
Waktu menunjukkan pukul, 16.00 istriku belum juga pulang belanja. Anak anak yg mau belajar ngaji sudah ada yg datang. " Tumben belanjanya lama sekali..." Bisikku dalam hati.
Entah kenapa aku merasa khawatir, atau mungkin karena peristiwa tadi....? Selama 6 bulan menikah, memang moment yang mesra & mengharukan dengan istriku baru tadi terjadi.
Mungkinkah hari ini benar benar momentum yang terindah. Rasanya, seperti saat menyatakan cinta pada gadis. Dan gadis itu menerima cintaku.
Aahhh apaan sih...?!?
Bukankah sudah jadi suami istri, sudah apa apa bersama.
Dan Sudah benar benar berlaku sebagai suami istri yang sudah sah. Meski istriku belum menunjukkan tanda tanda kehamilan.
Tapi kenapa sejak peristiwa tadi, ada perasaan yang sangat berbeda.
Kangen....?
Masak sih, belum juga 2 Jam..?
Kok terasa lama banget istriku meninggalkan rumah....?!?
Dan kenapa juga perasaan seperti ini justru muncul saat ada peristiwa besar begini...?
Kenapa tidak sebelumnya ?
Kenapa baru sekarang, saat aku harus pergi sementara meninggalkanya ?
Saat aku harus menghadapi bahaya...?
Aku jadi ingat, pasca dinikahkan dengan nya.
Setelah akad Nikah, Aku disuruh pulang kerumah bersama istriku. Pada posisi aku belum punya usaha. Dan akhirnya Bapak mertuaku mengajak aku dan istriku pulang ke rumahnya di daerah jawa tengah. Tepatnya di daerah majenang. Mertua yang sangat baik, tau aku belum punya usaha, belum bekerja.
Di hari pertama aku dirumah mertua, diadakan tasyakuran atas pernikahanku.
Full biaya dari mertuaku, karena aku yatim piyatu.
Paska acara tasyakuran aku diajak bicara kedua mertuaku.
" Kamu mau usaha apa ? Atau mau cari kerja apa nak ? " Tanya bapak mertua.
Aku yg hanya lulusan SMA mau kerja apa ? Mau Usaha modal dari mana ?
" Maaf pak & ibu mertua, saya ini hanya luusan SMA. Mau cari kerja di perusahaan kayaknya sulit. Kalo mau usaha, jujur belum ada gambaran. Kalo di ijinkan, saya mau pulang ke jogja dulu. Di dekat rumah saya ada pasar, mungkin mau coba jualan dulu." jawabku dengan jujur.
" Terus anak ku gimana, mau kamu tinggal disini atau mau kamu ajak ke jogja...? " tanya mertuaku,
Aku jadi agak bingung jawabnya.
" Eehh nanti saya bicarakan berdua dulu pak " jawabku sekedar cari waktu buat mikir jawabanya.
" Yaudah, terserah kamu berdua, yg penting sudah jadi kesepakatan. Semua ada konsekuensinya." jawab bapak mertuaku.
" Kalo ibu, pinginya Fatimah dan kamu tetap disini. Fatimah Anak ku satu satunya " ibu mertuaku menimpali.
" Ya gak bisa begitu buk, anak perempuan sudah punya suami harus nurut suami. Karena sudah menjadi tanggung jawab suami.. " sanggah bapak mertua.
" Loh kan cuma usul pak e.. " kilah ibu mertua.
Aku cuma diem, gak tahu harus gimana.
" Yo wis.. kalian istirahat dulu sana. Sekalian masalah ini kalian bahas. besuk pagi harus sudah ada jawaban " ucap bapak mertua.
Aku jadi makin bingung,
Mau mulai bicara dari mana, sebelumnya aja gak pernah ngobrol...!
" Fat.... Suamimu ajak masuk kamar, kaliyan bicarakan baik baik " ibu Fatimah melanjutkan ucapanya.
Aku jadi tambah kikuk
Kulirik Fatimah juga tampak bingung.
Hingga cukup lama kami berdua hanya bengong, saling tatap tanpa suara.
Tiba tiba Ayah mertua berucap
" Cepet Fat... kalo cuma diam terus kapan aku punya cucu...." kata Ayah Fatimah, membuat kami berdua makin tersipu malu.
" Iya pak ih ngomong e kaya gitu Rama ki.. " jawab Fatimah.
( Rama adalah panggilan ke bapak daerah sana )
" Ya emang tujuane sira dirabekna ya kaya kui kok Fat..." timpal ibu Fatimah.
" Ya iya tapi ya aja di omong omongna kaya kui, lah nyong kan isin dirungakna lah, yung.... ?!? " ucap Fatimah.
Aku gak berani angkat wajah karena malu, sekaligus menahan tawa percakapan dialek dengan bahasa ngapak mereka.
" Ayuk lah mas, kita bicara dikamar " kata Fatimah sambil jalan ke kamar.
" ,Ya kue bocah... bojone ya digandeng mbok ora reti kamar e " seru bapak mertua.
Wah ini bapak mertua bikin makin tengsin aja. Dari pada makin tengsin akupun berjalan mengikuti Fatimah.
Sampai dikamar.
Aku dan Fatimah hanya duduk di pinggir ranjang, tanpa bicara.
Akhirnya Fatimah yg duluan bicara dengan logat aslinya.
" Lah jare arep rembukan, kok meneng bae mas.... ? " Fatimah membuka pembicaraan.
Aku gelagapan di buatnya.
" Ya aku bingung aja harus gimana, kamu sendiri gimana im ? Mengenai pernikahan ini "aku malah menanyakan hal ini.
" Ya kalo aku kan istri, yo ngikut kata suami saja lah... " jawab Fatimah.
" Bukan itu, maksutku.. kamu udah mantap jadi istriku ? " lanjutku.
" Ya mantap gak mantap sudah terlanjur nikah, gimana lagi " jawab istriku.
" La mang e Mas Yasin jga sudah mantap jadi suamiku ? " tanya balik Fatimah.
Aku diam gak bisa jawab.
Lantas Fatimah menyambung.
" Ya gini aja mas, kita jalani apa adanya. Paling gak kita sudah saling tahu. Satu pesantren satu guru. Masing masing sudah tahu hak dan kewajiban Suami dan Istri. yaudah jalani aja..." kata Fatimah.
__ADS_1
" Iya sih... Aku juga mau belajar mencintai kamu. kuharap kamu juga im..." kataku.
Aku mulai berani menatapnya.
Fatimah jadi tertunduk, gak berani menatap.
Aku dekati dia, aku coba pegang tanganya. Tapi tanganku gemetar, dan tangan Fatimah pun bergetar.
Jujur meski aku tidak ada rasa cinta waktu itu. Namun naluriku sebagai laki laki, di kamar berdua dengan gadis. Apalagi sudah halal, hasratku sebagai laki laki normal tentu saja timbul.
Namun melihat Respon Fatimah tanganya begitu bergetar aku jadi berubah pikiran.
"Maaf Im.... aku gak bermaksut kurang ajar.... maaf..." Aku berkata gugup sambil melepaskan tanganya yg mendadak jadi dingin.
" Iya " Kata Fatimah lirih, nyaris tak terdengar.
" Mas.. aku yang minta maaf, aku kan sudah resmi jadi istrimu. Aku sudah halal untukmu.... " sambung Fatimah
" Gak Im... aku gak ingin kamu jadi ketakutan atau setengah terpaksa. Masih banyak waktu, aku juga gak mau melakukan karena sekedar nafsu ku..." jawabku.
Aku diam sesaat, namun posisi dudukku yg tadinya ada jarak. Kini aku dekatkan sampai saling menempel paha kami. aku bisikkan ke telinganya.
" Im... memang kamu sudah halal bagiku, tapi malam ini kita ngobrol saja. Boleh aku sambil peluk kamu ya. kan sudah gak dosa..." kataku.
" I... iiiya mas boleh, Mungkin dengan begitu akan tumbuh cinta diantara kita..." ucap Fatimah.
Bahkan Fatimah membuka kerudungnya, aku sempat kaget.
" Kenapa mas... jangan kan rambutku. sekarang tubuhku sudah halal bagimu kan ? "
Tampaknya Fatimah sudah menguasasi keadaan ini.
" Iya ya... aku masih kurang yakin aja " kataku.
Fatimah hanya tersenyum.
" O iya im, gimana dengan permintaan bapak dan ibu ? "
" Ya terserah mas Yasin saja, aku mau berusaha jadi istri yang baik, yang nurut " jawab istriku.
" Kalo ikut aku ke jogja mau gak ? kita mulai dari Nol, jualan dipasar..? " tanyaku.
" Imah ikut saja, kebetulan Imah juga bisa jualan. Kan Biyung eh Ibu ku dulu juga jualan pakaian di pasar. Terus Aku juga ada sedikit modal buat Usaha..." jawab Fatimah..
" Yaudah, besuk aku jual motorku buat tambahan modal, sewa kios. lalu kita usaha bersama kita kelola berdua ya " kataku semangat.
" Ya berdua lah tentunya mas. Imah gak mau ada yg ke tiga.. " jawab Fatimah.
Jawabnya sambil senyum, tampaknya dia benar benar sudah bisa menerima kenyataan jadi istriku. Atau emang dia diam diam dari dulu sukasama aku ya...?
Pikiran GR ku aja kali.
hehehe.
" Dih belum belum udah cemburu nih... Atau memang sudah jatuh cinta sama aku ya ? " godaku.
" Diiih GR amat.... Cinta gak cinta ya sama aja, gak mau di duain ! " sergah Fatimah.
Jawab imah sambil nyubit gemes ke aku. Spontan aku menjerit kencang karena sakit.
" Aduuhhh Sakit tau... " jeritku.
Aku menjerit cukup keras hingga Fatimah mendekap mulutku, otomatis badan dan wajahnya makin menempel ke aku.
Sampai dia mau berontak, dan hampir menjerit. Gantian aku yg mendekap mulutnya.
Andai ada yg nguping pasti sudah berpikir ngeress dah malam itu. Tapi bodo amat lah.
Saat aku mendekap mulutnya, Fatimah sampai hampir jatuh ke belakang. Lalu kutahan dengan tanganku satunya.
Sehingga tanganku yg satu di tengkuk Fatimah, satunya lagi diwajah Fatimah.
Tanganku yang mendekap mulutnya ku angkat perlahan. Fatimah posisi setengah berbaring, dengan bersandar tanganku yang satunya. Rambut panjangnya terurai kebawah. Dan Wajahnya menatap persis ke wajahku. Entah siapa yg mulai, akhirnya bibir kami bertemu.
" Mass ah... jangan dulu ya, aku belum siap... !!" " pinta Fatimah.
" Owh iya maaf... aku khilaf..." jawabku.
Baik aku dan Fatimah hanya diam terpaku.
" Yaudah kita istirahat saja dulu, besuk kita menghadap Bapak ibu " kataku pada Fatimah. kita sepakat hidup di jogja.
" Aku tidur di pinggir saja, kamu yg dekat tembok.... takut kamu jatuh " aku mulai berani mnggodanya.
Ah dasar laki laki, mungkin inilah sebabnya. Laki laki dan perempuan yg bukan mahrom dilarang berduaan. Karena godaan setan begitu kuat. Meski kami sudah resmi jadi suami istri. Tapi sudah sepakat menunda itu. Walaupun jika aku maksa pun punya alasan kuat. Tapi itu tak kulakukan.
Akhirnya kami sama sama berbaring, meski susah tidur. Itu pengalaman pertama tidur satu ranjang dengan lawan jenis bagi Fatimah.
Kami saling lirik, aku gak tahu apa sebenarnya dia juga ingin. Tapi akhirnya kami berdua tertidur, tanpa ada kejadian yg sebenarnya boleh terjadi.
Kami melakukan ketika sudah hampir setengah bulan menikah, tidak tahu karena masing masing sudah tumbuh rasa cinta atau masing masing sudah tak mampu menahan birahi.
Karena Setiap Hari bertemu, makan bersama pergi kemanapun berdua bahkan tidur pun bersama. Tapi yg jelas itu bukan Zina kan.
Sudah resmi gitu loh....!
.....
kembali ke topik....
Saat ini aku semakin gundah, benar benar baru merasakan kehangatan istri, perhatian istri dan yg lebih penting adalah arti seorang istri. Istri dalam bahasa jawa \= Garwo \= Sigarane nyowo
Yang artinya \= Belahan Jiwa
Barusekarangaku rasakan, mungkin kemarin kemarin hanya sebatas pasangan hidup. Belum bisa betul betul merasakan seperti sekarang ini.
Kenapa gak dari kemarin, kenapa justru baru sekarang...? Disaat aku harus menghadapi serangan serangan ghoib dari makhluk astral.
Maafkan aku Istriku, yg tidak peka terhadapmu.
Apakah ini ujian bagi aku, saat hubunganku dengan istriku sedang mesra mesranya. Harus terpisah demi Amanah guru.
Tidaaak aku berteriak dalam hati....!
Aku akan buktikan, bahwa apa yg akan kulakukan dalam menjalankan amanah guru. Itu adalah Ekspresi cintaku pada Istriku, aku harus melindunginya. Mengirimkan dia kerumah orang tuanya.
Demi keselamatan dia, demi cintaku padanya.
.....
__ADS_1
" Masss......" Tiba tiba istriku sudah dihadapanku.
" Ngelamunin apa sih.... ?" tanya Fatimah.
" Nggak nungguin kamu kok lama banget" jawabku
" Tumben amat nungguin, eeemmm kangen ya...?" goda istiku.
Goda istriku, tapi aku jd curiga diatampak ceria sekali.
" Ah gak juga, kamu tuh dah ditungguin anak anak yg mau ngaji... " Kilahku takut ketahuan kangen. Jawabanku berbohong demi gengsi, padahal emang kangen.
" Ehmmmm mau tau gak kok lama ?" tanya Fatimah.
" Kemana emang... ? " tanyaku sok cool, padahal kepo banget.
" Ini ada hadiah special buat Suamiku tercinta..." kata Fatimah.
Aku menahan sekuat mungkin tidak tersenyum.
" Haalllaah.... Paling juga jajan anak anak yg kamu beli" sahutku tak buat seketus mungkin.
" Lihat dulu niihhh...." sergah Fatimah sambil menyodorkan Sebuah amplop.
" Apaan nich..... ?" tanyaku.
" Buka saja sendiri....!" jawabnya.
Pelan pelan aku buka, entah kenapa aku dag dig dug.
Segera ingin tahu isi Amplop, Sampai gak lihat kop di samulnya. Aku baca berulang ulang seakan gak percaya.
" Kamu Hamil......???? " tanyaku kaget tapi bahagia.
Aku setengah berteriak, langsung aku peluk istriku. Aku bopong aku ciumi.
" Iiich malu entar dilihat anak anak yg mau ngaji." protesnya.
"Bodo amat yg penting aku sangat bahagia sekarang.. " kataku.
" Iya Imah juga bahagia banget, tapi udah dulu ya,mau ngajarin ngaji anak anak...." Pinta Fatimah.
"Iyaa deehhhh.... " jawabku agak kecewa.
Istriku hanya tersenyum, lalu berbisik.
" Jangan marah, lanjutin nanti malam ya say.." godanya.
Kata istriku, kemudian mencium pipiku.
Ahhh indahnya.
Hari ini begitu banyak Karuniamu Ya Alllah.
Alhamdulillah.
Aku sangat bersukur, tapi kembali teringat masalah di daerah ini. Aku jadi bertambah sedih lagi.
Harus segera minta bantuan kang Salim. Dan sementara Istriku harus ku bawa ke Majenang. Tidak boleh tidak harus.
Setelah istriku selesai ngajar ngaji, tak lama kemudian kumandang adzan maghrib terdengar.
Malam mulai datang, waktu maghrib orang jawa bilang surup. Adalah waktu pergantian aktivitas manusia dan jin.
Konon di alam jin itu, tidak ada malam dan siang, tidak gelap juga tidak terang. Tapi seperti saat maghrib, terang sudah tidak tapi gelap juga belum.
Itulah kenapa waktu maghrib, anak anak kecil gak bleh main diluar rumah.
Dan bagiku, waktu maghrib begini sering dapat firasat jika akan ada hal buruk.
Apa lagi ingat kejadian dimakam tadi pagi. " masih banyak yg akan menyusul"
Alias akan ada org meninggal dunia lagi.
Apakah begitu hebatnya... ?
" Mass Kopinya " Fatimah bawakan aku kopi.
" o iya makasih mah... " jawabku.
" Mah..... jangan nolak, besuk aku anter ke majenang. Disini lagi gak aman buat kamu dan janin yg kamu kandung. Jika kamu sayang aku, sayang anak kita di dalam rahim mu. Nurut aku ya... " lanjut ucapanku.
Istriku hanya diam, kemudian duduk disampingku.
" Tapi Mas gimana nanti sendirian ? " tanya Fatimah.
" Aku mau cari kang Salim, biar ngebantuin. Dia kan jagonya dalam hal ini..." jawabku.
" Tapi tetap harus hati hati mas, ingat ini...." kata Fatimah sambill menarik tanganku dieluskan ke perutnya yg sudah isi.
" Iyalah pasti... Dan inget ini juga. "
kataku sambil mencium pipi istriku.
" Iiih pamali hampir maghrib... " protes Fatimah.
" Gak lah... kenapa mang, cuma cium pipi istri sendiri kok." aku membela diri.
" Mang mas gak ngeri dengan kejadian akhir akhir ini ? " kata istriku.
" Gak lah... Kita ini santri kenapa takut sama makhluk...." jawabku boong.
" Takut hanya pada Allah " sambungku..
Kataku sok PD, padahal juga ada rasa was was. Juga sedih nanti bakal sendiri gak ditemani istri, mana lagi merasakan kasih sayang yg sangat besar bagi istriku dan aku.
Mungkin ini tantangan untuk mencari kang Salim.
Tantangan berupa keteguhan niat.
Dan tidak menutup kemungkinan akan adanya tantangan lain. Tantangan real dari eksternal mungkin dari manusia mungkin juga dari makhluk makhluk astral itu.
.....
....
episode berkutnya
menghadapi penjaga hutan menuju pondok kang salim
__ADS_1
....
...bersambung...