Isyaroh

Isyaroh
Winda & Ayahnya datang


__ADS_3

🌷🌷🌷


Readers Tercinta, mohon maaf jika masih banyak tipo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.


Semoga tetap bisa menghibur.


🌷🌷🌷


Selamat membaca


...........


Episode sebelumnya


“Intinya, pak margono sekarang ditahan dikantor polisi. Tapidari pihak keluarga mohon perkara ini dicanut pak berapapun ganti rugi yang bapak minta mereka akan sanggup untuk membayar.” Kata pak lurah.


“Maaf pak, sepeserpun saya tidak akan minta ganti rugi. Jadi kalo keluarga Margono mengira saya bisa dibeli dengan uang itu salah. Biar saja keluarganya menangis kalo perlu semua yang terlibat membawa senjata tajam tadi ditahan semuanya.” Kataku dengan agak emosi. Tiap kali disinggung dengan sebuah penyelesaian yang mengukur semuanya dengan uang memang aku selalu emosi.


*****


Episode ini


*****


“Sabar dulu mas, maksut mereka mungkin tidak seperti itu. tapi itu adalah bentuk negosiasi mereka saja. Namun karena kemampuan Negosiasi mereka terbatas sehingga kalimat yang muncul seperti itu.” Jawab Pak Lurah.


“Jadi mohon maaf saya ikut bicara pak  saya dari kepolisian hanya menyarankan jika permasalahan ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan maka itu lebih baik. Meskipun jika tetap akan diproses hukum kami juga tetap akan memproses.” Kata Polisi itu.


Khotimah datang menghidangkan minuman kepada kami.


“Owh iya pak silahkan diminum dulu kopinya, supaya pembicaraan ini bisa berjalan dengan baik.” kataku.


“Terimakasih pak, jadi saya sebagai Lurah hanya memohon pada mas Yasin kalo bisa perkara ini dicabut saja agar tidak menimbulkan dendam baru. Jika Margono samapi dihukum maka akan timbul dendam baru nanti.” Sambung pak Lurah.


“Pada dasarnya saya juga tidak bermaksut membuat Margono itu sampai dihukum pak. Namun sebagai efek jera kayaknya meski hanya beberapa hari biar margono tinggal di tahanan dulu. Meski nanti saya siap mencabut perkaranya. Dengan catatan ada dari pihak keluarga margono yang datang kesini meminta maaf dan berjanji tidak mengulangi lagi. Bukan sya bermaksut mempersulit juga, tapi saya rasa untuk sebuah kesalahan itu harus ada pengakuan tulus meminta maaf. Dan kejadian sore tadi menunjukkan bahwa mereka tadi masih belum tulus mengakui kesalahan. Tapi masih menunjukkan powernya dan ingin mengintimadasi dengan menunjukkan powernya.” Jawabku menanggapi perkataan pak Lurah.


Suasana hening sejenak, pak lurah tampaknya tak punya argument untuk menjawab.


“Saya setuju pak, tapi bapak perlu thu jika kelamaan dan berkas perkara sudah naik maka proses pencabutan perkara juga akan makin sulit.” Kata Polisi itu.


“Kapan berkas itu naik pak ?” tanyaku pada Polisi itu.


“Mungkin lusa berkas itu harus naik pak, karena kita juga harus membuat laporan setiap ada perkara. Jika perkara itu dicabut maka kami akan membuat laporan bahwa kasus ini sudah diselesaikan secara kekeluargaan. Karena kasus ini juga masih tergolong TIPIRING atau tindakan pidana ringan.” Jelas Polisi itu.


“Yaudah kalo begitu, biar lusa saya cabut perkaranya dan sebelum saya cabut biar margono disana dulu.” Jawabku pada Polisi itu.


“Baiklah kalo begitu, lusa saya tunggu pak biar nanti kami siapkan dulu berkas pencabutan perkaranya.” Jawab Polisi itu.


Begitulah hasil negosiasi yang kami lakukan, karena aku juga tidak bermaksut menyengsarakan orang maka aku bersedia mencabut berkas pengaduan. Tapi efek jeranya juga dapat pikirku.


Setelah selesai berembuk dn ngopinya pak Lurh dan polisi itu mohon diri. Kemudian aku dan Rofiq yang tadi belum sempat sholat Isya segera melaksanakan Sholat Isya. Kemudian aku melanjutkan dengan membaca doa doa khusus untuk memagari rumah dari gangguan makhluk astral. Dilanjutkan dengan mengelilingi rumah sebanyak 7 kali putaran seperti putaran thowaf.


Didampingi Ardiaan yang memliki indera keenamnya, aku mengelilingi rumah dan melafadzkan doa doa khusus. Setelah selesai akupun masuk kerumah dan hendak beristirahat karena besuk ada janjian dengan istri Fanani dan Ayahnya.


Aku masuk kamar dimana istriku sudah terlelap tidur, aku memandangi wajah istriku yang lelap. Dalam hati aku merasa kasihan dengan Istriku, sebagai orang yang masih tergolong baru menikah sudah menghadapi banyak sekali masalah. Bahkan dalam kondisinya yang baru hamil istriku harus sering aku tiggalkan karena urusan urusan mengahruskan aku pergi.


Dengan hati hati agar tidak mebuatnya bangun aku bebaring disampingya, dan memandangi perut istriku yang semakin membuncit. Aku ingin memgang perutnya, namun takut membangunkan istriku.


Sehingga aku hanya berbaring miring sambil memandangi wajah dan perut istriku itu. akhirnya kantukku datang aku memjamkan mataku untuk memberikan hak mata untuk istirahat. Aku peluk istriku pelan pelan agar tidak engagetkan dia dan aku kecup keningnya sebelum aku tertidur.


Samapi aku tertidur dn bangun setelah mendengar Tarhim ( Bacaan sebelum masuk wakt Sholat ). Aku terbangun dan kulirik disampingku istriku sudah lebih dulu bangun. Kemudian aku bangkit dan duduk sejenak ditepi ranjang untuk member kesempatan aliran darah biar rileks dulu.


Kemudian aku menuju ke kamar mandi untuk siap siap melaksanakan sholat subuh. Di dapur istriku sudah menyiapkan minuman hangat bersama isti dan Khotimah.


“Udah bangun mas, baru mau Fatimah bangunin.” Ucap istriku.


“Iya denger atarhim tadi, udah hampir subuh jadi aku bangun.” Kataku.


Semalam sampai jam berapa keliling dengan Ardian ? maaf Fatimah tinggal tidur duluan udah ngantuk banget.” Kata Fatimah.


“Iya gak papa, aku juga lihat kamu tidurnya pules sekali semalam.” Jawabku sambil masuk ke kamar mandi, buang hadats dan cuci muka. Kemudian pergi ke tempat wudhu mengambil wudhu untuk segera sholat subuh.


“Mau ngopi dulu gak mas ?” Tanya Khotimah saat aku wudhu.


“Boleh, biar lebih seger saat subuh nanti.” Kataku.


“Jangan kebanyakan ngopi lah mas, tar kena asam lambung ?” ucap Fatimah.


“Insya Allah gak, kalo kopi pahit mah ?” jawabku.


Seusai ngopi dan melaksanakan sholat subuh kami lanjutkan dengan obrolan ringan membicarakan kedatangan Winda dan Ayahnya nanti. Serta bagaimana caranya membuat mereka rujuk kembali.


“Kalorencana kamu bagaimana mas, biar Winda mau kembali rujuk lagi dengan Fanani ?” Tanya Fatimah istriku.


“Yang jelas, Fanani harus mengakui kesalahanya serta benar benar merubah jalan hidupnya agar lbih terarah. Karena selama ini Fanani itu hidupnya sperti tak punya Arah dan tujuan yang pasti. Jadi kadang kelihatan baik, tapi dilain waktu berbah jahat dan semaunya sendiri. Angin anginan lah istilahnya, tergantung angin mana yang membawa dia.” Jawabku.


“Berarti menurut Mas Fanani itu labil jiwanya ?” Tanya Isti.


“Iya mungkin istilah itu lebih tepat, dan sifat seperti itu bisa berbahaya. Karena dia bisa saja berubah karakter dalam waktu sesaat. Ibaratnya habis bersedekah bisa saja dia itu mencuri.” Ucapku.

__ADS_1


“Ya jangan bilang gitu lah mas, mask samapai segitunya !” sahut Fatimah.


“Enggak itu hanya gambran jika karakternya bisa berubah ubah dalam sesaat. Maksutnya habis kelihatan baik banget bisa saja hanya karena hal kecil jadi jahat banget. Habis nolong orang misalnya, begitu melihat yang ditolong mengecawakan bisa saja dia berbalik menyakitinya.” Jawabku.


Obrolan kami berhenti karena aku harus membantu anak anak untuk Grafting karena pesanan cukup banyak yang harus dikerjakan. Mungkin ini selesai sebelum Fatimah istriku melahirkan anakku. Mudah mudahan saja nanti begitu selesai langsung dibayar cash. Bisa buat biaya persalinan, batinku.


Seandainya mundur pun mudah mudahan tidak melewati sampai Fatimah melahirkan. Dengan perhitungan dari grafting sampai tumbuh sekitar satu setengah bulan siap kirim. Kemudian perkiran istriku melahirkan masih 3 bulanan. Semoga saja selesai tepat waktu dan sukur sukur semua permasalahan ini juga selesai.


Aku segera menyiapkan alat grafting dan mulai memotong batang batang yang akan digrafting.


Ketika Amir dan heri datang semua sudah siap untuk melakukan Grafting. Dan aku membantu mereka biar cepat selesai semua. Karena speed mereka masih dibawah standart. Kalo aku dapat 10 batang biasanya mereka baru dapt 3 s/d 4 batang.


Sudah lama aku tiak mendampingi mereka kali ini aku kembali mendampingi sambil melihat perkembangan speed mereka.


Kira kira satu jam aku mendampingi mereka setiaap aku dapat sepuluh batang mereka dapt 5-7 batang berarti grafiknya naik pikirku. Jika dilakukan dua orang dengan speed segitu sudah cukup lah mungkin beberapa hari lagi untuk pesanan itu  kelar. Tinggal nunggu siap kirim saja dan menunggu pembayaran. Semoga saja bayi dalam kandungan Fatimah sesuai jadwal tidak maju terlalu cepat. Sehingga persiapan untuk biaya persalinan sudaah terkumpul, dan semoga bisa melahirkan dengan proses Normal.


Begini rupanya rasanya menjadi seorang calon Ayah, eh tapi memang sudah menjadi ayah. Begini rasanya menanti saat saat kelahiran anak dari istri yang dikandungnya. Jadi teringat bagaimana dulu Arum saat mau melahirkan tanpa ditunggui suaminya, eits salah lagi. Memang dulu Arum melahirkan tanpa ada suaminya. Aku jadi tersenyum kecut teringat semua masa lalu yang menyebabkan penderitaan orang.


Dari pada mikirin dan menyesali yang sudah terjadi lebih baik aku dhuha dulu saja ah, batinku. Kemudian segera ambil air wudhu dan sholat dhuha.


Seusai dhuha aku mencari Fatimahternyata dia tiduran di kamar.


“Kenapa Fat, kok kayak ngelamun begitu ?” tanyaku pada Fatimah.


“Gak kok mas, hanya mikirin nama buat anak kita kalo cewek, mau Fatimah kasih nama siapa ya nanti ?” ucap Fatimah.


“Owh, udah dapet belum namanya ?” tanyaku datar. Kaarena ada semacam keyakinan jika anakku cowok meski belum USG. Ini hubunganya dengan keyakinan dan perjalanan dan pengalaman spiritual yang aku alami. Jadi memang tidak ada referensi yang pasti atau tidak ada bukti empirisnya, bahkan mungkin bagi sebagian orang dianggap bid’ah atau bahkan musyrik. Namun bagiku itu hanya sebuah ilmu kebiasaan setelah mendapatkan ‘ISYAROH’ lewat mimpiku. Dimana aku bermimpi jika ditemui Abah guruku diberi dua pilihan nama semuanyaa nama cowok. Maka aku punya keyakinan meski tidak sampai 100% jika anakku cowok.


Sehingga sampai mengadakan perjanjian dengan Fatimah istriku, jika anak kami lahir cewek Fatimah yang kasih nama aku gak boleh ikut campur. Tapi jika anak kami lahir cowok, Fatimah juga gak boleh ikut campur soal pemberian nama. Bukan taruhan sih, hanya permainan kecil atau perjanjian suami istri biasa yang bertujuan untuk membuat hubungan lebih harmonis tidak kaku dan monoton.


“Belum dapet yang pas mas, tapi sudah ada beberapa gambaran.” Jawab Fatimah.


“Siapa bakal nama jika anak kita cewek ?” tanyaku.


“Fatimah pingin pakai kata Nisa atau Miftahul jannah atau Jannatun Ma’wa atau dengan kata Khoir.” Jawab Fatimah.


“Banyak amat, itu sih namanya kamu masih bingung sayang. Belum mendapat sebuah kepastian.” Jawabku.


“Ya emang masih bingun, memang kalo cowok mas mau kasih nama siapa ?” Tanya Fatimah.


“Kan udah aku bilang, masih rahasia tapi pada saatnya baru aku kasih tahu kamu dan semuanya.” Jawabku.


“Diih curang, kok mas nanya ke Fatimah kalo nama cewek siapa kan udah Fatimah kasih jawaban. Masak ditanya balik gak mau jawab.” Protes Fatimah.


“Aku kan Cuma nanya, gak maksa kamu harus jawab. Kamu merahasiakan juga boleh kok. Seperti aku juga merahasiakan sampai waktunya nanti.” Jawabku.


Fatimah kelihatan wajahnya sebel dan spontan mendaratkan cubitan perihnya ke lenganku.


“Bodo,mas nyebelin gak bisa apa sehari aja gak godain Fatimah.” Jawabnya ketus.


“Lah kalo gak godain istri sendiri masak mau godain istri orang, bisa diamuk sama suaminya nanti.” Jawabku.


“Mau Fatimah cubit sampai nangis minta ampun ?” kata Fatimah sambil melotot (pura pura ) marah.


“Kalo kamu gituin aku kabur lah lapor polisi kasus KDRT.” Kataku sambil tertawa.


“Dasar kamu ini mas, sukanya bikin orang jadi sebel. Ngapain nyusul Fatimah kemari ?” Tanya Fatimah masih dengan sikap ketusnya meski itu hanya pura pura.


“Ya pingin tahu aja kondisi istrinya, kira kira kamu pingin lahirin normal atau cesar nanti ?” tanyaku.


“Nanya serius apa Cuma mau bikin candaan lain ?” Tanya istriku curiga.


“Diih kok gitu, ya serius lah masak hal begitu bercanda.” Jawabku.


“Siapa tahu, orang ngomongin Sholat aja mas masih juga bisa bercanda dengan bilang sholat itu no dua. Sampai Fatimah dan Isti kemarin beneran marah. Ngira mas nganggep sholat itu gak penting.” Jawab Faatimah.


“Wkakaka…. Jadi ceritanya kalian masih pada dendam sama aku soal kemarin itu ?” tanyaku pada Fatimah.


“Gak juga, Cuma khawatir aja mas keceplosan sama orang lain terus jadi timbul salah faham. Bisa nambah masalah nanti, sedangkan maslah yang kita hadapi sudah cukup banyak. Kadang sebenarnya Fatimah sama Isti tu suka kasihan lihat kamu mas. Apa gak capek mikirin banyak maslah begini.” Kata Fatimah.


“Maksutnya bagaimana ?” tanyaku.


“Kemarin, sepulang ngurus mediasi dirumah Winda, sorenya ngurusin Rendy kemudian malamnya didatangi Pak Lurah dan polisi habis itu berdoa dan keliling rumah. Padahal sebelumnya sudah ngurusin Khotimah yang kerasukan dan mencari mas Rofiq yang sempat hilang. Sebenarnya Fatimah semalam gak tidur saat ma masuk kamar, tapi hanya pura pura tidur saja. Kasihan lihat mas kecapean.” Ucap Fatimah.


Aku dia sjenak member kesempatan Fatimah mengeluarkan semua keluh kesahnya.


Mast u ngerasa capek gak sih, menghadapi semua masalah ini, masalah yang selalu datang silih berganti. Jujur saja mas gak usah malu malu kalo mas merasa kecapean menghadapi masalah ini. Mungkin mas perlu refresh atau bagaimana.” Tanya Fatimah.


“Kamu ngapain bertanya begitu Fat, kayak gak pernah ngaji saja. Yang namanya orang masih hidup pasti penuh dengan cobaan. Kalo penuh cucian namanya keranjang pakaian.” Candaku.


“Mas Fatimah baru serius jangan bercanda kenapa sih ?” ucap Fatimah sewot tapi sambil nahan tawa.


“Aku gak mau kamu mikir yang terlalu berat kamu lagi hamil kasihan anakku yang ada didalam perutkamu ini.” jawabku pada Fatimah.


“Justru Fatimah yang kasihan lihat kamu mas, jujur Isti kemarin sampai bilang gini mas.  Kapan suamimu itu bisa istirhat pikiranya Fat, kok kayaknya selalu saja datang masalah. Itu juga sebenarnya yang aku rasakan mas.” Ucap Fatimah serius.


“Semua masalah gak pernah aku pikirin dengan berat kok Fat. Hanya aku jalani saja, karena aku yakin semua itu sudah ada yang mengatur yang Maha Segalanya. Jadi kita kan Cuma seperti wayang yang di gerakan oleh “Sang Dalang” yang member kita peran. Jadi dibikin slow saja lah.” Jawabku pada Fatimah.


“Gak bisa begitu juga kali mas, kita manusia diberi perasaan bukan wayang yang tidak punya persaan.” Protes Fatimah istriku. Rupanya ketularan Isti dalam berdiplomasi, batinku.

__ADS_1


“Ya kalo jujur memang kadang juga merasa jenuh dengan permasalahan yang ada ini Fat. Makanya mas kalo pas lagi longgar pinginya sama kamu dan sering ngajak kamu bercinta. Karena bukab sekedar urusan nafsu saja Fat. Ketika aku memberimu nafkah batin itu seperti merefresh semua kepenatan batin yang ada. Bukan maksutku ngomong jorok, tapi itulah kenyataanya Fat.” Jawabku pada Fatimah.


“Mas ah siang siang ngomonginbegituan.” Kata Fatimah malu malu.


“Ini aku serius bukan bercanda Fat, memang seperti itu kok.” Kataku.


“Mas gak lagi mengajak kan ?” canda Fatimah.


“Gak lah, ada waktunya juga apa lagi sebentar lagi juga Winda sama Ayahnya mau kesini. Bisa bisa pas lagi tanggung harus berhenti. Kan gak enak banget kalo begitu. Jawabku sambil senyum.


“Iya iya mas, Fatimah juga hari ini capek banget nanti gak usah ikutan ya Fatimahnya ?” kata Fatimah istriku.


“Waduh jangan begitu, justru kalo kamu ikut itu mau mas jadiin alat agar Winda lihat kamu lagi Hamil dan ada keinginan dia untuk rujuk agar bisa hamil seperti kamu.” Jawabku.


“Yaudah kalo begitu, tapi Fatimah gak usah ngomong apa apa yam as ?” kata Fatimah.


Belum selesai kami berbincang bincang terdengar suara salam dan ketukan pintu.


Tok tok tok….


suara ketukan pintu.


“Assalaamu’alaikum “ suara salam Winda istri Fanani.


“Wa’alaikummussalaam.” Jawabku sambil bangkit menuju pintu dan membukakan pintu rumah buat Winda dan Ayahnya.


“Mari silahkan masuk pak, Bu Winda hanya berdua saja kah ?” tanyaku.


“Iya pak, saya rasa cukup kami berdua saja yang datang biar pembicaraan lebih kooperatif. Maaf jika kemarin om saya agak mentyinggung bapak.” Ucap Winda.


“Udah gak usah diambil hati, mari silahkan kita bicara di ruangan dalam saja. Biar kami panggilkan Fanani untuk ikut bicara.” Jawabku.


Kemudian aku minta tolong Isti untuk memanggil Fanani, karena gak mungkin minta tolong Khotimah.


Biarlah Khotimh hari ini bebas istirahat dikamarnya, karena sejak semalam dia tampak ikut penasaran dengan kelanjutan kasus fanani ini.


Sementara Fatimah menemani Winda dan Ayahnya diruang mujahadah agar pembicaraan lebih terkesan privasi tidak terganggu seperti kalo diruang tamu. Karena bisa saja sewaktu waktu ada tamu lain datang.


Begitu aku ikut duduk dan memperkenalkan Fatimah istriku kepada Winda dan Ayahnya.


“Ini istri saya tercinta bu Winda dan bapak siapa namanya maaf kemarin lupa nanya nama.” Kataku membuka obrolan.


“Nama saya Hendro mas.” Jawab ayahnya Winda singkat.


“Owh iya pak Hendro, ini istri saya namanya Fatimah mohon do restunya istri saya baru hamil sebentar lagi melahirkan. Doakan agar semua lancar pak.” Kataku pada Ayah Winda.


“Aamiin mas, semoga ibu dan bayinya sehat selalu.” Jawab Ayahnya Winda.


Sessat kemudian Fanani muncul, dengan wajah yang sedikit tegang melihat Winda wanita yang dia cintai tapi juga dia khianati. Dihadapanya didampingi ayah kandungnya yang menatap wajah Fanani dengan tajam. Tampaknya sudah siap menreang Fanani habis habisan akibat perbuatan Fanani.


“Duduk dulu Fanani, maaf ya pak kita ngampar disini gak pakai kursi yang nyaman.”  Kataku pada ayah Winda. Memang lebih suka duduk beralas tikar atau karpet saat musyawarah begitu, karena lebih menjaga kesetabialan emosi dr pada duduk dikursi.


Begitu Fanani duduk disampingku, kemudiaan aku melanjutkan bicara pada ayahnya Winda.


“Terimakasih pak, sudah bersedia singgah di rumah kami yang minimalis ini. Mohon maaf jika tempat dan penyambutan kami tidak sesuai dengan harapan bapak dan bu Winda.”kataku berbasa basi.


“Ini sudah lebih dari cukup kok mas. Kami juga berterima kasih atas diperkenankanya kami menyelesaikan permasalahan anak saya dan suaminya.” Jawab ayahnya Winda. Tampaknya sudah pingin masuk pada pokok permasalahanya.


“Tidak masalah pak, justru saya merasa senang jika bisa menjadi penjembatan rukunya kembali putrid bapak dan suaminya. Silahkan pak mumpung disini juga ada menantu bapak jika adasesuatu yang hendak dismpaiakan kepada mantu bapak. Juga bu Winda jika ada yang mau disampaikan kepada suami ibu.” Kataku mempersilahkan ayahnya Winda berbicara.


“Terimaksih atas waktunya mas. Mohon maaf jika nanti saya dalam berbicara agak kurang sopan atau sedikit emosi pada menantu saya. Langsung saja, Fanani… kamu itu lelaki atau bukan? Kenapa selama ini menggantung nasib istrimu tanpa kejelasan. Bahkan tidak ada itikat baik sama sekali yang kamu tunjukan, selama istrimu dirumahku tak sekalipun kamu mau menjenguk untuk menanyakan kabarnya atau mengajak dia kembali padamu. Sampai winda mengajukan gugatan cerai pun kamu tidak memberikan respon, sekarang juga bapak minta kamu mau menandatangani gugatan cerai istrimu sekarang juga…!!!” kata ayahnya Winda.


 


@@@****>>>>?????


...bersambung...


Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.


Komentar readers semangat Author


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...

__ADS_1


 


 


__ADS_2