Isyaroh

Isyaroh
Rencana Eis membawa Sidiq


__ADS_3

Tiba tiba kang Salim berkata.


"Apa yang kita lakukan, adalah untuk membuka hijab kalian agar terbuka mata batin kalian.


coba kamu perhatikan sekeliling kalian sekarang." kata kang Salim.


kami pum memandang sekeliling, dan betepa kagetnya kami, ketika dengan mata telanjang kami dapat melihat beberapa mahluk Astral yang nampak oleh kami.


 


“Maaf kang Salim, apakah perlu kami setiap saat melihat mahluk yang seharusnya tak tampak itu.” Tanyaku pada kang Salim.


 


“Pejamkan mata, baca sholawat tadi jika tak ingin melihat. Jika harus melihat baca Fatihah an dilanjutkan solawat yang tadi.” Kata kang Salim.


Maka aku dan Samsudin memejamkan mat dan membaca solawat yang diajarkan kang Salim barusan. Kemudian ketika kami membuka mata mahluk astral itu sduah tak tampak lagi. Lega rasanya tidak harus tiap saat melihat mahluk yang tak perlu dilihat itu. Meskipun keberadaanya tetap saja aku rasakan.


 


Kami bertiga kemudian melanjutkan berjalan mengitari rumah, dan di titik titik tertentu kang Salim menyuruhku dan Samsudin menggali tanah, dan kemudian kami temukan beberapa macam benda yang biasa digunakan untuk tujuan kejahatan supra natural.


 


“Kamu itu bagaimana, sampai tidak menyadari rumah kamu dipasangi bermacam macam


Perangkap seperti itu.” Kata kang Salim


“Iya kang, padahal hamper tiap malam juga aku kelilingi rumah ini.” Jawabku.


“Gunakan mata hatimu, jangan hanya mata lahiriahmu. Mata lahiriyahmu terbatas, saat berkedip pun tak bisa lihat. Beda dengan mata hati.” Terang kang Salim.


Sebenarnya aku agak bingung dengan penjelasanya. Dan Samsudinpun seakan hendak bertanya. Namun kutahan, karena hal itu memang harus dicari sendiri jawaban atau maksut yang terkandung didalamnya.


Saat adzan subuh berkumandang, barulah kami masuk rumah untuk melaksanakan solat subuh berjamaah. Samsudin yang biaanya gak kuat begadang malam itu kulihat cukup kuat dia bertahan dan menahan kantuknya.


Baru setelah selesai solat subuh, kulihat Samsudin sudah tak mampu menahan kantuk hingga tertidur ditempat dia solat dan wiritan. Saat Eis mau membangunkan pun  aku larang.


“Biarin saja Eis, suamimu tidur disitu. Kasihan semalam suntuk gak tidur. Nanti kalo udah agak lama aja dibangunin suruh pindah kedalam.” Kataku.


Tanpa aku sadari aku mengucapkan begitu kepada Eis tanpa ada rasa sungkan dan sebagainya seperti sebelumnya.


Mungkin ini yang diharapkan semalam oleh kang Salim.


Aku tak lagi teringat dengan masa lalu kami sebelum sama sama dinikhkan. Bahkan kulihat Eispun demikian juga, tak lagi meraa kikuk denganku seperti saat bertemu kemarin ketika aku tersadar dari pingsan.


Plong rasanya hati ini, saat ini yang ada didalam pikiran dan hati kami adalah pasangan masing masing. Sedang selebihnya adalah perhatian sebagai saudara saja. Sulit untuk mengutarakan perubahan perasaan yang ada waktu itu.


Karena tidak semua perasaan mampu diungkapkan dengan kata kata, tapi apapun itu yang jelas kami sangat bersukur dengan semua yang kami dapatkan. Baik yang bisa dilihat maupun yang hanya bisa kami rasakan.


Aku sendiri akhirnya juga diserang rasa kantuk, kemudian aku mohon diri untuk istirahat dikamarku. Sampai akhirnya aku terbangun ketika mendengar kumandang adzan dhuhur.


Aku bangun menuju kamar mandi untuk membersihkan badan dan melaksanakan solat dhuhur. Sesudah solat dhuhur aku dipanggil kang Salim dan teh Atikah.


“Ku rasa kamu sudah cukup sehat, jadi sore ini aku mau pulang. Kuharap kamu bisa jaga diri, karena mulai nanti malam kamu sendiri yang harus melaksanakan ritual mujahadah dan menjaga serta membentengi dari gangguan mahluk halus. Untuk keamanan lahiriyah sudah ada satuan kepolisian yg mendampingi dan mengamankan.” Ucap kang Salim.


“Apakah Samsudin dan Eis juga ikut pulang nanti kang Salim ?” tanyaku.


“Ya tentunya lah, kecuali mereka masih ingin tinggal disini dan mau belakangan gak papa. “ jawab kang Salim.


“Memangnya kenapa kalo mereka ikut pulang sekarang, Yasin ?” Tanya teh Atikah.


 “Gak papa sih teh, cumin mereka kan rencananya mau ngajak Sidiq. Sementara kami belum membujuk Sidiq agar mau tinggal bersama sementara.” Jawabku.


“Owh gitu, yaudah kamu panggil saja Samsudin dan Eis. Kita bicarakan sekarang, apa mereka mau bareng atau tinggal disini dulu nunggu Sidiq mau ikut.” Kata teteh Atikah.


Aku segera bangkit mencari Samsudin dan Eis, kemudian aku ajak gabung bersama kang Salim dan teteh.


“Jadi bagaimana kalian Samsudin dan Eis, apakah mau ikut pulang nanti sore, atau mau disini dulu ?” Tanya teteh Atikah ke Samsudin dan Eis.


“Eis mah ikut Aa’ saja, pulang nanti sore boleh disini dulu juga gak papa.” Jawab Eis.


“Terus rencana kita ngajak Sidiq gimana ?” Tanya Samsudin.


“Atuh kumaha Aa’ wee eta mah.” Seru Eis.


“Ya baiknya kita nyusul belakangan saja neng, sekalian nunggu Sidiqnya mau dan kita bisa bantuin Yasin disini.” Kata Samsudin.


“Eis mah nurut aja a’, apa kata Aa’.” Jawab Eis.


“Yaudah kalian pulang belakangan gak papa, biar sekalian bisa damping Yasin disini.” Kata kang Salim.


“Tapi ingat, jangan lama lama disini kalian, takutnya gangguin Yasin dan Fatimah.” Sahut teteh Atikah.


“Diih gak teteh, gangguin apaan justru Kami senang banyak saudara kumpul disini teteh.” Jawabku pada teteh Atikah.


“Adaa yang ingin disampaikan lagi atau ada yang mau ditanyakan ?” kata kang Salim.


“O iya Aa’, kemarin ibunya Sidiq curhat ke Atikah. Katanya dia mau dilamar kakaknya Isti tapi ada kendala karena keluarganya masih membencinya.” Kata teteh Atikah.


“Gak lah, itu kan dulu sekarang orang tuanya pasti sudah berbeda. Asal jangan Yasin yang ikut kesana, nanti bisa beda ceritanya.” Jawab kang Salim.


“Iya kang, saya juga berpikir begitu, walau bagaimanapun ikatan ayah dan anak pasti tetep kuat. Meski dulu ada masalah, saya kira sekarang sudah bisa menerima keberadaan Arum.” Kataku.


“Ya mudah mudahan saja begitu, itulah sebuah contoh yang boleh ditiru Yasin. Kamu harus bisa mengambil hikmah dari masa lalu yang pernah kamu alami.” Kata kang Salim padaku.


Kemudian kang Salim dan teteh Atikah berkemas mempersiapkan kepulangan beliau berdua nanti setelah solat asar. Tidak banyak yang harus dikemas sehingga semua persiapan sudah selesai dilakukan.


“Tasbih yang kemarin menjadi tameng kamu saat peluru mengenaimu sudah kamu buka ?” Tanya kang Salim.


“Belum kang.” Jawabku.

__ADS_1


“Ayo kita buka Sekarang !” kata kang Salim.


Kemudian kami berdua menuju kamarku tempat kusimpan benda itu, yang dibungkus kain putih sebelumnya oleh kang Salim. Dan aku terperanjat kaget, saat kain pembungkusnya dibuka. Karena dalam bungkusan yang kemarin berisi Tasbih itu sekarang berubah menjai sebuah cemeti/cambuk.


“Inilah, ujut  asli benda yang menamengi tubuhmu dari peluru itu.” Kata kang Salim padaku.


“Kenapa bisa begitu kang, memang aku merasa aneh karena itu bukan tasbih yang biasa aku gunakan saat diserahkan padaku kemarin.” Kataku.


“Sudah gak usah banyak dipikir, yang jelas ini pun bukan hak kamu. Hanya sementara dipinjamkan kepadamu. Pada waktunya benda ini akan kembali pada yang berhak memegangnya.” Kata kang Salim.


Aku gak perlu banyak bertanya, karena aku juga tidak berniat untuk memilikinya. Kapanpun benda itu akan diambil pemiliknya akan aku serahkan, pikirku.


Setelah melaksanakan solat Asar kang Salim dan teh Atikah segera berangkat kembali ke pondok mereka. Sedangkan Samsudin dan juga Eis masih tinggal bersama kami.


“Kamu harus bisa mengambil hati Sidiq anakku agar dekat dengan kamu, sehingga nanti mau kamu ajak ke Bandung.” Kataku pada Eis dan Samsudin.


“Iya, akan kami coba biar nanti A’ samsudin yang coba ajak Sidiq duluan.” Sahut Eis.


“Yang perlu kalian tahu, Sidiq itu punya karakter yang keras. Berani dan periang, jadi jangan sampai kalian nanti kaget. Jika suatu saat Sidiq bertanya sesuatu yang kalian anggap aneh.” Kataku.


“Lah itu sih sifat kamu yang dominan Yasin.” Seru Samsudin memotong pembicaraan.


“Ya gak juga, ibu kandungnya pun punya watak yang keraas juga kok. Mungkin karena itu gak jodoh ma akau, sama sama keras.” Gurauku.


“Eeeeh mas Yasin gak boleh bilang gitu kali, kedengaran Fatiamh bisa nyakitin dia nanti.” Protes Eis.


“Gak kok Eis, aku juga tahu diri bagaimana menghargai perasaan istri. Ini kan hanya bercanda dan gak kedengaran istri. Kalo didepan istri juga aku gak bakalan ngomong begini, potensi bikin dia jadi cemburu.” Kataku pada Eis.


“Sukurlah kalo begitu.” Jawab Eis singkat.


“Jadi mulai kapan nih kita harus pdkt sama Sidiq ?” Tanya Samsudin.


“Ya mulai sekarang lah, kecuali kamu betah berlama lama disini aku malah lebih senang.” Kataku.


“Kamu senang aku sama istriku yang gak bebas.” Kata Samsudin.


“Gak bebas kenapa, memang aku melarang kalian apa ?” tanyaku.


“Ngelarang sih gak, cuman istriku tuh yang belum bisa adaptasi.” Jawab Samsudin muter muter.


“Adaptasi apaan Eis ?” tanyaku ke Eis biar faham.


“Iiih aa’ mah ngomong apa kali.” Jawab Eis sambil mukul Samsudin pelan.


Aku jadi tanggap maksut perkataan samsudin barusan.


“Owh aku faham sekarang, biasa aja Eis, anggap saja rumah sendiri gak usah sungkan sungkan disini mah.” Kataku.


Membuat Eis memerah mukanya karena malu. Sedangkan Samsudin hanya senyum senyum saja.


“Yaudah aku mau ke belakang dulu lihat pembibitan beberapa hari gak terawatt terbengkelai begitu.” Kataku pada mereka.


Kemudian aku tingggalkan Samsudin dan Eis di ruang depan sementara aku kebelakang menemui Fatimah.


“Ya mas saja yang bilang ke Arum biar diajak nemuin Eis dan mas Samsudin.” Kata Fatimah.


“Kamu aja lah yang sesama wanita biar bahasa kalian lebih nyambung.” Jawabku.


Fatimah mengangguk kemudian berjalan mencari Arum didapur.


Kemudian selang beberapa saat kudengar Fatimah,Arum Eis dan Samsudin sudah terlibat dalam sebuah obrolan ringan. Aku sengaja tidak mendekat hanya mendengarkan dari jauh. Agar antara Fatimah dan Samsudin tidak lagi ada kekakuan dan bisa bersikap natural sebagai sahabat,


...*****...


Fatimah POV


Sudah beberapa saat aku ngobrol dengan Arum,Eis dan mas Samsudin juga Sidiq. Tapi kenapa suamiku gak ikut gabung juga, pikirku.


“Kok kamu kayak gelisah gitu mikirin apa Fat ?” Tanya Arum mengagetkan aku.


“Gak kok Rum, hanya heran kok mas Yasin gak ikut gabung kesini aja.” Jawabku.


“Owh tadi kan ke belakang nyusul kamu, di belakang ada siapa memang ?” Tanya Eis menyambung pertanyaan Arum.


“Tadi aku lagi ngobrol sama Isti dan kakaknya Rofiq juga Arum ya Rum ?” jawabku.


“Aah paling juga nerusin ngobrol sama mereka lah, gak usah khawatir Fat.” Goda Eis.


“Gak gitu Eis, biasanya kan kalo nyuruh Fatimah dia terus ikut nimbrung juga, ini kok gak. Cuma gitu aja yang Fatimah pikirin.” Kata Fatimah.


“Iya gaka papa, barang kali ada pembahasan penting juga mereka.” Kata Eis.


“Iya bener, maaf tadi Arum memang lagi bicarakan soal lamaran mas Rofiq ke Arum. Tapi baru mulai ngobrol Fatimah mengajak Arum kesini. Mungkin mereka baru membahas itu.” Kata Arum.


“Ya sukurlah Fat, suami kamu mau berpikir sampai kesitu. Artinya dia ingin menjalin persaudaraan dengan kita semua secara tulus.” Tiba tiba mas Samsudin ikut bicara seakan tak ada lagi rasa kaku terhadap Fatimah. Akhirnya Fatimah pun bisa merasa lega dengan semua ini.


“Iya sih mas, Fatimah juga bersukur untuk itu. Bahkan Fatimah merasa dekat dengan Arum dan Sidiq tanpa ada ganjalan ya Arum ?” jawabku mengalihkan pembicaraan dengan mas Samsudin dengan melibatkan Arum.


“Iya Fat, Arum juga bangga kenal dengan kalian semua jadi bisa nambah wawasan Arum. Secara Arum hanya lulus SMP secara formalnya.” Kata Arumm.


“Udah yang itu gak usah dibahas lagi, bagaimana dengan Sidiq nanti Rum ?” tanyaku pada Arum.


“Arum sih terserah Fatimah dan suami Fatimah saja, bagaimanapun Sidiq juga anak kalian kan ?” jawab Fatimah.


“Eis coba akrapin Sidiq dulu nanti, biar deket dulu dengan kami ya mbak Arum ?” Tanya EIs menyela.


“Boleh, Sidiq gak sulit kok untuk dekat dengan orang dia cukup bisa beradaptasi. Cuma masalahnya saat ini Sidiq itu baru merasa punya Ayah, apakah dia mau jauh dari ayahnya nanti ?” kata Arum.


“Itulah yang harus kami lakukan, semoga dalam beberapa hari ini Sidiq mau deket dengan kami.” Kata mas Samsudin menyambung perkataan Eis istrinya.


“Coba aja kalian mulai sering ajak Sidiq ngobrol, barang kali dia jadi merasa deket dengan kalian. Supaya ada ikatan batin yang cukup kuat, sehingga nanti mau kalian ajak.” Kata Fatimah.

__ADS_1


Akhirnya dengan hasil obrolan itu Eis dan mas Samsudin sepakat untuk melakukan pendekatan pada Sidiq. Dengan sering mengjak Sidiq untuk berkomunikasi, benar juga kata Arum. Sidiq cukup bisa beradaptasi dengan Eis dan mas Samsudin. Bahkan sudah sering bercanda dengan mereka seperti anak dengan kedua orang tuanya.


...*****...


Rofiq berniat segera meminang Arum.


...Yasin POV...


Saat Fatimah mulai asik ngobrol dengan Arum,Eis dan Samsudin aku mengajak Isti dan ROfiq untuk bicara.


“Maaf Is, menurutmu apakah tidak sebaiknya hubungan abang kamu dengan Arum segera diresmikan saja. Mengingat usia mereka juga sudah sangat cukup untuk membina rumah tangga. Dan kamu juga harus segera memikirkan untuk kehidupanmu sendiri juga.” Kataku mengawali pembicaraan.


“Semakin cepat semakin baik sih, nanti Isti coba bicara sama ibu deh, tapi dengan situasi seperti ini apa mungkin mas ?” Tanya Isti.


“Kenapa gak Is, yang penting kita cari sahnya secara agama dan pemerintah dulu. Soal mau adakan pesta bisa belakangan. Soalnya aku juga masih ada tanggung jawab menikahkan jendul juga, yang saat ini masih aku sembunyikan. Maaf bang, karena waaktu itu sangat ketakutan dengan anak buah abang, saat masih bergabung memusuhi aku.” Kataku pada Rofiq.


“Owh jadi si jendul juga udah mau nikah ?” Tanya Rofiq.


“Iya bang, calon istrinya sudah terlanjur hamil katanya.” Jawabku pada Rofiq.


“Haah apa kehidupan kalian dulu segitu bebasnya hingga terjadi begitu ?” seru Isti.


“Maaf Is, suka atau tidak suka itulah kehidupan Isti. Dan jujur kami, aku dan abang kamu itu adalah gambaran sebuah kehidupan burukdimasa lalu. Jadi jangan berpikir kehidupan itu mulus dan lurus saja.” Jawabku.


“Iya Is, jangan malah mengungkit masa lalu lah, kita sudah mau kembali ke jalan yang benar itu sudah Alhamdulillah bisa dapat Hidayah. Soal masa lalu sudah kami kubur dalam dalam.” Sambung Rofiq.


“Ya Isti kaget saja mas, bukan mau mengungkit masa lalu kalian. Memang Isti juga sangat bersukur mas Rofiq kembali sadar seperti dulu lagi.” Jawab isti.


“Sudah sudah kembali soal lamaran abangmu ke Arum, baiknya bagaimana Isti ?” tanyaku mengajak Isti dan ROfiq kembali ke materi pokok yang dibicarakan.


“Isti setuju mas,sekalian saja temen ma situ dinikahkan disini saja barengan dengan mas Rofiq. Jika mungkin dengan Khotimah dan Fanani sekalian. Bukankah Fatimah juga pasti sudah cerita ?” kata isti.


“Khotimah dan  Fanani ?” Tanya Rofiq pada Isti.


“Iya mas, Khotimah dan Fanani kan juga sudah menjalin hubungan suka sama suka. Ssaja kita nikahkan sekalian.” Jawab isti.


“Bagus sih usulmu Is, hanya kayaknya gak mungkin deh.” Kataku.


“Kenapa gak mungkin mas ?” Tanya Isti.


“Kalo Arum, jelas aku gak mau merusak acara akad nikahnya denganadanya aku dalam pernikahanya. Gak usah akuy sebutkan alasanya kalian pasti sudah faham kan ?” kataku pada Isti dan Rofiq.


“Owh itu, yaudah Isti faham kalo itu, biar untuk mas Rofiq nikah ditempat Arum saja.” Kata Isti.


“Sukurlah kalo kamu Faham Isti, maaf ya bang jangan lantas jadi illfill sama Arum.” Kataku pada Rofiq.


“Santai saja Zain eeh Yasin, kamu juga dah tahu aku gimana kan ?” kata rofiq.


“ok bang, udah paham, yang penting saat kalian melamar Arum nanti dan saat akad nikah, aku mohon maaf tidak bisa mendampingi. Dari pada ada keributan dikeluarga Arum. Kalo sudah akad nikah baru aku bisa ikut menemui keluarganya. Sekalian mau mohon maaf atas apa yang sudah terjadi dulu. Toh semua sudah terjadi, dan Arum juga sudah menikah jadi gak ada masalah.” Kataku pada Isti dan Rofiq.


“Sebenarnya kurang lengkap kalo kamu gak ikut, tapi mengingat itu demi menjaga semuanya yaudah gak papa Zain.” Kata Rofiq dengan sebutan lamanya padaku.


“Maaf ya bang, demi kebaikan semuanya. Segera saja persiapkan acara melamar kesana, sukur sekalian disana nanti melamar dan dilanjutkan ijab qobulnya. Soal respsi belakangan lah. Mudah mudahan dengan menghalalkan hubungan kalin nanti justru membawa berkah. Agar kasus ini segera tuntas dan kita dapat hidup dengan tenang lagi.” Kataku.


“Aamiin…!” jawab isti dan Rofiq bersamaan.


“Apaan nih kok pakai Aamiin aamiin kayak kenduri aja “ tiba tiba Samsudin nongol dibelakangku.


“Dasar kamu muka besek dari dulu, tahunya Cuma kenduri aja.” Ktaku pada Samsudin.


Isti yang sudah hafal dengan gaya komunikasi kami hanya senyum senyum saja.


“Suek lo, ngatain aku muka besek dasar Yasin si anak jahil.” Balas Samsudin.


“Tadi kudengar kalian bialang Aamin, ada apa sebenarnya. Kalian doakan apa ?” Tanya Samsudin kepo.


“Ini abangku mau melamar Arum ibunya Sidiq, jadi kami berharap dengan berkah pernikahan nanti dapat memudahkan kasus ini cepet selesai.” Isti yang menjawab pertanyaan Samsudin.


“Wah kapan itu, sekalian saja dipercepat, kalo bisa sebelum aku dan Eis pulang ke bandung. Biar bisa ikut hadir mengharap berkahNya, agar Eis bisa cepet hamil juga.” Jawab Samsudin.


Aku yang menunggu moment untuk membalas Samsudin langsung menyahut.


“Iya Din, tapi usaha tu harus kahir batin, meski kamu ajak Sidiq dan memohon pada Allah saat proses akad nikah bang Rofiq dan Arum. Kalo tiap malam bini kamu, Cuma kamu tiinggal tidur juga gak bakalan hamil hamil !” selorohku pada Samsudin yang lantas disambut tawa Rofiq.


“Wkakaka,,,, lo bisa aja Zain mang kamu tahu kalo tiap malam hanya ditinggal tidur.” Kata Rofiq. Sementara Isti meras tidak senang dengan guyonan kami kemudian melangkah pergi dengan wajah cemberutnya.


“Dasar kalian para lelaki, kalo ngomong gak pakai dipikir dulu….!” Gerutu Isti.


...bersambung...


Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.


Komentar readers semangat Author


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...

__ADS_1


 


__ADS_2