
“Gimana kabar bapakmu, sehat
?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Sehat lek.” Jawab Rendy
singkat.
“Masih suka keluar malam kah
bapakmu Rendy ?” tanyaku lanjut.
Rendy terdiam sesaat,
kemudian dengan agak tergagap menjawab.
“Malah hamper tiap malam
sekarang lek, sering disamperin temenya gak tahu siapa. Kayak orang pinter gitu
kelihatanya.” Jawab Rendy.
Orang pinter adalah sebutan
untuk paranormal, aku jadi semakin curiga mendengar jawaban Rendy. Apa mungkin
bapaknya Rendy ikut terlibat dalam masalah ini, pikirku. Namun aku juga tidak
berani berlebihan dalam curiga meski tetap harus berhati hati.
“Apa kamu kesini disuruh
bapak kamu Ren ?” tanyaku langsung mengarah apa tujuan Rendy. Sehingga rendy
hamper tersedak mendengar pertanyaanku.
“Hati hati Ren,minumnya
pelan pelan saja gak usah buru buru gitu.” Ucap Fatimah mengingatkan Rendy.
“Iya bulek maaf Randy jadi
mengotori meja.” Jawab Rendy.
“Kamu kenapa ditanya begitu
saja sampai tersedak,Rendy. Apa memang ada pesan khusus dari bapakmu yang akan
kamu sampaikan pada kami ?” kataku kemudian.
“Gak kok lek, gak ada pesan
khusus hanya disuruh jenguk saja. Katanya pak lek habis kena halangan.” Jawab
Rendy kaku.
Sejak kapan bapakmu peduli
begitu,pikirku. Dari jawaban Rendy semakin memperbesar kecurigaanku bahwa Rendy
memang diberi tugas khusus oleh ayahnya. Meski mungkin Rendy sendiri tidak
menyadari dan tidak tahu apa motivasi bapaknya.
“Owh tumben bapak kamu inget
dan peduli sama pak lekmu, ada angina pa Ren ?” tanyaku datar pada Rendy.
“Gak tahu pak lek klo itu,
yang jelas Rendy hanya diminta menjenguk pak lek dan bulek saja lihat
keadaanya.” Jawab Rendy.
Aku berhara[ Fatimah sudah
Faham dengan arah pembicaraanku kepada Rendy dan dapat menyimpilkan sendiri
dari jawaban Rendy.
“Ya sukurlah kalo gak ada
niat laian, sampaikan saja ke bapakmu ucapan terimakasihku. Katakana jika
disini semua baik baik saja, tidak kurang satu apapun. Juga sampaikan ke
bapakmu untuk jangan salah dalam memilih teman bergaul lagi.” Kataku berharap
pesan itu disampaikan. Karena kalo ayahnya Rendy mendengar itu pasti dia akan
merasa jika aku sudah tahu jika dia mengawasi aku.
Setelah beberapa saat
mengobrol dan menikmati kopi Rendy pun pamit pulang. Kemudian Fatimah bertanya
kepadaku tenteng apa yang aku lakukan barusan kepada Rendy.
“Mask ok tadi nanyanya
begitu kepada Rendy, dia kan masih anak anak gak tahu urusan orang tuanya.”
Kata Fatimah.
“Justru karena Rendy belum
tahu maka aku takut dia dimanfaatkan bapaknya untuk mengawasi kita, tanpa Rendy
sadari.” Jawabku.
“Maksut mas yasin gimana,
kok Fatimah gak faham ?” Tanya lanjut Fatimah.
“Rendy memang hanya disuruh
kesini, dan dengan polosnya Rendy menuruti. Kemudian sampai dirumah Rendy
ditanyai apa yang terjadi disisi, siapa saja yang ada disini dan sebagianya.
Tentu saja Rendy akan menganggap itu pertanyaan wajar dan akan menjawab apa
adanya. Padahal bapaknya sedangmengumpulkan data dan mau menyusun rencana,
kemungkinan begitu kan bisa. Makanya aku tadi minta kamu jawab kalo Arum dan
Sidiq akan pulang besuk, bukan mau ikut Eis dan Samsudin.” Jawabku.
“Jangan berlebihan dalam
kecurigaan mas, gak baik.” ucap Fatimah.
“Ini gak berlebihan Fat,
hanya kewaspadaan coba kamu pikir. Apa kerugian Rendy dan bapaknya dengan
jawaban Arum dan Sidiq mau pulang kerumahnya. Misalkan dia gak punya maksut
lain juga gak rugi, dan kita hanya waspada saja. Tapi kalo kita jujur dan
ternyata dia ada maksut mencelakai dijalan ? kan jauh lebih fatal akibatnya.”
Jawabku menjelaskan kepada Fatimah.
“Mas Yasin kok bisa punya
kecurigaan seperti itu, atas dasar atau pertimbangan apa ?” Tanya Arum ikut
menyela.
“Pertama kita memang harus
merahasiakan semua tentang kita saat ini. Termasuk kepergianmu kepada orang
orang yang tidak ada kompetensinya. Yang kedua, ada permasalahan khusus antara
aku dengan bapaknya anak tadi. Dan yang terakhir gak pernah bapak bocah itu
peduli kepadaku, saat aku terjatuh. Sekarang tiba tiba peduli kan aneh saja.”
Jawabku.
“Tapi jangan berlebihan juga
mas, agar Rendy gak merasa disudutkan.” Ucap Fatimah.
“Kurasa aku gak berlebihan,
apa yang aku ucapkan masih normative saja. Tidak ada ucpanku yang mengarah
untuk menyudutkan Bapaknya Rendy.” Kataku.
Dengan susah payah aku harus
menjelaskan pada Fatimah dan Arum terkait sikapku kepada Rendy barusan. Entah
mereka akhirnya mengerti atau sekedar gak mau melanjutkan lagi akhirnya hanya
mengiyakan saja apa yang aku sampaikan.
*****
Dirumah Rendy
“Udah pulang Ren, tadi
ketemu siapa saja disana.” Tanya ayahnya Rendy.
“Biasa ketemu pak lek dan
bulek dan ibunya Sidiq aja. Rendy gak lama kok disana.” Jawab Rendy.
“Owh, terus ngobrol apa saja
disana ?” Tanya ayah Rendy kemudian.
“Tadi bulek Cuma bilang,
kalo Sidiq dan ibunya mau pulang besuk.” Kata Rendy
“Pulang,,,? Pulang kemana ?”
Tanya ayah Rendy penasaran.
“Ke rumahnya lah, kalo
rumahnya mana Rendy juga gak tahu. Tadi nanya malah diomelin pak lek kok !”
jawab Rendy mengadu.
“Diomelin gimana kamu ?”
Tanya ayah Rendy.
“Ya begitulah, dibilang mau
nganter apa naya nanya segala ?” jawab Rendy dengan mengedit kalimat sesuai kehendaknya
sendiri.
“Terus setelah itu ?” kata
ayah Rendy makin penasaran.
“Ya dia nanya, kamu kesini
apa disuruh bapak kamu.” Jawab Rendy.
“Kamu bilang apa ?” Tanya
ayah Rendy agak khawatir.
“Rendy bilang Cuma disuruh
jenguk, karena pak lek habis kecelakaan.” Kata Rendy.
“Terus pak lek mu bilang apa
?” “Yo begitulah, Cuma bilang makasih terus titip pesan ke bapak, jangan salah
pilih teman dalam bergaul. Pak lek disini dan semua baik baik saja, katanya.”
Jawab Rendy.
Mendengar itu wajah ayah
Rendy jadi agak panik, merasa jika tindakanya sudah diketahui. Namun tetap saja
ayah Rendy kemudian melaporkan hasil pengamatan Rendy kepada Damar untuk
disampaikan ke crewnya.
*****
Dammar menghadap Ajar
panggiring.
“Info terkini, Sidiq besuk
akan dibawa pulang ibunya kerumahnya. Tapi rumahnya mana aku belum dapat info.”
Chat ayahnya Rendy kepada Damar.
Dammar gembira membaca chat
dari ayahnya Rendy dan segera bergegas menuju kerumah Ajar panggiring untuk
melaporkan info terbaru yang sebenarnya palsu tersebut.
Samapi dirumah Ajar
__ADS_1
Panggiring.
“Ki ada info bagus dari
iparnya Yasin, besuk Sidiq akan dibawa ibuny pulang ke rumahnya.” Ucap Damar
pada Ajar Panggiring.
“Beneran, besuk mau dibawa
pulang ? Apa dia sudah merasa aman
sekarang ?” Tanya Ajar Panggiring.
“Gak tahu kalo itu ki, yang
jelas infonya begitu, tapi rumahnya mana kami belum tahu.” Kata Damar.
“Soal rumahnya mana kami
sudah tahu. Tapi pulangnya jam berapa itu yang penting harus dicari tahu. Kita
akan hadang di jalan saja besuk.” Ucap Ajar Panggiring.
“Itu juga belum tahu ki,
tapi kemungkinan pagi. Karena tadi sudah mempersiapkan tas segala.” Ucap Damar.
“Iya, memang kita harus stay
dari pagi, besuk kerahkan orang untuk berjaga disetiap titik yang mungkin akan
dilewati. Jika sampai di titik yang memungkinkan culik anak itu, dan usahakan
sudah cukup jauh dri rumah Yasin. Agar semua bisa berjalan lancer.” Kata Ajar
Panggiring.
Saat itu juga berita bohong
itupun tersebar ke semua anggola dan maheso Suro langsung memerintahkan semua
untuk berkumpul di markas malam itu.
Hingga pada waktu yang telah
disepakati semua berkumpul di markas, langsung mengatur strategi untuk menculik
Sidiq.
“Soma dan Ajar panggiring,
kalian harus bekerja sama untuk dapat membuat Ibunya Sidiq lengah dan merebut
Sidiq di jalan. Jika ada yang mengawal nanti ada orang lain yang akan
menangani. Tugas kalian hanya membuat ibunya Sidiq lengah dan merebut Sidiq.
Jika terpaksa sekalian ibunya dibawa ke markas juga terserah, tapi yang jadi
incaran adalah Sidiqnya.” Ucap Maheso Suro. Kepada anak buahnya.
“Malam ini apa yang akan
kita lakukan ?” Tanya Damar.
“Maksut kamu apa, apa kamu
mau bersenang senang lagi. Tunggu besuk jika sudah berhasil. Aku kasih hadiah
bagus buat kamu Damar.” Kata Maheso Suro.
“Bukan itu ki Ageng,
maksutku apakah akan mengadakan ritual lagi malam ini atau tidak ?” Tanya
Damar.
“Hanya aku, Ajar panggiring
dan beberapa orang yang akan kupilih nanti. Yang lainbebas mau apa aja.” Jawab
Maheso Suro.
“Baiklah ki, jadi apa tugas
untuk ku sekarang dan besuk ?” Tanya Damar.
“Untukmu malam ini tidak ada
tugas, untuk besuk nanti kita pikirkan tugas yang tepat untuk kamu.” Jawab
Maheso Suro.
“Sebentar ki Ageng, sekarang
ini kita butuh orang yang harus mengawasi rumah Yasin sampai dengan besuk pagi
saat Sidiq dibawa keluar rumah. Agar kita bisa memastikan, kapan dimana jam
berapa kita menghadangnya ?” usul Ajar panggiring.
Maheso Suro terdiam sejenak,
kemudian berkata dengan lantang.
“Perintahkan saja, orang
siap dari pagi mengawasi dan menghadang di tempat yang cukup sepi. Kemudian
lakukan sesuai rencana nanti.” Jawab Maheso Suro.
“Kira kira butuh berapa
orang ki Ageng ?” Tanya Damar menyambung.
“Sebanyak yang kamu bisa kumpulkan.” Jawab Maheso Suro.
Kemudin mereka mengatur di
titik titik mana saja yang harus dijaga, dan siapa personilnya serta siapa yang
akan membuntuti saat Arum dan Sidiq keluar rumah. Semua sudah diatur rapi
dengan mempertimbangkan hal hal yang mungkin terjadi, termasuk jika harus
terjadi bentrok fisik nantinya.
Setelah selesai menentukan
tempat mana yang akan dijaga dan lain lain pertemuan dianggap selesai. Kemudian
Maheso Suro mengajak beberapa orang untuk melakukan ritual, memilih orang orang
*****
Flashback dirumah Yasin.
Yasin POV
Sepeninggal Rendy hatiku
jadi resah, meskipun tadi sudah membohongi Rendy dengan mengatakan Sidiq akan
dibawa kerumahnya. Namun entah mengapa aku masih saja was was dengan
keselamatan anakku Sidiq.
Kemudian aku memanggil
Fatimah dan Arum untuk kuajak berbicara lagi. Setelah sebelumnya mereka
meninggalkan aku diruang depan karena habis beradu argument.
“Fat, jujur perasaanku jadi
tidaknyaman dengan kehadiran Rendy tadi.” Kataku membuka pembicaraan.
“Maksutnya gimana, langsung
bicara saja lah mas !” pinta Fatimah.
“Mas Yakin kedatangan Rendy
tadi adalah disuruh bapaknya untuk mengawasi kita. Dan seperti yang kalian tahu
bahwa mereka saat ini akan merencanakan merebut Sidiq untuk dijadikan sandera.
Otomatis mereka akan tahu jika besuk Arum dan Sidiq akan meninggalkan rumah
ini.” Kataku terhenti sebentar.
“Jadi menurut mas, bagaimana
?” Tanya Fatimah.
“Untuk menghindari hal hal
yang tidak kita inginkan, Arum dan Sidiq harus berangkat sore ini juga.”
Kataku.
“Mas Yasin, gak bermaksut
mengusir Arum kan ?” tiba tiba Arum bertanya seperti itu.
“Ya Allah Arum, aku sangat
menyayangi Sidiq. Gak mungkin aku mengusir kalian juga. Apa lagi aku juga harus
berpisah dengan Samsudin sahabat karibku. Aku juga sangata sedih sebenarnya,
tapi demi keamanan aku lebih baik sedih kalian pergi lebih cepat dari pada
terjadi sesuatu dengan kalian.” Jawabku.
Arum terdiam tampak
menyesali ucapanya.
“Iya mas maaf, sebenarnya
Arum juga sedih berpisah dengan Fatimah yang sudah sangat baik dengan Arum.
Itulah yang membuat Arum bertanya begitu tadi.” Kata Arum.
“Iya gak papa, hal sepele
gak usah dibesar besarkan. Aku tahu hubungan kalian sangat baik, dan aku sangat
bersukur karena itu. Tapi percayalah apa yang aku ingin lakukan ini adalah demi
kebaikan kita semua.” Kataku pada Arum.
“Iya Arum, aku juga sedih
sebenarnya tapi demi keselamatam Sidiq dan semuanya maka lebih baik kamu ikuti
kata suamiku.” Ucap Fatimah sambil menahan air matanya agar tidak tumpah.
Maka kedua wanita itupun
saling menangis dalam pelukan. Sementara aku hanya terpaku melihat kedua wanita
yang pernah hadir dihatiku dalam waktu yang berbeda. Untung aku masih kuasa
untuk tidak larut dalam keharuan itu.
Aku meninggalkan Arum dan
Fatimah istriku untuk menemui Samsudin dan Eis menyampaikan apa yang barusan
aku bicarakan dengan Fatimah dan Arum.
“Eis, suamimu mana tolong
ajak kedepan kita harus bicara penting saat ini juga bersama Arum dan Fatimah.”
Kataku pada Eis.
“Iya mas, nanti Eis nyusul
sama Aa’.” Jawab Eis pendek.
Aku kembali menemui Arum dan
Fatimah sesaat kemudian Samsudin dan Eis pun ikut bergabung dengan kami.
“Langsung saja pada point
pembicaraan kita tadi. Bahwa rencana keberangkatan kalian sudah diketahui
musuh. Maka untuk menghindari hal hal yang tidak diinginkan, dengan sangat
terpaksa aku mohon kalian berangkat sore ini juga. Dan aku akan mencarikan
tiket nanti dikawal beberapa polisi yang ada dirumah kita.” Kataku.
“Eis mah ikut saja demi
keamanan kit amah.” Kata Eis.
“Aku juga ikut saja lah,
__ADS_1
agar semua aman, apa lagi dalam rombongan nanti ada Sidiq yang masih kecil.”
Kata Samsudin.
“Baiklah, tolong kasih tahu isti dan kakaknya.aku akan menghubungi pak Yadi
untuk membantu mencari dan sekaligus nanti ikut menghantarkan sampai berangkat.
Biar mereka nanti sampai disana dijemput kang Salim.” Kataku menjelaskan
tindakan preventif yang harus dilakukan.
Aku segera menghubungi pak
Yadi, dan pak Yadi bersedia datang kerumah mengingat waktu yang sudah sore
sekaligus pak Yadi menawarkan untuk diantar oleh orang kepercayaanya agar
keselamatan Eis,Samsudin dan lainya lebih terjamin.
“Apakah harus begitu mas,
atau memang kondisi sudah sedemikian gentingnya “ Tanya Isti yang tiba tiba
datang dan langsung bertanya.
“Iya maaf Isti dan bang
Rofiq, terpaksa keberangkatan Arum dan lainya harus dipercepat. Dan ini tadi
aku sudah kontak pak Yadi. Atas usul beliau kalian nanti akan diantar oleh
orang kepercayaan pak Yadi, tidak menggunakan kendaraan umum biar lebih aman.”
Kataku.
“Jadi gak perlu cari tiket
kendaraan mas ?” Tanya Arum.
“Iya gak usah, kalian siap
saja disini semua nanti mobil datang kesini dan kalian berangkat habis Isya.
Biar musuh mengira kalian berangkat besuk, tapi kalian mala mini sudah
berangkat ke tempat kang Salim langsung. Eis tolong kamu hubungi kang Salim
atau the Atikah. Sampaikan semua apa yang terjadi dan sampaikan jika kalian
berangkat mala mini langsung menuju ke pondok beliau bersama Sidiq dan Arum.”
Kataku kepada Arum.
Aku bersukur sekali, karena
semua bisa berjalan dengan lancer, meski sekaligus sedih harus berpisah
sementara waktu dengan Sidiq anakku. Biiasanya meski hanya sebentar aku selalu
menyempatkan bersenda gurau dengan Sidiq. Namun mulai nanti aku harus berpisah
dengan SIdiq sementara waktu, entah sampai kapan.
“Arum, Sidiq mana biar aku
gendong buat mengobati rasa kangenku nanti. Biar kali ini Sidiq bersama aku dan
istriku dulu sampai kalian berangkat nanti.” Aku berucap kepada Arum dengan
mata yang berkaca kaca.
“Mas Yakin sudah mampu
gendong Sidiq, apa biar Fatimah aja yang gendong. Luka jahitan di dada mask an
belum kering betul.” Kata Fatimah.
“Gak papa sayang, mas Yakin
udah gak apa apa sekarang.” Kataku.
“Jangan maksain Zain, kamu
jangan gendong dulu kamu pangku saja itu jauh lebih aman.” Kata Rofiq
mengingatkan Aku.
Kemudian aku Sidiq dibawa
Arum dan diserahkan ke aku, kemudian Sidiq duduk dipangkuanku. Aku benar benar
tak mampu menyembunyikan suasana haru yang ada di hatiku waktu itu. Dalam
linangan air mata aku berkata pada Sidiq.
“Sidiq sayang, nanti Sidiq
dengan mamah Sidiq ikut Bunda Eis dan Ayah Samsudin dulu ya jalan jalan.”
Kataku tak mampu melanjutkan.
“Kenapa yah, ayah kok
nangis, ayah sakit lagi ?” Tanya Sidiq dengan bahasa polos anak anak yang
selalu bikin aku kangen dia.
“Gak kok sayang, ayah gak sakit Cuma ayah pingin Sidiq seneng jadi biar ikut
jalan jalan sama mamah nanti.” Kataku membohongi Sidiq. Hati orang tua mana
yang tidak teriris, melihat anak balitanya yang belum punya dosa menjadi target
ancman musuh.
Antara haru,sedih dan dendam
sebenarnya bercampur menjadi satu saat itu.
Sambil menunggu kedatangan
pak Yadi aku memanfaatkan waktu kebersamaanku dengan Sidiq. Fatimah pun ikut
bercakap cakap dengan Sidiq, dengan tak lupa meninggalkan pesan pesan ringan
kepada Sidiq. Agar tidak nakal, dan menuruti kata mamahnya juga belajar ngaji
yang baik selama disana.
Sehingga suasana ceria tapi
diwarnai keharuan bercampur menjadi satu saat itu. Dalam hati aku berpikir, apa
reaksi musuh nanti setelah tahu mereka terkecoh olehku.
Menjelang adzan maghrib
tampak pak Yadi datang bersama temanya, sudah sekalian membawa mobil yang akan
dipakai mengantar Arum dan Sidiq bersama Eis dan Samsudin. Meski belum akan
berangkat, namun hatiku sudah merasakan akan berpisah dengan Sidiq anakku.
Bahkan degup jantungku berdebar semakin kencang begitu pak Yadi masuk kerumahku
bersama temanya.
“Assalaamu’alaikum.” Salam
pa Yadi.
“Wa ‘alaikummussalaam pak,
mari masuk dulu pak.” Jawabku.
“Iya pak.” Jawab pak Yadi
dan temanya.
“Bagaimana pak, apakah semua
sudah siap ?” Tanya pak Yadi.
“Sudah pak, nanti habis
Solat isya saja tapi berangkatnya.” Jawabku.
“Siap pak, kapanpun saya
siap.” Teman pak Yadi yang menjawab.
“Makasih banyak pak, maaf
saya merepotkan hingga bapak harus meninggalkan keluarga demi mengantar saudara
saudara saya.” Kataku.
“Gak usah sungkan pak, bapak
dan keluarga kan memang baru dalam perlindungan daari kami. Jadi apapun keperluan bapak kami siap
membantu.” Jawab teman pak Yadi itu.
Kumandang adzan maghrib pun
berkumandang, segera kami semua bergegas untuk melaksanakan solat maghrib
berjamaah dilanjutkan wirit dan solat Isya. Malam itu untuk pelaksanaan
Mujahadah kami tunda setelah melepas kepergian Samsudin,Eis,Arum dan Sidiq.
Maka ketika tiba waktunya
mereka akan berangkat, aku menggendong Sidiq tanpa mempedulikan larangan orang
orang disekelilingku. Aku yakin tidak akan mempengaruhi luka jahitan yangada,pikirku.
Kemudia aku menciumi Sidiq
hinga puas, dengan menahan air mata kesedihan agar tak terlihat oleh Sidiq.
“Kalian semua hati hati,
kami yang disini selalu mendoakaan kalian semuanya.” Kataku melepas kepergian
mereka.
“Kamu juga Yasin, jangan ceroboh
lagi. Kapan kapan kamu dan istrimu juga harus singgah ditempatku ya !” ucap
Samsudin.
“Ok bro, Insya Allah aku dan
Fatimah istriku akan main kerumahmu juga. Tapi nunggu jika anakku besuk sudah
cukup berani dibawa pergi jauh.” Kataku.
“Bang rofiq, gak ucapkan
sesuatu buat Arum ?” tanyaku.
“Iya, hati hati Arum
sepulang dari sana insya Allah aku dan keluargaku akan mengunjungi orang
tuamu.” Kata Rofiq.
“Iya mas, Arum tunggu saat
itu datang nanti.” Jawab Arum.
Setelah semua saling
mengucapkan kata kata perpisahan maka berangkatlah rombongan itu menuju ke
pondok kang Salim. Insya Allah disana mereka jauh lebih aman dari pada disini,
kataku dalam hati.
Sekarang pikiranku hanya
focus untuk menjaga Fatimah istriku saja, karena jika musuh tahu sudah terkecoh
bukan tidak mungkin akan mengganti sasaran mereka pada Fatimah istriku. Namun
aku berpikir, jika focus melindungi Fatimah saja yang saat ini gak pernah
keluar rumah maka akan lebih mudah.
*****
Author POV
Begitulah saat saat
perpisahan Yasin dengan keluarga Samsudin juga Sidiq anaknya. Suasana penuh
haru itu membuat Yasin dan semuanya menjadi sedikit lengah, sehingga ada
sepasang mata yang mengawasi mereka dari kejauhan tidak mereka sadari.
“Kurang ajar, rupanya mereka
merubah jadwal keberangkatanya jadi mala mini, aku harus lapor sekarang.” Bisik
__ADS_1
orang itu.