Isyaroh

Isyaroh
Fatimah mau melahirkan


__ADS_3

🌷🌷🌷


Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.


Semoga tetap bisa menghibur.


🌷🌷🌷


Selamat membaca


...........


Aku berpikir sejenak,


LUDIRO \= Darah


SARESMI \= Hubungan suami Istri.


KEKANCINGAN \= Perjanjian / Surat Perjanjian


PANJONGKO \= Hajat/ Keinginan / cita cita


Apa makna ucapan tersebut ? tanpa tahu detail kalimatnya aku juga sulit untuk bisa memaknai dan merangkai menjadi sebuah kalimat bermakna, batinku.


“Yaudah kalo Laras sudah ingat saja nanti kasih tahu bapak ya, soalnya itu penting bagi bapak agar bisa mencari penawar dari itu. karena itu seperti sebuah Mantera para pemuja Jin yang dipakai buat ritual mereka Laras.” Kataku pada Laras.


Kemudian aku dan Sena pun segera pamit pulang, aku sendiri segera ingin mengajak Fatimah jalan jalan biar meras terhibur keinginan jalan jalan dipantai bisa aku penuhi, pikirku


...*****...


Episode ini


Sesampai dirumah ternyata Fatimah dan Nurul sudah bersiap untuk berangkat ke pantai. Dan aku heran melihat Fatimah yang tampak sangat ceria saat itu. Aah ternyata menyenangkan hati istri itu gak harus mahal, dengan hal sederhana begini saja sudah membuatnya jadi tampak ceria.


“Kok mas senyum senyum gitu, apa ada yang aneh pada Fatimah ?” Tanya istriku.


“Gak kok, aku hanya senang melihatmu ceria banget hari ini.” jawabku pada Fatimah.


“Iya dong mas, kan baru kali ini juga selama Fatimah jadi istri mas diajak jalan jalan begini.” Sindir Fatimah.


“Iya deh aku ngaku salah, tapi berangkatnya nunggu sholat dhuhur dulu. Nanti biar semaan Al-Quranya dipimpin Isti dulu aja. Mungkin kita agak sore sampai rumah biar kamu puas main di pantai.” Kataku pada Fatimah.


Dan setelah sholat dhuhur pun kami berangkat berempat,, eh berlima sama anaknya Sena yag masih bayi. Aku benar benar merasa haru melihat keceriaan Fatimah istriku saat itu. bahkan menyalahkan diriku sendiri yang selama ini gak tahu kebutuhan psikologis istriku sendiri. Bahwa dia butuh refresh dari kejenuhan aktifitas sehari hari butuh perhatian kecil seperti ini, butuh pengorbanan waktu dari suami dan sebagainya.


Hari ini baru dia dapatkan sejak menikah denganku dan hampir melahirkan anak pertamanya. Dalam perjalanan tak hemti hentinya Fatimah ngobrol dengan Nurul istri Sena dengan disertai canda tawa mereka. Aku memilih diam menikmati kebahagiaan Fatimah istriku saat itu.


Biarlah aku juga butuh melepas kepenatan hidup dalam menghadapi masalah yang aku hadapi sekaligus bisa menyenangkan istri. Ibarat sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.


Sesampai di pantai Nurul lebih memilih mencari tempat yang teduh untuk duduk bersama suami sambil menggendong anaknya. Sementara Fatimah mengajakku berjalan menyusuri pantai, dan terkadang Fatimah juga bermain air laut sampai sebagian bajunya bagian bawah basah.


Siang itu aku member kebebasan pada  Fatimah bermain sepuasnya, kalo belum bosen sendiri gak akan ku ajak pulang, batinku. Hingga nyaris sampai sore Fatimah bermain main pasir dan air laut dengan ceria seperti anak kecil yang dapat mainan baru saja.


Sampai kemudian Nurul dan Sena menghampiri.


“Udah cukup sore mbakyu, mampir rumahku yuk kita sholat asar disana saja.” Ajak Nurul pada Fatimah.


“Gimana mas ?” Tanya Fatimah padaku.


“Terserah Fatimah lah, hari ini kamu yang menentukan mau gimana.” Kataku pada Fatimah.


“Hmm yaudah kita mampir bentar ke rumah dik Sena dan dik Nurul.” Jawab Fatimah.


Kamipun segera berangkat ke rumah Sena, memenuhi permintaan Nurul dan Sena.


Sesampai di rumah Sena Fatimah minta ijin ke kamar mandi untuk ganti mandi dang anti baju sebelum sholat asar. Dan saat Fatimah mandi aku ngobrol dengan Sena dan Nurul.


“Kok tiba tiba bisa dapat ide ngajak ke pantai mas ?” Tanya Nurul kepadaku.


“Iya kan tadi sekalian melarung botol yang berisi Khodam jin yang merasuki Laras tadi.” Jawabku.


“Owh jadi gak murni ngajak jalan jalan istri nih ?” Tanya Nurul.


“Ya murni juga hanya sekalian kan, tapi jangan bilang Fatimah soal ini. biar dia bahagia dengan semua ini. tahu sendiri kan tadi sampai ngomong kalo selama jadi istriku baru kali ini kuajak jalan jalan.” Kataku.


“Iya mas, kebangetan juga sebenarnya sih.” goda Nurul.


“Udah jangan ledekin kasihan tadi aja sampai terharu lihat mbakyu Fatimah bahagia banget.” Sahut Sena.


“Udah istriku dah selesai mandi sholat dulu yuk !” ajakku ke Sena dan Nurul.  


Seusai sholat sesaat sebelum kami berangkat pulang tiba tiba Sena yang sudah siap berangkat turun lagi dari mobil.


“Sebentar ada yang kelupaan.” Kata Sena.


Kemudian masuk kembali ke rumahnya, mengambil sesuatu dan kemudian menyerahkan kotak kecil kepadaku.


“Ini dulu amanah dari bapak saya mas, jika suatau saat bertemu dengan keturunan eyang Sidiq Ali aku diminta menyerahkan ini. tapi jangan dibuka disini, nanti dirumah saja.” Kata Sena membuatku jadi penasaran.


Kemudian kami segera berangkat menuju kerumahku dan berharap agar sebelum maghrib sudah sampai ke rumah. Karena ada janjian dengan pak Yadi yang akan datang bersama Astuti, wanita yang dulu pura pura aku booking demi mendapat informasi tentang korban.


Sampai di rumah ternyata sudah masuk waktu maghrib, dan sudah pada siap melaksanakan sholat maghrib. Kemudian aku menaruh kotak yang dari Sena tadi dikamar dan langsung mengikuti Sholat maghrib berjamaah yang dipimpin bapak mertuaku.


Seusai sholat dan wirid aku keruang tamu menunggu pak Yadi dan Tuti, diikut oleh Fatimah.


“Kok buru buru mas, biasanya masih dilanjutkan berdoa sendiri ?” Tanya Fatimah.


“Iya soalnya ada janji sama pak Yadi, katanya mau kesini habis maghrib bersama orang yang bernama Tuti yang kusebut tadi.” Jawabku.


“Ada perlu apa, eeh si Tuti itu cantik gak mas ?” Tanya Fatimah menggodaku.

__ADS_1


“Namanya cewek ya cantik lah masak ganteng. Ini pak Yadi mau membahas soal gelang yang bisa jadi petunjuk siapa pelaku pembunuhan yang sebenarnya.” Jawabku asal aja.


“Owh sukurlah, berarti masalah ini bisa cepat selesai dong ?” kata Fatimah.


“Ya mudah mudahan saja, aku juga udah cape dengan kasus yang gak kelar kelar ini.” jawabku.


Baru sebentar ngobrol dengan Fatimah tiba tiba pak Yadi datang bersa dengan Tuti.


“Assalaamu ‘alaikum…!” sapa pak Yadi dan Tuti hampir barengan.


“Wa’alaikummussalaam pak Yadi, Astuti mari masuk. Perkenalkan ini istriku Fatimah.” Kataku pada Tuti.


“Owh iya bu, perkenalkan nama saya Astuti saya yang pernah diselamatkan suami ibuk.” Kata Astuti.


“Ya salam kenal juga Astuti, diselamatkan dari apa ?” Tanya Fatimah pada Astuti.


Aku jadi bingung takut Astuti cerita yang sesungguhnyadan Fatimah jadi salah Faham, baru saja dia bahagia masak harus ada rasa cemburu atau marah kepadaku kan gak lucu, pikirku.


“Bapak belum cerita ya bu, jika pernah selamatkan saya dari kejaran penjahat kemudian disuruh sembunyi dan dikawal oleh pak Yadi.” Jawab Astuti. Untunglahhanya itu yang diceritakan, batinku.


“Belum sih, tapi gak papa yang penting kamu akhirnya  selamat.” Kata Fatimah.


“Ini tamunya gak dibikinin minum Fat ?” tanyaku agar percakapan Fatimah dan Astuti tidak melebar lagi.


“eeh iya lupa, Fatimah  minta tolong Khotimah aja ya. Pak Yadi dan Astuti mau minum apa ?” Tanya Fatimah.


“Astuti apa aja deh bu.” Jawab Astuti.


“Kalo pak yadi kopi sedikit gula kalo aku biasanya aja Fat.” Aku yang menjawab kemudian.


“Iya, Astuti mau sekalian ngopi atau yang lain ?” Tanya ulang Fatimah.


“Sekalian kopi juga gak papa bu, Astuti juga suka ngopi kok.” Jawab Astuti.


Kemudian Fatimah kebelakang meminta Khotimah membuatkan minuman untuk tamu.


“Wah istri bapak cantik banget dan solihah ya paki.” Ucap Tuti.


“Alhamdulillah, yang jelas kami saling mencintai dan sebentar lagi dikaruniai anak sebagai pelengkap kebahagiaan orang berumah tangga.” Jawabku.


Kemudian pak Yadi mulai membuka pembicaraan seputar gelang yang bisa jai petunjuk.


“Begini pak, jadi soal foto yang memperlihatkan pelaku yang memakai gelang itu sudah kami dapatkan. Dan ternyata ini semakin memperkuat jika Pelakunya adalah dia. Karena dalam foto tersebut ada juga foto korban. Selain foto dia sendiri yang close up.” Kata pak Yadi.


“Jadi ada lebih dari satu foto pak ?” tanyaku.


“Iya pak bahkan banyak foto, karena memang antara pelaku dan Korban ini dulunya adalah sepasang kekasih atau gimana ya…..?” kata pak Yadi terhenti.


“Kekasih atau bagaimana pak ?” tanyaku.


“Jadi pelaku kan sudah beranak istri, nah korban juga tahu itu namun tetep melakukan hubungan kasih dengan pelaku pak. Jadi saya bingung menyebutnya sebagai apa.” Jawab pak Yadi.


Hal itu biasa pak, bagi beberapa orang sekedar jadi kekasih simpanan bahkan tanpa ikatan resmi, batinku.


“Ya begitulah pak kurang lebihnya, jadi dengan gelang dan foto itu, di tambah kesaksian pemilik losmen itu mungkin sudah cukup untuk menjerat pelaku sebenarnya pak.” Kata pak Yadi.


“Alhamdulillah artinya kasus atau persidangan ini akan lebih cepat selesai kan pak.” Jawabku.


“iya pak, dan dari hasil penemuan bukti bukti itu sidang beriktnya sudah bisa memanggil pelaku sebagai tersangka. Jadi sidang berikutnya insya Allah tidak terlalu melibatkan bapak dan Rofiq.” Ucap pak Yadi.


“Alhamdulillah jadi saya sudah bisa bernafas dengan agak lega sekarang pak, kebetulan saya bisa focus dalam mempersiapkan kelahiran anak saya nanti.” Kataku senang mendengar sidang akan segera berakhir, dengan tertuduh bar dan bukti serta Saksi yang meyakinkan.


Kemudia khotimah datang memberikan minuman untuk para tamu.


Setelah selesai berbincang dan minum kopi kemudian pak Yadi dan Tuti mohon pamit.


“Jadi Tuti nanti tinggal dirumah pak Yadi juga bersama Laras dan bapaknya ?”  tanyaku pada Pak Yadi.


“Iya pak dan besuk juga Saksi kunci yang kita sembunyikan selama ini juga akan kita panggil dan kita tempatkan di tempat yang kita jaga dengan ketat keamananya. Jadi sekarang penjagaan dirumah bapak sudah kita anggap selesai pak. Mohon maaf baru saya sampaikan sekarang.” Ucap pak Yadi.


“iya pak gak papa pak. Kita justru bersukur karena itu menandkan jika kami sekeluarga sudah tidak diancam orang orang itu lagi.” Jawabku pada pak Yadi.


Pak Yadi dan Astuti akhirnya kembali kerumah pak Yadi. Dan aku merasa bahagia akhirnya satu masalah sudah hampir tuntas. Namun ada sedikit kesedihan jika nanti Rofiq Isti dan lainya pada pulang aku dan Fatimah pasti akan merasa kesepian lagi.


Tapi gak papa lah toh jarak rumahku dengan Isti juga gak terlalu jauh, bisa ditempuh dalam hitungan menit saja. Kalo kangen biar aku dan Fatimah bisa berkunjung kesana, pikirku. Dan Artinya Arum dan Sidiq pun sudah tidak dalam bahaya lagi. Aku bisa mendidik Sidiq di rumah, aah jadi kangen dengan anakku itu, tak terasa mataku berkaca kaca hampir menetes, karena ingat Sidiq anakku.


Sidiq, semoga saat adikmu lahir kamu sudah bersama ayah lagi disini nanti nak, kataku dalam hati.


Ketika kumandang sholat Isya terdengar aku segera bersiap lagi untuk melakukan sholat isya dan dilanjutkan mujahadah.


*****


Persiapan Joyo Maruto balas dendam ke Yasin


Author POV


Ajar Panggiring Maheso Suro dan lainya saat ini sudah melepaskan kasus pembunuhan, dimana mereka dulu diminta untuk membantu menjebak Yasin agar dijadikan sebagai tersangka denga berbagi cara. Saat ini mereka lebih focus untuk membalas dendam kepada Yasin yang telah memporak porandakan padepokan Joyo Maruto, melukai Mento rogo, menghajar Ajar Panggiring serta mempermalukan Maheso Suro dan lainya dengan menangkapa Anggada murid Maheso Suro yang dulu sudah pernah dipatahkan tanganya oleh Yasin.


Setelah mereka berhasil memperbaiki Padepokan, hari berikutnya mereka mengadakan latihan kanuragak dengan memadukan bebrapa Aliran yang dipandu dan diarahkan oleh Joyo Maruto.


Sementara untuk Maheso Suro dan ki Soma diberikan juga ilmu yang dipunyai oleh Joyo Maruto dan dianggap sebagi murid oleh Joyo Maruto. Mereka terus mengadakan latihan kanuragan baik tempaan fisik maupun mental dan kebatinanya.


Mereka benar benar bersatu dengan satu tujuan yaitu menghancurkan atau membunh Yasin bagaimanapun caranya. Entah denga fisik maupun dengan santet atau supra natural lain. Yang penting dendam mereka dapat terbalaskan.


Saat mereka giat berlatih kanuragan, dan tidak lagi mengurusi kasus pembunuhan itu, ilmu kanuragan mereka mengalami peningkatan yang cukup pesat. Sedangkan Yasin yang meras kasus pembunuhan yang sempat menyeret dirinya kini semakin mendekati titik terang. Merasa kehidupanya sudah kembali aman, tidak menyadari bahwa saat ini ada kelompok orang yang kemarin memusuhi dan pernah bentrok denganya tengah memperdalam ilmu kanuragannya untuk membalas dendam kepada dirinya.


Ditambah lagi dengan tekat Joyo Maruto yang sudah berniat akan membunuh Yasin dengan tangan dia sendiri jika murid muridnya yang sekarang ini tak ada yang mampu mengalahkan Yasin baik sendiri ataupun dengan mengeroyok Yasin.


Begitulah gambaran dari kegiatan Joyo Maruto dan murid muridnya yang sudah bersiap menghadapi dan membinasakan Yasin, dan tidak diketahui oleh Yasin sendiri.

__ADS_1


*****


Flash back


Yasin POV


 


Setelah selesai mujahadah Yasin menceritakan perihal kedatangan pak Yadi barusan dan mengatakan bahwa kalo sidang sudah selesai nanti maka berarti kehidupan kita sudah bisa kembali normal seperti sebelum ada kasus ini. Dan bisa segera membicarakan masalah pernikahan Khotimah dengan Candra juga Rofiq dengan Arum.


Kemudian kedua orang tua Fatimah bersama Yuyut berpamitan kembali ke rumahnya. Sementara Khotimah masih ikut Yasin dan Fatimah. Rofiq Isti dan ibunya pun sudah kembali kerumahnya sendiri karena sudah aman. Maka tinggalah Yasin hanya dengan Fatimah dan Khotimah saja.


Dengan berjalanya waktu hari berganti minggu dan kemudian bulan, akhirnya proses persidangan pun selesai dan pelaku pembunuhan yang sebenarnya juga sudah mendapatkan hukuman yang setimpal.


 Kemudian Yasin menelpon Samsudin menanyakan kabarnya, dan Yasin mendapatkan kabr jika Eis saat ini juga sudah mulai hamil. Maka lengkap sudah kebahagiaan Yasin dan Fatimah. Kemudian Yasin meminta agar Arum dan Sidiq terutama dibawa lagi ke rumahnya. Denagn alasan Fatimah akan segera melahirkan. Dan Yasin juga Fatimah ingin saat Fatimah melahirkan Sidiq bisa ikut jagain adiknya, agar ketika nanti sudah sama sama besar mereka dapat hidup rukun meskipun berbeda ibu.


Samsudin dan Eispun tidak keberatan dan meminta ijin kepada kang Salim untuk mengantar Arum dan Sidiq pulang. Biar Sidiq bersama Yasin dan Fatimah, sementara Arum kembali bersatu dengan bapak dan kakaknya Candra. Karena memang sudah terpisah dan tidak berkomunikasi lama. Biarlah Arum berbahagia kembali diterima oleh keluarganya.


“Mas kapan Eis dan mas Samsudin akan mengantarkan Sidiq, Fatimah udah mulai mules terus nih. Sukur nanti Eispun bisa nemenin Fatimah saat lahiran mas.” Ucap Fatimah.


“Katanya sih hari ini mau berangkat, mudah mudahan saja masih keburu Fat.” Jawabku.


“Masalahnya ini sudah tiga hari lewat dari HPL mas, takutnya nanti tahu tahu anak ini Lahir sebelum Sidiq datang.” Kata Fatimah.


“Terus bagaimana, apa perlu aku minta bapak ibi kesini lagi ?” tanyaku.


“Iya mas, biar khotimah aja yang nelpon mas disini saja.” Ucap Fatimah yang gak mau aku tinggalkan meski hanya sebentar.


Sudah tiga hari lewat dari Hari Perkiraan Lahir namun anakku belum juga keluar, aku jadi agak gelisah. Tiap kali diperiksa bidan katanya belum saatnya. Belum ada pembukaan kalo sudah pembukaan 4 saja nanti siap siap menginap untuk persalinan, katanya.


Aku sudah kasihan melihat Fatimah beberapa kali merasakan  mules rasanya kejang dan sebagainya. Tapi tiap kali diperiksakan selalu saja bidannya bilang begitu, ini ada pikirku.


Samapi semalam suntuk aku menemani Fatimah dengan tidur tidur Ayam, hanya duduk dikursi disaamping Fatimah biar mudah abngun jika Fatimah memanggil.


“Mas udah Hampir subuh.” Ucap Khotimah memanggilku dari luar kamar.


“Iy Khot, tolong kamu temenin kakak kamu dulu aku siap siap subuh. Biar Fatimah tayamum saja subuhnya. Kasihan jalanya sudah sangat susah.” Jawabku.


“Gak Mas, aku ikut wudhu saja, bidan bilang malah disuruh banyak jalan kok.” Ucap Fatimah.


“Yakin Bisa ? Yaudah biar aku bantuin yuk, nanti kalo udh wudhu biar Khotimah yang gentian memapah kamu.” Jawabku pada Fatimah.


Dengan susah payah Fatimah pun ikut berjamaa subuh.


Dan ketika baru selesai wirid tiba tiba dikejutkan dengan kedatangan Eis, Samsudin, Arum juga Sidiq.


“Assalaamu ‘alaikum…” sapa Samsudin yang saangat ku kenal suaranya.


“Wa’alaikummussalam…. Nah itu yang ditunggu tunggu sudah sampai.” Kataku pada Fatimah.


Lantas aku segera membukakan pintu kepada mereka.


Langsung saja Sidiq berlari menghampiriku dan minta gendong denganku.


Yang aku heran dengan penampilan Arum yang sekarang berjilbab menjadi tampak semakin manis saja, pikirku. Kemudian mereka aku ajak mememui Fatimah yang masih diruang mujahadah.


Eis langsung merangkul Fatimah dan mengatakan kalo Eis juga sudah hamil sekarang. Hingga keduanya saling menangis haru. Aku juga mengucapkan selamat kepada Samsudin.


“Selamat Bother akhirnya kita sama sama akan menjadi bapak sekarang.” Ucapku.


“Lah bukanya kamu memang udah jadi bapak ?” gurau Samsudin.


“Kampret lo din” kataku dalam hati.


Belum sempat menjawab tiba tiba Fatimah menjerit kesakitan.


“Maasss Fatimah udah gak tahan.” Jerit Fatimah.


Kemudian aku papah maksutnya mau aku ajak ke kamar. Tiba tiba rum berteriak keras.


“Mass… itu air ketuban istrimu sudah pecah, cepat bawa kerumah sakit sekarang juga jangan sampai kekeringan nanti…..!!!” teriak Arum.




Refresh visualisasi Zain /Yasin Dane Fatimah 🙏🙏🙏


...bersambung...


Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.


Komentar readers semangat Author


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...

__ADS_1


...🙏🙏🙏...


 


__ADS_2