Isyaroh

Isyaroh
Menuju makam kakek Jafar


__ADS_3

🌷🌷🌷


Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.


Semoga tetap bisa menghibur.


🌷🌷🌷


Selamat membaca


...........


Episode lalu


Ketika salah satu bola api hampir mengenai aku,secara reflek aku memukulnya dengan penabuh Gong itu. dan dampaknya justru luar biasa. Semua bola api yang menyerangku tadi jatuh bersamaan dengan bergemuruh menimbulkan suara mengerikan.


Serta makhluk Astral yang ada pun menjerit dan kabur menghilang, namun aku sendiri juga terjatuh akibat benturan penabuh gong dan bola api tadi menguras cukup besar energiku.


“Mass…!” teriak Sena menghampiriku.


“Gak papa aku Cuma kecapaian mengeluarkan banyak energi tadi.” Ucapku.


Namun begitu ternyata aku susah bangun dan akhirnya harus di papah sena masuk ke rumah. Tentu saja seisi rumah kaget melihat konsiku yang sangat kacau, karena terkena abu ledakan bola bola apai yang menyerangku tadi.


“Mas Yasin Kenapa…?” Tanya Khotimah.


*****


Episode ini


“Gak papa Cuma kecapaian saja kok.” Jawabku ke Khotimah.


“Gak mungkin mas, Khotimah tahu mas kena teluh ya ? itu wajah mas Yasin sampai merah begitu terus tangan mas juga berbintik merah semua.” Kata Khotimah. Aku juga baru menyadari semua yang dikatakan Kgotimah itu.


“Antar aku ke tempat wudhu Sena.” Pintaku pada Sena.


Kemudian Sena mengantar aku ke tempat wudhu sebelum semua melihatku. Setelah berwudhu dan berdoa aku merasa agak mendingan meski masih merasakan sakit di beberapa bagian tubuhku.


Kemudian Aku ke ruang Mujahadah mendekati Farhan yang masih berdoa, dan di depannya tersedia air putih dalam gelas,


Setelah aku duduk di belakang Farhan, sesaat kemudian Farhan balik badan menghadapi aku sambil berkata.


“Berbaring mas, biar aku tuntaskan membersihkan teluh yang masuk ke tubuh kamu.” Kata Farhan.


“Iya makasih sebelumnya.” Jawabku singkat.


“Maaf buka baju mas gak papa dirumah sendiri ini.” kata Farhan.


Terpaksa aku membuka bajuku meski malu banyak luka ditubuhku, luka terakhir dadaku yang kena peluru waktu itu.


Kemudian Farhan mengusap dari wajah hingga ke pusarku dengan air yang ada di depannya tadi. Ternyata bukan hanya air putih biasa ada bau bau minyak gak ngerti jenis apa.


Kemudian Farhan mengurut tangan kanan dan kiriku, ternyata sakitnya seperti diurut Yuyut waktu itu. Aku sampai menjerit tertahan karena Malu. Amun tetap terdengar Fatimah dan Ibuk mertuaku sehingga mereka bangun dan menghampiriku.


“Kenapa mas Yasin dik Farhan ?” Tanya Fatimah.


“Barusan kena teluh mbakyu, coba aku tuntaskan dulu biar bersih.” Kata Farhan.


Ternyata setiap urutan yang dilakukan Farhan mengeluarkan Jarum dan paku dari kedua tanganku. Hampir sebelas jarum dan paku yang dia ambil bahkan juga dari urat leherku mengeluarkan paku. Pantas saja rasanya sakit banget tadi.


“Tangan kanan dan kiri sudah selesai mas Insya Allah sudah bersih. Tapi yang ini ditahan ya agak sakit soalnya.” Kata farhan.


“Hah tungggu agak sakit ? kalo yang tadi gak sakit emangnya ?” tanyaku.


“Ya maksut Farhan ini lebih sakit sedikit, karena harus dikeluarkan dari pusar mas Yasin.” Kata Farhan.


“Oya deh terserah Farhan saja lah…!” kataku.


“Tolong ambilin mangkuk dikasih minyak goreng sedikit.” Pinta Farhan. Kemudian minyak yang di dalam mangkuk itu ditambahi minyak wangi entah jenis minyak apa aku gak begitu hafal.


Kemudian sebagian dibuat lulur perut dan dadaku sampai sedikit di bawah pusar. Dan kemudian Farhan membaca doa ijazah khusus dari guru Farhan. Perutku menjadi seperti dikoyak koyak rasanya, namun aku bertahan agar tidak menjerit malu dilihat Fatimah Khotimah bahkan ibu mertuaku juga.


Sesaat kemudian perutku terasa mual dan aku tidak dapat menahan lagi untuk mutah. Untung sudah disiapkan ember kecil sebelumnya. Dan ternyata mutahan ku berisi cairan merah darah dan juga paku dan jarum. Lah tai katanya lewat pusar, gimana sih Farhan ini, batinku.


“Udah agak enakan mas ?” Tanya Farhan padaku.


“Lumayan gak terlalu sakit dan mual.” Jawabku.


Kemudian Farhan mengambil mangkuk berisi minyak tadi, kemudian mengurut pelan perutku memutar dan berakhir di pusarku. Tidak kuduga dari pusarku setiap denyutan nadi yang terasa mengeluarkan hewan kelabang dari perutku lewat pusar, rasanya ya ampun pusarku seperti digerogoti binatang dari dalam perutku. Aku sampai menahan nafas tiap kali hewan hewan itu keluar.


Aku hitung ada Tujuh kelabang yang berhasil dikeluarkan oleh Farhan. Sampai Fatimah dan Khotimah merasa jijik dan gak berani melihat kelabang hidup yang dimasukan kedalam mangkuk berisi minyak itu.


“Udah keluar semua mas, silahkan dipakai lagi bajunya.” Kata Farhan.


“Iya aku juga mau ke kamar mandi dulu.” Kataku pada Farhan.


“Masih mual kah mas ?” Tanya Farhan.


“Gak kok, kamu urut perut tadi jadi pingin pipis.” Jawabku sambil berlari ke kamar Mandi.


Membersihkan wajah dan badanku dari semua kotoran yang menempel. Setelah kurasa cukup bersih aku kembali keruang mujahadah tanpa berganti pakaian.


“Untung ada kamu Farhan, kalo tidak maka tubuhku sudah dimakan binatang binatang melata itu ?” kataku.


“Alhamdulillah mas,,, Farhan pernah diajarin Abah Guru Armin menangkal Teluh dan Santet.” Kata Farhan.


“Tadi bola api itu teluh ya mas Farhan ?” Tanya Sena.


 “Iya, dan itu sebenarnya adalah jin dalam penampakan api. Jin itu membawa barang barang tersebut untuk dimasukan kedalam manusia yang di incarnya.” Awab Farhan.

__ADS_1


“Kok bisa begitu, bisa di jelaskan secara logika tidak masak binatang dan benda benda begitu bisa masuk ke tubuh manusia ?” tanyaku ke Farhan.


“Ya karena yang membawa jin dan dia bisa menembus wadah manusia masuk melalui peredaran darah manusia mas. Namnya juga jin makhluk halus yang sangat lembut tidak berjasad seperti kita manusia.” Jelas Farhan. Owh iya masuk akal juga sih, tapi tetep butuh iman jika Jin itu memang ada dan bisa mengundang orang agar bersekutu dengannya. Melalui hal hal tersebut, sehingga banyak orang yang menjadi tersesat, pikirku.


“Owh begitu prosesnya, bisa diterima akal dengan Iman kalo begitu.” Kataku ke Farhan.


“Udah nak istirahat dulu, besuk gak usah kemana mana dulu.” Kata ibuk mertuaku.


“Maaf bu, besuk sore kami juga harus berangkat lagi ke makam kakek Jafar Sanjaya dan kakek Munasir.” Jawabku ke ibuk mertuaku.


“Tapi kamu baru saja kena teluh apa gak nunggu sehat beneran dulu ?” Tanya ibuk mertuaku.


“Iya mas, bukan kami gak percaya tapi sudah berapa kali mas terancam bahaya begitu ?” sahut Fatimah.


“Iya aku ngerti cuman ini perintah kakek Sidiq Ali harus besuk waktunya. Dan  kami bertiga sama sama saling menjaga dan selalu waspada. Mungkin memang dengan jalan begini kita bisa terlepas dari ancaman bahaya yang sesungguhnya nanti.” Jawabku pada Fatimah.


“Terus keamanan di rumah bagaimana jika kalian semua pergi ?” Tanya ibuk mertuaku.


“Insya Allah kita akan pagari rumah ini buk dengan memperkuat pagar gaib yang ada.” Jawabku.


“Gini aja mas, besuk aku pulang dulu ajak Nurul kesini. Biar sekalian nanti aku ajak adiknya Nurul yang cowok namanya Zulfan, Insya Allah dia bisa membantu menjaga rumah ini.” kata Sena.


“Alhamdulillah kalo kamu puny aide seperti itu. artinya tetap ada Laki laki di sini.” Jawabku.


Akhirnya semua menyetujui jika kami berangkat besuk sore meneruskan ke makam kakek Jafar Sanjaya dan Kakek Munasir. Dan kami semua pun bisa beristirahat sejenak malam itu.


*****


Flashback beberapa saat di padepokan joyo Maruto.


Author POV


“Sekarang saatnya kamu Maheso Suro dan Mento Rogo berbagi ilmu kanuragan. Dan kamu Soma ayo kamu perdalam ilmu teluh kamu untuk mengujinya kita serang keluarga Yasin, nanti aku bantu dan ajari biar bisa menembus pagar Gaib Yasin.” Ucap Joyo Maruto.


“Baik Guru.” Jawab ketiganya kompak.


Kemudian Maheso Suro dan Mento rogo keluar rungan dan saling berbagi ilmu kanuragan agar dapat menghadapi Yasin dengan double perlindungan dan double serangan ilmu kanuragan mereka. Menggabungkan ilmu giling wesi dan ilmu rapal tameng wojo.


Sementara ki Soma menyiapkan ubo rampe ( peralatan ) untuk membuat teluh dan akan dikirim ke rumah Yasin menyerang keluarga Yasin. Dengan bimbingan dan arahan joyo Maruto.


Dimulai dari mengeluarkan sebilah keris pusaka ki Soma menyiapkan sesaji kembang setaman dan mempersiapkan sebuah boneka mirip sebuah pocong kecil yang ditulisi nama asli Yasin ‘Ahmad Sidiq’ kemudian boneka tersebut di angkat dan diputar putar di atas tungku yang dibakari kemenyan jawa.


Joyo Maruto membimbing dengan ikut membacakan mantera mantera penguat. Kemudian boneka itu diletakkan disebuah papan kecil. Selanjutnya keris pusaka ki Soma dipegang dan di sembah tiga kali kemudian dengan merapalkan mantera mantera keris itu diacungkan ke arah boneka yang ditulisi nama asli Yasin.


Dan muncul bola bola api yang mendekati boneka itu dan berputar putar siap membakar boneka itu.


Bola api itu berputar putar agak lama mengelilingi boneka itu seakan mau mendekat dan membakar boneka itu. namun ada sesuatu yang menghalanginya.


“Tambahin kemenyan lagi !” perintah Joyo Maruto.


Kemudian ki Soma menambahkan kemenyan di tungku kecil ( Jawa \= anglo ) tempat perapian kemenyan.


Bola api berputar semakin cepat dan semakin dekat, dan ketika salah satu bola api hampir menyentuh boneka itu. tiba tiba bola api itu meledak dan ki Soma terpental kebelakang. Sampai terbatuk batuk, kemudian di tolong oleh Joyo Maruto.


Kemudian ki Soma duduk bersila dan diobati oleh Joyo Maruto dengan mantera dan air kembang.


Namun belum selesai mengobati ki Soma tiba tiba Boneka itu meledak dan paku serta jarum dan kelabang keluar dari boneka itu. Dan kelabang kelabang itu kembali dalam keadaan mati.


“Kurang ajar, ada saja yang bantuin itu anak, siapa lagi yang membantu anak itu ?” geram Joyo Maruto dalam hati.


“sudah cukup kamu istirahat, dilanjutkan beberapa hari ke depan kalo kamu sudah sehat betul.” Ucap Joyo Maruto.


Ki Soma yang tadi terpental itupun kemudian beristirahat untuk memulihkan tenaganya. Sementara Joyo Maruto melihat Maheso Suro dan Mento Rogo yang sedang berbagi ilmu kanuragan.


“Sudah ada kemajuan ki Maheso tubuhmu sudah semakin kuat, tinggal melatih pernafasan dan membaca manteranya lebih cepat lagi.” Ucap Mento Rogo.


“Terimakasih ki Mento Rogo, sekarang giliranmu mencoba ilmu giling Wesi.” Kata Maheso Suro.


Kemudian Mento Rogo mengambil potongan besi kecil dan di genggamnya, kemudian merapalkan mantera ajian giling wesi. Dan besi dalam genggamanya menjadi panas dan berasap, namun tangan mento rogo sendri jadi kepanasan sehingga dia melepaskan besi itu.


“Cukup, besuk sempurnakan dengan mandi kembang dan dari air ‘Tuk Pitu’ ( tujuh sumber mata air yang berbeda ) nanti aku yang akan membantu menyempurnakan.” Ucap Joyo Maruto.


Kemudian mereka pun masuk ke dalam padepokan dan beristirahat.


*****


Di Rumah Yasin


Yasin POV


Setelah melaksanakan sholat subuh, Sena berpamitan untuk menjemput Nurul istrinya serta anaknya juga mengajak adiknya Nurul yang bernama Zulfan.


“Sepagi ini kamu mau berangkat Sena ?” tanyaku kepada Sena.


“Iya mas, biar gak kelamaan soalnya harus jemput Zulfan Juga. Dia kan agak jauh tinggalnya di wilayah timur dekat makam Raja Raja. Jadi biar gak terlalu sore sampai disini.” Jawab Sena.


“Gak sarapan dulu apa ?” tanyaku.


“Gak usah mas, makasih nanti saja kalo laper mampir di jajan sebentar.” Jawab Sena.


“Yaudah Hati hati saja, aku belum pernah ketemu istrimu juga Sena.” Sahut Farhan.


“Iya mas, nanti sekalian saya kenalin istriku.” Jawab Sena.


“Yaudah Sena berangkat, pamitin ke yang Lain ya, Assalaamu ‘alaikum….!” Pamit Sena.


“Wa’alaikummussalaam…!” jawab kami berdua.


Setelah Sena tidak kelihatan aku dan Farhan melanjutkan berbincang di ruang tamu sambil menunggu minuman hangat dari Khotimah. Karena Fatimah masih tidur karena masa Nifasnya belum selesai, jadi bonus cuti tidak sholat.

__ADS_1


“Gimana mas, udah vit jika nanti berangkat ke makam ?” Tanya Farhan.


“Insya Allah Farhan, kayaknya sih sudah gak ada keluhan apapun. Aku hanya heran teluh yang semalam rasanya lebih kuat dari yang dulu pernah menyerangku juga. Apakah pemiliknya tambah sakti atau ganti pelaku kira kira ?” tanyaku pada Farhan.


“Kayaknya dua duanya mas.” Jawab Farhan.


“Maksutnya pelakunya dua orang ?” tanyaku penasaran.


“Iya, satu orang yang dulu mungkin satunya lagi adalah mentornya yang melatih. Dan semalam itu adalah sebagai latihan mereka saja belum serangan sesungguhnya.” Jawab Farhan.


“kamu gak lagi nakut nakutin aku kan Farhan ?” tanyaku.


“Gak mas Farhan serius, tapi gak usah khawatir nanti akan kita temukan penangkalnya Insya Alllah.” Jawab Farhan.


“Kopinya mas…!” seru Khotimah.


“Iya makasih Khot.” Jawab Farhan.


“Mbak Fatim belum bangun mas ?” Khotimah bertanya padaku.


“Belum kecapaian kali semalam kebangun dan ikut ngobrol sampai menjelang pagi.” Kataku.


“Owh iya mas, Yasin jangan deketin Jafar dulu sebelum mandi keramas soalnya takutnya masih membawa sawan teluh semalam.” Ucap Farhan.


“Owh gitu, jadi aku harus mandi dulu kayak mandi jinabat dulu ?” tanyaku.


“Iya mas, demi keamanan Jafar.” Jawab Farhan.


“Yah rugi dong gak ngapa ngapain mandi besar.” Gurauku.


“Iiich mas Yasin, mas Farhan juga kan belum nikah jangan ngomong jorok ah..!” protes Khotimah.


Aku baru inget kalo Farhan belum nikah.


“eeh iya maaf, keceplosan nih.” Kataku menyesal.


“Kebiasaan masa lalu sulit hilang ya mas ?” Tanya Farhan menyindirku.


“Iya maaf, mulut susah banget di rem tiap kali ada kesempatan iseng atau jahil suka keluar automatic, he he he…!” jawabku pada Farhan.


Farhan hanya senyum senyum saja, mendengar jawabanku. Sementara Khotimah agak manyun kurang senang jika aku bercanda yang menjurus ke arah itu, mungkin ingat dia hampir khilaf dengan Fanani dulu. Eeh udah jadi balikan sama istrinya belum tuh anak, kok gak ada kabar sama sekali sekarang, pikirku.


Tiba tiba aku jai ingat Fanani dan Winda, semoga saja mereka bisa rukun kembali, batinku.


*****


Sore hari ba’dal sholat Asar Sena datang bersama Nurul dan anaknya juga mengajak adik Nurul yang bernama Zulfan.


“Assalaamu’alaikum….!” Sapa Sena dan istrinya.


“Wa’alaikummussalaam Eeh masuk yuk, maaf baru selesai sholat Asar nih.” Jawabku mempersilahkan Sena sekeluarga untuk masuk rumah.


“Perkenalkan ini adiknya Nurul mas, namanya Zulfan.” Kata Sena.


Ternyata Zulfan adalah pemuda kalem namun sorot matanya tajam menunjukkan kecerdasan dan ketegasan.


“Hai  Zulfan, apa kegiatan kamu sekarang ?” sapaku pada Zulfan adik nurul.


“Saya dirumah saja mas, gak ada aktifitas penting kok.” Jawab Zulfan.


“Aah kamu jangan merendah begitu Zulfan, kita ini sudah jadi saudara sekarang.” Kataku pada Zulfan.


Setelah berbasa basi sebentar kemudian kami persilahkan Sena untuk bersiap siap berangkat ziarah ke makam setelah sholat maghrib.


“Nanti Isya cari mushola disekitar sana saja, biar gak kemaleman.” Kataku.


Singkat cerita berangkatlah kami bertiga, sementara Nurul istri Sena dan Zulfan Adiknya menunggu di rumah sekaligus menemani keluargaku.


Kira kira perjalanan setengah jam, kami memasuki dusun terakhir sebelum menuju makam. Kami mencari mushola untuk melaksanakan Sholat Isya dulu. Dan jam delapan kurang  sepuluh kami melanjutkan perjalanan kea rah makam kakek Jafar dan Kakek Munasir.


Untuk menuju komplek makam harus ditempuh dengan jalan kaki saja, karena di wilayah tersebut masih sarat dengan nuansa pedesaan. Wilayah jawa tengah yang masih dekat dengan Yogyakarta. Masih masuk wilayah Muntilan arah ke Borobudur dan masuk ke pedesaan dari jalan magelang ke arah kanan yang masih belun padat penduduk.


Sebelum memasuki area makam namun pintu gapura makam sudah kelihatan kami bertiga dihadang oleh seseorang yang tidak kami kenal. Tampaknya punya nyali besar juga orang ini menghadang kami bertiga sementara dia hanya seorang diri namun tidak merasa gentar sedikitpun. Apa maunya anak ini sebenarnya, batinku.


“Tunggu….! Tidak sembarangan orang diperkenankan masuk ke wilayah ini…!” kata orang itu dengan lantang…???


...bersambung...


Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.


Komentar readers semangat Author


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...


...🙏🙏🙏...

__ADS_1


 


 


__ADS_2