
Episode 90
“Assalaamu’alaikum...!” sapa pak Yadi pada kami.
“Wa’alaikummussalam pak Yadi.” jawabku.
“Mohon maaf, apa benar pak yasin sudah sadar ?” Tanya pak
Yadi.
”Iya pak, tapi sekarang baru tertidur habis disuntik dan
diberi obat.” Jawabku.
“Sukurlah, soalnya kami butuh keterangan pak Yasin, terkait
hilangnya Fanani dan lainya.” Ucap pak Yadi.
“Mereka saat ini ditawan dan dikurung dengan kekuatan
mistis, serta dipagari oleh kekuatan ghoib. Besuk setelah Yasin pulang, biar
saya yang akan menjemput mereka.” Ucap kang Salim.
“Owh iya pak, perkenalkan beliau ini namanya kang Salim,
senior kami di pesantren dan lurah pondok pesantren kami.” Kataku pada pak
Yadi.
“Owh iya, makasih pak, kami sangat membutuhkan bantuan
bapak, mencari tiga rekan kami yang hilang secara misterius.” Ucap pak Yadi.
“ Insya Allah, Besuk mereka akan pulang, tapi mereka butuh
waktu untuk memulihkan kesadaran mereka.” Ucap kang Salim.
“Kami harus mencari mereka dimana pak, menurut pak Yasin
kemarin mereka dibawah pohon preh.” Kata pak Yadi.
“Betul, tapi tak dapat dilihat mata telanjang. Karena mereka
berada di gerbang dimensi dua alam. Mudah mudahan nanti mereka bisa
dilepaskan.” Kata kang Salim.
“Iya pak semoga saja begitu.” Kaata pak Yadi.
“Insya Allah nanti malam saya bantu, tapi mohon akses jlan
kerumah Yasin mulai sekarang disterilkan dari radius yang bisa dijangkau
peluru.” Kata kang Salim.
“Siap pak, nanti saya kondisikan.” Jawab Pak Yadi.
Malam itu kang Salim dan Teteh Atikah,juga Eis dan Samsudin
aku persilahkan pulang kerumah, diantar Arum. Sementara aku ditemani Isti
menunggu mas Yasin. Segala kepeluan rumah untuk rombongan kang salim aku minta
tolong ke Arum agar disiapkan dengan Khotimah.
***********
“Gimana Fat, udah lega sekarang ?” Tanya Isti pada Fatimah.
“Lega apanya maksutnya Is ?” Tanya balikku ke Isti.
“Semuanya Lah, soal suamimu kondisinya sudah membaik. Besuk
Insya Allah sudah boleh pulangkerumah. Soal Eis dan Samsudin kayaknya juga
sudah sama sama saling menerima kankalian ?” jelas Isti.
“Aah Isti, kamu ni mengingatkan masa lalu saja. Iya kita
udah bisa menerima keadaan masing masing kok.” Jawab Fatimah ke Isti.
“Jadi iri nih Isti, sama kalian Fat.” Kata Isti mengungkapkan perasaanya.
“Lah Isti sendiri kapan Is mau Married nya ?” tanyaku pada
Isti.
“Ah pakai istilah married kayak Abg aja fat, bilang Nikah napa. Isti masih
nunggu mas rofiq nikah dulu Fat. Baru Isti nyusul nanti.” Jawab Isti.
“Lah kan mas mu juga bentar lagi kan rencana Nikahnya ?”
kata Fatimah.
“Iya, setelah mas Rofiq baru nanti Isti juga akan nikah. Tapi
gak mau pakai ramai ramai cukup akad nikah dan tasyakuran kecil saja.” Ucap
Isti.
“Iya Is, sama kayak Fatimah dulu.. gak pakai acara apa apa.
Cuma tasyakuran mengundang warga sekitar saja. Yang penting sudah diumumkan,
jika kita adalah pasangan suami istri.: kata Fatimah.
“ Isti juga maunya begitu saja, capai pakai acara resepsi
kayak orang orang. Biar nanti mas Rofiq sama Arum saja yang pakai acara
resepsi.” Kata Isti.
Dari obrolan seputar masalah kehidupan kami sampai dengan
obrolan masa lalu saat dipesantren terus menjadi topic pembicaraan kami waktu
itu. Hingga akhirnya kami berdua pun terlelap di ruang tunggu hingga kumandang
adzan subuh membangunkan kami.
*****
Di rumah Yasin.
Author POV
Setiba dirumah Yasin, rombongan kang salim dipersilahkan deuduk
oleh arum. Dan diperkenalkan dengan penghuni rumah yang ada. Muali dari
Khotimah, Ibunya Isti yang juga sudah pernah bertemu dulu dipesantren. Sampai
dengan Sidiq anaknya, namun tidak menjellaskan siapa bapaknya.
Kemudian teteh Atikah membuka pembicaraan dengan Khotimah.
“Jadi kamu sepupunya Fatimah ? cakep pisan, udah nikah belum
?” Tanya Atikah pada Khotimah.
“Belum bu, masih mencari jodoh.” Jawab Khotimah.
“Panggil teteh saja, biar awet muda jangan ibu dong.” Gurau
Atikah pada Khotimah.
“ Owh iya teteh, doakan saja segera menemukan jodoh yang
baik !” ucap Khotimah.
“Aamiin, kayaknya memang sudah ada pandangan ya ?” timpal
kang Salim. Sementara Khotimah hanya tersipu malu, tidak menyangka dibilang
begitu oleh kang Salim.
“Owh iya, mau minum kopi apa teh ?” Tanya Khotimah.
“Kopi boleh, seperti kopinya Yasin. Kopi hitam tanpa gula
ya. Setelah itu aku mau lihat tempat mujahadahnya, juga keadaan diluar rumah
nanti.” Seru kang Salim.
Semua yang ada disitu mengiyakan, kemudian kang salim
menyapa Rofiq yang dari tadi diam saja.
“Mas nya ini siapanya Yasin ?” Tanya kang salim pada Rofiq.
Rofiq yang tidak menyangka ditanya begitu jadi gugup.
“Saya sahabatnya Zain.” Sahut Rofiq gugup. Tampak grogi dan
tak berani menatap wajah kang Salim.
“Sahabat Zain, berarti sahabat masa lalunya Yasin ya ?” ucap
kang Salim sambil senyum.
Rofiq hanya tertuunduk malu, tidak sepatah katapun keluar.
Sampai kang Salim kembali bertanya.
“Kamu apanya Isti’anah ?” Tanya kang salim yang justru
membuat Rofiq semakin grogi dan Pucat. Dimata Rofiq wajah kang Salim begitu
penuh charisma dan penuh wibawa. Sehingga sekedar menatap wajahnya pun Rofiq
tidak berani. Bahkan Rofiq merasa
seperti ditenjamgi aibnya saat kang salim menatapnya. Meski tidak mengatakan
sesuatu, tapi Rofiq merasa dirinya seperti sedang dikupas oleh kang Salim.
Sehingga apa yang ada pada dirinya rasanya diketahui oleh kang Salim, mungkin
tak ada narasi yang dapat menggambarkan kondisi seperti yang dialami Rofiq
seperti saat itu.
Namun dengan cepat kang Salim mencairkan suasana.
__ADS_1
“Kita doakan saja, rumah ini menjadi rumah berkah bagi yang
memiliki dan bagi semua yang menghuni saat ini. Aura rumah ini bagus, kayaknya
aka nada berkah pernikahan disini. Akang sudah mencium bau bau calon pengantin
disin. Gak hanya sepasang kayaknya.” Ucap kang Salim membuat Rofiq makin Grogi,
Arum dan Khotimah juga tersipu malu.
“Alhamdulillah kalian harusnya bersukur, iya kamu tadi belum
jawab. Apa kamu kakaknya Isti’anah “ Tanya kang Salim lagi.
“Eeh I iyya kang ?” ucap Rofiq sambil berkeringat dingin.
“Sukurlah kalo kamu sekarang sudah kembali, ikuti jejak Yasin alias zain tuh.”
Ucap kang Salim.
Sesaat setelah ngopi kang salim mohon ijin untuk sholat dan
berdoa diruang mujahadah.
“Akang nanti tidur disini saja, nanti siapa yang mau
ditemani Atikah istri akang Arum atau
Khotimah ?” Tanya kang Salim.
“Arum boleh kang, sekalian Arum mau Tanya sesuatu ke teteh
?” kata Arum.
“Boleh Arum, nanti aja dikamar ngobrolnya ya “ ucap the
Atikah seperti tanggap apa yang akan disampaikan Arum.
Akhirnya kang salim minta ijin keluar rumah berkeliling,
dikuti Rofiq. Dan diepan pintu rumah kembali dikawal oleh personil yang
menggantikan Fanani cs.
Dengan penuh percaya diri kang salim melihat sekeliling
rumah Yasin, sesekali sweperti memperhatikan berhenti sebentar. Kemudian
melanjutkan langkahnya lagi, dan begitu lagi. Entah apa yang diperhatikan oleh
kang Salim sehingga harus berhenti sebentar pada titik titik tertentu.
Kita tinggalkan kang Salim yang sebenarnya sedang memagari
secara batin rumah Yasin. Agar lebih amandari gangguan mahluk Astral. Didalam
mata batin kang Salim pagar yang sudah ada banyak yang terkoyak, sehingga harus
diperkuat lagi.
*******
Didalam rumah Yasin
“Aa’ anak kecil tadi siapanya mas yasin ya ?” Tanya Eis ke
Samsudin.
“Ya mana Aa’ tahu lah neng. Kenapa mang ?” Tanya balik
Samsudin.
“Wajahnya mirip mas yasin, boleh gak kita pinjam buat mincing agar Eis bisa
cepet menyusul Fatimah agar bisa Hamil ?” Tanya Eis pada Samsudin.
“Coba aja Tanya ibuknya, boleh apa gak kita pinjam barang sebulan kita bawa ke
bandung.” Kata Samsudin.
“Jadi Aa’ juga setuju ?” Tanya Eis.
“Iya, gak papa demi kita juga kan.?” Sahut Samsudin.
“Eeh tapi Eis rada curiga, Arum itu dulunya mantan mas
yasin. Yang pacaranya sampai kelewat batas, dn akhirnya lahir Sidiq itu Aa’ .”
kata Eis.
“hussssh kamu jangan nuduh sembarangan Eis, dosa tahi ?”
kata Samsudin.
“Gak, Eis gak nuduh sembarangan, kan Eis dulu pernah deket
sama mas Yasin. Dan pernah mendengar cerita dan keluh kesah dia Aa’ !” kata
Eis.
“Serius kamu neng ?” Tanya Samsudin.
“Serius Aa’, kan Aa’ tahu sendiri dulu Eis sama mas Yasin
sering banget ngobrol. Sama sama saling curhat, dan mas Yasin pernah cerita
tentang Yasin saat masih di pesantren dulu.
“Terus ceritanya bagaimana ?” Tanya Samsudin.
“Menurut mas Yasin, Arum itu hamil karena ma Yasin. Tapi
saat mas Yasin mau bertanggung jawab keluarganya bilang kalo Arum keguguran.
Tapi kok sekarang Arum punya anak seusia itu ? apa mungkin juga ada Arum yang
lain Eis juga gak tahu lah aa’.” Kata
Eis.
“Hmmm bisa jadi ini Arum yang berbeda, tapi bisa jadi juga
Arum yang kamu ceritakan. Coba besuk kita tanyain langsung saja sama Arum.”
Kata Samsudin.
“Iya a’. saat ini biar Arum curhat sama the Atikah saja.
Bisa jadi curhatnya juga berhubungan dengan cerita Eis tadi a’.” sahut Eis.
“Atuh biarin aja lah neng, kita ikutin aja jalan ceritanya.
Btw kang salim masih berada diluar rumah ya ?” Tanya Samsudin.
“Iya kayaknya a’. mungkin ada hal hal yang harus dikerjakan
diluar rumah.” Kata Eis.
“Yaudah kita istirahat juga yuk, kamu kan habis donor darah
juga tadi. Gak boleh kecapaian.” Kata Samsudin.
“Iya Aa’, perhatian amat sekarang Aa’ sama Eis.” Goda Eis.
“Iya lah namanya juga suami ya harus perhatian sama Istri
dong.” Kata Samsudin.
“Kemarin gak gitu amat deh kayaknya, apa karena…..?” suara
Eis terhenti.
“Karena apa neng, kok gak diterusin ?” protes Samsudin.
“Gak aha, takut Aa’ jadi marah sama Eis nanti.” Sahut Eis.
Namun rasa penasaran Samsudin yang menurut anak anak sekarang sudah kepo
tingkat dewa, memaksa Eis untuk melanjutkan pertanyaan yang terhenti tadi.
“Bilang dong neneng, biar Aa’ tu gak mati penasaran ni
!”kata Samsudin merajuk.
“Janjian gak marsah nih ?” desak Eis.
“Iya Aa’ gak akan marah, kenapa ?” desaksamsudin.
“Karena sekkarang Fatimah sudah Hamil, jadi Aa’ udah gak
punya harapan balik ke Fatimah. Atau karena cemburu Eis donorkan darah ke mas
Yasin ?” Tanya Eis.
“Gak laah neng, bukan karena itu, tapi lebih karena ingin
kamu uga cepet bisa hamilkayak Fatimah. Biar kita juga segera bisa punya
momongan.” Kata Samsudin.
“Serius nih a’, gak lagi boong kan ?” kata Eis.
“Iya lah, apa perlu Aa’ buktiin sekarang ?” kata Samsudin.
“Maksutnya ?” Tanya Eis bingung.
“Ya kita begitu sekarang.” Gurau samsudin.
“Embong ah ya di imah batur aa’ ulah ah….!” Seru Eis.
Eis dan Samsudin akhirnya juga bisa saling mencintai setelah
melewati proses yang cukup rumit juga. Itulah misteri, siapa yang dulu
menyangka Eis pacar Yasin, Fatimah pacar samsudin. Tapi akhirnya Eis dinikahi
samsudin dan Fatimah dinikahi Yasin.
**********
Arum POV
“Maaf teh, boleh Arum curhat tentang masa lalu Arum sama
teteh ?” kata Arum dikamr bersama teteh Atikah.
__ADS_1
“Cerita saja Arum, teteh siap dengerin kalo mungkin juga
bisaq kasih saran.” Ucap teteh Atikah.
“Arum ini punya anak Sidiq hasil hubungan diluar nikah
teh,.” Kata Arum memulai bicara.
“Iya,terus ?” jawab teteh Atikah.
“Bapak dari Anak itu adalah mas Yasin. Yang sekarang jadi
suami Fatimah.” Lanjut Arum.
“Iya, itu teteh juga sudah tahu, yasin pernah cerita tentang
kamu. Sekarang kamu to the poin saja, mau naya apa ?” kata teteh Atikah
langsung menuju pokok permasalahan yang dihadapi Arum.
Jika dia akan menikah dengan Rofiq kakaknya Isti, tapi
kesulitan mendapat restu dari orang tuanya Arum.
“Itu gampang, biar besok kang Salim suamiku yang bantu biar
kalian bisa cepat nikah. Kalo perlu kami nikahkan segera disini saja. “ kata
teteh Atikah.
“Secepat itu bisakah teteh ?” Tanya Arum pada teteh Atikah.
“kenapa gak bisa, asal ada wali kamu kang Salim bisa
menikahkan kalian kapan saja. Bahkan sebenarnya Yasin pun bisa, tapi jelas gak
mungkin untuk kamu, mengingat masa lalu kalian belum bisa dilupakan keluargamu.” Ucap teh Atikah.
“Hmm begitu ya teteh, Arum memang gak faham soal begituan
teteh.” Kata Arum.
“Gak papa, nanti kamu juga bakal faham.” Ucap teh Atikah.
“Makasih banyak teteh atas saran dan nasehatnya, teteh
istirahat saja dulu tentu masih cape baru dari perjalanan jauh langsung ke
rumah sakit atdi.” Kata Arum.
Merekapun akhirnya terlelap dikamar yang disediakan buat
Arum dan Sidiq.
********
“Bisa bisanya Yasin membiarkan tempat ini ditempati banyak
mahluk astral kiriman. Gak mungkin jika dia sampai tidak tahu. Bahkan tujuanya
pun dia pasti sudah tahu, kenapa dibiarkan saja begini.” Ujar kang Salim
setengah berbisik. Seperti bicara pada dirinya Sendiri.
Untuk beberapa saat kang Salim berdiri disuatu tempat dan
sepertinya sedang melafadzkan doa khusus. Kemudian menghampiri salah seorang
petugas kepolisian.
“Besuk jika teman teman kamu yang kemarin jaga disini
ditemukan, lebih baik dibawa kesini dulu sebelum dibawa kerumahnya. Mereka
harus dibersihkan dulu dari pengaruh aura negative yang menyelimuti mereka saat
ini.” Kata kang Salim kemudian.
Salah satu anggota kepolisian yang saat itu diajak hanya
mengangguk, dan mengiyakan apa kata kang Salim.
Sampai akhirnya kand Salim mengajak masuk rumah, dan
kemudian beristirahat diruang mujahada.
********
Saat pagi datang
Setelah melaksanakan solat subuh, seperti kebiasaan
sebelumnya ketika Yasin belum terkena tembakan. Semua ngopi dan ngobrol mencari
teman obrolan sendiri sendiri. Tak lupa Samsudin dan Eis yang sudah berencana
semalam. Ngobrol dengan Arum, mencari tempat yang agak trersembunyi.
“Kenalin nama saya Eis, teman satu pesantren Fatimah dan mas
Yasin.” Kata Eis membuka obrolan dengan Arum.
“Owh iya, nama saya Arum saya teman lama mas asin juga.”
Sahut Arum.
“Gak usah sungkan juga mbak, Eis sudah pernah dengar nama
mbak Arum dari mas Yasin dulu !” ucap Eis.
Membuat Arum agak kikuk, Eis tahu bahwa dirinya dan Yasin
dulunya ada hubungan khusus. Kenapa jadi banyak yang tahu, gumam Arum dalam
hati.
“Owh ya maaf, kalo boleh Tanya apa semua teman teman
pesantren kalian tahu tentang Arum ?” Tanya Arum polos.
“Ya gak lah, hanya beberapa orang saja.” Kata Eis. Sementara
Samsudin hanya ikut mendengarkan belum ikutan ngobrol.
“Sukurlah, maaf tadi nama kamu Eis, apakah juga orang yang
dulu diceritakan mas Yasin ?” kata Arum kemudian. Giliran Eis dan Samsudin yang
sekarang tercengang, karena Arum pun tahu tentang Eis dan Yasin dulunya gimana.
“Iya mungkin begitu, memang mas Yasin cerita apa tentang Eis
?” Tanya Eis.
“Gak banyak kok Eis, hanya menceritakan jika dia dipesantren
pernah dekat dengan seorang gadis. Tapi justru dinikahkan dengan orang lain.
Yaitu Fatimah istrinya yang sekarang.” Ujar Arum memulai cerita,
“Terus mas Yasin cerita tentang Eis bagaimana ?” Tanya Eis
penasaran.
“Gak, Cuma bilang kalo yang mas yasin cintai waktu itu Eis
namanya, tapi gak ada ikatan pacaran hanya saling suka. Sampai kemudian dia
dinikahkan dengan Fatimah istrinya sekarang.” Lanjut Arum.
“Apakah Arum masih suka bertemu mas Yasin setelah dia nikah
dengan Fatimah ?” Tanya Eis.
“Pertemuan yang tidak disengaja dan tidak direncanakan
sebenarnya.” Kata Arum.
“Maksut Arum bagai mana ?” Tanya Eis.
Kemudian Arum menceritakan pertemuan pertamanya dengan
Yasin, yang diawal Arum ragu apakah itu bapak kandung Sidiq atau bukan. Karena
Pak lek nya arum memperkenalkan dia dengan nama Yasin. Sementara Arum tahunya
dia bernama Ahmad Sidiq alias Zain. Hingga akhirnya terjadi dialog dan Arum
yakin dia adalah ayah kandung Sidiq, kemudian Arum menanyakan kemana saja
selama ini Yasin alias Zain alias Ahmad Sidiq. Kenapa seperti lenyap ditelan
bumi. Sementara Arum berjuang melahirkan dan membesarkan anaknya seorang diri
dan terusir dari keluarga karena keluarga berharap Arum menggugurkan
kandunganya. Dan akan dinikahkan dengan orang lain.
Namun Arum lebih memilih merawat dan menjaga kandunganya
hingga lahirlah Sidiq. Karena Arum tak mau lagi menambah dosanya dengan
membunuh anak yang ada di kandunganya. Serta berharap bisa bertemu Yasin alias
Zain alias Ahmad Sidiq. Dan berharap dia mau menikahi Arum.
Namun saat bertemu justru Yasin mengatakan tidak bisa
menikahi Arum karena sudah menikah dengan Fatimah Istrinya sekarang. Yang saat
itu Fatimah juga baru dalam keadaan hamil. Hancurlah hati Arum waktu itu,
sekian lama menunggu, kehadiran seorang Zain alias Ahmad Sidiq yang ternyata
sudah berganti nama lagi menjadi Yasin, dan sudah menjadi suami orang lain.
“Terus apa yang Arum lakukan waktu itu ?” Samsudin yang dari
tadi hanya diam kini ikut nimbrung bicara karena penasaran dengan keterangan
Arum.
bersambung
mohon dukungan berupa like komen dan vote
__ADS_1
terimakasih.