
Episode 87
Saat aku menghentikan aktifitas
batinku, karena sudah berhasil membuka tabir ghoib itu.
Tiba tiba aku merasakan ada sebuah benda menembus dadaku, dan aku terjatuh.
Samar samar aku masih mendengar teriakan pak Yadi cs.
“Paaaak…!” teriak mereka.
"Mereka di bawah pohon Preh,
aku terjatuh." setelah itu semua gel
***********************
Flashback sesaat sebelumnya.
Pak Yadi POV
"Kejadian ini sangat misterius pak, Fanani dan kawan kawan tidak mungkin meninggalkan tugas tanpa pamit an
alasan. Jika tidak ada unsur supra Natural yang mempengaruhi." kataku pada pak Yasin.
sesaat kemudian beliau tampak berdiam diri, entah membaca doa apa. Tampak beliau memejamkan mata sambil
melafadzkan doa doa yang sebagian aku tahu, tahu sebagian besar yang lain aku
tidak.
tampak tubuhnya bergetar seperti
sedang melawan sebuah kekuatan batin yang menyerangnya. Bahkan dalam temaram
sinar lampu dari kejauhan tampak peluh keluar dari keningnya, seakan sedang
mengeluarkan energi yang sangat besar.
Kami bertiga hanya mampu mengawasi keadaan sekitar untuk menjaga sesuat yang tidak diinginkan. Karena seharusnya Ardian yang seharusnya dapat membantu langkah supra natural pun malah terkena
dampak serangan supra natural dari lawan.
Sesaat kemudian tampak pak Yasin sudah selesai melakukan penerawangan secara batiniyah. baru saja, aku mau
bertanya. Tiba tiba terdengar Bluup suara tembakan dengan dilengkapi peredam,
dan mengenai pak Yasin. beliau terjatuh, dan serempak kami bertiga memanggil
belia,"paaak ?" kami sangat kaget tidak menduga ini akan terjadi,
bahkan aku sendiri agak panik.namun masih mendengar samar samar pak Yasin
mengatakan."mereka disembunyikan dibawah pohon preh di makam dekat dusun "
meski suaranya sangat lemah dan samar samar saja terdengar.
Tak mau ambil resiko kami langsung mengangkat tubuh pak Yasin dan membawa kerumah sakit untuk segera mendapatkan pertolongan. Salah satu anggota kuminta member kabar kepada istrinya, aku
sendiri tak sanggup mengatakan. Akhirnya pak yasin segera mendapakatkan
pertolongan dari dokter yang sebelumnya sudah ku telpon saat dalam perjalanan.
“Untung cepet tertangani pak, kalo terlambat 5 menit saja bisa bahaya.” Kata dokter setelah melakukan operasi
mengeluarkan proyektil peluru dari tubuh pak Yasin.
“Pelurunya menenbus paru paru tidak dok ?” tanyaku khawatir.
“Untunglah, peluru itu sebelum
mengenai langsung ke tubuh lebih dulu mengenai benda ini. Sehingga laju peluru
mengalami minus percepatan proyektil tidak sampai menembus paru parunya.” Kata
dokter sambil menyerahkan Tasbih yang terkena peluru.
Rupanya pak Yasin tadi mengantongi Tasbih disaku bajunya, dan itu mengurangi laju proyektil peluru yang mengenai tubuhnya. Mudah mudahan ini pertanda baik bahwa pak Yasin akan selamat dan bisa
melewati masa kritisnya.
******
Fatimah
POV
“Is perasaanku gak enak sekali, rasanya aku sangat gelisah bingung dan khawatir. Tapi tidak tahu apa sebabnya.”
Kataku pada Isti.
Entah kenapa aku mala mini merasakan sangat berbeda dengan malam malam sebelumnya, meski malam sebelumnya banyak kejadian yang menimpa. Tapi tidak seperti mala mini yang hatiku seakan menjadi
sangat gelisah, khawatir was was dan entah apa lagi yang kurasakan waktu itu.
“Sabar Fat, banyak berdoa saja biar semua baik baik saja.” Jawab Isti.
Aku hanya diam tak mampu
menyembunyikan kegelisahanku. Aku duduk dan berdiri kemudian jalan dan kembali
duduk begitu seterusnya. Sehingga membuat yang lain juga merasa gelisah, namun
apa mau dikata aku sendiri tak mampu menahan kegelisahanku waktu itu. Entah
rasanya semua serba salah, duduk salah, berdiri salah jalan salah semua serba
salah. Bahkan degup jantungku semakin tidak teratur, kadang berdegup kencang
kadang juga normal dan keringat dinginpun tiba tiba keluar.
“Nak Fatimah, duduk sini saja nak sama ibu. Biar ibu peluk kamu kamu sangat gelisah, biar agak tenang kesinilah
sama ibu.” Ujar ibu Isti menenagkan Fatimah.
Aku hanya diam tak menjawab, namun menuruti perintah beliau duduk disamping beliau. Tiba tiba beliau memelukku lembut, dan sambil berkaca kaca beliau berkata.
“Yang sabarlah nak Fatimah, suamimu pasti mampu melewati ujian ini. Kata beliau. Namun aku tak faham apa maksut perkataanya. Mungkin karena aku sudah tak bisa focus dengan keadaan sekitar.
Karena sedang gelisah tak menentu, ingat saat dulu suamiku hamper saja tidak
tertolong karena hamper tidak ketahuan luka parah. Jika tidak Fatimah coba urut
dan menemukan banyak kejanggalan pada urat urat dan pembuluh serta aliran
darahnya.
Tiba tiba peristiwa itu seakan
terkenang kuat diingatanku. Seperti akan mengalami peristiwa itu lagi.
Aku sampai menitikkan Air mata, mengingat peristiwa yang dulu pernah terjadi itu. Ibu isti membelaiku dan tak
terasa aku sudah tiduran dipangkuan ibunya Isti. Semua terheran melihatku waktu
__ADS_1
itu. Tidak pernah sebelumnya aku sampai begitu pada ibunya isti. Biasanya yang
begitu adalah Khotimah adik sepupuku yang sudah yatim piatau.
Bahkan aku sendiripun merasakan keanehan itu, kenapa aku juga merasakan kangen dan membutuhkan kehadiran
seorang ibu saat ini ?
Dalam keheningan itu tiba tiba terdengar mas Rofiq dan teman pak Yadi
berteriak.
“Bu…Zain tertembak…!” seru mas Rofiq kakaknya Isti.
“Aku langsung bangkit hendak berlari, namun Khotimah, Isti dan lainya menahanku. Meski aku meronta namun tak
mampu melepaskan diri dari mereka. Sampai akhirnya aku terjatuh pingsan syok mendengar suamiku tertembak.
*******
Isti POV
Melihat Fatimah yang pingsan aku langsung memapahnya ke kamar, minta bantuan khotimah dan Arum karena badan
Fatimah membesar karena kehamilanya. Sementara aku meminta Mas Rofiq yang melihat keadaan di luar. Memastikan kondisi mas Yasin Suami Fatimah.
Apa yang sebenarnya terjadi, dan apa yang harus aku lakukan ? aku hanyalah seorang wanita yang belum pernah
menghadapi situasi seperti ini. Mas Rofiq masuk memberitahukan jika memang mas Yasin tertembak dan baru dibawa kerumah sakit.
Bagaimana ini nanti membeir tahu Fatimah, dan siapa yang akan menjaga keamanan rumah ini. Sementara mas Rofiqlah lelaki satu satunya sekarang. Mana personil polisi yang jagain juga ikut lenyap
sejak tadi. Sekarang mas Yasin juga terkena luka tembak.
“Mas kamu sekarang satu satunya lelaki dirumah ini yang harus menjaga keamanan seluruh penghuni rumah ini.”
Kataku pada mas Rofiq.
Tampak wajahnya juga sedih, baru beberapa hari akrab dengan mas Yasin sekarang justru mas Yasin terluka dan
dirawat dirumah sakit.
“Iya Is, aku akan jaga dengan segenap jiwa ragaku. Tak satupun anggota keluarga ini boleh terluka sebelum
mereka menghabisiku.” Jawab mas Rofiq dengan menahan amarah besar.
Semua sedih saat itu, Fatimah pingsan Khotimah, Arum bahkan Sidiq yang terbangun dan ikut mendengar pun ikut
menangisi Ayahnya. Ibu datang menenangkan kami semua.
“Sudah lah nak kita doakan saja nak Yasin bisa selamat, dia cukup kuat mengghadapi masalah selama ini. Dan kali ini pun semoga dia tetap kuat.” Kata ibuk menenangkan kami semua.
“Yaudah kita tunggu kabar sampai besuk pagi saja, jangan tinggalkan rumah. Jangan sampai apa yang disampaikan mas Yasin kita langgar. Kita tunggu dirumah saja, biar mas Yasin tidak sia sia
menjaga kita sampai dia terluka.” Kataku mengingatkan semuanya.
Tiba tiba hpku bordering, ada
panggilan masuk dari pak Yadi.
“Assalaamu’alaikum pak Yadi, gimana
kondisi mas Yasin ?” tanyaku pada pak Yadi.
“Wa’alaikummussalaam mbak Isti. Ini pak Yasin baru ditangani dokter, mohon doanya saja agar semua baik baik saja. Dan segera kami kirimkan bantuan untuk menjaga rumah pak Yasin.” Jawab pak Yadi di
telpon.
“Bisa mbak, nanti koordinasi dengan kami agar dalam pengawalan nanti.” Kata pak Yadi.
“iya pak, besuk saya sampaikan ke Fatimah. Tentunya dia sangat ingin melihat kondisi suaminya.” Kataku.
“Baik mbak,tolong sampaikan maaf kami yang gagal melindungi pak Yasin tadi.” Ucap pak Yadi.
“Ya pak, gak papa itu sudah musibah pak. Semoga saja mas Yasin cepat sembuh pak !” jawabku.
Telpon pun kemudian ditutup buru buru seperti ada uang memanggil pak Yadi.
********
Pagi hari setelah subuh
Author POV
Setelah semalam dilakukan operasi pengambilan peluru kondisi Yasin cukup membaik meski masih belum sadar. Tapi detak ajntung dan hembusan nafasnya sudah mukai stabil.
Dirumah Fatimah tampak lesu, ingin segera melihat kndisi suaminya. Namun masih harus menunggu jemputan dari pak Yadi.
Fatimahpun sudah member kabar kepada kedua orang tuanya, dan mereka akan segera berangkat ke jogja bersama Yuyutnya.
“Apakah aku harus kasih tahu Eis kalo suamiku tertembak. Tapi apakah dia masih pakai no yang dulu atu sudah
ganti seperti diriku yang ganti nomer sejak menikah. Mudah mudahan Eis gak ganti nomer, biar dia minta tolong kepada kang Salim untuk membantu urusan suamiku.” Bisik Fatimah dalam hati.
Ragu ragu antara iya dan tidak, Fatimah menimbang nimbang antara mencoba membeir kabar pada Eis atau tidak,
meski masih spikulasi nomor Eis masih aktif apa gak, karena Fatimah berpikir
gak mungkin menghubungi Samsudin suami Eis, jelas akan berbeda dampaknya.
Akhirnya Fatimah memasang kartu lamanya dan mengirimkan sebuah pesan pada no Eis yang dulu, jika masih Aktif.
“ Assalaamu ‘alaikum Eis..Jika masih bisa buka pesan ini. Aku adalah Fatimah sahabatmu dipesantren dulu.
Apa kabarmu sekarang Eis ?”
Chat Fatimah ke no Eis, mencoba mengecek no Eis masih aktif apa tidak. Tapi tampaknya tidak aktif, tidak ada laporan dibaca atau terkirim.
“Apa kucoba Tanya Isti sekarang ya, barang kali dia tahu no Eis yang baru. Karena dia dulu kan masih sama sama
dipesantren saat aku pulang.
“Isti..!” panggil Fatimah pada Isti.
“Iya Fat,ada apa ?” Tanya Isti pada Fatimah.
“Kamu masih menyimpan no nya Eis gak Isti ?” tanya Fatimah pada Isti setengah berbisik.
“Buat apa fat, kamu nyari no Eis segala ?” Tanya Isti kaget.
“begini Is, yang bisa membantu kita
itu ya kang Salim. Sementara orang terdekat kang Salim ya Eis kan dia sepupu teh Atikah.” Kata Fatimah pada Isti.
“Nanti aku cek dulu masih aktif gak Fat, kamu konsen saja untuk jenguk suamimu ya. Urusan Eis dan kang Salim biar
Isti yang mikirin.” Kata Isti.
“Yaudah makaasih ya Isti “ jawab Fatimah. Sebenarnya Isti tahu no Eis yang masih aktif. Namun sengaja tidak
__ADS_1
menunjukkan pada Fatimah. Karena nomor Eis juga kadang kadang dibawa suaminya, Samsudin. Sehingga isti merasa perlu mencegah komunikasi Fatimah dengan Samsudin begitu juga mencegah komunikasi antara Yasin dengan Eis.. Isti memang agak posesive dalam hal itu, tapi baik juga sih namanya menjaga itu lebih baik.
*****
Kita tengok kehidupan Eis dan
Samsudin di daerah lewi liang bandung.
“Aa mau kemana, asana teh keur bingung ?” Tanya Eis pada suaminya Samsudin.
“Maaf Eis, aa’ tiba tiba inget ka si Yasin kunaon nya ?” jawab Samsudin.
“Kangen mas Yasin apa kangen istrinya nih ?” kata Eis menyelidik.
“Diih eneng mah kitu, Aa ma seriusasana mah keur aya nanaon,” jawab Samsudin.
“Yaaa wajar lah a’ Eis kan istri kamu jadi wajar juga cemburu.” Jawab Eis.
“Gak lah neneng Eis, kita kan sudah sepakat dan sudah sama sama tahu itu hanya masa lalu saja kan. Jadi gak usah diungkit.” Kata Samsudin.
“Beneran ya Aa’, jangan bohong loh,nanti pasti ketahuan.” Seru Eis.
“Iya Eis, Aa’ gak bohong, inget si Yasin saja dari semalam gak enak seperti dapat firasat kurang baik.” kata
Samsudin.
“Huusss Aa’ Pamali ngomong gitu ah, malah ngedoain orang gak baik.” kata Eis.
“Bukan, tapi firasat itu datang sendiri Eis, tiba tiba inget si Yasin dalam bahya gitu.” Ucap Samsudin.
Eis terdiam sejenak, mendengarkan penuturan Samsudin suaminya. Tampaknya Eis pun menyembunyikan sesuatu dari Samsudin Suaminya.
“Kok kamu diam saja Eis.” Tanya Samsudin.
“Punten aa’, sebenarnya Eis mau cerita justru takut Aa’ marah.” Kata Eis.
“ Cerita apa neng ?” Tanya Samsudin pada Eis.
“Sebenarnya mah, Eis semalam mimpi bertemu dengan mas Yasin. Tapi jangan marah, itu Cuma mimpi !” kata Eis.
“Iya, dalam mimpi itu kenapa ?” Tanya Samsudin pelan.
“Dalam mimpi itu, mas Yasin mengucapkan selamat kepada kita dan menitipkan Fatimah dan anaknya pada kita.
Kemudian mas Yasin pamitan katanya mau pergi jauh ?” kata Eis.
“Ah masak mereka dah punya anak, gak mungkin lah itu sih Cuma mimpi biasa saja kali Eis.” Kata Samsudin.
“Gak tahu juga aa’ tapi yang jelas pikiran eis terganggu setelah mimpi itu. Jujur Eis jadi kepikiran Fatimah juga,
seandanya ada apa apa sama Fatimah dan mas Yasin apa kita akan diam saja ?” Tanya Eis ke Samsudin.
“Ya gak lah Eis, mereka kan sudah seperti keluarga kita. Ada apa apa pasti kita juga ikut merasakan.” Jawab
Samsudin.
“Coba kita kesana yuk a’ !” ajak Eis.
“Mang kamu tahu tempat tinggalnya ?” Tanya Samsudin.
“Nanti minta Isti biar dia sharelok lokasi rumah mas Yasin dan Fatimah. Kan ada isti, yang jadi spionase kita aa ?”
kata Eis.
“Iya ya, atau kita telpun Isti sekarang saja, mungkin saja ini ada hubunganya dengan kasus yang sedang mereka
hadapi.” Kata Samsudin.
“Iya bisa jadi begitu Aa’.” Kata Eis.
Baru saja mereka berniat telpon Isti. Justru Isti lah yang telpon mereka duluan.
“Nah ini Isti malah udah telpon duluan, Eis angkat dulu a’ !” kata Eis.
“Assalaamu’alaikum Isti, bagaimana kabar kamu sekarang ?”Tanya Eis basa basi.
“Wa’alaikummussalaam Eis, aku baik baik saja, tapi suami Fatimah sekarang baru opname semalam terkena peluru.”
Jawab Isti.
“Ya Allah aa’ mas Yasin tertembak
Aa’….” Tangis Eis mendengar sahabtanya tertembak.
“Terus kondisinya sekarang bagaimana Isti ?” Tanya Eis.
“Saat ini Fatimah baru mau jenguk, semalam sudah dioperasi diambil pelurunya. Doakan saja.” Jawab Isti.
“Apa yang bisa aku dan suamiku bantu Isti ?” Tanya Eis.
“Kami butuh kehadiran kalian, tapi jujur saja ini sangat berbahaya. Seperti yang aku ceritakan kemarin. Jika kami
semua saat ini sedang diancam bahaya.” Kata Isti.
“Gak papa Isti, tapi aku harus sowan kang Salim dulu, minta restu dan ijin beliau dan the Atikah.” Jawab Eis.
“Ada apa sebenarnya Isti ?” Tanya Samsudin
“Sahabatmu, Yasin terkena peluru semalam. Sekarang masih di rumah sakit.” Kata Isti.
“Innalillahi…. Gimana keadaan dia sekarang isti ?” Tanya Samsudin yang mengambil alih hp dan berbicara karena Eis sudah tak sanggup lagi bicara.
Akhirnya Isti menjelaskan kronologis kejadian semalam, dan akhirnya Samsudin menyanggupi untuk berkunjung ke jogja.
Setelah pembicaraan dengan Isti selesai samsudin melanjutkan pembiacaraan dengan Eis.
“Neng, aa’ boleh nanya, mimpi kamu semalam yang mengatakan Yasin pamitan tadi bagai mana cerita lengkapnya ?” Tanya Samsudin ke Eis.
“Waktu itu, mas Yasin Cuma bilang, selamat ya Eis. Meski kita tidak berjodoh, tapi jodohmu adalah sahabatku dan
jodohku adalah sahabatmu. Tapi aku mohon maaf, aku mungkin akan pergi lama, aku titip Fatimah dan anak ku ya. Tolong sampaikan juga ke Samsudin suamimu, aku titip keluargaku dulu. Aku percaya kalian. Begitu kata mas Yasin dalam mimpi. Eis takut mas, kasihan Fatimah kalo terjadi apa apa dengan mas Yasin." kata Eis.
“Huush jangan ngomong gitu atuh neng,Pamali kan kamu bilang tadi ?” kata Samsudin.
“Karena mimpi itu Aa’, Eis jadi sedih banget. Kepikiran Fatimah jika mas Yasin sampai….!” Kata Eis dipotong oleh
Samsudin.
“Udah Stop gak boleh diterusin ngomong gitu !” kata Samsudin.
“Tapi A’…! mimpi itu seperti nyata a’..!” kata Eis.
“ Udah STOP. Jangn ngomong yang jelek jelek, aa’akut jika itu terjadi Neng.” Kata Samsudin.
“Yaudah kita ke tempat kang Slaim saja, kita minta ijin dan restu untuk mengunjungi Yasin.” Kata Samsudin
mengkhiri perdebetaan dengan Eis.
***********
bersambung.
Terimakasih atas segala bentuk dukungan dari readers tercinta.
__ADS_1
mohon dukungan berupa like komen dan vote nya.
dukungan kalian adalah semangat bagi Author.