Isyaroh

Isyaroh
Kebesaran hati Fatimah


__ADS_3

Dialog akhir episode sebelumnya


Ok makasih Isti, anak tiriku ganteng juga. Fatimah mau kok rawat dia juga. Tapi tanpa ibunya tentunya."


Chat ku kemudian.


" Sukurlah Fat, gimanapun juga, dia anak suamimu. Jadi rawatlah dia seperti anak kandungmu !"


jawaban chat Isti.


" Iya Is !" jawab Fatimah.


Fatimah merasakan keresahan mas Yasin selama ini. Keresahanya, ketika menyadari lahirnya anak tak berdosa. Yang lahir akibat perbuatan dosanya, dosa dua orang insan yg dimabuk asmara.


Dan disaat mas Yasin suamiku hijrah, kemudian menikahiku dan muncul banyak problematika. Pernikahan yang dilandasi takdhim dan tawadhu tapi akhirnya menumbuhkan cinta yang mengakar kuat. Tidak sekedar tumbuh menjulang tinggi, tapi mengakar kuat dihati.


Dari akar yang kuat itulah, kita mampu bertahan menahan prahara yang datang silih berganti.


Diawali memulai hidup dari Nol, baik secara finansial maupun dalam menyesuaikan perasaan. Dimana awalnya sebatas teman biasa tanpa ada rasa cinta. Kemudian hidup bersama, dalam mahligai rumah tangga.


Begitu canggung, ketika hendak berangkat tidur. Bahkan saat awal Fatimah terbangun sering kali kaget, hampir teriak. Ketika terbangun ada sosok laki laki dalam satu ranjang. Lupa bahwa Fatimah sudah dinikahi olehnya.


Suasana begitu tidak sekali dua kali Fatimah rasakan. Sulit menerima keadaan diri ini sudah jadi istri orang. Apa lagi orang itu bukan orang yg Fatimah cinta.


Begitupun dengan dia, Fatimah tahu bukan Fatimah yg dia cinta.


Ketika Fatimah ingat saat itu, dimana berkali kali tidur berdua seranjang tapi tetap saling diam.


Fatimah merasakan bahwa, suami Fatimah pun tak ingin menggunakan status suami istri untuk memaksa. Suami Fatimah saat itu tak pernah memaksa Fatimah melayaninya.


Hingga satu malam, Fatimah pura pura tertidur dan memeluknya. Saat itu Fatimah lihat mas Yasin kaget dan canggung. Antara membalas pelukan Fatimah, membiarkan atau bahkan membalas lebih dari pelukan.


Lama dia tampak salah tingkah, meski Fatimah tahu dan rasakan gelora Asmaranya mulai tergoda. Begitupun yang Fatimah rasa.


Hingga Fatimah beranikan diri membuka mata.


" Mas, kenapa panik ? Bukankah kita sudah resmi suami istri ?" tanya Fatimah saat itu.


" Eeh iya.. Mas masih takut kamu marah jika mas sentuh kamu !" jawab mas Yasin jujur.


" Gak kok mas Fatimah udah bisa terima kondisi kita. Tapi semua terserah kamu mas, Fatimah sadar dihatimu juga masih ada cinta untuk yang lain." ucap Fatimah waktu itu.


Dari obrolan kecil itu akhirnya Fatimah serahkan kesucian Fatimah padanya, tanpa penyesalan. Yang kemudian jadi awal yang berkelanjutan.


" Aah jika mas Yasin masih seperti dulu, tentunya akan meminta hak nya sebagai suami dari sejak malam pertama. Tak perduli ada rasa cinta ataupun tidak.Toh nyatanya tidak begitu, mas Yasin tidak menuntut hak dia sebagai suami pada Fatimah istrinya. Mungkin justru Fatimah berlebihan semalam dalam menilainya buruk ." bisik Fatimah dalam hati.


Akhirnya, makin kesini makin aku merasa, mencintai. Meski masih ragu, apakah mas Yasin juga bisa mencintai Fatimah dan meninggalkan Eis, membuang nama itu dari hatinya.


Peristiwa yg tak mungkin Fatimah lupakan seumur hidup Fatimah.


Peristiwa ungkapan atau komitmen hidup suami istri tulus terucap.

__ADS_1


" Semenjak Aku mengucapkan akad nikah. Aku Terima Nikahnya Fatimah binti Abdul Hamid dengan mas Kawin Sebuah kitab Nahwu Shorof dibayar tunai. Sejak saat itu, aku berjanji akan mencintai kamu, menyayangi kamu melindungi kamu dan siap menjadi Imam kamu.


Jadi suami yg baik bagimu, jadi ayah yg baik bagi anak anak kita nanti. Dan sejak itu pula aku hanya ingin mengukir satu nama wanita dihatiku yaitu kamu Fatimah Istriku....! " ucapnya serius setelah kudesak mengatakan perasaanya padaku Fatimah Istrinya.


Saat itu usai kami makan siang bersama dengan suasana Romantis yang pertama kalinya kami rasakan. Sejak pernikahan kami.


Fatimah sampai menangis haru mendengarnya. Tanganku yang tadi kaku lurus kebawah. Langsung memeluknya sangat erat. Kepalaku kusandarkan ke dadanya, sehingga isak tangisku berirama dengan detak jantunnya.


" Mass... maafkan imah, sudah berburuk sangka. Tapi aku gak mau berpisah lama lama. Imah gak ingin, mas Yasin berjuang sendiri sementara imah hanya sembunyi. Ijinkan Imah tetap mendampingimu kemanapun, dimanapun dan apapun yg terjadi..." Kata Fatimah.


Aah jika ingat peristiwa dulu, apalah artinya keburukan masa lalu suamiku. Fatimah janji bantu besarkan Sidiq anak mas Yasin suamiku, berarti anakku juga. Meski bukan lahir dari rahimku. Tapi jiwa suami adalah jiwa Fatimah juga.


" Mbak Fatim... melamun aja ?" suara Khotimah mengejutkan Fatimah.


" Gak ni lagi liatin foto anak mas Yasin !" jawabku pada Khotimah.


" Mana coba lihat ?" pinta Khotimah.


Kamudian kami berdua memandangi Sidiq dalam foto dilayar ponnsel.


" Wuih ganteng banget mbak !" seru Khotimah.


Belum sempat kujawab, dikejutkan suara ibuku.


" Siapa yang ganteng Khot ? disuruh siapin sarapan malah ngrumpi !" seru ibuku.


" Udah kok bude tinggal bawa krruang makan." sahut Khotimah.


Tanpa kujawab menu sarapan kami bawa keruang makan kelurga.


Semua sudah berkumpul diruang makan.


" Ayo semua sarapan dulu !" Ajak bapakku pada semua.


Ibu mengambilkan sarapan buat bapakku, senelum mengambil untuk ibu sendiri.


" Kamu ambilin suami Fat, baru ambil buatmu sendiri !" perintah ibu padaku.


" Iya bu !" jawab Fatimah.


Kemudian Fatimah ambilkan sarapan buat mas Yasin.


" Segini atau tambahin mas ?" tanya Fatimah.


" Udah dikit saja !" jawab mas Yasin.


Suasana makan pagi saat itu agak beda. Mas Yasin masih kelihatan canggung, Fatimah jadi iba melihatnya.


" Bapak Ibu, Fatimah mau bicara sebentar. Sebelum nanti berangkat ke jogja." ucapku membuka pembicaraan.


" Ada apa Fat, kok kayak serius amat ?" tanya bapapkku.

__ADS_1


Fatimah lihat mas Yasin, tampak raut mukanya ada kecemasan.


" Fatimah mau bicara jujur pada semuanya. Perihal perasaan Fatimah atas pengakuan mas Yasin semalam." Aku menjeda pembicaraanku. Sambil menata hati dan menyusun kalimat.


Kulihat wajah suamiku yang semakin tegang, Fatimah jadi gak tega.


" Mas, kamu tenang saja jangan tegang begitu !" ucapku mernghiburnya.


Namun justru kulihat dia semakin pucat wajahnya.


" Kamu gak berubah oikiran kan sayang ? Kamu bilang semalam mau memaafkan aku ?" seru mas Yasin dengan berkaca kaca.


Mungkin dia mengira aku berubah pikiran. Fatimah jadi makin tak tega melihatnya.


" Iya Fatimah tidak berubah pikiran, tai tolong dengarkan dulu Fatimah bicara !" seruku agar dia tenang.


"Yaudah mas dengerin !" sahut suamiku.


" Begini, saat ini Fatimah sudah ikhlas mempunyai anak tiri dari mas Yasin suamiku. Dan setelah Fatimah pikir pikir, akan lebih baik jika Sidiq tinggal dengan Fatimah. Agar tidak ada alasan bagi mas Yasin berkunjung ke rumah Arum ibunya Sidiq. Jujur aja, hati Fatimah masih ada rasa cemburu jika mas Yasin ketemu sama Arum !" ucapku menjelaskan.


" Terus kalo ibunya Sidiq keberatan dia kamu asuh gimana ?" tanya ibuku.


" Ya harus mau bu, kalo gak mau ya jangan temui mas Yasin sekalian !" jawabku dengan intonasi tinggi.


" Mas sanggup Fat, biar nanti Isti yang bantu bicara ke Arum. Sekalian biar bisa deketin Arum sama kakaknya Isti." ucap mas Yasin


" Beneran ?" tanyaku pada mas Yasin.


" Iya mas janji, kamu mau maafin mas aja mas udah seneng. Apa lagi kamu bersedia rawat Sidiq. Mas sangat berterima kasih padamu !" ucap mas Yasin sambil nangis.


Kemudian memelukku dan menangis haru dalam pelukanku.


Setelah peristiwa haru itu kami segera bersiap berangkat ke Jogja.


Note : Kebesaran hati seorang wanita, mampu meluluhkan hati seorang lelaki.


...bersambung...


mohon maaf, karena satu dan lain hal. Struktur, retorika dan gaya bahasa sedikit ada perubahan. Tanpa mengurangi isi dan tema cerita.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...

__ADS_1


...🙏🙏🙏...


__ADS_2