergi meninggalkan sahabatnya.
Tak habis pikir Andrew pada sahabatnya itu. Tidak merasa kasihan pada Alya yang kondisinya menurut pengamatan dirinya sebagai seorang dokter masih harus membutuhkan penanganan.
Dalam perjalanan Alya pun kembali bingung, jalannya tak menuju jalan kembali ke rumahnya.
"Kemana kalian akan membawaku ?" Tanya Alya.
"Kita akan pergi ke tempat yang seharusnya sejak kemarin kita kembali, Nona."
"Tapi ini bukan jalan menuju rumah ku."
Kedua pria itu tak lagi membalas ucapan Alya. Mobil sudah masuk ke dalam pelataran kantor polisi. Alya semakin bingung dengan kening yang mengkerut.
__ADS_1
"Mari turun, Nona." Satu polisi membuka pintu mobil untuk Alya.
"Kenapa kesini ?" Tanya Alya yang masih bingung.
"Sudah, turun saja dulu Nona nanti anda akan mengerti."
Wajah bingung Alya tampak jelas sekali. Tapi tak urung dirinya tetap turun dari mobil. Kedua polisi itu menggiring Alya untuk masuk ke dalam kantor polisi.
"Apa dia sudah bisa ditahan ? Kalian sudah membawanya kemari." Tanya salah satu kawan anggota itu.
"Tunggu apa maksudnya ini ?" Tanya Alya.
Salah seorang polisi memberikan surta penahanan untuk Alya. Penahanan sementara sampai pemeriksaan selesai dilakukan dan keputusan hukuman dijatuhkan.
"Tidak, kenapa kalian menahanku. Aku tidak bersalah !!! Kalian salah sasaran." Ucap Alya menolak histeris.
"Tenang Nona, percobaan pembunuhan yang anda lakukan terhadap korban Kaila hal itulah yang membuat anda harus ditahan guna pemeriksaan kasus ini."
"Kaila ? Siapa ? Aku tak mengenal perempuan itu." Ujar Alya yang memang tak mengenal na tersebut.
"Kaila putri dari Tuan Satya, anak kecil yang anda tabrak tempo hari hingga membuat anak itu sempat kritis dan informasi lainnya adalah tidak hanya satu korban yang luka parah melainkan ada korban lain yang sampai saat ini masih dalam keadaan koma."
"Tuan Satya ? Maksud kalian siapa ?" Tanya Alya yang masih syok atas penahanan dirinya hingga otak liciknya yang selalu cepat terkoneksi untuk merencanakan kejahatan itu kini sedang dalam loading lambat.
"Tuan Aryasatya Balakosa yang membuat laporan ini."
Mata Alya membulat sempurna. Daddy nya sendiri yang melaporkan dirinya. Dan tadi polisi itu juga mengatakan Kaila putri Satya.
"Anak kecil ? Kaila ? Maksudnya bocah kecil anak wanita kampung itu ? Jadi, ini karena anak wanita kampung itu Daddy tega melaporkan diriku." Batin Alya bergumam tak percaya. Semakin timbul kebencian untuk Belva. Ia merasa semakin lama gara-gara Belva dirinya menjadi sengsara.
Pikiran dan hati wanita itu memang sudah dikendalikan oleh iblis. Tak ada kata menyesal atas apa yang menimpa dirinya sendiri justru semua itu semakin memupuk kebencian dari dalam dirinya.
Sementara Alya ditahan di kantor polisi, saat ini Sonia sedang ber di rumah sakit untuk menjenguk putrinya yang sudah ditinggalkannya berhari-hari akibat sekapan dari kekasihnya sendiri.
Ia berjalan menuju ruangan dimana Alya sempat dirawat sebelum keluar dari rumah sakit. Wanita itu tak mengetahui jika Alya sudah keluar beberapa hari yang lalu bahkan mungkin sudah hampir satu minggu.
Ceklek... Pintu Sonia buka dengan cepat hingga membuat orang yang berada di dalam kamar rawat tersebut terkejut.
Demikian Sonia juga merasa terkejut dan bingung. Ia menatap satu persatu orang yang ada di dalam ruangan tersebut. Tak ada yang dikenalinya. Terlebih di atas ranjang bukanlah putrinya.
"Anda siapa ?" Tanya orang yang ada di dalam ruangan tersebut.
"Justru seharusnya saya yang tanya kalian siapa ? Bukankah ini ruangan anggrek nomor sepuluh ?" Ucap Sonia.
"Iya benar, anda siapa ? Kami adalah keluarga pasien yang sedang berbaring di sana." Ucap keluarga pasien sembari menunjuk pasien yang tengah berbaring.
"Nyonya... ?" Sapa seorang perawat wanita yang mengenal Sonia sebagai keluarga dari pasien yang pernah dirawat di rumah sakit tersebut.
Sonia menoleh ke sumber suara. "Ada apa ini ?" Tanya perawat.
"Sus, dimana putri saya dipindahkan ? Apa terjadi sesuatu dengan putri saya ?" Tanya Sonia cemas.
"Ohh putri anda sudah keluar beberapa hari yang lalu Nyonya. Apakah anda belum tahu ? Putri anda bahkan pernah menanyakan keberadaan anda."
"Sudah keluar sus ?" Sonia memastikan. Dan suster itu mengangguk.
"Sudah Nyonya."
"Terima kasih sus." Ucap Sonia.
"Sama-sama Nyonya, saya permisi."
Suster itu pergi, Sonia terdiam begitu juga keluarga pasien yang tak dikenal itu juga diam memperhatikan saja.
"Maaf, apa masih ada urusan lain Nyonya ?" Tanya keluarga pasien tak dikenal itu.
"Ah tidak, maaf saya salah kamar." Sonia sedikit mengangguk lalu pergi begitu saja.
****
To Be Continue...
Si om kalau mau olesin salep oles aja kali Om gosah nempel-nempel juga 😂😂🤭
Terima kasih selalu buat kalian yang masih support author. Yang masih kasih komentar, like dan juga vote. Daaaan yang masih kawal Satya Belva menuju halal terima kasih buanyaaakk 🙏🙏🙏
__ADS_1