
Tapi sebenarnya yang menjadi beban pikiranku sendiri adalah, ini jangan jangan strategi lawan menunda persidangan untuk mengatur strategi baru.
Lalu akanmenggunakan cara apa lagi mereka ?
Apakah akan secara frontal membalas dendam pada kami atau akan menggunakan cara supra natural dengan cara yang lain lagi.
Aku jadi bingung sendiri menghadapi masalah ini. Sementara untuk hal yang begini aku gak mungkin melibatkan Samsudin dalam hal ini.
Kalo memimpin mujahadah dan lainya masih bisa. Tapi jika sudah harus yang berbau kontak fisik maupun batin/supranatural kayaknya aku gak enak minta bantuan Samsudin.
“Apa sebenarnya keinginan mereka dengan menunda persidangan seperti ini pak Yadi. Apakah sudah mencium adanya strategi baru yang akan mereka terapkan ?” tanyaku pada pak Yadi.
“Sejauh yang saya dengar dari informan kami, mereka akan menyatukan kekuatan untuk sebisa mungkin menculik Sidiq pak. Hanya itu satu satunya harapan mereka agar bisa memaksa bapak mengakui sebagi pelaku pembunuhan itu.” Kata pak Yadi.
Aku terdiam mendengar keterangan pak Yadi, sepicik dan sekejam itukah pemikiran mereka. Maka tidak ada jalan lain Sidiq harus segera aku ungsikan ke bandung ditempat Samsudin dan Eis, atau dipondok kang salim biar Samsudin dan Eis yang ikutan ngawasin disana. Tapi apakah Sidiqnya mau, atau haruskah Arum ibunya Sidiq juga ikut kesana,pikirku.
“Baiklah pak Yadi terimakasih atas informasinya, artinya kita juga harus membuat sebuah rencana untuk melindungi Sidiq.” Kataku.
“Betul pak, itu juga yang hendak saya sampaikan.” Ucap pak Yadi.
“Menurut pak Yadi apa yang Harus kita lakukan pak ?” tanyaku.
“Karantina ditempat yang lebih aman pak, dan yang jauh dari pantauan mereka serta ada pengawasan ketat.” Jawab pak yadi.
“Apakah, tidak ada kemungkinan lain pak ?” tanyaku lanjut.
“Saat ini belum adaa ide pak selain itu. Gerakan mereka begitu senyap sulit diprediksi, dan agresi mereka yang sporadic juga sangat membuat kita sering kecolongan pak.Takutnya itu nanti akan memberikan peluang pada mereka untuk memanfaatkan saat kita lengah. Bahkan orang yang berada disusun ini, yang ada dipihak mereka juga belum terdeteksi siapa orangnya pak.” Penjelasan pak Yadi.
“Sambil kita pikirkan nanti pak, jujur saja saya sebenarnya juga sudah cape pingin segera kasus ini selesai dan hidup normal seperti dulu lagi. Apalagi usia kandungan istri saya yang sudah hamper memasuki hari perkiraan lahir nya anaka saya.” Kataku pada pak Yadi.
“Saya tahu pak, tapi mohon maaf bapak bersabar dulu saja. Kami tetap akan berusaha yang terbaik buat semuanya.”
“Iya pak saya percaya kok maksut saya, saya yang sudah jenuh dengan terror mereka dan takutnya kejenuhan saya dimanfaatkan oleh mereka karena saya lengah.” Jawabku pada pak Yadi.
“Baiklah pak, saya permisi dulu dan untuk sidiq mulai sekarang harus dalam penjagaan yang super ketat.” Kata pak Yadi.
“Owh iya pak, semoga saja semangat dan perjuangan kita membuahkan hasil nanti pak. Dan kita cepat dapat hidup normal lagi.” Jawabku.
Pak Yadi kemudian berpamitan untuk berangkat ke kantornya.
Aku sendiri segera menemui seluruh anggota keluargaku, dan menyampaikan berita dari pak Yadi tadi. Suasana tegang kembali menyelimuti semua wajah yang ada saat itu. Yang sebelumnya sudah cukup adem sampai sempat membicarakan pernikahan Arum dan Rofiq serta membicarakan hubungan Fanani dan Khotimah kini kembali diselimuti suasana mencekam.
“Terus rencana mas yasin apa sekarang ?” Tanya Arum yang paling ketakutan. Karena target utama mereka sekarang adalah Sidiq anak kandungnya.
“Mau gak mau Sidiq harus segera diungsikan. Entah kerumah Samsudin dan Eis atau kepondok kang Salim yang lebih aman. Dan jika terpaksa kamu harus mengikuti Sidiq, agar Sidiq mau. Demi keselamatan Sidiq, soal kamu dengan bang Rofiq terpaksa kita tunda dulu.” Kataku.
“Fatimah rasa lebih baik dipondok kang Salim mas, biar Eis dan mas Samsudin juga ikut disana. Kalo disana kan lebih aman bagi Sidiq nanti.” Sambung Fatimah.
“Eis dan Samsudin bagaimana, apakah kalian gak keberatan jika sementara ikut kang Salim tidak pulang kebandung dulu ?” tanyaku pada pasangan Samsudin dan Eis.
“Eis mah ikut kata Aa’ saja.” Sahut Eis minta pendapat Samsudin.
“Demi kebaikan semua memang lebih baik kita ikut di tempat kang Salim saja neng.” Jawab Samsudin.
“Yaudah, kalo begitu kalian atur saja. Bukan aku mengusir, tapi sebaiknya kalian berdua juga Arum dan Sidiq besuk berangkat ke tempat kang Salim. Sebenarnya aku juga masih kangen dengan kalian, tapi kondisi saat ini mengharuskan kita berpisah sementara waktu.” Kataku sambil menghela nafas.
“Iya Samsudin faham kok, jika suasana sudah aman kita masih bisa berkumpul lagi.” Jawab Samsudin.
“Apakah Arum harus ikut kesana juga ?” Tanya Arum.
“Sebaiknya begitu Arum, sekaligus kamu bisa belajar mendalami Agama disana berikut Sidiq. Dan juga mempersiapkan dirimu nanti sebelum menikah dengan bang Rofiq.” Kataku pada Arum.
“Iya Arum, biar kamu sama mas Rofiq besuk saat menikah sudah punya bekal batiniyah yang lebih.” Sahut Fatimah.
“Aku sih ikut saja apa kata kamu Zain, pinginya memang segera menikahi Arum tapi kondisi seperti ini sebaiknya memang kita tunda dulu ya Arum.” Kata Rofiq ikut menyela pembicaraan.
“Iya mas, Arum nurut saja toh demi Sidiq juga.” Kata Arum.
“Din, kamu hubungi kang Salim mungkin saat ini sudah sampai pondoknya. Bilang apa yang kita bicarakan ini, kemudian ikuti saja kata beliau. Beliau adalah wakil abah guru kita saat ini. Karena gak mungkin semua masalah kita adukan pada abah guru kita terlalu banyak yang beliau pikirkan.” Kataku.
“Ok, nanti aku dan Eis yang akan bicara dengan kang Salim. Semoga beliau bisa member jalan keluar yang terbaik buat kita.” Kata Samsudin.
“Aamiin…!” jawab semua kompak.
...*****...
Di markas musuh.
“Semua upaya yang kita lakukan tampaknya belum menunjukkan hasil, apa lagi setelah mantan preman itu tertembak. Justru penjagaan semakin kuat, bahkan pagar batiniyahnya juga semakin kuat.” Kata seorang dari Tujuh praktisi supra natural tersebut.
“Ternyata dugaan kita salah, kemarin kita mengira dengan melumpuhkan si Yasin itu mudh menembus pagar gaibnya. Tapi kenapa justru malah semakin kuat dan rapat setelah itu ?” Tanya dan komentar yang lain.
“Bagaimana kok bisa begitu ki ageng ?” Tanya seorang yang bernama ki Soma pada Maheso Suro yang mereka sebut dengan ki Ageng.
“Kamu dengan teluhmu dapat dikalahkan dengan mudah oleh anak itu. Bahkan Ajar panggiring yang berhasil memnggiring tiga polisi itu dengan ilmu panggiring sukmanya saat ini tak mampu menembus benteng rumah itu. Hal itu karena ada orang lain yang jauh lebih kuat dan lebih berilmu turun tangan. Saat si Yasin koma dirumah sakit, jadi bukan pagar buatan sianak tersebut.” Ucap Maheso Suro.
“Owh begitu ya ki, jadi apa yang harus kita lakukan sekarang ?” Tanya ki Soma.
“Kamu pada saatnya nanti tetap kirimkan teluhmu kerumah itu. Ajar panggiring kembali gunakan panggiring sukma untuk memanggil para polisi itu lagi. Dan yang lain dibagi dua, sebagian menebar sireb dan lainya menyerang Yasin dari jauh. Nanti jika semua sudah berhasil sesuai rencana, aka nada orang lain yang masuk mengambil anaknya Yasin itu. Kali ini harus berhasil, tidak boleh gagal lagi.” Seru Maheso Suro dengan PD nya.
__ADS_1
“Kapan itu akan kita laksanakan ki Ageng ?” Tanya Ajar panggiring.
“Nanti menunggu saat yang tepat, biar mereka lengah dulu. Jangan lupa Damar disuruh terus mengamati keadaan sekitar Rumah itu. Gunakan kedekatan Damar dengan iparnya Yasin. Sering seringlah dia menginap dirumah iparnya Yasin itu untuk mengawasi keadaan dan kalo perlu iparnya Yasin suruh main kerumah Yasin. Kalo ada kesempatan suruh culik anak itu, kan orang tidak akan curiga.” Kata ki Ageng maheso Suro. Yang otaknya penuh dengan kelicikan dan tipu daya itu.
Begitulah rencana yang disusun Maheso Suro sebagai pimpinan kelompok tersebut. Memang secara kemampuan strategi dan kemampuan olah batin maheso Suro yang tertinggi dikelompok itu, sehingga apa perkataanya disegani oleh yang lain.
...*****...
Sementara Damar salah satu personil dari kelompok itu yang paling muda sedang berada di tempat Ayahnya Rendy. Rendy keponakan Yasin anak kandung dari kakak perempuan Yasin yang sudah meninggal dunia.
Hubungan Yasin dan bapaknya Rendy dari dulu saat ibunya Rendy masih ada sudah tidak baik. mereka sering ribut dan tak jarang hamper berakhir dengan kontak fisik.
Bahkan beberapa kali ayahnya rendy lebam karena pukulan Yasin adik iparnya waktu itu. Hal itupun disaksikan oleh Rendy kecil, sehingga Rendy ikut membenci Yasin. Hal itulah yang dimanfaatkan oleh kelompok Maheso Suro tanpa diketahui oleh Yasin. Jika dirumah ponakanya itu ada seseorang yang mengawasi dan mengamati pergerakan dirumah Yasin. Karena hubungan keduanya yang tidak baik dan tidak pernah saling berkunjung. Sampai Yasin pun gak tahu jika dirinya dan keluarganya selalu diawasi dari dekat oleh seseorang.
“Bro gimana perkembangan adik ipar lo, apa udah kembali beraktifitas ?” Tanya Damar kepada ayahnya Rendy.
“Kabarnya sih udah, tapi aku juga gak lihat sendiri. Kemarin waktu hamper koit aja aku gak nengok, males.” Jawab ayahnya Rendy.
“Kabarnya juga, disana banyak cewek cantiknya ya. Boleh tuh kita ambil satu buat senang senang.” Ucap Damar yang jadi ketagihan main sama perempuan sejak dengan penari yang dihadiahkan dulu.
“Sssst hati hati ngomong, bini gue dibelakang nanti denger Damar ?” sahut ayah Rendy.
“Up’s sori keceplosan, tapi bisa kan kita ambil satu dari mereka ?” Tanya Damar.
“Lo gak lihat apa, rumah itu dijaga ketat, boro boro ngambil ndeketin aja udah susah sekarang.” Kata ayah Rendy.
“Lah kan gue punya susuk pemikat bro, bisa buat mainin perasaan tuh cewek.” Kata Damar PD.
“Lo gak tahu apa kalo si Yasin tu juga punya kebisaan buat ngehalangin maksut dan keinginan kamu.” Kata ayahnya Rendy.
“Ya jangan sampai dia tahulah, langsung mengarah ke salah satu gadisnya aja.” Sahut Damar.
“Songong lo, mana mungkin bisa. Kita mendekat kesana saja gak bisa.” Seru ayahnya Damar.
“Jangan kita dong, biar anak lo yang kesana naruh sesuatu disana.” Jawab Damar.
“Gak ah bisa membahayakan anak gue Rendy, bego lo.” Protes ayahnya Damar.
“Bahaya apaan Cuma pura pura main kesana doing, terus jatuhin sesuatu ditempat yg biasa dilewati cewek cewek disana aja.” Kata Damar.
“Iya terus kalo ketahuan yang dijatuhin itu ternyata pengikat kan anak due yang kena ?” komentar ayah Rendy.
Saat mereka sedang berdebat tiba tiba telpon Damar bordering.
“Halo sapa nih ?” sapa Damar di telpon.
“Aku Ajar Panggiring, kamu disuruh ketempat iparnya Yasin ngamatin keadaan disana dan kamu laporin segera.” Jawaban orang yang menelpon yang ternyata adalah Ajar Panggiring.
“Iya ini sudah dirumahnya, nanti aku segera kesana mengawasi keadaan.” Jawab Damar.
Kemudian menutup telepon dan berkata pada ayah Rendy.
“Ganti acara nih, anakmu suruh main ke tempat Yasin saja sekarang. Suruh ngamatin keadaan disana saja.” Kata Damar.
“Orangnya juga lagi main gak ada dirumah. Paling jugaa sore nanti baru pulang.” Kata ayahnya Rendy.
“Yaudah sore nanti juga gak papa, tapi kamu tahu gak si Yasin itu dulu berguru dimana ?” Tanya Damar mengorek info tentang Yasin dari ayahnya Rendy.
“Gak tahu lah, aku gak pernah ngurusin dia. Mo ngapain aja juga gak peduli, ngapain ngurusin dia berguru dimana.” Jawab ayahnya Rendy.
“Itu penting bego luh, biar kita tahu dan bisa mencari kelemahan dia.”Kata Damar.
“Yaudah, biar nanti Rendy yang cari informasi kesana. Tapi jangan cerita ke Rendy tentang rencana ini. Takutnya dia justru berpihak kesana nanti.” Kata Ayahnya Rendy.
“Kamu atur sajalah kalo itu, aku mau keluar dulu lah mau cari kesenangan dulu.” Kata Damar pamitan.
“Halah paling jga kerumah sinden itu lagi, katanya punya pengikat malah terpikat sinden tua begitu.” Seloroh ayahnya Rendy.
“Diem lo, biar tua juga masih hot tahu gak lo ?” ucap Damar.
Kemudian Damar meninggalkan rumah itu menuju ke tempat sinden yang dulu pernah dikencaninya itu.
...*****...
Di rumah Yasin
“Udah siap kamu Arum untuk keberangkatan kamu besuk ?” Tanya Fatimah kepada Arum.
“Udah Fat, kayaknya gak ada yang ketinggalan semua sudah aku kemas.” Jawab Arum.
“Kamu hati hati dan yang sabar ya, semoga ini semua ada hikmahnya buat kamu juga.” Ucap Fatimah kepada Arum.
“kamu juga ya Fatimah, jaga diri dan kandunganmu maaf Arum merepotkan kalian selama ini.” Jawab Arum.
“Gak kok Arum, kamu udah kuanggap saudara sendiri. Sidiq pun sudah kuanggap anak sendiri, sebenarnya berat pisah dengan Sidiq juga. Tapi demi keselamatan dia Fatimah dan mas Yasin harus merelakan ini.” Kata Fatimah.
Arum begitu tersentuh dengan kata kata Fatimah, kemudian Arum pun memeluk Fatimah sambil berbisik.
__ADS_1
“Fatimah, kamu benar benar wanita yang baik. Arum jadi haru sama kamu.” Bisik Arum hamper menangis.
“Kamu juga baik Arum, kita dipertemukan diwaktu yang kurang pas saja Arum. Seandainya kita bertemu dari dulu pasti kita sudah jadi sahabat dan saudara dari dulu.” Jawab Fatimah membuat Arum semakin terharu.
“Iya Fatimah, tapi kita tetap akan jadi saudara selamanya. Kelak anakmu juga akan kuanggap anakku juga Fat.” Ucap Arum.
Diam diam aku mengamati dan mendengarkan percakapan mereka berdua. Aku bahagia namun juga perih batin ini, karena harus ada orang yang tersakiti karena ulahku.
“Udah kan, masih besuk berangkatnya kenapa kalian jadi pada mellow begini.” Kataku mengejutkan keduanya.
“Maaf mas, Arum sangat terharu atas kebaikan Istrimu. Kamu beruntung mendapatkan istri seperti Fatimah. Hatinya begitu halus, sampai Arum saja kagum atas kehalusan hati istrimu.” Ucap Arum melepaskan pelukanya pada Fatimah.
“Udah jangan lebay, kan sebentar lagi kamu juga akan mempunyai suami sahabatku dan kakak dari sahabat kami juga. Jadi kita masih terus bersaudara Arum.” Jawabku.
Tiba tiba kami dikejutkan dengan kedatangan Rendy.
“Assalaamu ‘alaikum bulek Fat…!” sapa Rendy yang tahu tahu sudah masuk rumah. Entah kenapa dengan ponakan satu ini aku agak kurang sreg.
“Wa’alaikummussalaam.. eeh Rendy, tumben jam segini main kesini, ada perlu atau Cuma main saja ?” Tanya Fatimah istriku.
“Cuma mampir kok bulek, boleh minta kopi bulek ?” Tanya Rendy yang memang terbiasa minta sesuatu sama istriku tanpa sungkan.
“Boleh, bikin aja sendiri Ren.” Jawab Fatimah istriku.
Kemudian Rendy menuju kedapur membuat kopi, wah kayaknya bakal agak lama anak ini,pikirku.
Kemudian aku berbisik ke Fatimah,”jangan bilang Sidiq dan Arum akan ikut pergi sama Eis dan Samsudin. Bilang saja mau pulang ke rumahnya.” Kataku karena tadi aku lihat Rendy sempat melirik tas yang dipersiapkan Arum.
“Kenapa mas ?” Tanya Fatimah.
“Udah ikutin saja kataku, bilang juga ke Arum begitu nanti malam aku jelasin.” Kataku pada Fatimah.
Rendy muncul sambil membawa kopi dan ikut duduk bersama kami.
“Wah siapa yang mau pergi bulek, kok ada tas besar ?” Tanya Rendy.
Benar kecurigaanku, Rendy pasti disuruh bapaknya untuk mengamati kondisi rumahku, pikirku. Aku melirik pada Fatimah memberi kode.
“Owh ini, Sidiq dan Ibunya pamitan besok mau kembali ke rumahnya.” Jawab Fatimah istriku.
Sementara kulihat Arum bengong mendengar jawaban Fatimah karena belum sempat diberi tahu Fatimah Rendy sudah muncul.
Aku mengedip pada Arum untuk memberi isyarat agar diam saja, untunglah Arum tanggap apa maksutku.
“Eeh iya, gak enak kan disini lama lama merepotkan pak lek dan bulek kamu Rendy.” Sahut Arum.
“Owh gitu, memang rumahnya dimana bulek Arum ?” Tanya Rendy, dengan pertanyaan yang sudah aku duga.
“Mau nganterin apa Ren, kok nanya rumahnya segala ?” tanyaku dengan nada datar.
“Gak kok lek, Cuma nanya aja.” Jawab Rendy.
“Gimana kabar bapakmu, sehat ?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Sehat lek.” Jawab Rendy singkat.
“Masih suka keluar malam kah bapakmu Rendy ?” tanyaku lanjut.
Rendy terdiam sesaat, kemudian dengan agak tergagap menjawab.
“Malah hamper tiap malam sekarang lek, sering disamperin temenya gak tahu siapa. Kayak orang pinter gitu kelihatanya.” Jawab Rendy.
Orang pinter adalah sebutan untuk paranormal, aku jadi semakin curiga mendengar jawaban Rendy. Apa mungkin bapaknya Rendy ikut terlibat dalam masalah ini, pikirku. Namun aku juga tidak berani berlebihan dalam curiga meski tetap harus berhati hati.
“Apa kamu kesini disuruh bapak kamu Ren ?” tanyaku langsung mengarah apa tujuan Rendy. Sehingga rendy hamper tersedak mendengar pertanyaanku.
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1