
Cari orang yang tepat untuk membantu aksi kita, kalo bisa orang terdekatnya yang tahu kelemahan dia.Karena usaha menculik anggota keluarganya sudah tercium mereka. ” Ucap Maheso Suro.
“ Aku tahu ki, dia dulu belajar dimana. Dan aku kenal mantan kakak iparnya, mungkin dari dia bisa kita gali informasi. Hanya orangnya mata duitan dan hoby judi juga jadi butuh biaya ki Ageng.” Kata si Soma.
“ Tidak ada masallah soal biaya,asal bisa memberikan informasi yang berguna. Sukur kalo masih kerabat bisa bantu menculik keluarga dekatnya. Itu lebih memudahkan aksi kita.” Jelas Maheso Suro.
“ Baiklah ki Ageng, nanti malam aku undang ke markas saja orangnya.” Jawab si Soma.
“ Target penculikan anak haram dari mantan Preman itu, agar dia tak bisa berkutik. Anak haramnya yang masih balita kita culik. Kalo berhasil, mau gak mau dia harus mengakui sebagai pelaku pembunuhan tersebut.Demi menyelamatkan nyawa anaknya.” Kata Maheso Suro.
“ Iya ki, tapi susahnya kabarnya rumah orang itu sekarang dalam penjagaan yg ketat.” Sahut si Soma.
“ Makanya perlu ada orang dalam,agar kita punya akses untuk mengamati kondisi disana. Kemudian mengatur rencana yang tepat dan cepat !” kata Maheso Suro.
“ Baiklah ki, nanti bekas kakak iparnya akan saya ajak,kebetulan orang itu juga masih mengincar warisan tanah yang di tempati mantan preman tersesbut.” Jawab si Soma.
Begitulah rencana licik dari 7 orang penjahat bayaran yang melakukan apa saja demi uang dan kekuasaan. Menempuh segala macam cara, bukan sekedar halal atau haram semua diterjang. Tapi rasa kemanusiaan pun tak lagi digunakan. Balita yang tak berdosapun dijadikan sasaran penculikan. Bahkan tidak menutup kemungkinan akan dikorbankan,demi mencapai tujuan.
...***********************...
...Pak Yadi POV...
Di kantor Polda
“ Bagaimana Semalam, apakah Rofiq kambuh lagi ?” tanyaku pada petugas jaga.
“ Tidak pak,sudah tenang sampai saat ini tidak ada masalah.” Jawab petugas jaga.
“ Baguslah, terus perketat panjagaan keamanan.” Kataku.
“ Siap laksanakan.” Jawab petugas tersebut.
Aku lantas menuju ruangan kerja untuk membuat laporan, dan menghubungi para informan yang kusebar. Namun belum sempat menghubungi mereka, sudah ada laporan melalaui chat.
Drrrrt… drrrrt…drrrrt Hpku bergetar langsung ku buka chat laporan dari informan.
“ Pagi ndan, semalam ada pesta di hotel xxx yang melibatkan 7 buruan. Dan paginya lanjut meeting internal mereka. Info yang kami dapat :
1. Sasaran penculikan adalah anak dari target 1 mereka.
2. Akan melibatkan orang dekat target 1 mereka.
Sekian laporan selesai.”
Begitulah laporan penting yang kudapat pagi ini. “ Aku harus segera sampaikan secara langsung ke pak Yasin.” Batinku.
Segera aku selesaikan laporanku untuk atasan, kira kira menjelang dhuhur aku segera keluar menuju rumah pak Yasin. Dengan mengirimkan pesan singkat terlebih dahulu.
“ Assalaamu ‘alaikum pak Yasin ! Saya menuju rumah bapak, ada hal penting yang harus kita bicarakan. Terimakasih.” Chatku untuk pak Yasin.
Tanpa menunggu jawaban aku langsung meluncur kerumahnya. Perjalan kurang lebih sekitar dua puluh menit aku sampai rumah pak Yasin. Namun karena waktu sudah hamper dhuhur aku mampir sebuah masjid dulu untuk sholat dhuhur.
Setelah selesai jamaah, saat keluar dari Masjid aku dihentikan seseorang.
“ Maaf pak, kalo tidak salah panjenengan Polisi yang waktu itu menangkap penculik di daerah godean. Bapak teman mas Yasin kan ?” Tanya orang tersebut.
“ Bapak siapa ya ? sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya !” jawabku.
“ Saya Satro pak, yang waktu itu membawa mas Yasin pulang kerumahku dulu sebelum mengantar pulang.” Jawabnya.
Aku mencoba mengingat kejadian waktu itu. “ Owh ini kan yang disebut sebagai pak lek nya Arum oleh pak Yasin. Owh iya, namanya memang pak Sastro.
“ Owh iya pak Sastro, maaf saya agak lupa. Waktu itu tidak begitu memperhatikan wajahnya. Jadi saya sedikit lupa sama pak Sastro. Ada apa pak ?” tanyaku.
“ Secara kebetulan ketemu bapak disini, ada yang mau saya sampaikan pak !” kata pak Sastro.
“ owh iya pak, tapi sebaiknya kita bicara di samping Masjid saja yuk pak. Suasananya lebih tenang di deket taman itu saja.” Kataku.
Kami berdua berjalan menuju tempat yang kumaksut,agar pembicaraan tidak didengar orang lain.
“ Jadi begini pak, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan.” Kata pak Sastro membuka pembicaraan.
“ Silahkan pak, barang kali saya bisa membantu !” jawabku.
__ADS_1
Pak sastro Nampak ragu memulai bicara.
“ Begini pak, mohon maaf sebelumnya, saya tidak tahu kedekatan bapak dengan Mas Yasin. Setahu saya mas Yasin itu sudah beristri, tapi saya heran hubungan kedekatanya dengan Sidiq cucu kemenakan saya serta ibunya kok begitu dekat. Itu yang pertama pak ?” kata pak Sastro.
“ Kemudian apa lagi pak ?” tanyaku.
“ Saat ini,Sidiq dan ibunya malah tinggal disana beserta Istri mas Yasin juga sebenarnya ada apa ya pak ?” Tanya pak Sastro.
Aku agak bingung untuk menjawab, karena sebenarnya itu urusan privasi. Tapi secara manusiawai dan demi kelancaran rencana aku harus mengambil sikap tanpa bermaksut intervensi urusan keluarga.
“ Jadi begini pak, soal kenapa Sidiq dan ibunya tinggal dirumah pak Yasin itu memang usulan saya. Karena Sidiq dan ibunya dalam pengamanan kami. Kalo soal hubungan mereka saya tidak berani ikut campur urusan keluarga pak.” Jawabku.
“ Pengamanan bagaimana pak maksutnya “ Tanya lanjut pak Sastro.
“ Ada sebuah kasus, yang rumit. Dan itu secara tidak langsung bisa melibatkan ibunya Sidiq dan Sidiqnya. Maka keduanya perlu saya amankan, juga beberapa orang lain saya kumpulkan di rumah pak Yasin. Agar lebih mudah dalam mengawasi mereka.” Jawabku pada pak Sastro.
“ Kasus…? Kasus apa itu pak ?” pak Sastro bertanya lebih lanjut.
Singkat kata, aku menjelaskan secara global tanpa membuka rahasia tentang Sidiq dan pak Yasin. Setelah melalui pembicaraan panjang lebar akhirnya pak Sastro bisa menerimanya.
“ Baiklah pak,satu hal lagi. Kemarin saya mendengar dari temen saya, akan ada pertemuan beberapa orang para normal. Dan ada yang menyebut nyebut nama Yasin, tapi gak tahu Yasin yang dimaksut temen bapak atau bukan saya gak tahu. Karena awalnya saya juga diundang, tapi saya tidak mau hadir. Akhirnya saya digantikan teman saya.Karena saya sudah tidak mau terlibat dalam urusan begituan. Jadi coba peringatkan mas Yasin untuk berhati hati saja.” Ucap pak Sastro.
“ Baik pak, sementara itu dulu. Jika ada apa apa silahkan nanti hubungi saya,ini nomor Hp saya.” Ucapku pada pak Sastro.
Akhirnya kami pun berpisah pergi.
...*********************...
...Yasin POV...
Di rumah Yasin
Saat baru ikut memberi pengarahan pada Khotimah, Isti, Arum dan lainya tentang grafting. Tiba tiba Fatimah muncul memberitahu kedatangan pak Yadi.
“ Mas dicari pak Yadi, sudah menunggu di ruang tamu !” kata Fatimah Istriku.
“ Pak Yadi…? Ada apa lagi, pagi tadi diakan sudah kesini sahutku.” Jawabku.
Akupun segera menuju keruang tamu untuk menemui pak Yadi.
“ Assalaamu ‘alaikum pak…” ucap salam pak Yadi.
“ Wa ‘alaikummussalaam pak Yadi, ada info baru lagi pak ?” tanyaku pada pak Yadi.
“ Iya pak, menyangkut Sidiq dan ibunya. Bisakah ibunya Sidiq dan bu Fatimah diajak bergabung pak ?” Tanya pak Yadi.
“ Baiklah pak, mohon tunggu sebentar saya panggil mereka dulu.” Kataku.
Aku memanggil Fatimah dan Arum untuk ikut menemui pak Yadi.
“ Ini sudah kumpul semua pak, silahkan apa yang disampaikan !” pintaku pada pak Yadi.
“ Makasih pak, begini bu Arum. Tadi pagi di kantor saya mendapat info, bahwa Sidiq dijadikan target penculikan. Jadi untuk sementara,ibu Arum dan Sidiq jangan keluar rumah dulu. Juga jangan sampai Sidiq diajak siapapun yang tidak tinggal dirumah ini.” Kata pak yadi menjelaskan.
“ Kenapa Sidiq yang diincar mereka pak ? Apa mereka tahu tentang Sidiq ?” jawab Arum dalam kepanikan.
“ Kamu gak usah panik gitu Rum, asal ikut instruksi pak Yadi Insya Allah aman !” kataku menghibur.
“ Iya Rum, kondisi ini sama sama tidak kita harapkan jadi kita harus saling peduli. Soal Sidiq kita sama sama awasi.” Sahut Fatimah.
Kemudian pak Yadi melanjutkan pembicaraan, menjelaskan bahwa sangat mudah bagi lawan untuk mencari siapa kerabat dekatku dan kerabat dekat Rofiq. Dan pak Yadi juga memberikan instruksi kepada tiga petugas yang ditempatkan dirumahku. Agar ikut mengawasi agar Sidiq tidak boleh keluar rumah. Dan tidak membiarkan orang luar masuk menemui Sidiq. Setelah semua pesan disampaikan pak Yadi pun mohon ijin untuk kembali bertugas.
Kulihat kepanikan dan ketakutan di wajah Arum, kemudian aku bisikan pada Fatimah untuk mengajak Isti menenangkan Arum. Sementara aku sendiri mencari Sidiq yang tadi bermain di kebun belakang. Sambil melihat yang pada grafting.
“ Sidiq, sini ayah bilangin !” panggilku pada Sidiq.
“ Ya Ayah.” Jawabnya.
“ Sidiq mau kan jadi anak penurut.” Tanyaku.
“ Mau Yah.” Jawabnya.
__ADS_1
“ Pinter anak ayah, jadi Sidiq sekarang gak boleh main sendirian diluar ya.” Kataku.
“ Kenapa yah ?” Tanya Sidiq.
“ Karena Sidiq masih kecil, nanti kalo Sidiq diambil orang gimana. Ayah, bunda dan mamah tentu sedih dong.” Jawabku memahamkan Sidiq.
Kemudian aku pasrahkan Sidiq pada Fatimah dan Isti. Karena aku pikir aku gak bisa hanya menunggu. Tapi harus aktif mencari informasi dan bertindak.
“ Aku harus bertindak aktif, gak bisa berdiam diri begini. Aku tak ingin anggota keluargaku selalu panik dan ketakutan. Aku harus keluar, mencari informasi secara aktif.” Kataku pada Fatimah.
“ Jangan mas, mas gak boleh beradu fisik dengan orang dulu kata Yuyut !” jawab Fatimah.
“ Siapa yang mau beradu fisik, aku hanya gak bisa tinggal diam terus, sementara anggota keluargaku dalam bahaya semua. Kamu gak usah melarangku, ini sudah tugasku !” jawabku langsung pergi keluar.
Tujuan pertamaku tentu saja menuju komunitas Rofiq dulu, mencari siapa saja yang berpihak kepada Rofiq dan siapa yang berpihak kepada gembul. Aku harus memetakan mana kawan dan mana lawan.
Aku masih ingat tempat tinggal sebagian anak buah rofiq, ya Burhan. Aku harus cari dia, yang cukup dekat dengan Rofiq meski tak begitu berpengaruh di komunitas. Aku harus cari info dari dia.
Kulajukan sepeda motorku kearah rumah Burhan, sampai dirumahnya aku langsung mengetuk rumahnya.
“ Burhan….! Tolong buka pintunya !” Teriakku sambil mengetuk keras pintu rumahnya.
Sesaat kemudian muncul Istrinya membuka pintu. Tapi mengatakan jika Burhan tidak dirumah, katanya.
“ Jangan bohong, itu motor burhan ada di teras rumah !” desakku.
“ Beneran mas, tadi dijemput temenya, katanya mau ke markas. Ada yang harus dibicarakan, penting katanya.” Jawab istri Burhan yang agak ketakutan.
Melihat mimik wajahnya, agaknya dia gak bohong, aku segera pamit dan menuju markas mereka. Tanpa menunggu lama aku langsung tancap gas, motor kulajukan dengan kecepatan full. Seirama desiran darahku yang mengalir dengan kencang, menahan emosi yang meluap.
Sampai di markas yang dimaksut, aku langsung memakirkan motorku. Ada 4 orang disana termasuk Burhan disana. Mereka sempat kaget melihat ada yang datang, lebih terkejut saat aku buka helm. Saat melihat aku yang datang mereka semua diam hanya saling pandang.
“ Gak usah pada kaget, aku kesini gak cari rebut. Kecuali kaliyan yang ngajak ribut.” Kataku.
“ Mau apa kesini zein ?” Tanya Burhan menyapaku lebih dulu, sementara yang lain hanya terdiam.
“ Gue tadi kerumah lo, tapi istri lo bilang lo disini. Yaudah gue datang kesini, kebetulan ada yang lain, gue Cuma mau bilang. Ada masalah begini lo berpihak ke Rofiq dan gue atau berpihak ke Gembul ?” tanyaku to the point.
“ Itu juga yang sedang kami bicarakan Zein.” Sahut Burhan.
“ Gak usah lama lama bicara, kalo berpihak Rofiq dan gue ayuk ikut gue sekarang. Kalo mau berpihak ke Gembul berarti kita musuh. Gak usah nunggu besuk besuk lawan gue sekarang saja !” gertakku pada para kurcaci gang tersebut.
Tak satupun dari mereka berani menjawab, dari keempat orang itu hanya satu yang menurutku cenderung lebih dekat ke Gembul.
Tanpa pikir panjang, kudekati dia dan kupegang kerah lehernya.
“ Gue tahu lo, dekat sama Gembul. Lo pergi bilang ke Gembul, kalo dia laki laki bukan banci suruh hadapi gue. Jangan libatkan keluarga gue.” Kataku sambil mendorong tubuhnya hingga tersungkur.
“ Lo jangan main kasar Zein !” katanya melotot. Namun emosiku yang sudah memuncak justru membuat aku ingin menonjoknya.
Saat aku melangkah mendekatinya, tiba tiba dua orang lainya menghalangiku.
“ Cukup hentikan Pertikaian !” kata dua orang tersebut.
Terimakasi *atas dukungan dari Readers semuanya.
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.*
...bersambung...
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
__ADS_1
...🙏🙏🙏...