Isyaroh

Isyaroh
Pembongkaran kuburan korban tumbal 2


__ADS_3

🌷🌷🌷


Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.


Semoga tetap bisa menghibur.


🌷🌷🌷


Selamat membaca


...........


Episode lalu


“Baiknya ajak yang masih sadar pulang dulu pak yadi, yang sudah kerasukan kita sembuhkan dulu. Dan aktifitas kita lanjutkan besuk pagi dengan pengarahan dulu. Tampaknya tai banyak yang melanggar  arahan kita sehingga jadi seperti ini.” kataku pada pak Yadi.


Kemudian pak Yadi menyuruh seorang Anggota polisi  untuk memulangkan  personil tenaga bantuan yang masih sehat gak kerasukan. Soal kerangka yang belum terambil biarikan saja dulu, pikirku. Lebih baik menyelamatkan yang masih sehat dan menyembuhkan yang kerasukan lebih dahulu.


Karena yang kerasukan sikapnya sudah mengkhawatirkan bergeraknya sudah seperti Zombi yang berusaha mencekik siapa saja yang dihadapanya. Bahkan kepada sesama mereka yang kerasukan pun mereka saling serang dan saling cekik.


“Farhan kamu ajak Zulfan menepi  dan lantunkan doa doa dan bacakan surah Al Jin biar aku dan Sena yang mencoba menghadapi mereka.” Kataku pada Farhan.


“Iya mas…….!!!” Jawab Farhan.


*****


Episode ini


Farhan dan Zulfan kemudian mencari tempat untuk memanjatkan doa dari ayat ayat Al-Quran dari Albaqoroh 1 s’d 5 Al-Kahfi 1-7 dan lain sebagainya yang biasa dipergunakan untuk merukyah orang yang kerasukan jin.


Sementara aku dan Sena menggiring orang orang yang kerasukan itu ke tempat yang malamnya aku pergunakan untuk bertempur.


Cukup sulit membawa mereka ke tempat itu karena mereka saling serang, sehingga aku meminta bantuan pak Yadi dan beberapa personil yang ada. Kami harus memisahkan mereka menjadi dua kelompok. Satu kelompok adalah kelompok orang yang kerasukan khodam Joyo Maruto. Dan satunya kelompok orang yang kerasukan mengutuk Joyo Maruto, dengan kata kata yang kurang pantas didengar. Karena mereka mengungkapkan peristiwa saat tumbal gadis perawan yang di gagahi Joyo Maruto sebelum mereka dibinasakan dan dijadikan Tumbal.


Stelah beberapa saat Farhan dan Sena membacakan doa dengan suara lantang dan membuat orang orang kerasukan itu menjerit. Aku dan sena mengambil air sisa berwudhu dari sungai kecil disekitar situ. Kemudian kami percikan pada orang orang yang kerasukan itu. ada sekitar 9 orang yang kerasukan dari dua kelompok itu. dan harus satu persatu kami percikan dan usap wajahnya dengan air wudhu.


Satu persatu pun terkulai lemas setelah makhluk astral yang merasuki mereka keluar dari tubuh mereka sambil berteriak kepanasan. Namun ada satu orang yang tetap memberontak dan mengancam akan melakukan pembalasan kepada kami yang telah berani membongkar makam tersebut.


Bahkan saat dipegangi beberapa orang, mampu lepas dan orang yang memeganginya sampai terjatuh. Kemudian berteriak teriak mengancam dan menyebut namaku juga Sena.


Akhirnya aku, Sena, Farhan dan Zulfan lah yang harus memegangi orang tersebut dan Farhan yang aku minta mengeluarkan makhluk Astral tersebut. Dan beberapa saat kemudian Farhan seperti menotok telapak kaki orang tersebut hingga orang tersebut menjerit keras. Kemudian badanya mengejang cukup lama sampai badan bagian perutnya terangkat ke atas.


“Mas bantuin dorong dengan jurus suci agar makhluk itu cepat keluar. Kasihan Raga orang ini jika kelamaan.” Pinta Farhan padaku.


Kemudian aku dan Sena segera melakukan apa yang diminta Farhan, kemudian aku dan sena segera membantu Farhan dan juga Zulfan.


“Saudaraku sudah kamu larung ke laut sekarang ‘Pemujaku’ kau buat kabur. Aku akan laporkan ini pada junjungan kami agar pasukan 7 Naga dan & harimau menyerang kalian.” Berkata seperti itu kemudian berteriak kencang dan akhirnya makhluk itu pergi keluar dari badan orang tersebut.


“Aku sempat membuka lathoif Nafsiku dan melihat ujut wanita cantik namun memancarkan jiwa yang bengis makhluk yang merasuki orang tersebut. Dan wajahnya memang mirip dengan khodam yang dulu aku larung di laut itu.


Akhirnya orang itupun sadar, namun nafasnya terengah engah dan kelihatan sangat kelelahan karena banyak mengeluarkan energy saat kerasukan tadi.


“Alhamdulillah, akhirnya selesai juga.” Ucap Farhan yang juga kelelahan dan bercucuran keringat. Begitu juga dengan Zulfan.


“Maaf pak besuk sebelum kita melanjutkan pekerjaan lagi, sebaiknya kita kirim doa dulu kepada arwah orang orang yang menjadi korban itu. serta memohon perlindungan pada Allah agar usaha kita ini mendapat RIdho-Nya dan diberi kelancaran dan keselamatan.” Kataku pada Pak Yadi.


“Apakah perlu sarana untuk berdoa bersama itu pak ?” Tanya pak Yadi.


“Boleh pak, bikin tumpeng nasi kuning dan nasi golong tapi sebenarnya itu gak harus. Jangan dianggap wajib atau itu yang bisa menyelamatkan kita. Itu hanyalah doa simbolis kita selain doa lisan yang kita panjatkan.” Ucapku.


“Jujur aku juga gak paham dengan itu mas, kalo boleh tahu apa maksut dari tumpeng Nasi kuning itu sebenarnya ?” Tanya Faarhan.


“Jangan salah paham dulu, Tumpeng itu artinya Tumuju marang Pengeran ( menuju ke Allah ) ini adalah doa simbolis dari ayat Qul inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi robbil ‘alamin ( katakan sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku hanya untuk Allah robbal ‘Alamin.) biar mudah dipahami orang jawa disingkat Tumpeng itu. sedangkan nasi ‘Kuning’ itu kata ‘Kuning’ itu maksutnya ‘Qonaah’ ( menerima apapun pemberian Allah ) sedangkan golong ( Nasi yang dibuat bulat ) itu maksutnya ‘golong guyup’ ( menyatukan maksut dan tujuan) jadi kalo niat kita benar hal itu bukanlah Musrik, karena merupakan Symbol dari permohonan saja.” Ucapku pada Farhan.


“Wah Farhan baru denger ini mas, ternyata begitu maksutnya. Kalo dibawah tumpeng itu ada sayur sayuran dan juga ada lauk itu ada maksutnya atau hanya sekedar jadi pelengkap nasinya saja mas ?” Tanya Farhan Lanjut.


“Ada juga, itu kan ditaruh dibagian bawah tumpeng. Symbol harta dunia yang nantinya akan tinggalkan karena Tumpeng runcing ke atas, symbol kita akan menuju pada yang Maha Tinggi. Itulah Tumpeng tumuju marang pengeran.” Jelasku pada Farhan.


Setelah orang orang kerasukan dirasa cukup kuat untuk berjalan kahirnya kami segera meninggalkan tempat itu untuk segera pulang kerumah.


Aku berpisah dengan rombongan pak Yadi dan lainya, bersama Sena Zulfan dan Farhan kami berangkat duluan menuju kerumah. Dan sampai dirumah kami mencuci tangan dan kaki kami dulu sebelum masuk ke rumah. Karena dirumahku ada dua bayi yaitu Jafar Anakku dan satunya adalah anak Sena dan Nurul.


Bukan soal mitos ataupun mistis, namun ketika kita dari makam karena makam itu dimungkinkan membawa aura negative bisa mengganggu anak anak ( terutama bayi ) karena mereka masih peka dan rentan. Sehingga dengan mencuci kaki dan tangan dan menyebut Asma Allah insya Allah aura negative yang mungkin terbawa akan hilang.


Waktu menunjukkan pukul setengah lima sore, kami segera melakukan sholat Asar setelah mandi lebih dahulu, karena disana tadi tidak sempat melaksanakan sholat asar. Setelah itu kami menemui kang Tohari ngobrol sambil ngopi.


Namun aku minta ijin sebentar unyuk menengok Jafar anakku juga Sidiq yang selalu setia menunggui Jafar adiknya. Kalo saja gak dilihatin Fatimah dan ibu mertuaku aku hampir saja menangis melihat Sidiq yang begitu menyayangi Jafar Adiknya. Semoga saja sampai dewasa nanti kalian selalu rukun nak, meski kalian beda ibu, kataku dalam hati. Melihat Sidiq yang lagi mungutin pakaian  kotor Jafar dan dimasukan ke keranjang pakaian kotor.


“Wah Sidiq pinter bisa bantuin dede Jafar ya ?” kataku pada Sidiq.


“Iya yah, kasihan Bunda sama nenek dari tadi di pipisin dedek Jafar terus. Sambil mimik juga dedek Jafar pipis yah.” Ucap Sidiq.


“Sidiq melakukan ini kemauan dia sendiri kok nak bukan kami yang suruh.” Ucap ibu mertuaku.

__ADS_1


“Iya bu, saya ngerti kok memang Sidiq sayang banget sama Jafar adiknya.” Jawabku malah merasa gak enak sama ibu mertua takut dikira aku gak rela Sidiq bantuin Jafar. Padahal aku lihat sendiri jika Sidiq memang sangat menyayangi Jafar adiknya.


“Bukan sayang lagi mas, tapi nampaknya ada ikatan batin yang kuat antara dua anak ini.” ucap Fatimah.


“Iya bener saat kemarin rewel saja malah Sidiq yang bisa menenangkan Jafar.” Ucap ibu mertuaku yang membuatku bangga.


“Itu karena Fatimah berhasil mendidik Sidiq dengan baik bu dia tidak menganggap Sidiq orang lain. Tapi Fatimah menganggap Sidiq adalah anak sendiri.” Ucapku mengembalikan sanjungan ibu mertuaku pada Sidiq anakku yang aku tujukan pada anaknya Fatimah istriku.


“Aah kamu bisa saja, merayu istri kamu didepan mertua kamu, bagaimana tadi urusanya lancar kan nak ?” Tanya ibu mertuaku mengalihkan pembicaraan.


“Alhamdulillah bu, pengestunipun tapi belum selesai besuk masih harus dilanjutkan lagi. Yaudah saya mau gabung dengan kang Tohari dulu bu.” Pamitku pada ibu mertuaku.


Kemudian aku menyusul bergabung dengan lainya mendengar petuah petuah dari kang Tohari. Dengan rencana besuk yang akan melanjutkan pembongkaran makam korban tumbal Joyo Maruto.


Setelah cukup lama kami mengobrol dan terdengar kumandang adzan Maghrib kami segera melaksanakan sholat Maghrib bersama sama.


Sampai dengan mujahadah kami tidak berpindah tempat duduk, meski dengan sedikit kelelahan aku dan ketiga  adik sepupuku tetap mengikuti mujahadah sampai selesai. Namun seusai mujahadah aku benar benar merasa kelelahan sehingga begitu usai aku berbaring diruang mujahadah hingga tertidur.


*****


Author  POV


“ini anak baru kepalanya baru nempel sebentar di lantai sudah langsung molor saja ?” ucap Tohari membicarakan Yasin.


“Kecapaian mungkin kang,  Sudah beberapa hari memang kurang tidur.” Kata Sena.


“Iya sih kadang aku juga kasihan melihatnya digembleng lahir batinya seperti ini, tapi bagaimana lagi itu demi dia juga.” Kata Tohari.


“Bagaimana rencana melanjutkan pembongkaran makam besuk kang ?” Tanya Sena.


“Kalo soal itu kayaknya Ahmad Sidiq sudah bisa mengatasi, kalian bantu saja dia biar gak terlalu kecapean besuk. Sebenarnya mala mini aku mau ajak kalian berlatih lagi. Tapi lihat Ahmad sudah kelelahan begitu aku juga tidak tega melihatnya. Biarlah malam ini kalian istirahat dulu daja. Sampai urusan pembongkaran makam selesai besuk baru kita lanjutkan latihan sampai ke level atasnya.” Ucap Tohari.


Sen,Farhan dan Zulfan pun sebenarnya sudah kecapean jadi mereka pun langsung berangkat tidur juga.


Sementara Tohari masih melanjutkan ngobrol dengan Zubaedah istrinya di temani Fatimah dan Khotimah. Sementara Sidiq Jafar dan neneknya istirahat di kamar.


“Suami kamu itu kecapean lahir batinya menghadapi masalah ini dik Fatimah. Jadi kamu yang sabar ya menghadapi suami kamu sekarang ini. Insya Allah gak terlalu lama lagi masalah ini akan segera selesai. Meski bukan berarti selesai berjuang juga.” Ucap Tohari.


“Iya kang, Fatimah juga kadang kasihan sama mas Yasin tapi bagaimana lagi itu sudah kewajiban dia.” Jawab Fatimah.


“Nanti sebelum kita menghadapi menghadapi makhluk astral yang menjadi pimpinan jin jin jahat akan ada bala bantuan yang datangnya dari Guru ngaji kalian. Jadi kalian gak usah berkecil hati. Karena untuk saat ini sebenarnya hanyalah masa penggemblengan suami kamu.” Kata Tohari.


“kapan bantuan itu akan datang kang “ Tanya Fatimah.


“Iya kang, kami pasti mendoakan mas Yasin kok.” Jawab Fatimah.


“Kamu adiknya Fatimah ? jadi mu nikah kapan ? segera saja jangan nunggu masalah ini selesai. Siapa tahu barokahnya pernikahan kamu disini malah akan membuat masalah ini cepat selesai.” Ucap Tohari membuat Khotimah jadi malu banget.


“Lah kok Kang Tohari tahu Khotimah mau menikah ?” Tanya Khotimah.


“Sudah ada aroma pengantin disini soalnya, jadi aku nebak saja it pasti kamu.” Ucap Tohari.


Membuat Khotimah semakin tertunduk malu.


“Gak papa sih santai saja gak usah malu begitu, itu kan hal yang baik gak perlu malu.” Ucap Tohari.


“Iya kang,makasih masih nunggu calon suami Khotimah jga kok kapan dia ngajak nikahnya.” Jawab Khotimah.


“Owh… Insya Allah sebentar lagi kamu akan segera dinikahi kok, tenang saja.” Ucap Tohari kepada Khotimah.


Khotimah hanya tertunduk malu dan tersenyum simpul, rupanya Khotimah sudah move on dari Fanani dan membuka hati sepenuhnya pada Candra.


Begitulah obrolan Tohari dengan Khotimah dan Fatimah, Tohari memberikan support pada keduanya agar mampu mendampingi Yasin dalam menghadapi masalah yang terjadi.


*****


Yasin POV


Setelah bangun tidur dan menjalankan sholat subuh, aku segera bersiap untuk kembali membongkar kuburan orang yang menjadi korban kebiadapan Joyo Maruto. Hati kecilku berontak untuk dapat segera menuntaskan kasus Joyo Maruto agar dapat menguak misteri kasus menghilangnya beberapa gadis perawan beberapa waktu terakhir. Juga ada kaitanya dengan kasus kasus beberapa tahun sebelumnya yang belum sempat terkuak.


Aku sudah berniat untuk dapat menuntaskan kasus ini, membantu pihak yang berwajib agar mencegah dan meminimalisir tindak kejahatan. Ini meneruskan perjuangan kakek Jafar dalam Nahi Munkar, batinku.


Demikian juga dengan Sena Farhan dan Zulfan tampaknya mereka juga bersemangat dalam menguak misteri yang terjadi ini. Sena dan Zulfan tampak terlibat percakapan dengan Nurul.


“Yu Doakan Zulfan ya, mudah mudahan Zulfan dan semua selamat.” Kata Zulfan kepada Nurul.


“Iya Zul, mbakyu mu pasti doain kamu dan yang lain. Ikuti kata kata mas mas mu mas Sena dan mas Ahmad terutama juga mas Farhan. Karena kita semua masih dalam satu ikatan saudara sehingga sudah selayaknya saling membantu.” Kata Nurul.


“Aku juga berangkat dulu ya, jaga anak kita dan jangan lupa doakan kami semua.” Ucap Sena pada Nurul Istrinya.


“Iya mas, jagain Zulfan adik kita juga ya.” Jawab Nurul sambil cium tangan suaminya.


“Udah gak usah lebay, kayak mau berangkat perang saja kan Cuma mau menggali kuburan korban Joyo Maruto saja.” Gurauku pada mereka.

__ADS_1


“Wah mas Ahmad ni bisa aja kita kan hanya bicara biasa saj.” Ucap Nurul sambil tertawa kecil. Rupanya dia sudah bisa memposisikan sebagai Nurul Jannah yang dulu. Yang sudah terbiasa dengan candaan dan sedikit sifat jahilku.


“Iya aku juga ngerti kok, kalian siap siap dulu aku mau pamitan juga dengan istri dan ibu mertuaku. Sekalian mau ambil sesuatu yang mungkin di butuhkan nanti.” Jawabku sambil melangkah masuk ke kamarku.


Sampai di dalam kamar aku minta ijin untuk menggendong Jafar lebih dahulu pada ibu mertuaku. Tidak seperti biasanya, ibu mertuaku langsung memberikan Jafar kepadaku. Mungkin beliau tahu aku kangen banget dengan Jafar anakku yang beberapa hari ini jarang kusentuh.


Jafar yang baru saja dimandikan dan siap untuk diajak berjemur itu masih bau minyak bayi yang khas, aromanya aku sangat suka. Kemudian aku ciumi Jafar sampai jafar berontak karena geli kena kumis ku hingga nangis.


“Jangan kenceng kenceng kalo nyium bayi, kulitnya masih lembut jadi nangis kan !” ucap ibu mertuaku.


“He he he iya buk, gemes sama Jafar dan lama gak denger tangisan Jafar jadi kangen.” Jawabku. Sambil menyerahkan kembali Jafar pada Ibuk mertuaku.


Setelah berpamitan dengan ibu mertua dan istriku juga tak lupa mencium Sidiq anak pertamaku itu aku melangkah keluar kamar.


“Mas…. Hati hati ya jangan gegabah lagi.” Ucap Fatimah sambil cium tanganku.


“Iya Fat, jagain Jafar dan Sidiq baik baik doakan agar kasus ini segera terkuak. Orang seperti Joyo Maruto itu sangat berbahaya.” Kataku pada Fatimah.


Akupun segera keluar kamar dan bersiap berangkat menuju ke lokasi bekas  padepokan Joyo Maruto.


Kang Tohari pun memberikan sedikit pesan agar sebelum memulai perkuat dengan doa mayat agar mereka tenang.


Berangkatlah kami menuju ke lokasi bekas markas Joyo Maruto yang sekarang keadaanya sudah berbeda. Dan sesampai disana aku langsung menemui pak Yadi yang sudah lebih dahulu datang. Dan memepersiapkan Tumpeng nasi kuning dan juga lauk pauk, untuk acara Kenduri.


Kemudian aku diminta memimpin doa Kenduri tersebut, dan sebelum doa ( Mengirim doa kepada para korban ) aku menjelaskan dulu apa itu sebenarnya Kenduri.


Aku menjelaskan makna Kenduri bahwa sebenarnya kenduri itu asalnya dari bahasa Arab ‘Kun Daron Khoiron’  Kun \= jadikan Daron Khoiron \= tempat yang baik. maka orang Jawa mengucapkannya jadi kenduren ( kenduri ) biar mudah diucapkan.


“jadi kita jadikan tempat ini menjadi tempat yang baik, jika sebelumnya digunakan untuk memuja iblis sekarang kita jadikan tempat untuk memuji Allah Swt. Kita rubah kebiasaan buruk yang dulu ada ditempat ini kita ganti dengan dengan kebiasaan yang baik. kita jadikan tempat ini nanti sebagai tempat untuk menagugungkan Asma Allah, menjadi tempat untuk melaksanakan Sholat bagi siapa saja yang lewat agar menjadi tempat yang barokah.” Kataku menjelaskan sebelum memimpin doa mengirim arwah para korban kebiadapan Joyo Maruto.


Dan setelah acara kenduri selesai maka proses penggalian korban pun segera dilaksanakan. Dan aku bersama pak Yadi menuangkan minyak tanah di seputar rumah bekas padepokan Joyo Maruto. Untuk mengusir binatang binatang berbisa yang ada didalam padepokan tersebut. Dibantu oleh pawang uular yang tahu cara menangani binatang berbisa tersebut. Akhirnya semua binatang berbisa itu dapat ditangkap dan disingkirkan ke tempat yang Aman.


Proses penggalian korban Joyo Maruto pun berjalan lancar, dan akhirnya ditemukan Sembilan tengkorak manusia. Jadi total korban yang ditemukan adalah dua belas korban, tiga adalah korban yang belum lama dan Sembilan adalah tinggal tengkorak.


Namun ada yang masih mengganjal dalam hatiku, dimana potongan tubuh Rahman ? kenapa baru potongan kaki saja yang ditemukan, dan dia adalah satu satunya korban yang berjenis kelamin laki laki.


“Pak, kita cari di dalam padepokan saya yakin masih ada tulang atau kerangka korban yang masih belum di temukan. Yaitu korban yang kemarin potongan kakinya kita temukan pertama kali.” Ucapku pada pak Yadi.


Dan pak Yadi pun baru ingat jika kemarin sudah menemukan potongan kaki yang justru merupakan penemuan pertama kali.  Kemudian semua tenaga dikerahkan mencari potongan kerangka Rahman di dalam padepokan tersebut.


Hingga sampai sore hari akhirnya satu persatu potongan tubuh Rahman yang tinggal berujut kerangka/tulang itupun di temukan. Hanya tinggal satu bagian yang belum di temukan, yaitu bagian tengkorak kepalanya saja.


Melihat sebagian besar personil sudah gelisah maka aku persilahkan mereka pulang, namun aku meminta pak Yadi untuk tetap tinggal dan menemaniku bersama Sena, Farhan dan Zulfan untuk tetap mencari keberadaan Tengkorak kepala Rahman.


Karena aku sudah berniat mencari jasad Rahman secara utuh dan akan menyerahkan kepada keluarganya. Setelah mengetahui identitas lengkapnya, dengan melihat catatan orang hilang dua s/d tiga tahun yag lalu. Kami berhenti setelah kumandang adzan maghrib, kami sama sama melaksanakan sholat maghrib kemudian kembali melanjutakan mencari tengkorak kepala Rahman dengan bantuan lampu oncor saja.


Suasana mistis masih terasa dan dari arah batu yang biasa di jadikan altar persembahan korban muncul sosok Hitam besar yang dengan mata merah menyala menyerag kami berlima.


Kemudian aku memerintahkan Farhan dan Zulfan untuk melindungi pak Yadi. Sementara Sena kuajak melawan makhluk itu dan menggiring dia ketempat kami bertempur dengan murid murid Joyo maruto kemarin.


“GHhhrrrrrrrrrrrrr….. uwwaaaa….. kalian manusia sudah merusak tempat ritual kami…!” ucap makhluk itu.


“Kamu makhluk jahanam, sudah membuat manusia sesat dengan bersekutu dan memujamu hingga lupa dengan yang maha kuasa.” Ucapku.


“Buka urrusaanmu….!” Kata makhluk itu yang tiba tiba menyerang aku dan Sena dengan semburan api dari mulutnya. “ hah gumbolo geni lagi.” Pikirku.


“Sena, bergabunglah kemari kita lawan aji Gumbolo geni itu bersama, aku tahu kelemahanya.” Ucapku pada Sena.


...bersambung...


Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.


Komentar readers semangat Author


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


 

__ADS_1


__ADS_2