
Bagian lain episode lalu.
" Arum tidak keberatan, tapi jika Arum tetap diperkenankan untuk menjenguk Sidiq. Memang ada rencana Sidiq mau aku masukan ke pesantren. Tolong ajari dia agama, biar jadi anak yg baik." ucap Arum sambil terisak.
" Mbak Arum kesini aja sekarang, kita bicara tatap muka langsung saja.
Saya share lok ya mbak !" ucap Fatimah ikut larut dalam haru.
" Boleh mbak ! Arum siap berangkat. Sidiq ayo kerumah Ayah sekarang." suara Arum terdengar jelas.
Fatimah menutup hp dengan mata sembab.
" Mas nanti habis Isya kita bahas masalah Sidiq, antara mas Yasin Fatimah dan Arum. Kita selesaikan hingga tuntas dulu masalah ini, sebelum menangani masalah yang lain !" pinta Fatimah istriku.
" Baiklah, kita nanti selesaikan tanpa ada yg dirahasiakan lagi. Perlu ajak Isti gak buat penengah ?" tanyaku pada Fatimah.
" Boleh aja mas, biar ada yg netral. Meskipun Fatimah yakin gak akan emosi." jawab Fatimah.
" Baiklah, nanti biar ibunya isti Khotimah yg temenin. Sekarang kita gabung ke mereka lagi yuuk !" ajakku pada Fatimah.
" Hayuk." jawab Fatimah singkat.
Segera kami menuju ke ruang tamu dengan senyum lega.
" Eeh kalian berdua senyum senyum ada apa ?" sapa Isti saat kami datang.
" Biasa begitu mereka mbak, kalo dirumah mbak Fatim terus goadain Khotimah." sahut Khotimah.
" Diiih Khotimah, gak kok Is kita bahagia karena rumah bisanya seoi sekarang jadi meriah ada kaliyan." jawab Fatimah.
Ibu nya Isti pun ikut menimpali.
" Tampaknya kalian pasangan serasi semoga Allah menjadikan kalian pasangan yg sakinah mawadah warohmah, Aamiin !" sahut ibunya Isti.
" Aamiin...!" sahut kami emua yg ada disitu.
" Terima kasih ibu doanya, serasa punya ibu lagi saya bu !" jawabku pada ibunya Isti.
" Iya nak, sama sama anggap aku ibumu. Meski tak akan mampu seperti ibu kandungmu nak !" ucap ibu nya Isti yg sampai saat itu belum tahu nama beliau.
Semua yg dengar pun terharu saat itu, terlebih Khotimah yg juga sudah tak punya orang tua.
" Khotimah juga boleh ya bu, angap ibu seperti ibu kandung Khotimah ?" seru khotimah.
" Tentu boleh nak, ibu bangga punya anak anak seperti kaliayan." jawab ibu nya Isti.
Khotimah lantas menghampiri dan memeluk ibunya Isti.
" Kamu bilang ke Isti, nanti habis Isya kita ajak bicara dan sekalian bilang Arum dan Sidiq menuju kemari sekarang !" seruku pada Fatimah.
" Iya mas." jawab Fatimah singkat
Suasana ceria dan har dirumahku saat itu, membawa kebahagiaan tersendirii bagiku.
Terdengar Kumandang Adzan maghrib, kami segera bersiap jamaah maghrib. Kemudian bermujahadah bersama anak snak yg biasa ikut mujahadah.
Sambil menunggu waktu Isya, kami ngobrol sebentar. Kemudian terdengar ketukan pintu, kemudian aku minta Amir bukain pintu.
" Ada yg cari pak, katanya teman pak Yadi !" kata Amir.
Aku kemudian bangkit menuju ke depan, dan ternyata benar. Ada dua orang polisi berseragam, salah satunya bernama Toni yg pernah ketemu di polsek dulu.
" Silahkan masuk pak !" sapaku pada dua orang pollisi itu.
"Terima kasih, tidak usah pak kami hanya memastikam ini rumah bapak Ahmad Sidiq alias Yasin. Kami diutus pak Yadi mengantar 3 orang personil untuk tinggal disini. Sebentar kami panggil !" jawab polisi itu.
__ADS_1
Kemudian menggunakan radio panggil polisi itu memanggil orang dengan bahasa sandinya.
Beberapa menit kemudian datang tiga orang pemuda, yg usianya hanya sedikit di atas Heri. Mungkin sekitar usia 20tahun.
Mereka memperkenalkan diri, setelah polisi yg datang sebelumnya menyampaian sesuatu dan pamit padaku.
" Saya Hanif pak, besuk bisa mulai belajar grafting." ucapnya.
" Saya Dicky pak, siap bekerja sama dengan bapak." ucap orang yg kedua.
" Dan saya Fanani, mohon di perkenalkan dengan anggota keluarga disini. Karena mulai saat ini segala keamanan keluarga ini jadi tanggung jawab kami." kata orang terakhir yg mungkin pemimpinya.
" Baiklah, silahkan duduk dulu. Nanti habis sholat Isya saya perkenalkan dengan keluarga saya. Sama titip pesan nanti akan ada tamu saya seorang wanita. Dia bernama Arum, bersama anaknya Sidiq. Tolong dipersikahkan menunggu saja jika dia datang. Saya mau solat Isya dulu." kataku menjelaskan ke tiga orang tersebut.
Aku segera menuju ruang mujahadah lagi untuk melaksanakan solat Isya berjamaah.
Usai berjamaah solat Isya, dan anak anak yg ikut mujahadah pulang. Aku sampaikan pada Fatimah dan lainya. Jika anggota polisi yg menyamar ikut menjaga keamanan sudah datang. Dan ingin tahu anggota keluarga biar kenal.
Maka aku persilahkan tiga orang tersebut masuk ke ruang mujahadah. Dan aku perkenakan satu persatu keluargaku, dari Fatimah istriku, Khotimah, Isti dan ibunya.
Belum selesai bicara tiba tiba terdengar suara pintu diketuk dan terdengar salam.
tok...tok...tok.....
Suara pintu diketuk.
" Assalaamu 'alaikum...!" suara salam yang aku kenali suaranya. Itu suara Arum, batinku dalam hati.
Kemudian aku berbisik ke Fatimah istriku, " Itu suara Arum, kamu temui dulu biar mas bicara sebentar sama polisi yg menyamar ini." bisikku.
Fatimah hanya mengangguk, dan langsung pergi mebukakan pintu buat Arum dan Sidiq.
.................
...Fatimah Pov...
"Assalaamu 'alaikum...!" suara salam Arum yang kedua.
" Wa 'alaikummussalam... tunggu sebentar." jawab Fatimah.
ceklek....
Suara slot pintu dibuka.
" Eeh mbak Arum, sama Sidiq ya ?" sapaku pada mantan pacar suamiku dan anaknya itu. Fatimah berjuang untuk tetap tenang.
" Mari silahkan masuk, mas Yasin masih diruang solat. Sidiq sini sama bunda yuk !" sapaku pada anak tiriku.
" Makasih Fatimah, gak nyangka Arum bisa bertemu orang sebaik kamu !" ucap mantan pacar suamiku itu memuji Fatimah.
" Aah biasa saja mbak, maaf ya kalo jadi repot ku undang kesini. Sidiq, katanya tadi mau ketemu bunda, sini sama bunda. Biar mamah sidiq duduk dulu." ucapku yg jadi pingin peluk anak itu.
" Apa gak merepotkanmu Fatimah, kamu kan baru mengandung ?" seru ibunya Sidiq.
" Gak papa mbak, o iya mau minum apa mbak Arum ?" tanyaku.
" Gak usah repot repot, kita ngobrol saja dulu." sahut Arum ibunya Sidiq.
"Bunda namanya siapa ?" tiba tiba Sidiq bertanya dengan memanggilku bunda. Hatiku terkesiap kaget seakan merasa lebih dekat dengan anak itu, karena panggilanya itu.
" Nama bunda Fatimah Sidiq, Sidiq boleh panggil Bunda Imah !" jawabku.
" Iya bunda imah, Ayah mana bunda ?" tanya Sidiq.
" Ada tapi baru solat, nanti juga kesini kok. Sidiq kangen ayah ?" tanyaku.
__ADS_1
" Iya bunda, bunda mau punya dede kecil ya ?" ucap Sidiq.
" Iya Sidiq, besuk Sidiq yang jagain ya kalo dedek nya udah lahir !" jawabku.
Sungguh luar biasa, Fatimah langsung merasa dekat dengan anak itu. Bahkan dengan Arum pun tak lagi ada perasaan marah seperti saat dengar pengakuan dari suamiku itu. Fatimah termenung cukup lama.
" Apa ada seuatu yg mengganjal Fatimah ?" tanya Arum mengagetkan Fatimah.
" Owh tidak mbak, Fatimah hanya merasa heran bisa langsung merasa dekat dengan Sidiq." jawabku jujur.
" Kamu membuatku haru Fatimah. Arum bersukur atas semua ini, dan maaf jika masa lakuku membuatmu tidak nyaman. Arum merasa bersalah padamu Fatimmah." ucapan Arum justru membuat Fatimah semakin luluh.
Fatimah dekati Arum dan Fatimah peluk Arum sampai Arum kaget.
"Arum aku panggil Arum saja ya, usia kita mungkin sebaya." kataku pada Arum.
" Iya boleh, justru makin terasa akrab kok. Fatimah, boleh Arum menganggapmu saudara ?" tanya Arum.
" Boleh saja, O iya tunggu sebentar aku lihat suamiku sudah sekesai belum !" ucapku.
" Iya silahkan !" jawab Arum.
Fatimah masuk menemui mas Yasin untuk membertahukan kedatangan Arum dan Sidiq.
.......................
...Yasin pov...
" Jadi mereka semua adalah keluarga besar saya, yg saat ini tinggal dirumah ini demi keananan. Dan anak anak tadi adalah warga dusun sini yang biasa ikut mujahadah di sini." jelasku pada ketiga personil polisi tersebut.
" O iya, Khotimah nanti temenin ibunya mbak Isti dulu ya. Mas mau bicara dengan Fatimah dan Isti dulu." kataku pada Khotimah
" Iya mas, kebetulan Khotimah masih kangen sama ibu kok !" jawab Khotimah yg menyebut ibunya Isti dengan sebutan Ibu.
Isti hanya tersenyum maklum dengan kekolokan Fatimah. Sementara Ibu nya Isti tersenyum bahagia sambil peluk Khotimah.
" Mas tamunya sudah datang !" suara Fatimah mengagetkan kami.
" Owh iya, ajak kesini aja. Khot antar ibunya Mbak Isti kekamar, dan kamu temenin dulu." pintaku pada khotimah.
" Ibukku juga mas, kan udah jadi ibuk Khotimah sekarang." jawab Khotimah.
" Iya deh, o ya mas Hanif, mas Dicky dan mmas Fanani mohon tunggu di ruang depan sebentar ya. Saya ada rembuk keluarga." ucapku.
" O iya siap pak !" jawab ketiganya serempak. Langsung meninggalkan tempat.
Bersamaan dengn masuknya Fatimah, Arum dan Sidiq.
" Assalaamu 'alaikum Ayah...!" suara Sidiq menyapku dengan sebutan ayah.
Membuat beberapa orang dan bunya isti dan lainya yg belum faham cerita jadi kaget.
..............................
...bersambung...
...Jangan lupa dukungan berupa :...
...Like...
...Komen...
...&...
...Vote nya...
__ADS_1
...Terimakasih...
...🙏🙏🙏...