Isyaroh

Isyaroh
Berhasil menangkap satu musuh


__ADS_3

Episode 73


“ Baik saya setuju, tapi keamanan Tuti harus benar benar dijaga pak.dan saya ingin ketemu Tuti sebelum dia dilepaskan. Karena saya yang dulu janji mau melindungi dia,jika mau diajak kerja sama.” Kataku.


“ Bisa pak, nanti malam selepas Mujahadah, bapak saya jemput saya ajak menemui Tuti dan sekaligus mengintai kegiatan mereka di lereng merapi.” Kata pak Yadi.


Kebetulan,aku bisa menangkap basah ayahnya Rendy,akan aku beri pelajaran dia,pikirku.


Setelah selesai berbincang pak Yadi pun segera pamit pulang,karena harus koordinasi dengan orang lain juga. Disamping itu harus mempersiapkan segala sesuatu untuk nanti malam.


Aku lantas menengok kebun pembibitan,sebelum mandi dan bersiap sholat Maghrib.


“ Ayah, kok pergi gak ajak Sidiq tadi ?” suara Sidiq mengagetkan aku.


“ Eh Sidiq, maafkan ayah ya, Sidiq main dirumah dulu aja. Kan dirumah ada bunda ada mamah juga eyang dan tante. Ayah harus keluar banyak urusan sayang.” Jawabku.


Melihat Sidiq dengan segala kepolosan anak anak itu emosiku jadi semakin naik. Ingin sekali menghajar Gembul juga orang orang yang berniat jahat pada keluargaku. Aku gendong Sidiq dank kuciumi wajah imutnya. Entah ada perasaan khawatir dan was was yang muncul dalam hatiku.


“ Mas gak segera mandi hamper maghrib nih ?” Tanya Fatimah istriku.


“Iya sayang, bentar lagi.” Jawabku.


“ Apa kata pak Yadi tadi mas, rahasiakah ?” tanya Fatimah.


“ Owh gak kok, hanya nanti malem mengajak mas keluar, ada yang harus di temui.” Jawabku.


“ Jam berapa mau keluar ?” Fatimah bertanya dengan Nada khawatir.


“ Habis mujahadah nanti.” Jawabku.


“ Terus kalo ada kejadian yang kayak semalam lagi gimana mas ?” protesnya.


Aku baru ingat jika harus menjaga keamanan rumah juga.


“ Iya ya Fat, baiknya gimana nih ?” tanyaku.


“ Mas lebih baik konsentrasi dirumah saja, biar pak Yadi ajak yang lain saja.” Cegah Fatimah.


“Untuk nanti malam okelah, akan tetapi tidak seterusnya aku bisa berdiam diri di rumah. Aku tak bisa biarkan anggota keluargaku terancam bahaya, sementara aku hanya berdiam diri saja.” Kataku pada Fatimah.


“ Tapi mas, ingat pesan Yuyut dan ibu, jika mas harus bisa mengendalikan emosi dan darah mudamu !” kata Fatimah.


“ Iya, yaudah ni Sidiq kamu ajak dulu,aku mau mandi hamper maghrib.” Kataku menghentikan perdebatan. Sambil menyerahkan Sidiq pada Fatimah.


Sehabis mandi tak lama kemudian terdengar suara adzan Maghrib, kami segera melaksanakan Solat Maghrib berjamaah. Disambung dzikir dan diteruskan solat Isya.


Setelah sholat Isya, kami lanjutkan dengan Mujahadah seperti biasanya. Dan Mujahadah berjalan lancar tidak ada gangguan seperti malam sebelumnya. Namun selesai Mujahadah, barulah kejadian seperti malam sebelumnya terulang lagi


“ Mas, suara itu lagi.” Bisik Fatimah.


“ Iya, biarin saja. Gak usah panik.” Kataku.


“ Kamu sama Isti teruslah berdoa, mas sama Fanani mau keliling rumah.” Kataku.


Aku keluar rumah Fanani dan lainya sudah stay di depan rumah.


“ Kita keliling rumah lagi, dua orang jaga disini saja.” Kataku.


“ Siyap pak.” Jawab mereka.


Fanani ikut berkeliling denganku,sementara kedua kawanya tetap stay di rumah.


Suasana malam itu begitu hening, tidak seperti biasanya. Ada yang aneh malam ini, meski kejadian seperti semalam tidak begitu mempengaruhi suasana, tapi seperti ada sebuah aura negative yang cukup kuat.


Aku mencoba mengingat hawa apa ini,seperti pernah merasakan yang seperti ini. Sambil berjalan aku sambil berpikir, hawa apa ini. Lama aku berpikir,sampai putaran kedua mengelilingi rumah, kulihat dua teman Fanani tertidur.


“ Teman kamu tadi siang kecapaian apa,kok udah pada tertidur ?” tanyaku pada Fanani. Sambil menghentikan sementara langkahku.


“ Tidak pak seharusnya, tadi siang aktivitas kami biasa biasa saja dan masih sempat istirahat juga.” Jawab Fanani.

__ADS_1


“ Yaudah kamu bangunin dulu,suruh cuci muka atau berwudhu. Aku tengok yang didalam.” Kataku.


“ Hmmm ternyata benar, ada yang mengirimkan sirep.” Bisiku dalam hati.


Semua tertidur pulas saat itu, aku bangunin Fatimah lebih dulu.


“ Say,,, bangun…!” kataku membangunkan Fatimah yang tertidur pulas dengan masih menggunakan mukena. Bahkan Isti, Khotimah, Arum dan lainya pun sama. Tertidur dengan masih menggunakan mukena, benar benar kurang ajar ini yang mengirim sirep. Apa tujuanya akan, menculik Sidiq malam ini ?” pikirku.


Lama Fatimah kubangunkan namun tak bangun juga, akhirnya ku basahi tanganku dengan air dingin dan kuusapkan wajah istriku sambil baca ayat kursy.


“ Fatimah,,, ayo bangun dan bangunkan yang lain…!” kataku agak keras membangunkan Fatimah.


“ Astaghfirrullahal ‘adzim… ada apa mas,kok Fatimah tidur disini ?” Tanya Fatimah.


“ Kalian tertidur, karena ada yang mengirim sirep. Cepat bangunkan Isti dan Khotimah dengan air dingin seperti tadi. Dan bacakan ayat kursy !” kataku.


Fatimah kemudian melakukan yang hal yang sama seperti yang kulakukan. Setelah semua bangun, dan ambil air wudhu aku baru bilang pada semua. Bahwa mereka terkena sirep, bahkan dua kawan Fanani pun  tertiur di depan rumah.


“ Kalian tunggu disini sebentar, aku lihat depan. Jangan jangan Fanani pun malah ikut tertidur kok sampai sekarang belum ada kabar.” Kataku.


“ Fatimah ikut mas pingin lihat juga.” Pinta Istriku.


Akhirnya semua mengikuti aku, dan aku biarkan, mungkin juga agak takut pikirku. Ternyata beneran, Fanani yang kusuruh membangunkan ikut tertidur.


Saat aku mau membangunkan, tiba tiba terdengar suara motor datang. Semua jadi ketakutan, siapa malam malam begini datang ?


“ Assalaamu’alaikum pak, ada apa ini kok Fanani dan kawanya tergeletak disitu ?” Tanya pak Yadi panik.


“ Tidak apa apa kok pak, mereka hanya tertidur ada yang mengirimkan aji sirep pak !” jawabku pada pak Yadi.


“ Owh, biar saya yang membangunkan pak, tugas kok malah pada tidur.” Kata pak Yadi. Aku biarkan saja, tapi meminta Fatimah ambilkan air dingin dengan gayung.


Cukup lama pak Yadi membangunkan, mereka tak bangun juga. Akhirnya aku angkat bicara.


“ Mereka tidur bukan kemauan mereka pak. Tapi pengaruh sirep, biar saya netralisir dulu.” Kataku.


“ Owh njih, monggo pak !” kata pak Yadi.


“ Siap ndan,kami salah tertidur saat tugas !” kata ketiganya serempak.


“ Kalo pak Yasin tidak bilang kamu kena sirep, sudah kuhukum kalian. Tapi karena pak Yasin sudah menjelaskan kali ini aku ampuni kalian. Lain kali siapkan lahir batin kalian.” Perintah pak Yadi.


“ Siap ndan !” jawab ketiganya.


“ Owh iya lupa, masuk dulu pak Yadi. Fat tolong buatin kopi buat semuanya biar gak pada ngantuk.” Ucapku.


Meski aku tahu yang bakal mengerjakan bukan Fatimah, gak mungkin aku meminta tolong yang lain.


“ Gimana pak, apa jadi kita menemui Tuti dan memata matai gerakan mereka ?” Tanya pak Yadi.


“ Aduh maaf pak, dengan kejadian barusan saya tidak berani meninggalkan rumah saat ini. Bahkan saya berencana lek lek an ( lek lek an \= melekan \= begadang ) malam ini. Saya takut terjadi sesuatu jika semua tertidur.” Jawabku.


“ Iya pak saya juga berpikir begitu, malam hari waktunya serangan secara batin, pak Yasin baiknya dirumah terus saja.” Kata pak Yadi.


“ Iya pak, tadi lupa gak kasih kabar pak Yadi, maaf ya pak !” kataku.


“ Gak papa pak, saya juga urungkan saja niat kesana malam ini. Kayaknya cukup pasang mata mata, meski laporan baru bisa saya dapatkan besuk pagi.” Kata pak Yadi.


“ Gimana kalo kita malam ini lihat situasi sekitar rumah saya pak, takutnya dengan mengirimkan sirep tadi, ada rencana lain. Mau menculik Sidiq misalnya.” Kataku.


“ Iya, benar juga itu pak, sekarang saja kita berdua keliling pak.” Ajak pak Yadi.


 “ Gak ngopi dulu pak ?” tanyaku.


“ Nanti saja pak, paling Cuma lihat keadaan sebentar kok. Sambil koordinasi dengan yang lain saling share info di jajaran.” Kata pak Yadi.


Kami pun langsung keluar rumah,setelah menyampaikan pesan agar banyak baca ayat kursy pada semua yang dirumah.


“ Kok ayat kursy pak yang dibaca ?” Tanya pak Yadi.

__ADS_1


“ Karena dalam Ayat Krsy itu mengandung sifat Allah yang tidak pernah tidur. Jadi kita mohon agar tidak tertidur.” Jawabku.


“ Owh begitu, o iya pak jalan masuk kerumah bapak mana saja selain dari jalan utama yang biasa digunakan keluar masuk tadi ?” Tanya pak Yadi.


“ Ada satu jalan tapi jarang dilewati orang pak. Karena itu hanya bisa ditempuh jalan kaki dan masuknya pintu belakang.” jawabku menebak arah pembicaraan pak Yadi.


“ Kita amati jalan itu saja, di depan kan sudah ada Fanani yang jaga.” Kata pak Yadi.


Benar juga,,, lagian kalo niat jahat pasti lewatnya pintu belakang bukan pintu depan pikirku.


Baru saja aku dan pak Yadi duduk sebentar, terlihat bayangan hitam mengendap endap dijalan setapak.


“ lihat ada orang mendekati rumah bapak.” Kata pak Yadi.


“ Iya pak, naluri polisi bapak memang luar biasa.” kataku.


“ Tapi itu orang beneran kan pak ?” Tanya pak Yadi meyakinkan.


“ Iya pak, itu gerak gerik manusia bukan makhluk halus.” Jawabku.


Kemudian terlihat orang itu duduk bersila sambil mengeluarkan sesuatu. Lantas tampak menyalakan korek untuk membakar sesuatu.


“ Owh rupanya orang itu pak, yang mengirim sirep tadi. Semoga yang didalam rumah tetap waspada.” Kataku.


“ Kita dekati pelan pelan pak, pak Yasin kearah sana saya langsung menuju lokasi orang tersebut. Takutnya bersenjata juga, pak Yasin kan gak bawa senjata !” kata pak Yadi sambil mengirim pesan chat, mungkin untuk Fanani.


Aku melangkah memutar, menuju jalan setapak tapi tidak dilokasi orang tersebut. Melainkan ke arah jalur jika orang itu kabur, untuk menghadang. Cukup sulit medan jalan yang kulalui, banyak rimbunan pohon berduri dan licin karena jalur sungai kecil.


Gak mungkin juga menggunakan penerangan, karena pasti ketahuan dari bias lampunya. Setelah dekat dengan jalur setapak yang dilewati orang misterius tersebut aku bersembunyi dibalik pohon yang cukup besar.


“ Polisi, jangan bergerak !” teriak pak Yadi.


Kemudian kulihat orang itu mau kabur, aku bersiap memukul dia dengan kayu yang sebesar lengan yang kupungut tadi.


Dor…dor..dor…


“Berhenti atau kutembak !” suara tembakan peringatan dan teriakan pak Yadi. Tapi tak dihiraukan. Orang itu terus berlari, sampai sekitar tiga meter dari tempatku bersembunyi aku bersiap mengayunkan pukulan dari balik pohon. Dan tepat saat dia didepanku, langsung kuayunkan kayu pemukulku.


Pllaak…. Tepat mengenai jidatnya hingga dia jatuh terjengkang.


Lumayan keras aku memukul, sehingga orang itu tak bisa langsung bangun. Meski aku tak langsung mendekati, takut dia bersenjata. Beberapa saat kemudian Fanani dan seorang kawanya datang meringkusnya. Dengan penerangan dari senter hp, aku lihat wajah orang itu.


“ Kamu….?!?” 


...bersambung...


.....................................


Mohon maaf, Author berusaha update tiap hari.


Namun khusus hari jumat, lubur up nya.


Terimakasi atas dukungan dari Readers semuanya.


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...

__ADS_1


...🙏🙏🙏...


__ADS_2