Isyaroh

Isyaroh
Bertemu Saudara


__ADS_3

🌷🌷🌷


Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.


Semoga tetap bisa menghibur.


🌷🌷🌷


Selamat membaca


...........


Episode lalu


“Apa apaan sih Fat, kok malah minta gendong suamimu yang semalam barusan berjuang hidup dan mati ?” Tanya ibuk mertuaku.


“Fatimah terkilir bu, jadi terpaksa saya gendong pulangnya.” Jawabku.


“Owh kok bisa sampai terkilir kenapa, sini ibi benerin mana yang terkilir ?” kata ibu.


“Kaki yang kanan bu ?” jawab Fatimah.


Belum sempat ibu mertuaku mengurut kaki Fatimah yang terkilir dikejutkan dengan rombomgan pemuda yang tadi mengganggu kami.


“Itu orangnya ayo sebelum  mereka pergi….!” Teriak salah satu rombongan itu….!!!


*****


Episode ini


“Mau apa lagi mereka, yut itu tadi rombongan yang mengganggu kami, boleh gak saya lawan mereka yut ?” tanyaku pada Yuyut.


“Gak boleh, memang mereka kesini mau ngapain juga belum jelas.” Kata Yuyut santai.


Aku tidak berani bantah, Yuyut ini sifatnya mirip kakekku jafar, jadi aku gak berani macam macam dalam mimpi saja sama kakek Jafar aku sudah dibikin tak berkutik. Apa lagi sama Yuyut yang masih hidup ini. bisa makin parah, dioabatin dudlu saja udah ampun ampunan deh.


Setelah rombongan itu dekat aku juga bersiap jika terjadi sesuatu, naun kulihat Yuyut malah asik asikan duduk santai.


Tiba tiba pimpinan dari rombongan itu hormat pada Yuyut dan berkata.


“Maafkan kami Yut, sungguh tidak menyangka jika anak buah saya mengganggu keluarga Yuyut.” Ucap ketua rombongan itu. yang Usianya sepantar denganku, tapi kenapa dia kenal dengan Yuyut, pikirku.


“Fat kamu kenal siapa dia ?” bisiku pada Fatimah.


“Gak kenal tuh mas.” Jawab Fatimah yang juga heran.


“Cepat minta maaf kalian semua, jika sja yuyut marah kalian semua habis saat ini juga !” bentak orang itu pada anak buahnya.


Spontan semua pemuda tadi duduk bersimpuh dihadapanku dan Fatimah. Aku jadi makin heran karena yuyut tak juga membuka pembicaraan membalas kalimat pemimpin rombongan pemuda tersebut.


Kemudian para pemuda itu satu persatu meminta maaf pada Fatimah dan ku. Barulah yuyut angkat bicara.


“Kemana saja kamu Sena ? apa kamu gak kenal dengan cucu menantuku itu ?” kata yuyut.


Aku kaget mendengar yuyut menyebut aku, dan aku sendiri tidak mengenal sama sekali orang itu.


“Ampun yut, saya belum mengenal dia. Dn sekali lagi saya mohon maaf anak anak binaanku ini memang masih suka bikin onar Yut.” Kata orang yang disebut Sena itu.


“Fatimah,, kamu kenal gak dengan sena ini ?” Tanya yuyut.


“Gak kenal yut ?” jawab Fatimah.


“Dia adalah cucu dari saudara sepupu yuyut yang tinggal di daerah ini. Memang belum aku perkenalkan dengan kalian semua. Tapi Sena ini beberapa kali kerumah yuyut, kalo Khotimah pasti sudah mengenalnya.” Ucap Yuyut.


“Owh iya yut, bagaimana kabar mbakyu Khotimah sekarang, apa dia sudah menikah dan punya anak ?” Tanya Sena.


“Hampir menikah, paling sebentar lagi dan dia sekarang ikut kakak sepupunya Fatimah ini dengan suaminya dilereng merapi.” Kata yuyut.


“Maaf saudaraku, saya Tidak mengenal kamu dan istrimu mbakyu Fatimah sebelumnya mari silahkan mampir di gubuk kami. Sebelum pulang kerumah nanti.” Ucap Sena.


“Tidak jadi mengapa saudara, aku hanya mengikuti apa perintah Yuyut saja. Kalo Yuyut berkenan singgah aku juga ikut. Kalo tidak mungkin lain waktu, atau saudara yang singgah ke gubuku dilereng merapi.” Ucapku. Kalo dia memanggil Khotimah mbak yu berarti dia memanggilku kakak atau mas secara nasab lebih tua aku, batinku.


“Ayuk kita ke rumah kamu Sena, banyak yang yuyut harus bicarakan padamu nanti.” Ucap yuyut.


Lantas kami semua berangkat kerumah sena setelah ibu mertuaku mengobati kaki Fatimah yang tadi terkilir. Sehingga Fatimah bisa berjalan sendiri meski masih agak kaku, masih dalam proses sembuh. Namun kata Yuyut dan ibu memang harus dipakai untuk berjalan agar urat yang geser kembali sempurna ditempatnya.


Sesampai di rumah Sena.


“Mas ini suami mbakyu Fatimah, berrti adalah kakakku juga, karena Mbakyu Fatimah adalah kakak sepupu mbakyu Khotimah.” Ucap Sena.


“Betul perkenalkan nama Asliku Ahmad Sidiq, saat ini dipanggil Yasin nama pemberian guru ngaji saya. Kalo boleh tahu nama lengkapmu siapa Sena ?” tanyaku pada Sena.

__ADS_1


“Nama lengkapku Brotoseno mas, tapi biasa dipanggil sena aja.” Kata Sena.


“Owh sesuai dengan postur yubuhmu yang tinggi besar, brotoseno adalah Pandawa no dua yang tinggi besaar.” Jawabku.


“Betul mas, dan nama asli mas mengingatkan Sena dengan sahabat Yuyut, apakah mas beneran keturunan eyang Sidiq Ali ?” Tanya Sena membuat aku tersentak kaget. Tidak menyangka jika Sena pun bisa menebak akau cucu kakek Sidiq Ali tapi mungkin Sena gak tahu jika aku sekaligus cucu kakek Jafar Sanjaya juga, batinku.


“Kok kamu tahu, apakah Yuyut juga pernah cerita kepadamu tentang Kakekku Sidiq Ali ?” tanyaku.


“Jadi benar mas Yasin ini cucu eyang Sidiq Ali ? Maaf mas Sena gak nyangka, karena eyang Sidiq Ali adalah guru dari Ayah saya yang sudah alamrhum juga. Beliau yang mengajar ayah saya mengaji dulu, owh kalo begitu aku sudah misa menduga kalo mas ini tinggalnya dilereng merapi berarti dirumah peninggalan almarhum eyang Sidiq Ali juga ya ?” Tanya Sena.


“Betul, kamu pernah kesana ?” tanyaku heran.


“Tentu saja, saya dulu sering diajak Ayah kesana meski eyang Sidiq Ali sudah tidak ada. Namun semenjak ayahku meninggal mau kesana lagi malu mas, gak ada yang saya kenal.” Kata Sena.


“Kalo sekarang sudah kenal aku dan ada mbakyu mu Fatimah kamu harus sering kesana nanti ya !” gurauku pada Sena.


“Iya mas, Sena pasti akan kerumah mas dan mbakyu.” Kata Sena.


“Kok Khotimah gak pernah cerita punya saudara di jogja ya ?” ucap Fatimah.


“Mbakyu Khotimah memang begitu mbakyu Fatim, tapi dia sering cerita tentang mbakyu Fatim yang waktu itu masih di pesantren.” Jelas Sena.


“Owh pantes, jadi kamu sering kerumah yuyut dan ketemu Khotimah juga ya ?” Tanya Fatimah.


“Sering sih gak mbakyu, hanya beberapa kali saja, dan itupun gak pernah lama kok. Paling nginep semalam saja dirumah Yuyut.” Ucap Sena.


“Tiba tiba Yuyut muncul dari kamar mandi, Yasin kamu mandi dulu sana biar gak dekil begitu. Sena Yasin ini adalah keturunan dari Sidiq Ali dan Jafar Sanjaya.” Ucap yuyut membuat Sena terbelalak kaget.


“Apa yut, mas Yasin adalah keturunan eyang Sidiq Ali dan Eyang Jafar Sanjaya. Bukankah Istri Eyang Jafar Sanjaya masih Budenya ayahku juga ?” ucap Sena yang juga membuatku kaget. Artinya dia saudara Fatimah dan Khotimah sekaligus saudaraku dari jalur ibuku juga. Betapa sempitnya dunia ini, batinku…!


“Iya benar, jadi kamu ini masih cucu dari mbah putri jalur dari ibuku juga ?” kataku kaget.


“Iya mas, mbah juwariyah mbah nya mas Yasin itu kakak dari ayahku Abdul Hadi.” Ucap Sena.


“Astaghfirrullahal adzim… aku memeluk Sena haru ternyata dipertemukan dengan saudara saudara dengan menikhanya aku dan Fatimah.  Sungguh aku sama sekali tidak menyangka jika semua ini terjadi secara kebetulan, atau mungkin juga karena begitu waskitonya Abah guruku. Atau mungkin juga ini slah satu maksut perintah beliau aku diberi tugas menyapu sampai keatas dulu. Artinya memberihkan dan mengumpulkan semua kerabat leluhur agar kembali saling mengenal satu sama lain. Wallahu a’lam bishowab…!


Aku segera mandi karena tubuhku sudah benar benar lengket dan dekil, pantas saja tadi sampai dibilang gembel begitu. Ketika aku memandang wajahku dicermin memang tak ada bedanya dengan gembel,kataku dalam hati.


Kok Fatimah juga diem saja suaminya berpenampilan gembel begini, pa memang sengaja kali dia, pikirku. Awas kau Fatimah, batinku smabil tersenyum.


Begitu selesai mandi terdengar kumandang adzan dhuhur, kami segera melaksanakan sholat dhuhur bersama bapak ibu mertuaku juga. Setelah itu kami dijamu makan siang dirumah Sena, dan yang lebih mengejutkan aku. Sudah disiapkan lobster buat oleh oleh dalam jumlah yang cukup banyak.


“Ah gak usah repot repot begitu, tapi kalo boleh tahu siapa mereka sehingga kamu yang harus bertanggung jawab dengan mereka tadi ?” tanyaku.


“Mereka bukan siapa siapa saya, hanya saja mereka itu baru saya kumpulkan untuk diajak kembali ke jalan yang benar, baru proses sih mereka itu tukang mabuk dan tukang judi dan main perempuan. Jadi perangainya memang masih belum baik saampai sekarang. Baru sebatas mengurangi perbuatan maksiat mereka saja belum sampai mengajak pada kebaikan, baru sedikit sekali untuk hal itu.


Mereka kadng mau sholat aja udah lumayan dari pada lima waktu lewat semua. Ya sehari kadang hanya dua sampai tiga kali saja mereka menjalankan.” Ucap Sena.


Aah ini kan metode Abah guru dan kakekku Sidiq Ali, agak berbeda dengan metode kakekku Jafar Sanjaya yang kers terhadp maksiat, batinku. Owh iya pantas, kata dia tadi ayahnya adalah murid kakek Sidiq Ali wajar metodenya sama.


“Baguslah, kalo kamu meneruskan dakwah leluhur kita. Kalo aku sih belum bisa seperti kamu. Bahkan mungkin masih sama dengan anak anak asuhmu itu.” kataku merendah.


“Ah mas ini bisa saja, jelas aku gak ada apa apanya disbanding cucu langsung dari eyang Sidiq Ali dan eyang Jafar Sanjaya.” Kata Sena.


“Itu hanya soal nasab, tapi kamu jauh lebih baik dari aku itu harus aku akui.” Jawabku jujur.


“Kita saling bahu mabahu saja mas yang penting kita usaha saja.” Kata Sena.


“Betul, sbenarnya ada satu hal yang aku mau bicarkan padamu. Tapi secara lengkapnya lain waktu saja, saat ini keluarga besarku yang dirumahku sedang terancam oleh sekelompok orang. Dan aku merasa kan kerepotan jika hanya seorang diri menghadapi serangan mereka baik lahir maupun batin. Oleh karena itu yuyut dan bapak ibu mertuaku sampai ke jodja untuk memebrika bantuan kepadaku.” Ucapku.


“Serangan lahir dan Batin seperti apa mas ?” Tanya Sena.


“Serangan secara fisik, beberapa kali aku harus berhaapan dengan mereka secara Fisik. Dan serangan Batin kemarin mbakyumu Khotimah hampir saja terkena ilmu panggiring suka.” Jelasku.


“Apa, mabkyu Khotimah juga diserang ? masa sih Mbakyu Khotimah bisa terkena serangan itu ?” Tanya Sena seakan tak percaya.


“Iya mbakyumu Khotimah kan tinggal bersamaku, dan dia hampir saja kena kendali ilmu itu hamopir mencelakai anggota keluarga yang lain.” Jawabku.


“Wah itu sih sudah keterlaluan gak bisa dibiarkan saja mas, baiklah nanti Sena akan ikut kerumah mas Yasin besert rombongan Yuyut. Barangkali dengan kita bekerja sama akan lebih mudah untuk melawan mereka.” Jawab Sena. Aku jai lega mendengar jawaban Sena, apakah ini yang dimaksut mencari dan mengumpulkan orang yang akan diajak menyerang mereka ( jin jin utusan mereka yang menggangu kedamaian rumahku) kataku dalam hati.


“Ya tapi baiknya kamu bilang Yuyut dulu, jangan samapai nanti dislahkan.” Kataku pada Sena.


“Menurut Sena gak mas, meski bilang sih tetep. Karena yuyut sudah pernah pesan padaku begini, kesusahan saudaramu adalah kesusahanmu juga. Maka bantulah jika ada seseorang yang membutuhkan bantuanmu. Dan Saat ini jelas ams yasin butuh bantuan maka Sena gak akan tinggal diam. Smapai dengan masalah mas Yasin selesai. Bukan tidak mungkin nanti Sena yang butuh bantuan mas Yasin suatu saat.” Ucap Sena. Wah anak ini pintar bicara juga kayaknya, paling tidak ada gen dari leluhur yang sama di generasi sebelum yuyut, batinku.


“Senang sekali mendengar ucapan kamu Sena, semoga persaudaraan kita ini akan terus berlangsung sampai degan anak cucu kita nanti.” Jawabku.


Kemudian Sena masuk kedalam menemui istrinya dan bilang kalo akan ikut kerumahku. Istrinya hanya mengiyakan saja. Istri yang cantik penurut dan solihah batinku.


“Gak kasihan anak kamu yang masih kecil itu kalo ditinggal ?” tanyaku pada Sena.


“udah biasa mas, ka nada anak anak perempuan yang belajar ngaji disini yang ikut bantuin istriku momong.” Jawab Sena.

__ADS_1


“Sukurlah, kalo begitu kita ikut kumpul dengan yuyut yuk.” Ajakku padaa Sena.


Kemudian kami kumpul dengak yuyut dan kedua orang ta Fatimah yang sudah bersiap mau pulang.”Yut, biar Sena antar saja ya, sekalian Sena mau jenguk rumah eyang Sidiq Ali. Sudah lama Sena gak kesana kangen juga dengan mbakyu Khotimah.” Ucap Sena.


“Iya kebetulan kalo begitu, mana istrimu aku mau pamitan sekarang.” Ucapa Yuyut.


“Sebentar Yut, Sena panggilkan.” Jawab Sena.


Kemudian Sena kebelakang memanggil istrinya, beberapa menit kemudian datang kembali dengan istrinya.


“Nurul ini Yuyut mau pamit pulang, kamu salim dulu gih.” Ucap sena pada istrinya.


“Iya mas, Kok gak nginep disina barang semalam yut ?” yanya istri Sena.


“Lain kali nduk, yuyut masih banyak urusan sekarang. Yaudah kamu hati hati ya jagain naka kamu !” ucap yuyut.


“Iya yut, pak de bu de kapan kapan nginep sini ya biar Nurul bisa ikut ngobrol. Hari ini gak bisa lama nenemin tadi pas dede ngajak bobok.” Ucap Nurul.


“Iya Nak Nurul, duh bayinya Cantik amat, namanya siapa ?” Tanya ibuk mertuaku.


“Kurnia eyang, mohon doa restunya eyang.? Jawab istri Sena dengan menyebut eyang membahasakan untuk anaknya nanti yang kan memanggil mertuaku dengan sebutan eyang.


“Mbak Fatim selamat ya atas kandunganya semoga diberikan kelancaran nanti.” Ucap istri Sena mendahului Fatimah.


“Iya dik Nurul, maksih sudah menerima kami dengan baik disini.” Jawab Fatimah.


“Mas Yasin juga selamat ya, sebentar lagi sudah menjadi bapak.” Ucap Nurul istri Sena. Belum tahu kisahku sebenarnya jika memang sudah menjadi bapak.


“Owh iya makasih doanya.” Jawabku singkat.


Maka berangkatlah kami menuju ke rumahku, bersama Sena juga


*****


 


Sesampai dirumah


“Khot ada yang nyariin kamu tuh di depan.” kataku pada Khotimah.


“Siapa mas ?” Tanya Khotimah.


“Udah temuin saja dulu.” Kataku pada Khotimah.


Kemudian Khotimah mengikutiku dar belakang, menuju ke ruang tamu.


“Yaa Allah dik Sena apa kabar kok bisa sampai disini gimana kabar dik Nurul ?” ucap Khotimah pada Sena.


“Alhamdulillah mbakyu, Nurul sudah punya anak sekarang cewek namanya Kurnia istiqomah.” Jawab Sena.


“Kamu ini Khot, punya saudar di jogja juga gak bilang bilang sih.” ucap Fatimah.


“Maaf mbak Fatim, dik Sena inikan sepupu jauh dari jalur dari Yuyut takutnya Khotimah bingung jelasin silsilahnya bagaimana nanti.” Ucap Khotimah.


“Bagimu sepupu jauh dari Yuyut,tapi bagiku sepupu dekat dari kakekku Jafar Sanjaya Khot….!” Kataku membuat Khotimah kaget.


“Maksut mas yasin,,,,????” Khotimah bingung apa maksutku.


...bersambung...


Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.


Komentar readers semangat Author


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...

__ADS_1


__ADS_2