
Sayup sayup kudengar dia tertawa dan berteriak.
" Terlambat tong, kamu sudah tertipu... ha ha ha ha...!" seringainya memuakkan.
Aku hubungi pak Yadi, kuceritakan kejadian ini, dan pak Yadi langsung meluncur ke TKP.
Sampai di gedung pengadilan aku jadi bingung, menolong yg kesurupan atau mencari Tuti saksi kunci. Sungguh berat, benar benar pilihan yg berat dan sulit batinku.
Tiba tiba, ada yg menepuk pundakku.
" Jenengan tangani yg kesurupan, saya mengamankan yang lain !" ucap pak Yadi.
" Owh iya pak, tapi ada yg mau ngikutin saksi pak !" ujarku.
"Jenengan tenang saja, ini sudah direncana kan ? Saksi kunci belum dihadirkan. Yang tadi adalah jebakan buat pancing mereka saja !" kata pak Yadi aku agak lega.
Untung pak Yadi tak lihat kepanikanku.
Aku segera mengumpulkan orang yg kerasukan, dibantu beberapa orang pengunjung sidang. Setelah berkumpul, aku memohon untuk dibantu doa sesuai Agama dan keyakinan masing masing.
Karena yang kerassukan cukup banyak, dan dari berbagai keyakinan. Diantara yg hadir ada yg membantu dengan cara dan keyakinan masing masing.
Aku mulai membaca Ayat ayat rukyah, disampingku seoran pemuda Kkristen juga membaca doa dan mengacungkan Salibnya pada yg kesurupan.
Sekitar 7menit suasana kembali tenang. Jerit tangis, teriakan dan tawa yg tadi membuat gaduh akhirnya hilang.
Aku segera mencari keberadaan pak Yadi. Ternyata pak Yadi masih di ruangan itu juga. Aku lantas menghampirinya.
" Ada yg sengaja membuat gaduh pak !" kataku pada Pak Yadi.
" Iya pak, sudak kami prediksi. Tapi tidak disangka, bikin gaduhnya seperti itu, saya kira main fisik saja." ucap pak Yadi.
" Gak papa pak, yg penting strategi untuk menguak tabir selama ini aman." ucapku pada pak Yadi dengan berbisik.
"Iya pak, bagaimana kalo obrolan kita lanjut dirumah pak ?" tanya pak Yadi.
" Boleh banget, dirumah saya saja, sekalian saya kenalkan keluarga besar saya !" jawabku pada pak Yadi.
" Boleh pak, sudah komplit disana ? Maaf maksut saya ada ibunya Sidiq juga ?" tanya pak Yadi sedikit bercanda.
" Udah pak, satu paket dengan Sidiqnya, semalem sudah ngobrol lama dengan istriku juga Isti." jawabku kalem.
"Serius pak ?" tanya pak Yadi heran.
"Iya, nanti pak Yadi bisa lihat sendiri lah !" jawabku.
Aku pulang mendahului pak Yadi, biar pak Yadi nyusul. Sekalian nyiapin rumah, pikirku.
Aku bergegas pulang, untuk memberi tahukan Fatimah dan Isti. Jika pak Yadi akan datang membicarakan hal penting.
Sampai dirumah disambut Fatimah istriku.
" Sudah selesai mas sidangnya, cepat amat ?" tanya Fatimah istriku.
" Terpaksa di tunda, karena ada pengacau !" jawabku singkat.
" Pengacau bagaimana maksutnya ?" tanya Fatimah istriku.
" Nanti saja, pak Yadi mau kesini sebentar lagi. Tolong nanti kamu, Isti dan Arum ikut bergabung ngobrol dengan pak Yadi. Biar Sidiq sama Khotimah dulu nanti." ucapku pada Fatimah.
" Yaudah nanti Fatimah bilangin, sekarang mas Yasin mau kemana ?" tanya lanjut Fatimah.
" Gak kemana mana, nungguin pak Yadi aja !" jawabku.
Tak berapa lama pak Yadi pun datang masih dengan seragam dinasnya.
Fatimah segera memanggil Isti dan Arum.
" Assalaamu 'alaikum pak !" sapa salam dari pak Yadi.
" Wa 'alaikummussalam pak Yadi, mari silahkan masuk !" jawabku.
Tak lama setelah duduk, Isti dan Arum datang bersama Fatimah istriku.
" Assalaamu 'alaikum bu Fatimah " sapa pak Yadi pada istriku.
" Wa 'alaikummussalam pak Yadi, maaf baru bisa ketemu nih !" ucap istriku.
" Iya bu, bu Fatimah lama pulang kampungnya !" jawab pak Yadi.
__ADS_1
Kami pun segera memulai pembicaraan.
" Kronologis awal di sidang tadi bagaimana pak, kok sampai banyak yg kerasukan begitu ?" tanya pak Yadi membuka obrolan.
Yang lain kaget dengan pertanyaan pak Yadi. Karena tidak tahu apa yg sebenarnya terjadi.
" Saya kurang tahu persis, karena fokus pada persidangan. Yang jelas kejadian itu terjadi saat Hakim memanggil saksi kunci si Tuti pak !" jawabku.
" Sebenarnya info akan terjadi hal itu saya sudah dengar dari informan kami pak. Tapi susah untuk membuat berita acaranya, jika yg berbau misitis. Jadi saya juga bingung, harus bagaimana ?" kata pak Yadi.
" Mau gak mau, Fatimah dan Isti nanti malam kita mulai mujahadah. Agar diberi kemudahan. Untuk tindakan Lahiriyahnya, biar pak Yadi yg menangani." kataku pada Fatimah dan Isti.
" Dan untuk kamu Arum, tentu Fatimah tadi sudah cerita. Tolong di fahami ya !" kataku.
Tiga wanita tersebut hanya mengangguk, tanda mengerti.
" Apa memang bisa pak, membuat orang jadi kerasukan seperti itu ? Artinya sengaja membuat orrang lain kerasukan begitu ?" tanya pak Yadi.
Aku jadi berpikir, gimana cara jelasinya. Karenna dibilang bisa, tidak semua orang juga bisa dibuat begitu. Dibilang tidak bisa, ada yg seperti itu.
" Penjelasanya agak panjang pak, o iya lupa belum dapet minuman. Khotimah tadi mana, minta tolong buatin minum buat pak Yadi." kataku mengulur waktu berpikir.
" Gak usah gak papa pak, lanjutin aja ceritanya !" pinta Pak Yadi.
Meski begitu, Khotimah akhirnya datang bawa minuman.
"Maaf terlambat bawa minumanya !" ucap Khotimah.
" Gak papa Khot !" jawabku.
Pak Yadi menatap Khotimah sekilas. Mungkin bertanya dalam hati, " siapa ?"
" Itu adik sepupu istri saya pak, ikut kesini kemarin !" kataku pada pak Yadi.
" Owh, pantas saya belum tahu, dan belum masuk data pengamanan pak. Nanti saya minta tambahkan." jawab pak Yadi.
" Iya pak, anaknya juga saya larang keluar lingkugan rumah dulu kok. Sama seperti yg lain. O iya diminum dulu pak, sebelum lanjut cerita." ucapku.
" Makasih pak !" jawab pak Yadi.
Tiba tiba Isti angkat bicara.
" Jadi tadi sempat ada insiden ya dipengadilan ?" tanya Isti.
" Kemudian soal pertanyaan saya tadi gimana pak ?" desak pak Yadi.
" Owh iya pak, jadi memang bisa orang umum/ kebanyan sengaja di rasuki jin atas perintah manusia.
Namun tidak semua orang bisa dibegitukan. Yg bisa yg pikiranya kosong saja pak, pada umumnya." jawabku.
" Tadi ada yg kerasukan saat sidang Mas ?" tanya Fatimah.
"Iya, lebih tepatnya sengaja dibuat keraukun !" jawabku
Arum hanya bingung tak tahu harus bilang apa.
" Kok Arum jadi merinding dengernya ya ?!" Komentar Arum.
" Gak usah takut nanti mlm ikut mujahadah biar hati tenang." jawabku.
" Betul kata pak Yasin, untuk spiritualnya monggo dibantu doa. Dan untuk tindakan realnya serahkan pada kami." kata pak Yadi.
"Itulah kenapa aku undang kaliyan berkumpul di rumah ini. Agar bisa membantu doa berjamaah tiap malamnya." ucapku.
" Jadi aku gak berlebihan meminta kaliyan jangan keluar rumah !" ucapku lanjut.
Kemudian pak Yadi memberikan penjelasan dan pengarahan terkait tindakan preventif menjaga keamanan dan keselamatan. Demi berhasilnya, rencana pembongkaran kasus ini.
Dan secara pribadi pak Yadi menyampaikan bahwa info yg pak Yadi dapat. Pihak lawan mengundang praktisi paranormal berjumlah 7 orang dari 7 macam aliran kebatinan atau 7 perguruan yg berbeda.
Sempat was was juga rasanya, mengngat aku sendirian dan dalam hal ini kang Nur Salim lah yg lebih menguasai. Aku hanya pantas jadi muridnya saja.
Tapi kenapa menurut kang Salim harus aku sendiri.
Sepulang pak Yadi aku diam termenung, bingung juga harus bagaimana.
Tiba tiba Fatimah bertanya
" Kayaknya mas mau merahasiakan sesuatu lagi, ya ?" tanya Fatimah.
__ADS_1
" Gak kok Fat, semua sudah disampaikan pak Yadi tadi." jawabku.
" Fatimah tahu, mas pasti mikir sesuatu yg berat kan, jujur saja lah !" ucap Fatimah agak meninggikan nada.
" Owh iya, Isti mau beresin dapur dulu bantu Khotimah !" ucap Isti memberi kesempatan aku dan Fatimah bicara personal.
" Arum juga, mo ngajak sidik kasihan Khotimah dari tadi dia yg ajak." Arum ikutan pergi.
Setelah semua pergi, barulah aku bicara.
" Tadi pak Yadi bilang, jika pihak lawan mengundang 7 dukun dari 7 perguruan. Itu yg buat aku agak was was !" ucapku pada Fatimah.
" Dulu kang Salim bilangnya gimana ?" tanya Fatimah.
" Cuma bilang akan muncul banyak fitnah dan harus aku sendiri yg menangani. Kang Salim belum dapat perintah untuk terjun membantu. !" jelasku pada Fatimah.
" Masa gitu, ceritanya gimana ?
Terpaksa kuceritakan dialogku dengan kang Salim waktu itu.
...Flashback ON....
"Aku kan di dawuh i Abah, supaya minta tolong kang Salim bantuin menyelesaikan masalah di daerah saya. Kapan kang Salim bisa ikut... ? " tanyaku.
" Aduh kang kang.... Kamu tu santri saya juga santri nya Abah. Ya gak perlu saya kesana. Kamu sendiri yg harus menyelesaikan ! " kata kang salim.
" Tapi yg saya hadapi sekarang adalah Makhluk ghoib yg ganas, dan Saya kesini diutus Abah. Untuk minta bantuan kang Salim.." kataku.
" Emang saya belum bantu,,, ? Yang bantu ngeluarin kamu dari perangkap jin siapa " kata kang Salim.
Iya juga siih.
" Tapi kenapa gak dari saat saya diserang ular jelmaan itu kang ?" ptotesku.
" Karena memang kamu harus ditangkap mereka dulu, kamu harus masuk ke dunia mereka dulu... " kata kang Salim.
" Buat apa kang, kenapa aku harus masuk kesana dulu ? Kenapa gak langsung disuruh kesini saja " tanyaku.
" Ya buat ambil batu, pembuka dimensi itu, memang harus kamu yg ambil... " jawab kang Salim.
Aku tersentak..
Batu, owh iya aku kan keluar bawa batu dari ayahnya jin Sukmini itu...? Tapi dimana batu itu.
" Terus dimana batu itu sekarang kang Salim " tanyaku.
" Ada saya simpan, belum waktunya kamu pegang " jawabnya datar.
" Gak usah tanya tentang mimpi kamu dll. Nanti kamu cari sendiri jawabnya. Insya Allah nanti ketemu. Gak buru buru nemuin istri kan " kata kang Salim.
Kang Salim seakan tahu isi pikiranku. Sementara istri kang Salim Teh Atikah cuma senyum senyum.
"Begitulah Fat, pesan kan Salim." kataku pada Fatimah.
" Tapi sekarang kan beda mas, masa iya mas mau hadapi 7 Dukun itu seoang diri ? Konyol itu mas namanya !" protes Fatimah dengan intonasi tinnggi.
Aku hanya terdiam tak mampu menjawab.
Tiba tiba Isti datang,....
" Maaf Isti ikut nimbrung, dan tanpa sengaja dengerin percakapan kalian. Aku setuju dengan Fatimah, mas Yasin jangan konyol !" seru Isti
......
.......
...............
...Bersambung...
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
__ADS_1
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...