
Wah kapan itu, sekalian saja dipercepat, kalo bisa sebelum aku dan Eis pulang ke bandung. Biar bisa ikut hadir mengharap berkahNya, agar Eis bisa cepet hamil juga.” Jawab Samsudin.
Aku yang menunggu moment untuk membalas Samsudin langsung menyahut.
“Iya Din, tapi usaha tu harus lahir batin, meski kamu ajak Sidiq dan memohon pada Allah saat proses akad nikah bang Rofiq dan Arum. Kalo tiap malam bini kamu, Cuma kamu tiinggal tidur juga gak bakalan hamil hamil !” selorohku pada Samsudin yang lantas disambut tawa Rofiq.
“Wkakaka,,,, lo bisa aja Zain mang kamu tahu kalo tiap malam hanya ditinggal tidur.” Kata Rofiq. Sementara Isti meras tidak senang dengan guyonan kami kemudian melangkah pergi dengan wajah cemberutnya.
“Dasar kalian para lelaki, kalo ngomong gak pakai dipikir dulu….!” Gerutu Isti.
Isti langsung melangkah pergi meninggalkan kami dengan wajah cemberutnya. Sementara Samsudin ngomel gak jelas.
“Ah kamu kalo ngomong asal aja, bikin aku tengsin didepan Isti.” Gerutu Samsudin.
“Santai aja Din, Isti kan mang dari dulu gitu susah diajak bercanda. Tanyain aja sama abangnya ini.” Kataku sambil menunjuk Rofiq.
“Maaf bang, temenku satu ini memang mulutnya susah diatur ya !” kata Samsudin membalas perkataanku.
“Gak papa, aku juga udah hafal sama dia dari dulu begitu.” Kata Rofiq.
“Udah Din tenang saja gak usah dibikin malu. Yang jelas kita semua ikut doakan biar kamu segera punya anak. Soala candaan mah gak usah dimasukkan kehati.” Kataku serius pada Samsudin.
“Iya aku juga ngerti, hanya gak enak ada Isti tadi kan dia masih single masak kamu ngomongnya begitu.” Jawab Samsudin.
“Ya gak papa, Isti juga bentar lagi bakalan nyusul abangnya segera married, ya gak bang Rofiq ?” sahutku menomentari kata kata Samsudin.
Rofiq hanya tersenyum saja mendengar ucapanku. Bagi Rofiq dia sudah hafal dengan sifat dan pembawaanku dulu jadi gak kaget lagi.
Tak terasa waktu sudah semakin sore, kami segera bersiap untuk mandi dan persiapan solat maghrib berjamaah.
...******...
Usai melaksanakan solat maghrib berjamaah dan dilanjutkan solat Isya, seperti biasa kami melaksanakan mujahadah bersama.
“Din, mumpung kamu disini dan aku masih belum pulih betul. Kamu gih yang pimpin mujahadahnya. Besuk kalo aku dah pulih betul baru aku yang mimpin lagi.” Kataku pada Samsudin.
“Bukanya kamu udah sehat Yasin ?” ata Samsudin.
“Iya sih, tapi nafasku masih suka sesak jika baca wirit panjang, takut nanti gak konsen saja !” jawabku.
Meski awalnya Samsudin gak mau tapi akhirnya setelah kami bujuk dia mau pimpin mujahadah bersama malam itu. Dari awal hingga akhir mujahadah berlangsung semua berjalan lancer tak satupun masalah yang terjadi. Semoga saja ini pertanda bahwa musuh mulai menghentikan gerakanya. Sesuai usul kang Salim untuk mensterilkan radius tertentu yang sekiranya masih terjangkau peluru, serta pembuatan pagar ghoib yang dilakukan kang Salim kemarin sehingga gangguan mahluk astral tidak bisa masuk kedalam area rumahku.
Walau bagaimanapun dalam hal itu kau masih kalah jauh dengan beliau yang sudah jadi santri sejak kecil. Sehingga hafal betul harus bagaimana dan dengan apa membentengi rumah dari gangguan mahluk mahluk astral.
Usai mujahadah kami melanjutkan ngobrol, sementara sebagian masuk ke kamar masing masing untuk istirahat, setelah kemarin beberapa hari mereka kurang Istirahat. Tentunya wajah wajah lelah mereka tidak dapat di sembunyikan.
“Khot kamu jangan tidur dulu. Ada yang mas sama mbak mau bicarakan.” Kataku pada khotimah.
“Soal apa mas ?” Tanya khotimah.
“Khotimah duduk saja dulu, biar nanti bicaranya enak.” Jawab Fatimah.
“Iya, ada apa sih kok kayaknya penting banget.” Tanya khotimah penasaran.
Aku member kode pad Fatimah untukmemulai bicara pada Khotimah adik sepupunya itu.
“Gini Khot, mbak pingin Khotimah itu segera menikah dan berumah tangga. Seperti halnya Yuyut dan bapak ibu Fatimah juga berharap begitu dari kemarin. Nah apakah Khotimah sudah memikirkan itu ?” Tanya Fatimah.
“Khotimah belum tahu mbak, pingin sih pingin tapi masih ragu juga nih !” jawab Khotimah.
“Ragu kenapa Khot ?” tanyaku menimpali.
“Khotimah ragu ragu apakah nanti bisa membagun keluarga yang sakinah, jujur melihat rumah tagga mas dan mbak saja kayaknya berat banget Khotimah membayangkan.” Jawab Khotimah.
“Masing masing orang punya jalan sendiri sendiri Khot. Jalan yang aku lalaui bersama Fatimah ya memang harus seperti itu. Jalan yang akan kamu lalui juga pastinya akan berbeda. Namun kita harus yakin bahwa semua itu sudah diatur oleh Allah. Mkanya gak usah dibayangin dengan berat, jalani saja apa adanya.” Kataku pada Khotimah.
Khotimah tampak termenung sejenak, mungkin mulai berfikir tentang apa yang aku dan Fatimah sampaikan.
“Mbak mau nanya ni KHot, jawab yang jujur saja gak usah malu malu !” seru Fatimah.
“Apa mbak ?” Khotimah menegaskan.
“Kamu ada hubungan khusus dengan Fanani bukan, mbak lihat kamu sering sekali ngobrol berduaan dengan dia. Mbak gak ngelarang, tapi karena kalian sudah dewasa sebaiknya kalo memang serius segera menikah saja.” Ucap Fatimah.
“Yak an kita juga baru sja kenal mbak masak ya langsung melangkah ke pernikahan begitu ?” jawab Khotimah.
“Pertama mengingat usia kalian yang sudah cukup dewasa, yang kedua menghindari fitnah dan menjaga kehormatan kamu sebagi wanita Khot.” Jawab Fatimah.
“Khotimah tahu batas kok mbak, gak ngelanggar larangan agama.” Jawab Khotimah.
“Iya sekarang mungkin Khot, tapi mengingat kalian hamper tiap hari bertemu dan sudah saling suka godaan itu akan datang terus Khot. Bukan mbak gak percaya, tapi mbak pikir menghindari itu lebih baik dari pada kalian nanti sama sama khilaf.” Ujar Fatimah menasehati Khotimah.
“Sebenarnya, mas Fanani itu memang menyatakan suka sama Khotimah. Tapi….?” Ucapan Khotimah terhenti seakan berat mengucapkan.
“Tapia pa Khot ?” desak Fatimah.
“Tapi mabk Fatim dan mas Yasin jangan marah kalo Khotimah bicara jujur ?” pinta Khotimah.
Aku hanya mengangguk, biar Fatimah saja yang bicara banyak batinku.
“Iya tapi apa bilang saja agar mbak dan mas Yasin juga bisa membantu.” Kata Fatimah.
Sebenarnya mas Fanani itu dulu sudah pernah menikah mbak, hanya terpaksa bercerai karena istrinya tidak betah karena mas Fanani sering harus keluar rumah bertugas berhari hari seperti saat ini.” Kata Khotimah.
Aku sendiri baru mendengar itu jika Fanani ternyata berstatus duda cerai hidup. Tapi gak masalah bagiku sendiri jika Khotimah bisa menerima Fanani apa adanya dan sebaliknya.
“Jadi Fanani itu sudah pernah menikah ?” Tanya Fatimah.
__ADS_1
“Iya mbak, itulah yang bikin Khotimah ragu untuk melangkah lebih jauh.” Jawab khotimah.
Fatimah pun tampak bingung harus bilang bagaimana.
“Begini Khot, semua itu memang terserah kamu yang akan menjalani. Tentunya kamu bisa menilai Fanani itu bagaimana. Apakah dia bisa jadi Imam yang baik buat kamu atau tidak tentu kamu yang lebih tahu soal itu.” Kataku pada Khotimah.
“Ya itulah yang Khotimah bingung mas, Khotimah belum bisa menilai secara komplit. Apakah kegagalan rumah tangga mas Fanani dulu murni karena istrinya atau ada kesalahan mas Fanani yang ditutup tutupi. Kalo secara lahiriyahnya memang Khotimah sudah cocok. Tapai butuh pertimbangan lain yang Khotimah sendiri tidak bisa menimbangnya.” Jawab Khotimah.
Aku jadi berpikir keras juga, ada benarnya yang disampaikan Khotimah ini. Jangan jangan rumah tangganya dulu bubar karena kesalahan yang dilakukan Fanani sendiri.
Jika itu yang terjadi maka harus berpikir dua kali untuk menikahkan Khotimah dengan Fanani.
“Terus bagaimana mas baiknya ?” Tanya Fatimah kepadaku.
“Ya kalo seperti itu, biar Khotimah berpikir dulu. Namun sebelum ada kepastian jangan terlalu deket dulu dengan Fanani. Ya menjaga semuanya lah, karena bagaimanapun kalian kan sudah sama sama dewasa dan sudah memiliki ketertarikan dengan lawan jenis. Pasti Khotimah tahu apa maksutku.” Kataku.
“Yaudah gitu saja Khot, kamu berpikir dan kamu pelajari dulu bagaimana Fanani tapi selama itu mbak gak mau lihat kamu terlalu deket dengan Fanani.” Kata Fatimah mengakhiri pembicaraan.
Khotimah segera masuk ke kamar untuk istirahat, begitu juga aku dan Fatimah segera masuk ke kamar. Namun sebelumnya aku lebih dulu melihat kondisi sekitar termasuk Fanani yang baru bertugas lagi setelah kemarin sempat menghilang. Setelah memastikan semua aman aku baru masuk ke kamar menyusul Fatimah.
Kulihat Fatimah juga belum berangkat tidur, Fatimah masih duduk di meja rias sambil menyisir rambut panjangnya.
“Belum ngantuk sayang ?” kataku berbisik sambil memgangi perut istriku yang semakin membesar.
“Belum mas, boleh nanya dan mas mau jawab dengan jujur gak ?” Tanya Fatimah.
“Tanya saja, memang aku sering jawab bohong ?” kataku.
“Gak gitu sih, hanya mastiin mas mau jawab jujur saja kali ini.” Kata Fatimah.
“Tanya apa sih, kayaknya rahasia betul ?” tanyaku.
“Gini mas, sekarang ini kan tubuhku jadi makin gembrot, berat badan naik perut juga makin besar. Apa itu mengganggu mas Yasin, sehingga akhir akhir ini jarang menyentuh Fatimah ?” Tanya Fatimah.
Aku justru tersenyum mendengar ucapan Fatimah seperti itu. Aku duduk disampingnya dan mencium lembut pipi istriku yang tanpa respon saat itu.
“Kamu itu bilang apa sih, perutmu gendut juga karena aku, dan memang itu tujuan orang berumah tangga. Demi meneruskan garis keturunan, tanpa perut kamu gendut mana mungkin nanti aka nada garis keturunan kita Fatimah.” Jawabku.
“Tapi membuat mas Yasin kehilangan gairah gak sama Fatimah ?” kata Fatimah.
“Sama sekali tidak, bahkan dengan kondisi kamu hamil seperti ini justru membuat aku makin gairah. Hanya saja kalo kemarin jarang menyentuhmua itu dikarenakan keadaan bukan karena perubahan tubuh kamu.” Jawabku.
Fatimah Nampak tersenyum dan berkata manja.
“Kalo mala mini gimana ma ?” Tanya Fatimah. Aku sudah tanggap dengan apa maksutnya.
“Iya mala mini udah agak tenang, mala mini waktuku untuk istriku tercinta pokoknya.” Jawabku.
“Tapi serius kan mas, gak risih dengan perubahan fisik Fatimah yang sekarang gembrot dan buncit begini. Udah gak menarik lagi kayaknya Fatimah sekarang dengan postur begini.” Kata Fatimah.
Aku tidak menjawab hanya mendaratkan ciuman lembu di bibirnya.
“Serius yam as, jujur kemarin Fatimah takut. Saat lihat Eis yang bodynya masih tetep seperti dulu. Sementara Fatimah jadi gembrot begini.” Kata Fatimah.
“Apaan sih banding bandingin gitu, kan justru yang terjadi Eis yang iri sama kamu kareana kamu sudah ahmil sementara dia belum.” Kataku.
“Iya sih, kan Fatiamah maksutnya saat ketemu awal kemarin mas.” Jawab Fatimah.
“Udah gak usah ngomongin Eis ataupun yang lain. Ngomongin kita aja. Besuk kalo anak lahir mo dikasih nam siapa ?” tanyaku pada Fatimah.
“Mas pingin anak cowok atau cewek ?” Tanya balik Fatimah.
“Kalo pinginya anak pertama kita cowok. Tapi mau cowok atau cewek yang penting semua selamat. Anaknya selamat ibunya juga selamat.” Kataku.
“Iya mas, kemarin saat control di rumah katanya HPL nya April mas, pas hari kartini. Apa anak kita akan lahir cewek ya ” Kata istriku.
“Gak sih kayaknya, jujur saat usia kandunganmu baru dua bulan kemarin aku sudah dapat Isyaroh, anak kita akan lahir cowok.” Kataku.
“Mas dapat Isyaroh ? bagaimana ceritanya ?” Tanya Istriku.
“Melalui mimpi, dalam mimpi aku dipanggil abah guru. Pertama aku dimarahi tapi kemudian aku diberi dua pilihan nama untuk anak kita. Dan dri dua nama itu semuanya nama anak laki laki. Jadi aku menyimpulkan anak kita akan lahir laki laki. Tapi itu semua hanya Isyaroh yang aku terima kebenaranya wallahu a’lam.” Kataku.
“masa sih mas, usia kehamilan dua bulan kan belum ada ruhnya, belum kelihatan jenis kelminya juga ?” Tanya Istriku.
“Mas bilang kan itu Isyaroh yng mas terima, bisa saja benar bisa juga salah karena mas yang salah mengartikan.” Kataku.
“iya sih mas, terus dua nama itu siapa saja ?” Tanya istriku kepo dengan nama pemberian Abah guru.
“Besuk aja kalo anak kita sudah lahir, dan beneran laki laki baru aku kasih tahu, jangan sekarang ya.” Jawabku.
“Ah mas bikin Fatimah makin penasaran saja nih ?” kata istriku Fatimah.
“Ngapain penasaran, kan memang belum waktunya member nama. Yang jelas mas gak bohong, anak kita insya Allah laki laki. Jika mas benaar dalam membaca isyaroh tersebut. Dan Insya Allah karena nama itu langsung diberikan oleh abah guru insya Allah anak kita akan jadi anak yang baik. sesuai dengan nama yag diberikan beliau.” Kataku.
Fatimah istriku justru semakin penasaran tapi sengaja tidak aku kasih tahu dua nama anak laki laki pemberian abah guru bahkan aku bilang.
“Jika anak kita besok cewek kamu yang berhak kasih nama, silahkan kamu siapkan nama untuk cewek yang kamu suka. Tapi jika anak kita cowok maka aku yang berhak kasih nama dengan nama pemberian abah guru kita.” Kataku biar Fatimah tidak mengejar siapa nama pemberian abah guruku tersebut. Karena memang akan aku jadikan kejutan buat Fatimah istriku.
‘Iya deh, beneran ya, kalo anak cewek mas Yasin gak boleh ikut campur dalam memeri nama !” kata Fatimah.
“Iya terserah mau kamu kasih nama siapa saja aku gak akan menolak, tapi sebaliknya kalo anak kita cowok maka aku yang berhak kasih nama, kamu harus nurut gak boleh protes. Karena itu nama dari abah guru kita.” Kataku.
“Iya mas, mana berani Fatimah membantah perintah Abah guru.” Jawab Fatimah.
Kemudian kami terdiam sejenak sampai Fatimah mengeluarkan pertanyaan.
“Tapi Fatimah heran deh, masak HPL nya pas tggl 21 April hari Kartini. Tapi anak kita cowok ? masa sih mas, Fatimah jadi agak ragu.” Kata Fatimah.
__ADS_1
“memang kalo lahir 21 April harus cewek ?” jawabku.
“Ya gak juga, tapi masalahnya Fatimah kan juga April, kalo anak kita juga April besuk miladnya bisa dibarengin dong ?” kata Fatimah yang justru ngomongin masalah milad.
“Ah kamu malah ngomngin milad anak juga belum jadi lahir kok. Satu lagi kelahiran itu maju mundur dari HPL itu biasa gak mesti sama persis. Bisa jadi juga besuk lahirnya sama dengan hari lahir kamu.” Kataku.
Fatimah semakin terheran dan sibuk dengan lamunanya sendiri.
“Udah ah, aku mau bobok aja, gak mau berdebat soal anak cowok atau cewek lagi.” Kataku.
“Diih mas Yasin gak asik lah,orang baru seru juga ngobrolnya.” Protes Fatimah istriku.”Males ah ngobrol mulu, katanya tadi kangen minta disentuh. Kalo Cuma ngobrol mah besuk juga bisa !” kataku menggoda.
Fatimah yang mmasih duduk didepan meja rias langsung bangkit menhampiri aku tidur.
Aah aku gak tega melihat dia kesusahan naik ranjang dengan perutnya yang sudah besar. Tampak susah sekali dia naik,akhirnya aku turun dan membantunya.
“Maaf ya, aku lupa kalo kamu perutnya sudah makin besar naik ranjang saja sudah susah.” Kataku.
“Iya mas nih, akhir akhir ni kurang perhatiin istri jadi samoai ggak tahu Fatimah naik turun ranjang saja kesusahan.” Protes Fatimah.
Jujur waktu itu aku bener bener merasa menyesali kurang perhatian dengan istriku.
Bahkan yang tadinya hasrat sudah muncul pun justru hilang karena iba dengan kondisi istriku yang berbaring saja sudah susah.
“Sayang, mas minta maaf sekali kemarin kurang perhatiin kamu. Sampai gak tahu kamu berbaring saja sudah susah begini, jujur mas jadi gak tega kalo harus minta jatah sama kamu saat ini.” Kataku tulus pada istriku.
Namun justru Fatimah hanya tersenyum manja .
“Ini juga ibadah seorang istri mas, lakukan saja yang mas mau lakukan.” Kata Fatimah sambil memelukku yang saat itu baru menurunkan tubuh Fatimah ke ranjang.
Dan entah siapa yang memulai bibir kami tahu tahu sudah bertemu dan melepaskan kerinduan dan hasrat kami. Meski kondisi dadaku masih terluka dan kondisi perut Fatimah yang membesar. Setidaknya cukuplah aku memberikn nafkah batin pada istriku yang belkangan ini kurang aku perhatikan. Yah sekedar melepaskan hasrat dan kewajiban sewajarnya saja, lantas kami tertidur.
...******...
Saat bangun kami berdua kaget karena ternyata sudah lewat subuh, segera aku masuk kamar mandi dan mandi besar sebelum melakukan solat subuh. Sementara Fatimah masih berdiam diri di kamar.
Akhirnya setelah kami melaksanakan solat subuh di kamar, kami segera keluar bergabung dengan yang lainya.
“Nyenyak banget tadi, Isti panggil panggil gak bangun. Yaudah kami solat subuh duluan.” Kata Isti.
“Iyaa maaf semalam ngobrolin nama buat anak kami besuk kalo lahir. Tak terasa samapai larut ” kataku berkilah.
“Memang perkiraan lahirnya kapan mas ?” Tanya Isti.
“Perkiraan sih tgl 21 April nanti Is ?” jawab Fatimah.
“wah bentar lagi dong, ini dah Desember masuk pertengahan bulan. Iya beneran April pas sama dengan bulan kelahiran kamu dong Fat.” Komentar Isti.
“Iya Is, bisa kebetulan begitu ya.” Jawab Fatimah.
“Gak papa lah, yang penting semua terjaga kesehatanya.” Jawab Isti.
Saat sedang mengobrol bareng tiba tiba pak yadi datang member kabar tentang penundaan jadwal siding samapai batas yang belum bisa di pastikan.
Semua jadi ikut sedih waktu itu, bayangan kami sebelum perayaan tahun baru sudah bisa selesai tiba tiba sekarang ditunda lagi entah sampai kapan.
Tapi sebenarnya yang menjadi beban pikiranku sendiri adalah, ini jangan jangan strategi lawan menunda persidangan untuk mengatur strategi baru.
Lalu akanmenggunakan cara apa lagi mereka ?
Apakah akan secara frontal membalas dendam pada kami atau akan menggunakan cara supra natural dengan cara yang lain lagi.
Aku jadi bingung sendiri menghadapi masalah ini. Sementara untuk hal yang begini aku gak mungkin melibatkan Samsudin dalam hal ini.
Kalo memimpin mujahadah dan lainya masih bisa. Tapi jika sudah harus yang berbau kontak fisik maupun batin/supranatural kayaknya aku gak enak minta bantuan Samsudin.
“Apa sebenarnya keinginan mereka dengan menunda persidangan seperti ini pak Yadi. Apakah sudah mencium adanya strategi baru yang akan mereka terapkan ?” tanyaku pada pak Yadi.
“Sejauh yang saya dengar dari informan kami, mereka akan menyatukan kekuatan untuk sebisa mungkin menculik Sidiq pak. Hanya itu satu satunya harapan mereka agar bisa memaksa bapak mengakui sebagi pelaku pembunuhan itu.” Kata pak Yadi.
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1