
🌷🌷🌷
Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
...........
Episode lalu
“ Maksut saya saya akan cari markas baru mereka dan setelah ketemu baru saya sampaikan ke pak Yadi untuk sama sama kita tangkap !” kataku pada apak yadi.
“Selama cukup bukti saya berani tappi jika tidak cukup bukti saya tidak berani pak. Maaf, soalnya ini ranah hokum Negara yang harus dipakai pak.” Jawab pak Yadi.
“Tentu pak, saya juga paham itu, dan sudah pasti akan saya cari bukti bukti yang menguatkan pak. Biar kejahatan mereka bisa dihentikan segera.” Jawabku pada Pak Yadi.
“Kalo itu saya sepakat dan siap pak, artinya sudah sesuai prosedur hokum.” Jawab Pak Yadi.
“Yaudah pak, saya pamit dulu nanti kalo ada sesuatu pada Laras langsung bawa kerumah saya saja pak biar kami tangani disana saja.” Kataku pada pak Yadi.
“Saya ikut bapak saja boleh ya…..????” laras menyahut tiba tiba.
*****
Episode ini
“Kenapa Laras, disini juga aman kok.” Jawabku pada Laras.
“Gak pak, kejadian seperti barusan sudah beberapa kali terjadi. Laras takut kalo disini gak ada bapak !” ucap laras.
Aduuh bagaimana mungkin aku bawa anak gadis orang ke rumahku, bisa bisa yang ada Fatimah salah faham nanti. Lagian dirumahku juga sudah banyak sekali orang saat ini, pikirku.
“Begini saja Laras, nanti kalo terjadi apa apa sama kamu biar pak Yadi kontak bapak, biar bapak yang meluncur kesini. Rumahku gak begitu jauh kok dari sini.” Ucapku ke Laras.
“Tapi pak,,,,,!?” jawab laras ragu ragu.
“Udah gak papa, soalnya bapak juga baru ada acara dirumah nanti kalo urusan bapak sudah selesai boleh lah laras kerumah.” Ucapku ke Laras.
Sebenarnya dalam hatiku juga tidak tega, dan khawatir jika Laras mengalami sesuatu seperti tadi. Tapi bagaimanapun Aku harus menjaga perasaan istriku. Meskipun ada saksi Sena dan Rofiq, minimal Fatimah istriku harus aku kasih tahu dulu kejadian yang sebenarnya, pikirku.
“Owh iya pak, soal gelang tadi bagaimana pak ?” Tanya pak Yadi mengingatkanku perihal gelang yang tadi disebutkan sosok yang merasuki bapaknya Laras.
“Itu biar nanti saya yang cari pak, mudah mudahan bisa ditemukan dan benar bisa menjadi petunjuk bagi kita.” Jawabku ke pak Yadi.
“Terimakasih pak. Soalnya saya juga jadi mikir sekarang kalo meninggalkan rumah.” Ucap pak Yadi.
“Iya pak, saya paham saya juga mengalami hal yang sama. Mudah mudahan saja masalah ini cepat selesai/ yang jelas sekarang sudah cukup aman tidak ada serangan secara fisik kerumah pak. Sudah beberapa orang yang tertangkap itu membuat kondisi cukup aman.” Jawabku ke pak Yadi.
Setelah berpamitan dengan semua aku dan rombongan segera melangkah kelur dan pulang ke rumah. Sekitar 15 menit aku sudah sampai rumah, dan sudah ditunggui seluruh isi keluargaku dirumah.
“Alhamdulillah kalian gak papa, kok sampai menjelang sore baru pulang ?” Tanya ibu mertuaku.
“Alhamdulillah bu berkat restu ibu kami semua selamat.” Ucapku spontan sambil cium tangan ibu mertuaku dan bapak mertuaku.
“Selamat ? apakah tadi ada masalah saat persidangan ?” Tanya ibu mertuaku kemudian.
“Iya bu, saat pulang kami sempat diikuti dua orang tapi untung kami diajak kerumah pak Yaadi Polisi yang sering kesini dulu.” Jawabku.
“Terus bagaimana ceritanya ?” Tanya ibu mertuaku.
Kemudian aku menceritakan kronologis saat diajak pak yadi kerumahnya dan menangkap dua anak buah Maheso Suro tersebut sampai dengan kejadian di rumah pak Yadi yang menimpa anak dan bapaknya.
“Syukurlah kalo sudah ada titik terang tentang penyelesaian kasus ini. tapi kamu harus tetep hati hati, karena yang menimpa bapak dan anak itu menunjukkan jika musuh musuhmu masih tetap mengejar kamu.” Ucap ibu mertuaku.
“Njih bu, semoga saja kasus ini cepat selesai dan kita bisa hidup normal lagi gak seperti ini terus.” Jawabku pada ibu mertuaku.
Kemudian setelah melakukan sholat asar berjamaah dilanjutkan semaan Al-Quran seperti sebelumnya. Sebagai salah satu bentuk usaha batiniyah yang harus dilakukan. Sementara aku sendiri belum bisa ikut semaan karena mata ku masih belum sembuh benar dan masih terasa linu jika dipaksakan untuk membaca.
Aku mengajak Sena untuk menyusuri pematang sawah yang dulu menjadi tempat ditemukannya mayat itu. dengan berjalan kaki aku mengajak Sena menuju ke TKP ditemukanya Mayat itu.
“Jauh gak mas tempatnya ?” Tanya Sena.
“Gak kok hanya di sebelah utara dusun ini, paling juga hanya dua ratusan meter dari rumahku.” Jawabku pada Sena.
Setelah sampai di tempat dimana dulu mayat itu ditemukan aku bilang ke Sena.
“Dulu mayat itu tergolek di parit ini, dan aku memang melihat ada bekas luka cekikan. Kemudian penginapan tempat dia menginap arahnya dari sana.” Kataku menunjuk ke utara.
“Berarti kemungkinan gelang itu jatuhnya dari arah sana juga !” sahut sena.
__ADS_1
“Betul,,, hanya saja berapa jauh dari sini kita belum jelas. Baiknya kita cari bersama saja, kamu dari timur parit aku dari barat parit. Teliti setiap jengkal tanah yang kita lewati, mudah mudahan belum lenyap terkubur tanah akibat sudah di cangkul petani. Seratus hari bukan waktu yang sebentar soalnya.” Kataku pada Sena.
“itu jugalah yang jadi pemikiran aku mas, janga jangan sudah terpendam tanah atau terguyur air hujan dan terbawa arus air sungai.” Jawab Sena.
“Ya kita usaha dulu gak usah berspekulasi dulu.” Ucapku.
Kemudian akudan Sena berjalan menyusuri parit yang biasa digunakan untuk irigasi sawah tersebut. Kami berjalan pelan sambil memperhatikan benda benda yang mencurigakan. Namun sudah cukup jauh kami berjalan tak satupun dari kami menemukan petunjuk gelang tersebut.
“Udah cukup sore, nih kita pulang dulu saja sambil balik kanan kita cari lagi barang kali ada yang terlepas pengamatan kita tadi. Dengan medan yang cukup sulit untuk berjalan kaki itu kami berjalan berbalik Arah menuju ke rumah.
Melewai pinggir parit yang hanya jalan setapak dan tiap beberapa meter ada pohon pohon perdu yang berduri. Saat berjalan sambil mengamati sekitar parit itu, tiba tiba bajuku seperti ditarik sesuatu. Aku agak kaget, tapi ternyata hanya tersangkut duri dari tumbuhan yang ada. Mungkin tidak terlalu focus melihat jalan sehingga bajuku sampai tersangkut duri dan agak susah dilepas karena durinya cukup banyak dan panjang.
Sampai sampai aku melepas dulu bajuku karena sulit yang tersangkut bagian belakang bajuku. Untung masih memakai kaos dalam waktu itu.
Setalah baju kulepas, Sena mendekati dan membantu melepaskan bajuku dari onak duri di pohon tersebut.
“Disukai penjaga sungai ini kali mas, sampai ditahan bajunya begitu.” Goda Sena padaku.
“gak lah, penjaga sungai ini jin laki laki !” jawabku asal ngomong saja sambili berusaha melepaskan baju dari duru duri yang menyangkut.
Setelah baju bisa terlepas dan hendak melanjutkan jalan pulang kerumah.
“Sena tunggu….!” Ucapku pada Sena.
“Ada apa mas ?” Tanya Sena.
“Coba perhatikan di dasar pohon berduri ini, itu ada tali yang menyembul sedikit di atas tanah. Jangan jangan itu gelang yang kita cari ?” ucapku pada Sena.
“Coba cari kayu buat mengorek tanahnya mas.” Ucap Sena.
Kemudian aku memotong ranting dari pohon berduri itu yang kira kira bisa buat menggali tali yang terpendam didalam tanah tersebut.
Kemudian dengan di bantu Sena meminggirkan batang yang penuh duri itu aku terus menggali sedikit demi sedikit. Dan ternyata….
“Alhamdulillah, ini beneran Gelang Sena tapi belum jelas gelang ini bukan yang dimaksut. Soalnya masih belepotan tanah.” Ucapku pada Sena.
"Sini mas biar Sena cucinya di parit ini.” Pinta Sena.
Kemudian gelang tali yang di bagian tengahnya ada kepingan perak kecil itu dicuci Sena di parit. Dan setelah bersih ternyata memang ada initial nama seseorang disitu dengan dua buah Huruf ‘RE’. kami dan Sena berpandangan sejenak karena intial itu sudah cukup dikenal banyak orang.
Apakh beneran dia pelakunya, batinku. Tapi memang gelang itu meskipun dari anyaman tali tapi bukan sembarangan orang yang memiliki. Apa lagi ada perak dengan initial nama itu.
“Apakah mungkin dia….?” Ucapan Sena tertahan agak ragu menyebut sebuah nama.
“Mungkin saja Sena, dari awal memang itu yang pak Yadi curigai hanya karena dia licin saja sehingga sulit di jerat hokum. Tapi pada dasarnya sudah menjadi TO ( Target Operasi ) lama.” Jawabku.
Iya itu juga belum pasti, baru sebatas kecurigaan tapi juga berdasar petunjuk dan bukti bukti penguat lainya.” Ucapku.
“Wah bisa heboh dong nanti…!” ucap Sena.
“Udahlah itu bukan kewenangan kita, kita pulang saja yuk.” Ajakku pada Sena.
Kamipun melanjutkan perjalanan pulang kerumah yang masih cukup jauh, karena kita sudah melewati TKP hampir satu km. dan disekitar situlah kami bisa menemukan gelang yang dimaksut.
Kemungkinan disekitar ditemukanya gelang itulah korban di cekik dari belakang saat mau lari dan berusaha melepaskan namun gagal. Hanya bisa memutuskan gelang yang dipakai pelaku dan jatuh menyangkut di rumput perdu tadi.
Aah aku jadi agak merinding juga, apa tadi bajuku tidak sekedar tersangkut duri tapi memang sengaja agar aku bisa menemukan gelang itu disitu, pikirku. Eeh kenapa aku malah jadi merinding gini, padahal mengalami atau bertemu yang lebih serem saja sering, pikirku. Tapi entahlah memang begitu keyataanya, hanya karena itu saja aku jadi merinding begini.
Sampai sudah aku dirumahm dan yang semaan Al-Quran pun sudah usai karena menjelang maghrib sebentar lagi. Begitu masuk Rumah langsung disambut Fatimah.
“Mas, ayo diobatin lagi sekarang, udah sore bentar lagi maghrib loh.” Kata Fatimah datar.
“Iya boleh, dikamar saja yuk, mali kalo disini nanti kalo sakit pada diketawain.” Candaku pada Fatimah.
“Yaudah ayuk..!” ucap Fatimah pendek. Tumben gak berusaha ngeledek aku nih, kataku dalam hati. Kemudian aku masuk kekamar dan segera diobati oleh Fatimah.
“Mas dari mana sama Sena,, dik Nurul tadi juga Nyariin suaminya loh, kasihan ditinggal terus dar pagi.” Kata Fatimah. Sehingga memaksa aku menceritakan sepulang dari sidang smapi dengan sampai dirumah tanpa ada yang tercecer.
“Owh Anggada itu yang waktu malam malam berantem sama ma situ, yang katanya tanganya sampai retak ?” iya tapi sudah diamankan polisi sekarang.
Terus anak pemilik losmen itu nasibnya bagaimana kok sampai pingin ikut kesini ?” Tanya Fatimah.
“Ya dia ketakutan hampir tiap saat digangguin makhluk halus terus.” Kataku.
“Kok tadi gak diajak kesini aja ?” kata Fatimah.
“Gak lah, apa kata orang aku bawa gadis ABG dikira doyan daun muda nanti.” Jawabku.
“Ya gak papa kan kalo niatnya Cuma nolong, bawa mantan pacar kesini aja Fatimah gak marah kok.” Ucap Fatimah.
“Yeee itu sih kamu yang nyuruh dia kesini bukan aku, jangan memutar balikan Fakta dong.” Protesku pada Fatimah.
“Iya iya Fatimah juga bercanda aja kok. Udah sini Fatimah tetesin obat mas.” Ucap Fatimah menyuruhku membuka mata dan menghadap ke atas.
__ADS_1
Setelah selesai di tetesin dengan tetap menahan rasa perih yang ada, meski semakin berkurang, aku kembali membenamkan wajahku di dada istriku.
“Mas gak usah manja gini knapa sih ?” ucap Fatimah.
“Aku gak Manja kok, Cuma kalo pas ngerasa sakit itu lebih tenang kalo dalam dekapan istri.” Jawabku.
“inget mas, gak usah banyak menggombal aah…!” jawab Fatimah.
Kemudan aku dan Fatimah keluar kamar untuk bersiap siap sholat maghrib berjamaah setelah berbincang bicang sejenak.
Kelihat ada Nurul istri Sena kemudian aku dekati.
“Maaf ya dik Nurul suaminya seharian ini aku ajak keluar terus.” Kataku pada Nurul.
“Owh iya gak papa kok mas, hanya tadi Nurul gak tahu kalo diajak keluar sama Mas Yasin.” Jawab Nurul.
“Iya tapi tetep saja saya minta maaf dik Nurul jadi repot begini.” Ucapku.
“Gak papa mas, sungguh malah Nurul senang bisa bertemu banyak saudara disini.” Jawab Nurul tulus.
Kemudian kami segera melaksanakan sholat maghrib berjamaah.
Setelah selesai sholat berjamaah dan di tengah tengah dzikir, kudengar dering suara Ponselku berbunyi berkali kali. Aku meneruskan dzikir yqng dipimpin bapak mertuaku dulu sampai selesai. Baru kemudian menengok siapa yang maghrib maghrib telpon begini, batinku.
Ternyata telpon tersebut dari pak Yadi, aku jadi teringat dengan Laras. Apakah kembali terjadi sesuatu pada Laras, pikirku.
Aku segera menelpon balik pak Yadi, dan ternyata memang terjadi sesuatu pada laras dan juga bapaknya Laras.
Sehingga aku segera menemui Fatimah untuk di pertemukan dengan Yuyut.
Kemudian aku dan Fatimah memanggil Yuyut dan berkonsultasi terkait hal yang menimpa bapak dan anka tersebut.
“Yaudah kamu tengok kesana saja sekarang, ajak sena kalian berangkat berdua saja.” Jawab Yuyut.
Kemudian setelah berpamitan pada semua termasuk Nurul istri Sena aku segera berngkat kerumah pak Yadi bersama Sena.
Karena memang aku sudah berjanji dengan Laras juga jika terjadi sesuatu denganya hubungi aku aja lewat pak Yadi. Dan ternyata memang bener bener terjadi sesuatu pada Laras bahkan bapaknya juga.tapi entah apa yang terjadi pak Yadi belum mau cerita.
Tak berselang lama kami sudah sampai dirumah pak Yadi, danmendengar jeritan Histeris kemudian tertawa terkekeh bergantian seakan ada dua orang yang satu menangis sedih yang satu tertawa mengejek. Tapi itu adalah suara bapak nya Laras saja. Larasnya mana ? tanyaku dalam hati.
“Maaf pak Yasin terpaksa saya undang kesini saya sudah kewalahan menangani mereka berdua soalnya.” Ucap pak Yadi.
“Iya pak gak papa, ada apa sebenarnya pak ?” tanyaku pada pak Yadi.
“Tadi mereka berdua mengamuk saat kami sedang sholat maghrib, sehingga seisi rumah takut, silahkan pak Yasin lihat keadaan mereka.” Ucap pak Yadi. Kemudian mengajakku masuk ke rumahnya.
“Lah laras kemana kok gak ada ?” kata pak Yadi kebingungan. Kemudian kami memeriksa pintu belakang dan ternyata pintu belakang rumah telah di dobrak dan laras telah pergi keluar meninggalkan rumah itu.
Aku dam sena berbagi tugas, satu menangani Pemilik Losmen dan satu mengejar Laras. Dan Sena memilih mengejar Laras. Sehingga aku kembali kedepan menemui bapaknya Laras untuk menyadarkan dia.
Setelah bapaknya Laras sadar aku menanyakan apa yang dia rasakan tadi dan kemana Laras Pergi.
Kemudian Bapaknya laras bercerita jika Awalnya Laras menjerit jerit minta tolong dan minta dilepaskan, padahal tidak ada yang memeganginya. Kemudia Bapaknya Laras mencoba tenangkan Laras, namun tiba tiba merasakan gelap sesaat dan. Tahu tahu dia merasa menjadi orang lain dan melihat Laras sedang ditarik tarik oleh sosok menerikan dengan paksa, dan dia berusaha menahan namun kalah dalam perbutan senhingga dia meraung dan menangis kencang.
Sessat kemudian Sena kembali dan mengatakan jika Laras sudah jauh, tak ada disekitar rumah pak Yadi. Dan Sena sudah berkeliling mencari tidak ketemu.
Kemudia aku meminta kepada Pak Yadi.
“Maaf pak Yadi, kita harus kejar laras, kemungkinan laras digiring ke markas mereka. Jika tidak segera kita susul bisa jadi Laras hanya akan pulang nama. Karena akan dijadikan tumbal Darah Perawan untuk upacara ritual kepercayaan mereka.” Kataku pada pak Yadi.
“Yaudah kita kejar bertiga dengan mobil dinas saya saja sekarang sambil saya koordinasi dengan jajaran pak.” Sahut pak Yadi…..???
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
__ADS_1
...🙏🙏🙏...