Isyaroh

Isyaroh
Yasin kembali ke Daratan


__ADS_3

🌷🌷🌷


Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.


Semoga tetap bisa menghibur.


🌷🌷🌷


Selamat membaca


...........


Episode lalu


Sampai menjelang subuh aku baru tersadar karena wajahku seperti diterpa ombak yang cukup besar. Nyaris mmbuatku jatuh kelaut lagi. Aku berusaha bangkit duduk, agar tidak jatuh ke dalam laut lagi.


Namun aku harus sampai ke pantai saat subuh, tapi gmana caranya berenag aja gak bisa ditambah ombak yang cukup besar. Dalam lamunanku aku dikejutkan datangnya ombak yang sangat besar hingga menerpaku dan jatur kedalam air laut disapu ombak. Aku tak mampu melawan derasnya ombak laut selatan. Disamping ombaknya besar aku memang tidak bisa berenang. Sehingga aku hanya terapung apung dibawa ombak kemanapun dia bergerak dan aku harus kembali menenggak air asin laut tersebut. Udahlah, aku pasrah saja sudah gak ada kekuatan lagi untuk melawan ganasnya ombak. Aku sudah pasrah jika memang harus tergulung ombak kemanapun….!!!


*****


Episode ini


Aku berusaha agar wajahku terutama hidung dan mulutku tidak tenggelam di air, agar tetap bisa bernafas dan tidak terlalu banyak menenggak air laut. Sebisa mungkin aku berusaha bertahan agar tetap hidup. Aku tidak mau menyerah begitu saja, iya aku harus berjuang untuk hidup. Pasrah bukan berarti menyerah, batinku.


Sekuat tenaga dan berbagai cara aku coba berenang semampuku, meski rasa lelah dan perih luka tergores batu karang yang hampir merata ditubuhku. Entah renang gaya apa aku gak tahu yang jelas aku berusaha menepi dengan berenang menuju arah lampu rumah penduduk meski hanya samar terlihat. Karena rumah penduduk cukup jauh dari bibir pantai apalagi aku masih berada di laut yang cukup jauh dari pantai.


Tanganku sudah melemah ayunan tangan dab kaki juga sudah semakin menurun namun lampu rumah penduduk juga masih sangat jauh. Hampir saja aku merasa putus asaj dan beberapa kali terseret ombak. Dan pada puncak kelelahanku ada ombak yang besar yang menghempaskan aku, yang sedikitpun tak mampu akau menahan apa lagi menerjang ombak itu.


Namun rupanya Allah memang belum mentakdirkan aku untuk meninggal dilaut. Hempasan ombak besar itu justru melemparkan dan membawa aku di bibir pantai. Kini aku sudah berada dekat daratan, dengan segenap sisa tenaga yang ada aku mencoba berdiri ditengah deburan ombak yang sudah di dekat pantai.


Air laut sudah tidak menenggelamkan aku, karena hanya sedikit diatas lututku. Semangat untuk berjuang kembali berkobar, teringat istriku yang tengah hamil pastilah cemas menunggu aku, pikirku.


Aku berusaha lari menepi terlebih dahulu, yang penting sudah tidak berada ditengah laut. Masalah mencari lokasi dimana Yuyut dan rombongan dimana itu soal nanti, pikirku.


Susah payah aku mencapai daratan, dengan nafas yang terengah engah dan seluruh tubuh terasa lengket karena air laut bahkan ludahku masih terasa asin karena beberapa kali menelan paksa air laut. Dan tenggorkan terasa menjadi sangat haus karenanya.


Aku bersandar dulu dibawah sebuah pohon besar entah pohon apa namanya, aku melepaskan lelah sejenak. Namun rasa hausku sudah tak dapat kutahan, aku harus segera menemukan Yuyut dan rombongan. Ingin segera menenggak air tawar pelepas dahagaku yang sudah tak tertahankan. Bahkan untuk menutup mulutpun sudah susah, disamping terasa sangat asin juga karena nafasku sudah harus dibantu keluar dari mulut. Aah seperti apa kondisiku saat itu pasti dekil, rambut lepek udah gitu mulut menganga terus membantu pernafasan.


Masih untung aku gak pingsan saat itu, dengan langkah gontai aku mencoba berjalan mencari tempat Rombongan Yuyut, Fatimah dan bapak ibu mertuaku. Kemudian kulihat dari jarak yang cukup jauh ada perapian kecil, ah mungkin itu tempatnya, batinku.


Langkah kaki yang sudah semakin berat, seakan kakiku terbebani beban puluhan kilo gram jika kuangakat untuk melangkah. Namun demi mencapai tempat itu aku paksakan juga melangkah meski harus berhenti tiap beberapa meter.


Rasa perih, pegal bahkan kebas juga haus dan mual menjadi satu. Setiap hembusan nafaskupun sudah diikuti suara dari mulut. Hoossh hooossh…


Karena saking lelah dan dahaga yang amat sangat, saat tinggal beberapa meter tempat yang kutuju aku jatuh tak sadarkan diri.


*****


Fatimah POV


“Yut, kok mas Yasin belum sampai juga ini dah hampir subuh ?” tanyaku pada Yuyut.

__ADS_1


“Kamu bersabarlah, Suamimu memang sedang berjuang keras. Dari pada kamu hanya mengikuti rasa was was mu bantulah dia dengan doa.” Jawab Yuyut. Sementara bapak dan ibuku masih terlihat diam sambil memutar Tasbih berdzikir.


Fatimah Justru tidak bisa konsentrasi berdzkir, bahkan bayi yang ada dalam perutku juga seringkali menedang atau menyikut perutku hingga sangat terasa. Seakan ikut mengkhawatirkan ayahnya dari semalam. Aah tapi mungkin itu hanya perasaan Fatimah saja. Semoga mas Yasin baik baik saja, sudah banyak cobaan berat yang harus dia hadapi dan semoga kali inipun dia berhasil.


Saat aku sedang merenung tiba tiba terdengar seperti benda jatuh dari jarak sekitar 10 meter dari tempatku.


Brruuk…


Suara benda jatuh lalu aku hampiri bersama Yuyut, ternyata mas Yasin yang jatuh pingsan.


Fatimah menjerit histeris dan meanggil bapak dan ibuk.


“Pak, Buk mas Yasin…!” teriakku.


Kemudin bapak dan ibuk mengahmpiri dan memapah mas Yasin. Oleh Yuyut mas yasin dibaringkan di bangku yang dipasang tinggi sebelah. Dan kepala mas Yasin ditaruh di posisi yang rendah, kemudian Yuyut dibantu bapak ibu membantu menekan perut mas Yasin.


Sesaat kemudian mas Yasin Sadar dan langsung memuntahkan isi perutnya yang berisi air laut.


“Huueeek…!”


Aku yang lihat penampilan mas yasin saat itu sungguh merasa sangat iba padanya. Aku jadi menyesal jika sering marah jika dia suka iseng bercanda selama ini. karena dibalik sifat iseng dan suka jahilnya ternyata dia sangat peduli dengan Fatimah. Sehingga perjuangan berat begini saja dia masih ingin menuruti keinginanku yang aku sampaikan sebelumnya. Untuk pergi kepantai dan berjalan jalan setelah ini. Melihat keadaanya yang seperti itu, aku jadi tak nafsu lagi berjalan jalan dipantai.


Fatimah hanya ingin mas yasin cepat pulih dan segera bisa pulang kerumah, biarlah keinginanku untuk bisa bermanja dengan suami didepan orang banyak aku batalkan saja.


Kemudian yuyut segera member mas Yasin minum air kelapa muda hijau yang sudah disipkan.


Setelah meminum air kelapa muda Hijau itu mas Yasin agak mendingan. Sambil duduk bersandar mas Yasin bertanya pada Yuyut.


“Ini sudah subuh belum Yut ?” Tanya mas Yasin.


“Boleh Fatimah bantuin Yut ?” Tanya Fatimah.


“Boleh, kamu papah saja suamimu dan kamu bersihkan tubuhnya dari pasir dan lap dengan air biar gak lengket.” Kata Yuyut.


Dengan hati hati aku memapah mas Yasin dibantu bapak, dengan handuk kecil dan air mineral aku membantu membersihkan badan mas Yasin bagian wajah dan dadanya serta kepalanya dari pasir dan air laut.   


Sambil menunggu kumandang adzan subuh yang tinggal beberapa menit lagi, aku memijit kaki dan tangan mas Yasin yang tampak sangat kelelahan.


Mas Yasin hanya diam saja, mungkin kecapaian dan Fatimah pun tak berani menyapa atau bertanya dulu. Biarlah menunggu suamiku dulu yang bicara takut dia masih merasa kecapaian.


Aku menemukan beberapa luka goresan ditubuh suamiku.


“Yaa Allah mas kenapa kamu selalu menghadapi bahaya terus sih. hati Fatimah ikut merasakan pedih tiap kali kamu menempuh dan baru saja lepas dari bahaya seperti sekarang ini.” kata hati Fatimah.


“Fat…?” tiba tiba suamiku menyebut namaku dengan panggilan sehari hari.


“Iya mas, ada apa ?” Tanya Fatimah pelan.


“Tadi aku pingsan ya ?” Tanya balik suamiku.


“Iya mas, mas kecapaian ya, Fatimah pijin dulu ya.” Kata Fatimah.

__ADS_1


“Iya Fat, capai berenang ternyata seluruh badan terasa pegal.” Kata mas Yasin.


“Yaudah Fatimah pijitin dulu sebelum sholat subuh, nanti sholatnya agak mundur dikit gak papa.” Kata Fatimah pada mas Yasin.


“Gak usah, bentar lagi lagi juga mungkin sudah mendingan bisa langsung sholat subuh. Kan nanti masih harus berndam pasir lagi.” Jawab Suamiku.


Fatimah baru ingat jika masih ada satu tahapan yang harus dilakukan suamiku. Artinya pekerjaan suamiku belum selesai. Fatimah makin teriris sedih banget dan haru melihat perjuangan suami Fatimah yang begitu berat.


Apakah seberat ini juga saat dengan kang Salim atau bahakn lebih berat dari ini, pikirku. Namun tak berani bertanya.


Setelah terdengar adzan subuh, mas yasin mencoba menggerak gerakan kaki dan tanganya.


“Sudah cukup Fat, aku sudah cukup kuat untuk ikut jamaah subuh.” Kata mas yasin.


Dengan air tawar yang sudah disiapkan untuk wudhu kami semua ambil wudhu dan sholat subuh berjamaah di pimpin bapakku. Stelah selesai langsung mas Yasin disuruh masuk ke lubang buatan yang sduah disiapkan. Dengan duduk menjulurkan kaki mas Yasin aku timbun dengan pasir dibantu semua yang ada disitu hingga hanya kepala mas Yasin yang Tampak.


Kemudian kepala mas Yasin ditutupi daun pisang raja yang sudah dibentuk separti topi oleh Yuyut.


Mas Yasin disuruh Yuyut membaca Sayidul istighfar, kemudian yuyut membacakan doa tulak balak dan doa doa lainnya. Dan setelah beberapa saat muncul seperti asap yang mengepul dari ujung topi daun pisan yang dipakai menutupi kepala mas Yasin.


Yuyut langsung menyahut  topi daun pisang tersebut, kemudian diremas remasnya daun pisang tersebut. Keanehan terjadi, daun pisang yang masih hijau tersebut seperti menjadi kering dan layu bahkan hampir mengering.


 Setelah daun itu dibuka, keluarlah binatang melata yang mirip kelabang tapi besarnya sangat tidak wajar. Hampir sebesar lengan bayi, danmatanya merah menyala seakan mau menunjukkan kemarahanya.


Kemudian Yuyut melepas binatang itu dan dimasukan kedalam toples serta dilarung dilaut.


“Balio neng asalmu, ojo ganggu gawe anak putuku.” ( Kembaalilah ke asalmu jangan mengganggu anak cucuku )  Ucap Yuyut sambil melemparkan toples berisi binatang tersebut ke tengah laut.


Kemudian kami kembali ketempat mas yasin, yang masih tertimbun passir pantai. Ternyata mas Yasin jatuh pingsan lagi.


“Yut suamiku pingsan lagi Yut…!” jeritku.


...bersambung...


Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.


Komentar readers semangat Author


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...

__ADS_1


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


__ADS_2