
Kabar bahagia tapi menegang pun menghampiri Jordi pasalnya sebelum keberangkatan Satya ke Paris menghadiri acara pernikahan Marko dan Azura perusahaan Bala Corp memang sedikit mengalami masalah dalam proyek pembangunan resort. Seseorang yang telah berani menggelap dana pembangunan tersebut rupanya telah berhasil diselidiki oleh Jordi. Karyawan penggelapan dana sudah tertangkap tapi sayang berhasil kabur kembali atas bantuan seseorang.
Dari hasil penyelidikan berkembang membuat Jordi mengetahui bahwa ada seseorang yang menjadi dalang dibalik penggelapan dana tersebut meski belum mengetahui dengan jelas apa motif dari tindakan yang sudah masuk ke dalam kriminal itu. Satu panggilan masuk ke dalam ponsel Jordi dengan nomor yang tak dikenalnya.
"Hallo, maaf ini siapa?" Tanya Jordi.
Seseorang yang berada di seberang telepon terkekeh mendengar pertanyaan Jordi.
"Hallo Jordi, bagaimana kabarmu? Aku dengar kamu berhasil menangkap Ferdy."
Deg...
Terkejut dan tiba-tiba kening Jordi mengerut. Seseorang di seberang telepon mengetahui apa yang dilakukannya dan apa hubungan orang tersebut dengan karyawan Bala Corp.
"Siapa ini? Apa maksudmu?" Tanya Jordi.
"Siapa saya? Itu tidak penting sekarang, bagaimana kabar bos-mu ada dia biasa saja atau terkejut dengan perbuatan Ferdy? Oohh aku turut prihatin."
Ucapan yang berakhir dengan tawa remeh dari pria misterius tersebut membuat Jordi kesal dan jengkel dengan orang tersebut.
"Katakan apa tujuanmu menghubungiku?" Ucap jordi dengan tegas.
"Hanya ingin memastikan bagaimana kabar kalian. Aku rasa kalian belum bangkrut bukan hahaha."
"Entah siapa kamu, tapi saya yakin kamu ada hubungannya dengan Ferdy. Saya akan pastikan bahwa saya akan segera mencarimu."
"Hahaha yayaya kamu benar. Aku tunggu pertemuan kita nanti. Sampaikan pada bos-mu apa yang Ferdy lakukan itu baru peringatan kecil."
"Kurang ajar! Pecundang seperti mu memberikan sebuah peringatan kecil tapi asal kamu tahu hal itu tidak berpengaruh apapun untuk Tuan Satya."
"Oh ya? Tenang saja peringatan kedua pasti akan membuatmu bekerja keras, Jordi. Hahaha."
Tuuutt.... Tut...
Sambungan telepon tersebut tiba-tiba mati karena diputus secara sepihak oleh orang misterius tersebut.
"Hallo!! Hallo!!"
"Siyal!! Siapa orang ini sebenarnya." Gumam Jordi dengan perasaan kesal dan jengkel.
Jordi langsung menghubungi karyawan bagian IT yang terbiasa melacak nomor ponsel yang digunakan oleh seseorang. Tak lama karyawan tersebut datang ke ruangan Jordi.
"Tuan memanggil saya?"
"Ya kemarilah, saya butuh bantuan mu. Tolong lacak nomor ponsel ini."
Jordi memberikan nomor ponsel yang baru saja menghubungi dirinya kepada karyawan itu. Tanpa menunggu waktu lama salah satu pekerjaan yang sudah menjadi hal mudah bagi karyawan tersebut langsung dikerjakan.
"Tuan maaf, nomor tidak bisa terlacak. Nomor ini sudah tidak aktif lagi."
"Bagaimana bisa? Nomor ini baru saja menghubungi ku."
"Tapi nomor ini sudah tidak aktif, dan data-data yabg menggunakan nomor ini adalah fiktif."
"Fiktif? Maksudmu? Bukankah pengguna nomor ponsel menggunakan data kependudukan?" Ucap Jordi.
"Benar Tuan tapi sepertinya dia memang sengaja menggunakan data orang lain yang telah meninggal dunia dan belum sempat mengurus surat kematian sehingga data tersebut masih dalam status aktif atau masih hidup." Jelas karyawan Bala Corp.
Jordi tampak berpikir keras kali ini, orang yang baru saja menghubungi pastilah salah dibalik masalah perusahaan mereka. Dan pasti kaburnya pelaku penggelapan pun atas dasar bantuan dari pria misterius itu. Sudah menjadi tugasnya selama Satya masih berada di Paris untuk mengatasi masalah yang ada di perusahaan. Untuk saat ini Jordi tidak akan memberitahukan pada Satya sampai dirinya benar-benar berhasil menemukan orang tersebut atau justru dirinya sudah merasa buntu.
***
Kepulangan Satya dari rumah sakit rupanya belum diketahui oleh Tuan dan Nyonya Hector. Pasangan yang baru saja mendapatkan kabar bahagia itu masih beristirahat tidur bersama di dalam kamar mereka.
Menjelang sore hari waktunya Nyonya Hector kembali ke rumah hari ini karena sejak pagi sampai siang wanita paruh baya itu memantau secara langsung perkembangan butiknya lalu melanjutkan untuk melakukan pertemuan dengan teman-teman sosialitanya. Nyonya Hector kini telah sampai di rumah sedangkan Tuan Hector masih ada keperluan di kantornya. Ada rapat penting yang mengharuskan pria paruh baya itu hadir.
"Nyonya, anda sudah pulang?" Sapa Jasmine saat membukakan pintu untuk Nyonya Hector.
"Iya Jasmine, apakah putriku dan menantuku sudah pulang?" Tanya Nyonya Hector.
"Sudah Nyonya sejak tadi siang."
"Di mana mereka?"
"Mereka ada di kamar sejak pulang tadi karena Tuan kecil dan Nyonya kecil keduanya tidur siang dan sampai sekarang bangun."
"Baiklah, saya ke kamar dulu. Seperti biasa buatkan saya teh hangat dan antar ke kamar ya."
"Baik Nyonya."
Nyonya Hector masuk ke dalam kamarnya, meletakkan tas jinjing miliknya di atas nakas dan berganti pakaian. Direnggangkannya otot-otot tubuhnya yang terasa pegal beraktivitas hampir satu hari ini.
Jasmine mengantarkan teh hangat pesanan majikannya. Ia masuk ke dalam kamar setelah mendapatkan persetujuan dari pemilik kamar. Setelah itu Jasmine keluar dari kamar majikannya.
Tak lama kemudian Tuan Hector pun sudah kembali ke rumah. Raut lelah terlihat di wajahnya yang sudah mulai terlihat berkeriput meski masih tampak sisa ketampanannya di masa mudanya dulu. Saat memasuki kamar ternyata istrinya sudah berada di sana duduk di sofa kamar mereka.
"Ma, sedang apa kamu? Biasanya jam segini berada di taman belakang." Ucap Tuan Hector.
Nyonya Hector langsung menoleh ke arah suaminya.
"Papa sudah pulang? Mama masih lelah baru saja beristirahat."
"Apa kamu baru saja pulang?" Tanya Tuan Hector.
"Ya, dua puluh menit yang lalu. Bagaimana keadaan kantor?"
"Cukup baik, tidak ada masalah apapun. Hanya rapat bulanan seperti biasanya."
"Kamu terlihat lelah, beristirahatlah sejenak. Mandi? Kusiapkan air hangat untukmu." Ujar Nyonya Hector yang masih menatap suaminya.
Tuan Hector melepaskan jas hitam yang semakin menunjukkan wibawa dan ketampanannya di usia senja.
"Nanti saja, kamu juga baru pulang bukan? Oh iya bagaimana keadaan Satya, Papa tidak sempat mampir ke rumah sakit karena terlalu lelah."
"Mereka sudah pulang, Pa. Tadi siang keluar dari rumah sakit. Mama sempat menjenguk tapi ternyata pihak rumah sakit mengatakan jika Satya sudah pulang."
"Ah syukurlah, kasihan Kaila dan Kaili kalau Vanthe dan Satya terus berada di rumah sakit. Bagaimana hasil akhir pemeriksaannya?" Tanya Tuan Hector.
"Mama belum tahu, mereka masih beristirahat di kamar. Nanti saja saat makan malam kita tanyakan pada mereka."
Tuan Hector mengangguk, melihat suaminya yang duduk setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian santai lantas Nyonya Hector hendak pergi ke dapur guna membuatkan teh hangat untuk suaminya.
"Zeta, mau ke mana?" Tanya Tuan Hector.
__ADS_1
"Ke dapur, aku akan membuatkanmu teh hangat."
"Tidak usah, milikmu saja jika tidak keberatan untuk kuminum." Ucap Tuan Hector.
Nyonya Hector tersenyum dan menggelengkan kepala. "Minumlah jika kamu menginginkannya. Aku akan mandi terlebih dahulu, nanti kusiapkan air untukmu mandi."
Tuan Hector mengangguk, setelah istrinya pergi memasuki kamar mandi pria paruh baya itu beralih berdiri menatap keluar kaca jendela dari dalam kamarnya. Dia menatap cahaya yang sudah mulai redup dan berganti dengan beberapa lampu yang sudah mulai menyala.
Duo Kay yang dikira masih tidur ternyata kedua bocah itu sudah bangun sejak satu jam yang lalu. Mereka tidak rewel saat ini karena memang sangat jarang sekali kedua anak kembar itu rewel. Justru mereka saat ini sibuk sendiri bermain di dalam kamar bersama mainan yang sudah tersedia di sana. Terlebih selama kedua orang tuanya sibuk di rumah sakit Tuan Hector membelikan mereka mainan agar tak terfokus menjadi Belva maupun Satya. Otomatis mainan baru itu menjadi pengalih perhatian untuk mereka.
Di kamar lain, Belva mulai membuka matanya. Tubuhnya merasa ada beban berat menimpa bagian perut hingga ke bawah sampai kaki. Saat matanya sudah benar-benar terbuka, rupanya tangan kekar sang suami melingkar sempurna pada pinggang hingga perutnya. Tak hanya tangan kekar itu saja tapi kaki satya juga menopang di atas kaki Belva, pria itu memeluk Belva sama seperti saat memeluk guling. Terasa sangat nyaman dengan posisi seperti itu membuat Satya enggan berpindah posisi.
Belva berusaha menyingkirkan kaki dan tangan Satya, kaki panjang Satya berhasil diturunkan oleh Belva. Berganti kini tangan yang melingkar itu berusaha disingkirkan oleh Belva tapi nyatanya nihil. Satya justru terganggu dengan pergerakan tersebut, kelopak matanya terbuka.
"Ada apa, sayang?" Tanya Satya dengan suara seraknya sehabis bangun tidur.
"Bergeserlah, mas. Aku harus bangun, ini sudah sore. Sudah saatnya membangunkan anak-anak dan membantunya mandi sore."
"Sebentar lagi, yank. Mas masih ingin memelukmu." Pinta Satya yang semakin erat memeluk istrinya.
Satya menghirup dalam-dalam aroma tubuh sang istri. Aroma tersebut semakin membuatnya merasa lebih tenang.
"Mas, kita sudah mengabaikan mereka selama tiga hari, kasihan jika mereka terus mencari kita. Bergeserlah, aku harus ke kamar mereka."
Apa yang dikatakan oleh Belva memang benar, sudah beberapa hari mereka sedikit mengabaikan dua bocah kembar itu. Satya merasa kasihan juga pada anak-anaknya, dia tidak bisa egois menahan Belva untuk dirinya sendiri.
"Baiklah, ayo kita ke kamar mereka." Ajak Satya.
"Mas mau ikut? Apa sudah lebih baik sekarang?"
"Mas sudah merasa lebih segar saat ini, entahlah mas juga bingung. Kemarin lemas sekali sekarang tidak lagi."
"Ya sudah, ayo kita keluar." Ucap Belva.
Satya dan Belva kini keluar dari kamar mereka untuk menghampiri kamar Duo Kay. Hanya melangkah beberapa kali saja mereka sudah sampai di kamar Duo Kay. Tak ada kedua bocah itu di ranjang melainkan gelak tawa terdengar dari pojokan kamar.
"Kaila... Kaili... Kalian sedang apa?" Tanya Belva.
"Mamiiii!!!" Teriak Duo Kay memanggil Mami mereka.
Mainan yang sedari tadi menjadi perhatian mereka kini kembali tergantikan oleh kehadiran Belva. Kaila dan Kaili berlari menghampiri Belva dan memeluk wanita cantik itu.
Belva tersenyum senang mendapatkan tingkat kedua anaknya yang terlihat sangat merindukannya. Memang mereka tak benar-benar berpisah secara khusus, Belva masih bisa bertemu mereka saat Satya berada di rumah sakit tapi hanya sebentar saja paling lama lima belas menit saja. Belva membalas pelukan kedua anaknya dengan penuh sayang.
"Daddy, Daddy sakit apa?" Tanya Kaili beralih memeluk kaki Satya.
"Hai boy. Kamu merindukan Daddy? Daddy hanya kelelahan saja." Ucap Satya.
Kaili melepaskan pelukannya pada Satya dan mendongak menatap Daddy nya.
"Kenapa tidak istirahat di rumah saja kalau kelelahan. Kenapa harus di rumah sakit."
Satya tersenyum, niatnya ikut menemui kedua anaknya juga untuk memberitahukan pada mereka bahwa mereka akan segera memiliki adik.
"Mau dengar cerita Daddy?" Ucap Satya. Pria itu berusaha membuat suasana obrolan mereka seringan dan sesantai mungkin agar mudah di terima oleh kedua anaknya.
"Cerita apa Daddy?" Tanya Kaila penasaran.
"Iya cerita apa?" Tanya Kaili yang tak kalah penasaran.
"Sayang, ayo anak-anak Mami kita dengarkan cerita Daddy tapi ada syaratnya." Ucap Belva.
"Apa syaratnya, Mami?" Tanya Kaila.
"Syarat yang pertama, kita mandi dulu karena ini sudah sore dan cerita yang akan Daddy berikan nanti bisa jadi sangat panjang dan membutuhkan waktu yang lama."
Duo Kay saling melirik dan tampak berpikir.
"Iya benar kata Mami, kalian harus mandi dulu baru nanti Daddy akan bercerita pada kalian. Ayo Daddy bantu mandikan kalian." Ucap Satya ikut membujuk putra putrinya.
"Emm... Oke. Ayo kita mandi." Ucap Kaili.
"Let's go!!" Ujar Satya penuh semangat agar kedua anaknya juga bersemangat untuk mandi sore.
Satya mempersiapkan semua kebutuhan mandi Kaila dan Kaili. Dia tak ingin istrinya terlalu lelah karena masih hamil muda. Satya memandikan Duo Kay sedangkan Belva menyiapkan pakaian untuk anak-anaknya.
Berbagi tugas memang tidak membuat Satya keberatan karena mengurus anak-anak adalah tugas dan tangung jawab Satya dan Belva sebagai orang tua bukan hanya Belva sendiri saja karena berperan sebagai seorang ibu.
Selesai dengan mandi dan mengganti baju, kini keempat orang dalam keluarga kecil itu duduk di atas ranjang.
"Daddy katanya mau bercerita setelah kita mandi." Ucap Kaila menagih janji Satya.
"Iya Daddy cerita tapi sini cium dulu, sudah wangi atau belum."
Satya langsung mencium Kaila hingga gadis kecil itu terkekeh karena geli, Kaili pun tak luput dari serangan Satya yang merasa gemas dengan kedua anaknya. Belva tersenyum melihat kehangatan keluarga kecil mereka.
"Begini, ada yang mau Daddy ceritakan pada kalian tapi kalian harus tetap sayang dengan Mami dan Daddy jika tidak nanti Daddy dan Mami akan sedih." Ucap Satya dengan ekspresi yang dibuat sedih.
"Iya kita tetap sayang Mami dan Daddy." Ucap Kaili.
"Janji?" Satya memastikan dengan jari kelingkingnya.
Belva hanya menjadi pendengar kali ini ia membiarkan suaminya yang turun tangan terlebih dahulu.
"Janji, Daddy." Ucap Kaila.
"Iya janji." Ucap Kaili.
"Janji dulu dong sama Mami." Ucap Satya.
Duo Kay menautkan kelingkingnya pada kelingking Satya dan kemudian beralih pada kelingking Belva.
"Janji, Mami." Ucap Kaila.
"Iya sayang." Ucap Belva tersenyum mengusap kepala putrinya.
"Kaili juga janji sama Mami."
"Iya, Nak. Ayo kita dengarkan cerita Daddy." Ujar Belva.
Satya sudah mempersiapkan diri dan kalimat yang harus diucapkannya pada anak-anaknya.
"Begini sayang. Kalian senang kan kalau ada adik bayi nanti?" Ucap Satya memancing respon dan reaksi Duo Kay.
__ADS_1
Kedua bocah itu terdiam sembari berpikir sejenak.
"Adik bayi? Memang nanti ada adik bayi?" Tanya Kaila dengan wajah polosnya.
"Iya sayang, nanti beberapa bulan lagi akan ada adik bayi di rumah kita. Ila dan Ken suka atau tidak?" Tanya Satya.
"Suka nanti bisa main-mainan sama adik bayinya " Ujar Kaila.
Kaili masih terdiam sedari tadi hanya menunjukkan responnya.
"Kakak Ken kenapa? Tidak suka ya?" Tanya Belva dengan raut wajah sedikit masam.
Satya menatap raut wajah Belva yang terlihat sedih. Perlahan tangan Satya mengusap lembut punggung sang istri Belva langsung menatap sang suami dengan senyum tipisnya menampilkan jika dirinya baik-baik saja.
"Aku... suka kok. Memang dari mana adik bayinya?" Tanya Kaili. Sejak tadi pria kecil itu berpikir dari mana kedua orang tuanya mendapatkan adik bayi.
Satya dan Belva saling pandang mereka belum siap menjawab pertanyaan tak terduga seperti itu dari anak mereka.
"Emm... adik bayinya Tuhan yang kasih, Nak. Nanti dititipkan di perut Mami." Jawab Satya.
"Hah? Kok tidak langsung di antar ke rumah saja?" Tanya Kaili.
Satya dan Belva tersenyum mendengar kalimat dari putra mereka. Belva langsung mengambil ponselnya yang tadi dibawa saat menuju kamar Duo Kay.
"Tidak sayang, adik bayinya nanti dititipkan di perut Mami seperti ini." Belva menunjukkan foto dirinya saat hamil besar dulu mengandung Duo Kay.
"Ini dulu ketika di perut Mami ada Kaili dan Kaila, Tuhan menitipkan kalian di perut Mami supaya kalian tidak kedinginan sampai kalian benar-benar menjadi anak yang kuat baru kalian lahir, sayang." Ucap Belva mencoba memberikan pengertian pada kedua anaknya dengan cara yang mudah mereka mengerti.
"Ooohh begitu, oke besok adik bayinya perempuan seperti Kaila atau laki-laki seperti aku?" Tanya Kaili yang kini raut wajahnya sudah tersenyum.
"Belum tahu, sayang. Nanti kita harus periksa ke dokter dulu untuk mengetahui laki-laki atau perempuannya." Jawab Belva.
"Jadi, kalian suka kan jika nanti ada adik bayi? Kalian senang kan?" Tanya Satya berharap penuh.
Kaili mengangguk dan Kaila tentu saja lebih memilih menyuarakan jawabannya. Sedari tadi memang gadis kecil itu sudah menunjukkan ekspresi senangnya saat membicarakan akan hadirnya adik untuk nya.
"Iya suka, Kaila maunya perempuan biar nanti bisa main sama-sama."
"Laki-laki saja nanti aku ajak gambar rumah dan main bola." Ujar Kaili.
"Mami, kalau dua boleh? Perempuan dan laki-laki biar aku ada temannya Kaili juga ada temannya." Ucap Kaila.
Belva tersenyum pada mereka. "Kita lihat nanti ya, kita tidak bisa memilih, Nak. Karena semua itu tergantung Tuhan mau kasih perempuan atau laki-laki. Yang penting itu nanti adik bayinya sehat dan kuat seperti kalian." Ujar Belva.
Duo Kay langsung mengangguk setuju seakan mengerti dengan ucapan Mami mereka. Satya dan Belva tampak lega mendengar jawaban anak-anak mereka yang ternyata menerima kehadiran seorang adik bagi mereka.
Makan malam pun tiba, keluarga Tuan Hector kini sudah berkumpul bersama di meja makan. Semua makanan sudah terhidang dengan rapi dan terlihat menggugah selera makan.
Seperti biasa Nyonya Hector akan melayani suaminya begitupun Belva yang melayani Satya lalu melayani kedua anaknya barulah terakhir dirinya sendiri. Mereka tampak santai dalam menikmati makan malam mereka.
Belva dan Satya sengaja memberikan kabar bahagia itu setelah makan malam selesai. Tidak akan baik jika nanti kabar bahagia mereka bisa membuat kedua orang tua mereka tersedak makanan. Tak butuh waktu lama dalam menikmati makan malam mereka.
"Satya bagaimana keadaan mu? Bagaimana hasil pemeriksaan kesehatan mu apakah ada sakit dalam tubuhmu?" Tanya Tuan Hector.
"Pa, mas Satya tidak sakit." Ucap Belva.
"Maksudnya?" Tanya Tuan Hector.
Nyonya Hector hanya diam memperhatikan pembicaraan. Dalam hatinya sudah main tebak-tebakan sendiri.
"Dari hasil pemeriksaan dokter saya tidak ada penyakit apapun yang saya derita, Pa." Ujar Satya.
"Lalu?" Tanya Tuan Hector.
"Pa... Ma... Jadi begini, ada yang ingin kami sampaikan pada kalian." Ucap Satya.
"Apa?" Tanya Nyonya Hector yang sedari tadi diam.
"Opa... Oma... Kaila juga ada yang mau disampaikan." Ucap Kaila yang tiba-tiba menimbrung percakapan antara kedua orang tuanya dan Opa Oma nya.
"Apa sayang?" Tanya Nyonya Hector.
Satya dan Belva memperhatikan putri mereka karena mereka juga penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh Kaila.
"Kata Daddy dan Mami kita mau punya adik bayi yang di titipkan di perut Mami." Ucap Kaila.
Satya dan Belva tersenyum, rupanya putrinya mereka mendahului kabar bahagia yang akan mereka sampaikan.
Tuan dan Nyonya Hector memandang heran pada kedua orang tua Duo Kay.
"Apa yang ingin kami sampaikan sudah didahului oleh cucu kalian." Ucap Satya dengan santai dan dengan senyum tipisnya.
Mata kedua paruh baya itu membulat kala Satya pun mengukuhkan apa yang disampaikan boleh Kaila.
"Benarkah? Sayang?" Tanya Nyonya Hector heboh.
Belva mengangguk dan tersenyum. Nyonya Hector langsung berdiri dari duduknya, matanya berkaca-kaca ia memeluk Belva yang masih duduk di kursi meja makan.
"Ooh selamat sayang. Aku akan memiliki cucuk lagi." Ucap Nyonya Hector.
"Terima kasih, Ma. Van juga bahagia tak menyangka akan secepat ini diberikan kepercayaan kembali untuk mengandung."
"Jaga baik-baik sayang kandunganmu. Cucu keluai Hector harus selalu sehat dan kuat."
"Mama tenang saja, Satya akan menjaga cucu Mama dan Papa." Ujar Satya.
Tuan Hector tersenyum, dia juga bahagia mendengar kabar bahagia ini. Anggota keluarga nya akan bertambah kembali. Pria paruh baya itu menepuk pundak Satya.
"Selamat, kamu akan menjadi Ayah lagi. Papa ikut bahagia atas kabar gembira ini."
"Terima kasih, Pa." Ucap Satya tersenyum.
Menjadi Ayah kembali adalah suatu kebahagiaan yang tak terkira yang Satya dapatkan kembali dalam pernikahannya kali ini. Betapa beruntungnya dirinya mendapatkan Belva. Kebahagiaan yang telah lama dirinya harapkan. Keinginannya untuk mendapatkan momongan diusianya yang tak lagi muda terkabulkan.
****
To Be Continue....
*Hai my dear para readers ku tersayang
Terimakasih banyak atas support kalian sampai saat ini 🙏🙏
Terimakasih banyak juga buat Like, Komen, Kembang setaman dan Vote dari kalian yang luar biasa menambah semangat author. 🙏🙏
__ADS_1
Tunggu kejutan kecil dari author di akhir bulan yaaa. Jika view mencapai 1 juta khusus buat kalian yang paliiing setia hingga masuk* Rangking 3 besar kategori readers paling support.
Terimakasih. Sehat selalu, bahagia selalu dan semangaaatt 🔥🔥🔥