
"Mas mungkin Arum gak tahu diri mas. Tapi Arum harus ngomong. Bahwa sejujurnya Arum masih berharap bisa bersatu denganmu. Tapi setelah mendengar ceritamu tadi, Arum jadi sadar itu tidak mungkin. Jadi Arum sekarang sudah bulat mau melupakan semua masa lalu kita. Meski sungguh berat rasanya. Tapi Arum yakin, Arum pasti bisa mengikuti jejak mu mas. Arum mau hijrah ke jalan yg lurus ! " kata Arum sambil terisak.
" Maafkan aku Arum, yg tak mampu memenuhi keinginanmu yg itu. Jujur secara manusiawi aku tidak tega. Tapi itulah jalan terbaik buat kita. "
Aku bicara sambil menahan sesak di dada. Namun aku harus bicara apa adanya.
" Demi Sidiq, mungkin tidak kita menikah. meski setelah nikah aku kamu ceraikan gak papa mas. Agar Sidiq bisa punya status punya ayah kandung ? "
Bagai disambar petir aku mendengar pertanyaan Arum seperti itu.
Aku tak mampu menjawab, sungguh berat rasanya menggerakkan bibir dan lidahku.
" Arum... ! untuk itu aku belum bisa jawab maaf. " Kataku tertunduk sedih.
" Iya Mas Arum faham kok, justru Arum yg tidak otahu diri maafin Arum ! " Sahut Arum.
" Sudah gak usah sedih, Takut lek mu datang terus curiga. Soal Sidiq nanti aku tanggung jawab 100% pokoknya dia anakku Rum. Sorot mata dan hidungnya punyaku, oval wajahnya mirip kamu ! "ucapku menghibur Arum.
" Iya ya mas.
Anak kita cowok tapi wajahnya oval kayak cewek ! " jawab Arum.
Tanpa terasa kami tertawa tawa, sambil memandangi foto Sidiq berdua.
" Iya wajah Sidiq oval mirip ibunya, tapi hidung mancung dan sorot mata tajam milik Ayahnya ya ! " Sahutku pada Arum.
Tak terasa aku dan Arum seperti sedang bernostalgia. Aku sempat lupa jika sudah beristrikan Fatimah yg tengah hamil.
Seakanku terbius susana, sehingga beberapa kali Arum menyandarkan kepalanya di pundakku. Dan akupun beberapa kali memegang hidung Arum seperti dulu saat berpacaran.
Untung aku segera sadar, siapa aku ini. Seorang yang sudah beristri dan istriku tengah mengandung anak ku.
" Astaghfirrullahal 'adhim... maafkan aku Arum. Gak seharusnya kita begini. " ucapku menyesali.
" Owh iya mas, maafin Arum juga sudah larut dalam susana. Arum lupa jika mas itu sudah milik orang lain sekarang. " kata Arum menjauh dari ku. Duduk di kursi yang lain, sambil tersipu.
" Kita berdua sama sama khilaf Arum. " kataku.
Susana berubah jadi kaku, kami berdua hanya diam membisu. Tak sepatah katapun mampu terucap.
Kemudian datang pak Sastro bersama seorang Mantri kesehatan dusun. Pantesan lama, gak sekedar beli perban tapi car mantri kesehatan / perawat. Untung gak lihat saat aku dan Arum tadi....?!? kataku dalam hati.
" Gimana lukanya Mas ? masih mengeluarkan darah ? " tanya pak Sastro.
" Owh tadi sudah di bersihin ibunya Sidiq pak, rambut Sidiq dipotong sekitar luka. Maaf jadi ngrepotin semua. " kataku.
" Gak papa mas, tinggal di perban berarti ya ? " tanya lanjut pak Sastro.
Belum sempat kujawab Sidiq masuk dan langsung duduk di pangkuanku.
Langsung saja kuciumi anak itu dengan segala kasih sayangku. Kasih sayang seorang ayah kepada anak kandungnya.
" Sidiq minggir dulu biar om Yasin diobati dulu. " kata pa sastro.
Sidiq pun nurut dan pindah ke panguan Arum ibunya.
Kemudian Mantri itu membalut lukaku setelah lebih dahulu membersihkan luka dengan Alkohol konsentrasi rendah. Sebagai pencegahan infeksi.
Setelah selesai dan mantri itu pulang Akupun mau pamit pulang.
Tapi minta ijin mengajak Sidiq untuk ku ajak menginap di rumahku.
Sidiq gembira sekali, dan kulihat Arum pun tersenyum bahagia. Dan akhirnya pak Sastro mengijinkan, meski awalnya melarang takut aku repot ngurus Sidiq.
Dalam hatiku berkata, " Ini anak saya pak sudah seharusnya aku repot." gumamku dalam hati.
" Jadi besuk saya antar kesini pak, sebelum saya jemput istri. Biar Sidiq nemenin saya malam ini ! " ucapku.
" Sebenarnya saya gak mau merepotkan mas Yasin, tapi gimana lagi Sidiq nya sendiri juga sangat bahagia begitu ! " sahut pak Sastro.
"Gak kok pak, Sidiq anaknya penurut. Saya malah senang bila Sidiq boleh ikut saya malam ini. " Kataku.
" Beneran gak bikin repot mas ? " tanya Arum.
Aku justru kaget Arum bertanya begitu.
" Ah gak sama sekali kok, Sidiq sudah kuanggap anak Sendiri. " jawabku tanpa sadar hingga aku pun terperanjat karenanya.
" Benera Om ? berarti Sidiq boleh panggil Ayah ya ? " tanya Sidiq polos banget. Aku benar benar terperanjat mendengar pertanyaan Sidiq. Baik aku, Arum maupun pak Satro hanya saling pandang.
Tak berucap sepatah kata pun.
Tiba tiba Sidiq bertanya lagi,
" Boleh gak om ? "
" Iya om gak keberatan Sidiq panggi Ayah ! " kataku.
Tampak Arum menitikan air matanya, namun air mata bahagia. karena wajahnya tersenyum meski matanya menangis.
Akhirnya aku diantar pak Sastro dan Sidiq ikut bersamaku saat itu.
.................
Sampai dirumah
" Siapa itu pak ? " tanya Amir dan Heri bersamaan.
__ADS_1
" Anak temenku, tapi panggil aku ayah ! " jawabku asal.
" Hari ini ada pengiriman tidak ? " tanyaku pada Amir dan Heri.
" Ada pak, tapi sudah selesai tadi ! " jawab Amir.
" Berarti motornya gak di pakai lagi kan, aku mau pakai buat jalan jalan sore sama anak ini. " kataku.
Kemudian aku ajak Sidiq masuk rumah, dan aku tinggal mandi sebentar. Kemudian Sidiq aku ajak solat Asar sebelum pergi.
Aku telpun Isti lebih dahulu.
" Assalaamu 'alaikum mas Yasin ! "
Suara Isti di telpun.
" wa 'alaikummussalam Isti, kamu di rumah pak Yadi ? " tanyaku.
" Iya mas, ada apa ? " tanya Isti.
" Aku kesitu saja, ada yg mau aku tunjukin sama kamu. " jawabku.
" Apa itu mas ? " tanya Isti lanjut.
" Ada deh, tunggu saja sebentar kok. " jawabku singkat.
" Udah gitu aja ya, assalaamu ' alaikum....! " aku mengakhiri telpunku ke Isti.
" Wa 'alaikummussalam " ,jawab Isti.
Kemudian aku buru buru berangkat ke rumah pak Yadi. Untuk menemui Isti.
Akupun menjalankan laju motorku dengan kecepatan sedang.
Akhirnya aku sampai juga dirumah pak Yadi.Sampai dirumah pak Yadi,sudah disambut oleh Isti.
" Anak siapa itu mas, yg kamu culik ? " goda Isti padaku.
" Sstt jangan keras keras, ini anak yg aku ceritakan dulu itu. Namanya Sidiq Sekartaji ! " bisikku pada Isti.
" Haah... Udah segede ini ? " ucap Isti.
" Sidiq salim dulu sama tante Isti ! " seruku pada Sidiq.
" Iya ayah, tante Isti kenalkan saya Sidiq ! " Ucap Sidiq memperkenalkan diri.
" Aduh pinter banget Sidiq, udah bisa ngaji belum Sidiq ? " tanya Isti.
" Belum tante, baru mau cari guru ngaji. " ucap Sidiq polos.
" Owh begitu, Sidiq main sini dulu ya ! Tante mau bicara dengan Ayah boleh gak ? Sebentar saja ya Sidiq ! " seru Isti.
" Mas ikut sini sebentar ! " ajak Isti padaku.
Aku hanya bisa menuruti, mengikuti Isti menjauh sedikit dari Sidiq.
" Mas, sejak kapan dia panggil mas Ayah, kalo Fatimah denger gimana ? " tanya Isti.
" Sejak tadi, saat aku di tolong dibawa kerumah kakeknya. " jawabku.
" Ceritanya bagaimana bisa begitu ? " desak Isti.
Mau gak mau aku harus ceritakan apa yg terjadi. dari mulai aku di bokong hingga pingsan sampai dengan aku kabur dan meringkus salah satu komplotan itu.
" Maksut Isti kenapa mas bisa di panggi ayah oleh anak itu " jelas Isti.
" Owh itu, kali itu demikian.
...flashback...
Sidiq minggir dulu biar om Yasin diobati dulu. " kata pa sastro.
Sidiq pun nurut dan pindah ke panguan Arum ibunya.
Kemudian Mantri itu membalut lukaku setelah lebih dahulu membersihkan luka dengan Alkohol konsentrasi rendah. Sebagai pencegahan infeksi.
Setelah selesai dan mantri itu pulang Akupun mau pamit pulang.
Tapi minta ijin mengajak Sidiq untuk ku ajak menginap di rumahku.
Sidiq gembira sekali, dan kulihat Arum pun tersenyum bahagia. Dan akhirnya pak Sastro mengijinkan, meski awalnya melarang takut aku repot ngurus Sidiq.
Dalam hatiku berkata, " Ini anak saya pak sudah seharusnya aku repot." gumamku dalam hati.
" Jadi besuk saya antar kesini pak, sebelum saya jemput istri. Biar Sidiq nemenin saya malam ini ! " ucapku.
" Sebenarnya saya gak mau merepotkan mas Yasin, tapi gimana lagi Sidiq nya sendiri juga sangat bahagia begitu ! " sahut pak Sastro.
"Gak kok pak, Sidiq anaknya penurut. Saya malah senang bila Sidiq boleh ikut saya malam ini. " Kataku.
" Beneran gak bikin repot mas ? " tanya Arum.
Aku justru kaget Arum bertanya begitu.
" Ah gak sama sekali kok, Sidiq sudah kuanggap anak Sendiri. " jawabku tanpa sadar hingga aku pun terperanjat karenanya.
" Benera Om ? berarti Sidiq boleh panggil Ayah ya ? " tanya Sidiq polos banget. Aku benar benar terperanjat mendengar pertanyaan Sidiq. Baik aku, Arum maupun pak Satro hanya saling pandang.
__ADS_1
Tak berucap sepatah kata pun.
Tiba tiba Sidiq bertanya lagi,
" Boleh gak om ? "
" Iya om gak keberatan Sidiq panggi Ayah ! " kataku.
Tampak Arum menitikan air matanya, namun air mata bahagia. karena wajahnya tersenyum meski matanya menangis.
Akhirnya aku diantar pak Sastro dan Sidiq ikut bersamaku saat itu.
...flashback Off...
" Sejak itulah dia panggil aku ayah Isti. " jelasku pada Isti.
" Oke, tapi Isti mohon jangan kasih tahu Fatimah dulu ! " Pinta Isti.
" Iyalah Isti, aku juga gak ingin Fatimah sedih. Dia begitu sempurna buat aku ! " kataku dengan mimik muka sedih.
" Seriuskah kamu bicara seperti itu mas ? " tanya Isti penasaran.
"Iya aku sangat serius, coba kamu pikir. Keberadaan Sidiq yg tak berdosa itu karena ulah bejatku di masa lalu. ! " sedangkan Fatimah itu putih bersih gak seperti diriku. Maka Fatimah itu sangat sempurna bagiku. Tak tergantikan oleh siapaun ! " jawabku panjang lebar pada Isti.
Tiba tiba pak Yadi ikut nimbrung obrolan kami.
" Wah putra siapa ini pak ? " tanya pak Yadi.
" Is tolong ajak Sidiq anakku dulu, aku mau bicara dengan pak Yadi ! " bisikku.
" Iya mas, Sidiq ikut tante yuk kita main di dalem dulu. Biar ayah bicara sama om dulu ! " bisik Isti mengajak Sidiq menyingkir.
Kemudian aku mendekati pak yadi dan menjelasan siapa Sidiq.
" Wah seru juga perjalanan hidup jenengan pak ! " Sahut pak Yadi.
" Ya.... begitu lah pak, perjalanan pahit seorang bekas penjahat. " Seruku ke pada pak Yadi.
" Kalo boleh saya tanya nih, ceritanya gimana kok bisa
dbilang keguguran kok tahu punyaanak ? " tanya pak Yadi. aku terpaksa menjelaskan.
.....................
...flashback...
Terimakasih pada kaliyan semuanya, yg begitu peduli dan begitu memahami posisi kami saat itu "
" Iya mas, sama sama...
Terus masa lalu mas yg mana yg kamu anggap mengganjal ?
Bukankah masa lalu itu hanya sebuah kenangan, hanya sebuah sejarah. Untuk pelajaran merajut masa depan ? "
" Iya itu betul sekali...
Tapi masa laluku yg ini, meninggalkan bekas sampai sekarang. Dan mau tidak mau akan sampai ke masa depan. Yang mungkin akan mengganggu atau mempengaruhi hubunganku dengan Fatimah istriku tercinta. "
" Kayaknya berat banget mau ngomongnya mas. Sampaikan saja Insya Allah kita bisa bantu. "
" Iya Is...
Aku gak tahu harus mulai darimana...? "
" To the point aja mas...
Kita ini sudah satu keluarga besar, sudah jadi saudara gak usah sungkan. "
" Ok aku mau jujur dan to the point saja.Karena kebejatanku dimasa lalu, aku pernah menghamili gadis. Dan ketika aku berniat tanggung jawab. Datangi rumahnya, dilarang menemui. Katanya dia keguguran, bahkan aku dihajar sampai hampir mati.
Untung ditolong kang salim yg baru lewat. Dirawat dan dibawa ke pesantren.
Tapi bebrapa waktu lalu, dlm sebuah acara aku bertemu dgn gadis yg dulu hamil karena aku.
Dan dia ternyata tidak keguguran, anak itu lahir dan sekarang sudah berusia 2th.
Anak itu anakku secara biologis, terus aku harus bagaimana..?
Aku gak ingin Fatimah sakit hati.
Tapi aku juga tidak ingin jadi bapak yg tidak bertanggung jawab. Jadi Aku harus bagaimana Is...??? "
........................
" Begitulah pak ceritanya, jadi sebenarnya saya ini serba salah juga pak. Saat ini, saya harus bersikap bagaimana. Dan hanya Isti yang bisa saya jadikan teman curhat. " Begitu penjelasanku pada pak Yadi.
...bersambung...
.............................
...Jangan lupa...
...Like...
...Koment...
...dan vote nya...
__ADS_1
...Terima kasih...
...🙏🙏🙏...