
Jam pulang pun berbunyi Amira dan Beryl pun langsung bersiap untuk pergi, Beryl berlari sambil memegang tangan Amira menuju ke mobil nya.
Lucas memperhatikan mereka berdua, dan dia begitu sangat terkejut sekali ketika melihat mobil jemputan Beryl.
" Bukan kah dia bilang jika terlahir dari keluarga sederhana tapi mobil begitu sangat mewah sekali, seperti nya sudah berbohong kepada keluarga ku."
Lucas segara masuk ke dalam mobil nya, dia juga mendapatkan dari Daniel.
* Usahakan pulang sekolah langsung pulang*
Lucas sekarang lebih fokus pada keluarga nya, dia sudah tidak memperdulikan dunia luar setelah perusahaan milik Papa nya bangkrut.
Lucas juga membatasi waktu berpacaran nya dengan Tiara, karena yang tidak bisa mengajak Tiara untuk pergi ke mana pun seperti dulu.
Semakin mendekati rumah nya, perasaan Lucas semua merasa tidak tenang dan ternyata benar saja. Rumah yang mereka tinggali selama ini harus di sita oleh polisi, ini sangat membuat hati Lucas merasa sangat sakit sekali seketika dia seperti ingin menangis tapi dia tidak mungkin melakukan nya.
Daniel dan Benny pun melihat Lucas turun dari mobil nya, dan Lucas tersenyum manis kepada Papa dan Kakaknya.
" Sekarang kita sudah tidak memiliki apapun Lucas, sekarang harta kekayaan Papa adalah kalian berdua."
__ADS_1
Daniel dan Lucas berusaha untuk tegar menerima kenyataan pahit ini.
" Mungkin memang sekarang kita sekarang mendapatkan ujian untuk bisa lebih sukses lagi, sudahlah Papa jangan banyak pikiran yaa."
Daniel mencoba untuk menenangkan perasaan dan pikiran Papa nya.
" Papa sudah membeli rumah dua lantai, ya walaupun terlihat sangat sederhana. Tapi rumah itu punya kita sendiri, tidak akan seperti ini."
Daniel dan Lucas merasa tenang mereka berdua berpikir yang penting tidak kepanasan dan kehujanan itu saja.
Ketika mereka membalikkan badannya ternyata Venna pulang, dia menangis melihat rumah nya yang di sita oleh polisi.
Lucas yang kelihatan begitu sangat emosional sekali dia pun menghampiri Mama.
" Untuk apa Mama pulang,? lebih baik Mama tinggal bersama dengan Omah dan Opah saja. Jangan bersama dengan kita yang sudah miskin seperti ini, lebih baik Mama pergi dari pada Mama ikut kita tapi selalu menyalahkan Papa."
Venna diam ketika Lucas bicarakan di hadapan nya.
" Tidak ada seorang kepala rumah tangga yang mau melihat istri dan anak nya menderita, begitu juga dengan Papa dia tidak menginginkan perusahaan bangkrut."
__ADS_1
Lucas pun masuk ke dalam mobil nya, dan Daniel memegang tangan Mama untuk masuk ke dalam mobil Papa nya.
Venna merasa sangat malu sekali ketika kedua anak nya bisa tegar dan menerima kenyataan, sedang kan dirinya begitu sangat sulit sekali.
" Mam, apakah Mama yakin akan ikut bersama dengan kita,? Papa nya mampu untuk membeli rumah dua lantai saja dengan ukuran yang minimalis."
Venna menganggukkan kepalanya sambil menangis.
" Mama yakin akan ikut bersama dengan kalian."
Venna tidak tahu lagi dia harus tinggal di mana jika bukan bersama dengan suami dan anak-anak nya.
Venna tidak bisa tinggal bersama dengan orang tua nya, mereka menyalahkan Venna jika Venna yang seperti ingin hidup bahagia sendiri tanpa memikirkan anak dan suaminya.
Orang tua Venna lebih mau menerima kehadiran ke dua anak untuk tinggal bersama dengan mereka.
Bahkan mau membiayai Lucas kuliah sampai selesai, di perjalanan menuju ke rumah baru nya. Venna terus saja memperhatikan jalanan nya, dan akhirnya mobil pun berhenti di depan rumah minimalis dengan dua lantai.
Venna merasa jika ingin tidak terlalu seperti yang di pikirkan, tapi mungkin Venna harus terbiasa melakukan apapun sendiri tanpa bantuan asisten pribadi.
__ADS_1