
Rumah sakit yang selalu tak pernah sepi dari pengunjung, banyak yang berjalan keluar masuk entah berobat entah mengantar entah pula menjenguk dan menjaga sanak keluarga yang tengah sakit. Beruntung bagi mereka yang mendapat perhatian dan rasa peduli yang berlebihan dari anggota keluarga.
Malang bagi seorang perempuan yang tengah terbaring tanpa seseorang yang mau menjaganya. Sampai saat ini Alya masih terbaring koma, detak jantung nya masih berfungsi hanya saja alam bawah sadarnya dan anggota tubuhnya yang lain masih lemah tak terkoneksi dengan baik antara alam bawah sadar dan seluruh saraf serta anggota tubuh yang lain.
Sampai saat ini yang selalu peduli sibuk keluar masuk rumah sakit itu hanyalah Noella. Jack setelah mengetahui kenyataan bahwa bayi Alya adalah benar anak kandungnya justru masih merasa terpukul dan kecewa dengan dirinya sendiri, pria itu tak bersedia hanya sekedar menjenguk anak nya sendiri.
Walaupun keadaan mereka terasa sedikit rumit tapi Noella masih bersedia masuk ke dalam ruangan khusus Alya. Memakai pakaian khusus saat menjenguk ibu muda yang tengah koma itu.
"Aku tak tahu siapa yang benar di antara kita. Kecewa yang aku rasakan mungkin juga kamu rasakan. Entah siapa yang jahat di sini tapi semua sudah terjadi. Bangunlah, anakmu membutuhkan mu." Ucap Noella lirih Alya.
Meski dirinya tahu jika ucapannya tak akan mendapatkan respon apapun tapi jujur rasa sakit dan kecewa itu datang bersamaan dengan rasa iba saat ini.
"Setelah kamu sadar, maaf aku tidak akan melepaskan Jack untukmu. Meski dengan alasan anakmu maka kalian harus bersama tapi aku tidak akan mengalah." Ucap Noella kembali.
Noella keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang campur aduk. Ada rasa bersalah tapi dirinya tam ingin mengalah. Sebab dari awala dirinya sudah memberikan peringatan pada Alya dan juga Jack bahkan suaminya sendiri sudah berjanji dihadapannya. Tapi mau bagaimana lagi sebagai manusia memang tak pernah bisa terhindar dari kesalahan dan kekhilafan.
Langkahnya kaki yang berbalut sepatu mahal itu kini melangkah menuju ruangan khusus bayi. Ia tak pernah mau memasuki ruangan itu karena masih merasa takut dan hatinya perih, bayi itu terlalu kecil dan ringkih. Dari kaca jendela luar ruangan Noella menatap ke arah dalam.
"Semoga kamu bertahan hidup. Aku berdoa agar Tuhan memberikan mu kekuatan untuk terus berjuang dan berkembang dengan baik." Gumam Noella saat matanya terus menatap ke arah tubuh bayi mungil yang terbaring di dalam inkubator.
Hampir setengah jam perempuan itu hanya berdiri menatap bayi mungil yang terlihat lemah dengan berbagai alat medis. Tangan kecilnya beberapa kali bergerak menggeliat dengan selang yang terpasang di tangan mungil itu.
Untuk bayi mungil itu Noella hampir setiap hari menyempatkan diri datang berkunjung meski hanya setengah jam saja. Sebagai rasa tanggung jawabnya atas bayi itu karena bayi itu adalah anak kandung suaminya.
Puas menatap bayi yang belum bernama itu, Noella memilih untuk kembali ke rumahnya. Seperti biasa setelah menjenguk bayi itu perasaannya selalu tak menentu, semua itu hanya dirasakannya sendiri tanpa bercerita pada siapapun termasuk suaminya sendiri.
Niatnya pulang terhenti saat beberapa team medis kalang kabut berlarian menuju satu titik yang diyakini Noella begitu mengenal ruangan tersebut. Sejenak ia terpaku pada beberapa orang yang terngah berlari dengan wajah serius tersebut.
"Alya..." Gumam Noella.
Ia langsung berlari menuju ruangan Alya, memastikan apa yang terjadi hingga banyak team medis bergegas masuk ke dalam ruangan Alya.
"Suster, ada apa ini?" Tanya Noella.
"Nyonya Alya tiba-tiba saja kritis."
"Kritis? Bagaimana bisa?"
"Maaf kami kurang paham, saya permisi dulu ke dalam Nona." Pamit suster.
Rasa khawatir tiba-tiba menyelinap masuk ke dalam hati Noella. Baru saja dirinya berharap Alya bisa segera sadar tapi kini keadaan perempuan itu justru kritis. Noella tanpa berpikir panjang lagi langsung menghubungi suaminya.
Menunggu team medis keluar menangani Alya beberapa saat Jack akhirnya datang. Langkahnya cukup lebar untuk mendekati sang istri.
"Honey, ada apa?" Tanya Jack khawatir.
Saat istrinya menghubunginya tadi terdengar suara Noella yang khawatir dan cemas.
"Alya kritis." Jawab Noella.
Jack terdiam tak menjawab tapi otaknya sudah memproses jawaban dari istrinya. Hanya saja lidahnya terasa kelu untuk sekedar bertanya.
"Jack, ada yang ingin aku bicarakan."
Jack menatap sang istri. "Bicaralah, Honey. Aku akan mendengarnya."
Sejenak Noella terdiam, merangkai kata yang akan ia keluarkan untuk suaminya.
"Kamu dulu sudah berjanji tapi kami melanggarnya sendiri. Apa yang kamu lakukan menghadirkan dia yang saat ini juga berjuang untuk tetap hidup. Apa kamu akan mengabaikannya hingga apa yang menimpa Alya terjadi padanya?"
Kalimat yang menohok hati Jack, apakah dirinya setega itu. Selama beberapa hari ini memang Jack abai pada bayi itu hanya karena masih tak percaya dan merasa kecewa pada dirinya sendiri.
"Jack, aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa jika nanti Alya sadar aku tidak akan membiarkannya bersamamu meski dengan alasan kehadiran bayimu. Maka dari itu belajarlah menerima kehadiran anakmu. Aku tidak ingin Alya terus mengejarmu hanya karena tak mau menerima dan mengakui bayi kalian."
Dua kata terakhir mampu membuat hati Noella terluka. Rumah tangganya bahkan masih dikatakan baru tapi kenyataannya sang suami sudah memiliki anak bahkan sebelum mereka menikah bayi itu sudah hadir tanpa diketahui.
Jack masih belum mengeluarkan suara apapun terkait pembicaraan yang sedang dibahas oleh istrinya.
__ADS_1
Tak lama dokter keluar dari ruangan Alya. Noella dan Jack langsung berdiri dari duduk mereka. Noella langsung menghampiri dokter sedangkan Jack hanya diam berdiri saja sembari memperhatikan sang dokter.
"Bagaimana keadaan Alya, dok?" Tanya Noella.
Dokter terdiam sejenak, rasanya cukup menegangkan dan melelahkan bila harus berkejaran dengan nyawa manusia yang harus segera diselamatkannya. Sudah menjadi tanggung jawab dan kewajibannya sebagai dokter jadi mengeluhpun rasanya kurang pantas. Dokter itu menghela napas melepaskan beban tanggung jawab yang besar.
"Kita harus ikhlas dan bersabar. Mohon maaf kami sudah berusaha keras tapi yang di atas berkehendak lain." Ucap dokter lirih.
Sebagai seseorang yang harus berusaha keras menyelematkan pasiennya tentu hati dan perasaan dokter itu ikut merasakan sedih.
Deg!!!
Perasaan yang sudah campur aduk pun semakin terasa tak karuan. Entah apa lagi yang dirasakan oleh Noella saat ini. Pikirannya kini tertuju pada bayi mungil yang juga masih harus berjuang untuk terus bertahan hidup.
Air mata perempuan itu kini sudah mengalir, tubuhnya tak semangat seperti sebelumnya. Terasa sedikit lemas tak bertenaga, Jack yang mendengar Alya telah tiada pun merasa seperti suara kilatan petir menggelegar tepat di samping telinganya.
Noella terduduk di kursi tunggu depan ruangan Alya. Jack tanpa sadar berjalan mendekati pintu yang terdapat kaca kecil yang bisa menembus hingga ke dalam. Dari jarak jauh Jack melihat tubuh yang dulu pernah dipeluk dan dirasakannya itu tengah diurus oleh team medis, mereka melepaskan alat-alat medis yang terpasang di tubuh wanita itu. Wanita yang kini sudah melahirkan bayi yang terbukti darah dagingnya.
Suster keluar setelah menyelesaikan tugas mereka melepas semua alat-alat medis itu. Jack melangkah mundur dua langkah saat pintu itu terbuka.
"Anda ingin masuk, Tuan?" Tanya suster.
Jack masih diam, mungkin pria itu masih syok mendengar sendiri bahwa laya sudah pergi untuk selamanya. Rasa bersalah muncul begitu saja, tak dapat dipungkiri jika Alya dulu pernah mengisi kehidupannya yang sangat bebas. Hatinya pernah menyayangi wanita itu, sikap manja Alya padanya tiba-tiba berputar di otaknya membuka memori lama yang tak akan bisa hilang selama dirinya masih sadar dan baik-baik saja.
"Jika anda ingin masuk,. segeralah masuk sebelum kami membawa pasien ke kamar jenazah. Saya permisi." Suster berlalu dari hadapan Jack.
Pandangan Jack beralih pada istrinya yang terduduk menangis lirih. Pria itu berjalan mendekati sang istri dan meraih bahu istrinya. Memeluk dengan erat berusaha menenangkan istrinya meski dirinya sendiri kini sudah tidak tenang seperti tadi.
"Honey, jangan menangis. Semua sudah menjadi takdir hidupnya." Ucap Jack lirih.
"Hiks... Aku... Aku mau masuk. Aku mau bertemu Alya untuk yang terakhir kalinya."
"Iya, ayo berdiri kita harus segera masuk sebelum pihak rumah sakit memindahkannya ke kamar jenazah."
Jack memapah istrinya, meraih bahu istrinya dengan erat. Terasa sekali jika Noella saat ini bertumpu pada tubuhnya, berjalan dengan perlahan memasuki ruangan Alya.
"Al, kenapa kamu tak mendengarkan apa.yang aku katakan tadi? Kenapa.kamh menyerah? Bayimu sangat membutuhkan mu." Noella sedikit mengguncang tubuh Alya yang pasti tak akan merespon.
Sakit, hati Jack terasa sakit saat ini. Dia melihat wajah Alya yang pucat dengan mata terpejam saat Noella membuka kain penutup Alya.
"Alya, maafkan aku yang telah menyakitimu hingga seperti ini. Maaf... Maaf jika kata maafku sudah terlambat." Ucap Jack di dalam hatinya dengan menatap wajah Alya.
Perawat kembali masuk ke dalam ruangan Alya, dua orang laki-laki dan dua orang perempuan mendekati mereka.
"Permisi, Nona... Tuan... Kami harus mengurus jenazah pasien terlebih dahulu." Ucap suster perempuan dengan sopan dan lembut.
Seakan tahu bagaimana perasaan dua orang yang dikira suster itu adalah anggota keluarga Alya. Dengan perintah Jack pun mereka membawa memindahkan jenazah Alya dan mengurus segala keperluan untuk pemakaman Alya.
Sembari menunggu jenazah Alya di persiapkan, Jack meminta istrinya untuk menunggu sebentar di rumah sakit sedangkan dirinya langsung pergi meninggalkan rumah sakit. Tujuannya saat ini adalah rumah besar Satya. Sebagai seseorang yang pernah dekat dengan Alya dan mengetahui rumah Alya dulu maka dirinya harus sesegera mungkin mengabari keluarga Alya. Jack tak tahu jika Alya sudah tak lagi menjadi bagian dari keluarga Satya. Pria itu hanya tak tega membawa jenazah Alya ke rumah kontrakan yang tentu tidak ada siapa-siapa.
Tin!!! Tin!!!
Bunyi klakson memang sengaja Jack bunyikan agar satpam rumah Satya keluar. Pak Jajak membuka gerbang dan menghampiri mobil yang tak dikenalnya. Saat Jack membuka kaca mobilnya, barulah Pak Jajak mengerutkan keningnya. Merasa tidak asing dengan wajah pria yang ada dihadapannya.
"Pak..." Sapa Jack.
"Maaf, ada perlu apa ya?" Tanya Pak Jajak sembari mengingat siapa pria itu.
"Pak, boleh saya masuk? Ada hal penting yang harus saya sampaikan. Apa orang tua Alya ada?"
"Aden siapa?" Tanya Pak Jajak.
"Saya Jack yang dulu sering ke sini bersama Alya."
Pengakuan Jack langsung mengembalikan ingatan Pak Jajak.
"Ooohh Den, ada hal penting apa ya kok sampai mau bertemu dengan orang tua Non Alya?"
__ADS_1
"Sangat-sangat penting dan saya harus berbicara langsung pada orang tua Alya. Ada kabar duka yang harus saya sampaikan."
"Kabar duka? Kabar duka apa, Den?" Perasaan Pak Jajak tiba-tiba tidak enak saat mendengar kata kabar duka yang Jack sebutkan.
"Alya... Alya tidak ada, Pak." Jawab Jack.
Pak Jajak tersenyum, "Lah iya, Den. Non ya memang sudah tidak ada di sini."
Tidak ada waktu menjelaskan pada Pak Jajak, fokus Jack adalah dirinya yang harus bertemu dengan orang tua Alya.
"Bisa saya masuk?" Tanpa menunggu jawaban Jack langsung berlari menuju pintu utama.
Pak Jajak terkejut dan langsung mengejar Jack. Di depan pintu utama Jack menggedor pintu dengan sangat kuat hingga menimbulkan suara yang keras mengejutkan penghuni di dalam rumah.
Mbok Yati membuka pintu, penasaran dengan siapa yang menggedor pintu dengan sangat kuat. Wajah Jack terpampang di depan pintu dengan jelas. Mbok Yati mengingat betul wajah Jack yang dulu sering berkunjung.
"Kamu? Untuk apa anda ke sini?" Tanya Mbok Yati sedikit tak suka pada Jack. ingatan pada kejadian lampau mengenai Jack masih tersimpan jelas di otak Mbok Yati.
"Mbok, maaf apa.saya bisa bertemu..."
"Non Alya sudah tidak di sini, jika anda mau bertemu dengannya silahkan cari saja sendiri, kami tidak tahu keberadaannya." Ucap Mbok Yati memotong pembicaraan Jack. Dipikirnya Jack datang untuk bertemu dengan Alya.
"Bukan, saya bukan mencari Alya. Justru saya ingin bertemu dengan orang tua Alya."
"Nyonya Sonia tidak ada di sini. Mereka sudah pergi dari rumah ini."
Jack terdiam sejenak, tak tahu apa yang sebenarnya terjadi tapi itu tak penting bagusnya.
"Daddy nya saya ingin bertemu dengan Daddy nya Alya."
"Mbok, ada apa?" Tanya Belva yang tiba-tiba muncul dari belakang Jack.
Wanita itu pulang ke rumah saat file-nya tertinggal dan harus kembali ke rumah.
Jack, Mbok Yati dan Pak Jajak menatap Belva. Belva yang ditatap lalu mengernyitkan dahinya, ia merasa asing dengan pria yang ada dihadapannya yang jika dilihat usia mereka hampir sama.
"Neng... jam segini sudah pulang?" Tanya Mbok Yati.
"File ku tertinggal."
"Maaf anda siapa ya?" Tanya Belva pada Jack.
"Saya Jack teman Alya." Ucap Jack.
"Oh mau mencari Alya? Dia tidak ada di sini."
"Bukan, saya ingin bertemu dengan Daddy nya Alya."
"Ada apa memangnya?" Tanya Belva penasaran.
"Maaf, saya ke sini membawa kabar duka. Apa Daddy Alya ada? Alya... Alya sudah tiada."
Jack terasa berat saya mengatakan bahwa Alya sudah tiada.
"Maksud nya?" Belva masih tak paham. Takut salah menerima pendengaran.
"Alya sudah meninggal." Ucap Jack lirih dengan wajah sedihnya.
Penghuni rumah Satya langsung terkejut,.mereka membulatkan mata. Tak percaya dengan ucapan Jack.
****
To Be Continue...
Hai my dear para readers ku tersayang
Simak terus nanti bagaimana reaksi Om Satya dan bagaimana nasib anak Alya, tunggu kisah selanjutnya.
__ADS_1
Terimakasih banyak atas support kalian sampai saat ini, author bangga dan bersyukur punya kalian yang yang setia. Terimakasih banyak buat Like, Komen, Kembang setaman dan Vote nya.
Semoga menghibur, bahagia selalu dan sehat selalu. 🙏🙏🙏🙏