Isyaroh

Isyaroh
Pertempuran dengan Ajar Panggiring 1


__ADS_3

🌷🌷🌷


Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.


Semoga tetap bisa menghibur.


🌷🌷🌷


Selamat membaca


...........


Episode lalu


Setelah membaca Al-Quran satu juz aku langsung masuk ke kamar dan disusul Fatimah.


“Mas, Hati hati ya nanti jangan sampai lengha dan jangan sampai terpancing emosinya. Ingat Aku dan anakmu masih mengharapkan kamu kembali utuh. Fatimah gak mau kamu terluka mas.” Ucap Fatimah sambil menangis membuatku juga menjadi sedikit ragu ragu dan Was was. Tapi harus bagaiana lagi gakada pilihan lain saat ini. biar maslah segera tuntas, aku harus segera hadapi Ajar Panggiring. Baru yang lainya meskipun aku tidak boleh mengajak sena, pikirku.


“Doakan saja ya semoga suamimu ini bisa kembali dengan Selamat. Aku juga masih ingin selalu bersamamu danmelihat amak kita lahir besuk.” Jawabku pada Fatimah.


Kemudioan Fatimah tampak berkaca kaca entah apa yang dia pikirkan, aku berprasangka baik saja jika aku disuruh sendir maka aku dipandang mampu menghadapi Ajar Panggiringseorang diri, meski harus dengan kewaspadaan penuh,pikirku.


*****


Episode ini


Aku berpikir ada sesuatu dibalik perintah Yuyut, kenapa aku tidak boleh mengajak Sena. Pasti bukan hanya karena kasihan dengan anak istri Sena saja. Akan tetapi pasti ada alasan lain yang tersembunyi, danmasih dirahasikan dariku.


Bukan aku gentar dengan Ajar Panggiring, tapi hanya sedikit heran dengan perinth Yuyut kali ini. seperti saat aku disuruh beradu fisik dengan Khotimah adik sepupu istriku. Ternya semua sudah diatur sedemikian rupa tanpa sepengetahuan aku dan Khotimah.


Aku terlelap dalam pelukan istriku yang seakan tidak merelakan aku nanti malam pergi mencari Ajar Panggiring. Aku memahami ketakutan istriku tersebut dikarenakan sudah beberapa kali aku memang nyaris kehilangan nyawa. Terakhir saat terkena tembakan beberapa waktu yang lalu.


Bahkan saat aku terbangun pun Fatimah seakan tak mau lepas dariku, hal itu justru membuatku jadi agak ragu meninggalkan Fatimah nanti malam. Aku juga merasakan kesedihan jika mengingat harus meninggalkan istriku lagi dalam urusan ini. Tidak seperti ketika hendak berangkat ke tempat kang Salim, rasanya kali ini ada sesuatu yang seakan menahan kepergianku. Atau mungkin ada keraguan dalam hatiku saat ini untuk menghadapi Ajar Panggiring, yang mungkin juga sekaligus bertemu dengan Maheso Suro sebagi pemimpin gerakan mereka.


Waktu yang terus berjalan, akhirnya sampailah waktu aku harus berangkat menemui Ajar Panggiring. Atau lebih tepatnya memancing Ajar Panggiring keluar dari sarangnya untuk bertemu langsung dan menyelesaikan permusuhan.


“Berangkatlah sekarang ke watu kemloso, carilah dia disekitar watu kemloso ada sebuah gua kecil. Disana dia dan gurunya mengasah ilmu hanya berdua. Ketika gurunya sudah pergi temuilah Ajar Panggiring dan ajak dia kejalan yang benar jika dia melawan barulah kalo terpaksa kamu boleh gunakan kekerasan.” Ucap Yuyut.


“Tapi Yut, kenapa tidak langsung saja diajak berantem saja. Bukankah dia sudah jelas memilih jalan yang sesat ?” tanyaku pada Yuyut.


“Kamu kan tahu, saat Nabi Musa yang diperintah Allah menemui Firaun pun tetap disuruh mengajak kembali ke jalan yang benar dulu bukan disuruh memerangi. Itu saja Allah yang memerintah Langsung ke nabi Musa. Lah kamu kan bukan Nabi musa dan Ajar Panggiring juga bukan Firaun yang mengaku tuhan. Siapa tahu Hidayah akan diberikan Allah pada Ajar Panggiring hingga dia sadar. Tugasmu hanya menyampaikan saja bukan menghakimi orang.” Ucap Yuyut setengah membentak.


Akupun jadi sadar akan kesalahanku.


“Iya Yut, maaf saya lupa yut.” Jawabku.


“Pokoknya kamu jangan membantah jika Yuyuh suruh, ikuti saja apa kata yuyut. Yuyut tidak akan enyuruh kamu melanggar syariat jadi tak ada alasan buat kamu melanggar.” Ucap Yuyut.


Kemudian setelah aku mempersiapkan sarana yang mungkin akubutuhkan nanti seperti penabuh gong dan lainya aku segera berpamitan pada semuanya. Termassuk pada Fatimah istriku, yang tak dapat menyembunyikan tangisnya.


“karena aku saat ini mau pergi untuk urusan agama kita, maka lepaskan kepergianku dengan lantunan adzan dan iqomah. Dan saat iqomah pada lafadz qod qoomati sholah ganti dengan qod qoomati Salamah. Dengan harapan aku bisa kembali dengan selamat, meski aku sudah mengikhlashkan jika terjadi sesuatu padaku nanti. Bang rofiq tolong kumandangkan adzan dan Iqomah bang.” Ucapku penuh haru namun kutahan setegar mungkin aku gak mau dilihat sedih oleh Fatimah istriku.


Rofiqpun melafadzkan Adzan melepas kepergianku dilanjutkan iqomah dengan cara seperti yang aku minta tadi. Kemudian aku melangkah keluar rumah, bismillahi tawakaltu ‘alallah doa kulafdzkan pelan dan sambil berjalan aku mempercepat langkahku menuju lokasi yang dimaksut agar tidak terlambat sampai disana.


Aku berjalan mengambil jalan pintas kea rah watu kemolos yang jaraknya cukup jauh. Aah seandainya ada mbah Hadian yang bisa bantu aku dengan Sayeti anginya pasti lebih cepat sampai, kataku dalam hati. Sekedar menghibur diriku sendiri, agar tidak terlau jenuh berjan sendiri ditengah malam melewati medan sungai dan hutan serta terjalnya tebing tebing yang harus aku daki.


Saat aku menaiki tebing kecil dan berhasil sampai diatas, hampir separuh perjalanan, masih setengah perjalanan lebih yang harus aku lalui. Dinginya angin malam tak kurasakan namun tiba tiba kabut turun mengganggu pandanganku ehingga aku harus ekstra hati hati dalm melangkah. Penerangan lamu senter yang kubawa seakan tak sanggup menembus pekatnya kabut.


Dan saat aku mencoba menyorotkan senter kedepan, aku hampir saja meloncat kaget melihat sesosok wajah yang tiba tiba muncul.


“Astaghfirrullah…!” jeritku karena kaget.


“Ayo cepet wektumu selak entek, tak gendong wae saiki.”( Ayo cepat waktumu hampir habis, aku gendong saja.) Ucap sosok itu yang ternyata sosok yang mirip mbah Hadian kakek adik sepupu dari Kakek Sidiq Ali.

__ADS_1


“Mbah jenengan kok ten riki ?” ( kek kamu kok disini ) tanyaku.


Tanpa menjawab aku malah langsung dibopong dan dibawa lari secepat Angin. Dan tahu tahu sudah berada di dekat watu kemloso.


“Kae panggonane neng walike bukit cilik kui, kowe munggaho bukit cilik kui tapi ngati ati ojo sampek konangan. Nungguu Joyo maruto llungo kowe lagi nemoni Ajar Panggiring.” Kata mbah Hadian.


(Itu tempatnya di balik bukit kecil kamu naik tapi hati hati jangan sampai ketahuan. Menunggu Joyo Maruto pergi kamu baru menemui ajar panggiring )


“Njih mbah.” Ucapku pelan.


“Wis aku tak bali.” ( Sudah aku mau pulang )Kata mbah Hadian dan sekejap saja sudah tak kelihatan lagi.


Aku segera menaiki bukit kecil itu tanpa kendala dan bersembunyi dibalik sebuah batu yang cukup besar sehingga tak Nampak dari bawah. Namun aku masih bisa mendengar pembicaraan dua orang itu meski agak samar.


Joyo Maruto : “Kamu kutinggalkan disini, asahlah kemampuan kamu mengendalikan jiwa seseorand disini. Ucapkan mantera yang barusan aku ajakan, dan laku yang kemarin aku perintahkan sudah kamu lakukan. Saat ini waktunya kamu merapalkan mantera mantera pengendali sukma setingkat lebih tinggi dari sebelumnya.”


Ajar panggiring : “Injih guru…!”


Joyo Maruto : “Mulai bacalah sambil konsentrasi nanti aku langsung pergi, dan besuk kamu ke padepokan jangan lupa teman teman amu dalam mencari sarat sudah harus dapat.”


Ajar Panggiring : “Njih Guru…!”


Diam sejenak :


Ajar Panggiring komat kamit :


“……..Aku kekancan sukma, aku balane sukma, aku nyekel Sukmamu, aku ngatur sukmamu, aku ngobahke ragamu. Sukmamu neng tanganku ragamu manut pikiranku, obahmu krono aku lakumu korono aku kekarepanku tak wujutke kanti obahe awakmu…… dan seterusnya.


( ….. aku berteman sukma, aku punya pasukan sukma, aku memegang Sukmamu, aku mengatur sukmamu, aku menggerakan raga / jasadmu. Sukmamu di tanganku ragamu menuruti pikiranku, gerakmu karena aku langkahmu karena kemauanku aku ujutkan dengan gerakan tubuhmu……sensor )


Aku melihat joyo maruto pergi secepat kilat, aku juga heran apakah dia juga punya Sayeti angina tau jenis ilmu lain lagi, batinku. Setelah memastikan aman tidak ada joyo Maruto aku bergerak pelan sambil mendengarkan Ajar panggirning yang masih membaca mantera mantera mungkin sudah hampir masuk bait bait akhir mantera itu.


Tiba tiba aku jadi merinding, ada kehadiiran makhluk makhluk Astral yang cukup banyak kurasakan pada saat itu. apakah itu para khodam yang dipanggil ajar panggiring dengan mantera tersebut, pikirku. Aku harus cepat menuruni bukit kecil ini dan menghentikan Ajar Panggiring membaca mantera sebelum kehadiran makhluk astral menjadi semakin banyak lagi.


Ajar Panggiring :


( ……. Sukma sukma penasaran jadi pasukanku, sukma sukma penasaran jadi bawahanku, sukma sukma penasaran kemarilah, kemarilah aku mengundang bawa makanan, aku mengundang sukma sukma penasaran berikut pemimpin pemimpinya….. sensor )


“Hentikan perbuatan sesatmu itu Ajar Panggiring….!” Bentakku.


Sonata ajar panggiring kaget dan marah karena ritualnya aku gagalkan.


“Kurang ajar kamu, dasar bocah sudah bosan hidup. Berai mengacau semedi dan ritualku !” bentak Ajr panggiring.” Yang belum mengenali wajahku dengan jelas karena malam gelap hanya ada cahaya dari bulan sabit yang tertutup tebalnya kabut.


“Sudahlah, buat apa kamu bersekutu dengan para jin yang menyesatkan kamu. Jangan kau ikuti langkah Joyo Maruto gurumu yang sesat pemuja Iblis itu.” kataku.


Mendengar aku mnyebut gurunya pemuja Ibis Ajar panggiring langsung marah dan berusaha memukul aku. Namun dengan mudah aku menangkis pukulanya, meski tidak langsung melancarkan balasan.


“Sudahlah, kau gak mau ribut kesini, kau hanya bertujuan mengingatkan kamu untuk kembali kepada ajaran agama yang benar. Caramu itu salah, bersekutu dengan Jin bahkan mengabdikan diri kepada Jin. Jangan marah kalo aku sebut gurumu pemuja Iblis, karena memang kenyataanya seperti itu. makanya sebelum kamu terlalu jauh aku ingatkan jika apa yang kamu lakukan itu salah.” Ucapku.


“Simpan saja khutbahmu itu, aku gak butuh khutbahmu. Aku punya cara sendiri untuk mencapai kebahagian hidupku.” Ucap Ajar Panggiring.


“Konyol kamu, dengan cara hidup sepertimu yang selalu berbuat keji kamu merasa bahagia, dengan memasukan jin jin khoda kamu iti untuk mengendalikan perbuatan manusia demi keinginanmu pribadi.” Kataku pada Ajar panggiring.


“Tutup mulutmu, cepat pergi dari sini jangan ganggu ritualku mala mini aku sudah gak punya waktu.” Bentak Ajar Panggiring.


“Kamu salah, aku kesini memang mau menghentikan ritual sesatmu itu kau panggil jijn jijn itu untuk kau jadikan budakmu. Tapi hakekatnya kamulah yang jadi budak mereka agar kamu tersesat dan menmpuh jalan yang salah.” Jawabku enteng.


“apa peduli kamu dengan aku sesat atau tidak ?” katanya.


Sebenarnya gak pedui dan bukan urusanku juga, tapi karena kamu juga telah mengusik keluargaku maka itu jadi urusanku sekarang.” Kataku ikut membentak.


Ajar Panggiring diam sejenak sebelum menjawab. Kemudian tertawa sambil berkata sombong.

__ADS_1


“wkakakaka,,,,,Owh aku tahu sekarang, kamu yang disebiut sebut Yasin itu ya, baru kali ini kita bertatap muka langsung. Beraninya kamu mengantarkan nyawa kesini, meski tugasku bukan untuk membunuhmu namun bukan berarti aku tak mau membunuhmu. Karena kamu sudah mengganggu ritulku.” Berkata begitu Ajar panggiring langsung melancarkan pukulan mematikan kearah ulu hatiku. Untung aku tanggap dan sempat melompat mundur dan menepis tangan Ajar panggiring.


Namun tangan yang aku gunakan untuk menepis tangan Ajar panggiring terasa seperti menyentuh bara apai yang panas. Hingga aku sedikit berteriak mengaduh dan melompat mundur kembali.


“Kenapa, tanganmu panas, masih untung tidak menyentuh dadamu, kalo kena bisa hangus dada kamu hei bocah.” Ucap Ajar Panggiring dengan Sombongnya.


Aku tak mau ambil resiko lagi, aku mengerahkan tenagaku untuk memagari tubuhku dari pengaruh jin khodam Ajar panggiring.


Dan saat terjadi benturan selanjutanya hawa Panas yang ditimbulkan oleh khodam Ajar panggiring tak lagi mempengaruhi aku. Hmm ternyata benar yang namanya sihir itu hanya seperti ilusi saja.


Setiap pukulan dan tendangan Ajar Panggiring aku tepis dengan mudah tanpa merasakan kesakitan atau kepanasan lagi. Hingga pada satu kesempatan aku mendapat peluang yang sangat tepat untuk melancarkan pukulan telak dengan mengerahkan kekuatan lahir dan batin tepat mengenai rusuk Ajar Panggiring sampai menimbulkan suara gemeretak seperti tulang iganya retak.


Buuuk…krrreek….. ehhhheeeggh


Ajar Panggiring jatuh terjungkal, masa hanaya segini kemapuan Ajar Panggiring. Apa karena ini yuyut melarang aku mengajak Sena, pikirku.


Namu ternyata aku salah sangka dan terlalu menganggap remeh lawan, dalam posisi terjatuh Ajar Panggiring melemparkan sesuatu ke wajahku. Dan ternyata berbentuk bubuk warangan ( racun ) sehingga aku tak dapat menghindarinya. Meski sepintas tak merasakan apapun hanya seperti terkena debu biasa. Namun setengah menit kemudian wajahku menjadi panas dan bahkan mataku teras sangat perih dan berair. Sehingga aku tak mampu membuka mata karena kalo dibuka terasa sangat panas. Mataku hanya bisa terpejam dan terus menerus menguarkan air mata.


Semoga pengaruh racun ini cepat hilang, sehingga aku bisa membuka mataku. Kalo tidka bisa berbahaya jika ajar panggiring sudah mampu bangkit tapi aku belum bisa membuka mataku.


“Raskan warangan ciptaan guruku, matamu akan menjadi buta permanen karena racun itu. atau kamu gak akan sempat merasakan jadi orang buta karena sebentar lagi nyawamu akn melayang.” Ucap Ajar Panggiring. Karena terlalu lamau memejamkan mata dan berusaha mencari sesuatu unutu pegangan, aku yang bergerak berputar putar dengan meraba raba itu sampai lupa arah. Sehingga sumber suara Ajar panggiringpun seperti sudah berpindah tempat dari saat dia jatuh. Apakah Ajar Panggiring sudah bisa bangkit atau aku yang sudah lupa arahangin ya, pikirku sambil menahan perih di mataku yang belum mampu kubuka sedikitpun. Untunglah air mataku masih punya stok banyak hingga terus mengalir semoga ikut mengeluarkan racun yang masuk kemataku, batinku.


Tiba tiba kepalku seperti di pukul, dan aku berusaha menagkap tanganya secepat mungkin. Namun ternyata aku tertipu aku tidak dipukul melainkan hanya dilempar dengan bongkahan tanah saja.


“Ha ha ha… rupanya kamu sudah beneran menjadi buta sekarang,  meskipun kamu berhasil menjatuhkan aku tadi, namun sebentar lagi aku juga akan dengan mudah mempermainkan tubuhmua karena kau tak mampu melihatku sekarang.” Ucap ajar Panggiring sambil melempari aku dengan batu batu kecil. Bukan mau membunuhku langsung, tapai kayaknya dia menikmati mempermainkan aku dan berharap dapat membunuhku pelan pelan.


Satu dua lemparan batunya mengenai wajah dan kepalaku, meski tidak terlalu sakit namun membuat aku semakin marah dipermainkan begini. Namun apa daya akua yang tak mampu meliht jangankan membalas menangkis atau menghindar. Melihat dimana posisinya Ajar panggiring saja aku tidak mampu.


“Huaaaaaahhhhg membosankan melempari kamu seperti melemperi monyet htan saja, kali ini aku akan memukuli kamu saja seperti memukuli anjing liar, wkakaka,,,,!” Ajar Panggiring dan kemudian kudengar lanhkah kaki Ajar Panggiring meski terdengar agak susah, mungkin sambil menahan sakit tulang rusuknya yang retak. Tapi inji bisa bahaya, bisa jadi dia juga akan memukul rusukku sampai patah juga, sebelum menyiksaku sesuka hatinya nanti, batinku.


Dan….


Buuuk…. Punggungku teras dipukul dengan keras, kemudian


Buuuk gentian pinggang kananku juga kena pukulan lagi.


“Ha ha ha… mana Yasin yang katanya berani dipukulin diam saja gak bisa balas.” Teriak Ajar Panggiring yang puas bisa menyiksa aku yang tidak dapat membuka mataku.


...bersambung...


Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.


Komentar readers semangat Author


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...


 

__ADS_1


__ADS_2