Isyaroh

Isyaroh
Kang Salim dirumah yasin


__ADS_3

Episode 90


“Assalaamu’alaikum...!” sapa pak Yadi pada kami.


“Wa’alaikummussalam pak Yadi.”  jawabku.


“Mohon maaf, apa benar pak yasin sudah sadar ?” Tanya pak


Yadi.


”Iya pak, tapi sekarang baru tertidur habis disuntik dan


diberi obat.” Jawabku.


“Sukurlah, soalnya kami butuh keterangan pak Yasin, terkait


hilangnya Fanani dan lainya.” Ucap pak Yadi.


“Mereka saat ini ditawan dan dikurung dengan kekuatan


mistis, serta dipagari oleh kekuatan ghoib. Besuk setelah Yasin pulang, biar


saya yang akan menjemput mereka.” Ucap kang Salim.


“Owh iya pak, perkenalkan beliau ini namanya kang Salim,


senior kami di pesantren dan lurah pondok pesantren kami.” Kataku pada pak


Yadi.


“Owh iya, makasih pak, kami sangat membutuhkan bantuan


bapak, mencari tiga rekan kami yang hilang secara misterius.” Ucap pak Yadi.


“ Insya Allah, Besuk mereka akan pulang, tapi mereka butuh


waktu untuk memulihkan kesadaran mereka.” Ucap kang Salim.


“Kami harus mencari mereka dimana pak, menurut pak Yasin


kemarin mereka dibawah pohon preh.” Kata pak Yadi.


“Betul, tapi tak dapat dilihat mata telanjang. Karena mereka


berada di gerbang dimensi dua alam. Mudah mudahan nanti mereka bisa


dilepaskan.” Kata kang Salim.


“Iya pak semoga saja begitu.” Kaata pak Yadi.


“Insya Allah nanti malam saya bantu, tapi mohon akses jlan


kerumah Yasin mulai sekarang disterilkan dari radius yang bisa dijangkau


peluru.” Kata kang Salim.


“Siap pak, nanti saya kondisikan.” Jawab Pak Yadi.


Malam itu kang Salim dan Teteh Atikah,juga Eis dan Samsudin


aku persilahkan pulang kerumah, diantar Arum. Sementara aku ditemani Isti


menunggu mas Yasin. Segala kepeluan rumah untuk rombongan kang salim aku minta


tolong ke Arum agar disiapkan dengan Khotimah.


***********


“Gimana Fat, udah lega sekarang ?” Tanya Isti pada Fatimah.


“Lega apanya maksutnya Is ?” Tanya balikku ke Isti.


“Semuanya Lah, soal suamimu kondisinya sudah membaik. Besuk


Insya Allah sudah boleh pulangkerumah. Soal Eis dan Samsudin kayaknya juga


sudah sama sama saling menerima kankalian ?” jelas Isti.


“Aah Isti, kamu ni mengingatkan masa lalu saja. Iya kita


udah bisa menerima keadaan masing masing kok.” Jawab Fatimah ke Isti.


“Jadi iri nih Isti, sama kalian Fat.”  Kata Isti mengungkapkan perasaanya.


“Lah Isti sendiri kapan Is mau Married nya ?” tanyaku pada


Isti.


“Ah pakai istilah married kayak  Abg aja fat, bilang Nikah napa. Isti masih


nunggu mas rofiq nikah dulu Fat. Baru Isti nyusul nanti.” Jawab Isti.


“Lah kan mas mu juga bentar lagi kan rencana Nikahnya ?”


kata Fatimah.


“Iya, setelah mas Rofiq baru nanti Isti juga akan nikah. Tapi


gak mau pakai ramai ramai cukup akad nikah dan tasyakuran kecil saja.” Ucap


Isti.


“Iya Is, sama kayak Fatimah dulu.. gak pakai acara apa apa.


Cuma tasyakuran mengundang warga sekitar saja. Yang penting sudah diumumkan,


jika kita adalah pasangan suami istri.: kata Fatimah.


“ Isti juga maunya begitu saja, capai pakai acara resepsi


kayak orang orang. Biar nanti mas Rofiq sama Arum saja yang pakai acara


resepsi.” Kata Isti.


Dari obrolan seputar masalah kehidupan kami sampai dengan


obrolan masa lalu saat dipesantren terus menjadi topic pembicaraan kami waktu


itu. Hingga akhirnya kami berdua pun terlelap di ruang tunggu hingga kumandang


adzan subuh membangunkan kami.


*****


Di rumah Yasin.


Author POV


Setiba dirumah Yasin, rombongan kang salim dipersilahkan deuduk


oleh arum. Dan diperkenalkan dengan penghuni rumah yang ada. Muali dari


Khotimah, Ibunya Isti yang juga sudah pernah bertemu dulu dipesantren. Sampai


dengan Sidiq anaknya, namun tidak menjellaskan siapa bapaknya.


Kemudian teteh Atikah membuka pembicaraan dengan Khotimah.


“Jadi kamu sepupunya Fatimah ? cakep pisan, udah nikah belum


?” Tanya Atikah pada Khotimah.


“Belum bu, masih mencari jodoh.” Jawab Khotimah.


“Panggil teteh saja, biar awet muda jangan ibu dong.” Gurau


Atikah pada Khotimah.


“ Owh iya teteh, doakan saja segera menemukan jodoh yang


baik !” ucap Khotimah.


“Aamiin, kayaknya memang sudah ada pandangan ya ?” timpal


kang Salim. Sementara Khotimah hanya tersipu malu, tidak menyangka dibilang


begitu oleh kang Salim.


“Owh iya, mau minum kopi apa teh ?” Tanya Khotimah.


“Kopi boleh, seperti kopinya Yasin. Kopi hitam tanpa gula


ya. Setelah itu aku mau lihat tempat mujahadahnya, juga keadaan diluar rumah


nanti.” Seru kang Salim.


Semua yang ada disitu mengiyakan, kemudian kang salim


menyapa Rofiq yang dari tadi diam saja.


“Mas nya ini siapanya Yasin ?” Tanya kang salim pada Rofiq.


Rofiq yang tidak menyangka ditanya begitu jadi gugup.


“Saya sahabatnya Zain.” Sahut Rofiq gugup. Tampak grogi dan


tak berani menatap wajah kang Salim.


“Sahabat Zain, berarti sahabat masa lalunya Yasin ya ?” ucap


kang Salim sambil senyum.


Rofiq hanya tertuunduk malu, tidak sepatah katapun keluar.


Sampai kang Salim kembali bertanya.


“Kamu apanya Isti’anah ?” Tanya kang salim yang justru


membuat Rofiq semakin grogi dan Pucat. Dimata Rofiq wajah kang Salim begitu


penuh charisma dan penuh wibawa. Sehingga sekedar menatap wajahnya pun Rofiq


tidak berani.  Bahkan Rofiq merasa


seperti ditenjamgi aibnya saat kang salim menatapnya. Meski tidak mengatakan


sesuatu, tapi Rofiq merasa dirinya seperti sedang dikupas oleh kang Salim.


Sehingga apa yang ada pada dirinya rasanya diketahui oleh kang Salim, mungkin


tak ada narasi yang dapat menggambarkan kondisi seperti yang dialami Rofiq


seperti saat itu.


Namun dengan cepat kang Salim mencairkan suasana.

__ADS_1


“Kita doakan saja, rumah ini menjadi rumah berkah bagi yang


memiliki dan bagi semua yang menghuni saat ini. Aura rumah ini bagus, kayaknya


aka nada berkah pernikahan disini. Akang sudah mencium bau bau calon pengantin


disin. Gak hanya sepasang kayaknya.” Ucap kang Salim membuat Rofiq makin Grogi,


Arum dan Khotimah juga tersipu malu.


“Alhamdulillah kalian harusnya bersukur, iya kamu tadi belum


jawab. Apa kamu kakaknya Isti’anah “ Tanya kang Salim lagi.


“Eeh I iyya kang ?” ucap Rofiq sambil berkeringat dingin.


“Sukurlah kalo kamu sekarang sudah kembali, ikuti jejak Yasin alias zain tuh.”


Ucap kang Salim.


Sesaat setelah ngopi kang salim mohon ijin untuk sholat dan


berdoa diruang mujahadah.


“Akang nanti tidur disini saja, nanti siapa yang mau


ditemani Atikah istri akang  Arum atau


Khotimah ?” Tanya kang Salim.


“Arum boleh kang, sekalian Arum mau Tanya sesuatu ke teteh


?” kata Arum.


“Boleh Arum, nanti aja dikamar ngobrolnya ya “ ucap the


Atikah seperti tanggap apa yang akan disampaikan Arum.


Akhirnya kang salim minta ijin keluar rumah berkeliling,


dikuti Rofiq. Dan diepan pintu rumah kembali dikawal oleh personil yang


menggantikan Fanani cs.


Dengan penuh percaya diri kang salim melihat sekeliling


rumah Yasin, sesekali sweperti memperhatikan berhenti sebentar. Kemudian


melanjutkan langkahnya lagi, dan begitu lagi. Entah apa yang diperhatikan oleh


kang Salim sehingga harus berhenti sebentar pada titik titik tertentu.


Kita tinggalkan kang Salim yang sebenarnya sedang memagari


secara batin rumah Yasin. Agar lebih amandari gangguan mahluk Astral. Didalam


mata batin kang Salim pagar yang sudah ada banyak yang terkoyak, sehingga harus


diperkuat lagi.


*******


Didalam rumah Yasin


“Aa’ anak kecil tadi siapanya mas yasin ya ?” Tanya Eis ke


Samsudin.


“Ya mana Aa’ tahu lah neng. Kenapa mang ?” Tanya balik


Samsudin.


“Wajahnya mirip mas yasin, boleh gak kita pinjam buat mincing agar Eis bisa


cepet menyusul Fatimah agar bisa Hamil ?” Tanya Eis pada Samsudin.


“Coba aja Tanya ibuknya, boleh apa gak kita pinjam barang sebulan kita bawa ke


bandung.” Kata Samsudin.


“Jadi Aa’ juga setuju ?” Tanya Eis.


“Iya, gak papa demi kita juga kan.?” Sahut Samsudin.


“Eeh tapi Eis rada curiga, Arum itu dulunya mantan mas


yasin. Yang pacaranya sampai kelewat batas, dn akhirnya lahir Sidiq itu Aa’ .”


kata Eis.


“hussssh kamu jangan nuduh sembarangan Eis, dosa tahi ?”


kata Samsudin.


“Gak, Eis gak nuduh sembarangan, kan Eis dulu pernah deket


sama mas Yasin. Dan pernah mendengar cerita dan keluh kesah dia Aa’ !” kata


Eis.


“Serius kamu neng ?” Tanya Samsudin.


“Serius Aa’, kan Aa’ tahu sendiri dulu Eis sama mas Yasin


sering banget ngobrol. Sama sama saling curhat, dan mas Yasin pernah cerita


tentang Yasin saat masih di pesantren dulu.


“Terus ceritanya bagaimana ?” Tanya Samsudin.


“Menurut mas Yasin, Arum itu hamil karena ma Yasin. Tapi


saat mas Yasin mau bertanggung jawab keluarganya bilang kalo Arum keguguran.


Tapi kok sekarang Arum punya anak seusia itu ? apa mungkin juga ada Arum yang


lain Eis juga  gak tahu lah aa’.” Kata


Eis.


“Hmmm bisa jadi ini Arum yang berbeda, tapi bisa jadi juga


Arum yang kamu ceritakan. Coba besuk kita tanyain langsung saja sama Arum.”


Kata Samsudin.


“Iya a’. saat ini biar Arum curhat sama the Atikah saja.


Bisa jadi curhatnya juga berhubungan dengan cerita Eis tadi a’.” sahut Eis.


“Atuh biarin aja lah neng, kita ikutin aja jalan ceritanya.


Btw kang salim masih berada diluar rumah ya ?” Tanya Samsudin.


“Iya kayaknya a’. mungkin ada hal hal yang harus dikerjakan


diluar rumah.” Kata Eis.


“Yaudah kita istirahat juga yuk, kamu kan habis donor darah


juga tadi. Gak boleh kecapaian.” Kata Samsudin.


“Iya Aa’, perhatian amat sekarang Aa’ sama Eis.” Goda Eis.


“Iya lah namanya juga suami ya harus perhatian sama Istri


dong.” Kata Samsudin.


“Kemarin gak gitu amat deh kayaknya, apa karena…..?” suara


Eis terhenti.


“Karena apa neng, kok gak diterusin ?” protes Samsudin.


“Gak aha, takut Aa’ jadi marah sama Eis nanti.” Sahut Eis.


Namun rasa penasaran Samsudin yang menurut anak anak sekarang sudah kepo


tingkat dewa, memaksa Eis untuk melanjutkan pertanyaan yang terhenti tadi.


“Bilang dong neneng, biar Aa’ tu gak mati penasaran ni


!”kata Samsudin merajuk.


“Janjian gak marsah nih ?” desak Eis.


“Iya Aa’ gak akan marah, kenapa ?” desaksamsudin.


“Karena sekkarang Fatimah sudah Hamil, jadi Aa’ udah gak


punya harapan balik ke Fatimah. Atau karena cemburu Eis donorkan darah ke mas


Yasin ?” Tanya Eis.


“Gak laah neng, bukan karena itu, tapi lebih karena ingin


kamu uga cepet bisa hamilkayak Fatimah. Biar kita juga segera bisa punya


momongan.” Kata Samsudin.


“Serius nih a’, gak lagi boong kan ?” kata Eis.


“Iya lah, apa perlu Aa’ buktiin sekarang ?” kata Samsudin.


“Maksutnya ?” Tanya Eis bingung.


“Ya kita begitu sekarang.” Gurau samsudin.


“Embong ah ya di imah batur aa’ ulah ah….!” Seru Eis.


Eis dan Samsudin akhirnya juga bisa saling mencintai setelah


melewati proses yang cukup rumit juga. Itulah misteri, siapa yang dulu


menyangka Eis pacar Yasin, Fatimah pacar samsudin. Tapi akhirnya Eis dinikahi


samsudin dan Fatimah dinikahi Yasin.


**********


Arum POV


“Maaf teh, boleh Arum curhat tentang masa lalu Arum sama


teteh ?” kata Arum dikamr bersama teteh Atikah.

__ADS_1


“Cerita saja Arum, teteh siap dengerin kalo mungkin juga


bisaq kasih saran.” Ucap teteh Atikah.


“Arum ini punya anak Sidiq hasil hubungan diluar nikah


teh,.” Kata Arum memulai bicara.


“Iya,terus ?” jawab teteh Atikah.


“Bapak dari Anak itu adalah mas Yasin. Yang sekarang jadi


suami Fatimah.” Lanjut Arum.


“Iya, itu teteh juga sudah tahu, yasin pernah cerita tentang


kamu. Sekarang kamu to the poin saja, mau naya apa ?” kata teteh Atikah


langsung menuju pokok permasalahan yang dihadapi Arum.


Jika dia akan menikah dengan Rofiq kakaknya Isti, tapi


kesulitan mendapat restu dari orang tuanya Arum.


“Itu gampang, biar besok kang Salim suamiku yang bantu biar


kalian bisa cepat nikah. Kalo perlu kami nikahkan segera disini saja. “ kata


teteh Atikah.


“Secepat itu bisakah teteh ?” Tanya Arum pada teteh Atikah.


“kenapa gak bisa, asal ada wali kamu kang Salim bisa


menikahkan kalian kapan saja. Bahkan sebenarnya Yasin pun bisa, tapi jelas gak


mungkin untuk kamu, mengingat masa lalu kalian  belum bisa dilupakan keluargamu.” Ucap teh Atikah.


“Hmm begitu ya teteh, Arum memang gak faham soal begituan


teteh.” Kata Arum.


“Gak papa, nanti kamu juga bakal faham.” Ucap teh Atikah.


“Makasih banyak teteh atas saran dan nasehatnya, teteh


istirahat saja dulu tentu masih cape baru dari perjalanan jauh langsung ke


rumah sakit atdi.” Kata Arum.


Merekapun akhirnya terlelap dikamar yang disediakan buat


Arum dan Sidiq.


********


“Bisa bisanya Yasin membiarkan tempat ini ditempati banyak


mahluk astral kiriman. Gak mungkin jika dia sampai tidak tahu. Bahkan tujuanya


pun dia pasti sudah tahu, kenapa dibiarkan saja begini.” Ujar kang Salim


setengah berbisik. Seperti bicara pada dirinya Sendiri.


Untuk beberapa saat kang Salim berdiri disuatu tempat dan


sepertinya sedang melafadzkan doa khusus. Kemudian menghampiri salah seorang


petugas kepolisian.


“Besuk jika teman teman kamu yang kemarin jaga disini


ditemukan, lebih baik dibawa kesini dulu sebelum dibawa kerumahnya. Mereka


harus dibersihkan dulu dari pengaruh aura negative yang menyelimuti mereka saat


ini.” Kata kang Salim kemudian.


Salah satu anggota kepolisian yang saat itu diajak hanya


mengangguk, dan mengiyakan apa kata kang Salim.


Sampai akhirnya kand Salim mengajak masuk rumah, dan


kemudian beristirahat diruang mujahada.


********


Saat pagi datang


Setelah melaksanakan solat subuh, seperti kebiasaan


sebelumnya ketika Yasin belum terkena tembakan. Semua ngopi dan ngobrol mencari


teman obrolan sendiri sendiri. Tak lupa Samsudin dan Eis yang sudah berencana


semalam. Ngobrol dengan Arum, mencari tempat yang agak trersembunyi.


“Kenalin nama saya Eis, teman satu pesantren Fatimah dan mas


Yasin.” Kata Eis membuka obrolan dengan Arum.


“Owh iya, nama saya Arum saya teman lama mas asin juga.”


Sahut Arum.


“Gak usah sungkan juga mbak, Eis sudah pernah dengar nama


mbak Arum dari mas Yasin dulu !” ucap Eis.


Membuat Arum agak kikuk, Eis tahu bahwa dirinya dan Yasin


dulunya ada hubungan khusus. Kenapa jadi banyak yang tahu, gumam Arum dalam


hati.


“Owh ya maaf, kalo boleh Tanya apa semua teman teman


pesantren kalian tahu tentang Arum ?” Tanya Arum polos.


“Ya gak lah, hanya beberapa orang saja.” Kata Eis. Sementara


Samsudin hanya ikut mendengarkan belum ikutan ngobrol.


“Sukurlah, maaf tadi nama kamu Eis, apakah juga orang yang


dulu diceritakan mas Yasin ?” kata Arum kemudian. Giliran Eis dan Samsudin yang


sekarang tercengang, karena Arum pun tahu tentang Eis dan Yasin dulunya gimana.


“Iya mungkin begitu, memang mas Yasin cerita apa tentang Eis


?” Tanya Eis.


“Gak banyak kok Eis, hanya menceritakan jika dia dipesantren


pernah dekat dengan seorang gadis. Tapi justru dinikahkan dengan orang lain.


Yaitu Fatimah istrinya yang sekarang.” Ujar Arum memulai cerita,


“Terus mas Yasin cerita tentang Eis bagaimana ?” Tanya Eis


penasaran.


“Gak, Cuma bilang kalo yang mas yasin cintai waktu itu Eis


namanya, tapi gak ada ikatan pacaran hanya saling suka. Sampai kemudian dia


dinikahkan dengan Fatimah istrinya sekarang.” Lanjut  Arum.


“Apakah Arum masih suka bertemu mas Yasin setelah dia nikah


dengan Fatimah ?” Tanya Eis.


“Pertemuan yang tidak disengaja dan tidak direncanakan


sebenarnya.” Kata Arum.


“Maksut Arum bagai mana ?” Tanya Eis.


Kemudian Arum menceritakan pertemuan pertamanya dengan


Yasin, yang diawal Arum ragu apakah itu bapak kandung Sidiq atau bukan. Karena


Pak lek nya arum memperkenalkan dia dengan nama Yasin. Sementara Arum tahunya


dia bernama Ahmad Sidiq alias Zain. Hingga akhirnya terjadi dialog dan Arum


yakin dia adalah ayah kandung Sidiq, kemudian Arum menanyakan kemana saja


selama ini Yasin alias Zain alias Ahmad Sidiq. Kenapa seperti lenyap ditelan


bumi. Sementara Arum berjuang melahirkan dan membesarkan anaknya seorang diri


dan terusir dari keluarga karena keluarga berharap Arum menggugurkan


kandunganya. Dan akan dinikahkan dengan orang lain.


Namun Arum lebih memilih merawat dan menjaga kandunganya


hingga lahirlah Sidiq. Karena Arum tak mau lagi menambah dosanya dengan


membunuh anak yang ada di kandunganya. Serta berharap bisa bertemu Yasin alias


Zain alias Ahmad Sidiq. Dan berharap dia mau menikahi Arum.


Namun saat bertemu justru Yasin mengatakan tidak bisa


menikahi Arum karena sudah menikah dengan Fatimah Istrinya sekarang. Yang saat


itu Fatimah juga baru dalam keadaan hamil. Hancurlah hati Arum waktu itu,


sekian lama menunggu, kehadiran seorang Zain alias Ahmad Sidiq yang ternyata


sudah berganti nama lagi menjadi Yasin, dan sudah menjadi suami orang lain.


“Terus apa yang Arum lakukan waktu itu ?” Samsudin yang dari


tadi hanya diam kini ikut nimbrung bicara karena penasaran dengan keterangan


Arum.


bersambung


mohon dukungan berupa like komen dan vote

__ADS_1


terimakasih.


__ADS_2