Isyaroh

Isyaroh
Pak Sastro ditangkap Maheso Suro


__ADS_3

Ucapan Ajar Panggiring cukup meredakan emosi Mahesso Suro, karena tujuan mereka memang bukan untuk memusuhi pak Sastro. Tapi untuk mencari Sidiq anak Arum.


“Hmm baiklah, kamu katakana saja dimana ponakan dan cucu ponakanmu. Setelah itu kami pergi gak akan bikin urusan denganmu lagi.” Kata Maheso Suro.


“Ciih mulutmu kalo ngomong gak bisa diatur. Mau datang dn pergi begitu saja. Kamu pikir bisa seenaknya begitu.” Ucap pak Sastro yang merasa tersinggung dengan sikap Maheso Suro yang merendahkanya. Sehingga maheso Suro pun kehilangan kesabaran dan dengan segenap kemampuan lahir dan batinya, Maheso suro menghantam tubuh pak Sastro hingga pak Sastro jatuh terpental dan menimbulkan kegaduhan di rumah itu.


Pak sastro mencoba bangkit namun kembali terjatuh badanya lemah serasa tidak bertulang.terbatuk dan dari sudut bibirnya mengeluarkan darah berwarna hitam. Pak Sastro terluka dalam.


“Bawa dia ke markas sekarang juga, kita paksa mengaku di markas nanti. Jangan sampai warga pada datang, bisa memperpanjang urusan.” Ujar maheso Suro.


Segera pak Sastro diangkat dan di bawa masuk ke mobil serta dibawa ke markas mereka.


Pak Sastro yang terluka dalam tak mampu memberi perlawanan. Dia hanya pasrah menerima nasibnya dibawa oleh kelompok Maheso Suro.


Pak Sastro dibaringkan dilantai tanpa alas, sementara terlihat wajah pak Sastro yng sudah lemah. Bahkan nafasnyapun seperti sesak akibat luka dalam yang dialami. Tapi tanpa mendapakatkan pertolongan apapun. Memang keji orang orang itu. Bahkan Maheso Suro masih sempat menginjak telapak tangan pak Sastro yang sudah tak berdaya.


“Mana mulut besarmu tadi, baru dikepret sedikit sudah hamper koit. Cepat katakana dimana ponakan dan cucu ponakanmu, sebelum nyawamu pergi !” ucap Maheso Suro.


Pak Sastro terbatuk batuk berusaha bicara.


“Andainya aku tahu pun tak akan sudi bilang padamu. Yang jelas ponakan dan cucu ponakanku aman bersama seseorang.” Jawab pak sastro sambil menahan rasa sakit yang di derita.


Maheso Suro yang sudah sejak awal merasa benci dengan pak Sastro hamper saja menginjakkan kakinya ke dada pak Sastro. Untunglah dicegah Ajar panggiring.


“Jangan ki ageng, kita masih membutuhkan keterangan dia.” Ucap Ajar Panggiring.


“Hmm untung saja aku masih sabar, kalo tidak sudah kulubangi dada kamu dengan kakiku.” Kata Maheso Suro dengan pongahnya.


“Masukkan dia ke kamar belakang, jangan sampai mati dulu sebelum dia mengatakan dimana Sidiq dan Ibunya disembunyikan.” Kata Ajar panggirng pada Damar. Orang yang hanya dijadikan pesuruh dikelompok itu karena paling muda dan tingkatan ilmu kebatinanya masih jauh dibawah yang lain.


 Damar sendiri ada kedekatan dengan pak Sastro sebenarnya, karena Damar pernah belajar ilmu kebatinan pada pak Sastro. Sehingga Damar ada sedikit perasaan iba pada pak Sastro. Dengan hati hati Damar membawa pak Sastro ke kamar belakang. Di dalam kamar saat tinggal berdua Damar bilang ke pak Sastro.


“Maaf pak Sastro, ini diluar rencana sebenarnya. Tujuan kami hanya ingin menyandera anak Arum agar ayah kandungnya mau mengikuti kemauan kita.” Kata Damar.


“Ayah kandungnya Sidiq, siapa dia dan dimana dia sekarang ?” Tanya pak Sastro pada Damar.


“Ayah kandungnya adalah musuh besar kami, dan sekarang dia juga sudah punya istri yang baru hamil juga.” Jawab Damar.


Pak sastro di tengah sakitnya kemudian mencoba mengingat peristiwa peristiwa yang berkkaitan dengan Arum dan Sidiq.dari mulai saat Arum diusir orang tuanya karena tidak mau menggugurkan kandunganya. Kemudian dirawat dan dipelihara oleh pak Sastro. Karena bagi pak Sastro sejelek apapun Arum dia adalah ponakanya juga, dan kebetulan pak Sastro juga tidak punya anak. Maka Arum dirawat olehnya dan disuruh tinggal dirumah neneknya di dekat rumah pak Sastro, hingga Arum melahirkan Sidiq.


Kemudian setelah Sidiq sudah cukup umur dan Arum bisa beraktifitas, Arum lebih banyak tinggal dirumah pak Sastro dari pada dirumah neneknya. Dan pak Sastro pun ingat reaksi Yasin dan Arum saat mereka bertemu dirumahnya. Waktu itupun pak Sastro sebenarnya sudah mencurigai sesuatu antara Arum ponakanya dengan Yasin. Namun karena seingat pak Sastro ayah kandung Sidiq bernama Ahmad Sidiq maka pak Sastro tidak berpikir lebih jauh.


Bahkan setelah melihat reaksi Yasin saat akrab dengan Sidiq pun pak Sastro tidak pernah punya pikiran bahwa Yasin adalah ayah kandung Sidiq. Barulah setelah pertemuanya dengan pak Yadi di sebuah masjid itu ketika Arum tinggal dirumah Yasin karena terancam pak Sastro mulai bverpikir bahwa mungkin memang Yasinlah ayah kandung Sidiq.


Ingatan pak Sastro masih kuat merangkai semua kejadian atau peristiwa yang berhubungan dengan Arum Sidiq dan yasin, namun sayangnya kondisi pak Sastro saat itu sudah terluka parah.


“Tunggu Damar, apakah yang kamu maksut ayah kandung Sidiq itu orang yang bernama Yasin ?” Tanya pak Sastro.


“Betul pak, namanya Yasin dan dia memang mempunyai ilmu juga untuk melawan kami. Sehingga kami berencana menculik Sidiq agar dia bisa kami kendalikan.” Jawab Damar.


“Lah kamu dulu katanya mau menikahi Arum dan mau menerima Sidiq dan mau menganggap Sidiq sebagai anak kamu juga. Kenapa mau kamu celakai ?” Tanya pak Sastro pada Damar.


“Justru maksut Damar, klo sidiq diculik selain biar ayah kandung Sidiq bisa dikendalikan Arum juga akan saya nikahi dengan menjamin keselamatan Sidiq.” Jawab Damar.


“Kamu licik Damar, aku gak pernah ngajarin kamu yang kayak gini. Aku kecewa sama kamu sekarang Damar.” Ucap pak Sastro pada Damar.


“Maafkan dammar pak, Damar gak punya pilhan lain. Pertama kaitanya dengan Yasin Damar hanya pelaksana saja. Yang kedua kaitanya dengan Arum, sampai saat ini Arum juga gak pernah menyatakan mau Damar jadikan Istri. Jadi sekalian Damar manfaatkan jika Sidiq bisa disandera sekalian mau membujuk Arum agar mau Damar jadikan Istri Damar.” Kata Damar menjelaskan.


“Seharusnya kamu sabar, sampai aku berhasil membujuk Arum bukan mengambil langkah seperti ini.” Kata pak Sastro.


“Iya pak, maafkan Damar sekarang apa yang harus Damar lakukan pak ?” Tanya Damar.


“Aku minta tolong satu hal saja, jika kamu masih mau mengakui akau.” Kata pak Sastro terhenti menahan rasa Sakit di dadanya.


“Apa itu pak ?” Tanya Damar.


“Aku minta, kamu mau menemui ayah kandungnya Sidiq. Dan bilang kalo aku sekarang ditahan di tempat ini.” Kata pak Sastro.


“Waduh pak, itu sama saja saya bunuh diri nanti.” Jawab Damar.


“Ya terserah kamu kalo kamu gak mau juga gak papa kok.” Jawab pak Sastro.


Damar teridiam beberapa saat, dia kebingungan untuk mengambil sikap.


“Kalo kamu gak mau ya sudah kamu pergi saja sana, gak usah disini aku sudah gak mau melihatmu lagi sekarang. Biar kalo aku mati juga gak mau kamu ada disampingku nanti.” Ujar pak Sastro.


Damar benar benar terpojok, dia gak mungkin membiarkan pak Sastro seperti itu. Namun disisi lain juga dia gak berani menanggung resiko perbuatanya jika menyampaikan pada Yasin.


“Udah cepat pergi sana, aku dah muak lihat muka kamu. Untung saja Arum gak mau kamu jadikan Istrimu.” Kata pak Sastro sambil mengerang menahan sakitnya.


Damar pun akhirnya menyanggupi apa permintaan pak Sastro, untuk menyampaikan kepada Yasin. Kemudian secara diam diam Damar mengambil foto pak Sastro yang terkulai lemah tak berdaya.


“Dengan foto ini mungkin Yasin akan percaya jika pak Sastro ditawandisini. Selanjutna bagaimana nanti sajalah. Toh ki ageng Maheso suro juga kewalahan menghadapi Yasin dan lainya. Bahkan beberapa tokoh lain sudah ad yang terluka. Ajar Panggiring kepercayaan Maheso  suro juga gak mampu melawan Yasin.


“Sudah tinggalkan saja dia disini sendirian, sampai mau mengatakan dimana ponakan dan cucu ponakanya.” Kata Ajar panggiring yang tiba tiba Mauk.


“Iya ki, hanya memberikan pertolongan kecil agar masih mampu bicara mengatakan dimana Sidiq dan ibunya sembunyi.” Jawab Damar.


“BIar aku saja yang menangani dia, kamu temui Ki ageng sana ada tugas  untukmu mala mini.” Kata ajar panggiring.


Kemudian Damar meninggalkan kamar itu menemui Maheso suro.

__ADS_1


...*****...


Dirumah Yasin


Yasin POV


Saat mengobrol dengan Pak Yadi dan Rofiq ada perasaan was was entah kenapa. Pak Yadi selalu menyampaikan perkembangan perjalanan rombongan yang menuju pondok kang Sali.


“Kok kayaknya gelisah banget begitu pak, bukankah perjalanan rombongan selalu terpantau. Dan sejauh ini aman dan lancer tidak ada hambatan apapun ?” Tanya pak Yadi padaku.


“Entahlah pak, perasaan saya was was saja, masih ada kekhawatiran entah apa saya kurang faham. Mungkin saja karena jaringan mereka juga sampai ke daerahnya kang Salim. Salah satunya yang sudah kita tangkap tempo hari itu.” Jawabku pada pak Yadi.


“Iya sih pak, tapi kemana rombongan itu pergi kan tidak ada yang tahu kecuali kita. Bukankah mereka mengira bu Arum pulang ke rumahnya.” Kata pak Yadi justru menyadarkan aku jika musuh mempersiapkan diri untuk menghadang Arum dan Sidiq di jalur pulang ke rumah pak leknya.


Bukankah itu rumah pak Sastro, dan tadi ada info ayahnya Rendy mengawasi rumah ini. Kemungkinan dia tahu jika rombongan Arum berangkat mala mini. Dan mereka mengira Arum dan rombongan menuju ke rumah pak Sastro. Jika mereka mengejar ke rumah pak Sastro, artinya pak Sastro pun dalam bahaya juga,pikirku.


“Pak Sastro pak leknya Arum pak !” katku tiba tiba membuat pak Yadi bingung apa maksutnya.


“Pak Sastro kenapa pak ?” Tanya pak Yadi.


“Bukankah tadi ada yang mengawasi rumah ini saat rombongan Arum berangkat. Dan mereka tahunya Arum pulang ke rumah pak leknya yaitu pak Sastro. Bisa jadi mereka akan menyambangi rumah pak Sastro. Jika begitu pak Sastro dalam keadaan bahaya juga pak. Mengingat musuh yang gak akan begitu saja percaya jika pak Sastro mengatakan Arum dan Sidiq tidak ada dirumahnya. Bisa jadi pak Sastro akan dipaksa mengatakan sesuatu yang tidak diketahuinya.” Jawabku.


Pak Yadi terdiam sesaat, tampak memikirkan sesuatu.


“Saya coba hubungi dan minta tolong teman yang ada di wilayah pak Sastro.” Jawab pak Yadi.


Kemudian pak yadi tampak mengeluarkan Hp dan mengirim pesan ke seseorang.


“Jam segini mungkin juga sudah tiur pak, jadi kita harus sabar menunggu jawaban nanti habis subuh paling tidak.” Kata pak Yadi.


Aku melihat jam memang sudah menunjukkan pukul 03.10 dini hari. Saat orang baru nyenyak nyenyaknya tidur. Berarti tetap saja harus menunggu sampai matahari terbit, untuk mengetahui keadaan pak Sastro.


Bener bener licik itu para musuh yang tak terlibat pun tetap saja dipaksa dilibatkan. Sekedar memuaskan hasrat dan ambisi mereka untuk mencapai maksut dan tujuanya.


Setiap jam memang rombongan yang menuju ke pondok kang Salim selalu menyampaikan berita. Dan menjelang subuh mereka mengabarkan jika sudah hamper sampai ke daerah kang salim. Juga mengabarkan jika Eis sudah kontak juga dengan kang Salim dan sudah disiapkan santri khusus untuk menjemput di hutan perbatasan.


Aku agak tenang meski rasa was was masih menghinggapi, dan entah kenapa aku batinku begitu kuat mengingat pak Sastro. Sehingga bayangan pak Sastro begitu melekat. Jika terjadi sesuatu pada beliau tentulah Arum dan Sidiq sangat sedih. Tapi akupun tak bisa berbuat banyak, semua tidak terpikirkan. Focus pikiranku hanya pada menjaga keselamatan Sidiq dari ancaman orang orang itu. Tidak terpikirkan jika kebohonganku itu bisa membahayakan pak Sastro lek nya Arum. Dan itu membuatku semakin gelisah merasa bersalah jika sesuatu yang buruk menimpa pak Sastro.


Kumandang adzan subuh pun terdengar, kami break untuk melaksanakan solat subuh dulu.


Usai solat kami melanjutkan obrolan dan Isti membuatkan kami minuman hangat.


“Jangan kopi terus ya, gak baik buat kesehatan, Isti buatin jahe hangat saja.” Kata isti.


“Iya makasih Is.” Jawabku singkat.


Kami melanjutkan ngobrol dan Fatimah datang nimbrung.


“Mas isti barusan kasih kabar jika sudah hamper sampai dan para santri kang salim sudah menuju perbatasan untuk menjemput rombongan, setelah subuh tadi.” Kata Fatimah.


Belum selesai aku berucap tiba tiba Fanani yang tadi diluar rumah masuk dan melaporkan.


“Pak ada orang asing yang mau bertemu bapak, saat ini sedang ditahan di luar. Katanya membawa pesan penting dari pak Sastro.” Kata Fanani.


Aku kaget, siapa dia dan kabar penting apa dari pak Sastro yang semalam baru saja kami bicarakan.


“Berapa orang ?” tanyaku.


“Satu orang pak, dan sudah saya geledah tidak bersenjata.” Jawab Fanani.


“Ajak masuk dan tetap waspadai dia.” Perintah pak Yadi.


Kemudian Fanani keluar dan kembali lagi bersama orang yang tidak aku kenal sebelumnya.


“Kamu siapa dan apa maksut tujuanmu kesini sepagi ini ?” tanyaku pada orang itu. Yang mungkin usianya seidikit dibawahku.


“Nama saya dammar, saya diutus pak Sastro untuk memberikan kabar jika saat ini pak Sastro ditawan oleh Maheso Suro dan kawan kawanya.” Kata orang yang bernama dammar itu.


“Sebentar, kamu ini tinggal dimana kok sepertinya aku sering lihat kamu disekitar sini ?” Tanya pak Yadi pada Damar.


Dammar terdiam sejenak, agak ragu untuk menjawab, namun setelah pak Yadi membentak akhirnya Damar buka mulut juga.


“Cepat jawab atau kamu terpaksa aku tangkap dengan tuduhan perbuatanmu mencurigakan ?” bentak pak Yadi.


“Iya pak, saya memang sering kekampung ini menemui teman saya Saputro.” Jawab Damar.


“Siapa saputro ?” Tanya pak Yadi.


“Mantan kakak ipar saya yang kita bicarakan kemarin itu pak.” Aku yang menjawab pertanyaan pak Yadi,


Pak Yadi kaget kemudian mengeluarkan Ponsel nya, dan tampak menghubungi nomor seseorang. Tapi justru ponsel Damar yang bordering, kemudian damar pun mengangkat.


“Owh jadi kamu yang selama ini mengamati rumah ini, kamu juga yang dulu mengancam Tuti dan menawarkan imbalan besar jika mau kerja sama dengan kamu.” Kata pak Yadi.


Aku masih belum faham apa maksut pak Yadi itu.


“Maksut pak Yadi, orang ini yang selama ini mengawasi saya dan keluarga saya pak ?” tanyaku pada pak Yadi.


“Pak Yasin masih menyimpan nomor yang dulu saya berikan itu. Yang ppnya ada angka tujuh itu ?” Tanya pak Yadi.


“Masih pak ?” jawabku pada pak Yadi.

__ADS_1


“Coba bapak panggil nomor itu sekarang, itu adalah nomor dia ?” kata pak Yadi.


Dalam keterjutanku, aku mencoba mengambil ponselku dan langsung menghubungi no yang juga pernah mengancamku juga waktu malam menembak lampu taman dirumahku. Dan ternyata benar, sat aku hubungi ponsel dia yang bordering dank karena ponselnya ditaruh di meja tampak no ku di ponselnya diberi nickname target 1.


Spontan emosiku meluap dan secara reflek tanganku sudah mendarat diwajahnya. Hingga hidung orang itu mengucurkan darah, untung saja dicegah oleh pak Yadi sehingga tidak ada pukulan kedua dan berikutnya.


“Sudah pak, jangan kotori tangan bapak dengan ini.” Kata pak Yadi.


“Maaf pak, berarti orang ini juga yang waktu itu mengancam saya dan menembak lampu taman hingga pecah.” Kataku.


“Saya hanya bertugas menelepon dan saya waktu itu ada dirumah Saputro. Ada sendiri yang mengawasi, kemudian saya yang disuruh menelpon. Dengan lebih dulu dikasih tahu posisimu dan disuruh bilang jika bisa menembak kamu. Dan yang menembak itu sudah orang lain lagi.” Jawab Damar.


“Berarti Saputro pun ikut terlibat dalam hal ini, sejauh mana keterlibatan kamu dan Saputro ?” bentakku.


Damar hanya diam tak menjawab, namun ketaukutan yang tampak pada wajahnya. Tidak menyangka dia akan ketahuan sebagai pengintai, dan nomor diapun sudah sangat kuat jadi barang bukti.


“Sudah pak, orang ini nanti biar saya yang tangani jika memang terbukti kuat mantan Kakak ipar pak Yasinpun akan kami tangkap juga,” kata pak Yadi.


“Baiklah pak, saya serahkan urusan ini pada bapak yang lebih berwenang. Soal mantan kakak ipar saya kalo perlu ditangkap dan ditahan silahkan saja.” Jawabku.


“Sekarang, kamu jelaskan kronologis pak Sastro ditawan dan dimana dia ditawan serta apa motivasimu menyampaikan berita ini kepada kami.” Tanya pak Yadi pada Damar yang tampak semakin ketakutan.


“Saya bisa terancam pak jika menunjukkan tempat ditawanya pak Sastro, karena itu tempat yang sangat dirahasiakan.” Jawab Damar.


“Pilih mana, merahasiakan tempat itu kemudian aku hajar atau menunjukkan tempat itu kamu aman.” Tiba tiba Rofiq ikut bicara.


“Tempat itu ada disebuah perbukitan di wilayah Sleman barat pak. Dan semalam rombongan Maheso Suro mencari rum dan Sidiq ponakan pak Sastro kerumahnya tapi tidak ketemu. Dan terjadi keributan antara pak Sastro dan Maheso Suro. Kemudin Maheso Suro menghantam pak Sastro hingga terpental dan di bawa ke markas. Sebenarnya saya dekat dengan pak Sastro kemudian pak Sastro menyuruh saya menyampaikan ini pada pak Yasin, jadi ini atas permintaan pak Sastro pak bukan kemauan saya.” Jawab damar. Sambil berkali kali mengsap darah yang keluar dari hidungnya.


“Sekarang kamu antar kami ke tempat itu, ada berapa kekuatan disana ?” Tanya pak Yadi.


“Ada Sekitar 5 orang pak, pimpinanya Maheso Suro, wakilnya Ajar panggiring dan ada ki Soma dan lain lain saya juga tidak terlalu kenal.” Jawab Damar.


“Hmm dari nama nama itu tampaknya mereka adalah pelaku supra natural bayarn pak. Gak bisa dianggap remeh meski hanya 5 orang. Ajak Fanani juga nanti pak, juga saya akan ikut langsung kesanan.” Pintaku pada pak Yadi.


“Apa itu tidak membahayakan keslamatan bapak ?” Tanya pak Yadi.


“Insya Allah gak papa pak. Saya sudah pulih dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi tentang luka kemarin.” Jawabku.


“Fanani, cepat borgol Damar aku akan panggil beberapa personil khusus yang akan ikut menyerbu markas musuh.” Kata pak Yadi.


Kemudian Fanani memborgol Damar, dan pak yadi menelpon rekan kerjanya. Setelah Fanani memborgol aku minta tolong untuk dipanggilkan Ardian personil polisi yang punya kemampuan khusus itu. Tiba tiba Fatimah datang dan berbisik kepadaku.


“Rombongan Arum sudah sampai dipondok kang Salim dengan Selamat. Saat ini mereka tengh ngobrol dengan kang Salim. Tadinya mau gobrol sama kamu mas, tapi kubilang kalo mas Yasin baru ada urusan penting.” Kata Fatimah.


“Yaudah sukurlah, bilang saja lima menit lagi aku akan telpon samsudin. Saat ini biar kuselesaikan urusan ini dulu.” Jawabku.


Kemudian Fatimah kembali ke belakang, aku berpikir musibah yang menimpa pak Sastro ini justru merupakan petunjuk untuk mencari tempat persembunyian musuh. Tapi apa pantas aku bersukur sementara pak Sastro dlam musibah besar dan butuh pertolongan segera. Bingung juga waktu itu harus bagaimana, satu sisi pak Sastro dapat musibah tapi disisi lain menjadi petunjuk penting mencari markas musuh dan ada kesempatan mengejar dan menangkapnya.


“Pak yasin, bapak Yakin tidak apa apa jika ikut bergabung menuju markas itu ?” Tanya pak Yadi.


“Insya Allah pak, meski saya tidak ikut dalam operasi fisiksaya hanya akan bertindak jika mereka melakukan serangan secara supra natural nanti dibantu Fanani juga.” Kataku pada pak Yadi.


“Baiklah, kita tunggu personil yang lain yang sudah pengalaman dalam penyergapan biar semua berjalan lancer.” Kata pak Yadi.


“saya mohon ijin sebentar pak, mau menelpon rombongan Arum sudah sampai kelokasi dengan Aman. Dan ada yang harus saya sampaikan ke kang Salim senior saya.” Ucapku pada pak Yadi.


“O iya silahkan pak.” Jawab pak Yadi.


Kemudian aku ke belakang untuk menelpon, ke nomor Samsudin.


“Assalaamu ‘alaikum kami sudah samapai di pondok kang Salim Alhamdulillah aman dan lancer.” Sapa Samsudin di telpon.


“Alhamdulillah, boleh aku langsung bicara dengan kang Salim, ada hal penting yang harus aku sampaikan.” Kataku.


“Iya boleh, mang Yasin bade panggih mamang aya nu penting.” Ucap Samsudin ke kang Salim lamat lamat kedengaran di telpon.


Agak lama aku nunggu suara kang Salim tapi belum bicara juga. Justru terdengar kembali suara Samsudin.


“Punten, kata kang Salim Cuma pesen hati hati saja. Jangan terbawa perasaan dendam katanya. Kang Salim udah tahu maksut kamu, dan kang Salim juga masih nunggu isyaroh.


... bersambung...


Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.


Komentar readers semangat Author


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...

__ADS_1


...🙏🙏🙏...


 


__ADS_2