
🌷🌷🌷
Reader tercinta, mohon maaf jika masih banyak typo karena Auto teks ataupun murni salah ketik.
Semoga tetap bisa menghibur.
🌷🌷🌷
Selamat membaca
...........
Episode lalu
“Hmmmm baiklah sekarang aku ajukan Maheso Suro yang akan maju kalian ajukan satu orang atau mau dua sekaligus juga boleh.” Tantang Joyo Maruto.
“Melihat tampang muridmu kayaknya cukup bungsu diantara kami bertiga yang akan menghadapi muridmu.” Kata kang Tohari sambil menunjuk Sena.
Dan membisikkan agar sena menghindari sentuhan telapak tangan Meheso suro.
“Jika terpaksa bersentuhan gunakan ismuldzat dan asmaaul husna.” Kata kang Tohari.
Aku sebenarnya agak khawatir dengan Sena, dan akan menggantikan Sena melawan Maheso Suro sekaligus Mento rogo jika perlu. Namun kang Tohari melarangku.
Aku jadi tak berani membantahnya, namun aku bersiap sewaktu waktu memantu Sena….!!!
*****
Episode ini
Sena pun maju ke tengah lapangan dan berhadapan dengan Maheso Suro. Aku melihat Sena cukup tenang menghadapi Maheso Suro. Ada sedikit kekhawatiran juga dalam hatiku,apa lagi setelah tahu Sena adalah suami dari sepupuku sandiri. Namun aku tepis rasa khawatir itu. aku lebih mempercayai strategi kang Tohari yang jelas kemampuannya juga jauh diatasku. Tentulah memilih Sena untuk melawan Maheso Suro sudah dengan pertimbangan yang matang.
“Kamu gak usah tegang, Sena itu juga mewarisi ilmu ‘Bayu Manitis ‘ dari ayahnya. Lembut tapi bisa meruntuhkan dan memporak porandakan pertahanan lawan.” Ucap kang Tohari tiba tiba seakan tahu kekhawatiranku.
“Iya kang, aku percaya hanya sedikit khawatir saja bagaimanapun dia suami dari adik sepupu kita kan.” Jawabku.
“Apa kamu lupa kalo kakeknya Nurul juga memilik sayeti angin yang serupa dengan Bayu Manitis. Yang bisa bergerak cepat dan menimbulkan hawa panas dan mampu menandingi ‘giling wesi’ nya orang itu ?” Tanya Kang Tohari.
Aku baru ingat jika mbah Hadiyan juga bukan orang Sembarangan. Kemudian kami konsentrasi menyaksikan jalanya pertempuran antara Sena dan Maheso Suro yang sudah saling berhadapan.
“Kenapa juga yang maju harus kamu yang gak berurusan langsung denganku. Sebenarnya aku mengincar Yasin untuk aku lumatkan mala mini.” Seru Maheso Suro menggertak Sena.
“Mungkin sebagai uji coba saja, jika kamu gak bisa mengalahkan aku jelas keinginan kamu melawan kakaku Yasin itu hanya akan menjadi sebuah mimpi bagimu.” Jawab Sena dengan tenang.
Maheso Suro yang mendengar ucapan sena langsung naik pitam, merasa di remehkan.
“Apakah kamu sudah siap mati berani melawanku ?” geram Maheso Suro.
“Yang aku lihat Justru malaikat maut yang sudah memandangi kamu terus saat ini. mungkin tinggal menunggu waktunya saja.” Jawab Sena tak kalah garang meski dengan bahasa dan ucapan yang datar saja.
Mendengar itu Maheso Suro tak mau berlama lama bicara langsung memberikan pukulan dengan telapak tanganya secepat kilat. Membuat aku kaget dan sangat khawatir karena Sena yang belum pasang kuda kuda bahkan.
Namun ternyata Sena dengan mudah menghindari serangan telapak tangan Maheso Suro yang dilambari aji ‘Giling Wesi’ nya. Bahkan disusul serangan maheso Suro berikutnya secara cepat dan kembali Sena dengan mudah menghindari serangan tersebut, meski belum sempat memberikan serangan balasan.
Aku yang justru sport jantung melihat Sena digempur habis habisan oleh maheso suro. Meski ku lihat Sena tetap tenang dan mampu menghindari semua serangan Maheso Suro.
“Kang, kenapa Sena hanya menghindar saja tidak melakukan serangan balasan. Itu kan berbahaya bisa bisa Sena nanti terkena serangan karena Lengah ?!?” tanyaku pada kang Tohari.
“Kamu perlu tahu Sena sudah menggabungkan Bayu manitisnya dengan indera keenamnya. Dia mengikuti getaran halus bulu bulu rambut di kulitnya dalam bergerak. Dan mempelajari jurus musuhnya serta akan memukul musuhnya dengan jurusnya sendiri. Itulah kelebihan ‘bayu manitis’ dapat memukul lawan dengan jurusnya sendiri. Karena bayu (angin ) dari jurus lawan akan menitis kepada Sena dan akan digunakan memukul lawan dengan Jurus yang dia gunakan sendiri.” Jelas kang Tohari.
Aku jadi ingat saat sena dan aku berlatih dibawah pohon Randu Alas, dia dalam waktu cepat bisa melakukan tugasnya menangkap biji kapok yang jatuh. Sedangkan aku sendiri butuh dua kali latihan untuk bisa yang akhirnya membuka Lathoif Nafsiku. Aku jadi agak tenang mendengarnya.
“Mana jurus kamu, kenapa hanya menghindar dan berputar saja ? Apa kamu memang tidak punya jurus untuk memukulku ?” geram Maheso Suro yang frustasi tak mampu menyentuh Sena sam sekali.
“Aku masih ingin pemanasan dengan gerakan gerakan menghindar biar agak lama bermain denganmu. Kalo langsung menyerang kamu takutnya kamu langsung terjungkal padahal belum keluar keringat nih…!” ejek Sena pada Maheso Suro.
Nampaknya Sena memang diatas angin melawan Maheso suro yang diliputi amarah, sehingga gerakannya semakin tidak terkontrol dan tidak ter arah.
“Kurang ajar kau anak muda, akan kulumat habis tulang tulangmu tak satu ruas pun tulangmu yang akan kubiarkan utuh.” Geram maheso Suro yang semakin emosi sehingga dia meningkaatkan kekuatan dan kecepatan dalam menyerang Sena.
“Sena Awas…!” teriakku ketika Maheso Suro yang melompat menyerang Sena saat Sena baru saja bangkit setelah menjatuhkan dirinya menghindari serangan Maheso Suro.
Sehingga Sena kembali menjatuhkan diri untuk menghindari serangan itu.
Namun kembali maheso Suro mengejar dan bersiap mendaratkat pukulan telapak tanganya kearah dada Sena yang baru saja bangkit.
Aku hampir saja melompat dan menghalangi Maheso Suro, namun tanganku di pegang oleh Kang Tohari.
“Jangan, biar ini jadi urusan Sena, nanti kamu lawan Murid Joyo Maruto satunya lagi, bisa jadi juga dibantu yang satunya.” Ucap kang Tohari.
Dan bersamaan dengan itu tiba tiba Sena melompat mundur dan kemudian melakukan gerakan gerakan jurus yang dipakai Maheso Suro itu.
Maheso Suro yang tidak sadar apa yang dilakukan Sena justru makin marah. Dikira Sena menghina jurus jurus yang dia Gunakan. Dan segera melompat menyerang Sena dengan kecepatan tinggi. Telapak tangan kanan Maheso Suro lurus kedepan siap menghantam Sena.
__ADS_1
Dan kali ini Sena tidak menghindari telapak tangan Maheso Suro namun justru menahan dengan telapak tangan kanan Sena juga. Sehingga benturan kedua telapak Tangan Maheso Suro dan Sena itu menimbulkan suara keras dan membuat Sena surut beberapa langkah ke belakang. Sementara Maheso Suro juga terpental ke belakang.
“Bagaimana rasanya terkena jurus kamu sendiri ?” Tanya Sena.
Maheso Suro yang baru bangkit karena jatuh terpental menahan amarah yang amat sangat. Kemudian mengepalkan kedua telapak tanganya, kemudian kedua tanganya lurus dipinggang serta ditekuk lurus kedepan sikunya. Sambil membaca mantera mantera komat kamit mulutnya.
“ilmu apa lagi yang akan dipakai Maheso Suro itu kang ?” tanyaku.
“Ilmu lain yang bukan dari Joyo Maruto, tampaknya ilmu andalan dia sebelumnya. Dari gerakanya sperti Brajamusti.” Kata kang Tohari.
“Terus bagaimana dengan Sena kang ?” tanyaku khawatir.
“Seharusnya Sena juga sudah mewarisi Lebur saketi dari neneknya ( Yuyut ).” Kata kang Tohari.
“Tapi yang diwarisi justru Khotimah kang ?” jawabku.
Kang Tohari Nampak mengernyitkan keningnya, mendengar penjelasanku.
“Kamu diam saja, aku akan coba salurkan energy dari sini untuk Sena. Pecahkan konsentrasi joyo Maruto agar tidak mengawasiku.” Bisik kang Tohari padaku.
Aku kemudian barjalan agak mendekati Joyo Maruto agar konsentrasi mereka tertuju padaku.
“Hei Mento rogo nanti kalo bertarung denganku kamu pakai topeng saja, aku agak eneg lihat wajah jelek kamu begitu. Pantes gurumu ngasih ajian Halimun karena wajah kamu memang jelek. Takut kelihatan orang lain ya. Eeem kalo kamu sama istri kamu lagi pingin pasti juga istri kamu mintanya kamu pakai ilmu Halimun. Karena kalo lihat wajahmu pasti jadi Bad mood, wkakaka….!” Ejekku pada Mento Rogo dan Joyo Maruto.
Mento Rogo yang mendengar ejekanku lansung menyerang aku, namun dicegah oleh Joyo maruto gurunya.
“Awas kau nanti, karena disini kamu gak akan berbuat licik seperti dulu ?” ancam Mento Rogo.
“Apa kamu Bilang Licik ? bukankah yang licik itu kamu, datang pakai ilmu Halimun eeh sori mungkin aku yang salah. Kamu gak bermaksut licik tapi Cuma malu dan gak PD punya wajah jelek. Mungkin lebih jelek dari Jin yang di puja Joyo Pawiro guru kamu itu, wkakaka….!” Tawaku mengejek Joyo Maruto dan Mento Rogo.
Sehingga keduanya jadi marah dan bersiap menyerangku bersamaan.
Aku pun bersiap menghadapi segala kemungkinan, namu semua terhenti ketika terdengar suara benturan dua buah tenaga dalam yang sangat keras.
Bluuuuummmm…….
Suara benturan Maheso Suro dan Sena.
Maheso Suro terpental Jatuh dan berusaha bangkit lagi, sementara Sena masih tetap tegak berdiri.
*****
Flashback beberapa menit sebelum Maheso Suro Terpental
Author POV
Dan saat Yasin sedang memancing emosi Joyo Maruto dan mento Rogo agar lengah tidak mengawasi jalanya pertempuran. Tohari di saat yang tepat dengan Tatar Bayunya yang diwarisi dari kakek canggah atau diatasnya yaitu kakek MUstholih mendekati Sena dan menyalurkan tenaganya.
Tepat disaat Sena sendiri bingung mau melawan Maheso Suro dengan ilmu apa.
“Ulurkan tanganmu kedepan sambut serangan Maheso Suro dengan kedua tanganmu.” Bisik Tohari pada Sena. Dan Sena mengikuti perintahnya Tohari. Dan secepat kilat kembali ke tempatnya tadi, sehingga Joyo Maruto dan Lainnya mengira Maheso Suro dijatuhkan oleh Sena.
Flashback Off.
*****
Yasin Pov
“Udah kita tunda dulu pertarungan, kalian tolong dulu tuh Maheso Suro yang hampir Koit.” Kataku pada Mento Rogo dan lainnya. Dan aku kembali ketempat Kang Tohari berdiri. Dan kulihat kang Tohari sedikit berkeringat setelah mengeluarkan tenaga dalamnya untuk menghadapi Maheso Suro tadi.
Kemudian Sena datang menghampiri kami setelah Maheso Suro tidak berhasil untuk bangkit dan melanjutkan pertempuran dengan Sena.
Sena datang dan menyalami Kang Tohari juga Aku.
“Terimakasih kang, atas bantuannya.” Bisik Sena pada kang Tohari.
“Iya sama sama udah diam dulu mereka jangan sampai denger. Karena mereka tadi focus ke Yasin jadi gak lihat aku bantu kamu.” Kata Kang Tohari.
“Pasti kamu jahilin mereka ya mas.” Ucap Sena sambil tersenyum.
“Ssst diem saja sekedar menyalurkan hobi dan bakat alam saja.” Kataku sambil tertawa dan disambut tawa juga oleh Sena dan Kang Tohari.
Sehingga tanpa kami sadari tawa kami menambah kemarahan Joyo Maruto dan lainya.
“Kalian jangan tertawa dulu, karena sebentar lagi salah satu dari kalian akan mengalami nasib yang lebih buruk dari Muridku Maheso Suro.” Ucap Joyo Maruto.
“Suka suak aku lah mau tertawa juga. Lagian kami juga menterwakan kamu ya kalo tadi aku menghina murid kamu Mento ROgo aku ngaku salah deh maaf. Memang gak boleh menghina orang yang sudah Hina.” jawabku.
“Kamu maju kesini sekarang giliranmu melawan aku…!” teriak Mento Rogo menantangku.
“Siapa takut…!” jawabku.
Sebelum aku masuk ke arena pertempuran aku berpesan kepada Sena, untuk mengawasi gerak gerik Ki Soma yag biasa main santet dan teluh. Sementara kang Tohari mengamati gerak gerik Joyo Maruto yang mungkin main bokong dari belakang.
__ADS_1
Aku segera menghadapi Mento Rogo.
Dan tanpa basa basi lagi Mento Rogo langsung menyerangku dengan jurus jurus fisik. Tendangan pukulan sikutan dan sebagainya. Aku mau meniru gaya Sena tapi aku gak sabar seperti Sena. Sehingga begitu ada kesempatan melihat kelengahan lawan aku langsung mendaratkan pukulan tinjuk ke arah wajah jelek Mento Rogo.
Namun aku agak tertipu karena Mento rogo suah menerapkan aji Rapal Tameng Wojo. Sehingga rasanya aku seperti menghantam pintu baja yang sangat keras, sampai tanganku merasakan sakit.
“Ha ha ha… kenap tanganmu sakit kok dipegangi begitu ?” ejek Mento Rogo.
“Bukan sakit, tapi aku merasa jijik tanganku harus menyentuh wajah busukmu itu.” balasku ke Mento Rogo. Dan kali ini Mento Rogo kembali menyerangku dan akusegera melompat mundur mengambil jurus langsung ke tingkat menengah jurus ‘JIM’ untuk menghadapi Mento Rogo.
Dari beberapa jurus yang aku pergunakan beberapa kali aku bisa mendaratkan pukulanku ke tubuh Mento Rogo. Tapi dia tidak merasakan sakit meski tanganku juga tidak lagi merasakan sakit seperti pertama tadi.
Namun beberapa jurus berikutnya kau sempat lengah dan menerima pukulan telapak tangan Mento Rogo hingga tersurut mundur kebelakang. Dadaku terasa panas di bagian yang tersentuh telapak tangan Mento Rogo. Sehingga aku harus mengusap dadaku tersebut.
“Ha ha ha… kamu gak tahu jika aku dan Maheso Suro sudah Saling berbagi Ilmu. Jadi sekarang aku pun memiliki aji Giling Wesi. Pasti dadamu sekarang sudah remuk. Sekarang tunggulah ajal yang akan menjemputmu sebentar lagi” ucap Mento rogo.
“Ah jujur amat itu orang, jadi aku juga tahu harus bagaimana sekarang.” Kataku dalam hati.
Kemudian aku duduk bersila melanntukan doa khusus dan bacaan tiga ayat terakhir dari surah At-Taubah. Aku menggunakan amalan khusus dari Abah Guruku dulu yang menurut Yuyut itu semacam ilmu lembu sekilan yang bisa dipergunakan untuk jurus bertahan.
Dan saat aku sedang menggunakan amalan khusus tersebut, Mento Rogo langsung menyerangku tanpa member aku kesempatan berdiri. Denagn kekuatan penuh Mento rogo menyerangku dengan ilmu ‘Giling Weis’ yang kayaknya masih tingkat dasar tersebut. Sehingga aku tak terlalu khawatir berbeda jika yang menggunakan adalah Maheso suro. Aku harus hati hati tentunya, agar tidak celaka.
Karena tak mungkin menghindar, aku hanya bertahan dan menyambut serangan Mento Rogo itu dengan kedua telapak tanganku juga dengan dilapisi doa doa perlindungan.
Hasilnya sama dengan saat benturan Sena dan Maheso Suro yang pertama.
Mento Rogo terpental ke belakang, tapi segera bangkit namun sesaat kemudian dia menghilang dan menggunakan aji welut putihnya untuk menghilang. Sehingga ada beberapa saat aku terlena karena tadi sudah kemabli menutup mata batinku.
Aku sempat bingung menduga keberadaan mento Rogo diamana. Sehingga beberapa kali pukulan Mento Rogo mendarat di tubuhku. Sehingga aku harus melompat mundur agak jauh untuk membuka mata batinku atau membuka Lathoif Nafsiku. Namun Mento Rogo terus saja mengejar aku sehingga sebelum aku selesai membuka lathoif Nafsiku sudah mendapatkan pukulan dari Mento Rogo.
“Kurang ajar aku lengah tadi menutup mata batinku sehingga sekarang di permainkan begini..” kataku dalam hati.
Aku berpikir keras agar bisa menghadapi Mento Rogo atau bisa mencuri waktu membuka Lathoif Nafsiku. Kemudian aku melompat tiga lompatan dari saat terakhir aku menerima pukulan mento Rogo. Untung saja sudah melapisi diriku dengan doa perlindungan. Aklo tidak sudah habis aku dihajar Mento rogo berkali kali, pikirku.
Setelah aku mendapatkan tempat yang aku inginkan aku kembali duduk bersila seakan akan aku sedang melafadzkan doa mambuka mata batinku. Namun dibalik iti aku sebenarnya hanya mengamati gerakan daun daun kering disekitarku. Dan ternyata benar, beberapa langkah dariku yang banyak berserakan daun kering itu. terdengar suara daun kering terinjak dan kulihat juga daun kering itu seperti melesak kebawah. Beraarti Mento Rogo sedang disitu,pikirku. Dan kuamati pijakan kakinya melalui daun kering yang terinjak.
Dengan memperhitungkan tinggi badan Mento Rogo serta posisi kedua kakinya kemudian menduga posisi kepala Mento rogo aku segera menyambar batang kayu yang sudah aku incar dari tadi. Dan dengan gerakan cepat dan tepat sesuai perhitunganku. Aku memukulkan batang kayu itu dengan sekuat tanagaku kearah kepala Mento Rogo.
Dan terdengar suara Jeritan Mento Rogo mengaduh…!
Dan tiba tiba Mento Rogo terjatuh dan kembali menampakkan ujutnya, dan yang aku herankan ternyata kepalanya berdarah terkena pukulanku tadi. Sehingga aku bisa menyimpulkan jiak Mento rogo tidak dapat mrnggunkan dua Ilmu sekaligus antara Welut Putih dan Rapal Tameng Wojo.
“ngapain kamu disitu, aku kan gak sengaja mukul kepalamu kirain ada hantu yang mau gangguin kamu tadi. Eeh tapi memang wajah kamu sama hantu juga gak ada bedanya sih…!” ejekku ke mento Rogo.
Mento Rogo hanya diam masih berusaha bangkit namun agak Susah karena merasakan ousing kepalanya terkena pukulanku. Persis saat dia kena pukulan dari rofiq dulu saat berusaha masuk kerumhku, batinku.
*****
Author POV
Saat Yasin dihajar Mento rogo dan tidak diberi Waktu untuk membuka mata batin. Joyo Maruto sudah sangat senang dan mengira Mento rogo akan mampu mengalahkan Yasin. Namun ternyata Yasin mampu menjebak Mento Rogo tanpa harus membuka mata batinya.
Sehingga timbul niat licik Joyo Maruto untuk menyerang Yasin dengan Ajian ilmu kelabang Sayuto.
Dan segera Joyo Maruto menyerang Yasin dari jauh dengan pukulan kelabang Sayuto. Sementara Yasin masih mencoba mendekati Mento Rogo.
Sehimgga Tohari berteriak kepada Yasin.
“Gunakan ‘Ya’ untuk hadapi kellabang Sayuto.” Teriak tohari kepada Yasin yang sedang mendekatai Mento rogo….????
...bersambung...
Terimakasih atas dukungan dari Readers semuanya.
Komentar readers semangat Author
Author akan berusaha terus memperbaiki, bahasa retorika dan lainya.
Semoga dapat menghibur Readers semua.
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1