Isyaroh

Isyaroh
Yasin pulang kerumah


__ADS_3

Episode 91


Kemudian Arum menceritakan pertemuan pertamanya dengan


Yasin, yang diawal Arum ragu apakah itu bapak kandung Sidiq atau bukan. Karena


Pak lek nya arum memperkenalkan dia dengan nama Yasin. Sementara Arum tahunya


dia bernama Ahmad Sidiq alias Zain. Hingga akhirnya terjadi dialog dan Arum


yakin dia adalah ayah kandung Sidiq, kemudian Arum menanyakan kemana saja


selama ini Yasin alias Zain alias Ahmad Sidiq. Kenapa seperti lenyap ditelan


bumi. Sementara Arum berjuang melahirkan dan membesarkan anaknya seorang diri


dan terusir dari keluarga karena keluarga berharap Arum menggugurkan


kandunganya. Dan akan dinikahkan dengan orang lain.


Namun Arum lebih memilih merawat dan menjaga kandunganya


hingga lahirlah Sidiq. Karena Arum tak mau lagi menambah dosanya dengan


membunuh anak yang ada di kandunganya. Serta berharap bisa bertemu Yasin alias


Zain alias Ahmad Sidiq. Dan berharap dia mau menikahi Arum.


Namun saat bertemu justru Yasin mengatakan tidak bisa


menikahi Arum karena sudah menikah dengan Fatimah Istrinya sekarang. Yang saat


itu Fatimah juga baru dalam keadaan hamil. Hancurlah hati Arum waktu itu,


sekian lama menunggu, kehadiran seorang Zain alias Ahmad Sidiq yang ternyata


sudah berganti nama lagi menjadi Yasin, dan sudah menjadi suami orang lain.


“Terus apa yang Arum lakukan waktu itu ?” Samsudin yang dari


tadi hanya diam kini ikut nimbrung bicara karena penasaran dengan keterangan


Arum.


“Mau apa lagi, Arum hanya berharap agar mas Yasin mau


mengakui Sidiq sebagai ankanya. Arum sendiri sudah tidak berharap apapun. Meski


jujur waktu itu hati Arum hancur, tapi Arum lebih memikirkan Sidiq.” Lanjut


Arum


“Apa waktu itu mas Yasin tidak mengakui Sidiq sebagai


anaknya ?” Eis menyambung dengan pertanyaan selanjutnya.


“Tidak begitu Eis, mas Yasin bilang saat ini Aku gak bisa


menikahi kamu, karena aku sudah dinikahkan oleh guru ngajiku dengan gadis


pilihan beliau. Dan mas Yasin tahunya Arum keguguran. Karena saat sebelum


dibawa kepondok mas yasin katanya kerumahku mencariku. Namun dibilangi jika


Arum keguguran dan sudah dinikahkan dengan orang lain. Maka setelah itu mas


Yasin tidak pernah memikirkan Arum apa lagi mencari Arum.” Penjelasan Arum


selanjutnya.


Samsudin dan Eis bahkan tak mampu berkomentar ataupun


bertanya lagi.


“Setelah itu keinginan Arum hanya mas Yasin mau mengakui


Sidiq sebagai darah dagingnya. Dan secara kebetulan Sidiq pun sangat dekat


dengan mas Yasin. Mungkin naluri dia merasa nyaman jika berada dengan mas Yasin


ayah biologisnya. Sampai pernah Sidiq ikut menginap disini semalam, sebelum mas


Yasin menjenguk Fatimah yang saat itu berada dirumah orang tuanya.” Kata Arum.


“Jadi Fatimah sempat tinggal dirumah orang tuanya sementara


mas Yasin disini ?” Tanya Eis.


“Iya, saat muncul masalah, Fatimah sempat diungsikan kerumah


orang tuanya demi keselamatan Fatimah kata mas Yasin.” Jawab Arum pada Fatimah.


“Maaf terus selama Fatimah dirumah orang tuanya mas yasin


sering ketempatmu tidak ?” Tanya Eis mencoba menggali keterangan dari Arum.


“Sama sekali tidak, hanya Arum yang suka telpon karena Sidiq


rewel mencarinya. Mas Yasin ke tempat Arum hanya tiga kali. Pertama pertemuan


tak sengaja itu, yang kedua saat dia diculik dan melarikan diri di daerah


sekitar Arum, kemudian terakhir saat mengantarkan Sidiq ketika mas Yasin mau


jemput istrinya kembali kesini.” Keterangan Arum secara jelas dan lengkap cukup


melegakan Eis dan Samsudin.


Yang artinya antara Yasin dan Arum tak pernah terjadi affair


lagi setelah itu. Arum pun menyadari hal itu, jika ada sedikit kecurigaan atau


kekhawatiran jika Yasin masin menjalin hubungan dengan Arum.


“Jadi pertemuan kamu dengan Fatimah bagaimana dulu, apakah


Fatimah juga bisa langsung menerima kondisi seperti ini ?” Tanya Eis.


“Kalo persisnya Arum tidak tahu. Tapi saat Fatimah sampai


disini, mas  Yasin VC aku dan aku disuruh


bicara langsung sama Fatimah. Kemudian Fatimah mengundangku kesini bersama


Sidiq, hingga sampai saat ini.” Kata Arum.


“Apa,, Fatimah mengundang kamu kesini sampai sekarang ini ?


bagaimana ceritanya Arum ?” Tanya Eis penasaran.


“Awalnya Fatimah hanya ingin menyampaikan jika dia mau


menerima Sidiq dan mau mengadopsi Sidiq. Tapi karena ada info bahwa Sidiq dan


Arum jadi target penculikan maka Arum tertahan disini sampai sekarang. Atas


ijin dari Fatimah juga.” Kata Arum.


Samsudin dan Eis hanya saling pandang, dalam hati Eis


berkata,’bisa bisanya Fatimah bersikap seperti itu” kata Eis dalam hati. Ada


rasa kekaguman dan keharuan dalam hati Eis terhadap Fatimah sahabatnya.


“Kamu sendiri gimana saat ketemu Fatimah dan melihat mas


yasin yang dulu kekasihmu sekarang jadi suami orang lain. Sementara dia


meninggalkan anak denganmu ?” Tanya Eis penuh keheranan.


“Awalnya sakit hati juga, melihat kemesraan keduanya Arum


juga iri. Tapi Arum sadar jika dia bukan jodohku, meski sudah menanamkan benih


dirahimku. Namun itu kesalahan kami berdua dimasa lalu, dan Arum tak mampu


menuntut apapun karena terlalu panjang jika Arum ceritakan.” Kata Arum.


“Arum kamu tahu kan, jika gadis yang dulu dekat dengan mas


yasin itu adalah Eis, dan jika kamu belum tahu, Fatimah itu dulu juga sudah


punya pacar sebelum dinikahkan dengan mas Yasin !” kata Eis. Sementara Samsudin


jadi salang tingkah dengan pernyataan Eis Istrinya.


“Masa sih, terus cowoknya bagaimana ?” Tanya Arum.


“Iya Arum, dan cowoknya Fatimah itu adalah yang sekarang


jadi suamiku ini.” Kata Eis.


Arum gentian terbelalak kaget mmendengar cerita Eis.


“Kok bisa begitu ?” Tanya Arum penasaran.


Kemudian gentian Eis yang menceritakan kisah masa lalunya


bersama Yasin dan juga kisah masa lau Fatimah bersama Samsudin suaminya. Arum


yang sebenarnya berhati lembut itupun tak kuasa menahan air matanay. Sesaat


kemudian Arum menangis dan memeluk Isti.


“Arum sangat kagum dengan kalian semua. Awalnya Arum kagum


dengan Fatimah saja yang bisa menerima kenyataan ini, bahwa suaminya sudah


mempunyai anak diluar nikah. Bahkan mau mengakui Sidiq sebagai anaknya juga.


Sampai Sidiq pun memanggilnya bunda. Ternyata kisah kalian juga membuat Arum


kagum pada kalian>” ucap Arum dalam pelukan Eis.


“Kami pun kagum padamu Arum, begitu tabah menghadapai

__ADS_1


masalahmu yang gak ringan dan gak semua orang bisa bersikap setegar kamu.”


Jawab Eis.


“Nah Arum, maaf aku ikut nimbrung bicara ya ?” seru Samsudin


yang tiba tiba ikut angkat bicara.


“Mau bicara apa ?” Tanya Arum.


“Arum kan tahu, jika Fatimah sudah hamil sementara EIs


istriku belum juga hamil. Padahal kami menikah dalam waktu yang tidak terpaut


lama. Jadi kalo diperkenankan, kami mau meminjam Sidiq untuk kami rawat, ya


barang kali dengan begitu Eis istriku akan segera hamil.” Kata Samsudin tanpa


basa basi.


Arum pun jadi tersenyum kemudian menjawab.


“Kalo masalah itu, kalian bicarakan juga dengan Fatimah dan


suaminya. Karena Arum sendiri tidak bisa memutuskan. Harus sepengetahuan


Fatimah dan Suaminya, seperti kesepakatan Arum dan Fatimah dahulu.” Kata Arum.


“Iya gak masalah kalo memang harus begitu, tapi setidaknya


dari Arum sendiri tidak keberatan kan ?” Tanya lanjut Samsudin.


“Gak sama sekali kok, justru Arum bahagia anakku Sidiq


banyak yang suka. Sekarang punya aku sebagai mamah panggilan Sidiq, terus punya


Fatimah panggilanya Bunda dan akan tambah Eis, nanti panggilanya apa lagi ?” sahut


Arum sambil senyum.


“Aissh Arum mah bisaan aja, panggilan mah gak penting mau


ibu mau ambuk mau nya, atu terserah aja.” Kata Eis sambil tersenyum.


“Sukurlah kalo gitu sekarang kita persiapan sambut


kedatangan Yasin, katanya hari ini sudah boleh pulang kan.” Kata Samsudin.


“Iya, biar nanti kita siapin dan bersihin kamarnya Fatimah


dan mas Yasin. Gak papa kali sekedar membantu menata, nanti ajak khotimah


sepupu Fatimah.” Ujar Arum.


‘Yaudah ayuk ajak si Khotimah nya !” ucap Eis.


Kemudian mereka beertiga menghampiri Khotimah untuk diajak


menata kamar Yasin dan Fatimah.


*******


Di rumah Sakit Fatimah dan Isti persiapan bawa pulang Yasin.


“Fat, untuk Administrasi Rumah sakit sudah siap belum


nanti.” Tanya Isti ke Fatimah.


“Udah, kata pak Yadi semua sudah ditanggung dan dilunasi


kok.” Jawab Fatimah.


“Owh sukurlah, kalo belum aku ada simpanan dikit bisa


dipakai tambah.” Kata Isti.


“Gak usah, buat persiapan kamu nikah saja besuk Is.”Goda


Fatimah.


“ itu sih sudah ada sendiri Fat, tenang saja.” Jawab Isti.


Fatimah dan isti menunggu kabar dari dokter untuk bisa bawa


pulang Yasin. Sementara Yasin dikamar di cek semua kondisi dari Tensi darah,


detak jantung hingga tarikan nafasnya. Tidak ada sesuatu yang berbahaya, paru


paru juga aman.


******


Yasin POV


“Selamat bapak sudah sehat sudah boleh pulang, nanti jika


buat tarik nafas panjang masih terasa nyeri kontrol lagi kesini. Kalo sekarang


sedikit nyeri mudah mudahan karena luka luarnya saja.” Kata dokter.


pulang ?” tanyaku sudah gak sabar pingin pulang.


“Sebentar, saya konfirmasi ke bagian Administrasi dulu.” Jawab


dokter itu.


“Baiklah dokter, sekalian saya ingin bertemu istri saya.” Kataku


pada dokter.


“Nanti saya sampaikan, bapak tunggu disini saja dulu.” Jawab


dokter itu.


Aku menunggu beberapa saat sebelum Fatimah masuk, mencoba


melihat luka di  dadaku. Sekitar beberapa


cm disamping jantung, apakah sebenarnya yang diincar adalah jantungku atau


sengaja sekedar melukai aku,pikirku.


“Masih sakit apa mas, kok lihatin luka ?” tiba tiba Fatimah


datang bersama Isti.


Cepat cepat aku membetulkan bajuku,yang tadi kubuka untuk


melihat luka.


“Eeh maaf, gak tahu kalo mas Yasin lagi buka baju.” Sahut Isti.


“Gak papa Is, hanya melihat bekas luka saja kok. Udeah gak


sakit kok Fat, Cuma pingin tahu aja bekas luka jahitnya.” Kataku.


“Badanmu jadi penuh bekas luka dong mas ?” Tanya Fatimah.


“Heeh jangan buka aib suami di depan Isti dong Fat.” Jawabku.


“Bukan aib itu sih mas, gak usah malu.” Kata Isti.


“Gimana kata dokter tadi mas ?” Tanya Fatimah kembali.


“Udah boleh pulang kok sekarang. Kamu hubungi yang dirumah,


sekalian panggil Taksi aja nanti.” Kataku.


“Nanti kang Salim yang mau jemput kita.” kata Fatimah.


Tak lama kemudian seorang perawat masuk dan mengatakan jika


aku sudah boleh pulang.


“Selamat siang bapak dan ibu, ini hasil rontgen sebelum dan


sesudah operasinya. Hari ini bapak sudah boleh pulang. Silahkan ambil obat dulu


di kasa depan.” Ucap perawat itu sambil menyerahkan map berisi hasil ronsen.


“Iya pak makasih, biar saya yang ambil obatnya.” Sahut Isti.


Kemudian Isti keluar menuju kasa pengambilan obat.


“Kamu bawain duit gak tu Isti ?” tanyaku pada Fatimah.


“Semua sudah dibayar lunas dari pak Yadi kok mas, termasuk


untuk obat dan control besuk.” Jawab Fatimah.


“Sukurlah, jangan sampai merepotkan orang lain Fat.” Kataku.


Setelah menunggu beberapa saat Isti datang sudah bersama


kang Salim untuk menjemput kami.


“Gimana, udah siap semuanya ?” Tanya kang Salim.


“Udah kang, tinggal berangkat saja.” Kataku pada kang Salim.


Karena sudah pingin segera sampai rumah aku segera turun


dari ranjang untuk puklang ke rumah. Meski sebenarnya masih terasa agak pegel


dua hari terbaring tak bergerak diranjang. Tapi karena kerinduan dengan rumah


semua itu tak aku rasakan.


Segera kami keluar rumah sakit menuju mobil kang Salim dan


berangkat pelang. Jarak dari rumah sakit kerumah yang hanya tujuh km kurang


lebih, hanya dalam waktu beberapa menit kami sudah sampai rumah.


Sampai dirumah aku mau dipapah masuk kamar oleh Fatimah,

__ADS_1


tapi aku minta duduk diruang tamu saja dulu. Pingin ngobrol dengan yang lain. Gak


enak kalo dikamar terlalu sempit buat ngobrol dan jenuh berbaring terus.


“Di sini aja dulu, malas berbaring terus dari kemarin bikin


badan kaku.” Kataku pada Fatimah.


“Yakin gak papa ?” Tanya Fatimah.


“Iya udah tenang saja, aku dah sehat gak ada luka yang


serius lagi.”jawabku.


“Yaudah kita duduk disini dulu gak papa.” Kata kang Salim.


“Bagaimana ceritanya kang Salim bisa sampai sini kang ?”


tanyaku pada kang Salim.


“ya kita mendengar kamu kena musibah, lalu kuajak Samsudin


dan Isti sekaliyan biar member support ke kamu.” Jawab kang Salim. Apa maksutnya


member support aku juga gak faaham. Tapi juga tidak menanyakan lebih lanjut.


“Kalo aku sama Eis dari sehari sebelumnya udah sama sama


inget kamu terus, gak tahu ada feeling apa kok tiba tiba inget kamu ?” kata


Samsudin.


“Owh makasih ya Din, kamu masih mau peduli sama aku.” Jawabku.


“Eeeh kayak sapa aja ngomongnya gitu ?” jawab Samsudin. Aku sendiri


kaget kok bisa ngomong begitu.


“Gak maksut saya kan kamu jauh disana, kok masih bisa


sempetin waktu kalian jenguk aku disini.” Kataku beralasan.


“Owh kalo itu karena kebetulan disamperin sama kang Salim,


meski kami sudah ada juga niat tapi kalo gak disamperin kang salim mungkin juga


belum sampai sini kemarin.” Kata Samsudin.


Setelah ngobrol cukup lama dengan semua termasuk juga dengan


Arum dan Rofiq, untuk menanyakan persiapan mereka aku disuruh kang salim untuk


istirahat dulu. Agar luka bekas jahitan cepat mongering, kalo bukan kang Salim


yang nyuruh mungkin aku masih bantah. Tapi kalo kang Salim yang bilang aku sih


nurut saja. Aku sangat menghormati beliau. Akhirnya aku masuk kekamar untuk


beristirahat dan melihat kondisi kamar yang dua hari aku tinggalkan.


“Mas, sebenarnya kemarin itu gimana kok bisa tertembak


begitu ?” Tanya Fatimah pelan saat dikamar.


“Saat itu mas sedang mencari keberadaan fanani dan lainya,


tiba tiba ada yang mengincar dan melepaskan tembakan. Dan dilengkapi peredam,


sehingga tidak terdengar, tahu tahu aku jatuh. Tapi sudah sempat menyampaikan


keberadaan fanani cs disembunyikan dengan tabir ghoib di bawah pohon preh dekat


pemakaman desa sebelah.” Kataku pada Fatimah.


“Owh gitu, tapi sampai sekarang mereka belum ketemu mas ?”


kata Fatimah.


“Udah ada kang Salim, pasti gak akan diam saja. Nanti pasti


diupayakan.” Jawabku.


“Bukan itu mas, maksut Fatimah menyangkut Khotimah.” Kata Fatimah.


Aku jadi berpikir sejenak, menyangkut Khotimah kenapa,


pikirku.


“Maksut Fatimah menyangkut khotimah bagai mana ?” tanyaku.


“Khotimah,kelihatan murung terus fanani hilang, dan mas


perlu tahu mereka sering ngobrol berdua. Baiknya segera kita nikahin saja dari


pada kelamaan. Kalo Fanani sudah kembali, kita tanyain saja hubunganya dengan


Khotimah.” Kata Fatimah.


“Kamu bilang kang Salim saja sekalian, mumpung ada beliau. Mas


kan saat ini belum total pulih Fat, jadi biar kang Salim yang menyeyelesaikan


masalah Fanani cs dan dengan Khotimah.” Jawabku.


“Owh iya maaf mas, Fatimah sampai lupa soalnya khawatir jika


Khotimah sampai lupa diri.” Kata Fatimah.


“Iya aku faham, kamu sebagai saudara sepupu dan aku juga


tentu saja khawatir dengan Khotimah. Kalo memang sduah saling suka ya nunggu


apa lagi kan sudah cukup umur dan sudah bisa mandiri semuanya.” Kataku.


“iya mas, sekalian nanti mungkin bapak ibu juga hari ini


sampai sini. Nanti kita bicarakan secara internal dulu saja, mungkin Yuyut gak


ikut tapi.” Kata Fatimah.


“Iya gak papa, nanti kita konsultasi dengan bapak ibu. Berarti


nanti kita jemput mereka ya Fat ?” tanyaku pada Fatimah.


“Gak usah mas, Fatimah udah sharelok bapak ibu dianter


ponakan kok.” Jawab Fatimah.


“Owh ya sukurlah, tapi bapak ibu sudah tahu kan kalo aku


sudah baikan sekarang ?” tanyaku.


“Iya mas, Fatimah sudah bilang kok.” Kata Fatimah.


Saat sedang bicara dengan Fatimah tiba tiba terdengar suara


sirine mobil polisi yang menuju ke rumahku. Aku bangkit dari ranjang melihat


apa yang terjadi, ternyata pak Yadi dan temanya membawa Fanani, Ardian dan


Dicky yang tidak sadar seperti orang ling lung hilang ingatan.


“Assalaamu’alaikum pak, maaf mengganggu ini Fanani dan


lainya sudah ditemukan. Tapi kenapa kondisinya seperti ini ya ?” Tanya pak Yadi


agak panik.


“Bawa semua keruang Mujahadah pak.” Kataku.


Kemudian semua dibawa keruang mujahadah, ketiganya menatapku


dengan tatapan kosong. Seperti kebingungan dan ketakutan, bahkan memberontak


tidak mau diajak masuk. Untung dibantu beberapa personil dan juga Rofiq


kakaknya isti ikut membantu.


Saat diruang mujahadah ketiganya meraung dan menjerit


sekeras kerasnya, kang Salim berbisik padaku.


“Kamu istirahat saja dulu, biar aku dan Samsudin yang


menangani.” Kata kang Salim pelan.


Aku mundur karena memang kondisiku juga baru saja pulih,


Samsudin maju mendampingi kang Salim. Ketiganya di baringkan di ruang


mujahadah, dan kang Salim segera melafadzkan doa dibantu Samsudin. Dengan media


air putih ketiganya diusap wajah dan kedua tangan dan kakinya.


Spontan ketiganya kejang dan berikutnya terdengar jeritan aneh


dari ketiganya.


“HOaaaaarrrghhh……!!!”


Semua yang mendengar menjadi panik melihat respon dari


ketiga orang tersebut.


bersambung


Terimakasih atas dukungan readers tercinta


tetaplah dukung karya dengan


like


komen dan


vote

__ADS_1


agar Author makin semangat up.


__ADS_2