
🌷🌷🌷
Readers Tercinta, mohon maaf jika masih banyak tipo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
...........
Candaku terhenti ketika ada balasan chat dari istrinya Fanani.
“Wa’alaikummussalaam pak.
Saya sangat menghargai niat baik bapak, untuk melakukan mediasi. Namun saat ini saya pribadi pesimis untuk bisa rujuk kembali dengan suami. Karena keluarga kami sudah sepakat menyuruh saya untuk bercerai dengan Mas Fanani. Namun untuk menghargai usaha bapak, silahkan datang kerumah orang tua saya hari ini. Kami siap untuk menjelaskan permasalahan apa yang terjadi sebenarnya. Bukan hanya cerita sepihak suami saya.
Terimakasih.”
Balasan chat dari istri Fanani seakan menutup kemungkinan mereka rujuk lagi. Dan itu artinya…?!?
“Kenapa mas, gimana balasan istri Fanani ?” Tanya Fatimah.
“Kamu baca aja sendiri nih ?” kataku menyerahkan Hp yang aku pegang. Kemudian Fatimah membaca dan meemperlihatkan isi chatnya istri Fanani.
“Ternyata masalahnya gak semudah yang kita duga kan ?” tanyaku pada kedua wanita dihadapanku itu.
“Ya, masih untung mas kita tidak terlambat tahu. Sehingga Khotimah tidak sampai terlalu jauh terperosok dalam rayuan Fanani.” Ucap Isti.
“Masalahnya gak sesederhana itu juga kali Is ?” jawabku.
“Maksut kamu gimana mas, terus apa ada rencana lain yang akan mas lakukan biar maslah cepet selesai ?” Tanya Fatimah kambuh penyakitnya. Kalo nanyain ngoborong pertanyaan. Sampai sampai Isti pun menegurnya.
“Kalo Tanya satu satu kenapa Fat, kasihan suamimu bingung jawabnya nanti.” Kata Isti.
“Kalo gak begitu aku malah curiga Is, kenapa Fatimah gak kayak biasanya. Mungkin itu bentuk perhatian dia ke aku dengan cara begitu.” Kataku bergurau sekaligus menjaga martabat istriku didepan Isti.
“Udah kebiasaan Is, susah ngeremnya.” Jawab Fatimah agak malu.
“Terserah kalian saja lah, yang penting kalian saling bisa mengerti, terus apa jawaban kamu atas pertanyaan Fatimah tadi mas ?” Tanya Isti.
“Lah kok kamu juga jadi kepo is, wkakaka…!” candaku.
Kemudian aku baru menjawab serius.
“maksutku begini, kalomisalnya Istri Fanani gak jadi rujuk maka bahaya bagi Khotimah juga. Karena dia bisa kembali berharap pada Fanani. Padahal kita sudah tahu Fanani bagaimana. Jika itu terjadi Khotimah harus segera dinikahkan dengan Candra. Dan itu juga berarti pernikahan Rofiq dan Arum harus dibarengakan dengan Khotimah dengan Candra atau terunda setahun.” Jawabku pada Fatimah dan Isti.
“Kondisis darurat gak papa kali mas gak usah begitu juga, biar alami berjalan saja.” Kata Isti.
“Bagi kita gak masalah, tapi bagi warga kampong yang sudah punya tradisi seperti itu tentu tidak mudah Is.” Jawabku pada Isti.
“Kalo misalnya mas, mas rofiq dinikahkan dengan Arum ditempat kang Salim dan Candra dinikahkan dengan Khotimah di ruahku saja gimana ?” kata Fatimah.
“Bisa saja sih, nanti pernikahan salah satunya secara Agama dulu saja. Pernikahan secara adat atau resepsinya belakangan, yang penting sudah sah semuanya sebagai suami istri.” Kataku.
“Maksutnya dengan Nikah siri dulu mas ?” Tanya Isti.
“Ya bagaimana lagi Is, tapi yang jelas hari ini aku masih mau mencoba untuk meloby kerumah Istrinya Fanani. Sapa tahu nanti ada perkembangan yang baik. mereka mau rujuk lagi.” Jawabku.
__ADS_1
“Terud kapan mas Yasin mau kesana, sama siapa nanti berangkatnya ?” Tanya Fatimah.
“Mungkin habis dhuhur aku kesananya, biar cepat dapat keterangan. Yang jelas tidak dengan Fanani paling ngajak Ardian saja. Mereka gak mau ketemu sama Fanani saat ini.” jawabku.
“Isti kira itu bagus mas, terserah mas bicaranya bagaimana. Tapi sebaiknya rumah tangga itu dipertahankan dulu. Jangan mengikuti emosi kemudian langsung bercerai, semua pasti mengalami masalah. Mas Yasin sama Khotimah aja kan banyaak sekali masalah yang dihadapi. Kasih mereka gambaran sedikit biar gak gampang bilang cerai. Perceraian adalah sesuatu yang halal tapi dibenci Allah.” Ucap Isti ikutan emosi mendengar kasus yang menimpa Khotimah dan kasus Fanani dan istri serta keluarga dua belah pihak.
Pagi itu berjalan seperti biasa sampai dengan datangnya waktu dhuhur, kami menjalankan sholat dhuhur berjamaah. Setelah itu aku mengajak Ardian untuk pergi kerumah istri Fanani, setelah minta lokasi rumah istrinya Fanani.
“Mas berangkat dulu ya say, doakan semoga lancer dan kita bisa menjaga Khotimah sampai dia menikah nanti.” Kataku pada Fatimah istriku sambil mencium keningnya.
“Iya mas, pasti Fatimah doakan.” Jawab Fatimah sambil mencium tanganku.
Aku keluar kamar setelah berganti pakaian dan berdandan sewajarnya seorang tamu utusan. Kemudian menghampiri Fanani dan sgera berangkat kerumah istri Fanani.
“Kamu sudah tahu rumah istri Fanani Ardian ?” tanyaku pada Ardian.
“Belum pak, saya hanya kenal dengan istrinya itupun juga gak terlalu dekat.” Jawab Ardian.
“Yaudah gak papa kita berangkat saja, ini sudah dikirimi lokasinya.” Kataku.
Kemudian kami berangkat kerumah istri Fanani, sampai disana sudah berkumpul seluruh keluarga besar Winda istri Fanani.
“Assalaamu’alaikum.” Sapaku masuk kerumah Winda dengan Ardian.
“Wa’alaikummussalaam, pa Yasin ya ?” sapa Winda.
“Betul bu, saya Yasin dan ini saya bersama teman saya namanya Ardian.” Kataku memperkenalkan Ardian.
“Owh iya pak, kalo sama pak Ardian saya sudah kenal dan pernah beberpa kali bertemu. Mari pak silahkan masuk, kebetulan ini juga baru pada kumpul ada acara pertemuan keluarga soalnya. Makanya kalo bapak hari ini bisa kesini biar bisa ngobrol dengan keluarga besar saya.” Jawab Winda istri Fanani.
“Apakah kami tidak mengganggu pertemuan keluarga ini bu ?” kataku.
“Tidak pak, mereka kerabat dekat semua malah kebetulan juga baru membicarakan masalah yang akan bapak sampaikan juga.” Kata Winda.
“Begini pak, bud an semua yang hadir disini. Saya datang kerumah ini memang mengemban sebuah amanah. Yaitu untuk mengadakan mediasi antara bu Winda dengan pak Fanani. Maksutnya adalah untuk mengurai semua permaslahan yang terjadi antara bu Winda dengan pak Fanani sebagai suami istri. Tentu saja dengan harapan dapat menemukan solusi, agar rumah tangga yang sudah dibangun dengan atas dasar saling cinta itu bisa dipertahankan. Sehingga dapat menjadi sebuah keluarga yang sakinah mawadah warohmah.” Kataku memberikan prolog sebelum melakukan negosiasi atau melakukan mediasi dengan anggota keluarga Winda.
“Terimakasih pak Yasin atas niat baik bapak, hanya saja berat bagi kami keluarga besar Winda. Untuk kembali menerima kehairan Fanani sebagia bagian dari keluarga ini. sudah cukup dia menyakiti Winda dan membuat kesabaran kami semua sudah habis pak.” Jawab ayahnya Winda. Meski bahasanya halus namun kelihatan masih diliputi dengan perasaan marafahnya pada Fanani. Belum lagi yang lainya bicara, mungkin aka lebih keras lagi nanti, pikirku.
“Kami dulu pernah mengutus orang juga pak kerumah Fanani untuk mediasi, tapi malah utusan kami tersebut diusir katanya gak boleh ikut campur urusan keluarga.” Kata salah seorang kerabat Winda.
“Owh begitu ya pak, jika pak Fanani tahu saya diperlakukan baik disini saat ini pasti dia jadi sangat menyesali perbuatanya dulu. Karena kemarin juga sudah cerita sama saya, intinya pak Fanani itu belum faham denga istilah mediasi. Jadi saat itu dia berpikir ada orang yang hendak ikut campur urusan rumahtangganya.” Jelasku pada mereka.
“Baiklah pak, kalo soal itu mungkin memang benar seperti yag bapak bilang, Fanani belum faham istilah mediasi, jadi kami terima. Tapi ada masalah lain yang menjadi penyebab Winda kami minta menggugat cerai suaminya.” Sahut orang itu.
“Iya pak, memang itu yang sedang saya pelajari dan jika mungkin dicarikan solusinya agar baik bagi semuanya. Nah masalah apa itu pak ?” Jawabku.
“Winda sebagai istri hanya minta sementara belum memiliki rumah sendiri tinggalnya dirumh ini. karena Winda mersa kurang I sukai di keluarga sana. Tapi jawaban Fanani apa, malah nuduh Winda mu membuat dia malu dan dikatakan suami yang nebeng dirumh istri dan sebagainya. Jadi kami juga merasa tersinggung pak. Padahal kami awalnya sudah anggap Fanani itu ya seperti keluarga besar kami ini pak, bukan orang lain.” Kata kerabat Fanani itu berapi apai seakan baru curhat saja.
“Memang kalo menurut pengamatan saya Fanani itu agak tertekan pak ditengah keluarganya. Bahkan kehidupan dia masih diatur oleh keluarganya meski sudah berumah tangga. Jadi ungkapan yang diucapkan Fanani itu sebenarnya bukan ungkapan Fanani sendiri, melainkan muncul karena keinginan dia untuk mandiri yang belum kesampaian.” Jawabku.
“Maaf pak, Winda yang mengalami langsung hidup bersama Mas Fanani itu. Winda yag tahu dia bagaiman. Winda sering kali dimarahi hanya karena dia mendapatkan laporan dari adik atau kakaknya tentang Winda yang tidak dikroscek dulu kebenaranya.” Kata Winda sambil terisak.
“Maaf bu, suami ibu juga sudah cerita itu dan dia sangat menyesali semua kesalahanya. Dan sampai saat ini yang jelas suami ibu itu masih sangat mencintai ibu dan berharap dapat kembali hidup bersama ibu Winda lagi. Semua yang dia lakukan dulu memang sudah dia kaui sebagai kesalahan. Semuanya sudah diceritakan kepada saya. Maaf bahkan Fanani sampi menagis kepada saya karena tidak ingin berpisah dengan bu Winda. Dan dia menyatakan siap sementara tinggal ditengah keluarga ini sebelum punya rumah sendiri, dan sebelum bu Winda menyatakan siap untuk tinggal dirumah sendiri bersama suaminya. Jadi sebenarnya itulah harapan Fanani, dia ingin kembali merajut benang yang sempat kusut.” Kataku berhenti sebentar mengamati respon masing masing orang.
“Jadi sekiranya dalam hati ibu Winda masih ada perasaan Cinta dengan suami ibu, mohon itu dipertimbangkan. Tidak ada manusia yang sempurna, semua punya kekurangan. Dan kekurangan suami ibu, kesalahan suami ibu sudah dia sadari semua silahkan dipertimbangkan lagi. Apakah hati ibu sudah benar benar tertutup untuk suami ibu atau masih bisa dibuka lagi. Atau mugkin bisa dibuak lagi dengan persaratan atau permintaan tertentu dari ibu.” Kataku.
“Maaf, kamisemua sdudah sepakat bahwa Winda harus bercerai dari suaminya Fanani. Karena kami semua sudah merasa disakiti bukan hanya Winda saja pak.” Kata kerabat Winda yang dari tadi banyak bicara itu,”
“Klo itu saya serahkan kepada ibu Winda pak, saya juga tidak punya hak memaksa untuk kembali rujuk dengan suaminya. Hanya member gambaran dan penjelasan, soal keputusan 100% adalah haknya bu Winda.” Jawabku.
__ADS_1
Kulhat orang itu agak geram denganku, mungkin juga dia sudah mentyiapkan calon buat Winda hingga ngotot berharap Winda bercerai dengan suaminya.
“Tapi Winda dari kemarin sudah sepakat untuk bercerai pak.” Katanya ngotot.
“Yah minggo saja kalo itu keputusan bu Winda, saya akan sampaikan kepada Fanani apa putusan bu Winda. Tapi maaf semua itu harus bu Winda sendir yang mengatakan, karena yang berhak memutuskan adalah bu Winda bukan yang lainya.” Jawabku. Mencoba cari tahu samai dimana kesabaran kerabat Winda itu.
“Winda jadi bingung pak, memang sebenarnya Winda masih Cinta dengan mas Fanani tapi juga sakit hati dengan kelakuan dia kemarin.” Kata Winda.
“Winda, kenapa kamu sekarang berubah seperti itu. kemarin kan kamu sudah sepakat mau bercerai denagn Fanani.” Bentak kerabat Winda tersebut.
“Maaf om, Winda bingung soalnya kemarin gak bisa berpikir jernih. Tapi setelah tahu mas Fanani menyesali dan masih berharap kembali dengan Winda. Winda juga jadi terharu dengan sikap mas Fanani Om.” Jawab WInda.
“Semua ini gara gara kamu, kamu telah mempengaruhi Winda sehingga dia berubah oikiran sekarang.” Kata Om nya Winda yang marah sambil menunjuk nunjuk mukaku. Ardian yang disampingki mau bediri kuinjak kakinya,”gak usah disrespon” bisiku pelan pada Ardian.
“Maaf pak, saya tidak bermaksut mempengaruhi bu Winda, saya hanya menyampaikan amanah yang Fanani sampaikan ke saya. Soal keputusan bu Winda bagaimana saya tidak memaksa karena saya juga tidak punya kepentingan pribadi disini. Jadi apa keputusan ibu WInda itu yang akan saya samapiakan kepada Fanani pak. Tidak kurang dan tidak lebih.” Jawabku.
“Tapi kamu lah yang sudah membuat Winda jadi berubah pikiran sehingga tidak mau bercerai.” Sanggah orang itu.
“Klo itu memang salah satu tujuan mediasi pak, jika masih bisa disatukan maka disatukan lagi. Kalo memang sudah tidak bisa disatukan maka apa boleh buat jika harus bercerai ya bercerai. Tapi tetap dengan cara baik baik dan tidak menimbulkan masalah lain dibelakang hari.” Jawabku sedikit menaikan intonasi bicaraku.
“Kamu dibayar berapa sama Fanani,b ilang saja kalosekedar cari uang gak usah membujuk Winda kembali kepada Fanani. Bilang saja aku ganti dua kali lipat tapi cepat pergi dari rumah ini.” kata orang itu dengan sombongnya.
Kulihat  Ardian bergerak mau bangkit lagi, tapi kali ini aku biarkan. Pingin lihat juga kalo Ardian marah seperti apa,pikirku.
“Maaf pak terpaksa saya ikut bicara, saya harap bapak mencabut kata kata bapak pak Yasin kesini bukan karena uang sama sekali. Bahkan berangkat kesini juga biaya sendiri istilahnya. Tidak sepeserpun minta uang pada Fanani meski buat bensin sekalipun.” Kata Ardian sambil berdiri. Meski tidak membentak tapi cukup tegas kata katanya. Coba saja kalo dia yang deket sama Khotimah, aku lebih cocok dengan anak ini dari pada Fanani. Tapi ya sudahlah toh sudah ada Candra yang akan meminang Khotimah.
Lagian kenapa aku malah mikir yang lain selagi menghadapi maslah begini, batinku. Tapi biarlah aku ingin lihat sejauh mana perdebatan Ardian dengan omnya Winda ini.
“Kamu gak usah ikut campur, kamu siapa yang diundang disini bukan kamu. Jadi lebih baik kamudiam saja.” Kata omnya Winda yang sombong itu.
Aku masih tetap diam. Kulihat bahkan Winda juga diam ketakutan, ayahnya Winda pun tampak bingung melihat kondisi ini.
“Tidak bisa pak, pak yasin itu dalam perlindungan saya kalo bapak sopan dan bicara wajar saya diam saja. Tapi bapak sudah kurang ajar bicaranya.” Bentak Ardian kali ini dengan suara keras.
Om nya Winda malah semakin kalpa juga.
“Tutup mulutmu…!” bentaknya.
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
__ADS_1
...🙏🙏🙏...
Â