
🌷🌷🌷
Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
...........
Episode lalu
Kemudian Yuyut melepas binatang itu dan dimasukan kedalam toples serta dilarung dilaut.
“Balio neng asalmu, ojo ganggu gawe anak putuku.” ( Kembaalilah ke asalmu jangan mengganggu anak cucuku ) Ucap Yuyut sambil melemparkan toples berisi binatang tersebut ke tengah laut.
Kemudian kami kembali ketempat mas yasin, yang masih tertimbun passir pantai. Ternyata mas Yasin jatuh pingsan lagi.
“Yut suamiku pingsan lagi Yut…!” jeritku.
*****
Episode sekarang
“Iya gak papa, tidak akan terjadi apa apa dengan suamimu. Justru sekarang dia akan lebih baik. karena makhluk yang menggerogotinya sudah Yuyut arung ke laut.
“Maksut Yuyut ?” Tanya ibuku pada Yuyut.
“Kakeknya Jafar Sanjaya, tidak akan mati terbunuh jika makhluk tadi tidak menggerogoti terlebih dahulu selama berbulan bulan.” Jawab singkat Yuyut.
“Bukankah Yuyut bilang kakeknya meninggal dibunuh ?” tanyaibuku lagi.
“Secara lahiriyahnya memang begitu, tapi itu tak akan terjadi apa bila makhluk tadi tidak menggerogotinya. Karena makhluk tadi jika bersang ditubuh manusia akan menggerogoti dan menghisap semua kemampuan manusia yang di anugerahkan Allah, sedikit demi sedikit. Jafar Sanjaya digerogoti berbulan bulan tapi tidak menyadari. Sehingga sengkolo tadi ( makhluk berujud kelabang besar ) dengan leluasa menguras segala kemampuan dan kewaspadaan Jafar Sanjaya.” Terang Yuyut.
“Jadi seandainya makhluk itu tidak Yuyut keluarkan suami Fatimah juga akan mengalami hal yang sama, terkuras kemapuan dan energinya ? Misal itu terjadi, kira kira berapa bulan Mas Yasin bisa bertahan ?” tanyaku pada Yuyut.
“Kalo soal umur memang sudah di takdirkan, tapi yang jelas suamimu itu belum ada seperempat kemampuan kakeknya Jafar Sanjaya. Kalo kakeknya bisa bertahan berbulan bulan, maka suamimu paling hanya dalam hitungan minggu sudah akan jatuh lumpuh, tak mampu bergerak.” Jawab Yuyut.
Fatimah sampai merinding mendengar keterangan Yuyut. Fatimah menatap suami yang masih tergolek pingsan tak berdaya. Hingga air mata Fatimah tidak terasa menetes. Tidak terbayang jika suamiku yang begitu kucintai lumpuh dalam hitungan minggu.
Fatimah POV end
*****
Author POV
Flashback yang terjadi pada Yasin saat sengkolo itu diambil Yuyut
Â
Sambil melafadzkan Sayidul istighfar Yasin berusaha menahan rasa letih dan sakitnya dengan mengerahkan semua sisa sisa kemapuan yang dia miki.
Terasa panas seluruh tubuhnya dan semakin lama semakin panas, hingga terasa kepalanya sangat panas. Namun yasin tak mampu berbuat apapun. Hanya terus melafdzkan Sayidul istighfar tanpa henti.
Lama lama suara orang orang diselilingnya tak lagi dia dengar, sementara badanya seperti bergetar menahan rasa panas. Dari ujung kaki hingga ujung rambut kepalanya.
Yasin merasa seakan akan kepalanya seperti mendidih panas yang luar biasa dia rasakan puncaknya di ubun ubunya terasa seperti mengeluarkan bara panas dan tiba tiba ada yang menarik sesuat keluar dari ubun ubun kepalanya. Terasa sakitnya seperti kepalanya hendak ikut lepas dari lehernya. Karena tak kuat menahan hingga Yasin pingsan dibuatnya.
Hingga akhirnya ditangani kembali oleh yuyut, secara telaten dan sabar yuyut merawat Yasin dengan mengerahkan kemampuan yang di Anugerahkan Allah padanya.
“Kenapa dengan diriku Yut ?” Tanya Yasin yang mulai siuman.
“Bersukurlah, sengkolo yang ada padamu sudah bisa disingkirkan.” Ucap yuyut.
“Kok rasanya aku jadi lemah tidak bertenaga Yut ?” Tanya Yasin.
“Itu karena kamu kelelahan saja, karena begitu kamu masuk ke air laut tadi sengkolo itu sudah mulai bereaksi untuk melawanmu. Karena sengkolo itu takut dengan air laut, seperti di panggil panggil keluar tapi dia bertahan ditubuhmu.” Jelas Yuyut pada Yasin.
“Terus suamiku bisa pulih lagi gak Yut ?” tanya Fatimah.
Kemudian Yuyut memegang tangan Yasin serta memeriksa detak jantungnya di urat nadi tanganya.
__ADS_1
“Semua baik baik saja, sebentar lagi juga kamu akan pulih secara bertahab. Sekarang istirahatlah kamu. Biar Yuyut bantu pulihkan tenagamu.” Kata Yuyut.
Kemudian Yasin berbaring sementara Yuyut mengeluarkan sebuah kain putih yang sudah agak suram warnanya. Kain itu diusapkan ke wajah dan kedua tangan Yasin kemudian pada kedua kakinya Yasin.
Beberapa saat Yasin tertidur pulas, dan keringatnya begitu banyak keluar seakan baru saja melakukan pekerjaan berat.
*****
Yasin POV
Setelah aku diperiksa Yuyut kemudian ditidurkan, aku merasa diriku berada disebuah hutan dan berjalan sendirian dan tak tahu kemana arah tujuanku. Melewati jalan yang penuh semak lembab dan berbau anyir darah.
“Kenapa aku bisa berada disini ?” ucapku dalam hati.
Bau darah semakin lama semakin menyengat bahkan ditambah dengan aroma busuk bangkai yang membuat mual perutku. Dan tiba tiba muncul sesosok bayangan didepanku yang berdiri membelakangiku.
Aku menghentikan langkahku sejenak.
“Maaf ki, apakah ada perkampungan disekitar sini ?” tanyaku pada sosok itu yang usianya jauh lebih tua dariku. Namun memiliki postur tubuh yang tegap dan berpakaian ala pendekar zaman dahulu.
“Kamu mengecewakan aku.” Ucap sosok itu sambil membalikkan badanya.
“Maaf aki ini siapa dan kenapa mengatakan kalo saya mengecewakan Aki, apakah kita pernah bertemu sebelumnya ?” tanyaku.
“Kamu pandangilah wajahku apa kamu mengenali aku !” perintah orang itu.
Dibawah temaram sinar yang menembus dedaunan hutan yang lebat, sedikit kulihat wajah orang itu. rasanya aku belum pernah bertemu denganya, namun anehnya aku seperti tidak asing dengan wajah itu.
“Maaf ki, aku sungguh belum pernah bertemu dengan aki. Jadi belum mengenal aki.” Jawabku jujur.
“Baiklah jika kamu tidak mengenalku, maka aku akan memperkenalkan dir kepadamu.” Kata aki aki itu.
Tanpa kuduga aki itu justru menterangku dengan sebilah golok hingga aku terkejut dan reflek melompat mundur menghindari seranganya
Serangan pertama dapat aku hindari dengan selamat, namun datang lagi serangan kedua saat posisiku belum sempurna berdiri. Serangan yang begitu cepat dan tiba tiba itu memaksaku harus menjatuhkan diri kesamping mengindari kibasan golok aki aki tersebut.
Dan selanjutnya terjadi lagi hal yang sama, aku baru mau bangkit sudah dihadiahi sebuah tendangan keras kearah perutku. Hingga aku tak sempat menghindar ataupun menangkis serangan tersebut.
Buuuk…
aku sampai terjungkal kebelakang, tanganku menahan perutku yang kesakitan. Rasanya mau keluar semua isi perut bahkan seluruh organ dalamku seperti diaduk aduk.
“Tunggu ki, apa salah saya, kenapa aki menghajar saya seperti ini ?” tanyaku.
“Berdirilah, lawan dulu aku jangan sampai kamu menyesali kalo tidak memberikan perlawanan padaku.” Kata orang itu.
“Aku gak mau bertarung dengan aki, aku menghormati Aki sebagai sesepuh yang lebih tua usianya dariku.” Jawabku.
“Dasar kamu cucu Sidiq Ali yang pengecut, tidak berani melawan orang yang sudah jelas jelas menyerangmu.” Kata orang itu. mendengar dia menghina kakek dari ayahku Sidiq Ali aku jadi marah dan berdiri sambil menahan sakit yang ada.
“Tunggu ki, aki boleh menghajar saya tapi aku gak terima aki menghina leluhur saya. Kakekku bukan pengecut. Mohon aki cabut ucapan aki.” Bentakku.
“Memang kenyataanya Sidiq Ali pengecut, kamu mau apa sekarang ?” kata orang itu membuat emosiku memuncak.
“Maaf aki, jika saya kurang ajar terpaksa saya harus melawan aki karena aki sudah menghina kakek saya.” Ucapku pada orang itu.
“Majulah…!” kata orang itu entah siapa dia yang jelas sudah menghina leluhurku maka harus aku lawan.
Aku melompat dengan sekuat tenagaku menyerang orang itu, sungguh diluar dugaanku orang itu dengan mudah menghindar seranganku sehingga seranganku hanya mengenai angin. Kemudian aku segera memutar tubuhku dan kembali menyerang orang itu dengan kecepatan dan tenaga penuh. Aku tak sungkan lagi karena orang itu mempunyai skill beladiri yang sangat baik. sehingga aku ingin segera mengakhiri dengan melumpuhkan dia.
Namun lagi lagi aku salah duga, seranganku dengan kecepatan dan tenaga penuh itu sama sekali tidak berpengaruh apapun. Dengan sedikit bergeser saja dia sudah mampu menghindar dari seranganku tanpa tersentuh sedikitpun. Bahkan aku jadi terhuyung kehilangan keseimbangan, dan dalam kondisi tersebut. Tiba tiba saja dia memegang tanganku dan memutar tubuhku kemudian melumpuhkan aku dengan sekali pukul di bagian bawah punggungku. Sehingga sesak nafasku hampir tak bisa bernafas, dan aku jatuh tersungkur di tanah tak mampu bergerak.
“Dasar cucu Sidiq Ali yang lemah, baru segitu saja sudah kalah.” Ucap orang itu.
Aku yang sebenarnya marah namun tak mampu melawan bahkan bergerak saja sangat sulit, karena harus mengatur pernafasanku yang sesak. Seakan setiap tarikan nafas dada dan ulu hatiku terasa seperti ditusuk jarum.
Pelan pelan aku bisa bergerak dan duduk bersila mengatur jalan darah dan nafasku.
kenapa orang itu membiarkan aku, tidak melanjutkan untuk menyerangku atau sekalian membunuhku, batinku.
Kulihat dia menghampiriku, aku sudah pasrah jika dia mau membunuhku sekalipun.
Tapi ternyata dia tidak melakukan apapun bahkan duduk disampingku seakan orang yang mau mengajak ngobrol.
__ADS_1
“Uhhuk uhuuk….!” Aku terbatuk dan mengeluarkan darah kental dari mulutku. Sementara orang itu hanya diam saja.
“Kenapa Aki tidak melanjutkan serangan aki atau sekalian membunuhku saja, saat ini aku sudah tidak mampu melawan aki. Aku sudah mengaku kalah dengan Aki. Aki ini siapa sebenarnya, kenapa aki kuat sekali.” Tanyaku pada orang itu.
Plaaak…
bukan jawaban malah tamparan yang aku dapatkan. Namun aku hanya diam, membalaspun percuma aku tak akan mampu melawan dia, pikirku.
“Lanjutin ki, jangan hanya menampar aku sudah kalah sudah tak mampu melawan bahkan berdiripun mungkin aku sudah tidak bisa tegak lagi, uhhukk…!” kataku sambil terbatuk lagi dan kali ini keluar darah lagi tapi lebih cair dan menyembur saat aku batuk.
Aah aku terluka dalam parah akibat dua kali pukulan, satu tendangan diperut tadi dan yang terakhir pukulan di punggung bawah tubuhku. Aku hanya pasrah menanti apa yang akan dilakukan orang itu.
“Kamu terlalu lemah, sungguh sangat memalukan, bahkan Siti Aminah pun tak mampu membuatmu menjadi lebih kuat. Dasar kamu cucunya Sidiq Ali yang dari dulu hanya bisa ngomong doing tapi penakut tidak berani menghadapi kerasnya kehidupan.” Ucap orang itu.
Aku kaget ternyata orang ini mengenal nama Yuyut Fatimah yang bernama Siti Aminah.Aku makin penasaran sekaligus marah karena dia selalu menjelekan kakekku SIdiq Ali.
“Cukup ki, aki boleh membunuh aku tapi jangan hina kakekku atau Yuyut dari istriku. Jika masih begitu aku akan tetap melawan aki meski aku harus mati ditangan aki.” Tantangku pada orang itu.
Plaaak kembali tamparan keras yang kuterima, namun aku membiarkan saja asal tidak menyebut kakekku Sidiq Ali sebagai pengecut.
“Kamu pikir aku siapa, berani beraninya mengatur aku. Aku mau hina SIdiq Ali atau bahkan jika dia disini pun aku juga tidak takut. Bahkan Sidiq Ali pun mungkin juga malu punya cucu seperti kamu.” Jawab kakek itu.
Aku yang dibully habis oleh orang itu semakin marah dan bertekat melawannya sampai tetes darah penghabisanku, dari pada mati dalam hinaan lebih baik mati dalam pertarungan pikirku. Dengan mengumpulkan sisa sisa kekuatanku aku coba untuk berdiri.
Dengan sedikit terhuyung akhirnya kau mampu berdiri.
“Mau apa kamu berdiri, mau melawan aku ?” tanyaku.
“Meski aku tahu gak akan menang dari aki tapi aku harus melawan aki arena aki sudah keterlaluan menghina almarhum kakek ku. Siapa aki sebenarnya, mungkin jika kakekku masih hidup aki gak akan bicara sembarangan.” Bentakku.
“Dasar bocah kurang ajar, kamu gak pernah dididik sopan santunkah berani bicara begitu padaku ?” Tanya orang itu.
“Maaf ki, aki yang memaksa saya kurang ajar karena aki sudah menghina kakekku Sidiq Ali. Sekarang aku gak perlu berbasa basi lagi dengan aki.” Ucapku.
Kalo itu mau kamu baiklah, apa yang akan kamu lakukan sekarang lakukanlah. Nih aku kasih kamu senjata sekarang.” Ucapnya sambil melempar goloknya.
Aku berusaha menangkapnya dan segera menghunus golok itu dari sarungnya.
“Maafkan saya ki, ini memang gak adil aku bersenjata sedangkan aki tidak. Tapi karena aki sudah melukai aku saat aku lengah jadi ini harus aku lakukan.” Kataku.
“Gak usah banyak bicara cucu Sidiq Ali, kalo kamu masih memiliki kemampuan kerahkan semua kemampuanmu. Jafar Sanjaya tidak akan mundur sesentipun untuk menghindari seranganmu.” Ucap orang itu.
Mendengar dia menyebut namanya, aku jadi gemetar seakan mendegar suara ratusan halilintar yang bersamaan
Â
Visualisasi Yuyut ( Siti Aminah )
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1