
Ditengah keramaian tetap masih merasa sepi. Itulah yang akan kita rasakan saat keadaan hati terasa hampa dan kosong. Sama seperti yang Satya rasakan saat ini. Melihat interaksi Belva, Roichi dan Kaila menyadarkan dirinya bahwa memang tak bisa dipungkiri hatinya kosong selama ini. Tetap merasa sepi disaat dia berada di tengah keramaian.
Menyibukkan diri tenggelam dalam pekerjaan nya itu pilihan Satya agar tak terlalu merasakan bagaimana kosongnya hatinya. Kehadiran Duo Kay mampu mengisi hatinya yang kosong tapi seketika juga hatinya merasa sakit saat melihat wanita yang mampu menarik hatinya sekaligus menjadi ibu dari anak-anaknya telah bersama pria lain.
Satu cangkir kopi menemaninya saat ini di kantin rumah sakit yang perlahan mulai sepi. Mencoba menenangkan sedikit hatinya yang terasa perih. Helaan napas demi helaan napas berulang kali Satya lakukan. Di harus sadar dan tahu diri bahwa dirinya tak bisa memaksa Belva untuk dekat dengannya sama seperti Duo Kay yang harus didekatinya.
Sudah satu jam lebih Satya berada di kantin itu. Duduk menyendiri memikirkan takdir hidupnya yang tak semulus pekerjaannya. Dalam hal bekerja Satya memang mampu menaklukkan setiap proyek yang meraup keuntungan fantastis.
Pria itu beranjak meninggalkan kantin dengan membawa satu cup kopi lagi untuk nya nanti menemani dirinya yang menjaga Kaila. Saat hendak menuju arah ruangan Kaila Satya melihat Roichi keluar dengan langkah tergesa-gesa.
Rupanya Roichi mendapatkan panggilan bahwa dirinya harus kembali ke Jerman malam itu juga. Asisten Tuan Hector yang ada di Jerman mengalami sebuah insiden yang diduga sebuah kesengajaan dari pihak lawan bisini Hector Group. Jadi, Roichi mau tak mau mempercepat kepulangan nya ke Jerman.
Flashback On
Saat ketiga manusia yang tampak seperti keluarga harmonis itu sedang bercanda bersama menghibur Kaila yang sedang sakit tiba-tiba saja ponsel Roichi bersedia. Panggilan masuk dari Tuan Hector yang mengabarkan jika asisten nya yang di Jerman mendapatkan insiden tak terduga yang menyebabkan pria itu harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit. Hanya Roichi yang bisa diandalkan oleh Tuan Hector.
"Baik Tuan saya akan mempercepat penerbangan ke Jerman malam ini juga."
"Terima kasih Roi, hanya kamu yang bisa ku andalkan. Kamu tahu sendiri aku tak lagi setangkas dulu yang mampu bergerak cepat menyelesaikan masalah seperti ini."
"Iya Tuan saya mengerti. Jangan terlalu berat memikirkan nya, jaga kesehatan anda." Ucap Roichi.
Sambungan telepon tertutup.
Belva memperhatikan wajah Roichi yang terlihat berbeda dengan beberapa menit yang lalu. Tampak wajah serius menandakan memang sedang ada masalah serius yang harus Roichi selesaikan.
"Ada apa Om ?" Tanya Belva.
"Saya harus segera kembali ke Jerman. Choky asisten Tuan Hector tak mengalami kecelakaan."
"Kenapa tidak besok saja ?" Tanya Belva.
"Tidak bisa ini sangat urgent. Saya harus segera pergi sekarang atau Tuan Hector akan tahu dimana saya sekarang karena tak segera kembali."
Belva mengangguk paham, benar juga jika Roichi tak segera pergi maka Tuan Hector akan menyelidiki kenapa Roichi tak bergerak cepat.
"Sayang, maafkan Papi karena malam ini Papi harus segera kembali ke Jerman." Ucap Roichi lembut dan hati-hati pada Kaila.
"Loh kan besok Papi perginya kenapa sekarang. Tidak boleh." Kaila merajuk.
"Maaf sayang, Papi harus bantu Opa bekerja. Papi janji besok saat pulang akan bawakan oleh-oleh yang banyak untukmu hemm."
"Janji ? Tidak lama kan perginya ?" Tanya Kaila.
"Janji sayang. Iya Papi tidak lama. Papi berangkat dulu hemm. Menurutlah pada Mami mu. Jangan nakal." Roichi mencium kening Kaila.
Beranjak ke sofa dengan mengenakan pakaiannya kembali secara lengkap. Pria itu bergerak dengan cukup cepat. Belva mengantar Roichi hingga pintu kamar rawat Kaila.
"Hati-hati Om."
"Iya. Kamu jaga diri baik-baik. Saya pergi."
Roichi memeluk Belva sebelum dia pergi dari kamar Kaila. Belva membalas dengan singkat tapi seketika Roichi memberikan kecupan di kepala Belva.
"Saya pergi. Jaga diri baik-baik." Ucap Roichi untuk kedua kalinya dan membuka pintu kamar rawat Kaila. Langkah kakinya tampak sekali jika pria itu terburu-buru.
Flashback off
Satya duduk di kursi yang tadi sempat digunakannya sebelum pergi ke kantin. Kembali sama seperti tadi malam, dia tak masuk ke dalam ruangan Kaila. Takut jika akan menganggu kenyamanan Belva yang tengah menjaga Kaila.
Entah apa yang dilakukan Satya saat ini yang jelas dia hanya ingin membuat Belva merasa lebih nyaman dan aman ketika dia berada di sekitar wanita itu. Dia tahu Belva masih belum bisa menerima kehadirannya. Setiap kali dia muncul Belva selalu menatapnya tak suka dan itu membuat hatinya sedikit sakit jika kehadiran nya tak diterima dengan baik.
Satya akan menjaga dari kejauhan jika memang Belva belum bisa menerima dirinya. Bukan tak ingin berusaha untuk terus maju, tapi dirinya hanya ingin dengan perlahan Belva beradaptasi dengan kehadirannya saja.
Mengusir sepi dan rasa bosan Satya membuka ponselnya. Menatap wajah Kaila dan Kaili yang sempat diambilnya saat mereka tertidur dalam keadaan terpisah Satya mengedit dua foto tersebut dan menjadikan satu.
Bibirnya tersenyum bisa menatap kedua bocah itu. Cukup lama Satya menatap gambar yang berada di layarnya. Hingga kepalanya kembali terasa berdenyut. Disandarkan kepalanya pada tembok dan mulai dipejamkan matanya. Satya tetap tak perduli meski sakit seperti itu dia masih bertahan di rumah sakit.
Malam semakin larut, Belva masih mengerjakan pekerjaannya karena harus mengejar deadline. Kaila sudah tertidur jadi dirinya melanjutkan pekerjaannya. Untuk menahan kantuk Belva berinisiatif membeli kopi di kantin. Mau tak mau wanita itu harus keluar meninggalkan Kaila untuk ke kantin.
Sampai di kantin ternyata sudah tutup. Belva mendesah kecewa karena tak menemukan kopi. Berarti dirinya harus bisa menahan kantuk setengah mati untuk menyelesaikan pekerjaannya.
"Tuan Satya, kenapa dia ada disini ? Apa di tempat ini dia menjaga Kaila ?" Gumam Belva sangat lirih.
Melihat ada yang sedikit berbeda wanita itu mendekat pada Satya. Terlihat jelas wajah Satya yang pucat. Teringat akan percakapan yang sempat didengarkan nya antara Satya dan Jordi tadi siang.
"Jika sakit kenapa harus melaksanakan diri. Aneh." Ucap Belva lirih.
Wanita itu berlalu meninggalkan Satya untuk masuk kembali ke kamar Kaila. Satya membuka matanya dan menatap punggung Belva. Dia mendengar apa yang diucapkan oleh Belva tadi.
"Terserah apa katamu. Saya hanya ingin menjaga putriku." Ucap Satya lalu kembali menutup matanya.
****
Sudah beberapa hari tak sadarkan diri pada akhirnya Alya sadar juga. Saat membuka mata ia melihat sekelilingnya terasa asing baginya. Terdiam beberapa saat barulah ia menyadari jika saat ini dirinya berada di rumah sakit karena beberapa alat menempel pada tubuhnya.
Sungguh miris, disaat keadaan seperti itu tak ada yang menjaga dirinya. Hanya sendiri merasakan sakit pada beberapa bagian tubuhnya. Alya masih lemah untuk berbicara saja masih belum mampu.
Beruntung suster masuk ke dalam kamar rawatnya. Sejak kemarin tak ada yang menjaga maka suster dengan kebaikan hatinya bersedia mengontrol Alya yang hanya seorang diri.
"Nona, anda sudah sadar. Tunggu sebentar saya panggikan dokter."
__ADS_1
Alya hanya terdiam dengan mengerjapkan matanya. Tak lama dokter datang yang tak lain adalah dokter yang sama yang menangani Kaila yaitu dokter Andrew.
"Dokter, dia sudah sadar sejak saya masuk ke dalam ruangan ini." Ucap suster.
"Kita periksa saja dulu sus. Mana keluarganya ?" Tanya dokter Andrew.
"Sejak kemarin tidak ada yang menjaganya dok. Kasihan sekali."
Andrew tahu ini adalah anak Sonia mantan istri Satya. Pria itu pun merasa miris dengan kondisi Alya yang seakan tak dipedulikan oleh keluarganya.
Dokter Andrew memeriksa keadaan Alya. Kondisi gadis itu sudah cukup stabil untuk saat ini hanya saja memang masih lemah.
"Dia sudah cukup stabil, biarkan dia istirahat dulu." Ucap dokter Andrew.
"Baik dokter."
"Saya keluar dulu sus harus cek keadaan pasien yang lain. Saya juga buru-buru harus sampai ke rumah."
"Silahkan dokter." Ucap suster.
Pria berjas putih itu keluar dari ruangan Alya. Seperti kemarin-kemarin ruangan itu masih dijaga oleh dua orang polisi.
"Bagaimana dokter, apakah ada perkembangan dari pasien ?" Tanya salah satu polisi yang menjaga Alya.
"Pasien sudah sadar, tapi masih lemah kondisinya. Mungkin beberapa hari sudah normal kembali. Hanya merawat beberapa lukanya saja nanti." Ucap dokter Andrew.
"Baik terima kasih dokter."
Dokter Andrew sudah tahu jika pasiennya sedang bermasalah. Dia sebagai dokter hanya bisa menjalankan pekerjaannya seperti biasa.
"Nona, beristirahatlah. Saya akan keluar." Pamit suster sebelum keluar dari kamar rawat Alya.
Alya tak menjawab hanya melirik ke arah suster itu saja. "Apa yang terjadi ? Apa anak itu sudah mati ?" Batin Alya bertanya-tanya.
Gadis itu bukan lupa ingatan maka apa yang dilakukannya sebelum dirinya tak sadarkan diri masih bisa diingatnya dengan jelas. Rencana bodoh yang berdampak buruk untuk dirinya sendiri.
Jahat memang gadis itu bahkan dalam keadaan dirinya yang masih sakit pun ia masih sempat memikirkan apakah rencananya dapat berjalan dengan lancar atau tidak. Dia belum tahu jika saat ini dirinya sudah menjadi tahanan polisi.
"Lemas sekali, kenapa jadi aku yang seperti ini. Seharusnya bukan akubyang tersiksa seperti ini." Batin Alya.
Kembali dilihat sekelilingnya tidak ada siapa-siapa. Mommy nya orang yang paling dekat dengannya tidak ada untuk menunggu nya. Bagaimana bisa menunggu jika sampai detik ini saja Sonia masih menjadi tahanan bagi Faris.
Di dalam kamar apartemen Sonia, tergeletak lemas di atas ranjang. Faris benar-benar tak memberikannya ampun selagi pria itu berkeinginan Sonia tak bisa melawan atau dirinya akan mendapatkan pukulan dari Faris.
Sonia menangis saat ini, meratapi apa yang telah menimpa dirinya. Berpisah dari Satya bukan mendapatkan kasih sayang dari pria yang dicintainya justru mendapatkan perlakuan yang tak baik.
"Hikss... Kenapa Faris berubah menjadi seperti ini. Kenapa aku yang menjadi sasaran atas kegagalan ini."
"Aku harus bisa keluar dari apartemen ini. Tidak bisa jika aku harus terkurung di tempat seperti ini."
Dengan keadaan yang lemas karena kelelahan Sonia mencoba untuk membuka pintu kamar itu. Sayang pintu itu terkunci dan Sonia bingung harus membukanya dengan apa.
"Aduh pintunya di kunci. Tidak... Tahan Sonia kamu tak bisa kabur begitu saja. Setidaknya kamu harus membawa bekal saat kabur nanti."
Sonia masih berpikir ulang, jika dirinya kabur begitu saja maka ia akan semakin sengsara karena tak memiliki apapun untuk menjadi pegangan hidupnya nanti.
Yang ada dalam pikirannya sekarang adalah bagaimana bisa kabur dengan membawa barang yang cukup untuk bekal hidupnya nanti. Ia tak bisa hidup bersama Faris lagi, pria yang mungkin sudah menjadi pria gila.
Memanfaatkan waktu yang ada, Sonia mulai mengemasi barang-barang yang akan dibawanya. Selagi pria gila itu tidak ada di apartemen saat ini.
****
Masih mengingat percakapan Jordi dan Satya tadi siang serta melihat wajah Satya yang terlihat pucat tadi. Rasanya Belva menjadi orang jahat jika membiarkan orang lain berada dalam keadaan yang tak baik-baik saja. Sedangkan dirinya mengetahui bahwa orang tersebut seharusnya mendapat pertolongan.
Orang yang tak lain dan tak bukan adalah ayah kandung dari kedua buah hatinya. Belva mutuskan untuk kembali keluar untuk menemui Satya. Di luar ruangan terasa dingin, bahkan Belva merapatkan kardigannya. Jelas saja dingin karena saat ini tengah hujan deras di luar sana.
Tambak Satya melipat tangan di dada dengan kaki kanan bertumpu pada kaki kirinya. Satya terpejam, dia merasa sakit pada kepalanya dan tubuhnya pun terasa sedikit panas.
"Wajahnya pucat sekali." Gumam Belva.
Wanita itu mengulurkan tangan untuk menyentuh bahu Satya, menepuknya sedikit pelan agar Satya terbangun. Kelopak mata yang menutupi manik mata berwarna hazel itu terbuka. Cukup terkejut saat yang ada dihadapannya adalah Belva.
"Tuan, anda baik-baik saja ?" Tanya Belva.
"Ada apa ? Apa ada sesuatu dengan Kaila ?" Tanya Satya khawatir.
"Tidak, Kaila baik-baik saja. Wajah anda pucat, jika sakit kenapa masih disini."
"Lalu saya harus kemana, saya disini untuk menjaga putriku Kaila." Ucap Satya.
Belva menghembuskan napasnya, ia harus mengalahkan egonya saat ini. Tak bisa membiarkan Satya tidur di luar dengan keadaan sakit dan cuaca yang dingin.
"Jaga Kaila di dalam saja." Ucap Belva.
Satya menatap Belva, apa wanita dihadapannya itu benar-benar menawarkan padanya.
"Jika tidak mau ya sudah tidak masalah Tuan." Ucap Belva karena melihat Satya yang tak merespon ucapannya. Belva lalu membalikkan badannya untuk kembali masuk ke kamar rawat Kaila.
"Tunggu." Satya menahan lengan Belva.
Belva berhenti namun tak membalikkan badannya ke arah Satya. Wanita itu hanya menolehkan wajahnya ke samping dengan ekor matanya Belva melirik Satya.
__ADS_1
"Benar saya boleh menunggu di dalam ?" Tanya Satya dan Belva mengangguk.
Satya mengembangkan senyumnya sedikit. Senang rasanya bila Belva sendiri mengijinkannya menjaga Kaila di dalam ruang rawat putrinya.
Mereka berdua akhirnya masuk ke dalam kamar rawat Kaila. Satya membawa satu cup kopi miliknya yang sudah berubah menjadi dingin.
Kepala yang tadinya berdenyut itu teralihkan dengan wajah cantik Kaila. Satya meletakkan kopinya di nakas samping ranjang Kaila.
"Selamat malam putri Daddy, Daddy datang menjagamu disini. Tidurlah yang nyenyak dan mimpilah yang indah sayang." Satya mengecup kening dan pipi Kaila.
Pria itu duduk di kursi samping ranjang Kaila. Mengusap lembut wajah dan berganti pada lengan Kaila. Bersyukur bisa menjaga lagi sedekat ini dengan putrinya.
Dari arah belakang, Belva memperhatikan Satya yang terlihat begitu lembut pada Kaila. Belva merasa tersentuh, Satya yang dalam keadaan sakit masih saja mau menjaga Kaila. Belva tahu dan sadar memang seperti itulah sikap seorang ayah pada putrinya. Pengalaman saat dirinya dulu masih bisa bersama sang ayah, seperti itulah sikap ayahnya dulu padanya.
Dibiarkan Satya menyalurkan rasa sayangnya pada Kaila. Belva tak bisa mencegah itu, justru dirinya sebenarnya merasa senang jika memang Satya benar-benar menyayangi Kaila dan juga Kaili.
Belva kembali melanjutkan pekerjaannya yang masih belum selesai. Rasa kantuk sedari tadi menyerang tapi ia dengan sekuat tenaga menahan kantuknya agar dapat menyelesaikan pekerjaannya.
Beberapa menit berlalu Belva terus saja menguap. Satya yang mendengar Belva beberapa kali menguap, dia menolehkan arah pandangnya. Benar saja ibu dari anak-anaknya itu masih sibuk dengan pekerjaannya. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Satya beranjak pindah tempat duduk di samping Belva.
"Jika mengantuk beristirahatlah." Ucap Satya.
Belva menoleh, Satya sudah duduk di sampingnya. "Pekerjaan saya belum selesai."
"Kamu mengantuk.sedari tadi menguap, bisa dilanjutkan besok pekerjaan mu."
"Tidak bisa besok sudah deadline." Ujar Belva.
Satya berdiri dan mengambil kopi miliknya yang tadi diletakkannya di atas nakas.
"Kopi... Tapi maaf sudah sempat saya minum." Satya menyodorkan kopi miliknya.
"Apa anda memberikan minuman bekas untuk saya ?" Belva mengangkat satu alisnya.
"Maaf... Tidak seharusnya seperti ini. Saya hanya tak tega melihatmu terus menguap. Tidak apa jika tidak mau, saya mengerti ini tidak sopan."
Satya kembali meletakkan kopinya di atas meja yang ada di hadapannya. Meja pasangan dari sofa yang kini tengah diduduki oleh Belva.
Belva melirik kopi milik Satya, sejujurnya memang dirinya membutuhkan minuman itu untuk menahan kantuknya. Jika dirinya tidur maka pekerjaannya akan kacau besok.
Satya saat ini memilih kembali duduk di samping ranjang Kaila. Tak ingin jika nanti Belva merasa terganggu dengan adanya dirinya di samping wanita itu.
"Tuan..." Panggil Belva. Satya menoleh tanpa bertanya menunggu Belva berbicara.
"Tidak. Jika tidak enak badan anda bisa tidur di ranjang belakang. Wajah anda pucat."
"Tak masalah, saya masih kuat." Ucap Satya lalu kembali menghadap Kaila.
Belva kembali melanjutkan pekerjaannya, lagi-lagi berhadapan dengan kertas dan pensil membuat matanya kembali terasa berat. Tak lagi pikir panjang Belva mengambil kopi milik Satya. Hendak meminumnya tapi ia ragu.
"Tuan, boleh saya bertanya ?" Kembali Belva bersuara.
"Tanyakan saja." Jawab Satya tanpa menoleh.
"Anda tidak memiliki penyakit menular kan ?" Pertanyaan Belva mampu membuat Satya seketika membalikkan badannya.
"Apa maksud mu ?" Tanya Satya dengan tatapan sedikit tajam dan satu alisnya naik ke atas. Diliriknya kopi miliknya telah dipegang oleh Belva. Dia paham maksud Belva.
"Apa saat mengandung Kaila dan Kaili kamu didiagnosa sebuah penyakit menular dariku ?" Tanya Satya.
"Hah ? Maksudnya ?" Kini Belva yang tak mengerti.
"Apa saat membuat si kembar saya tak mencium mu ? Apa tidak ada bagian dari tubuh saya yang masuk ke dalam tubuh mu ? Sehingga kamu harus bertanya apakah saya memiliki penyakit menular." Ucap Satya dengan frontal.
Wajah Belva memerah mendengar ucapan Satya yang frontal. Meski ada rasa sakit saat mengingat hal itu.
Kembali kopi itu diletakkan Belva di atas meja. Niatnya untuk meminum kopi itu perlahan menyurut. Wanita itu tak lagi bersuara, seakan jawaban Satya telah dengan telak mengunci rapat mulut dan niatnya.
Satya sadar akan ucapannya yang terlalu frontal pada Belva. Pria itu menghela napas dan menghampiri Belva. Duduk kembali di samping wanita yang menjadi ibu dari anak-anaknya.
"Maaf... Minumlah tak apa. Saya sehat tidak ada penyakit menular." Satya mengambil kopinya kembali dan menyodorkan pada Belva. Kali ini sikap Satya pada Belva terlihat sangat lembut. Sikap dingin menghilang dan berganti dengan sikap hangat.
Dengan ragu Belva menerima kopi tersebut dan meminumnya. "Terima kasih. Maaf jika pertanyaan saya menyinggung anda Tuan."
Satya tersenyum lembut pada Belva, kali ini tangan kekar Satya mengusap lembut kepala Belva.
"Lanjutan pekerjaan mu dan tidurlah. Sudah malam jaga kesehatan mu. Maminya anak-anak tidak boleh sakit." Ucap Satya lembut.
Belva terpaku dengan kelembutan yang diberikan oleh Satya padanya. Pria yang tak jarang sekali bersikap lembut itu saat ini bisa bersikap seperti itu padanya.
"Anda bicara apa. Apakah anda tak sadar jika anda sendiri yang saat ini sedang sakit." Ucap Belva.
"Biarkan Daddy nya anak-anak yang sakit tak masalah. Saya masih kuat untuk menjaga Kaila." Ucap Satya.
Pria itu lagi-lagi beranjak meninggalkan Belva di sofa itu sendiri dan memiliki duduk kembali di tempat semula. Satya harap sedikit demi sedikit Belva bisa menerima kehadirannya. Setidaknya hanya untuk bersama Kaila dan Kaili saja saat ini sudah cukup baginya.
Semakin larut hingga kopi Satya telah habis diminum oleh Belva. Pekerjaan wanita itu hanya tinggal sedikit lagi tapi rasa kantuknya tak bisa lagi ditahannya. Tanpa sadar Belva tertidur di sofa.
Satya menengok ke belakang, ternyata wanita cantik pemikat hatinya telah tertidur pulas. Pria itu mendekat untuk merapikan beberapa kertas yang ada di atas meja.
"Bagus sekali gambaran Maminya anak-anak." Gumam Satya.
__ADS_1
Sudah seperti seorang suami yang memuji istrinya sendiri. Satya menarik sudut bibirnya, hanya membayangkan saja pria itu sudah merasa senang jika suatu saat nanti bisa bersanding dengan Belva. Membina rumah tangga bersama wanita cantik yang usianya masih sangat muda untuknya.
"Hentikan pikiran bodoh mu Satya. Dia istri orang, jaga martabatmu sebagai laki-laki." Satya menyadarkan dirinya sendiri agar tak berperilaku buruk yang nanti akan mempermalukan dirinya sendiri