Isyaroh

Isyaroh
Arum dan Sidiq berangkat ke pondok kang Salim


__ADS_3

“Gimana kabar bapakmu, sehat


?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.


“Sehat lek.” Jawab Rendy


singkat.


“Masih suka keluar malam kah


bapakmu Rendy ?” tanyaku lanjut.


Rendy terdiam sesaat,


kemudian dengan agak tergagap menjawab.


“Malah hamper tiap malam


sekarang lek, sering disamperin temenya gak tahu siapa. Kayak orang pinter gitu


kelihatanya.” Jawab Rendy.


Orang pinter adalah sebutan


untuk paranormal, aku jadi semakin curiga mendengar jawaban Rendy. Apa mungkin


bapaknya Rendy ikut terlibat dalam masalah ini, pikirku. Namun aku juga tidak


berani berlebihan dalam curiga meski tetap harus berhati hati.


“Apa kamu kesini disuruh


bapak kamu Ren ?” tanyaku langsung mengarah apa tujuan Rendy. Sehingga rendy


hamper tersedak mendengar pertanyaanku.


“Hati hati Ren,minumnya


pelan pelan saja gak usah buru buru gitu.” Ucap Fatimah mengingatkan Rendy.


“Iya bulek maaf Randy jadi


mengotori meja.” Jawab Rendy.


“Kamu kenapa ditanya begitu


saja sampai tersedak,Rendy. Apa memang ada pesan khusus dari bapakmu yang akan


kamu sampaikan pada kami ?” kataku kemudian.


“Gak kok lek, gak ada pesan


khusus hanya disuruh jenguk saja. Katanya pak lek habis kena halangan.” Jawab


Rendy kaku.


Sejak kapan bapakmu peduli


begitu,pikirku. Dari jawaban Rendy semakin memperbesar kecurigaanku bahwa Rendy


memang diberi tugas khusus oleh ayahnya. Meski mungkin Rendy sendiri tidak


menyadari dan tidak tahu apa motivasi bapaknya.


“Owh tumben bapak kamu inget


dan peduli sama pak lekmu, ada angina pa Ren ?” tanyaku datar pada Rendy.


“Gak tahu pak lek klo itu,


yang jelas Rendy hanya diminta menjenguk pak lek dan bulek saja lihat


keadaanya.” Jawab Rendy.


Aku berhara[ Fatimah sudah


Faham dengan arah pembicaraanku kepada Rendy dan dapat menyimpilkan sendiri


dari jawaban Rendy.


“Ya sukurlah kalo gak ada


niat laian, sampaikan saja ke bapakmu ucapan terimakasihku. Katakana jika


disini semua baik baik saja, tidak kurang satu apapun. Juga sampaikan ke


bapakmu untuk jangan salah dalam memilih teman bergaul lagi.” Kataku berharap


pesan itu disampaikan. Karena kalo ayahnya Rendy mendengar itu pasti dia akan


merasa jika aku sudah tahu jika dia mengawasi aku.


Setelah beberapa saat


mengobrol dan menikmati kopi Rendy pun pamit pulang. Kemudian Fatimah bertanya


kepadaku tenteng apa yang aku lakukan barusan kepada Rendy.


“Mask ok tadi nanyanya


begitu kepada Rendy, dia kan masih anak anak gak tahu urusan orang tuanya.”


Kata Fatimah.


“Justru karena Rendy belum


tahu maka aku takut dia dimanfaatkan bapaknya untuk mengawasi kita, tanpa Rendy


sadari.” Jawabku.


“Maksut mas yasin gimana,


kok Fatimah gak faham ?” Tanya lanjut Fatimah.


“Rendy memang hanya disuruh


kesini, dan dengan polosnya Rendy menuruti. Kemudian sampai dirumah Rendy


ditanyai apa yang terjadi disisi, siapa saja yang ada disini dan sebagianya.


Tentu saja Rendy akan menganggap itu pertanyaan wajar dan akan menjawab apa


adanya. Padahal bapaknya sedangmengumpulkan data dan mau menyusun rencana,


kemungkinan begitu kan bisa. Makanya aku tadi minta kamu jawab kalo Arum dan


Sidiq akan pulang besuk, bukan mau ikut Eis dan Samsudin.” Jawabku.


“Jangan berlebihan dalam


kecurigaan mas, gak baik.” ucap Fatimah.


“Ini gak berlebihan Fat,


hanya kewaspadaan coba kamu pikir. Apa kerugian Rendy dan bapaknya dengan


jawaban Arum dan Sidiq mau pulang kerumahnya. Misalkan dia gak punya maksut


lain juga gak rugi, dan kita hanya waspada saja. Tapi kalo kita jujur dan


ternyata dia ada maksut mencelakai dijalan ? kan jauh lebih fatal akibatnya.”


Jawabku menjelaskan kepada Fatimah.


“Mas Yasin kok bisa punya


kecurigaan seperti itu, atas dasar atau pertimbangan apa ?” Tanya Arum ikut


menyela.


“Pertama kita memang harus


merahasiakan semua tentang kita saat ini. Termasuk kepergianmu kepada orang


orang yang tidak ada kompetensinya. Yang kedua, ada permasalahan khusus antara


aku dengan bapaknya anak tadi. Dan yang terakhir gak pernah bapak bocah itu


peduli kepadaku, saat aku terjatuh. Sekarang tiba tiba peduli kan aneh saja.”


Jawabku.


“Tapi jangan berlebihan juga


mas, agar Rendy gak merasa disudutkan.” Ucap Fatimah.


“Kurasa aku gak berlebihan,


apa yang aku ucapkan masih normative saja. Tidak ada ucpanku yang mengarah


untuk menyudutkan Bapaknya Rendy.” Kataku.


Dengan susah payah aku harus


menjelaskan pada Fatimah dan Arum terkait sikapku kepada Rendy barusan. Entah


mereka akhirnya mengerti atau sekedar gak mau melanjutkan lagi akhirnya hanya


mengiyakan saja apa yang aku sampaikan.


*****


Dirumah Rendy


“Udah pulang Ren, tadi


ketemu siapa saja disana.” Tanya ayahnya Rendy.


“Biasa ketemu pak lek dan


bulek dan ibunya Sidiq aja. Rendy gak lama kok disana.” Jawab Rendy.


“Owh, terus ngobrol apa saja


disana ?” Tanya ayah Rendy kemudian.


“Tadi bulek Cuma bilang,


kalo Sidiq dan ibunya mau pulang besuk.” Kata Rendy


“Pulang,,,? Pulang kemana ?”


Tanya ayah Rendy penasaran.


“Ke rumahnya lah, kalo


rumahnya mana Rendy juga gak tahu. Tadi nanya malah diomelin pak lek kok !”


jawab Rendy mengadu.


“Diomelin gimana kamu ?”


Tanya ayah Rendy.


“Ya begitulah, dibilang mau


nganter apa naya nanya segala ?” jawab Rendy dengan mengedit kalimat sesuai kehendaknya


sendiri.


“Terus setelah itu ?” kata


ayah Rendy makin penasaran.


“Ya dia nanya, kamu kesini


apa disuruh bapak kamu.” Jawab Rendy.


“Kamu bilang apa ?” Tanya


ayah Rendy agak khawatir.


“Rendy bilang Cuma disuruh


jenguk, karena pak lek habis kecelakaan.” Kata Rendy.


“Terus pak lek mu bilang apa


?” “Yo begitulah, Cuma bilang makasih terus titip pesan ke bapak, jangan salah


pilih teman dalam bergaul. Pak lek disini dan semua baik baik saja, katanya.”


Jawab Rendy.


Mendengar itu wajah ayah


Rendy jadi agak panik, merasa jika tindakanya sudah diketahui. Namun tetap saja


ayah Rendy kemudian melaporkan hasil pengamatan Rendy kepada Damar untuk


disampaikan ke crewnya.


*****


Dammar menghadap Ajar


panggiring.


“Info terkini, Sidiq besuk


akan dibawa pulang ibunya kerumahnya. Tapi rumahnya mana aku belum dapat info.”


Chat ayahnya Rendy kepada Damar.


Dammar gembira membaca chat


dari ayahnya Rendy dan segera bergegas menuju kerumah Ajar panggiring untuk


melaporkan info terbaru yang sebenarnya palsu tersebut.


Samapi dirumah Ajar

__ADS_1


Panggiring.


“Ki ada info bagus dari


iparnya Yasin, besuk Sidiq akan dibawa ibuny pulang ke rumahnya.” Ucap Damar


pada Ajar Panggiring.


“Beneran, besuk mau dibawa


pulang ? Apa  dia sudah merasa aman


sekarang ?” Tanya Ajar Panggiring.


“Gak tahu kalo itu ki, yang


jelas infonya begitu, tapi rumahnya mana kami belum tahu.” Kata Damar.


“Soal rumahnya mana kami


sudah tahu. Tapi pulangnya jam berapa itu yang penting harus dicari tahu. Kita


akan hadang di jalan saja besuk.” Ucap Ajar Panggiring.


“Itu juga belum tahu ki,


tapi kemungkinan pagi. Karena tadi sudah mempersiapkan tas segala.” Ucap Damar.


“Iya, memang kita harus stay


dari pagi, besuk kerahkan orang untuk berjaga disetiap titik yang mungkin akan


dilewati. Jika sampai di titik yang memungkinkan culik anak itu, dan usahakan


sudah cukup jauh dri rumah Yasin. Agar semua bisa berjalan lancer.” Kata Ajar


Panggiring.


Saat itu juga berita bohong


itupun tersebar ke semua anggola dan maheso Suro langsung memerintahkan semua


untuk berkumpul di markas malam itu.


Hingga pada waktu yang telah


disepakati semua berkumpul di markas, langsung mengatur strategi untuk menculik


Sidiq.


“Soma dan Ajar panggiring,


kalian harus bekerja sama untuk dapat membuat Ibunya Sidiq lengah dan merebut


Sidiq di jalan. Jika ada yang mengawal nanti ada orang lain yang akan


menangani. Tugas kalian hanya membuat ibunya Sidiq lengah dan merebut Sidiq.


Jika terpaksa sekalian ibunya dibawa ke markas juga terserah, tapi yang jadi


incaran adalah Sidiqnya.” Ucap Maheso Suro. Kepada anak buahnya.


“Malam ini apa yang akan


kita lakukan ?” Tanya Damar.


“Maksut kamu apa, apa kamu


mau bersenang senang lagi. Tunggu besuk jika sudah berhasil. Aku kasih hadiah


bagus buat kamu Damar.” Kata Maheso Suro.


“Bukan itu ki Ageng,


maksutku apakah akan mengadakan ritual lagi malam ini atau tidak ?” Tanya


Damar.


“Hanya aku, Ajar panggiring


dan beberapa orang yang akan kupilih nanti. Yang lainbebas mau apa aja.” Jawab


Maheso Suro.


“Baiklah ki, jadi apa tugas


untuk ku sekarang dan besuk ?” Tanya Damar.


“Untukmu malam ini tidak ada


tugas, untuk besuk nanti kita pikirkan tugas yang tepat untuk kamu.” Jawab


Maheso Suro.


“Sebentar ki Ageng, sekarang


ini kita butuh orang yang harus mengawasi rumah Yasin sampai dengan besuk pagi


saat Sidiq dibawa keluar rumah. Agar kita bisa memastikan, kapan dimana jam


berapa kita menghadangnya ?” usul Ajar panggiring.


Maheso Suro terdiam sejenak,


kemudian berkata dengan lantang.


“Perintahkan saja, orang


siap dari pagi mengawasi dan menghadang di tempat yang cukup sepi. Kemudian


lakukan sesuai rencana nanti.” Jawab Maheso Suro.


 


 


“Kira kira butuh berapa


orang ki Ageng ?” Tanya Damar menyambung.


“Sebanyak yang kamu bisa kumpulkan.” Jawab Maheso Suro.


Kemudin mereka mengatur di


titik titik mana saja yang harus dijaga, dan siapa personilnya serta siapa yang


akan membuntuti saat Arum dan Sidiq keluar rumah. Semua sudah diatur rapi


dengan mempertimbangkan hal hal yang mungkin terjadi, termasuk jika harus


terjadi bentrok fisik nantinya.


Setelah selesai menentukan


tempat mana yang akan dijaga dan lain lain pertemuan dianggap selesai. Kemudian


Maheso Suro mengajak beberapa orang untuk melakukan ritual, memilih orang orang


*****


Flashback dirumah Yasin.


Yasin POV


Sepeninggal Rendy hatiku


jadi resah, meskipun tadi sudah membohongi Rendy dengan mengatakan Sidiq akan


dibawa kerumahnya. Namun entah mengapa aku masih saja was was dengan


keselamatan anakku Sidiq.


Kemudian aku memanggil


Fatimah dan Arum untuk kuajak berbicara lagi. Setelah sebelumnya mereka


meninggalkan aku diruang depan karena habis beradu argument.


“Fat, jujur perasaanku jadi


tidaknyaman dengan kehadiran Rendy tadi.” Kataku membuka pembicaraan.


“Maksutnya gimana, langsung


bicara saja lah mas !” pinta Fatimah.


“Mas Yakin kedatangan Rendy


tadi adalah disuruh bapaknya untuk mengawasi kita. Dan seperti yang kalian tahu


bahwa mereka saat ini akan merencanakan merebut Sidiq untuk dijadikan sandera.


Otomatis mereka akan tahu jika besuk Arum dan Sidiq akan meninggalkan rumah


ini.” Kataku terhenti sebentar.


“Jadi menurut mas, bagaimana


?” Tanya Fatimah.


“Untuk menghindari hal hal


yang tidak kita inginkan, Arum dan Sidiq harus berangkat sore ini juga.”


Kataku.


“Mas Yasin, gak bermaksut


mengusir Arum kan ?” tiba tiba Arum bertanya seperti itu.


“Ya Allah Arum, aku sangat


menyayangi Sidiq. Gak mungkin aku mengusir kalian juga. Apa lagi aku juga harus


berpisah dengan Samsudin sahabat karibku. Aku juga sangata sedih sebenarnya,


tapi demi keamanan aku lebih baik sedih kalian pergi lebih cepat dari pada


terjadi sesuatu dengan kalian.” Jawabku.


Arum terdiam tampak


menyesali ucapanya.


“Iya mas maaf, sebenarnya


Arum juga sedih berpisah dengan Fatimah yang sudah sangat baik dengan Arum.


Itulah yang membuat Arum bertanya begitu tadi.” Kata Arum.


“Iya gak papa, hal sepele


gak usah dibesar besarkan. Aku tahu hubungan kalian sangat baik, dan aku sangat


bersukur karena itu. Tapi percayalah apa yang aku ingin lakukan ini adalah demi


kebaikan kita semua.” Kataku pada Arum.


“Iya Arum, aku juga sedih


sebenarnya tapi demi keselamatam Sidiq dan semuanya maka lebih baik kamu ikuti


kata suamiku.” Ucap Fatimah sambil menahan air matanya agar tidak tumpah.


Maka kedua wanita itupun


saling menangis dalam pelukan. Sementara aku hanya terpaku melihat kedua wanita


yang pernah hadir dihatiku dalam waktu yang berbeda. Untung aku masih kuasa


untuk tidak larut dalam keharuan itu.


Aku meninggalkan Arum dan


Fatimah istriku untuk menemui Samsudin dan Eis menyampaikan apa yang barusan


aku bicarakan dengan Fatimah dan Arum.


“Eis, suamimu mana tolong


ajak kedepan kita harus bicara penting saat ini juga bersama Arum dan Fatimah.”


Kataku pada Eis.


“Iya mas, nanti Eis nyusul


sama Aa’.” Jawab Eis pendek.


Aku kembali menemui Arum dan


Fatimah sesaat kemudian Samsudin dan Eis pun ikut bergabung dengan kami.


“Langsung saja pada point


pembicaraan kita tadi. Bahwa rencana keberangkatan kalian sudah diketahui


musuh. Maka untuk menghindari hal hal yang tidak diinginkan, dengan sangat


terpaksa aku mohon kalian berangkat sore ini juga. Dan aku akan mencarikan


tiket nanti dikawal beberapa polisi yang ada dirumah kita.” Kataku.


“Eis mah ikut saja demi


keamanan kit amah.” Kata Eis.


 


 


“Aku juga ikut saja lah,

__ADS_1


agar semua aman, apa lagi dalam rombongan nanti ada Sidiq yang masih kecil.”


Kata Samsudin.


“Baiklah, tolong kasih tahu isti dan kakaknya.aku akan menghubungi pak Yadi


untuk membantu mencari dan sekaligus nanti ikut menghantarkan sampai berangkat.


Biar mereka nanti sampai disana dijemput kang Salim.” Kataku menjelaskan


tindakan preventif yang harus dilakukan.


Aku segera menghubungi pak


Yadi, dan pak Yadi bersedia datang kerumah mengingat waktu yang sudah sore


sekaligus pak Yadi menawarkan untuk diantar oleh orang kepercayaanya agar


keselamatan Eis,Samsudin dan lainya lebih terjamin.


“Apakah harus begitu mas,


atau memang kondisi sudah sedemikian gentingnya “ Tanya Isti yang tiba tiba


datang dan langsung bertanya.


“Iya maaf Isti dan bang


Rofiq, terpaksa keberangkatan Arum dan lainya harus dipercepat. Dan ini tadi


aku sudah kontak pak Yadi. Atas usul beliau kalian nanti akan diantar oleh


orang kepercayaan pak Yadi, tidak menggunakan kendaraan umum biar lebih aman.”


Kataku.


“Jadi gak perlu cari tiket


kendaraan mas ?” Tanya Arum.


“Iya gak usah, kalian siap


saja disini semua nanti mobil datang kesini dan kalian berangkat habis Isya.


Biar musuh mengira kalian berangkat besuk, tapi kalian mala mini sudah


berangkat ke tempat kang Salim langsung. Eis tolong kamu hubungi kang Salim


atau the Atikah. Sampaikan semua apa yang terjadi dan sampaikan jika kalian


berangkat mala mini langsung menuju ke pondok beliau bersama Sidiq dan Arum.”


Kataku kepada Arum.


Aku bersukur sekali, karena


semua bisa berjalan dengan lancer, meski sekaligus sedih harus berpisah


sementara waktu dengan Sidiq anakku. Biiasanya meski hanya sebentar aku selalu


menyempatkan bersenda gurau dengan Sidiq. Namun mulai nanti aku harus berpisah


dengan SIdiq sementara waktu, entah sampai kapan.


“Arum, Sidiq mana biar aku


gendong buat mengobati rasa kangenku nanti. Biar kali ini Sidiq bersama aku dan


istriku dulu sampai kalian berangkat nanti.” Aku berucap kepada Arum dengan


mata yang berkaca kaca.


“Mas Yakin sudah mampu


gendong Sidiq, apa biar Fatimah aja yang gendong. Luka jahitan di dada mask an


belum kering betul.” Kata Fatimah.


“Gak papa sayang, mas Yakin


udah gak apa apa sekarang.” Kataku.


“Jangan maksain Zain, kamu


jangan gendong dulu kamu pangku saja itu jauh lebih aman.” Kata Rofiq


mengingatkan Aku.


Kemudian aku Sidiq dibawa


Arum dan diserahkan ke aku, kemudian Sidiq duduk dipangkuanku. Aku benar benar


tak mampu menyembunyikan suasana haru yang ada di hatiku waktu itu. Dalam


linangan air mata aku berkata pada Sidiq.


“Sidiq sayang, nanti Sidiq


dengan mamah Sidiq ikut Bunda Eis dan Ayah Samsudin dulu ya jalan jalan.”


Kataku tak mampu melanjutkan.


 


 


“Kenapa yah, ayah kok


nangis, ayah sakit lagi ?” Tanya Sidiq dengan bahasa polos anak anak yang


selalu bikin aku kangen dia.


“Gak kok sayang, ayah gak sakit Cuma ayah pingin Sidiq seneng jadi biar ikut


jalan jalan sama mamah nanti.” Kataku membohongi Sidiq. Hati orang tua mana


yang tidak teriris, melihat anak balitanya yang belum punya dosa menjadi target


ancman musuh.


Antara haru,sedih dan dendam


sebenarnya bercampur menjadi satu saat itu.


Sambil menunggu kedatangan


pak Yadi aku memanfaatkan waktu kebersamaanku dengan Sidiq. Fatimah pun ikut


bercakap cakap dengan Sidiq, dengan tak lupa meninggalkan pesan pesan ringan


kepada Sidiq. Agar tidak nakal, dan menuruti kata mamahnya juga belajar ngaji


yang baik selama disana.


Sehingga suasana ceria tapi


diwarnai keharuan bercampur menjadi satu saat itu. Dalam hati aku berpikir, apa


reaksi musuh nanti setelah tahu mereka terkecoh olehku.


Menjelang adzan maghrib


tampak pak Yadi datang bersama temanya, sudah sekalian membawa mobil yang akan


dipakai mengantar Arum dan Sidiq bersama Eis dan Samsudin. Meski belum akan


berangkat, namun hatiku sudah merasakan akan berpisah dengan Sidiq anakku.


Bahkan degup jantungku berdebar semakin kencang begitu pak Yadi masuk kerumahku


bersama temanya.


“Assalaamu’alaikum.” Salam


pa Yadi.


“Wa ‘alaikummussalaam pak,


mari masuk dulu pak.” Jawabku.


“Iya pak.” Jawab pak Yadi


dan temanya.


“Bagaimana pak, apakah semua


sudah siap ?” Tanya pak Yadi.


“Sudah pak, nanti habis


Solat isya saja tapi berangkatnya.”  Jawabku.


“Siap pak, kapanpun saya


siap.” Teman pak Yadi yang menjawab.


“Makasih banyak pak, maaf


saya merepotkan hingga bapak harus meninggalkan keluarga demi mengantar saudara


saudara saya.” Kataku.


“Gak usah sungkan pak, bapak


dan keluarga kan memang baru dalam  perlindungan daari kami. Jadi apapun keperluan bapak kami siap


membantu.” Jawab teman pak Yadi itu.


Kumandang adzan maghrib pun


berkumandang, segera kami semua bergegas untuk melaksanakan solat maghrib


berjamaah dilanjutkan wirit dan solat Isya. Malam itu untuk pelaksanaan


Mujahadah kami tunda setelah melepas kepergian Samsudin,Eis,Arum dan Sidiq.


Maka ketika tiba waktunya


mereka akan berangkat, aku menggendong Sidiq tanpa mempedulikan larangan orang


orang disekelilingku. Aku yakin tidak akan mempengaruhi luka jahitan yangada,pikirku.


Kemudia aku menciumi Sidiq


hinga puas, dengan menahan air mata kesedihan agar tak terlihat oleh Sidiq.


“Kalian semua hati hati,


kami yang disini selalu mendoakaan kalian semuanya.” Kataku melepas kepergian


mereka.


“Kamu juga Yasin, jangan ceroboh


lagi. Kapan kapan kamu dan istrimu juga harus singgah ditempatku ya !” ucap


Samsudin.


“Ok bro, Insya Allah aku dan


Fatimah istriku akan main kerumahmu juga. Tapi nunggu jika anakku besuk sudah


cukup berani dibawa pergi jauh.” Kataku.


“Bang rofiq, gak ucapkan


sesuatu buat Arum ?” tanyaku.


“Iya, hati hati Arum


sepulang dari sana insya Allah aku dan keluargaku akan mengunjungi orang


tuamu.” Kata Rofiq.


“Iya mas, Arum tunggu saat


itu datang nanti.” Jawab Arum.


Setelah semua saling


mengucapkan kata kata perpisahan maka berangkatlah rombongan itu menuju ke


pondok kang Salim. Insya Allah disana mereka jauh lebih aman dari pada disini,


kataku dalam hati.


Sekarang pikiranku hanya


focus untuk menjaga Fatimah istriku saja, karena jika musuh tahu sudah terkecoh


bukan tidak mungkin akan mengganti sasaran mereka pada Fatimah istriku. Namun


aku berpikir, jika focus melindungi Fatimah saja yang saat ini gak pernah


keluar rumah maka akan lebih mudah.


*****


Author POV


Begitulah saat saat


perpisahan Yasin dengan keluarga Samsudin juga Sidiq anaknya. Suasana penuh


haru itu membuat Yasin dan semuanya menjadi sedikit lengah, sehingga ada


sepasang mata yang mengawasi mereka dari kejauhan tidak mereka sadari.


“Kurang ajar, rupanya mereka


merubah jadwal keberangkatanya jadi mala mini, aku harus lapor sekarang.” Bisik

__ADS_1


orang itu.


__ADS_2