Isyaroh

Isyaroh
Damai dengan keluarga Arum


__ADS_3

Tak ada yang bersuara waktu itu,tiba tiba pak Yadi datang dan segera menolongku. Pak Yadi hendak memarahi orang orang disitu namun aku cegah.


“Kalian tahu tidak, yang menolong pak Sastro adalah bapak ini.  Kalo ada masalah lama jangan di bawa dalm kondisi seperti ini…!” kata pak Yadi yang Aku potong.


“Sudahlah pak gak papa, saya emang pantas mendapat perlakuan seperti ini dari mereka pak. Saya terima tidak akan sakit hati.” Kataku.sambil membersihkan darah yang masih megalir diwajahku.


“Kamu obati dulu lukamu kedalam, setelah itu aku masih ingin bertanya tentang keadaan Arum anakku juga cucuku.” Kata kata bapaknya Arum melunak.


“Njih pak, Tanya sekarang juga boleh saya gak papa kokmasih kuat.” Kataku.


Tiba tiba Candra memegang lenganku dan mengajakku melangkah masuk ke rumah sakit.


“Maafkan aku juga, tadi salah faham kukira kamu otak yang mau menculik arum dan lek Sastro.” Kata Candra.


“Gak papa mas, aku ikhlas kesalahan mas Candra belum apa apa disbanding kesalahanku.” Kataku.


“Sudah ayu periksa dulu kedalam, nanti kita lanjutkan bicara baik baik.” kata Candra.


Baru saja kami melangkah melewati pintu masuk sudah ditunggu dokter.


Bapak Ahmad Sidiq alias Yasin, ditunggu pak Sastro, beliau mencari bapak katanya ada pesan yang harus disampaikan. Tanpa diobati lebih dulu aku hanya cuci muka dan membersihakan darah yang mengotori wajah aku menuju ke ruangan dimana pak Sastro dirawat diikuti Candra dan bapaknya.


“Mas Yasin, apa benar kamu ayah kandungnya Sidiq ?”


Begitu sampai pak Sastro langsung bertanya seperti itu kepadaku. Membuat aku terpaku tak bisa menjawab. Karena disitu ada Candra dan bapaknya.


“Lek Sastro istirahat saja lek, jangan banyak bergerak dan mikir yang lain dulu.” Tiba tiba Candra yang membuka pembicaraan lain.


“Candra, kamu jangan balas dendam denganya lagi.” Kata pak Sastro sambil menunjuk ke aku.


“Iya lek, sudah saya bicarakan baik baik kok.” Jawab Candra. Sementara bapaknya hanya banyak diam.


“Kamu kenapa Sastro, kok tahu tahu bisa dirumah sakit.” Tanya bapaknya Candra.


Pak Sastro tidak menjawab hanya menitikan air mata.


“Maaf pak, mungkin pak Sastro belum bisa cerita banyak, biar beliau istirahat dulu.” Kataku.


“Sekarang Arum dan Sidiq berada di mana mas Yasin ?” Tanya pak Sastro.


“Mereka aman pak, saya titipkan disebuah pesantren diluar kota. Tidak ada satupun yang tahu.” Jawabku pada pak Sastro.


  Candra dan bapaknya hanya saling tatap mendengar ucapanku.


“Sebenarnya apa yang terjadi dengan Arum dan anaknya ?” bisik Candra kepadaku.


“Nanti aku ceritakan mas, tapi jangan sekarang dan jangan disini.” Jawabku berbisik.


Kemudian pak Sastro tampak mengerang pelan sambil memegangi dadanya yang terkena pukulan Maheso Suro.


“Maaf pak Sastro apa kemarin terkena pukulan di bagian dada ?” tanyaku pada pak Sastro.


Pak Sastro hanya mengangguk pelan tanpa menjawab, mungkin sambil menahan sakit yang dideritanya.


“Boleh saya lihat bekas pukkulanya pak ?” tanyaku pada pak Sastro.


Tanpa menunggu jawaban aku melihat bekas pukulan di dada pak Sastro, yng meninggalkan memar. Di bagian dadanya membekas seperti gambar telapak tangan yang berwarna hitam kebiruan.


Aku pernah mendengar ada pukulan tangan yang bisa mengakibatkan luka dalam seperti ini. Tapi apa namanya aku harus mengingat cukup lama. Dan apakah masih ada orang yang memiliki ajian tersebut, aku belum juga mampu mengingat nama pukulan yang mengenai pak Sastro.


Tapi kalo tidak salah waktu itu penawarnya atau salah satu bahan obatnya adalah daun dadap serep, dan beberapa dedaunan yang biasa digunakan untuk bahan obat. Aku tidak begitu menghafalnya, dan ini di rumah sakit. Jadi biar medis saja yang menangani, pikirku.


Kemudian Candra mendekati aku dan berkata.


“Kamu ikut aku sebentar, kamu obati lukamu dan setelah itu aku mau bicara sama kamu empat mata.” Bisik Candra padaku.


“Iya mas.” Jawabku singkat. Sambil menduga duga apa yang mau dibicarakan Candra.


Kemudian aku dibawa menemui dokter periksa di IGD untuk mendapatkan perawatan luka.


Setelah itu Candra mengajakku ke satu tempat yang tidak terlalu banyak orang untuk bicara empat mata.


“Jujur saja, apa kamu masih menaruh dendam atas apa yang menimpamu dulu sampai peristiwa tadi ?” Tanya Candra langsung pada permaslahan.


“Tidak, peristiwa yang dulu kualami memang salahku. Dan peristiwa tadi hanya kesalah fahaman saja.” Jawabku.


“Kalo begitu, aku mau Tanya yang lain. Soal yang dulu dan tadi anggap sudah selesai gak ada permasalahan lagi.” Kata Candra.


“Silahkan, mau Tanya apa, akan kujawab sesuai kenyataan gak akan aku tutup tutupi.” Kataku.


“Ini berita yang aku dengar belum lama ini, aku mau tahu kebenaranya versi kamu. Apa benar dalam beberapa waktu terakhir ini kamu tinggal bersama Arum adikku ?” Tanya Candra.


“Sebentar mas, kalo yang dimaksut Arum tinggal dirumahku bersama Sidiq dan beberapa orang lain memang iya. Tapi jangan berpikir negative dulu, karena disitu juga ada istriku.” Jawabku hati hati agar tidak terjadi salah paham.


“Jadi benar, kamu sekarang sudah beristri dan istrimu juga tengah hamil ?” Tanya lanjut Candraa.


“Benar mas, maaf hanya menjelaskan saja tidak bermaksut yang lain. Sejak aku dikeroyok yang kedua itu, aku diselamatkan seseorang dan akhirnya dibawa kepesantren. Dan sejak saat itu, aku tahunya Arum keguguran dan sudah dinikahkan dengan orang lain. Hingga aku menerima ketika aku dinikahkan dengan istriku yang sekarang yang juga teman satu pesantren aku.” Jawabku menjelaskan kronologis pernikahanku dengan Fatimah.


“Terus kapan kamu tahu, kalo arum tidak keguguran dan belum dinikahkan dengan orang lain ?” Tanya Candra lanjut.


“Saat aku diundang pak Sastro kerumahnya untuk menangani hal hal mistis yang terjadi di dusun beliau. Disitulah aku bertemu Arum dan Sidiq. Dan aku katakana pada Arum jika aku sudah menikah dan istriku juga tengah hamil muda waktu itu. Serta aku juga bilang bahwa aku akan tetap mengakui Sidiq sebagai anakku.” Kataku pada Candra.


Candra tampak terdiam sesaat.

__ADS_1


“Bagaimana ceritanya Arum bisa tinggal dirumah kamu, dan apakah istrimu juga tahu hubungan kamu dengan Arum dulu dan Status Sidiq ?” Tanya Candra yang makin penasaran.


“Istriku tahu semuanya, karena aku sudah ceritakan sebelum Arum kerumahku. Singkat cerita saja istriku juga mau merawat Sidiq dan mengundang Arum kerumahku untuk berbicara baik baik.” jawabku.


“ Setelah itu bagaimana kok Arum terus tinggal dirumah kamu, dan apa yang terjadi sampai Arum menjadi buruan orang orang yang menyerang lek Sastro ?” Tanya Cabdra penuh selidik.


“Saat Arum kerumahku, sebenarnya aku baru terkena fitnah dan tengah menghadapi kasus ini bersama polisi yang bernama pak Yadi tadi. Kemudian pak Yadi member informasi bahwa Arum dan Sidiq menjadi salah satu target untuk diculik sebagai sandera agar aku mau mengakui tuduhan mereka dengan mengancam sandera. Jadi karena itu, Arum dan Sidiq aku tahan dirumah bersama keluarga besarku. Demi untuk menjaga keselamatan mereka, karena dirumahku ditempatkan juga personil keamanan ( POLISI ) yang menyamar,untuk menjaga agar orang luar tidak bisa masuk seenaknya.” Lanjutku.


“Terus kenapa akhirnya Arum dan Anaknya yang kamu ungsikan, bukan yang lain ?”


“karena dalam perkembangan selanjutnya, yang menjadi target utama mereka untuk diculik agar bisa memaksa aku adalah Sidiq anak Arum dan anakku juga.” Jawabku.


“Kenapa bisa begitu ?” Tanya Candra yang terus terusan mengorek keterangan tentang Arum adiknya.


“Karena target yang paling mudah adalah Sidiq yang masih anak anak. Sehingga aku berpikir Sidiq harus aku amankan. Dan karena Sidiq masih anak anak maka harus bersama ibunya juga.” Jawabku.


Candra mendengarkan semua keteranganku dengan seksama.


“Apakah aku bisa dihubungkan dengan Arum ?” Tanya Candra. Tiba tiba roman mukanya jadi Nampak sedih dan menyesal, telah mengusir Arum selama ini.


“Bisa lah mas, ini mas telpon pakai ponselku saja.” Kataku sambil menyerahkan ponselku yang sudah siap memanggil No kontak Arum.


“Kamu duluan saja yang bicara, mungkin rum masih marah sama aku. Nanti aku nyambung bicara saja.” Kata Candra yang sudah jauh berubah sifat dan sikapnya kepadaku.


Kemudian aku menghubungi Arum dengan Video call WA.


“Assalaamu ‘alaikum mas, makasih ya sudah menunjukkan Arum tempat yang Aman dan nyaman disini.” Sapa Arum dalam telpon.


“Iya sama sama, Sidiq kerasan kan disitu ?” tanyaku.


“Alhamdulillah kerasan, banyak temen juga disini Sidiq.” Jawab Arum.


“O iy maaf rum, aku mau Tanya Satu hal nih, tapi jangan marah ya ?” tanyaku pada Arum.


“Mau Tanya apa kok kayaknya ragu ragu ?” kata Arum.


“Begini, jika aku ketemu kakakmu Candra dan dia ingin bicara sama kamu, kamu mau gak bicara sama dia ?” tanyaku.


“Gak mungkin mas, dia sekarang kan Benci banget sama Arum, adik yang bikin malu dan merusak kehormatan keluarga.” Jawab Arum.


“Kalo misalnya, mas Candra sudah gak marah gimana ?” tanyaku lagi.


“Ya kalo mas Candra sudah bisa maafin Arum, Arum juga mau bicara sama mas Candra Arum juga kangen sama mas Candra. Dia dulu sangat sayang sama Arum, Arum gak lupain itu. Sebelum musibah itu terjadi.” Kata arum sambil menitikkan air mata.


“Beneran mau bicara, kalo sekarang mas Candra ada disampingku gimana ?” kataku sambil menyerahkan ponselku ke Candra.


Kemudian Candra yang berbicara.


“Arum apa kabar, maafkan aku ya yang sudah kejam kepadamu dan anakmu !” kata candra sambil menatap wajah Arum adiknya dilayar Hp.


Akupun memilih menyingkir, tidak mau menguping pembiacaraan kakak adik yang sudah beberapa tahun tidak bertemu dan tidak saling komunikasi itu.


Aku memilih kembali keruangan dimana pak Sastro dirawat. Kulihat disana pak Sastro sudah terlelap setelah diberi obat oleh dokter. Hanya bapaknya Candra yang duduk disamping ranjang pak Sastro.


“Mana Candra kok tidak bareng, tadi kan keluarnya sama kamu ?” Tanya bapaknya Candra.


“Maaf pak, saya tinggal kesini duluan karena baru telpon dengan Arum.” Kataku.


“Arum,,,? Arum anakku ?” tanyanya.


“Iya pak, kalo bapak mau ikut bicara mari saya antar, mumpung pak Sastro masih tertidur ?” kataku.


Bapaknya Candra langsung bangkit dan mengajakku menemui Candra untuk ikut bicara sama Arum.


Sesampai di tempat tadi dimana Candra kutinggalkan bicara dengan Arum di telpon. Saat itupun Candra tengah menangis.


“Maafin aku dan bapak Arum, kami menyesal mengusirmu dulu. Pulanglah biar bagaimanapun anakmu juga keponakanku dan cucu bapak juga. Kami juga kangen kepadamu Arum.” Kata Candra.


Entah apa yang sebelumnya dibicarakan dengan Arum. Namun tiba tiba bapaknya Candra ikut bicara.


“Arum bapak ngaku salah, balio yo nduk. Bapak kangen nduk…!” kata bapaknya Arum dan Candra.


( Arum bapak mengaku salah, pulanglah nak, bapak kangen nak )


Aku gak sampai hati melihat adegan menangis antara ayah anak dan kakak. Aku hendak melangkah pergi meninggalkan mereka. Namun langkahku ditahan oleh candra.


“Kamu gak usah pergi, mau kamu akui atau tidak suka atau tidak kamu sudah menjadi bagian dari keluarga kami.” Kata Candra.


Akupun tersentak kaget, mendengar ucapan Candra. Kenapa baru sekarang dia ngomong begitu, pikirku. Saat semua sudah terlambat tidak ada gunanya lagi menyesali masa lalu.


“Baiklah, jika keberadaanku disini tidak mengganggu saya akan tetap disini.” Jawabku.


Cukup lama aku menunggui mereka saling melepas rindu meski hanya lewat telpon saja.


Meski aku sendiri tidak ikut berbicara dengan Arum namun aku masih bisa mendengar percakapan mereka. Ada beberapa kata yang sangat menyentuh persaaanku dari kalimat yang dilontarkan Arum tentang hubungan kami ( Aku,Fatimah istriku dan juga Arum sendiri ).


Arum mengatakan jika Fatimah istriku juga menyayangi Sidiq anaknya,seperti pada anak kandung sendiri. Sehingga Arum pun sudah menganggap Fatimah istri sebagai saudara sendiri. Bahkan Arum juga cerita jika saat Arum mau berangkat Fatimah istriku ikut sedih berpisah dengan Arum dan Sidiq. Namun Arum belum bercerita jika aka nada orang yang mau melamar dia, mungkin Arum merasa belum waktunya.


Akhirnya perbincangan mereka selesai, dan aku kaget ketika bapaknya Candra tiba tiba memeluk aku sambil berkata.


“Maafkan kami selama ini, meski kamu tidak berjodoh dengan Arum anakku. Tapi ternyata kamu tetap peduli dengan Arum dan cucuku.” Kata bapaknya Arum dan Candra.


“Anak arum juga anak biologis saya pak, sudah kewajiban saya. Meski Arum bukan jodoh saya, tapi dia adalah ibu dari anak saya. Dan bapak juga kakek dari sidiq anak saya.” Jawabku.

__ADS_1


Keharuan mewarnai kami bertiga, bahkan Candra dan bapaknya berniat mengunjungi rumahku untuk bertemu istriku. Sebenarnya aku yang belum siap untuk itu, meski bagaimanapun aku tetap harus menjaga perasaan Fatimah istri sahku. Namun aku juga tak mungkin menolak keinginan mereka, aku agak bingung menanggapi masalah ini.


Yang aku pikirkan adalah, jika kemarin Fatimah bisa menerima kehadiran Arum dan Sidiq itu sudah luar biasa. Karena tahu Arum yang terusir dari keluarganya yang membencinya dan mengusirnya. Otomatis juga sangat membenci aku suaminya.


Jika saat ini keluarganya sudah baik padaku, bisa jadi malah timbul kecurigaan yang sebenarnya tidak perlu. Kecuali jika Arum dan Rofiq segera dinikahkan, mungkin Fatimah tidak akan ada kecurigaan lagi. Tapi apakah aku harus menceritakan rencana itu pada kakak dan bapaknya Arum sekarang ? aku rasa belum saatnya, mungkin lain kali baru aku cerita, atau justru saat mereka nanti kerumahku saja, biar sekalian Rofiq melamar Arum, meski Arumnya sendiri tidak bersama mereka, aah kayaknya mending begitu saj, pikirku.


Saat ini lebih baik melihat kondisi pak Sastro sambil mencari ramuan obat yang dulu pernah aku baca dan pelajari, mungkin dirumah nanti harus membuka buka kitab  lagi.


Kami kembali keruangan pak Sastro dirawat, ternyata disana pa Sastro ditunggui pak Yadi seorang diri.


“Maaf ya pak Yadi, barusan kami ada keperluan bapak jadi sendirian disini.” Kataku.


“Gak papa pak, tadi dokter bilang untuk  bekas sayatan operasi tidak mengkhwatirkan. Mungkin besuk dah boleh dibawa pulang.” Kata pak Yadi.


“Sukurlah pak, mudah mudahan beliau cepat sembuh.” Kataku.


Aku lantas pamit pulang bersama pak Yadi, berhubung sudahada yang menggui pak Sastro. Dan Candra menyampaikan bahwa dia dan keluarga sudah memaafkan aku, sekaligus juga minta maaf atas tindakanya yang dia rasa berlebihan padaku. Aku melihat ketulusan ucapan Candra jadi ikut terharu juga, dan aku juga kembali mohon maaf atas apa yang telah menimpa Arum dan keluarganya.


Akhirnya akupun meninggalkan rumah sakit, diantar pak Yadi dengan perasaan plong. Lega. Satu lagi masalah selesai dengan happy ending, meski harus meninggalkan luka fisik. Namun lebih baik dari pada menimbulkan luka batin yang lama sembuhnya.


...*****...


Aku dan Ardian turun dari mobil pak Yadi, pak Yadi langsung pulang kerumahnya karena sudah meninggalkan Siska istrinya sehari semalam. Sementara aku dan Ardian berjalan masuk kerumahku, dengan langkah yang agak lunglai karena belum tidur semalaman. Namun aku seperti mendapat siraman semangat baru, akhirnya keluarga Arum memaafkan aku. Lelah dan sakit fisik di kepalaku tak sebanding dengan leganya perasaanku yang mengganjal lama dihatiku kini sudah lepas.


“Kenapa mas kepalanya kok diperban, berkelahi lagi tadi ?” Tanya Fatimah istriku.


“Gak kok, panjang ceritanya nanti aja kuceritakan aku mau istirahat dulu sudah ngantuk banget.” Jawabku.


“Terus gimana  pak Sastro ?” Tanya Fatimah.


“Udah ditangani dokter dirumah sakit. Kita ngobrol dikamar saja yuk, ada hal penting yang harus aku bicarakan berdua saja denganmu.” Ajakku pada Fatimah.


Kemudian aku berjalan masuk ke kamar, biar lebih leluasa bicara berdua. Mengingat yang dibicarakan adalah hal yang sensitive  dan riskan.


Sesampai dikamar aku langsung berbaring melepas lelah, sementara Fatimah duduk di tepi ranjang sambil memandangi kepalku yang masih diperban.


“Ada apa lagi sih mas, kok kepalanya sampai diperban gitu ?” Tanya Fatimah membuka pembicaraan.


“Itu yang mau aku ceritakan, tapi kuharap kamu bersabar dan jangan salah sangka dulu sebelum aku selesai cerita.” Jawabku sambil tetap berbaring.


“Iya cerita aja, sambil Fatimah pijitin kakinya ya.” Jawab Fatimah.


Aku memulai cerita dan Fatimah m endengarkan dengan serius sambil memijit dan mengurut kakiku dengan lembut. Satu kelebihan istriku dalam hal urut yang didapat dari factor keturunan Yuyut yang Ahli urat.


“Tadi di Rumah sakit saat menunggu pak Sastro, aku bertemu dengan kakak dan bapaknya Arum juga tetangganya yang dulu mukulin aku.” Awal ceritaku membuat Fatimah istriku mengerutkat dhinya.


“Terus mas berantem sama mereka ?” Tanya Fatimah.


“Bukan begitu, awalnya aku menghindari bertemu dengan mereka. Namun akhirnya juga ketahuan, dan terjadi salah faham.” Lanjutku.


“Salah faham, bukanya memang ada permasalahan diantara mas dengan mereka ?” komentar istriku.


“Dengerin dulu, jangan berkomentar dulu sebelum aku selesai cerita.” Kataku pada Fatimah.


Ini adalah kelemahan istriku yang seringkali membuat kesimpulan hanya berdasarkan sepenggal informasi. Entah itu sifat dasar wanita atau hanya istriku saja yang begitu, makanya aku harus hati hati dalam memberikan informasi pada istriku jika informasinya belum pasti. Takutnya terburu buru menyimpulkan sesuatu yang belum pasti.


“Awalnya mereka mengira aku dalang dari penganiayaan pak Sastro, karena ada yang mendengar saat kejadian. Mereka yang menyerang pak Sastro mencari Arum dan Sidiq, dan mereka berpikir itu suruhanku. Sehingga mereka salah faham dengan aku. Tapi akhirnya mereka tahu bahwa bukan aku yang menganiaya pak Sastro dan mencari Arum dan Sidiq. Singkatnya kahirnya Kakak dan bapaknya Arum mengerti dan lebih dari itu sekarang mereka sudah tidak menaruh dendam kepadaku lagi. Sehingga saat Rofiq nanti melamar Arum aku sudah bisa mendampingi dan hadir kesana tanpa ada rasa khawatir.” Kataku panjang lebar agar Fatimah tidak salah paham dengan kalimat yang hanya sepotong sepotong saja.


“Owh begitu, tapi kenapa kepala mas harus diperban begitu ?” Tanya Fatimah lagi.


“Yak arena saat salah faham itu memang sempat terjadi keributan, dan aku sengaja tidak membalas biar mereka tidak makin beringas.” Kataku.


“Tapi mas gak papa kan lukanya, banyak darah gak tadi ?” Tanya Fatimah menyelidik.


“Gak kok, Cuma luka kecil saja gak masalah.” Kataku.


Saat aku dan istriku sedang berbincang bincang kudengar ribut ribut diluar rumah. Membuatku gak jadi istirahat, kemudian bangkit meliht apa yang terjadi diluar.


Ternyata Rendy datang mencariku dengan teriak teriak marah, karena bapaknya dijemput polisi dengan tuduhan bersekongkol dengan kelompok Maheso Suro.


“Pak lek, keluar apa salah bapakku sehingga kamu laporkan ke polisi, jangan dendam lama diseret seret ke kasus pak lek sendiri !” teriak Rendy dengan luapan emosinya. Aah ini bocah gak ngerti juga kalo bapaknya memang bersalah. Dan soal penangkapan bapaknya bukanlah karena aku, tapi itu sepenuhnya urusan kepolisian. Bagaimana menjelaskan pada anak muda yang hanya mengandalkan emosinya tersebut, pikirku.


...bersambung...


Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.


Komentar readers semangat Author


Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.


Semoga dapat menghibur Readers semua.


...Jangan lupa dukungan berupa :...


...Like...


...Komen...


...&...


...Vote nya...


...Terimakasih...

__ADS_1


...🙏🙏🙏...


__ADS_2