
🌷🌷🌷
Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
...........
Episode lalu
Makhluk dengan berbagai perwujutan dan perangai serta suara yang bermacam macam itu seakan siap mengahncurkan apa saj yang ada di hadapanya. Langkah mereka semakin mendekati rumah Yasin dan semakin jelas suara yang mereka teriakan.
“Hancurkan,,,hancurkan,,,, hancurkan,,,,,,”
“Bunuh,,, bunuh,,, bunuh,,,,”
Suara semakin riuh dan membikin bulu kuduk merinding bagi yang mendengarkan. Yasin dan sena segera bersiap diri menghadapi segala kemungkinan yang terjadi. Dan Yuyut segera masuk kerumah melindungi orang orang yang ada dirumah.
“Sayang Ardian tak ada disini minimal bisa membantuku kalo ada.” Kata Yasin dalam hati.
Apakah aku harus menggunakan penabuh gong itu lagi….??
*****
Episode Ini
Yasin POV
Aku masuk kedalam rumah mengambil penabuh gong itu dan juga batu pembuka dua dimensi.
“Sena kamu pegang batu ini tapi jangan sampai mereka berhasil merebutnya, arahkan batu ini dengan mengerahkan tenagamu serta bacakan Sholawat Fatih dan sholawat lainya.” Kataku pada Sena.
Kemudian makhluk makhluk astral itu terhenti ketika  sena mulai mengarahkan batu itu dan membacakan sholawat yang aku mint tadi sementara aku masih menyimpan Panabuh gong yang akan aku gunakan jika keadaan benar benar mendesak.
Karena untuk menggunakan penabuh gong itu cukup melelahkan mengeluarkan tenaga yang besar serta suara dengunganya cukup kencang menyerupai dengungan ribuan lebah yang berbunyi bersamaan.
Aku memperhatikan makhluk itu seperti kebingungan antara mau lanjut maju atau berhenti ditempatnya atau bahakn mundur.
*****
Author POV
Kita melihat kondisi Mento Rogo yang dibawa oleh Joyo Maruto ke padepokanya.
“Guru apa yang terjadi dengan kakang Mento Rogo, kenapa bisa sampai luka separah ini.?” Tanya Ajar Panggiring.
“Nanti saja ceritanya, cepat carikan daun dadap Serep sebanyak mungkin buat mengobati luka bakar dan luka bekas pukulanya.” Perintah Joyo Maruto.
Kemudian Ajar Panggiring dibantu Maheso Suro segera mencarikan daun yang dimaksut oleh Joyo Maruto.
Sehingga proses ritual yang dilakukan mereka pun berhenti dan sibuk mengurusi Mento Rogo yang terluka parah.
Joyo Maruto pun segera meletakkan tubuh Mento Rogo yang sudah terkulai lemas dan pingsan.
Tubuh Mneto Rogo yang terkulai lemah tak berdaya itu kini terbujur diatas Altar persembahan. Kemudian sama dengan saat mengobati Ajar Panggiring kemarin tunuh Mentorogo ditutupi kain mori putih seluruhnya dan dibacakan mantera mantera dan tidak ketinggalam kemenyan jawa serta kembang setaman yang selalu tersedia setiap hari di padepokan joyo Maruto.
Kali ini diatas mori pun ditaburi kembang setaman baru kemudian Joyo Maruto mambcakan Mantera mantera khusu yang diperuntukan untuk memanggil Kohdam khodam prewangan Joyo Maruto.
 Tubuh Mento Rogo bergetar hebat saat joyo Maruto membacakan mantera. Tubuh lemah itu bergetar seperti orang tersengat listrik tegangan tinggi dalam waktu yang lama.
Sampai berulang ulang Joyo Maruto mengulangi usaha pengobatan dengan ritual yang biasa dia laksanakan. Namun kali ini belum juga berhasil.
Joyo Maruto hampir putus asa, kemudian mengulangi dari awal lagi dengan memberikan taburan kembang setaman lagi pada tubuh Mento rogo.
 Dan Kahinya mento Rogo dapat bangkit meski pelan sekali dan kaku gerakanya tidak seperti saat mengobati Ajar Panggiring kemarin. Rupanya Joyo maruto melupakan satu hal bnahwa altar tersebut tidak boleh digunakan dua kali dalam semalam.
Padahal baru saja tadi di paki untuk persembahan mengirim makhluk Astral kerumah Yasin dan belum selesai sehingga makhluk astral yang mereka kirimkan pun belum kembali kesitu.
Rupanya itulah yang membuat para amakhluk Astral tad tampak kebingungan mau bagai mana. Ternyata yang menyuruh merekamalah meninggalkan ritual yang tengah dilangsungkan.
Joyo Maruto pun baru menyadari itu semua, sehingga dia tampak kebingungan apa yang harus dilakukan dengan kondisi muridnya Mento Rogo itu.
“Aduh dingapuro ngger Mento Rogo, Aku lali nembe wae iki mau prewangane podo lungo. Kepekso kowe tak usadani sesuk esuk. Sabaro sawetor diampet olehmu kroso loro.” Ucap Joyo Maruto.
(Aduh ngger maafkan akau mento Rogo, aku lupa baru saja ini tadi para khodam pergi. Terpaksa kamu saya obati besuk pagi. Sabarlah sementara tahan rasa sakitmu)
Mento Rogo kembali pingsan di altar itu. sementara Maheso Suro dan Ajar Panggiring belum juga datang membawa ramuan abat itu.
Baru setelah menunggu agak lama Rombongan Ajar panggiring datang membawa sebongkon daun dadap serep.
“Simpan saja dulu daun itu, kita panggil prewangan yang tadi kerumah anak itu. tanpa mereka Mento Rogo tak bisa diobati.” Ucap Joyo Maruto.
Ajar Panggiring pun jadi sadar jika semua prewangan yang biasa dimintai tolong saat ini baru menge[eung rumah Yasin.
Maka merekapun mengadakan ritual puter walik memanggil prewangan agar balik ke padepokan.
__ADS_1
*****
Di rumha Yasin
Yasin POV
“Sena tunggu, jangan berbuat apapun, ada yang aneh pada makhluk makhluk Astral itu. tiba tiba jadi linglung begitu.” Ucapku pada Sena.
Maka Sena pun segera menghentikan aktifitasnya, kemudian para makhluk astral itu tampak berbalik arah dan berjalan menjauh dan akhirnya lenyap. Aku dan Sena saling pandang.
“Apakah Yuyut mengusir dari dalam rumah ?” Tanya Sena kepadaku.
“Aku tak tahu Pasti, tapi mungkin saja begitu. Atau memang sengaja disuruh pulang oleh pemiliknya.” Jawabku pada Sena.
“Kenapa mereka disuruh bailik kerumahnya ?” Tanya Sena lagi.
“Ya gak tahu juga, mungkin pemiliknya berubah pikiran bisa jadi.” Kataku.
“Berbah pikiran bagaimana maksutnya Mas ?” Tanya Sena Penasaran.
“Bisa jadi ada sesuatu yang lebih penting dari sekedar menakut nakuti kita.” Kataku pada Sena.
“Yaudah kita masuk saja. Kita bicarakan di dalam.” Ajak Sena kepadaku.
Kemudian kami berdua masuk kedalam rumah dan menemui Yuyut dan Khotimah yang sedang tampak berjaga melindungi yang lain.
Wah sekarang Khotimah sudah bisa ikut menjaga keselamatan jadi aku gak peril terlalu khawatir menjaganya. Minimal dia bisa melindungi diri sendiri pikirku.
“Sudah beres urusan hantu gentayanagn diluar tadi ?” Tanya Yuyut yang menyebut jin jin itu dengan hantu gentayangan.
“Jadi bukan Yuyut yang mengusirnya, kirain Yuyut mengusir dari dalam rumah. Makhluk makhluk itu pergi dengan sendirinya.” Kataku pada Yuyut.
“Tunggu sebentar.” Perintah Yuyut kemudian seperti mengingat sesuatu sehingga kepalanya tampak geleng geleng sebentar.
“Owh,,,, pantas pantas,,,, hantu hantu itu pulang karena dipanggil oleh pemiliknya, mereka diminta mengobati Mento Rogo yang tadi terluka itu.” ucap Yuyut.
“Mento Rogo itu siapa Yut ?” tanyaku pada Yuyut.
“Dia kakak seperguruan Ajar Panggiring, murid Joyo Maruto.” Ujar Yuyut.
“Owh jadi itu tadi kakak seperguruan Ajar Panggiring ?” ucapku.
“Iya dia lebih kuat dari Ajar Panggiring seharusnya. Karena dia menguasai rapal ilmu Tameng Waja ( Perisai Baja ) yang bisa melindungi badanya.” Ucap Yuyut.
Tiba tiba Khotimah menyahut.
“Tapi kenapa banyak sekali darah di depan pintu Yut ?” Tanya Khotimah.
“Kok mas Yasin sama dik Sena malah senyum senyum begitu. Itu darah apa yang di depan pintu ?” Tanya Fatimah penasaran.
“Memang kamu gak pada mencium bau sesuatu ?” tanyaku balik.
“Gak Cuma bau minyak doing ?” jawab Khotimah.
“Ya emang itu bukan darah tapi Cat minyak yang warnanya merah.” Kataku.
“Kok bisa tumpah disitu buat apa ?” Tanya Fatimah.
“Owh itu mbakyu, dengan Cat itulah tadi mas Yasin menyiram musuh dan ditaburi potongan kertas biar nempel sehingga musuh dapat kelihatan.” Jawab Sena sambil tertawa kecil.
“Maksutnya gimana dik Sena, mbak gak ngerti kok bisa nyiram cat segala ?” Tanya Fatimah penasaran.
“Lihat di atas pintu ada dua ember satu berisi cat merah satu berisi potongan kertas. Saat musuh yang punya halimu datang dua ember yang berisi cat dan kertas yang sudah dipasang tali itu ditarik mas Yasin hingga cat tumpah dan mengguyur musuh. Kemudian kertas yang ringan bertaburan menyusul menempel di musuh yang punya ilmu halin tadi, jadi bisa dilihat kami beretiga dengan mata lahiriyah saja. “ penjelasan Sena.
“Owh jadi itu yang mas Yasin maksut dengan jebakan biar musuh bisa kelihatan tadi ?” Tanya Khotimah.
“Iya, jitu kan tekhniknya ?” jawabku sambil senyum.
“Wah Isti kira itu tadi darah juga, makanya Isti takut saat mas Rofiq mukulin orang itu. Isti kira sudah banyak mengeluarkan darah. Mas Rofiq sih kejem banget mukulin orang sampai begitu.” Kata Isti.
“Yang bengis itu Zain tuh, masak musuh dibakar hidup hidup tadi.” Kata Rofiq sambil tertawa.
“Beneran mas, dia kamu bakar tadi ?” Tanya Fatimah.
“Gak sengaja kok, aku baru nyalain rokok dia mendekati aku setelah memukul Sena. Padahal badan dia kan penuh cat minyak jadinya ya terbakar deh. Terus dipukulin sama bang Rofiq tuh, aku gak ngapa ngapain kok” Jawabku santai.
“Loh bukanya kamu yang nyuruh tadi Zain ?” protes Rofiq.
“Diih kapan aku nyuruh mukulin ?” kataku.
“Saksinya Sena tadi juga denger, kamu bilang ini bagian kamu bang.” Sahut Rofiq.
“Ya aku memang bilang ini bagian kamu bang, tapi maksutku bukan dipukulin tapi ditangkap saja karena udah gak berdaya. Eeh malah bang Rofiq pukulin begitu, itu namanya bang Rofiq yang niat mukulin gak nanya dulu mau diapain.” Kataku sambil nahan tawa.
“Huuuh kok waktu aku mukulin dia kamu juga diem saja ?” protes Rofiq.
“Lah aku harus gimana kan udah dipukulin bang Rofiq, masak iya aku ikut mukulin juga.” Kataku tak lagi bisa menahan tawaku. Sambil lari ke kamar mandi sebelum kena amukan orang yang disitu.
“Dasaaar…..!” lamat lamat aku masih mendengar omelan Fatimah.Sementara Yuyut pun hanya terkekeh kekeh tidak marah melihat kelakuan isengku kali ini.
__ADS_1
Setelah aku kembali dari kamar mandi kulihat Yuyut sedang memeriksa Sena yang tadi kena pukulan Mento Rogo dan juga Joyo Maruto.
“Sukurlah gak ada luka serius, hanya sedikit memar saja.” Kata Yuyut.
Kemudian ganti memeriksa nadiku yang sempat juga terkena pukulan jarak jauhnya Joyo Maruto.
“Owh bocah geblek, bocah gemblung bocah bejujag kena pukulan kelabang sayuto Joyo maruto gak ngaruh sama sekali. Kamu pakai apa to ?” Tanya Yuyut padaku.
“saya dulu disuruh mengamalkan akhir surah Attaubah tiga ayat terakhir dengan puasa Yut sama Abah guru saya.” Jawabku ke yuyut.
“Pakai lek lek  an ( begadang semalam suntuk )  saat puasa terakhir ?” Tanya Yuyut.
“Iya Yut, kok Yuyut tahu ?” tanyaku balik.
“Itu namanya kamu diberi amalan lembu sekilan kalo orang jawa menyebutnya. Yo pantes kamu gak papa terkena kelabang seyoto.” Ucap Yuyut.
“Tapi yang Yuyut Heran, sekarang mulai kelihatan darah Sidiq Ali pada dirimu, strategi yang kamu terapkan tadi mirip cara Sidiq Ali kalo berhadapan dengan musuh. Gak Cuma okol ( otot \= fisik ) tapi juga akal ( siasat ).” Ucap Yuyut.
“Kalo itu sih sudah dari dulu Yut.” Kataku menyombongkan diri di depan Yuyut.
Dan akli ini langganan tongkat Yuyut mendarat lagi dipundakku.
Buuk…
pukulan tongkat Yuyut membuatku mengaduh.
“Adduuh sakit Yut, suka amat sih mukulin cucu menantu ?” kataku pada Yuyut.
“Biarin aja, pukul terus Yut biar suamiku gak Bandel.” Ucap Fatimah mengejekku. Membuat aku jadi bahan tertawaan yang lain.
“Yeee jahat amat sih kamu jadi istri ?” balasku ke Fatimah.
Alhamdulillah malam itu kami semua bisa lepas dari serangan musuh yang cukup membahayakan diri kami. Kemudian kami beristirahat untuk melepaskan lelah dan menghilangkan ketegangan yang terjadi tadi.
 Karena setelah sholat subuh dan semaan Al-Quran aku dan Rofiq bersiap menghadiri acara persidangan yang akan digelar lagi. Namun aku juga waspada dengan segala kemungkinan yang mungkin terjadi. Seperti saat sidang pertama yang diwarnai kesurupan masal dahulu.
Dan ini berarti ada kemungkinan saksi kunci Astuti juga akan dihadirkan, aduh jangan sampai Fatimah istriku tahu kronologis aku jemput / menyelamatkan Tuti waktu itu. bisa salah faham kalo dia tahu. Karena waktu itu aku pura pura booking cewek itu dan aku ajak ke sebuah penginanapan. Meski gak ngapa ngapain juga. Tapi sebagai istri / wanita pasti sulit menerima itu semua dengan lapang dada. Apa lagi yang aku ajak waktu itu memang profesinya begitu.
Ada sedikit rasa khawatir juga sih, kalo sampai istriku cemburu gara gara itu. karena sifat dasar wanita memang gak akan rela jika suaminya berbagi kasih dengan yang lain. Aah mungkin Fatimah memang tidak perlu tahu semuanya, ada yang harus aku tutupi. Bukan bermaksut membohongi tapi lebih pada menjaga keharmonisan rumah tangga. Kareana memang kenyataaanya juga aku gak berbuat hal hal yang melanggar susila dengan Tuti waktu itu.
“Ngapain gak segera tidur sih mas, bukanya besuk harus berangkat sidang sebagai Saksi juga ?” Tanya Fatimah padaku.
“Iya masih terpikir bagaimana bisa menghadapi Joyo Maruto besuk jika bertemu.” Jawabku berbohong lagi.
“Kata Yuyut alah ada yang lebih berat dari itu kan mas ?” jawab Fatimah.
“Udahlah gak usah dipikirin sekarang yang penting kita sudah berusaha. Istirahat yuk.” Kataku sambil memeluk Fatimah istriku agar tidak Tanya macam macam lagi.
“Mas perutku sekarang sudah sering kejang kejang, apakah sudah akan melahirkan ya ?” Tanya Fatimah padaku.
“Gak lah, kan masih belum waktunya sayang” jawabku sambil merem.
“Tapi rasanya sudah seperti mau keluar saja ini anak dalam kandunganku mas ?” jawab Fatimah.
“Kamunya mikir terlalu berat kali. Udah istirahat dulu saja.” Ucapku sambil mencium pipi istriku biar tenang. Dalam hati aku berkata, “ maaf istriku, akau cape banget belum bisa kasih nafkah batin beberapa hari ini, batinku. Karena aku merasa ucapan Fatimah seperti itu seperti mau mengajak, namun jujur saja aku masih belum hilang capeknya dari saat bertempur dengan ajar panggiring hingga tadi melawan Mento Rogo dan sedikit menerima pukulan jarak jauh Joyo Maruto cukup menyesakkan dadaku sesaat setelah terjadi benturan tenaga,
“Udah bobok dulu yuuk, nanti habis subuh gak usah ikut Semaan dulu kalo Fatimahh pingin , tapi sekarang bobok dulu mas capek banget.” Kataku.
“Malu dong mas kalo habis subuh masa yang lain  ngaji kita malah….” Kata Fatimah.
“Yaudah nanti sebelum subuh deh, tap istirahat bentar ya, mataku udah ngantuk banget nih.” Ucapku.
“Iya deh mas, sini sambil Fatimah pijitin, mas istirahat saja.” Kata Fatimah istriku jika lagi berkehendak jadi super care pokoknya….????
...******...
Up lebih awal semoga terhibur
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
__ADS_1
...🙏🙏🙏...
Â