
Percakapan akhir dengan Arum di episode sebelumnya :
Arum tahu kok, dihati mas hanya ada istri mas yg syah
Arum kan bukan siapa siapa mas
Arum juga janji, gak akan ganggu kebahagiaan keluarga mas
Arum akan berusaha melupakan mu mas.
( Aku hanya diam takut salah ucap )
"Kok diem saja mas ? "
" Antara keinginan dan kenyataan itu tidak selalu sama. Oleh karena itu, kita harus bisa menerima kenyataan. Bukan sekedar mengejar keinginan."
" kita pernah punya keinginan yg sama, untuk hidup bersama Itu adalah keinginan."
"Tapi kita tak bisa bersama itu adalah kenyataan, yg harus kita terima."
"Sidiq anak kita itu kenyataan, tapi.
aku sudah beristri itu juga kenyataan yg juga harus kita terima."
"Bahwa kita pernah melakukan dosa itu juga kenyataan.
Maafkan aku untuk itu, aku yg salah.."
"Tapi itulah yg sudah terjadi.
Kenyataan masa lalu dan saat ini yg harus kita terima."
" Iya mas....
Arum ngerti kok.
Arum tidak menuntut banyak...! "
" Mas mau mengakui Sidiq sebagai anak, mau ikut mendidik Sidiq, itu sudah lebih dari cukup."
" Ya udah mas gitu dulu. "
" Sebentar Rum.
Aku saat ini sudah taubat, kuharap kamu juga mau berubah."
" Didiklah Sidiq dengan Agama.
Biasakan ucapkan salam..."
" iya mas...
Assalaamu 'alaikum..."
" wa'alaikummussalam..."
Pembicaraanku dengan Arum sedikit melegakan hati. Minimal Arum tidak lagi menaruh dendam dan tidak khawatir mengganggu Fatimah istriku.
Dan aku merasa punya tanggung jawab untuk mencarikan dia suami sebagai pendamping hidupnya.
Biar dia juga bisa merasakan bahagia hidup berkeluarga.
.......
Kumandang adzan maghrib terdengar, Tapi Amir belum juga pulang. Kok lama banget, beli makanan nya. Tapi ada untungnya juga sih, dia jadi gak tahu aku habis telpunan.
" Pak Malik, kalo mau ikut jamaah maghrib masuk dulu pak ! " Aku persilahkan polisi itu masuk.
" Baik pak " jawabnya singkat
Sesaat setelah itu Amir datang, bawa nasi bungkus. Ah makan dulu saja, takut dingin.
" Kok lama Mir " Tanyaku
" Antri pak, sekalian beli gorengan tadi."
" Ya sudah, ayuk makan sekaliyan sini. Ambil iring dan sendok sana ! " kataku.
" ya Pak " jawab Amir
Kami makan bertiga, kemudian jamaah maghrib. Dan dilanjutkan Obrolan dengan teman teman Amir yg biasa mujahadah plus ada beberapa anak baru.
" Assalaamu 'alaikum wr wb...
Marilah kita sama sama panjatkan puji Sukur kita kepada Allah Swt, serta Sholawat dan salam semoga dicurahkan pada Baginda Rasulullah saw, para Shohabat, Tabi'in, Tabi'it tabi'in dan semua pengikutnya hingga akhir zaman....
Aku membuka percakapan dengan prolog standart Majlis Ta' lim.
" Bapak sangat bersukurbpada Allah, dimana saat ini bapak baru diuji dengan Fitnah...."
Salah satu jamaah bertanya :
" Maaf pak, dapat Fitnah kok bersukur ? Bukanya bersabar pak ?!? "
" Betul,
Ketika kita dapat musibah, seperti Fitnah misalnya Kita wajib bersabar. Tapi tingkatan di atas sabar adalah sukur.
Karena orang yg bersukur itu pasti sabar. Tapi orang bersabar belum tentu bersukur " Jelasku pada mereka.
" Kemudian, menghadapi orang orang yg tidak senang dengan kita dan menyerang kita apa cukup dengan sabbar pak " Amir mengajukan pertanyaan.
" Jelas harus Sabar...! "
" Kalo kita hanya sabar, tidak melawan, apa kebatilan tidak meraja lela pak !?! "
" Sabar itu bukan sekedar diam, sabar itu ikhlash menerima kenyataan. Termasuk menerima kenyataan kita dimusuhi orang.
Dan dulu, Zaman nabi ketika diperangi musuh. Mereka kaum muslimin bersabar, bersabar ketika harus angkat senjata. Bersabar ketika harus berperang dgn resiko mati Syahid.
Jadi sabar itu bukan diam, tapi tidak mendahului menyerang "
" Kalo kita sudah dihina dan dilecehkan, sabar kita seperti gimana pak ? " Tanya Amir.
" Sabar kita mendiamkan, atau jika terjadi perdebatan sanggah dengan argumen. Jangan pernah gunakan kekerasan. ! "
" Kalo mereka menyerang ? " seru Amir.
" Kita menghindar " jawabku.
" Kalo mereka terus mengejar dan menyerang ? " tanya lanjut Amir.
" Kita Bertahan, tapi jangan menyakiti mereka !" jawabku
Meskipun kita bisa mengalahkan mereka, tapi menghindari pertikaian jauh lbh utama ! " ucapku.
" Maaf pak...
Jika kemarin hampir semua bb memusuhi bapak. Sekarang ini sebagian sudah mendukung bapak. " seru Heri.
" Terus....? " Tanyaku
" Jika ada yg minta tlg bapak, urusan agama apakah bapak masih mau ? Karena saat ini bapak tidak jadi Rois lagi " Heri yg baru ikut pertama kali, lgsg bertanya panjang.
" Jika masalah itu berhubungan dengan urusan Rois ya biar Amir saja kan sama saja. jika diluar itu, ada yg minta tlg Apapun selama bapak sanggup, tetap bersedia..." kataku.
Begitulah setiap habis maghrib kita selalu mengadakan kajian ringan.
Dan selama Rumahku dijaga polisi justru yg ikut makin banyak.
Jika tadinya hanya pemuda, sekarang bapak bapak juga ada yg ikut.
Bahkan ibu ibu pun ada yg pingin ikut.
Tapi berhubung Fatimah istriku dak dirumah, aku pending dulu.
" السلام علیكم و و
Sayang, maaf mas masih di jaga ketat polisi dirumah. Belum bisa jenguk Fatimah.
Besuk habis tujuh harian mbahnya pak Yadi baru bisa jenguk, diantar pak Yadi.
وعلیكم السلام و و
"ya mas...
yg penting mas jaga kondisi,
Fatimah bantu doa dari sini "
"Bersama bpk ibu juga sepupu kita Khotimah"
Owh iya, gimana kabar dia. masih ganjen gak ?
Mas suka kangen tingkahnya yg lucu..
Baik kok mas, ni khotimahnya juga ikut baca WA kok..hihihi...
Dih jahat kamu say, kok di baca berdua ?
Tahu tahu istriku malah ngajak VC :
Assalamu 'alaikum sayangku istriku dan juga sepupuku yg ganjen Khotimah...."
"Wa 'alaikummussalam...
" Wa 'alaikummussalam mas iparku yg genit juga.
Ni mbak Fatim kalo malem suka lupa meluk aku dikira mas, kalo tidur, hihihi...! "
" Eeeh bohong mas....! "
" Iya juga gak papa kok....! "
mas juga kalo malem suka lupa mau peluk Fatimah, hehehe..."
" Terus peluk siapa mas..?"
" Peluk Seli... hehehe...! "
" Owh gitu ya, siapa tu Seli...?"
( Fatimah sewot )
" Seli.... Selimut tidur mu sayang...
"Wkakaka... "/
" Iiiih Nyebelin buangeeet...
Fatimah sampai.....??? "
" Mas bisa aja godain istri mas,
Khotimah gak bisa bayangin kalo kalian lg berduaan...!?! "
" Jangan dibayangin ntar pingin belum waktunya, hehehe..! "
"Yeee...
" Rasain kena dikerjain suamiku, hihihi...! "
"Aduh kompak suami istri...!"
__ADS_1
" Iya dong...! "
" Iya dong...! "
( Aku dan Fatimah kompak )
" Iya deh iya...!"
" Yaudah say kita tutup dulu biar khotimah gak makin pingin.
"Huh dasar....!!! "
" Iya mas..
Eeh mas, Fatimah minta Cium dulu donk...
"Emmmhhuuuaaaah
yaudah Assalaamu 'alaikum...
Fatimah, khotimah...
"Wa ' alaikummussalam..
"Wa ' alaikummussalam mas...
Saat saat begini benar benar memberiku spirit. Terasa hidupku utuh jadi manusia. Punya istri yg saling mencintai dan sebentar lagi punya anak.
Sebentar lagi....?
Bukanya memang sudah punya ?!?
Ah jadi inget Sidiq...!!!
..............
Berjalanya waktu tak terasa proses persidanganku akan segera dilakukan.
Agak grogi juga ternyata, digiring polisi dan petugas pengadilan. Apa lagi ada juga keluarga korban. Yg tentu saja saat itupun mengira aku pelakunya.
Sidang di buka.
Aku disuruh duduk di kursi pesakitan.
Da mulai di berondong pertanyaan.
Semua pertanyaan dapat aku jawab dengan lugas dan tegas.
Sehingga ketika aku melirik keluarga korban yg tadi sinis dan penuh kebencian padaku. Aku lihat, Ekspresi wajahnya Sudah berubah datar ketika melihatku.
Sampai pada akhirnya, ketika rekaman suara saat Rofiq cs mau menjebak ku. Dan Rekaman sura Jendul di kantor Polisi, yg pak Yadi..
........
Rekaman suara saat Rofiq rapat dgn anak buahnya...
" Gue udah selidiki di dusun Zain, dia beneran tinggal disana sekarang "
Rofiq membuka pembicaraan
" Kita culik saja keluarganya, anak atau istrinya. Paksa dia ngakuin kalo gak anak istrinya kita siksa aja...."
" Istrinya kita perkosa rame rame aja "
usul salah satu anggota.n
" Pikiran kalian bego semua, primitif banget sih...?!? Kita pakai strategi biar mulus jalanya. Kita bekerja dimodalin gunakan otak jangan cuma pakai dengkul....!
Ndul... Lo punya usulan gimana..? Lo yg dulu paling dekat sama Zain...?!? "
Rofiq membentak anak buahnya, dan ngorek keterangan dari jendul.
" Ya emang dulu gue paling deket, tapi sejak dia kabur gak ada berita, gue gak pernah kontak lagi. secara dia gak pernah menetap di satu tempat. "
"Nah sekarang kan lo udeh tahu dimana dia. Tugas lo deketin dia, cari info tentang dia, pura pura baikin dia Ajak gabung lagi, biar mudah di jebak."
Kata Rofiq...
" kalo diajak gabung lagi gak mungkin bos, secara dia dah taubat pernah mesantren dan sekarang malah jadi kaum ( sebutan untuk Rois )"
"Tunggu tunggu... Info itu valid gak ? "
Kata Rofiq.
" Valid itu boss aku ada saksi mata "
Seru anggota lainya.
" Kebetulan kalo begitu...! "
" Kebetulan gimana boss ? "
Sahut para anak buahnya...
" kita hasut warga, kita kasih tahu warga kalo Zain Itu sebenarnya seorang b*****an. cuma pura pura alim aja "n
"Setuju... setuju.....
Jawab anak buahnya kompak...
" Berarti tetep tugas si jendul ini, yg deket sama dia buat hasut warga "
Salah satu anak buah Rofiq usul...
" Gak bisa dong.. secara penampilan gue gini, masarakat gak akan percaya. yg pantes lo mbul, penampilan lo bersih. dipoles dikit jd ustadz pantes..."
" Lah kok gue, gue kan gak deket sama Zain...?!? "
Bentak Rofiq...
" Ini keputusan gue selaku ketua...
tugas ini gue serahin Jendul sama Gembul. Kalian bagi tugas, Gembul yg hasut warga Jendul yg menguatkan. Gembul yg bikin isu, Jendul yg mengiyakan bilang lo dulu anak buahnya.
Kasih tahu warga sepak terjang Zain dulu gimana. Donatur kita yg akan atur agar polisi curiga padanya. Tugas tambahan buat jendul, sering seringlah kerumah zain.
Buat citra buruk Zain di mata masyarakat. Dengan seringnya kamu datang ke rumahnya. Dan saat warga bertanya tanya, kenapa orang kayak jendul yg pakainya gitu, wajah tatoan, kuping dan hidung di tindik jika perlu bawa minuman.
Buat citra Zain hancur di masarakat, paham ? "
" paham boos... "
" Bagus... Jendul ni 1jt buat modal Gembul 1 Jt juga buat modal "
" Kami boss...? "
" Kalian tunjukkan kerjanya dulu, baru minta duit... Tenang saja jika berhasil tiap kepala kalian dapat 3 jt. belum bonusnya. Dan 10jt cash bagi yg bisa nemuin atau habisin lia. yg ini di lombakan
Siyapa cepat dia dapat, sendiri boleh barengan boleh. tapi hadiah tetap sama 10jt..."
Lanjut Rofiq...
"Siyab bosku..."
jawab anak buahnya kompak sambil tenggak minuman.
Udah bubar bubar...
pulang besuk mulai kerja cepat
.............
*Rekaman suara jendul di polsek...
Owh ini yg mau jadi saksi palsu, mengkhianti teman yg dulu banyak membantu ?!?" kataku.
" Bukan bro....
Gue hanya disuruh nemenin tu bocah bro kesini " Kata jendul ketakutan.
" Tapi lo juga ikut lapor kan, ikut bikin tuduhan palsu...? " sergahku ke Jendul.
" Aku terpaksa bro, diancam Rofiq dan lainya " jawab jendul. "
" Kenapa Rofiq maksa gitu ? " Aku mengorek ketenrangan dari Jendul.
" Karena Rofiq dikejar cukong agar segera bisa bunuh Lia, atau dapat trrsangka dan saksi palsu. " terang jendul.
" Terus apa lagi rencana Rofiq ? "
"Membuat seakan lo pelakunya, dengan membuat saksi palsu, bukti palsu dan opini warga dusunmu* "
Belum selesai Rekaman kedua diputar, terjadi kegaduhan. Pengunjung sidang ribut, antara anak buah Rofiq dan keluarga korban yg didukung masa pengunjung netral.
Sampai pihak yg berwajib turun tangan..
Anak buah Rofiq diusir keluar sidang, dan akhirnya aku di vonis bebas.
Yang pertama ku lakukan adalah berterima kasih pada Pak Yadi dan dua orang pembela.
Kemudian kulihat keluarga korban mendekati aku. Sempat dihentikan Polisi, tapi ku larang.
" Biarkan pak gak papa, barangkali ada yg mau disampakan " kataku.
Ayah dan kakak korban memandagku lalu mendekatiku...
" Maaf nak, kami sempat menduga kamu benar benar pelakunya. Saya minta maaf. " Ayah korban berkata, aku pandangi wajahnya, seperti pernah lihat.
" Iya pak gak papa, namanya juga Fitnah. Saya yg di Fitnah, bapak dan keluarga jd korban Fitnah. Diantara kita tidak ada yg salah pak."
" Iya nak, memang anak saya ( korban ) itu salah pergaulan."
" Sudah pak, sudah terlanjur.
Dan saya ikut berduka atas musibah itu pak.
mungkin dengan keterangan yg saya berikan tadi. Dari hasil rekaman saya Tadi, bisa menguak siapa pelaku sebenarnya."
" Terimakasih nak atas kesabaran dan pengertianmu, sekali lagi kami mohon maaf " kata bapak itu.
" Iya pak, saya tidak menaruh benci dengan bpk dan keluarga. Kita sekarang bersaudara saja. "
" Baiklah saya permisi ulang dulu " kata bapak itu.
" Monggo silahkan pak " jawabku.
Begitulah jalanya sidang cukup singkat.
Karena untuk Alibi, bukti dan Argumentasi sudah kusiapkan dengan pak Yadi.
Aku sampai rumah.
Aaah bisa bernafas lega sekarang, tinggal aturwaktu jenguk Fatimah, kapan ya ? pikirku.
..............
Rofiq Tertangkap
Aku hubungi pak Yadi, menyampaikan jika aku akan fokus pada kasus mistis.
Pak Yadi menyetujui, tapi dengan catatan sewaktu waktu tetap dibutuhkan. Aku menyetujui kesepakatan itu.
Aku ingin menjauh dari dunia hitam, gak mau berperan jd Zain lagi.
__ADS_1
Aku jenguk Fatimah dulu, atau jenguk Sidiq dulu ?
Bagaimanapun dia adalah anakku...?
Aku bimbang harus bagaimana.
Sudah hampir dua minggu, aku gak ketemu Fatimah. Ah mending jenguk Fatimah dulu saja, pikirku.
Akhirnya aku bebas dari tuduhan itu, dan warga kampungku tak lagi sinis.
Kalo berita bagus begini, Fatimah dan orang tuanya harus tahu.
Ah aku berangka kesana pagi ini sajalah. Toh untuk kegiatan harian dirumah sudah ditangani Amir, yg sekarang juga di bantu heri.
Naik Travel apa ya, biar gak cape banget ? Toh belakanga ini kios dan bisnis tanamanku sudah cukup bergerak. Kuputuskan pakai travel.
Kasih kabar Fatimah dulu atau beri surprise ya..? Ah biar kaget, gak usah kasih kabar saja.
Dengan kendaraan travel aku bisa tiduran dimobil. Lumayan cape ngerjain grafting semalaman.
Aku pun tertidur di mobil.
" Pak sudah sampai tujuan, rumahnya yg mana ? " pak sopir membangunkan aku.
" Owh yang Hijau itu pak, depan itu.." jawabku, sambil ambil tas isi oleh oleh.
Setelah memberi Tip's sedikit buat pak sopir. Aku ketuk rumah mertua.
" Assalaamu 'alaikum....
" wa 'alaikummussalam...
loh mas...
Ternyata Khtotimah yg buka pintu.
"Sssstt...
Aku memberi Isyara diam.
"Fatimah mana ? " bisikku.
" Dikamar baru ganti baju, mau belanja " ucap khotimah ikut berbisik.
" Jangan bilang bilang aku mau kasih kejutan " bisikku.
" iya " jawab Khotimah pelan
Aku mengendap masuk kamar, slot kuputar pelan biar gak bunyi.
Saat terbuka sedikit, kulihat Fatimah baru nyisir rambut panjangnya. Dia gak lihat dan gak menyadari kehadiranku.
Aku peluk dia tiba tiba dari belakang, sampai menjerit kaget...
" Aaaa..."
Lalu melepas pelukanku dan berbalik.
" Iiiih mas..
kok gak kasih kabar sih.." Katanya sambil gantian peluk aku.
" Jadi gak boleh kalo gak kasih kabar, ya udah aku pulang lagi " Gurauku.
" Yeee ya gak gitu...? " Sergah Fatimah yg melepaskan pelukanya, biasa terus nyubit.
" Aduuh sakiit.." Aku menjerit keras.
" Eehemm " Khotimah tiba tiba muncul disamping kami.
" Wah terus gak jadi belanja nih ? " kata Khotimah.
" Owh kalian mau belanja ? ya udah belanja dulu sana " kataku.
" gak papa nich ditinggal ? " kata Fatimah.
" Iya mas juga mau lanjutin tidur lg, td belum puas udah dibangunin. Sama itu tasku didepan bawa oleh oleh salak, buka aja nanti bagi bagi tetangga. "
" iya deh istirahat dulu aja mas " kata Fatimah.
Aku berbaring kembali melanjutkan tidur. Entah badanku terasa lemas, kecapean secara pisik & psikisnya.
Aku dibangunin Fatimah sudah jam 15.00.
" Mas sudah sore, ditunggu diruang keluarga, ? mas mandi dulu gih biar seger dan wangi. " Bisik Fatimah ditelingaku.
Aku yg masih mengantuk dan lemas bukan segera bangkit. Tapi malah peluk Fatimah, dan kecup keningnya.
"Eheem... Mbak Fatim disuruh bangunin malah dikelonin mas nya " suara Khotimah didepan pintu.
Aku bangkit dan tersenyum.
" Diih gak sopan kamu Khot, gak ketuk pintu dulu... " Gerutu Fatimah sambil tersipu.
" Yee bukanya gak ketuk pintu, mbak Fatim nya aja lupa tutup pintu. Udah ditungguin bude sama pakde tuh..." kata Khotimah.
" Masa sih, perasaan udah mbak tutup tadi...? " sahut Fatimah
" Yee dibilangin juga....!?! " balas Khotimah.
" Udah udah lagian kita juga gak ngapa ngapain, aku mau mandi. kalian duluan gih...! " kataku.
" Ayuk Khot..." Fatimah jln bareng khotimah.
Ah dua saudara yg lucu, akur banget mereka.
Selesai mandi dan solat asar aku menyusul ke ruang keluarga.
" Assalamu 'alaikum...."
"Wa 'alaikummussalaam...." jawab mereka berbarengan.
" Maaf Pak bu, saya pulang gak kasih kabar dulu " kataku sambil cium tangan kedua mertuaku.
" iya gak papa, tapi kok baru sekarang pulangnya nak. " ibu mertua membuka pembicaraan.
" Iya bu, ada sedikit masalah...."
Belum selesai aku bicara.
drrrrt drrrt drrrt hpku yg kutaruh diatas meja bergetar lama.
Panggilan masuk dr Pak Yadi.
"Angkat dulu nak, siapa tahu penting " Kali ini Bapak mertuaku yg bicara.
" Njih pak " jawabku terus angkat tlp setelah diijinkan.
" Assalaamu 'alaikum Pak Yadi...
"Wa'alaikummussalam pak, bapak dimana ? "
" Saya baru dirumah mertua pak, lihat kondisi istri saya. Ada perintah pak ? !" tanyaku.
" Ini pak, mau kasih informasi jika Rofiq sudah ditangkap. Besok sidang dibuka lagi, Rofiq posisinya sebagai saksi. tapi tidak menutup kemunkinan jd terangka. " jelas pak Yadi.
" Sukurlah pak berarti Posisi Rofiq ditahan dimana pak ? " tanyaku
" Demi keamanan ditahan di polda, karena dia saksi utama kasus penyebaran fitnah ke bpk. Dan kunci yg bisa menjerat pelaku utama " jawab pak Yadi.
" Owh ya pak, kalo saya sudah dijogja nanti kita lanjutkan pembicaraan ini pak " kataku pada pak Yadi.
" Siap pak, salam hormat saya ke seluruh keluarga disitu pak. Assalamu 'alaikum..."kata pak Yadi.
" Wa ' alaikummussalaam.." jawabku.
klik....
Suara hp ditutup.
" Siapa itu nak " tanya ibu mertua khawatir.
" Polisi buk, sekaligus teman saya "
" Kamu tadi bilang ada masalah, apa ada kaitanya dengan polisi itu ? " tanya ibu mertua.
Agak bingung aku menjawab, karena gak mungkin aku ceritakan semuanya, termasuk langkahku menyelamatkan Tuti dan Lia dengan cara berperan sebagai Zain yg dulu.
Yg membawa Tuti ke penginapan, cuma berdua disana dll.
" Di tanya ibu kok gak jawab sih mas ? " tanya Fatimah mengagetkan aku.
" Eeh bukan gitu sayang.
Mas bingung mau mulai dari mana. kan ceritanya panjang, dari mulai ditemukan mayat pagi pagi itu. "
"Hah mayaat...? " seru semua kaget.
" Iya jadi begini...." kataku
Aku ceritakan dari kasus pemuan mayat
sampai dengan aku akan dijebak dijadikan pelaku. Dan ada rencana mau menculik Fatimah istriku. Dan aku perdengarkan rekaman Audio dari jendul dan pak Yadi.
Mereka mendengarkan dengan Serius.
" Jadi itulah salah satu alasan saya, menitipkan Fatimah sementara disini pak bu. Terlalu berbahaya jika Fatimah bersama saya kemarin. " Justru Khotimah yg komentar nyleneh
" Wah khotimah mau panggil nya mas Zain saja sekarang, hihihi... "
" Gak boleh " kataku.
" Kenapa " protes Khotimah
" Aku gak mau ingat masa laluku yg kelam. Panggilan itu terlalu berat kudengar...!" kataku
" Gak papa kali mas, yg penting kan sekarang mas dah jd orang baik" kilahnya.
Fatimah yg menyanggah,
" Jangan Khot.... Suamiku sedih kalo dipanggil begitu..."
" Udah udah Ibu juga gak suka denger masa lalunya yg buruk, maaf ya nak ibu berkata jujur. Tapi ibu percaya kamu sekarang sudah berubah " kata ibu mertuaku.
" Iya bu terimakasih sekali, saya diperkenankan jd anggota keluarga ini. Jadi suami Fatimah, semoga saya bisa membahagiakan Fatimah istri saya." kataku.
"Aamiin...." Sahut semua kompak.
" Terus Fatimah mau kamu boyong ke jogja lagi besuk ? " Bapak mertua bertanya.
" Belum pak... masih belum aman. Saya tidak ingin Fatimah dan anak kami kenapa napa. " kataku.
Tiba tiba terdengar orang teriak.
" Tolong Pak Hamid, anak saya kerasukan...... "
...bersambung...
Readers yg budiman...
kasih komen saran dan kritiknya ya.
Makasih
__ADS_1