
Bagian akhir episode sebelumnya
"Khotimah temani kakakmu Fatimah, biar mas mu Yasin malam ini tidur di kamarmu !" perintah ibu pada Khotimah.
" Njih bude !" Khotimah menuju kamar Fatimah tanpa bicara apapun.
Tinggal aku dan kedua mertuaku yg masih disitu.
" Terus gimana dengan rencanamu nak ?" tanya ibu mertua.
" Maaf pak buk, bolehkah saya telpun Isti teman pesantren kami dulu. Hanya dia yg mampu menasehati Fatimah saat ini !" jawabku
" Telpunlah sekarang juga !"
Aku telpun Isti saat itu juga.
Telpun berdering cukup lama, tak diangkat Isti.
Aku ulang sampai 3 kali juga gak diangkat.
" Gak diangkat nak ?" tanya ibu merua.
" Iya bu, padahal baru jam 21.10' biasanya belum tidur. Coba tunggu beberapa menit kalo dia telpun balik saja bu." jawabku.
Sebenarnya aku bisa saja telpun pak Yadi minta disambungkan ke Isti. Tapi saat itu pikiranku baru benar benar kacau.
Aku lebih memilih pasif menunggu. Dan tak terlalu lama setelah itu, Isti beneran telpun balik.
Langsung ku angkat dan kubuka dengan salam, dan aktifkan louds speaker. Biar bapak ibu mertuaku juga ikut dengar.
" Assalaamu 'alaikum... Isti.
Maaf mengganggu malam malam begini !" ucapku berbasa basi di telpun.
" Wa 'alaikummussalaam mas Yasin. Gak papa kok, tadi baru darusan gak bisa angkat. O iya, udah jadi jemput Fatimah ? Fatimahnya mana ? Aku kangen !" jawab Isti di telpun.
" Owh sukurlah, ini lagi dirumah mertua. Tapi aku mau minta tolong nih, Isti gak keberatan kan ?" tanyaku pada Isti.
" Kok mas Yasin bilangnya gitu ? Untuk suami dari sahabatku Fatimah, Isti pasti mau bantu. Apa lagi kalo berhubungan dengan Fatimah nya ! " jawab Isti di telpun.
" Iya, ini memang soal Fatimah. Dia marah ngambek sama aku, karena aku sudah cerita tentang Sidiq tadi. Rupanya Fatimah marah, tolong kamu jelasin ke Fatimah. Biar Fatimah mau maafin aku Is !" pintaku dengan nada serius.
" Serius mas ? Mas Yasin sudah cerita tentang Sidiq ?" tanya balik Isti.
" Iya aku serius, aku cerita di depan keluarga Fatimah Is !" sahutku.
" Baik mas, Isti bantu kasih pengertian ke Fatimah sekarang. Assalaamu 'alaikum...! "
Wa 'alaikummussalaam...!"
klik...
Telpon kututup.
" Itu teman satu pesantren kaliyan dulu ?" tanya ibu mertua.
" Iya buk, mudah mudahan bisa kasih tahu Fatimah. Agar Fatimah mau memaafkan saya !" ucapku berharap.
"Aamiin...!" sahut kedua mertuaku serempak.
" Ibu dan bapak pingin tahu nak, sejak kapan kamu menyadari jika sudah punya putera ?" tanya ibu mertua.
Agak ragu aku menjawab, tapi aku kuatkan untuk bercerita juga.
...................
Aku memulai cerita...!
" Saya pernah dimintai tolong orang, untuk menyelesaikan kasus mistis di dusunya. Namanya Pak Sastro. Dan saya diajak menginap di rumahnya.
Saat aku baru ngobrol dengan pak Sastro, aku terkejut dengan hadirnya seorang wanita yg wajahnya sangat familier.
" Ada acara apa lek, kok rame banget ? " tanya wanita itu.
Aku berusaha menahan gejolak perasaan yg tidak menentu.
Ketika tatapan mata kami bertemu.
" Eeh sama siapa nduk, kok malem malem. Ini warga minta tolong Mas Yasin untuk mendoakan dusun karena kejadian tempo hari itu. " jawab pak Sastro.
" Owh udah selesai apa baru mulai ? " tanya lanjut wanita itu.
" Nanti habis Isya mulainya ! Piye nduk ada perlu apa ? " tanya pak Sastro.
" Anu lek, mau nitip anakku sebentar. Ee aku ada perlu sebentar mau ke acara undangan teman titip ya lek ! " kata wanita itu tampak gugup dan buru buru.
Aku berusaha tenang meski hatiku bergejolak.
Setelah wanita itu pergi dan meninggalkan anaknya.
Aku yg keluar keringat dingin, mencoba tenang.
" Ponakan ya pak ?" tanyaku.
" iya mas, ini anaknya." jawab pak Sastro.
Kulihat anak itu yg dari tadi menatapku.
Ya Allah semoga tidak seperti dugaanku.
" Namanya siapa dek ?"
Tanyaku pada anak usia 2 tahunan itu, yg ternyata sudah pintar bicara dan lancar.
" Sidiq Sekartaji om" jawabnya.
Ya Allah... kuatkan aku apapun yg terjadi.
" Lucu dan pinter cucu ponakanya ya pak ?"
Pak sastro nampak kurang senang aku bilang begitu.
" Ah biasa saja kok mas." jawabnya.
" Namanya juga bagus, siapa yg membari nama pak " tanyaku.
Aku bertanya tanpa mempedulikan respon pak Sastro.
" Ibunya,.... di ambil dari nama ibunya Sekar Arum diambil Sekar nya jadi Sekartaji.
__ADS_1
Hampir saja aku pingsan, untung masih bisa mengendalikan diri.
" Owh asli sini juga pak ibunya ?" tanyaku.
" Bukan mas, Aslinya Klaci sana, terus ada masalah ditipin neneknya disini " jawab pak Sastro.
Keringat dingin pun makin deras, membanjiri tubuhku.
Apakah mungkin ada dua nama Sekar Arum di Klaci. Aah tapi wajah tadi...???
Dan kenapa dia jadi gugup ?
Apakah benar dia Arum yg dulu pernah hadir dalam hidupku, pernah hadir dalam hidup seoang Ahmad Sidiq alias Zain alias Yasin.
Nama anak itu....?
Nama depanya ???
Jika itu bener dia berarti....?
Sidiq Sekartaji adalah Anak biologis ku...???
Jika benar begitu, manusia macam apa aku ini ???
Lantas seandainya Fatimah istriku tahu ????
Apa yg akan terjadi nanti...???
" Nak boleh gak om gendong ? " tanyaku.
Aku mencoba menyapa anak itu.
Tapi anak itu tampak ragu.
Aku pandangi wajahnya, ya Ampun.
Sorot mata itu, dan hidung itu milikku.
Hanya bentuk wajahnya agak oval mirip Arum ibunya.
" Sidiq... ditanya om Yasin kok diem saja ? " kata pak Satro.
" Om ini siapa kek ? " tanya Sidiq.
" Dia tamu kakek, mau gak digendong ? Mungkin om itu kangen anaknya eeh bukan pingin punya anak cowok seperti Sidiq.."
Pak Sastro mencoba membujuk anak itu, untung saja Pak Sastro lebih mengenalku sebagai Yasin.
Seandainya dia ingat nama Asliku adalah Ahmad Sidiq mungkin akan lain cerita.
" iya om, om sudah punya anak ? "
" Sudah.. ee tapi masih didalam perut, belum lahir " jawabku spontan.
Kamulah anak ku nak, akulah bapak biologismu. Bapak yg tidak bertanggung jawab...!!!
" Sini nak om pangku ya ? "
" Om Yasin rumahnya mana ? "
" Owh om Yasin rumahnya jauh nak, mau gak Sidiq foto sama om Yasin ? "
" Boleh besok Om cetak dulu deh "
" Gak usah om, dikirim ke hp mamahku saja "
Anak ini cerdas juga.
Bagaimana cara menghindarnya...?
" Owh ya gini saja, nanti om kirim ke hp kakek, biar kakek yg kirim ke hp mamah Sidiq ya "
Anak itu mengangguk.
Entah berapa kali aku ambil foto anak itu. Dan dua kali foto dlm pangkuanku.
Kemudian foto anak itu yg sendiri, aku kirim ke hp pak Sastro.
" Lihat Sidiq kek, pinjam hp nya."
Anak itu menghampiri pak sastro untuk lihat fotonya.
" Kok yg sama om gak ada ? "
" Kan sudah ada banyak yg fotonya Sidiq disitu !"
"Sidiq pingin yg bareng om, mau Sidiq lihatin mamah sidiq."
" Buat apa nak ? Kan yg ptg foto Sidiq." Kataku khawatir Arum mengenaliku yg sesungguhnya siapa.
" Sidiq sudah... kan udah dikasih banyak foto sama om ? "
" Gak mau kek..... Sidiq pingin kaya temen temen Sidiq, dipangku papanya.. Sidiq cuma punya Om juga gak papa."
Anak itu merengek rengek.
" Maaf mas, cucu saya memang nakal ! " Seru pak Sastro.
"Gak papa pak biar saya kasih, kasihan anaknya " jawabku.
Tak terasa air mataku menetes.
Merasa sangat sangat berdosa pada anak itu.
" Wah mas Yasin ini perasa banget ya ? kok sampai menitikkan air mata ? " Untung saja pak sastro berpikir begitu.
" saya gak tega melihat anak kecil menangis pak, ini sudah saya kirim fotonya.
.........................
"Jadi saya sendiri baru tahu pak / bu jika saya sudah punya anak. Karena sebelumnya dikabarkan keguguran. Saat saya kerumahnya, kemudian justru saya dihajar sampai hampir mati. Kemudian ditolong dan dibawa ke pesantren, setelah itu gak pernah kontak. Dan ternyata Arum tidak keguguran, tapi diungsikan. Dan baru sekitar sebulan yg lalu saya bertemu." Kataku mengakhiri ceritaku.
" Iya Ibu faham sekarang, itu dosa masa lalumu. Tapi kamu harus sabar, Fatimah pastinya Syok. Tahu suaminya sudah punya anak. " sahut ibu mertuaku.
" Saat kalian sadar, apa yang kalian bicarakan ?" tanya bapak mertua.
Aku lantas kembali membuka memori lamaku, tak perlu lagi sembunyi sembunyi.
..........................
__ADS_1
...flashback on...
" Paginya kami terjebak obrolan berdua, karena Pak Sastro keluar rumah."
" Semalam aku ragu, karena lek ku menyebut namamu Yasin, tapi tadi sebelum kamu ke Masjid. Aku yakin kamu adalah bapaknya anakku. Sidiq Sekartaji. Tahu kenapa kuberi nama itu ?
Nama itu punya arti,
Mas Sidiq ini Sekar Arum Tagih Janji, kusingkat jadi Sidiq Sekartaji. " kata Arum.
Air mataku tak terbendung...
" Maafkan aku... Arum...! "
Suaraku tercekat hampir tak mampu bicara lagi.
" Aku tahu aku salah... tapi dulu aku sudah datang kerumahmu."
ucapanku belum selesai langsung dipotong Arum.
" Aku juga tahu kamu datang, aku juga tahu kamu di pukuli. Aku tahu kamu sakit sampai berdarah darah. Tapi sakit yg kamu rasakan tidak seberapa dengan derita yg aku alami.
Sakit kamu berapa bulan sembuh, aku bertahun tahun bahkan sampai sekarang masih merasakan sakit....!!! "
Lebih sakit aku mas, lebih menderita anak ku hidup tanpa ayah. Diejek teman temanya." kata Arum."
" Boleh Aku menjelaskan..." kataku pada Arum.
" Apa gunanya penjelasanmu ? Setelah apa yg terjadi padaku ? " sergahnya.
" Memang tidak akan merubah keadaan, tapi kuharap kamu mau dengar " sahutku.
Tanpa menunggu jawaban, aku lantas menceritakan setelah dihajar keluarganya yg pertama.
Kemudian menceritakan kedatanganku yg kedua.
Ketika itu aku mencarimu, setelah mengumpulkan uang dari ikut pengepul rosok.
Aku mau kerumahmu, mau lihat kondisimu dan kandunganmu.
Tapi digerbang masuk gang rumah kamu sudah di hadang warga. yg makin lama makin banyak.
Aku jelaskan tujuanku bukan untuk balas dendam. Hanya ingin tahu kondisimu dan kandunganmu.
Tapi mereka tetap melarang, dan mengatakan Arum keguguran.
Aku sempat emosi dan sedikit membentak, " keguguran apa digugurkan ? Kalo dia dinikahi org lain aku juga tidak akan mengganggu hanya ingin lihat kondisinya saja.
Tapi mereka malah menghajar aku lagi, sampai patah tulang tangan dan kaki bahkan aku hampir mati.
jika tidak datang orang yg menolongku.
membawaku kerumah sakit, kemudian membawaku ke sebuah pesantren.
Dan dari pesantren itu aku merubah jalan hidupku. Aku bertaubat atas semua dosa dosaku. terutama dosaku padamu.
Lalu aku mengucap sumpah, jika tidak akan menyakiti wanita lagi. tidak pacaran lagi kecuali langsung menikah.
Sumpahku juga didengar Abah guruku, beliau berkata.
" *Ol*eh seneng wong wedok, tapi ora oleh pacaran "
Dan benar aku tidak pacaran, ada yg sempat aku sukai dari santri putri.
Tapi justru dinikahkan dengan orang lain oleh guruku. Sehingga pada malam malam pengantin aku tidak melakukan apapun dengan istriku.
Baru setelah dua mingguan kami melakukan, itupun tidak seperti pasangan suami istri baru yg saling cinta.
Dan kini istriku baru hamil 1,5 bulan.
Aku baru tahu semalam jika kamu tidak menggugurkan anak kita.
Aku bercerita sambil menitikan air mataku begitupun Arum.
" Kamu boleh hukum aku, tapi jangan istri dan calon anakku. Saat ini aku juga gak mungkin kembali padamu. Aku tak ingin menyakiti hati siapapun.
" Boleh Arum tahu istrimu ? " katanya disela isak tangisnya.
" Aku takut melukai hatinya... " kataku.
"Fotonya saja mas Aku mohon " pinta Arum dengan sedih.
Aku tunjukan foto fotoku dan Fatimah.
" Istrimu cantik solehah, pantas kamu cintai... gak seperti Aku....! "
Aku diam saja gak komentar.
" Aku boleh minta no kamu mas ? " pinta Arum.
Aku bingung harus bilang boleh atau tidak.
Tiba tiba Sidiq bangun dan langsung menghampiri.
...flashback off...
.............................
" Begitulah yg kemudian terjadi pak/buk. Semua diluar kehendak saya, meski semua itu terjadi akibat perbuatan saya dimasa lalu. Dan saat ini saya serahkan sepenuhnya pada Fatimah. Saya terima apapun keputusan yg Fatimah ambil. Saya sadar, dosa saya terlalu besar. Dibanding Fatimah saya bukan apa apa dan.....?"
Belum selesai bicara dihentikan ibu mertua.
" Cukup...! Tidak usah dilanjutkan. kita tunggu saja keputusan Fatimah nanti !" seru ibu mertuaku.
...bersambung...
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1