
🌷🌷🌷
Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
............
Owh ini yang ki Soma lakukan untuk memikat hati kedua istrinya, berarti benda ini harus aku hancurkan.” Kataku dalam hati.
Kemudian aku segera pergi keluar hendak menyusul Sena dan Zulfan yang membawa Wiwin kerumah.
Saat aku keluar pintu, tiba tiba ada yang menyerangku dari samping kananku yang ternyata istri pertama ki Soma yang sudah siuman….!!!
Secara reflek aku menangkis serangan istri pertama ki Soma tersebut hingga dia terpental dan jatuh kembali. Meski masih sadar tapi sepertinya dia sudah kesakitan dan tak dapat bangkit lagi untuk kembali menyerang aku.
“Maaf Nyai aku tidak bermaksut melukai nyai, tapi aku hanya ingin menyelamatkan sahabatku Wiwin dari pengaruh jahat ki Soma.” Kataku sambil melangkah pergi.
“Kau….!” Ucapan istri pertama ki Soma itu terputus karena kembali pingsan.
Aku harus segera meninggalkan tempat ini sebelum ada orang lain yang melihat, nanti bisa menjadi masalah baru jika ada orang atau warga yang kebetulan lewat dan melihat kejadian ini. Minimal aku harus keluar dari tempat ini dulu, soal bagaimana besok apakah ada yang mengetahui itu urusan belakang, pikirku.
Kemudian aku segera melajukan sepeda motorku berangkat pulang ke rumah. Dan dengan kecepatan cukup aku menyusul Sena dan Zulfan yang sudah berangkat duluan.
Dan sesampai dirumah Zulfan dan Sena pun kayaknya juga belum begitu lama sampai. Kemudian aku membantunya mengangkat tubuh Wiwin yang masih belum sadar. Kemudian aku minta dimasukan ke kamar dan di jagain Khotimah yang sesame wanita.
Jadi meskipun Wiwin nanti sadar aku yakin tak akan bisa mengalahkan Khotimah. Karena aku sudah mengukur sebatas mana kemampuan Wiwin dalam olah kanuragan. Sementara itu aku menghubungi orang tua Wiwin dan aku ajak kerumahku agar u\=ikut menyadarkan Wiwin, karena bagaimanapun pasti di hati kecil Wiwin masih menyimpan rasa ikatan Batin kepada kedua orang tuanya terutama ibunya.
Akupun segera menuju kerumah orang tua Wiwin setelah berpamitan dengan Fatimah dan lainya. Agar mempersingkat waktu karena masih banyak tugas lain yang harus aku kerjakan hari itu juga.
Sesampai di rumah orang tua Wiwin, aku disambut bapak ibunya Wiwin yang kebetulan juga sedang santai dirumah.
“Assalaamu’alaikum bapak dan ibu, baru santai saja kan ?” sapaku pada kedua orang tua Wiwin.
“Wa’alaikummussalaam… iya lagi ngobrol saja. Karena sekarang tinggal dirumah hanya berdua saja.” Jawab pak Subekti.
Kemudian aku dipersilahkan duduk di kursi teras rumahnya, sehingga aku pun segera mengambil kursi tempat duduk yang di sediakan. Kemudian duduk menghadap kedua orang tua Wiwin tersebut.
“Ada apa kok kayaknya ada hal penting banget, sampai wajah kamu serius begitu ?” Tanya bapaknya Wiwin padaku.
Aku menyusun kata kata terlebih dahulu agar bisa menyampaikan berita ini namun tidak menimbulkan keterkejutan pada beliau berupa.
“Iya pak, sejujurnya kedatangan saya kemari membawa sebuah berita penting yang harus saya sampaikan kepada panjenengan berdua.” Kataku memulai pembicaraan.
“Yaudah sampaikan saja tidak apa apa, kami berdua sudah siap untuk mendengar apapun yang akan kamu sampaikan.” Jawab pak Subekti yang justru membuat aku sendiri yang dag dig dug.
“Mohon maaf sebelumnya, apakah pak Yadi temen saya yang seorang Polisi itu sudah sowan kesini pak, setelah dengan saya dahulu ?” tanyaku pada pak Subekti.
“Waduh kayaknya belum, tapi aku gak tahu pasti soalnya kami juga baru saja pulang kerumah habis dari luar kota jenguk cucu, anak dari kakaknya Wiwin.” Jawab pak Subekti.
Aku juga baru ingat jika Wiwin mempunyai kakak yang bernama Nunung yang katanya hidup di pulau dewata Bali.
__ADS_1
“Owh begitu pak,,, jadi kedatangan saya kemari ini mau menyampaikan berita yang ada kaitannya dengan Wiwin. Yang intinya saya sudah bertemu dengan Wiwin dan dia dalam keadaan selamat, hanya mungkin perlu saya tenangkan dulu dari pengaruh jahat yang di tanamkan oleh almarhum suaminya dulu.” Kataku hati hati menyebut kata suaminya. Karena tentu saja orang tua Wiwin juga akan terkejut mendengar semua itu.
“Apa,,,, kamu sudah bertemu dengan Wiwin anakku ?” Tanya ibunya Wiwin yang tampak panik dan kaget.
“Iya buk, dan saat ini Wiwin saya amankan di rumah saya untuk menghindari dari hal hal yang tidak diinginkan.” Penjelasanku kepada kedua orang tua Wiwin.
“Bagaimana kamu bisa dengan mudah menemukan Wiwin, sedang aku selama bertahun tahun saja tidak dapat melacaknya. Karena Wiwin seperti lenyap di telan bumi ?” kata pak Subekti.
“Semua itu hanya kebetulan saja pak bukan karena apa apa,” jawabku singkat.
“Kebetulan yang bagaimana kok bisa secepat itu kamu menemukan, gak mungkin sekedar kebetulan jika tanpa ada tindakan untuk mencarinya !” kata pak Subekti selanjutnya.Kemudian aku terpaksa menceritakan tentang kematian ki Soma yang bertempur melawan Sena suami dari adik sepupuku. Dan sampai akhirnya aku mendengar bahwa ki Soma adalah suami dari Wiwin dan akhirnya aku mendapatkan alamat rumahnya.
Selanjutnya aku mencari Wiwin di alamat tersebut, di sebuah desa yang tidak terlalu jauh dari kampungku. Namun memang desa tersebut cukup terpencil karena tidak ada jalan tembus ke wilayah lain. Sehingga hanya ada satu jalur jalan keluar masuk ke dusun itu.
Jadi orang yang masuk ke dusun itu keluar masuknya lewat jalan yang sama, tidak ada jalan ke dusun lain atau jalan keluar yang lain, karena sudah diapit oleh jurang. Kedua orang tua Wiwin mendengarkan dengan seksama mereka tampak sangat antusias mendengar penjelasanku.
Sampai aku menceritakan juga jika harus menghadapi Wiwin yang sudah dikuasai jin khodam yang menguasai dirinya. Dan membuat Wiwin pingsan agar bisa aku bawa kerumah untuk dirawat dan dibacakan doa doa menghilangkan pengaruh jahat yang ada pada dirinya.
“Jadi begitulah pak ceritanya, mohon maaf saya terpaksa melumpuhkan Wiwin agar bisa kami bawa pulang untuk di Syareati agar menghilangkan pengaruh buruk yang ada.’ Kataku pada kedua orang tua Wiwin.
“Tidak maslah jika kamu melumpuhkan Wiwin dengan tujuan baik seperti itu. jadi saat ini Wiwin ada dirumah kamu ? “apa boleh kami melihatnya sekarang ?” Tanya pak Subekti.
“Tentu saja boleh pak, dan tujuan saya kesini memang mau minta bantuan bapak dan ibu untuk ikut serta menyadarkan Wiwin. Karena panjenengan berdua terutama ibu. Pasti mempunyai ikatan batin yang kuat dengan Wiwin.” Jawabku.
“Alhamdulillah jika begitu kita berangkat sekarang saja.” Ajak bapaknya Wiwin.
“Monggo pak, lebih cepat lebih baik agar semuanya semakin terang permasalahanya.” Jawabku.
Bapak dan ibunya Wiwin segera berkemas untuk berangkat ke rumahku, menengok Wiwin.
Dan berangkatlah kami kerumahku, tampak ibunya Wiwin buru buru ingin segera menemui anaknya. Aku maklum dengan itu lantaran sudah cukup lama mereka tidak bertemu dan tentu saja keduanya sudah memendam rindu kepada anaknya.
Sesampai di halaman Rumah aku mendengar teriakan dan jeritan Wiwin yang meronta ronta pingin dilepaskan dari ikatannya. Dan ternyata setelah aku masuk Zulfan dan Sena sedang membacakan doa doa rukyah dan juga doa Sayidina ‘Akassa untuk mengusir jin jin yang bersemayam di tubuh Wiwin.
Tampak agak kesusahan ( bandel ) Jin Jin itu, karena sudah terlalu lama bersemayam di tubuh Wiwin dan sudah menganggap bahwa tubuh itu adalah rumah mereka. Memang tidak semudah menyembuhkan orang yang kerasukan biasa. Karena kalo orang kerasukan dalam dirinya ada penolakan, namun kasus seperti Wiwin ini berbeda, karena mereka memang sengaja di undang atau dimasukan atas ijin yang mempunyai jasad ( raga ). Ibaratnya Jin Jin itu merasa sudah punya legitimasi untuk menempati tubuh itu.
Jin jin itu sudah menyatu dalam aliran darah Wiwin yang memang menyadiakan dirinya untuk di tempati mereka. Dan kenapa aku mengundang kedua orang tuanya harapanku hanya satu, nurani Wiwin akan tersentuh dengan kehadiran orang tuanya. Dan akan sadar jika selama ini dia telah salah menempuh jalan. Agar mudah mengusir Jin Jin yang ada di dalam tubuhnya. Jika wiwin masih mempertahankan maka akan sulit bahkan hampir tidak mungkin bisa mengusirnya.
“Silahkan masuk bapak dan ibu, tolong bujuk Wiwin agar dia rela melepas semua jin jin yang selama ini menempati raganya. Agar kami dapat membantu mengusir jin jin tersebut.” kataku pada kedua orang tua wiwin.
Sementara Farhan dan Zulfan terus membacakan doa doa dan kemudian dibantu oleh semua yang ada disitu. Dan Bapak ibunya Wiwin, mencoba berkomunikasi dengan wiwin untuk mengembalikan kesadaran Wiwin.
“Wiwin Anakku nduk, eling yo nduk iki bapak ibu nduk. Elingo marang Gusti kang Amurbo ing Dumadi. Manuto karo Ahmad kancamu rikolo sekolah biyen. Ora usah awakmu kepngin barang kang aneh aneh kang ora manfaati kanggo uripmu.” Kata orang tua Wiwin.
( Wiwin anakku nduk, ingat ya nduk ini bapak ibu nduk. Ingatlah kepada Tuhan yang menjadikan kita ada. Menurutlah pada Ahmad sahabatmu ketika sekolah dulu. Tidak usah kamu menginginkan hal hal yang aneh aneh yang gak ada manfaatnya untuk hidupmu.)
“Aku gak mau, aku ingin jadi orang kuat yang dihormati dan disegani semua orang !” teriak Wiwin. Meski aku tahu itu pengaruh Jin jin yang bersemayam dalam tubuh Wiwin itu.
“Eling Nduk, rikolo semono bapak wis nate ngendiko. Yen Sliramu oleh sianu kanuragan ananging iku ming minongko piranti urip kang biso sawektu wektu di manfaatke. Anangin iku kabeh dudu minongko tujuan e urip nduk.” Kata pak Subekti.
(Ingat nduk, saat itu bapak sudah bilang. Kalo kamu boleh belajar kanuragan tetapi itu hanya merupakan alat/media hidup yang sewaktu waktu bisa dimanfaatkan. Akan tetapi itu bukan merupakan tujuan hidup nduk.)
“Enggak mau pak, Wiwin mau jadi orang yang dihormati dan ingin menjadi orang yang tidak bisa dikalahkan.” Jawab Wiwin.
Aku sendiri bingung menghadapi Wiwin yang seperti itu. kemudian aku meminta ibunya Wiwin yang berbicara agar lebih menyentuh hati Wiwin. Dengan menggunakan bahasa kasih sayang seorang ibu ke anaknya.
__ADS_1
“Bu panjenengan sekarang yang mencoba membujuk Wiwin. Tampaknya kalo dengan bapak wiwin tidak mmau menuruti ucapanya.” Kataku pada ibunya Wiwin.
Kemudian ibunya Wiwin Mendekati anaknya dan duduk disampingnya serta membelai belai rambut Wiwin dengan diserti tetesan air mata.
“Win anakku cah ayu, yen slirramu isih tresno karo ibu. Rungokno ibu yo nduk. Sangang sasi luwih ibu ngandeg awakmu ono sajeroning kandutane ibu. Ora nate ibu sambat ngandut awakmu, ibu gadang gadang awakmu supoyo dadi wanito tomo. Kang biso njunjung Asmane wong tuwo. Mikul duwur mendem jero. Yen ing atimu isih ono roso tresno karo ibumu, manuto ibu nduk, buangen kabeh kang ora manfaati seko awakmu. Wiwin ora perlu dadi wong kang sakti mondro guno. Wiwin dadi wong lumrah wae wis dadi kebanggaane bapak ibumu nduk.” Ucap ibunya Wiwin panjang lebar yang membuat Wiwin agak tenang dan tampak menitikan air mata.
(Win anakku yang cantik, kalo kamu masih cinta kepada ibu. Dengarkan ibu ya nduk, Sembilan bulan lebih ibu mengandung kamu, mengharap kamu jadi wanita utama. Yang bisa menjunjung nama orang tua, mengangkat tinggi ( derajat orang tua ) menimbun dalam ( aib / kekurangan orang Tua ) kalo di hatimu masih ada rasa cinta pada ibumu, menurutlah hilangkan semua yang tidak bermanfaat dari tubuhmu. Wiwin gak perlu menjadi orang sakti, Wiwin jadi orang biasa saja sudah menjadi kebanggan bapak ibumu Nduk.)
Ibunya Wiwin menasehati Wiwin dengan bahasa kalbu, atau dengan menyentuh hati Wiwin dengan kasih sayang. Sehingga Wiwin pun kemudian menangis mengeluarkan air mata dan tangisnya pecah dalam dekapan kasih sayang seorang ibu.
“Ibu,,,, maafkan Wiwin yang tidak menuruti perkataan ibu, sehingga Wiwin jadi durhaka pada bapak dan ibu….!” Tangis Wiwin pecah hati kecilnya menang melawan nafsu dan egonya selama ini. namun kembali setelah beberapa saat Wiwin kembali berontak dan menjerit minta dilepaskan serta mengamuk dan mencaci maki semua yang ada disitu.
Namun aku tetap lega karena hati kecil Wiwin sudah terbuka oleh nasehat ibunya. Sehingga sudah ada jalan untuk mengusir Jin jin khodam laknat itu. aku meminta Zulfan Farhan dan lainya untuk lebih keras lagi membacakan doa doa tersebut.
Kemudian aku ajak Sena untuk membantu mengusir khodam yang bersemayam di tubuh Wiwin satu persatu. Dan entah berapa khodam Jin yang sudah aku keluarkan dari tubuh Wiwin dengan bantuan Sena.
Sampai tubuhku dan Sena berkeringat karena mengeluarkan energy yang cukup besar. Kemudian aku lanjutkan lagi mengusir khodam khodanlm itu yang jumlahnya sungguh tak terhitung lagi. Pantas sulit sekali menyadarkan Wiwin, kalo tidak wasilah ( lantaran) nasehat ibunya mungkin sampai sekarang pun aku gak akan mampu mengusirnya.
Namun setelah hati kecilnya terbuka akhirnya aku dan Sena mampu mengusir seluruh khodam yang bersemayam di tubuh Wiwin.
Dan akhirnya Wiwin pun terkulai lemah setelah semua jin yang menjadi khodamnya dapat kami usir. Aku dan Senapun ikut kelelahan karena banyak mengeluarkan energy.
“Alhamdulillah,,, sepertinya semua khodam sudah dapat terusir. Tinggal mengembalikan kesadaran Wiwin dalam memilih jalan yang benar.” Ucapku pada kedua orang tua Wiwin.
*****
Sementar itu di tempat Maheso Suro dan Mento Rogo
Author POV
Maheso Suro dan Mento Rogo sudah berkoordinasi untuk membantu menculik Sulis, kemudian gentian Maheso Suro membantu Mento Rogo mencari tumbal lainnya. Dan bersiap lebih dahulu menculik Sulis, untuk disandera sebelum dijadikan Korban sebagai tumbal.
Dan di kampung Sulis justru Sulis menyebarkan adanya seorang pedagang kakek kakek yang sangat baik hati. Dan anak anak sebayanya juga di beri tahu jika beberapa hari lagi Sulis akan diberi buah hasil kebun kakek itu secara gratis. Dan anak anak sebayanya akan ikut menunggu kakek itu. dan yang tidak disadari oleh Sulis adalah bahwa dirinya terancam dengan bahaya. Dan yang lebih parah adalah ada seorang anak sebaya Sulis yang lahir dihari yang sama hanya berbeda waktu dalam hitungan menit sampai jam saja.
Sehingga bisa jadi nanti dua anak tersebut akan diculik sekalian oleh Maheso Suro dan Mento Rogo….!!!?
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
__ADS_1
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...